Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Penghakiman Dimulai dari Bait Tuhan

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Bagaimana Mengetahui Watak Tuhan dan Hasil Pekerjaan-Nya

Pertama, mari kita nyanyikan sebuah pujian: Lagu Kebangsaan Kerajaan (I) Kerajaan Telah Turun ke Dunia.

Iringan: Orang mengelukan Tuhan, orang memuji Tuhan; semua mulut menyebut nama satu-satunya Tuhan yang benar. Kerajaan turun ke dunia.

1. Orang mengelukan Tuhan, orang memuji Tuhan; semua mulut menyebut nama satu-satunya Tuhan yang sejati, semua orang menengadah menyaksikan perbuatan Tuhan. Kerajaan turun ke dunia, pribadi Tuhan kaya dan berlimpah. Siapa tidak mau merayakan ini? Siapa tidak mau menari bersukacita untuk ini? Oh, Sion! Angkat panji kejayaanmu untuk merayakan Tuhan! Nyanyikan lagu kejayaan untuk kemenanganmu dan sebarkan nama kudus Tuhan!

2. Segala hal di bumi! Sekarang sucikan dirimu sendiri dengan berkorban untuk Tuhan! Bintang di langit! Sekarang kembalilah ke tempatmu dan tunjukkan keagungan Tuhan di cakrawala! Tuhan mendengar suara orang di bumi, yang mencurahkan kasih dan hormat tanpa batas untuk-Nya dalam nyanyian! Pada hari ini, saat segala hal diremajakan, Tuhan datang berjalan di bumi. Pada saat ini, bunga bermekaran, burung bernyanyi, segala hal penuh dengan kegembiraan! Dengan suara penyambutan kerajaan, kerajaan Iblis runtuh, dimusnahkan dalam gemuruh paduan suara lagu kebangsaan kerajaan. Dan tidak akan pernah bangkit lagi!

3. Siapakah makhluk di bumi ini berani bangkit dan menentang? Ketika Tuhan turun ke bumi, Dia membawa pembakaran, membawa murka, membawa semua bencana. Kerajaan duniawi sekarang adalah kerajaan Tuhan! Di atas di langit, awan runtuh dan mengepuh; di bawah langit, danau dan sungai bergelombang dan membuat melodi menyentuh. Hewan yang beristirahat muncul dari sarang mereka, dan semua orang yang terlelap dibangunkan oleh Tuhan. Hari yang telah dinantikan oleh semua orang akhirnya telah tiba! Mereka melantunkan lagu-lagu terindah untuk Tuhan!

Apa yang engkau semua pikirkan setiap kali menyanyikan nyanyian ini? (Sangat gembira; bergetar; membayangkan betapa mulia keindahan kerajaan, serta umat manusia dan Tuhan akan bersatu selamanya.) Adakah orang yang pernah memikirkan wujud seperti apa yang harus manusia miliki agar dapat tinggal bersama Tuhan? Dalam imajinasimu, harus seperti apakah seseorang agar dapat bergabung dengan Tuhan dan menikmati kehidupan mulia yang disediakan dalam kerajaan? (Mereka harus memiliki watak yang sudah berubah.) Mereka harus memiliki watak yang sudah berubah, namun berubah sampai sejauh mana? Akan menjadi seperti apakah mereka setelah wataknya berubah? (Mereka akan menjadi kudus.) Apa sajakah standar untuk kekudusan? (Seluruh pikiran dan pertimbangan mereka sesuai dengan Kristus.) Bagaimanakah kesesuaian tersebut terwujud? (Mereka tidak menentang Tuhan, tidak mengkhianati Tuhan, namun mempersembahkan ketaatan mereka yang mutlak kepada Tuhan, dan takut akan Tuhan dalam hati mereka.) Beberapa jawabanmu berada di jalur yang tepat. Bukalah hatimu, engkau semuanya, dan bagikan apa yang hatimu katakan kepada dirimu. (Orang yang hidup bersama Tuhan dalam kerajaan bisa melakukan tugas mereka, dengan setia melakukan tugas mereka, dengan mengejar kebenaran dan tidak dikekang oleh orang, peristiwa, atau objek apa pun juga. Dan itu memungkinkan manusia untuk melepaskan diri dari pengaruh kegelapan, menyelaraskan hati mereka dengan Tuhan, serta takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.) (Perspektif kami dalam memandang banyak hal bisa selaras dengan Tuhan, dan kami bisa melepaskan diri dari pengaruh kegelapan. Standar minimum adalah tidak dieksploitasi oleh Iblis, mengenyahkan segala watak rusak, mencapai ketaatan kepada Tuhan. Kami percaya bahwa melepaskan diri dari pengaruh kegelapan adalah poin utama. Jika seseorang tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh kegelapan, tidak bisa membebaskan diri dari jerat Iblis, maka mereka belum mendapatkan penyelamatan Tuhan.) (Standar untuk disempurnakan Tuhan adalah manusia menjadi sehati dan sepikiran dengan Tuhan. Manusia tidak lagi menentang Tuhan; dia bisa mengenal dirinya sendiri, melakukan kebenaran secara nyata, memperoleh pemahaman akan Tuhan, mengasihi Tuhan, dan selaras dengan Tuhan. Itu saja yang perlu orang lakukan.)

Arti Penting Kesudahan dalam Hati Manusia

Tampaknya engkau semua memiliki sesuatu dalam hatimu mengenai caramu seharusnya berjalan masuk, dan engkau semua sudah mengembangkan pengertian serta pemahaman yang baik tentang hal tersebut. Namun, apakah setiap hal yang engkau semua ucapkan ternyata hanyalah perkataan yang hampa atau kenyataan sesungguhnya, itu bergantung pada apa yang menjadi perhatianmu dalam melakukan tindakan nyatamu sehari-hari. Engkau telah menuai panen dari seluruh aspek kebenaran selama bertahun-tahun, baik dalam doktrin maupun dalam isi kebenaran. Ini membuktikan bahwa orang-orang dewasa ini menekankan pada perjuangan mencapai kebenaran. Dan hasilnya, setiap aspek dan setiap hal dari kebenaran tersebut pasti sudah bersemayam dalam hati beberapa orang. Akan tetapi, apakah yang paling Aku takutkan? Meski subjek kebenaran, dan semua teori ini, sudah bersemayam, isi sesungguhnya tidak dianggap begitu penting dalam hatimu. Ketika engkau semua menghadapi persoalan, dihadapkan dengan ujian, dihadapkan dengan pilihan seberapa besar engkau mampu memanfaatkan betul kenyataan kebenaran ini? Akankah semua itu membantumu melewati kesulitanmu dan keluar dari ujianmu setelah memuaskan maksud Tuhan? Akankah engkau semua tetap berdiri teguh dalam ujianmu serta bersaksi secara lantang dan gamblang untuk Tuhan? Pernahkah engkau semua tertarik akan hal-hal ini sebelumnya? Izinkan Aku bertanya kepadamu: Dalam hatimu, dalam semua pikiran dan perenunganmu sehari-hari, apakah hal yang terpenting bagimu? Pernahkah engkau mencapai sebuah kesimpulan? Apa yang menurutmu menjadi hal terpenting? Ada orang yang berkata "tentu saja melakukan kebenaran secara nyata"; beberapa orang berkata "tentu saja membaca firman Tuhan setiap hari"; yang lain berkata "menempatkan diriku di hadapan Tuhan dan berdoa kepada Tuhan setiap hari, tentunya"; dan lalu ada orang yang berkata "tentu saja melakukan tugasku dengan benar setiap hari"; ada beberapa orang lagi yang berkata mereka hanya memikirkan bagaimana memuaskan Tuhan, bagaimana taat kepada-Nya dalam semua hal, dan bagaimana bertindak sejalan dengan kehendak-Nya. Apakah benar demikian? Apakah semudah itu? Sebagai contoh, ada beberapa orang yang berkata: "Aku hanya ingin taat kepada Tuhan, tetapi ketika sesuatu terjadi aku tidak bisa taat kepada-Nya." Ada orang yang berkata: "Aku hanya ingin memuaskan Tuhan. Bahkan seandainya aku hanya bisa memuaskan-Nya sekali saja, itu sudah bagus, tetapi aku tidak pernah bisa memuaskan-Nya." Dan sebagian orang berkata: "Aku hanya ingin taat kepada Tuhan. Dalam masa ujian, aku hanya ingin tunduk pada pengaturan-Nya, taat pada kedaulatan dan pengaturan-Nya, tanpa keluhan atau permintaan. Namun, hampir setiap kali aku gagal untuk taat." Beberapa orang lain berkata: "Ketika aku dihadapkan dengan keputusan, aku tidak pernah bisa memilih untuk melakukan kebenaran secara nyata. Aku selalu ingin memuaskan daging, selalu ingin memuaskan hasrat egois pribadiku." Apakah penyebab hal ini? Sebelum ujian Tuhan datang, sudahkah engkau semua menantang dirimu berkali-kali, dan mencoba serta menguji dirimu berkali-kali? Lihat apakah engkau benar-benar dapat menaati Tuhan, benar-benar dapat memuaskan Tuhan, dan yakin untuk tidak mengkhianati Tuhan. Lihat apakah engkau bisa untuk tidak memuaskan dirimu sendiri, untuk tidak memuaskan hasrat egoismu, tetapi hanya memuaskan Tuhan, sama sekali tanpa menyertakan pilihan pribadimu. Apakah ada orang seperti itu? Sebenarnya, hanya ada satu fakta yang sudah disajikan tepat di depan matamu. Itulah yang paling membuat engkau semua tertarik, yang paling ingin engkau ketahui, dan itu adalah tentang kesudahan dan tempat tujuan setiap orang. Engkau mungkin tidak menyadarinya, namun ini adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Aku tahu ada beberapa orang yang, ketika berbicara mengenai kebenaran tentang kesudahan manusia, tentang janji Tuhan kepada umat manusia, dan tempat tujuan yang Tuhan siapkan untuk manusia, sudah mempelajari firman Tuhan tentang hal ini beberapa kali. Ada juga orang yang berulang kali mencarinya dan memikirkannya dalam pikiran mereka, dan mereka masih tidak mendapatkan hasil, atau mungkin mendapatkan kesimpulan yang ambigu. Pada akhirnya mereka tetap tidak yakin tentang kesudahan seperti apa yang menanti mereka. Ketika menerima pesan tentang kebenaran, tentang kehidupan bergereja, ketika melaksanakan tugas mereka, kebanyakan orang selalu ingin mengetahui jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan berikut: Akan seperti apakah kesudahanku? Bisakah aku menapaki jalan sampai ke akhirnya? Bagaimanakah sikap Tuhan terhadap manusia? Beberapa orang bahkan khawatir: Aku telah melakukan beberapa hal di masa lalu, aku telah mengatakan beberapa hal, aku telah bersikap tidak taat kepada Tuhan, aku telah melakukan beberapa hal yang telah mengkhianati Tuhan, ada beberapa hal ketika aku tidak memuaskan Tuhan, menyakiti hati Tuhan, membuat Tuhan kecewa terhadapku, membuat Tuhan membenciku dan muak terhadapku, jadi mungkin kesudahanku tidak diketahui. Cukup adil mengatakan bahwa kebanyakan orang merasa tidak yakin dengan kesudahan mereka sendiri. Tidak seorang pun berani berkata: "Aku merasa dengan kepastian seratus persen bahwa aku akan menjadi penyintas; aku seratus persen yakin bahwa aku dapat memuaskan maksud Tuhan; aku adalah orang yang berkenan di hati Tuhan; aku adalah orang yang dipuji oleh Tuhan." Beberapa orang berpikir bahwa sangat sulit untuk mengikuti jalan Tuhan, dan bahwa melakukan kebenaran secara nyata adalah hal tersulit. Akibatnya, orang-orang ini berpikir mereka tidak bisa ditolong, dan tidak berani terlalu optimis akan memiliki kesudahan yang baik. Atau mungkin mereka percaya bahwa mereka tidak dapat memuaskan maksud Tuhan, dan tidak dapat menjadi penyintas, dan karena ini akan berkata bahwa mereka tidak memiliki kesudahan, dan tidak bisa mencapai tempat tujuan yang baik. Terlepas dari bagaimana orang sebetulnya berpikir, setiap orang bertanya-tanya tentang kesudahan mereka berkali-kali. Mengenai pertanyaan tentang masa depan mereka, pertanyaan tentang apa yang akan mereka dapatkan ketika Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya, orang-orang ini selalu menghitung, selalu merencanakan. Beberapa orang rela membayar harga dua kali lipat; beberapa orang meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka; beberapa orang meninggalkan pernikahan mereka; beberapa orang mengundurkan diri demi berkorban bagi Tuhan; beberapa orang meninggalkan rumah mereka untuk melakukan tugas mereka; beberapa orang memilih kesukaran, dan mulai mengambil tugas paling pahit dan melelahkan; beberapa orang memilih untuk mendedikasikan kekayaan, mendedikasikan seluruh hidup mereka; juga beberapa orang memilih untuk mengejar kebenaran, dan mengejar pengenalan akan Tuhan. Tidak peduli bagaimana engkau semua memilih untuk melakukan tindakan nyatamu, apakah cara yang engkau semua lakukan begitu penting? (Tidak penting.) Lalu, bagaimana kita menjelaskan bahwa itu tidak penting? Jika cara tidak penting, lalu apa yang penting? (Perilaku baik secara lahiriah tidak mewakili melakukan kebenaran secara nyata.) (Apa yang setiap orang pikirkan tidaklah penting. Kuncinya di sini adalah apakah kita telah melakukan kebenaran secara nyata, dan apakah kita mengasihi Tuhan.) (Kejatuhan antikristus dan pemimpin palsu membantu kita memahami bahwa perilaku lahiriah bukanlah hal terpenting. Mereka secara lahiriah tampak telah meninggalkan banyak, dan mereka tampak bersedia membayar harga, namun setelah pembedahan kita dapat melihat bahwa mereka sama sekali tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan; dalam segala hal mereka menentang-Nya. Mereka selalu berdiri bersama Iblis pada saat sangat penting, mengganggu pekerjaan Tuhan. Dengan demikian, pertimbangan utama di sini adalah di sisi manakah kita berdiri ketika waktunya tiba, dan sudut pandang kita.) Engkau semua berbicara dengan baik, dan engkau semua tampak sudah memiliki pemahaman dasar dan standar untuk melakukan kebenaran secara nyata, apa maksud Tuhan, dan apa yang Tuhan tuntut dari manusia. Bahwa engkau semua dapat berbicara seperti ini sungguh menyentuh. Walaupun di sana-sini ada beberapa kata yang kurang tepat, pernyataanmu sudah mendekati penjelasan yang layak untuk kebenaran. Ini membuktikan bahwa engkau semua telah mengembangkan pemahaman sejatimu sendiri tentang orang, peristiwa, dan objek di sekitarmu, semua lingkunganmu yang telah diatur oleh Tuhan, dan segala sesuatu yang dapat engkau lihat. Pemahaman ini telah mendekati kebenaran. Meski apa yang engkau katakan tidak sepenuhnya komprehensif, dan beberapa perkataan tidak terlalu tepat, pemahamanmu telah mendekati realitas kebenaran. Mendengar engkau semua berbicara seperti ini membuat-Ku merasa senang.

Keyakinan Orang Tidak Bisa Menggantikan Kebenaran

Ada beberapa orang yang bisa menanggung kesukaran; mereka bisa menerima konsekuensi; perilaku lahiriah mereka sangat bagus; mereka sangat dihormati dan dikagumi oleh yang lain. Bagaimana menurutmu: Bisakah perilaku lahiriah seperti ini dianggap melakukan kebenaran secara nyata? Bisakah engkau mengatakan bahwa orang ini memuaskan maksud Tuhan? Mengapa berulang kali ketika orang melihat individu semacam ini, selalu berpikir bahwa mereka sedang memuaskan hati Tuhan, berpikir bahwa mereka sedang berjalan di jalan melakukan kebenaran secara nyata, bahwa mereka sedang berjalan di jalan Tuhan? Mengapa beberapa orang berpikir seperti ini? Hanya ada satu penjelasan untuk itu. Dan penjelasan seperti apakah itu? Itu karena bagi banyak orang, pertanyaan seperti apakah maksud melakukan kebenaran secara nyata, apakah maksud memuaskan Tuhan, apakah maksud benar-benar memiliki kenyataan kebenaran—semua pertanyaan ini tidak begitu jelas. Jadi ada beberapa orang yang sering tertipu oleh mereka yang secara lahiriah tampak rohani, tampak mulia, tampak memiliki citra luhur. Terkait mereka yang fasih membicarakan huruf-huruf yang tertulis dan doktrin, dan yang ujaran serta tindakannya tampak layak dikagumi, para pengagum mereka tidak pernah melihat esensi dari tindakan mereka, prinsip yang melatarbelakangi perbuatan mereka, apa tujuan mereka. Mereka tidak pernah melihat apakah orang-orang ini sungguh taat kepada Tuhan, dan apakah mereka adalah orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Mereka tidak pernah mencerna hakikat kemanusiaan orang-orang ini. Dari sejak awal mulai berkenalan, sedikit demi sedikit, mereka malah mulai mengagumi orang-orang ini, menghormati mereka, dan pada akhirnya orang-orang ini menjadi idola mereka. Selain itu, dalam pikiran beberapa orang, idola yang mereka puja, yang mereka anggap sanggup meninggalkan keluarga serta pekerjaan mereka, dan menerima konsekuensi di permukaan—idola ini adalah mereka yang benar-benar memuaskan Tuhan, yang benar-benar dapat menerima kesudahan yang baik dan tempat tujuan yang baik. Dalam pikiran mereka, idola ini adalah orang yang dipuji Tuhan. Apa yang menyebabkan orang memiliki keyakinan semacam ini? Apa esensi dari persoalan ini? Apa konsekuensi yang dapat ditimbulkannya? Pertama mari kita bahas soal esensinya.

Semua persoalan ini yang menyangkut sudut pandang orang, tindakan nyata orang, prinsip mana yang orang pilih untuk lakukan, dan apa yang biasanya ditekankan oleh semua orang, pada dasarnya ini semua tidak ada hubungan dengan tuntutan Tuhan terhadap umat manusia. Terlepas dari apakah orang berfokus pada hal dangkal ataukah dalam, pada huruf-huruf yang tertulis dan doktrin ataukah pada kenyataan, orang tidak mematuhi apa yang seharusnya benar-benar mereka patuhi, dan mereka tidak tahu apa yang paling perlu mereka ketahui. Alasan untuk ini adalah karena orang sama sekali tidak menyukai kebenaran. Oleh karena itu, orang enggan mengerahkan waktu dan upaya untuk mencari dan melakukan prinsip dalam firman Tuhan. Mereka malah lebih memilih menggunakan jalan pintas, dan meringkas apa yang mereka pahami, apa yang mereka ketahui, sebagai tindakan nyata dan perilaku yang baik. Ringkasan ini kemudian menjadi tujuan mereka sendiri untuk dikejar, menjadi kebenaran untuk dilakukan. Konsekuensi langsung dari ini adalah orang menggunakan perilaku baik manusia sebagai pengganti untuk melakukan kebenaran secara nyata, yang juga memuaskan hasrat orang untuk menjilat kepada Tuhan. Ini memberi orang modal yang digunakannya untuk melawan kebenaran, untuk berargumen dengan Tuhan dan membantah Tuhan. Pada saat yang sama, orang juga dengan licik menyingkirkan Tuhan, dan menempatkan idola pujaan hati mereka pada posisi Tuhan. Hanya ada satu akar penyebab yang membuat orang memiliki tindakan bodoh, sudut pandang bodoh, atau sudut pandang dan tindakan sepihak seperti ini, dan hari ini Aku akan memberitahukannya kepadamu. Alasannya adalah bahwa meski orang dapat mengikuti Tuhan, berdoa kepada-Nya setiap hari, dan membaca firman Tuhan setiap hari, mereka sebenarnya tidak memahami kehendak Tuhan. Inilah akar masalahnya. Jika seseorang memahami hati Tuhan, memahami apa yang disukai Tuhan, apa yang Tuhan benci, apa yang Tuhan inginkan, apa yang Tuhan tolak, orang macam apa yang Tuhan sukai, orang macam apa yang tidak disukai Tuhan, standar seperti apa yang Tuhan terapkan pada tuntutan-Nya kepada manusia, pendekatan seperti apa yang Dia ambil untuk menyempurnakan manusia, mungkinkah orang tersebut tetap memiliki gagasan pribadinya sendiri? Bisakah mereka pergi begitu saja dan memuja orang lain? Mungkinkah orang biasa menjadi idola mereka? Jika seseorang memahami kehendak Tuhan, sudut pandang mereka sedikit lebih rasional dari itu. Mereka tidak akan sembarangan mengidolakan manusia yang rusak, juga, sambil berjalan di jalan melakukan kebenaran secara nyata, mereka tidak akan percaya bahwa dengan sembarangan mengikuti beberapa aturan atau prinsip sederhana sama dengan melakukan kebenaran secara nyata.

Ada Banyak Pendapat Mengenai Standar Yang Digunakan oleh Tuhan untuk Menetapkan Kesudahan Manusia

Mari kita kembali ke topik ini dan melanjutkan diskusi tentang perkara kesudahan.

Karena setiap orang mengkhawatirkan kesudahan mereka, apakah engkau semua tahu bagaimana Tuhan menetapkan kesudahan tersebut? Dengan cara apa Tuhan menetapkan kesudahan seseorang? Dan standar seperti apa yang Dia gunakan untuk menetapkan kesudahan seseorang? Dan ketika kesudahan manusia belum ditetapkan, apa yang Tuhan lakukan untuk mengungkapkan kesudahan ini? Apakah ada yang mengetahui hal ini? Seperti yang baru saja Aku katakan, ada beberapa orang yang telah meneliti firman Tuhan sejak lama. Orang-orang ini menyelidiki petunjuk tentang kesudahan umat manusia, tentang kategori yang digunakan untuk membagi kesudahan ini, dan tentang kesudahan berbeda yang menanti berbagai jenis orang. Mereka juga ingin mengetahui bagaimana firman Tuhan menetapkan kesudahan manusia, jenis standar yang Tuhan gunakan, dan cara yang digunakan oleh-Nya untuk menetapkan kesudahan manusia. Namun, pada akhirnya orang-orang ini tidak pernah berhasil menemukan apa pun. Dalam kenyataan sebenarnya, hanya terdapat sedikit sekali yang dikatakan tentang hal ini dalam firman Tuhan. Mengapa demikian? Selama kesudahan manusia belum diungkapkan, Tuhan tidak ingin memberi tahu siapa pun tentang apa yang akan terjadi di akhir, dan Dia juga tidak ingin memberi tahu siapa pun sebelumnya tentang tempat tujuan mereka. Alasan untuk ini adalah bahwa tindakan Tuhan melakukan demikian tidak akan memberi faedah apa pun bagi manusia. Saat ini, Aku hanya ingin memberi tahu engkau semua tentang cara yang digunakan oleh Tuhan untuk menetapkan kesudahan manusia, tentang prinsip yang Dia terapkan dalam pekerjaan-Nya guna menetapkan kesudahan manusia, dan mewujudkan kesudahan ini, serta standar yang Dia gunakan untuk menentukan apakah seseorang dapat selamat atau tidak. Bukankah ini yang paling dikhawatirkan oleh engkau semua? Lalu, bagaimana orang memahami cara yang digunakan Tuhan untuk menetapkan kesudahan manusia? Engkau semua membicarakan sedikit tentang perkara ini barusan. Beberapa dari antaramu mengatakan bahwa ini adalah soal menjalankan tugas mereka dengan setia, mengorbankan milik mereka untuk Tuhan; beberapa yang lain mengatakan ini tentang taat kepada Tuhan dan memuaskan Tuhan; beberapa orang mengatakan ini tentang berada dalam pengaturan Tuhan; dan beberapa yang lain mengatakan ini tentang menjalani hidup sederhana .... Ketika engkau semua melakukan kebenaran ini secara nyata, ketika engkau semua menerapkan prinsip-prinsip dalam imajinasimu, apakah engkau semua tahu apa yang Tuhan pikirkan? Sudahkah engkau semua mempertimbangkan apakah terus berbuat seperti ini akan memuaskan maksud Tuhan atau tidak? Apakah itu memenuhi standar Tuhan? Apakah itu memenuhi tuntutan Tuhan? Aku yakin bahwa kebanyakan orang tidak memikirkan hal ini secara matang. Mereka hanya menerapkan secara mekanis sebagian dari firman Tuhan, atau sebagian dari khotbah, atau standar orang rohani tertentu yang mereka kagumi, memaksakan diri mereka untuk melakukan ini dan itu. Mereka yakin bahwa ini adalah cara tepat, jadi mereka tetap menaatinya, melakukannya, tidak peduli apa yang terjadi di akhir. Beberapa orang berpikir: "Aku sudah percaya selama bertahun-tahun; aku selalu melakukan dengan cara ini; aku merasa seperti aku benar-benar telah memuaskan Tuhan; aku juga merasa sudah mendapat banyak hal dari semua itu. Karena aku mulai memahami banyak kebenaran selama masa ini, dan memahami banyak hal yang sebelumnya tidak aku pahami—khususnya, banyak gagasan dan pandanganku telah berubah, nilai hidupku telah banyak berubah, dan aku punya pemahaman cukup baik tentang dunia ini." Orang seperti itu percaya bahwa ini adalah panen, dan itu adalah hasil akhir dari pekerjaan Tuhan bagi manusia. Menurut pendapatmu, dengan menggabungkan standar ini dan semua tindakan nyatamu—apakah engkau semua memuaskan maksud Tuhan? Beberapa orang akan berkata dengan mantap: "Tentu saja! Kami melakukan tindakan nyata menurut firman Tuhan; kami melakukannya menurut apa yang dikhotbahkan dan dibahas dalam persekutuan oleh saudara itu; kami selalu melakukan tugas kami, selalu mengikuti Tuhan, dan kami tidak pernah meninggalkan Tuhan. Oleh karena itu, kami dapat berkata dengan penuh keyakinan bahwa kami sedang memuaskan Tuhan. Tidak peduli seberapa besar kami memahami maksud Tuhan, tidak peduli seberapa banyak kami memahami firman Tuhan, kami selalu berada di jalan pencarian agar sesuai dengan Tuhan. Jika kami bertindak dengan benar, dan melakukan tindakan nyata dengan benar, maka hasilnya akan benar." Bagaimana pendapatmu tentang perspektif ini? Apakah itu benar? Mungkin, ada beberapa yang berkata: "Aku tidak pernah memikirkan tentang hal-hal ini sebelumnya. Aku hanya berpikir bahwa jika aku terus melakukan tugasku dan tetap bertindak sesuai dengan persyaratan firman Tuhan, maka aku bisa selamat. Aku tidak pernah memikirkan pertanyaan apakah aku dapat memuaskan hati Tuhan, dan aku tidak pernah memikirkan apakah aku mencapai standar yang dituntut oleh-Nya. Karena Tuhan tidak pernah memberitahukan kepadaku, atau memberiku instruksi yang jelas, aku percaya bahwa selama aku terus melakukannya, Tuhan akan merasa puas dan Dia seharusnya tidak menuntutku lebih dari itu." Apakah semua keyakinan ini benar? Menurut pandangan-Ku, cara melakukan seperti ini, cara berpikir seperti ini, dan sudut pandang ini—semuanya menghadirkan khayal dan sedikit kebutaan. Ketika Aku mengatakan ini, mungkin ada beberapa orang dari antaramu yang merasa sedikit berkecil hati berkata: "Kebutaan? Jika itu adalah 'kebutaan,' maka harapan kami akan keselamatan, harapan kami untuk bertahan hidup sangat kecil, dan sangat tidak pasti, bukankah demikian? Bukankah tindakan-Mu berkata demikian sama saja dengan mematahkan semangat kami?" Apa pun yang engkau semua yakini, hal-hal yang Aku katakan dan lakukan tidak dimaksudkan untuk membuatmu merasa seolah-olah semangatmu dipatahkan. Sebaliknya, ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahamanmu tentang maksud Tuhan, dan meningkatkan pengertianmu tentang apa yang Tuhan pikirkan, apa yang ingin Tuhan capai, orang macam apa yang Tuhan suka, apa yang Tuhan benci, apa yang dipandang jijik oleh Tuhan, tipe orang seperti apa yang ingin didapat oleh Tuhan, dan tipe orang seperti apa yang ditolak oleh Tuhan. Itu dimaksudkan untuk memberi kejelasan pada pikiranmu, membantumu mengetahui dengan jelas seberapa jauh tindakan dan pikiranmu masing-masing telah menyimpang dari standar yang dituntut oleh Tuhan. Apakah perlu membahas topik-topik ini? Karena Aku tahu engkau semua telah percaya sejak lama sekali, dan telah mendengar begitu banyak khotbah, tetapi ini justru hal-hal yang paling kurang dipahami. Engkau semua telah mencatat setiap kebenaran dalam buku catatanmu, engkau semua juga telah mencatat apa yang secara pribadi engkau semua yakini penting dalam pikiranmu, dan dalam hatimu. Dan engkau semua berencana untuk menggunakannya saat melakukan tindakan nyata untuk memuaskan Tuhan, menggunakannya ketika engkau semua menyadari dirimu membutuhkannya, menggunakannya untuk melewati masa-masa sulit yang ada di depan matamu, atau sekadar membiarkan kebenaran ini menyertaimu saat engkau semua menjalani hidupmu. Namun, menurut pandangan-Ku, jika engkau semua hanya melakukan tindakan nyata, bagaimana tepatnya engkau melakukan tindakan nyata itu tidaklah penting. Lalu, apakah hal yang sangat penting itu? Apakah ketika engkau melakukan tindakan nyata, hatimu mengetahui dengan segenap keyakinan apakah setiap hal, setiap perbuatan, yang engkau lakukan adalah apa yang Tuhan inginkan atau bukan; apakah setiap hal yang engkau lakukan, setiap hal yang engkau pikirkan, dan hasil serta tujuan dalam hatimu memuaskan maksud Tuhan, memenuhi tuntutan Tuhan atau tidak, dan apakah Tuhan menyetujui semua itu atau tidak. Inilah yang merupakan hal-hal penting.

Berjalan dalam Jalan Tuhan adalah Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan

Ada pernyataan yang harus diingat oleh engkau semua. Aku yakin pernyataan ini sangat penting, karena bagi-Ku hal itu terlintas dalam pikiran berkali-kali setiap hari. Mengapa demikian? Karena setiap kali Aku berhadapan dengan seseorang, setiap kali Aku mendengar kisah seseorang, setiap kali Aku mendengar pengalaman seseorang atau kesaksian mereka tentang percaya kepada Tuhan, Aku selalu menggunakan pernyataan ini untuk menimbang apakah individu ini tipe orang yang Tuhan inginkan, tipe orang yang Tuhan suka, atau bukan. Lalu, apakah pernyataan ini? Engkau semua sekarang menunggu dengan penuh semangat. Ketika Aku mengungkapkan pernyataan tersebut, engkau semua mungkin akan merasa kecewa karena ada orang yang mengamininya selama bertahun-tahun di bibir saja. Tetapi bagi-Ku, Aku tidak pernah mengamini di bibir saja. Pernyataan ini bersemayam dalam hati-Ku. Jadi apakah pernyataan ini? Itu adalah "berjalan dalam jalan Tuhan adalah takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan." Bukankah ini sebuah frasa sangat sederhana? Namun meski pernyataan tersebut sederhana, seseorang yang benar-benar memiliki pemahaman mendalam tentang pernyataan itu akan merasa bahwa itu sangat berat; bahwa itu mengandung banyak nilai untuk diterapkan; bahwa itu adalah bahasa dari kehidupan dengan kenyataan kebenaran; bahwa itu adalah tujuan seumur hidup untuk diperjuangkan ke depan bagi mereka yang berusaha untuk memuaskan Tuhan; dan bahwa itu adalah cara seumur hidup untuk diikuti oleh siapa pun yang peka terhadap maksud Tuhan. Jadi bagaimana menurutmu: Apakah pernyataan ini sebuah kebenaran? Apakah pernyataan itu memiliki makna penting semacam ini? Mungkin ada beberapa orang yang memikirkan pernyataan ini, mencoba untuk memahaminya, namun ada juga beberapa yang mencurigainya: Apakah pernyataan ini sangat penting? Apakah hal itu sangat penting? Apakah sangat perlu dan layak untuk ditekankan? Mungkin ada beberapa orang yang tidak terlalu menyukai pernyataan ini karena mereka berpikir mengambil cara Tuhan dan menyimpulkannya menjadi satu pernyataan, ini adalah penyederhanaan yang terlalu berlebihan. Menggabungkan semua yang Tuhan katakan dan memadatkannya menjadi satu pernyataan—bukankah ini membuat Tuhan menjadi sedikit kurang bermakna? Apakah benar demikian? Bisa jadi sebagian besar dari engkau semua tidak sepenuhnya memahami makna mendalam di balik semua firman ini. Meski engkau semua sudah mencatatnya, engkau semua tidak berkeinginan untuk menempatkan pernyataan ini dalam hatimu; engkau semua hanya menuliskannya dalam buku catatanmu, dan melihatnya kembali serta mempertimbangkannya di waktu luangmu. Ada beberapa orang yang lain yang bahkan tidak mau repot-repot menghafalkan pernyataan tersebut, apalagi berusaha memanfaatkannya dengan baik. Namun, mengapa Aku membahas pernyataan ini? Apa pun perspektifmu, atau apa yang akan engkau semua pikirkan, Aku harus mendiskusikan pernyataan ini karena ini sangat relevan dengan bagaimana Tuhan menetapkan kesudahan manusia. Apa pun pemahamanmu saat ini tentang pernyataan ini, atau bagaimana engkau semua menyikapinya, Aku tetap akan mengatakannya kepada engkau semua: Jika seseorang dapat menerapkan pernyataan ini dengan baik serta mencapai standar takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, maka mereka pastilah seorang penyintas, maka mereka pasti menjadi seseorang dengan kesudahan yang baik. Jika engkau tidak dapat mencapai standar yang ditetapkan melalui pernyataan ini, maka bisa dikatakan bahwa kesudahanmu tidak jelas. Jadi, Aku berbicara kepadamu tentang pernyataan ini untuk persiapan mentalmu sendiri, dan agar engkau semua mengetahui standar seperti apa yang Tuhan gunakan untuk mengukurmu. Seperti yang baru saja Aku bahas, pernyataan ini sangat relevan dengan penyelamatan Tuhan atas manusia, dan bagaimana Dia menetapkan kesudahan manusia. Di manakah letak relevansinya? Engkau semua sungguh ingin tahu, jadi kita akan membicarakan tentang hal itu sekarang.

Tuhan Memanfaatkan Ujian Berbeda untuk Menguji Apakah Orang Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan

Di setiap zaman, Tuhan mengaruniakan beberapa firman kepada manusia saat Dia bekerja di dunia, menyampaikan beberapa kebenaran kepada manusia. Kebenaran ini merupakan jalan untuk ditaati manusia, jalan untuk ditempuh manusia, jalan yang memampukan manusia untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan jalan yang harus dilakukan serta ditaati oleh manusia dalam hidup mereka dan sepanjang perjalanan hidup mereka. Karena alasan inilah Tuhan mengaruniakan firman ini kepada manusia. Firman ini yang datang dari Tuhan harus ditaati oleh manusia, dan menaati firman tersebut berarti menerima kehidupan. Jika seseorang tidak menaatinya, tidak melakukannya, dan orang tidak hidup dalam firman Tuhan dalam kehidupan mereka, maka orang ini tidak melakukan kebenaran secara nyata. Dan jika mereka tidak melakukan kebenaran secara nyata, mereka tidak takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, juga mereka tidak dapat memuaskan Tuhan. Jika seseorang tidak dapat memuaskan Tuhan, mereka tidak dapat menerima pujian dari Tuhan; orang semacam ini tidak memiliki kesudahan. Jadi, di sepanjang pekerjaan Tuhan, bagaimanakah Dia menetapkan kesudahan seseorang? Metode apa yang Tuhan pakai untuk menetapkan kesudahan manusia? Mungkin engkau semua tidak begitu memahami ini sekarang, namun jika Aku mengatakan prosesnya kepadamu, maka hal ini akan menjadi cukup jelas. Ini karena banyak orang sudah pernah mengalaminya sendiri.

Di sepanjang pekerjaan Tuhan, dari awal hingga sekarang, Tuhan telah menetapkan ujian untuk setiap orang—atau bisa engkau katakan untuk setiap orang yang mengikuti-Nya—dan ujian ini datang dalam berbagai ukuran. Ada orang yang telah mengalami ujian ditolak oleh keluarga mereka; ada yang telah mengalami ujian berada dalam lingkungan berbahaya; ada yang mengalami ujian ditahan dan disiksa; ada yang telah mengalami ujian dihadapkan dengan sebuah pilihan; dan ada yang telah menghadapi ujian dalam bentuk uang dan status. Secara umum, setiap orang di antara engkau semua telah menghadapi segala macam ujian. Mengapa Tuhan bekerja seperti itu? Mengapa Tuhan memperlakukan setiap orang seperti itu? Hasil seperti apa yang ingin Dia lihat? Ini merupakan poin penting dari apa yang ingin Aku katakan kepadamu: Tuhan ingin melihat apakah orang ini adalah tipe orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Maksud dari ini adalah ketika Tuhan memberimu sebuah ujian, membuatmu menghadapi beberapa keadaan, Dia ingin menguji apakah engkau adalah orang yang takut akan Tuhan, orang yang menjauhi kejahatan atau bukan. Jika seseorang dihadapkan dengan tugas menjaga persembahan, dan mereka bersentuhan dengan persembahan Tuhan, apakah engkau berpikir ini sesuatu yang telah diatur oleh Tuhan? Tidak perlu dipertanyakan lagi! Semua yang engkau hadapi adalah sesuatu yang telah diatur oleh Tuhan. Ketika engkau diperhadapkan dengan perkara ini, Tuhan akan mengamatimu diam-diam, melihat bagaimana engkau memilih, bagaimana engkau bertindak, apa yang engkau pikirkan. Hasil akhirnya adalah apa yang Tuhan paling khawatirkan, karena hasilnyalah yang akan memungkinkan-Nya untuk mengukur apakah engkau telah mencapai standar Tuhan dalam ujian ini atau tidak. Akan tetapi, ketika orang dihadapkan pada beberapa perkara, mereka sering kali tidak memikirkan tentang bagaimana mereka dihadapkan pada hal tersebut, atau standar yang dituntut oleh Tuhan. Mereka tidak memikirkan tentang apa yang ingin Tuhan lihat dari diri mereka, apa yang ingin Dia dapatkan dari mereka. Ketika diperhadapkan dengan perkara ini, orang semacam ini hanya berpikir: "Ini suatu hal yang aku hadapi; aku harus berhati-hati, tidak ceroboh! Bagaimanapun, ini persembahan Tuhan dan aku tidak dapat menyentuhnya." Orang ini yakin bahwa mereka dapat memenuhi tanggung jawab mereka dengan memiliki pemikiran sesederhana itu. Akankah Tuhan puas dengan hasil dari ujian ini? Atau akankah Dia tidak puas? Engkau semua bisa mendiskusikan hal ini. (Jika seseorang takut akan Tuhan dalam hati mereka, maka ketika diperhadapkan dengan tugas yang memungkinkan mereka untuk bersentuhan dengan persembahan Tuhan, mereka akan mempertimbangkan betapa mudahnya menyinggung watak Tuhan, sehingga mereka pasti akan melanjutkannya dengan hati-hati.) Tanggapanmu berada di jalur tepat, namun belum tepat sasaran. Berjalan di jalan Tuhan bukan tentang menaati aturan di permukaan. Sebaliknya, itu berarti bahwa jika engkau dihadapkan pada suatu perkara, pertama-tama, engkau melihatnya sebagai sebuah keadaan yang telah diatur oleh Tuhan, sebuah tanggung jawab yang dikaruniakan kepadamu oleh-Nya, atau sesuatu yang telah Dia percayakan kepadamu, dan bahwa ketika engkau sedang menghadapi perkara ini, engkau bahkan harus melihatnya sebagai sebuah ujian dari Tuhan. Ketika menghadapi perkara ini, engkau harus memiliki sebuah standar, engkau harus berpikir bahwa itu datang dari Tuhan. Engkau harus berpikir tentang bagaimana menangani perkara ini sedemikian rupa sehingga engkau dapat memenuhi tanggung jawabmu, dan setia kepada Tuhan; bagaimana cara melakukannya dan tidak membangkitkan amarah Tuhan, atau menyinggung watak-Nya. Kita baru saja berbicara tentang menjaga persembahan. Perkara ini melibatkan persembahan, dan juga melibatkan tugasmu, tanggung jawabmu. Engkau memiliki kewajiban moral atas tanggung jawab ini. Namun, ketika engkau dihadapkan pada perkara ini, apakah ada pencobaan? Ada! Dari manakah pencobaan ini berasal? Pencobaan ini berasal dari Iblis, dan juga berasal dari watak jahat dan rusak manusia. Karena ada pencobaan, ini melibatkan kesaksian yang teguh; kesaksian yang teguh juga merupakan tanggung jawab dan tugasmu. Beberapa orang berkata: "Ini adalah perkara kecil; apakah perlu membesar-besarkan hal tersebut?" Ya itu perlu! Karena agar dapat berjalan di jalan Tuhan, kita tidak diperkenankan mengabaikan apa pun yang terjadi pada diri kita, atau di sekeliling kita, sekalipun itu adalah hal kecil yang remeh-temeh. Tidak peduli apakah kita berpikir harus memberi perhatian pada hal tersebut atau tidak, selama perkara apa pun ada di hadapan kita, kita tidak boleh melepaskannya. Semua itu harus dipandang sebagai ujian dari Tuhan bagi kita. Bagaimanakah sikap semacam ini? Jika engkau memiliki sikap semacam ini, maka itu menegaskan satu fakta: Hatimu takut akan Tuhan, dan hatimu bersedia menjauhi kejahatan. Jika engkau memiliki hasrat ini untuk memuaskan Tuhan, maka apa yang engkau lakukan tidak jauh dari standar takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Sering kali ada orang yang percaya bahwa perkara yang tidak banyak diperhatikan orang, perkara yang tidak biasanya dibahas—semua ini hanyalah hal remeh, dan tidak ada kaitan dengan melakukan kebenaran secara nyata. Ketika orang-orang ini dihadapkan dengan perkara demikian, mereka tidak banyak memusingkannya dan membiarkannya berlalu. Namun, dalam kenyataan sebenarnya, ini adalah sebuah pelajaran yang harus engkau pelajari, sebuah pelajaran tentang bagaimana takut akan Tuhan, bagaimana menjauhi kejahatan. Selain itu, apa yang harus lebih engkau pikirkan adalah mengetahui apa yang Tuhan lakukan saat perkara ini muncul untuk dihadapi olehmu. Tuhan berada tepat di sisimu, mengamati setiap kata dan perbuatanmu, mengamati tindakanmu, perubahan pikiranmu—ini adalah pekerjaan Tuhan. Beberapa orang berkata: "Lalu, mengapa aku tidak merasakannya?" Engkau belum merasakannya karena jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan belumlah menjadi jalanmu yang paling penting untuk ditaati. Oleh karena itu, engkau tidak dapat merasakan pekerjaan Tuhan yang halus dalam diri manusia, yang terwujud menurut pikiran dan tindakan berbeda manusia. Engkau orang berkepala angin! Apa artinya perkara besar? Apa artinya perkara kecil? Semua perkara yang melibatkan berjalan dalam jalan Tuhan tidak dibagi menjadi yang besar atau yang kecil. Bisakah engkau menerima hal ini? (Kami bisa menerimanya.) Dalam hal perkara sehari-hari, ada beberapa hal yang orang pandang sangat besar dan signifikan, dan ada hal lain yang dipandang sebagai hal yang remeh. Orang sering melihat semua perkara besar ini sebagai yang paling penting, dan mereka menganggapnya dikirim oleh Tuhan. Akan tetapi, selama perkara besar ini ada, karena tingkat pertumbuhan manusia yang tidak matang, dan karena kualitas buruk manusia, manusia sering kali tidak menyadari maksud Tuhan, tidak dapat memperoleh penyingkapan apa pun, dan tidak memperoleh pengetahuan nyata apa pun yang bernilai. Sejauh menyangkut perkara kecil, semua ini sengaja diabaikan oleh manusia, dibiarkan menghilang sedikit demi sedikit. Karena itu, mereka telah kehilangan banyak kesempatan untuk diperiksa di hadapan Tuhan, untuk diuji oleh-Nya. Jika engkau senantiasa mengabaikan orang-orang, hal-hal, dan perkara-perkara, juga keadaan-keadaan yang diatur oleh Tuhan untukmu, ini artinya apa? Ini berarti bahwa setiap hari, bahkan di setiap momen, engkau selalu menolak penyempurnaan dirimu oleh Tuhan, dan kepemimpinan Tuhan. Kapan pun Tuhan mengatur sebuah keadaan untukmu, Dia diam-diam mengamati, memperhatikan hatimu, memperhatikan pikiran dan pertimbanganmu, memperhatikan bagaimana engkau berpikir, memperhatikan bagaimana engkau akan bertindak. Jika engkau orang yang ceroboh—orang yang belum pernah menanggapi serius jalan Tuhan, firman Tuhan, atau kebenaran—maka engkau tidak akan memedulikannya, engkau tidak akan memperhatikan apa yang ingin Tuhan selesaikan, dan yang Tuhan tuntut darimu saat Dia mengatur keadaan untukmu. Engkau juga tidak akan mengetahui bagaimana orang, hal, dan perkara yang engkau semua hadapi berkaitan dengan kebenaran atau maksud Tuhan. Setelah engkau menghadapi keadaan serta ujian berulang-ulang seperti ini, dengan Tuhan tidak melihat pencapaian dengan namamu, bagaimana Tuhan akan melanjutkan? Setelah berulang kali menghadapi ujian, engkau tidak mengagungkan Tuhan dalam hatimu, dan engkau tidak menyikapi keadaan yang Tuhan atur untukmu seperti apa adanya—sebagai ujian dari Tuhan atau tes dari Tuhan. Engkau malah menolak kesempatan yang Tuhan karuniakan kepadamu satu demi satu, dan membiarkannya lepas berkali-kali. Bukankah ini ketidaktaatan manusia yang sangat besar? (Betul.) Akankah Tuhan merasa sedih karena ini? (Dia sedih.) Tuhan tidak akan merasa sedih! Mendengar-Ku berbicara seperti ini mengejutkanmu sekali lagi. Bagaimanapun, bukankah sudah disebutkan sebelum ini bahwa Tuhan selalu bersedih? Tuhan tidak akan merasa sedih? Lalu, kapankah Tuhan merasa sedih? Bagaimanapun, Tuhan tidak akan sedih karena situasi ini. Lalu apa sikap Tuhan terhadap tipe perilaku yang diuraikan di atas? Ketika orang menolak ujian, tes, yang Tuhan kirim kepada mereka, ketika mereka tidak menyukainya, hanya ada satu sikap yang Tuhan miliki terhadap orang-orang ini. Sikap apakah ini? Tuhan menolak orang semacam ini dari lubuk hati-Nya. Ada dua lapisan makna untuk kata "menolak." Bagaimana Aku menjelaskan keduanya? Secara mendalam, kata tersebut memuat konotasi rasa muak, kebencian. Dan untuk lapisan makna kedua? Itu adalah bagian yang menyiratkan sikap masa bodoh tentang sesuatu. Engkau semua mengetahui apa arti "memasabodohkan", betul? Secara singkat, menolak berarti reaksi dan sikap terakhir Tuhan terhadap orang-orang yang berperilaku dengan cara demikian. Itu adalah kebencian yang ekstrem terhadap mereka, rasa jijik, dan karenanya menghasilkan keputusan untuk meninggalkan mereka. Ini adalah keputusan final Tuhan terhadap seseorang yang tidak pernah berjalan dalam jalan Tuhan, yang tidak pernah takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Bisakah engkau semua sekarang melihat arti penting dari pernyataan yang telah Kukatakan?

Apakah engkau semua sekarang memahami metode yang Tuhan gunakan untuk menetapkan kesudahan manusia? (Mengatur keadaan berbeda setiap hari.) Mengatur keadaan berbeda—ini adalah hal yang bisa orang rasakan dan sentuh. Lalu apakah motif Tuhan untuk ini? Motifnya adalah Tuhan ingin memberikan kepada setiap orang ujian dalam berbagai cara, dalam waktu berbeda, dan di berbagai tempat. Aspek apa sajakah dari manusia yang diuji dalam sebuah ujian? Apakah engkau jenis orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dalam setiap perkara yang engkau hadapi, engkau dengar, engkau lihat, dan engkau alami sendiri. Setiap orang akan menghadapi ujian semacam ini, karena Tuhan adil terhadap semua orang. Beberapa orang berkata: "Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun; mengapa aku belum menghadapi ujian?" Engkau merasa engkau belum pernah menghadapi ujian karena kapan pun Tuhan telah mengatur keadaan untukmu, engkau tidak pernah menganggapnya dengan kesungguhan, dan tidak pernah ingin berjalan dalam jalan Tuhan. Jadi engkau tidak merasakan ujian dari Tuhan tersebut. Beberapa orang berkata: "Aku telah menghadapi sejumlah ujian, namun aku tidak tahu cara tepat melakukan tindakan nyata. Meski aku melakukan tindakan nyata, aku masih belum tahu apakah aku telah berdiri teguh selama ujian." Orang dengan tipe situasi ini jelas tidak sedikit jumlahnya. Jadi apakah standar yang digunakan oleh Tuhan untuk mengukur orang? Seperti yang baru saja Aku katakan: Semua yang engkau lakukan, semua yang engkau pikirkan, dan semua yang engkau ungkapkan—apakah itu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Ini adalah cara menentukan apakah engkau orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan atau bukan. Apakah ini sebuah konsep yang sederhana? Cukup mudah untuk mengatakan demikian, namun apakah mudah untuk melakukannya? (Itu tidak begitu mudah.) Mengapa tidak begitu mudah? (Karena orang tidak mengenal Tuhan, tidak mengetahui bagaimana Tuhan menyempurnakan manusia, sehingga ketika mereka dihadapkan pada berbagai perkara mereka tidak tahu bagaimana harus mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah mereka; orang harus melalui berbagai ujian, pemurnian, hajaran, dan penghakiman, sebelum mereka memiliki kenyataan tentang takut akan Tuhan.) Engkau semua mengatakannya demikian, tetapi sejauh yang dapat engkau semua pahami, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, tampaknya mudah dilakukan sekarang. Mengapa Aku mengatakan ini? Karena engkau semua telah mendengar banyak khotbah, dan menerima penyiraman kenyataan kebenaran dalam jumlah berlimpah. Ini telah memungkinkanmu untuk memahami bagaimana untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dalam hal teori dan pemikiran. Berkenaan dengan tindakan nyatamu mengenai takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, semua ini sudah membantu dan membuatmu merasa bahwa hal tersebut mudah dicapai. Lalu mengapa dalam kenyataan sebenarnya orang tidak pernah dapat mencapainya? Ini karena esensi natur manusia adalah tidak takut akan Tuhan, dan menyukai kejahatan. Itu adalah alasan sesungguhnya.

Tidak Takut Akan Tuhan dan Tidak Menjauhi Kejahatan Adalah Menentang Tuhan

Mari mulai dengan membahas dari manakah pernyataan "takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan" ini berasal. (Kitab Ayub.) Karena engkau semua telah menyebut Ayub, mari kita membahas dirinya. Dalam masa Ayub, apakah Tuhan bekerja untuk penaklukan dan penyelamatan manusia? Dia tidak melakukannya, bukan? Dan sejauh menyangkut Ayub, seberapa banyak pengetahuankah yang dia miliki tentang Tuhan pada waktu itu? (Tidak banyak pengetahuan.) Dan bagaimanakah pengetahuan akan Tuhan tersebut dibandingkan dengan pengetahuan yang engkau semua miliki saat ini? Bagaimana mungkin engkau semua tidak berani menjawab ini? Apakah pengetahuan Ayub lebih atau kurang dari pengetahuan yang engkau semua miliki saat ini? (Kurang.) Ini sebuah pertanyaan sangat mudah untuk dijawab. Kurang! Tentu saja! Engkau semua sekarang berhadapan langsung dengan Tuhan, dan berhadapan langsung dengan firman Tuhan. Pengetahuanmu akan Tuhan jauh lebih banyak dari Ayub. Mengapa Aku mengemukakan hal ini? Mengapa Aku berbicara seperti ini? Aku mau menjelaskan sebuah fakta kepadamu, namun sebelum melakukannya, Aku ingin mengajukan kepadamu sebuah pertanyaan: Ayub hanya tahu sedikit sekali tentang Tuhan, namun dia bisa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jadi mengapa orang zaman sekarang gagal melakukan yang demikian? (Kerusakan yang dalam.) Kerusakan yang dalam—itu adalah permukaan dari pertanyaan, namun Aku tidak pernah memandangnya seperti demikian. Engkau semua sering menggunakan doktrin dan huruf-huruf tertulis yang biasa engkau semua bicarakan seperti "kerusakan yang dalam," "memberontak melawan Tuhan," "ketidaksetiaan terhadap Tuhan," "ketidaktaatan," "tidak menyukai kebenaran," dan engkau semua menggunakan semua frasa ini untuk menjelaskan esensi dari setiap pertanyaan. Ini cara yang salah dalam melakukan tindakan nyata. Menggunakan jawaban sama untuk menjelaskan pertanyaan dengan sifat tidak serupa pada akhirnya akan menimbulkan kecurigaan menghujat kebenaran dan Tuhan. Aku tidak suka mendengarkan jawaban semacam ini. Pikirkan itu! Tidak seorang pun dari antaramu memikirkan tentang perkara ini, namun setiap hari Aku dapat melihatnya, dan setiap hari Aku dapat merasakannya. Jadi, engkau semua melakukannya, dan Aku menyaksikannya. Ketika melakukannya, engkau semua tidak dapat merasakan esensi perkara ini. Namun, ketika Aku melihatnya, Aku bisa melihat esensinya, dan Aku bisa merasakan esensinya juga. Jadi apakah esensi ini? Mengapa orang zaman sekarang tidak takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Jawaban-jawabanmu masih belum mampu menjelaskan esensi pertanyaan ini, dan semuanya tidak dapat menyelesaikan esensi dari pertanyaan ini. Itu karena ada sebuah sumber di sini yang tidak engkau semua ketahui. Apakah sumber ini? Aku tahu engkau semua ingin mendengarnya, jadi Aku akan memberitahukan kepadamu tentang sumber dari pertanyaan ini.

Pada awal pekerjaan Tuhan, bagaimana Dia menganggap manusia? Tuhan menyelamatkan manusia; Dia menganggap manusia sebagai anggota keluarga-Nya, sebagai target pekerjaan-Nya, sebagai objek yang ingin Dia taklukkan serta selamatkan, dan yang ingin Dia sempurnakan. Ini adalah sikap Tuhan terhadap manusia di awal pekerjaan-Nya. Namun bagaimanakah sikap manusia terhadap Tuhan pada waktu itu? Tuhan asing bagi manusia, dan manusia menganggap Tuhan sebagai orang asing. Dapat dikatakan bahwa sikap manusia terhadap Tuhan tidak benar, dan manusia tidak jelas tentang bagaimana dia seharusnya memperlakukan Tuhan. Jadi, dia memperlakukan-Nya sesuka dia, dan melakukan apa pun yang dia suka. Apakah manusia memiliki sudut pandang tentang Tuhan? Pada mulanya, manusia tidak memiliki pandangan apa pun tentang Tuhan. Apa yang disebut dengan sudut pandang manusia hanyalah beberapa konsepsi dan imajinasi mengenai Tuhan. Apa yang sesuai dengan konsepsi manusia diterima; apa yang tidak sesuai ditaati di permukaan saja, namun dalam hatinya orang sangat menolak dan menentangnya. Ini adalah hubungan manusia dan Tuhan pada mulanya: Tuhan memandang manusia sebagai anggota keluarga, namun manusia memperlakukan Tuhan sebagai orang asing. Tetapi setelah suatu periode pekerjaan Tuhan, manusia mulai mengerti apa yang coba Tuhan capai. Orang mulai mengetahui bahwa Tuhan adalah Tuhan yang sejati, dan mereka mulai mengetahui apa yang dapat manusia peroleh dari Tuhan. Sebagai apakah manusia menganggap Tuhan pada waktu ini? Manusia menganggap Tuhan sebagai penyelamat, berharap mendapatkan anugerah, memperoleh berkat, mendapatkan janji. Dan sebagai apakah Tuhan menganggap manusia pada titik ini? Tuhan menganggap manusia sebagai target penaklukan-Nya. Tuhan ingin menggunakan firman untuk menghakimi manusia, menguji manusia, memberi manusia ujian. Namun sejauh menyangkut umat manusia sampai waktu ini, Tuhan adalah objek yang bisa dia gunakan untuk mencapai tujuannya sendiri. Orang melihat bahwa kebenaran yang dikeluarkan oleh Tuhan bisa menaklukkan dan menyelamatkan mereka, dan bahwa mereka memiliki suatu kesempatan untuk memperoleh sejumlah hal yang mereka inginkan dari Tuhan, tempat tujuan yang mereka inginkan. Karena hal ini, sedikit ketulusan terbentuk dalam hati mereka, dan mereka bersedia mengikuti Tuhan ini. Waktu berlalu, dan orang memiliki pengetahuan akan Tuhan yang bersifat dangkal dan doktrinal. Bisa dikatakan bahwa mereka semakin "familier" dengan Tuhan. Dengan firman yang diucapkan oleh Tuhan, khotbah-Nya, kebenaran yang telah Dia tunjukkan, dan pekerjaan-Nya—orang semakin lama semakin "familier." Jadi, orang secara keliru mengira bahwa Tuhan tidak lagi asing, dan bahwa mereka sudah berjalan di jalur kesesuaian dengan Tuhan. Hingga saat ini, orang telah mendengarkan banyak khotbah tentang kebenaran, dan telah mengalami banyak pekerjaan Tuhan. Namun di bawah gangguan dan halangan dari banyak faktor dan berbagai keadaan, kebanyakan orang tidak dapat melakukan kebenaran secara nyata, dan tidak dapat memuaskan Tuhan. Orang semakin malas, semakin kurang kepercayaan diri. Mereka semakin merasa bahwa kesudahan mereka sendiri tidak diketahui. Mereka tidak berani memiliki gagasan luar biasa, dan tidak berusaha untuk membuat kemajuan apa pun; mereka hanya enggan mengikuti, maju selangkah demi selangkah. Berkenaan dengan keadaan manusia saat ini, seperti apakah sikap Tuhan terhadap manusia? Satu-satunya hasrat Tuhan adalah memberikan kebenaran ini kepada manusia, dan menginspirasikan jalan-Nya kepada manusia, dan kemudian mengatur berbagai keadaan untuk menguji manusia dengan berbagai cara. Tujuan-Nya adalah menggunakan firman ini, kebenaran ini, dan pekerjaan-Nya, dan membuahkan hasil akhir yakni manusia dapat takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Kebanyakan orang telah Kulihat hanya menerima firman Tuhan dan menganggapnya sebagai doktrin, menganggapnya sebagai huruf-huruf yang tertulis, menganggapnya sebagai peraturan yang harus ditaati. Ketika mereka melakukan sejumlah hal dan berbicara, atau menghadapi ujian, mereka tidak menganggap jalan Tuhan sebagai jalan yang harus mereka taati. Ini khususnya benar ketika orang dihadapkan pada ujian-ujian besar; Aku belum melihat seorang pun yang melakukan tindakan nyata menuju ke arah sikap takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Karena ini, sikap Tuhan terhadap manusia penuh dengan rasa muak dan ketidaksukaan yang ekstrem. Setelah Tuhan berulang kali memberikan ujian kepada orang, bahkan ratusan kali, mereka tetap tidak memiliki sikap yang jelas untuk menunjukkan tekad mereka, yakni aku ingin takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan! Karena orang tidak memiliki tekad ini, dan mereka tidak membuat tampilan seperti ini, sikap Tuhan sekarang terhadap mereka tidak lagi sama seperti di masa lalu, ketika Dia mengulurkan belas kasih, memberikan toleransi, menunjukkan sikap menahan diri dan kesabaran. Sebaliknya, Dia sangat kecewa dengan manusia. Siapa menyebabkan kekecewaan ini? Sikap Tuhan terhadap manusia semacam ini, tergantung siapakah sikap ini? Tergantung pada setiap orang yang mengikuti Tuhan. Selama bertahun-tahun melakukan pekerjaan-Nya, Tuhan telah membuat banyak tuntutan kepada manusia, dan mengatur banyak keadaan untuk manusia. Namun tidak peduli bagaimana manusia melakukannya, dan tidak peduli apa sikap manusia terhadap Tuhan, manusia tidak dapat melakukan tindakan nyata sesuai dengan tujuan berupa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jadi, Aku merangkumnya dalam satu pernyataan, dan menggunakan pernyataan ini untuk menjelaskan semua yang baru saja kita bicarakan tentang mengapa orang tidak bisa berjalan dalam jalan Tuhan, yakni takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Apakah pernyataan ini? Pernyataan ini adalah: Tuhan menganggap manusia sebagai objek penyelamatan-Nya, objek pekerjaan-Nya; manusia menganggap Tuhan sebagai musuhnya, sebagai antitesisnya. Apakah engkau jelas mengenai perkara ini sekarang? Seperti apa sikap manusia; seperti apa sikap Tuhan; seperti apakah hubungan antara manusia dan Tuhan—semua ini sangat jelas. Tidak peduli seberapa banyak khotbah yang engkau semua sudah dengar, semua hal yang engkau semua simpulkan untuk dirimu sendiri—seperti bersikap setia kepada Tuhan, taat kepada Tuhan, mencari jalan kesesuaian dengan Tuhan, ingin menghabiskan sepanjang hidup untuk Tuhan, hidup untuk Tuhan—bagi-Ku semua hal tersebut bukanlah secara sadar berjalan dalam jalan Tuhan, yaitu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sebaliknya, semua itu adalah saluran yang melaluinya engkau semua bisa mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai semua tujuan ini, engkau semua dengan enggan mengikuti beberapa peraturan. Dan justru semua peraturan inilah yang membuat orang semakin jauh dari jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan menempatkan Tuhan berseberangan dengan manusia sekali lagi.

Pertanyaan yang kita bahas hari ini sedikit berat, namun bagaimanapun, Aku masih berharap ketika engkau semua melewati pengalaman yang akan datang, dan di waktu yang akan datang, engkau semua bisa melakukan apa yang baru saja Aku katakan kepadamu. Jangan mengabaikan Tuhan dan menganggap-Nya seperti udara hampa, merasa bahwa Dia hadir pada waktu ketika Dia berguna bagimu, tetapi ketika Dia tidak berguna bagimu seakan-akan Dia tidak ada. Ketika engkau tanpa sadar memegang pemahaman semacam ini, engkau telah membuat Tuhan murka. Mungkin ada orang yang berkata: "Aku tidak menganggap Tuhan sebagai udara hampa, aku selalu berdoa kepada Tuhan, aku selalu memuaskan Tuhan, dan semua yang aku lakukan berada dalam ruang lingkup dan standar serta prinsip yang dituntut oleh Tuhan. Aku jelas tidak melakukan sesuatu menurut gagasanku sendiri." Ya, cara yang engkau pakai saat melakukan urusan itu benar. Namun bagaimana caramu berpikir ketika engkau berhadapan langsung dengan sebuah perkara? Bagaimana engkau melakukan tindakan nyata ketika engkau dihadapkan pada sebuah perkara? Beberapa orang merasa bahwa Tuhan ada ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan memohon kepada-Nya. Tetapi ketika dihadapkan pada sebuah perkara, mereka muncul dengan gagasan mereka sendiri dan ingin mematuhinya. Ini adalah menganggap Tuhan sebagai udara hampa. Situasi semacam ini membuat Tuhan seperti tidak ada. Orang berpikir bahwa Tuhan harus ada ketika mereka membutuhkan-Nya, dan ketika mereka tidak membutuhkan Tuhan, Dia seharusnya tidak ada. Orang berpikir bahwa menggunakan gagasan mereka sendiri untuk melakukan tindakan nyata sudah cukup. Mereka percaya bahwa mereka dapat melakukan hal apa pun yang menyenangkan diri mereka. Mereka hanya berpikir bahwa mereka tidak perlu mencari jalan Tuhan. Orang yang saat ini berada dalam kondisi seperti ini, dalam keadaan seperti ini—bukankah mereka berada dalam bahaya? Beberapa orang berkata: "Terlepas dari apakah aku berada dalam bahaya atau tidak, aku telah percaya selama bertahun-tahun, dan aku percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkanku karena Dia tidak tega meninggalkan aku." Orang lain berkata: "Bahkan sejak aku berada dalam rahim ibuku, aku percaya kepada Tuhan, dari dahulu sampai sekarang, seluruhnya empat puluh atau lima puluh tahun. Dalam hal waktu, aku paling memenuhi syarat untuk diselamatkan oleh Tuhan; aku paling memenuhi syarat untuk bertahan hidup. Selama periode empat atau lima dekade ini, aku meninggalkan keluarga dan pekerjaanku. Aku menyerahkan semua yang aku punya, seperti uang, status, kesenangan, dan waktu bersama keluarga; aku tidak makan banyak makanan lezat; aku tidak menikmati banyak hal menyenangkan; aku tidak mengunjungi banyak tempat menarik; aku bahkan sudah mengalami penderitaan yang tidak dapat ditanggung orang biasa. Jika Tuhan tidak dapat menyelamatkanku karena semua ini, maka aku diperlakukan dengan tidak adil dan aku tidak percaya kepada Tuhan yang seperti ini." Apakah ada banyak orang dengan pandangan seperti ini? (Ada banyak orang seperti mereka.) Maka hari ini Aku akan membantu engkau semua memahami sebuah fakta: Masing-masing dan setiap orang yang memiliki pandangan semacam ini menimbulkan kesulitan bagi diri mereka sendiri. Ini karena mereka menggunakan imajinasi mereka sendiri untuk menutupi mata mereka. Justru imajinasi serta kesimpulan mereka sendirilah yang menggantikan standar yang Tuhan tuntut dari manusia, membuat mereka ragu menerima maksud Tuhan yang sebenarnya, sehingga mereka tidak dapat merasakan keberadaan Tuhan yang sejati, dan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk disempurnakan Tuhan dan tidak memiliki bagian atau porsi dalam janji Tuhan.

Bagaimana Tuhan Menetapkan Kesudahan Manusia, dan Standar yang Dia Gunakan untuk Menetapkan Kesudahan Manusia

Sebelum memiliki apa pun pandangan atau kesimpulanmu sendiri, pertama-tama engkau harus memahami sikap Tuhan terhadapmu, apa yang Tuhan pikirkan, lalu tentukan apakah pemikiranmu itu benar atau tidak. Tuhan tidak pernah menggunakan satuan waktu untuk menetapkan kesudahan seseorang, dan Dia tidak pernah menggunakan jumlah penderitaan yang ditanggung seseorang untuk menetapkan kesudahan mereka. Lalu, apa yang Tuhan gunakan sebagai standar untuk menetapkan kesudahan manusia? Menggunakan satuan waktu untuk menetapkan kesudahan seseorang—ini adalah yang paling sesuai dengan pemahaman manusia. Dan juga ada sejumlah individu yang sering engkau semua lihat, mereka yang pada satu titik banyak mengabdikan diri, banyak berkorban, banyak membayar, banyak menderita. Semua ini adalah orang-orang yang, dalam pandanganmu, dapat diselamatkan oleh Tuhan. Semua yang orang-orang ini tunjukkan, semua yang mereka hidupi, pastinya menurut pemahaman manusia merupakan standar yang dipakai Tuhan untuk menetapkan kesudahan manusia. Apa pun yang engkau semua yakini, Aku tidak akan menyebutkan semua contoh ini satu per satu. Singkatnya, selama itu bukan standar pemikiran Tuhan sendiri, maka itu berasal dari imajinasi manusia, dan semua itu merupakan pemahaman manusia. Apakah konsekuensi memaksakan pemahaman dan imajinasimu sendiri secara buta? Jelas, konsekuensi satu-satunya adalah Tuhan akan menolakmu. Ini karena engkau selalu memamerkan kualifikasimu di hadapan Tuhan, menentang Tuhan, dan membantah Tuhan, dan engkau semua tidak mencoba untuk benar-benar memahami pikiran Tuhan, dan engkau juga tidak mencoba untuk memahami maksud Tuhan dan sikap Tuhan terhadap manusia. Bertindak seperti ini adalah menghormati dirimu di atas segala hal, bukan menghormati Tuhan. Engkau percaya kepada dirimu sendiri; engkau tidak percaya kepada Tuhan. Tuhan tidak menginginkan tipe orang seperti ini, dan Tuhan tidak akan menyelamatkan tipe orang seperti ini. Jika engkau dapat melepaskan sudut pandang semacam ini, lalu memperbaiki sudut pandang yang tidak tepat dari masa lalu ini; jika engkau bisa berlanjut sesuai dengan tuntutan Tuhan; mulai melakukan perbuatan nyata yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dari titik ini ke depan; berusaha menghormati Tuhan sebagai yang besar dalam segala hal; tidak menggunakan khayal, sudut pandang, atau keyakinanmu sendiri untuk mendefinisikan dirimu, mendefinisikan Tuhan. Dan sebaliknya, engkau mencari maksud Tuhan dalam segala hal, engkau mencapai realisasi dan pemahaman akan sikap Tuhan terhadap manusia, dan engkau menggunakan standar Tuhan untuk memuaskan Tuhan—hal itu akan sangat luar biasa! Ini akan berarti engkau mulai mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Karena Tuhan tidak menggunakan bagaimana orang berpikir dengan cara ini atau itu, gagasan dan sudut pandang mereka, sebagai standar untuk menetapkan kesudahan manusia, lalu standar macam apakah yang Dia gunakan? Tuhan menggunakan ujian untuk menetapkan kesudahan manusia. Ada dua standar menggunakan ujian untuk menetapkan kesudahan manusia: Pertama adalah jumlah ujian yang orang lalui, dan kedua hasil yang didapat orang dalam ujian. Kedua indikator inilah yang menetapkan kesudahan manusia. Sekarang kita akan menjabarkan kedua standar ini.

Pertama-tama, ketika engkau diperhadapkan dengan sebuah ujian dari Tuhan (catatan: mungkin di matamu ujian ini mudah dan tidak perlu dibahas), Tuhan akan membuatmu menyadari dengan jelas bahwa ini adalah tangan Tuhan atas dirimu, dan bahwa Tuhanlah yang telah mengatur keadaan ini untukmu. Ketika tingkat pertumbuhanmu tidak matang, Tuhan akan mengaturkan ujian guna mengujimu. Semua ujian ini akan sesuai dengan tingkat pertumbuhanmu, yang mampu engkau pahami, dan yang mampu engkau tanggung. Menguji bagian apa dari dirimu? Menguji sikapmu terhadap Tuhan. Apakah sikap ini sangat penting? Tentu saja penting! Bahkan, sangat penting! Karena sikap manusia ini adalah hasil yang Tuhan inginkan, itu adalah hal terpenting sejauh menyangkut Tuhan. Jika tidak, Tuhan tidak akan mencurahkan upaya-Nya dalam diri orang-orang dengan melakukan pekerjaan semacam ini. Tuhan ingin melihat sikapmu terhadap-Nya melalui semua ujian ini; Dia ingin melihat apakah engkau berada di jalur yang benar atau tidak; dan Dia ingin melihat apakah engkau takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan atau tidak. Oleh karena itu, terlepas dari apakah engkau memahami banyak atau sedikit kebenaran pada waktu tersebut, engkau tetap akan diperhadapkan dengan ujian dari Tuhan, dan setelah jumlah kebenaran yang engkau pahami meningkat, Tuhan akan terus mengaturkan ujian yang sesuai untukmu. Ketika engkau sekali lagi diperhadapkan dengan ujian, Tuhan ingin melihat apakah sudut pandangmu, gagasanmu, dan sikapmu terhadap Tuhan mengalami pertumbuhan selama waktu itu. Beberapa orang berkata: "Mengapa Tuhan selalu ingin melihat sikap manusia? Apakah Tuhan belum melihat bagaimana mereka melakukan kebenaran secara nyata? Mengapa Dia tetap ingin melihat sikap manusia?" Ini adalah omongan bodoh! Karena Tuhan melanjutkan dengan cara seperti ini, maka maksud Tuhan pasti terkandung di dalamnya. Tuhan senantiasa mengamati orang dari sisi mereka, memperhatikan setiap perkataan dan perbuatan mereka, setiap tindakan dan pergerakan mereka, bahkan setiap pikiran dan gagasan mereka. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia: perbuatan baik mereka, kesalahan mereka, pelanggaran mereka, dan bahkan pemberontakan serta pengkhianatan mereka, Tuhan akan mencatat itu semua sebagai bukti dalam menetapkan kesudahan mereka. Ketika pekerjaan Tuhan meningkat langkah demi langkah, engkau pun mendengar semakin banyak kebenaran, engkau pun menerima semakin banyak hal positif, informasi positif, dan kenyataan kebenaran. Sepanjang proses ini, persyaratan Tuhan terhadapmu pun akan meningkat. Pada waktu yang sama, Tuhan akan mengaturkan bagimu ujian lebih berat. Tujuan-Nya adalah untuk memeriksa apakah sikapmu terhadap Tuhan sudah matang sementara itu. Tentu saja, selama masa ini, sudut pandang yang Tuhan tuntut darimu sesuai dengan pemahamanmu akan kenyataan kebenaran.

Ketika tingkat pertumbuhanmu secara bertahap meningkat, standar yang Tuhan tuntut daripadamu juga akan meningkat secara bertahap. Jika engkau tidak matang, Tuhan akan memberimu standar yang sangat rendah; ketika tingkat pertumbuhanmu sedikit lebih besar, Tuhan akan memberimu standar yang sedikit lebih tinggi. Namun akan seperti apakah Tuhan setelah engkau memahami seluruh kebenaran? Tuhan akan membuatmu menghadapi ujian yang bahkan lebih besar lagi. Di tengah ujian ini, yang Tuhan ingin peroleh, yang Tuhan ingin lihat, adalah pengetahuanmu yang lebih mendalam dan rasa takutmu yang sejati akan Tuhan. Selama masa ini, tuntutan Tuhan terhadapmu akan lebih tinggi dan "lebih keras" daripada ketika tingkat pertumbuhanmu lebih tidak matang (catatan: Orang memandangnya sebagai keras, namun Tuhan sebenarnya memandangnya wajar). Ketika Tuhan memberikan ujian kepada orang, kenyataan seperti apakah yang Tuhan ingin ciptakan? Tuhan terus-menerus meminta agar orang memberikan hati mereka kepada-Nya. Beberapa orang akan berkata: "Bagaimana cara orang memberikan hati mereka? Aku melakukan tugasku, aku meninggalkan rumah dan mata pencaharianku, aku berkorban demi Tuhan. Bukankah semua ini adalah contoh memberikan hatiku kepada Tuhan? Bagaimana lagi aku bisa memberikan hatiku kepada Tuhan? Mungkinkah ini semua bukan contoh memberikan hatiku kepada Tuhan? Apakah persyaratan spesifik Tuhan?" Persyaratan ini sangat sederhana. Pada kenyataannya, ada beberapa orang yang sudah memberikan hati mereka kepada Tuhan dalam berbagai tingkat pada berbagai tahap ujian mereka. Namun sebagian besar orang tidak pernah memberikan hati mereka kepada Tuhan. Ketika Tuhan memberimu sebuah ujian, Tuhan melihat apakah hatimu bersama Tuhan, bersama daging, ataukah bersama Iblis. Ketika Tuhan memberimu sebuah ujian, Tuhan melihat apakah engkau berdiri menentang Tuhan atau apakah engkau berdiri dalam posisi yang sesuai dengan-Nya, dan Dia melihat apakah hatimu berada pada sisi yang sama seperti Dia. Ketika engkau tidak matang dan engkau menghadapi ujian, kepercayaan dirimu sangat rendah, dan engkau tidak dapat mengetahui dengan jelas apa yang perlu engkau lakukan guna memuaskan maksud Tuhan karena engkau memiliki pemahaman yang terbatas akan kebenaran. Terlepas dari semua ini, engkau tetap bisa berdoa secara tulus dan ikhlas kepada Tuhan, bersedia memberikan hatimu kepada Tuhan, menjadikan Tuhan yang berdaulat atasmu, dan bersedia menyerahkan kepada Tuhan semua hal yang engkau yakini paling berharga. Seperti inilah yang dimaksud sudah memberikan hatimu kepada Tuhan. Ketika engkau mendengar semakin banyak khotbah, dan engkau memahami semakin banyak kebenaran, tingkat pertumbuhanmu juga akan menjadi matang secara bertahap. Standar yang Tuhan tuntut daripadamu pada waktu ini tidak sama dengan ketika engkau belum matang; Dia menuntut standar lebih tinggi dari itu. Ketika hati manusia diberikan kepada Tuhan secara bertahap, hati manusia semakin dekat dan dekat lagi kepada Tuhan; ketika manusia bisa benar-benar berada dekat Tuhan, mereka semakin memiliki hati yang takut akan Dia. Tuhan menginginkan hati semacam ini.

Ketika Tuhan ingin mendapatkan hati seseorang, Dia akan memberi kepada mereka sejumlah ujian. Selama ujian-ujian ini, jika Tuhan tidak mendapatkan hati orang ini dan Dia tidak melihat bahwa orang ini memiliki sikap—yang berarti Dia tidak melihat bahwa orang ini mulai melakukan sesuatu atau berperilaku dengan sikap takut akan Tuhan, dan Dia tidak melihat suatu sikap dan keputusan yang menjauhi kejahatan dari orang ini. Jika keadaannya seperti ini, maka setelah sejumlah ujian, kesabaran Tuhan terhadap individu ini akan ditarik, dan Dia tidak akan menoleransi orang ini lagi. Dia tidak akan memberi ujian lagi kepada mereka, dan Dia tidak akan lagi bekerja dalam diri mereka. Lalu apa artinya itu bagi kesudahan orang ini? Ini berarti mereka tidak akan memiliki kesudahan. Mungkin saja orang ini tidak melakukan hal jahat. Juga mungkin saja mereka tidak melakukan apa pun untuk mengganggu atau mengacaukan. Juga mungkin saja mereka tidak menentang Tuhan secara terbuka. Namun, hati orang ini tersembunyi dari Tuhan. Mereka tidak pernah memiliki sikap dan sudut pandang yang jelas terhadap Tuhan, dan Tuhan tidak bisa melihat dengan jelas bahwa hati mereka telah diberikan kepada-Nya, dan Dia tidak dapat melihat dengan jelas bahwa orang ini berusaha untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Tuhan tidak lagi memiliki kesabaran untuk orang-orang ini, Dia tidak akan lagi membayar harga apa pun, Dia tidak akan lagi mengulurkan belas kasih, dan Dia tidak akan lagi bekerja dalam diri mereka. Kehidupan percaya orang ini kepada Tuhan telah usai. Ini dikarenakan dalam semua ujian yang sudah Tuhan berikan kepada orang ini, Tuhan tidak memperoleh hasil yang Dia inginkan. Jadi, ada sejumlah orang yang di dalam diri mereka Aku belum pernah melihat pencerahan dan penerangan Roh Kudus. Bagaimana mungkin melihat hal ini? Orang semacam ini mungkin telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan di permukaan mereka sangat aktif. Mereka telah membaca banyak buku, menangani banyak urusan, memenuhi lebih dari 10 buku dengan catatan, dan menguasai banyak huruf-huruf tertulis dan doktrin. Akan tetapi, sama sekali tidak terlihat adanya pertumbuhan, dan sama sekali tidak terlihat adanya sudut pandang terhadap Tuhan dari orang ini, juga tidak terlihat adanya sikap yang jelas. Yang berarti bahwa engkau tidak dapat melihat hati orang ini. Hati mereka selalu terbungkus, hati mereka tertutup—tertutup untuk Tuhan, sehingga Tuhan belum melihat hati orang ini yang sesungguhnya, Dia belum melihat rasa takut orang ini yang sesungguhnya terhadap Tuhan, dan bahkan, Dia belum melihat bagaimana orang ini berjalan dalam jalan Tuhan. Jika hingga sekarang Tuhan belum mendapatkan orang sejenis ini, bisakah Dia mendapatkan mereka di masa depan? Dia tidak bisa! Akankah Tuhan terus berusaha mendapatkan hal yang tidak bisa didapatkan? Dia tidak akan melakukannya! Lalu, seperti apakah sikap Tuhan saat ini terhadap semua orang ini? (Dia menolak mereka, Dia tidak memedulikan mereka.) Dia tidak memedulikan mereka! Tuhan tidak memedulikan orang semacam ini; Dia menolak mereka. Engkau semua telah menghafal semua perkataan ini dengan sangat cepat dan sangat akurat. Tampaknya engkau semua telah memahami apa yang sudah engkau semua dengar!

Ada beberapa orang yang, pada awal mengikuti Tuhan, tidak matang dan bodoh; mereka tidak memahami maksud Tuhan; mereka juga tidak mengetahui apa artinya percaya kepada Tuhan, mereka mengadopsi jalan buatan manusia dan salah dalam cara mereka percaya kepada Tuhan, dan mengikuti Tuhan. Ketika orang semacam ini diperhadapkan dengan sebuah ujian, mereka tidak menyadarinya, dan mati rasa terhadap petunjuk dan pencerahan dari Tuhan. Mereka tidak mengetahui apa artinya memberikan hati mereka kepada Tuhan, dan apa artinya berdiri teguh selama menghadapi ujian. Tuhan akan memberikan kepada orang ini jumlah waktu yang terbatas, dan selama waktu ini, Dia akan membiarkan mereka memahami apa yang dimaksud dengan ujian Tuhan dan apa maksud Tuhan. Setelah itu, orang ini perlu menunjukkan sudut pandang mereka. Mengenai orang yang berada pada tahap ini, Tuhan masih menunggu. Mengenai orang yang memiliki beberapa pandangan namun masih terombang-ambing, yang mau memberi hati mereka kepada Tuhan namun tidak merasa nyaman melakukannya, yang, meski mereka telah melakukan kebenaran dasar secara nyata, ketika diperhadapkan dengan ujian besar, mereka menghindar dan ingin menyerah—seperti apakah sikap Tuhan terhadap orang-orang ini? Tuhan masih memiliki sedikit harapan terhadap orang-orang ini. Hasilnya bergantung pada sikap dan kinerja mereka. Bagaimana respons Tuhan jika orang tidak aktif membuat kemajuan? Dia menyerah. Ini karena sebelum Tuhan berhenti berharap kepadamu, engkau sudah berhenti berharap pada dirimu sendiri. Jadi, engkau tidak dapat menyalahkan Tuhan karena bertindak demikian, betul? Apakah ini adil? (Itu adil.)

Sebuah Pertanyaan Praktis Menimbulkan Segala Macam Perasaan Malu dalam Diri Orang-Orang

Ada tipe lain manusia yang memiliki kesudahan paling tragis dari semuanya. Ini adalah orang-orang yang paling tidak ingin Kusebutkan. Bukan tragis karena orang ini menerima hukuman Tuhan, atau karena tuntutan Tuhan atas mereka keras dan mereka memiliki kesudahan yang tragis. Sebaliknya, tragis karena mereka melakukan hal ini kepada diri mereka sendiri, sebagaimana sering dikatakan: Mereka menggali liang kubur mereka sendiri. Tipe orang seperti apakah ini? Orang ini tidak berjalan di jalur yang benar, dan kesudahan mereka disingkapkan di awal. Tuhan memandang tipe orang ini sebagai target utama kebencian-Nya. Seperti orang bilang, mereka adalah manusia paling tragis dari semuanya. Tipe orang seperti ini sangat antusias pada awal mengikuti Tuhan; mereka membayar banyak harga; mereka memiliki pendapat bagus tentang pandangan mereka terhadap pekerjaan Tuhan; mereka penuh imajinasi tentang masa depan mereka sendiri; mereka terutama yakin akan Tuhan, percaya bahwa Tuhan dapat membuat manusia menjadi lengkap, dan membawa manusia ke tempat tujuan nan mulia. Namun entah karena alasan apa, orang ini kemudian melarikan diri selama pekerjaan Tuhan. Apa artinya bahwa orang ini melarikan diri? Itu berarti mereka menghilang tanpa berpamitan, tanpa suara. Mereka pergi tanpa sepatah kata pun. Meski orang semacam ini menyatakan percaya kepada Tuhan, mereka tidak pernah benar-benar berakar di jalan percaya mereka kepada Tuhan. Karena itu, tidak peduli seberapa lama mereka percaya, mereka masih dapat berpaling dari Tuhan. Beberapa orang pergi untuk berbisnis, beberapa yang lain pergi untuk menjalani kehidupan mereka, beberapa orang pergi supaya kaya, beberapa yang lain pergi untuk menikah, memiliki anak .... Di antara mereka yang pergi, ada beberapa yang mendapat serangan hati nurani dan ingin kembali, dan yang lain yang terus melanjutkan hidup dengan sangat buruk, terombang-ambing dalam dunia selama bertahun-tahun. Orang yang terombang-ambing ini telah mengalami banyak penderitaan, dan mereka percaya bahwa berada dalam dunia terlalu menyakitkan, dan mereka tidak dapat dipisahkan dari Tuhan. Mereka ingin kembali ke rumah Tuhan untuk menerima kenyamanan, kedamaian, sukacita, dan terus percaya kepada Tuhan agar lepas dari malapetaka, atau diselamatkan dan memperoleh tempat tujuan nan indah. Itu karena orang-orang ini percaya bahwa kasih Tuhan tidak terbatas, bahwa anugerah Tuhan tidak akan berkesudahan, dan tidak bisa habis. Mereka percaya bahwa apa pun yang seseorang sudah lakukan, Tuhan seharusnya memaafkan mereka dan bersikap toleran terhadap masa lalu mereka. Orang-orang ini berkata mereka ingin kembali dan melakukan tugas mereka. Ada orang yang bahkan memberikan beberapa harta benda mereka ke gereja, berharap bahwa ini adalah jalan mereka kembali ke rumah Tuhan. Seperti apakah sikap Tuhan terhadap tipe orang ini? Bagaimana seharusnya Tuhan menetapkan kesudahan mereka? Jangan sungkan untuk berbicara. (Sempat terpikir bahwa Tuhan akan menerima tipe orang ini, namun setelah mendengar yang baru saja dikatakan, mereka mungkin tidak akan diterima lagi.) Dan apakah buah pikiranmu? (Tipe orang ini datang di hadirat Tuhan supaya kesudahan mereka jangan berupa kematian. Mereka tidak datang dengan ketulusan murni. Sebaliknya, dengan pengetahuan bahwa pekerjaan Tuhan akan segera selesai, mereka datang dengan berangan-angan menerima berkat.) Engkau mengatakan bahwa orang ini tidak percaya kepada Tuhan secara tulus, jadi Tuhan tidak dapat menerima mereka? Apakah benar demikian? (Ya.) (Pemahaman-Ku adalah orang semacam ini seorang oportunis, dan mereka tidak percaya kepada Tuhan secara tulus.) Mereka belum percaya kepada Tuhan; mereka adalah kaum oportunis. Bagus sekali! Kaum oportunis ini adalah tipe orang yang dibenci oleh setiap orang. Mereka hanya pergi ke mana pun angin bertiup, dan tidak mau repot melakukan apa pun kecuali mereka mendapatkan sesuatu dari itu. Tentu saja, mereka adalah orang yang hina! Apakah saudara atau saudari lain memiliki sudut pandang? (Tuhan tidak akan menerima mereka lagi karena pekerjaan Tuhan akan selesai dan sekarang adalah saat kesudahan manusia ditetapkan. Pada waktu inilah orang-orang ini ingin kembali. Ini bukan karena mereka benar-benar ingin mengejar kebenaran; mereka ingin kembali karena mereka melihat malapetaka berdatangan, atau mereka dipengaruhi oleh faktor eksternal. Jika mereka benar-benar memiliki hati yang mencari kebenaran, mereka tidak akan pernah melarikan diri di tengah jalan.) Apakah ada pendapat lain? (Mereka tidak akan diterima. Tuhan benar-benar sudah memberi mereka kesempatan, namun sikap mereka terhadap Tuhan selalu tidak memedulikan diri-Nya. Apa pun maksud orang ini, dan bahkan jika mereka benar-benar bertobat, Tuhan tetap tidak akan menerima mereka. Ini karena Tuhan telah memberi mereka banyak kesempatan, namun mereka telah menunjukkan sikap mereka: Mereka ingin meninggalkan Tuhan. Oleh karena itu, ketika mereka kembali sekarang, Tuhan tidak akan menerima mereka.) (Aku juga setuju bahwa Tuhan tidak akan menerima tipe orang ini, karena jika orang telah melihat jalan yang benar, telah mengalami pekerjaan Tuhan selama periode waktu yang lama, dan masih dapat kembali ke dunia, kembali ke pelukan Iblis, maka ini adalah pengkhianatan yang besar terhadap Tuhan. Meski benar bahwa esensi Tuhan adalah belas kasih, cinta kasih, itu bergantung kepada orang macam apa hal tersebut ditujukan. Jika orang ini datang di hadirat Tuhan untuk mencari kenyamanan, mencari sesuatu untuk menyandarkan harapan mereka, maka orang semacam ini jelas bukan tipe orang yang dengan tulus percaya kepada Tuhan, dan belas kasih Tuhan kepada mereka hanya sampai sejauh ini.) Esensi Tuhan adalah belas kasih, jadi mengapa Dia tidak memberi kepada orang semacam ini belas kasih sedikit lebih banyak? Dengan sedikit belas kasih, apakah mereka lalu tidak mendapat suatu kesempatan? Dahulu, sering dikatakan: Tuhan ingin setiap orang diselamatkan, dan tidak ingin seorang pun mengalami kebinasaan. Jika seekor dari seratus ekor domba hilang, Tuhan akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dan mencari seekor yang sesat tersebut. Zaman sekarang, berkenaan dengan tipe orang ini, jika itu demi kepercayaan sejati mereka kepada Tuhan, haruskah Tuhan menerima mereka dan memberi mereka kesempatan kedua? Ini sebenarnya bukan pertanyaan sulit; jawabannya sangat sederhana! Jika engkau semua sungguh memahami Tuhan dan memiliki pemahaman nyata akan Tuhan, maka tidak diperlukan banyak penjelasan; tidak diperlukan banyak spekulasi juga, bukan? Jawabanmu berada di jalur yang tepat, namun masih ada beberapa jarak antara mereka dan sikap Tuhan.

Baru saja ada sebagian dari antara engkau semua yang yakin bahwa Tuhan tidak dapat menerima tipe orang seperti ini. Yang lain tidak begitu jelas, percaya bahwa Tuhan mungkin menerima mereka, dan mungkin tidak menerima mereka—sikap ini lebih moderat; lalu ada mereka yang memiliki sudut pandang bahwa mereka berharap Tuhan menerima orang semacam ini—ini merupakan sikap yang ambigu. Mereka yang memiliki sikap pasti, meyakini bahwa Tuhan bekerja hingga sekarang dan pekerjaan-Nya itu sempurna, sehingga Tuhan tidak perlu bersikap toleran terhadap orang-orang ini, dan Dia tidak akan menerima mereka lagi. Orang yang moderat meyakini bahwa semua perkara ini seharusnya ditangani sesuai dengan keadaan mereka: Jika hati orang ini tidak terpisahkan dari Tuhan, dan mereka masih merupakan orang yang sungguh percaya kepada Tuhan, orang yang mencari kebenaran, maka Tuhan tidak perlu mengingat kelemahan dan kesalahan mereka sebelumnya; Dia seharusnya mengampuni mereka, memberi mereka kesempatan kedua, memperkenankan mereka kembali ke rumah Tuhan, dan menerima penyelamatan dari Tuhan. Akan tetapi, jika orang ini melarikan diri sekali lagi, itulah saat Tuhan tidak lagi dapat menginginkan orang ini dan tidak boleh dianggap tidak adil terhadap mereka. Ada kelompok lain yang berharap agar Tuhan dapat menerima orang ini. Kelompok ini tidak mengetahui secara jelas apakah Tuhan menerima mereka atau tidak. Jika mereka percaya bahwa Tuhan seharusnya menerima mereka, namun Tuhan tidak menerima mereka, maka tampaknya mereka sedikit tidak selaras dengan sudut pandang Tuhan. Jika mereka meyakini bahwa Tuhan tidak perlu menerima mereka, dan Tuhan pernah berfirman bahwa kasih-Nya kepada manusia tidak terbatas dan Dia bersedia untuk memberi orang ini kesempatan lain, maka bukankah ini sebuah contoh ketidaktahuan manusia yang terungkap? Bagaimanapun, engkau semua memiliki sudut pandangmu sendiri. Sudut pandang ini adalah pengetahuan dalam pemikiranmu sendiri; juga cerminan dari kedalaman pengetahuanmu tentang kebenaran dan pemahamanmu tentang maksud Tuhan. Benar, bukan? Bagus sekali engkau semua memiliki pendapat tentang perkara ini! Namun, apakah pendapatmu itu benar atau tidak, masih merupakan tanda tanya. Tidakkah engkau semua sedikit khawatir? "Lalu apa yang benar? Aku tidak bisa melihat secara jelas, dan tidak tahu pasti apa yang Tuhan pikirkan. Tuhan tidak mengatakan apa pun kepadaku. Bagaimana aku tahu apa yang Tuhan pikirkan? Sikap Tuhan terhadap manusia adalah kasih. Menurut sikap Tuhan di masa lalu, Dia seharusnya menerima orang ini. Namun, aku tidak begitu paham tentang sikap Tuhan di masa sekarang—aku hanya bisa mengatakan bahwa Dia mungkin menerima orang ini, dan mungkin Dia tidak." Bukankah ini konyol? Ini benar-benar membuatmu terdiam. Jika engkau semua tidak memiliki pandangan yang tepat tentang perkara ini, maka apa yang akan engkau semua lakukan bilamana gerejamu benar-benar diperhadapkan dengan orang semacam ini? Jika engkau semua tidak menanganinya dengan tepat, maka engkau semua mungkin akan menyinggung Tuhan. Bukankah ini persoalan berbahaya?

Mengapa Aku ingin menanyakan pandanganmu tentang hal yang baru saja Aku bahas? Aku ingin menguji sudut pandangmu, menguji seberapa banyak pengetahuan akan Tuhan yang engkau semua miliki, seberapa banyak pemahaman yang engkau semua miliki tentang maksud dan sikap Tuhan. Apakah jawabannya? Jawabannya terletak pada sudut pandangmu. Beberapa dari antaramu sangat konservatif, dan beberapa lainnya menggunakan imajinasi mereka untuk menebak. Apakah artinya "menebak"? Itu berarti ketika engkau semua tidak mengetahui bagaimana cara Tuhan berpikir, jadi engkau semua mengemukakan gagasan tanpa dasar mengenai bagaimana Tuhan seharusnya berpikir dengan cara ini atau itu. Engkau semua sebenarnya tidak tahu apakah tebakanmu itu benar atau salah, jadi engkau semua menyatakan sudut pandang yang ambigu. Diperhadapkan dengan fakta ini, apakah yang engkau semua lihat? Ketika mengikuti Tuhan, orang jarang memberi perhatian pada maksud Tuhan, dan jarang memperhatikan pikiran serta sikap Tuhan terhadap manusia. Engkau semua tidak memahami pikiran Tuhan, jadi ketika diajukan pertanyaan terkait maksud Tuhan, terkait watak Tuhan, engkau semua mengalami kebingungan; engkau semua sangat tidak yakin dan engkau semua menebak atau mengambil risiko. Apakah sikap seperti ini? Itu membuktikan fakta ini: Kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan menganggap-Nya sebagai udara hampa, menganggap-Nya samar. Mengapa Aku berkata seperti itu? Karena setiap kali engkau semua diperhadapkan dengan sebuah perkara, engkau semua tidak mengetahui maksud Tuhan. Mengapa engkau semua tidak tahu? Bukan karena engkau semua belum mengetahuinya sekarang. Tetapi, dari sejak awal sampai akhir, engkau semua tidak mengetahui apa sikap Tuhan terhadap perkara ini. Di kala engkau tidak dapat melihat dan engkau tidak mengetahui sikap Tuhan, pernahkah engkau merenungkannya? Pernahkah engkau mencarinya? Pernahkah engkau menyampaikan tentang hal itu? Tidak! Ini menegaskan sebuah fakta: Tuhan yang engkau percayai dan Tuhan yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Engkau, yang percaya kepada Tuhan, hanya merenungkan kehendakmu sendiri, hanya merenungkan kehendak pemimpinmu, dan hanya merenungkan makna firman Tuhan secara dangkal dan sesuai doktrin, namun sama sekali tidak benar-benar mencoba untuk mengetahui dan mencari kehendak Tuhan. Bukankah benar demikian? Esensi dari perkara ini sangat buruk! Selama bertahun-tahun, Aku telah melihat banyak orang yang percaya kepada Tuhan. Seperti apakah bentuk kepercayaan ini? Beberapa orang percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia udara hampa. Orang-orang ini tidak punya jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, karena mereka tidak dapat merasakan atau menyadari kehadiran atau ketidakhadiran Tuhan, apalagi melihat atau memahaminya secara jelas. Secara bawah sadar, orang-orang ini berpikir bahwa Tuhan tidak ada. Beberapa yang lain percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia adalah seorang manusia. Orang-orang ini percaya bahwa Tuhan tidak mampu melakukan semua hal yang tidak mampu mereka lakukan, dan bahwa Tuhan seharusnya berpikir seperti cara mereka berpikir. Orang ini mendefinisikan Tuhan sebagai "orang yang tidak terlihat dan tidak dapat disentuh." Juga ada sekelompok orang yang percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia sebuah boneka. Orang-orang ini percaya bahwa Tuhan tidak memiliki emosi, bahwa Tuhan adalah sebuah patung. Ketika diperhadapkan dengan sebuah perkara, Tuhan tidak memiliki sikap, tidak punya sudut pandang, tidak punya gagasan; Dia berada di bawah kekuasaan manusia. Orang hanya memercayai apa pun yang ingin mereka percayai. Jika mereka menjadikan-Nya besar, maka Dia besar; jika mereka menjadikan-Nya kecil, maka Dia kecil. Bilamana orang berbuat dosa dan membutuhkan belas kasih Tuhan, membutuhkan toleransi Tuhan, membutuhkan kasih Tuhan, maka Tuhan seharusnya mengulurkan belas kasih-Nya. Orang-orang ini menciptakan sosok Tuhan dalam benak mereka sendiri, dan memaksa sosok Tuhan ini untuk memenuhi tuntutan mereka serta memuaskan semua keinginan mereka. Tidak peduli kapan dan di mana, dan tidak peduli apa yang orang ini lakukan, mereka akan menggunakan khayalan ini dalam perlakuan mereka terhadap Tuhan dan kepercayaan mereka kepada Tuhan. Bahkan ada orang-orang yang percaya bahwa Tuhan dapat menyelamatkan mereka setelah mereka mengusik watak Tuhan. Ini karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan tanpa batas, watak Tuhan benar, dan tidak peduli bagaimana orang menyinggung Tuhan, Tuhan tidak akan mengingatnya. Karena kesalahan manusia, pelanggaran manusia, dan ketidaktaatan manusia adalah ungkapan sementara watak orang tersebut, Tuhan akan memberi kepada orang-orang kesempatan, dan bersikap toleran serta sabar terhadap mereka. Tuhan akan tetap mengasihi mereka seperti sebelumnya. Jadi harapan akan penyelamatan mereka masih sangat besar. Nyatanya, tidak peduli bagaimana seseorang percaya kepada Tuhan, selama mereka tidak mencari kebenaran, Tuhan memiliki sikap negatif terhadap mereka. Ini karena meski engkau percaya kepada Tuhan, engkau mungkin menghargai kitab firman Tuhan, engkau mempelajarinya setiap hari, engkau membacanya setiap hari, namun engkau menyingkirkan Tuhan yang sebenarnya, engkau menganggap-Nya sebagai udara hampa, menganggap-Nya seorang manusia, dan beberapa dari antaramu hanya menganggap-Nya sebagai sebuah boneka. Mengapa Aku berkata seperti ini? Karena dari cara Aku melihatnya, tidak peduli apakah engkau semua diperhadapkan dengan sebuah perkara atau menemui suatu keadaan, semua hal tersebut yang ada di alam bawah sadarmu, semua hal yang dikembangkan di dalamnya—tidak satu pun memiliki kaitan dengan firman Tuhan atau mencari kebenaran. Engkau hanya mengetahui apa yang engkau sendiri pikirkan, seperti apa sudut pandangmu sendiri, lalu gagasanmu sendiri, sudut pandangmu sendiri dipaksakan kepada Tuhan. Semua itu menjadi sudut pandang Tuhan, yang digunakan sebagai standar yang harus ditaati dengan hati teguh. Seiring waktu, perbuatan seperti ini membuatmu semakin menjauh dari Tuhan.

Memahami Sikap Tuhan dan Meruntuhkan Semua Pemahaman yang Salah tentang Tuhan

Tuhan yang engkau semua percayai saat ini, pernahkah engkau semua memikirkan Tuhan seperti apakah Dia? Ketika Dia melihat orang jahat melakukan hal yang jahat, apakah Dia membencinya? (Dia membencinya.) Ketika Dia melihat kesalahan orang bodoh, seperti apakah sikap-Nya? (Sedih.) Ketika Dia melihat orang mencuri persembahan-Nya, seperti apakah sikap-Nya? (Dia membenci mereka.) Semua ini sangat jelas, bukan? Ketika Dia melihat seseorang berlaku ceroboh dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, dan sama sekali tidak mencari kebenaran, seperti apakah sikap Tuhan? Engkau semua sama sekali tidak jelas mengenai ini, bukan? Kecerobohan adalah sikap yang bukan merupakan dosa, dan tidak menyinggung Tuhan. Orang percaya bahwa itu tidak seharusnya dianggap sebuah kesalahan yang serius. Lalu bagaimana pendapatmu tentang sikap Tuhan? (Dia tidak mau menanggapinya.) Tidak mau menanggapinya—sikap apakah ini? Sikap ketika Tuhan memandang rendah orang ini, menolak orang ini! Tuhan menangani orang-orang ini dengan memberi mereka perlakuan tidak ramah. Pendekatan-Nya adalah menyingkirkan mereka, tidak melakukan pekerjaan apa pun pada diri mereka, termasuk pencerahan, penerangan, didikan, atau tindakan mendisiplinkan. Tipe orang ini tidak diperhitungkan dalam pekerjaan Tuhan. Seperti apakah sikap Tuhan terhadap orang yang mengusik watak-Nya, dan menyinggung ketetapan administratif-Nya? Kebencian yang ekstrem! Tuhan dibuat marah sekali oleh orang yang tidak merasa bersalah karena mengusik watak-Nya! "Marah" hanya sebuah perasaan, suasana hati; tidak dapat merepresentasikan sebuah sikap yang jelas. Namun, perasaan ini, suasana hati ini, akan mendatangkan sebuah kesudahan bagi orang ini: Itu akan memenuhi Tuhan dengan kebencian yang ekstrem! Apakah konsekuensi dari kebencian yang ekstrem ini? Tuhan akan menyingkirkan orang ini, dan tidak merespons mereka untuk saat ini. Dia akan menantikan mereka disortir selama pembalasan. Apa yang tersirat dari hal ini? Apakah orang ini masih memiliki kesudahan? Tuhan tidak pernah bermaksud memberi kesudahan kepada tipe orang ini! Lalu, apakah tidak lazim bahwa Tuhan pada saat ini tidak merespons tipe orang seperti ini? (Ya.) Bagaimana seharusnya tipe orang seperti menyiapkan diri sekarang? Mereka harus menyiapkan diri menerima konsekuensi negatif yang disebabkan oleh perilaku mereka, dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Ini adalah respons Tuhan terhadap orang semacam ini. Jadi Aku sekarang berkata dengan jelas kepada tipe orang ini: Jangan lagi menggantungkan diri pada delusi, dan jangan lagi memiliki angan-angan. Tuhan tidak akan menoleransi orang tanpa ada batasnya; Dia tidak akan menanggung pelanggaran atau ketidaktaatan mereka tanpa batas. Beberapa orang akan berkata: "Aku juga sudah melihat sejumlah orang seperti ini. Ketika mereka berdoa mereka sungguh disentuh oleh Tuhan, dan mereka menangis dengan getir. Biasanya mereka juga sangat senang; mereka sepertinya memiliki kehadiran Tuhan, dan tuntunan Tuhan." Jangan mengatakan omong kosong seperti itu! Menangis dengan getir tidak selalu berarti disentuh oleh Tuhan atau memiliki kehadiran Tuhan, apalagi tuntunan Tuhan. Jika orang membuat Tuhan marah, akankah Tuhan tetap menuntun mereka? Secara singkat, ketika Tuhan telah menetapkan untuk melenyapkan seseorang, meninggalkan mereka, maka orang tersebut sudah tidak memiliki kesudahan. Tidak peduli seberapa puas mereka atas diri mereka ketika berdoa, dan seberapa besar kepercayaan diri mereka terhadap Tuhan dalam hati mereka; ini sudah tidak penting. Hal yang penting adalah Tuhan tidak membutuhkan kepercayaan diri semacam ini, bahwa Tuhan sudah menolak orang ini. Bagaimana menangani mereka setelahnya juga tidak penting. Yang penting adalah bahwa pada saat ini orang tersebut membuat Tuhan marah, kesudahan mereka sudah ditetapkan. Jika Tuhan telah menetapkan untuk tidak menyelamatkan tipe orang ini, maka mereka akan ditinggalkan untuk dihukum. Ini adalah sikap Tuhan.

Meski bagian dari esensi Tuhan adalah kasih, dan Dia mengulurkan belas kasih kepada siapa pun, orang mengabaikan dan melupakan poin penting bahwa esensi-Nya juga berupa martabat. Bahwa Dia memiliki kasih tidak berarti bahwa orang dapat dengan bebas menyinggung-Nya dan Dia tidak memiliki perasaan, atau reaksi apa pun. Bahwa Dia memiliki belas kasih tidak berarti bahwa Dia tidak memiliki prinsip apa pun dalam cara Dia memperlakukan orang. Tuhan itu hidup; Dia sungguh ada. Dia bukanlah sebuah boneka imajiner atau suatu hal lain. Karena Dia ada, kita harus senantiasa mendengarkan suara hati-Nya secara saksama, memperhatikan sikap-Nya, dan memahami perasaan-Nya. Kita tidak seharusnya menggunakan imajinasi orang untuk mendefinisikan Tuhan, dan kita tidak seharusnya memaksakan pikiran dan pengharapan orang kepada Tuhan, yang membuat Tuhan menggunakan gaya dan pemikiran manusia dalam cara Dia memperlakukan umat manusia. Jika engkau melakukan yang demikian, engkau sedang membuat Tuhan marah, engkau sedang menyulut murka Tuhan, dan engkau sedang menantang martabat Tuhan! Karena itu, setelah engkau semua memahami tingkat keparahan perkara ini, Aku mendorong setiap orang dari antaramu agar berhati-hati dan bijaksana dalam tindakanmu. Berhati-hatilah dan bijaksanalah saat engkau semua berbicara. Dan mengenai cara engkau semua memperlakukan Tuhan, semakin engkau semua berhati-hati dan bijaksana, semakin baik! Jika engkau tidak memahami seperti apakah sikap Tuhan, jangan berbicara ceroboh, jangan ceroboh dalam tindakanmu, dan jangan memberi label secara sembrono. Selain itu, jangan sembarangan membuat kesimpulan. Sebaliknya, engkau harus menunggu dan mencari; ini juga merupakan perwujudan rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jika engkau dapat mencapai poin ini lebih dari apa pun, dan memiliki sikap ini lebih dari apa pun, Tuhan tidak akan menyalahkanmu karena kebodohanmu, ketidaktahuanmu, dan ketidakrasionalanmu. Sebaliknya, oleh karena rasa takutmu menyinggung Tuhan, rasa hormatmu akan maksud Tuhan, dan sikapmu yang bersedia untuk taat kepada-Nya, Tuhan akan mengingatmu, membimbing dan mencerahkanmu, atau menoleransi ketidakmatangan dan ketidaktahuanmu. Sebaliknya, jika sikapmu terhadap-Nya tanpa rasa hormat—menghakimi Tuhan secara sembarangan, menebak dan mendefinisikan gagasan Tuhan secara sembarang—Tuhan akan memberimu vonis, tindakan mendisiplinkan, bahkan hukuman; atau Dia akan memberimu pernyataan. Mungkin, pernyataan ini menyangkut kesudahanmu. Oleh karena itu, Aku masih ingin menekankan hal ini sekali lagi: Engkau harus berhati-hati dan bijaksana terhadap apa pun yang berasal dari Tuhan. Jangan berbicara dengan ceroboh, dan jangan ceroboh dalam tindakanmu. Sebelum engkau mengatakan apa pun, engkau harus berpikir: Apakah melakukan ini membuat Tuhan marah? Apakah melakukan ini sikap takut akan Tuhan? Bahkan untuk perkara sederhana, engkau tetap harus benar-benar mencoba memikirkan pertanyaan ini, benar-benar mempertimbangkannya. Jika engkau benar-benar dapat melakukan perbuatan nyata berdasarkan prinsip ini di mana pun, dalam segala hal, dan kapan pun, terutama berkenaan dengan perkara yang engkau tidak pahami, maka Tuhan akan senantiasa membimbingmu, dan akan senantiasa memberimu jalan untuk diikuti. Tidak peduli seperti apa orang menampilkan diri, Tuhan melihat semuanya secara jelas serta terang, dan Dia akan memberimu evaluasi yang akurat dan tepat atas penampilan ini. Setelah engkau mengalami ujian terakhir, Tuhan akan menilai semua perilakumu dan mengumpulkannya secara lengkap untuk menetapkan kesudahanmu. Hasil ini akan meyakinkan siapa pun tanpa sedikit pun keraguan. Apa yang ingin Aku katakan kepadamu adalah bahwa setiap perbuatanmu, tindakanmu, dan pikiranmu akan menentukan nasibmu.

Siapa yang Menetapkan Kesudahan Manusia?

Ada persoalan sangat penting lainnya, dan itu adalah sikapmu terhadap Tuhan. Sikap ini sangat penting! Itu menentukan apakah engkau semua pada akhirnya akan berjalan menuju pemusnahan, atau menuju tempat tujuan nan indah yang sudah Tuhan siapkan untukmu. Di Zaman Kerajaan, Tuhan telah bekerja lebih dari 20 tahun, dan sepanjang 20 tahun ini, hatimu mungkin sedikit tidak yakin tentang kinerjamu. Akan tetapi, dalam hati Tuhan, Dia telah membuat catatan yang aktual dan benar untuk setiap orang dari antara engkau semua. Mulai dari ketika setiap orang mulai mengikuti-Nya dan mendengarkan khotbah-Nya, memahami semakin banyak kebenaran, sampai ketika mereka melakukan tugas mereka—Tuhan memiliki catatan untuk setiap penampilan ini. Ketika seseorang melakukan tugas mereka, ketika mereka diperhadapkan dengan semua jenis keadaan, semua jenis ujian, seperti apakah sikap orang tersebut? Bagaimana mereka menjalankannya? Bagaimana perasaan mereka terhadap Tuhan dalam hati mereka? ... Tuhan memiliki catatan mengenai semua ini, catatan semuanya. Mungkin dari sudut pandangmu, semua persoalan ini membingungkan. Akan tetapi, dari tempat Tuhan berdiri, semua itu sangat jelas, dan bahkan tidak ada sedikit pun kecerobohan. Ini adalah persoalan yang melibatkan kesudahan setiap orang, dan nasib serta prospek masa depan mereka juga. Selain itu, ini adalah tempat Tuhan mengerahkan seluruh jerih payah-Nya. Oleh karena itu, Tuhan tidak berani mengabaikannya sedikit pun, dan tidak akan menoleransi setiap kecerobohan. Tuhan mencatat kisah umat manusia ini, membuat sebuah catatan berisi seluruh perjalanan manusia mengikuti Tuhan, dari awal sampai akhir. Sikapmu terhadap Tuhan pada waktu ini akan menentukan nasibmu. Bukankah ini benar? Sekarang, apakah engkau semua percaya bahwa Tuhan itu benar? Apakah tindakan Tuhan tepat? Apakah engkau semua masih memiliki gambaran lain tentang Tuhan dalam benakmu? (Tidak.) Lalu apakah menurutmu kesudahan manusia itu ditentukan oleh Tuhan atau ditentukan oleh manusia itu sendiri? (Ditentukan oleh Tuhan.) Siapakah yang menentukannya? (Tuhan.) Engkau semua tidak yakin, betul? Saudara-saudari dari Hong Kong, bicaralah—siapakah yang menentukan itu? (Manusia sendiri yang menentukannya.) Manusia sendiri yang menentukannya? Lalu, bukankah itu berarti tidak ada kaitannya dengan Tuhan? Saudara dan saudari dari Korea Selatan, bicaralah. (Tuhan menetapkan kesudahan manusia berdasarkan semua tindakan dan perbuatan mereka, dan berdasarkan jalan yang mereka lalui.) Ini sebuah respons yang sangat objektif. Ada sebuah fakta yang harus Aku sampaikan kepada engkau semua: Di sepanjang pekerjaan penyelamatan Tuhan, Dia menetapkan sebuah standar untuk manusia. Standar ini adalah agar manusia dapat taat kepada firman Tuhan, dan berjalan dalam jalan Tuhan. Standar inilah yang digunakan untuk menimbang kesudahan manusia. Jika engkau melakukan perbuatan nyata sesuai dengan standar Tuhan ini, maka engkau dapat memperoleh kesudahan yang baik; jika engkau tidak melakukan demikian; maka engkau tidak dapat memperoleh kesudahan yang baik. Jadi, siapakah menurutmu yang menetapkan kesudahan ini? Bukan Tuhan sendiri yang menetapkannya, melainkan Tuhan dan manusia bersama-sama. Apakah benar demikian? (Ya.) Mengapa demikian? Karena Tuhanlah yang secara aktif ingin terlibat dalam pekerjaan penyelamatan umat manusia, dan menyiapkan tempat tujuan yang indah untuk manusia; manusia adalah target pekerjaan Tuhan, dan kesudahan ini, tempat tujuan ini, adalah apa yang Tuhan siapkan untuk manusia. Jika tidak ada target untuk pekerjaan-Nya, maka Tuhan tidak perlu melakukan pekerjaan ini; jika Tuhan tidak melakukan pekerjaan ini, maka manusia tidak akan punya kesempatan untuk mendapat keselamatan. Manusia adalah target penyelamatan, dan kendati manusia berada di sisi yang pasif dalam proses ini, sikap dari sisi inilah yang menentukan apakah Tuhan akan berhasil atau tidak dalam pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Jika bukan karena tuntunan yang Tuhan berikan kepadamu, maka engkau tidak akan mengetahui standar-Nya, dan engkau tidak akan memiliki tujuan. Jika engkau memiliki standar ini, tujuan ini, namun engkau tidak bekerja sama, engkau tidak melakukannya dalam tindakan nyata, engkau tidak bersedia membayar harganya, maka engkau tetap tidak akan memperoleh kesudahan ini. Inilah mengapa kita mengatakan bahwa kesudahan ini tidak dapat dipisahkan dari Tuhan, dan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Dan sekarang engkau semua mengetahui siapa yang menetapkan kesudahan manusia.

Orang Cenderung Mendefinisikan Tuhan Berdasarkan Pengalaman

Ketika menyampaikan topik tentang mengenal Tuhan, apakah engkau semua memperhatikan sesuatu? Apakah engkau semua memperhatikan bahwa sikap Tuhan saat ini telah mengalami perubahan? Apakah sikap Tuhan terhadap umat manusia tidak bisa berubah? Akankah Tuhan selalu bertahan seperti ini, mengulurkan segenap kasih dan rahmat-Nya kepada manusia tanpa batas? Perkara ini juga melibatkan esensi Tuhan. Mari kita kembali ke pertanyaan tentang apa yang disebut anak yang hilang dari sebelumnya. Setelah pertanyaan ini diajukan, jawabanmu tidak begitu jelas. Dengan kata lain, engkau semua masih belum mengerti betul maksud Tuhan. Begitu orang tahu bahwa Tuhan mengasihi umat manusia, mereka mendefinisikan Tuhan sebagai simbol kasih: Tidak peduli apa yang orang lakukan, tidak peduli bagaimana mereka berperilaku, tidak peduli bagaimana mereka memperlakukan Tuhan, dan tidak peduli betapa tidak taat mereka, tidak satu pun dari hal tersebut penting karena Tuhan memiliki kasih, dan kasih Tuhan tidak terbatas dan tidak dapat diukur. Tuhan memiliki kasih, jadi Dia bisa bersikap toleran terhadap orang-orang; Tuhan memiliki kasih, sehingga Dia bisa penyayang terhadap orang, berbelas kasih terhadap ketidakmatangan mereka, berbelas kasih terhadap ketidaktahuan mereka, dan berbelas kasih terhadap ketidaktaatan mereka. Apakah benar demikian? Bagi beberapa orang, ketika mereka telah mengalami kesabaran Tuhan sekali, atau beberapa kali, mereka akan memperlakukan hal itu sebagai modal dalam pemahaman mereka sendiri tentang Tuhan, percaya bahwa Tuhan akan selamanya sabar terhadap mereka, penyayang terhadap mereka, dan di sepanjang hidup, mereka akan menerima kesabaran Tuhan dan menganggapnya sebagai standar bagaimana Tuhan memperlakukan mereka. Ada juga orang yang setelah mereka mengalami toleransi Tuhan sekali, mereka akan selamanya mendefinisikan Tuhan penuh toleransi, dan toleransi ini tidak terbatas, tanpa syarat, dan bahkan sama sekali tanpa prinsip. Apakah keyakinan ini benar? Setiap kali hal-hal penting tentang esensi Tuhan atau watak Tuhan dibahas, engkau semua tampak bingung. Melihatmu seperti ini membuat-Ku sedikit marah. Engkau semua telah mendengar banyak kebenaran tentang esensi Tuhan; engkau semua juga telah mendengarkan banyak topik mengenai watak Tuhan. Akan tetapi, dalam benakmu, persoalan ini, dan kebenaran dari aspek-aspek ini, hanyalah ingatan yang didasarkan pada teori dan perkataan tertulis. Tidak seorang pun dari antara engkau semua pernah mampu mengalami seperti apa watak Tuhan dalam kehidupanmu sesungguhnya, dan engkau semua juga tidak dapat melihat seperti apa watak Tuhan. Oleh karena itu, engkau semua bodoh dan bingung dalam kepercayaanmu, engkau semua percaya secara membabi buta, sampai pada titik engkau semua memiliki sikap yang tidak hormat terhadap Tuhan, engkau semua mengesampingkan diri-Nya. Apakah akibatnya jika engkau semua memiliki sikap semacam ini terhadap Tuhan? Itu membuatmu selalu membuat kesimpulan tentang Tuhan. Begitu engkau semua memperoleh sedikit pengetahuan, engkau merasa sangat puas, merasa bahwa engkau telah memperoleh Tuhan dalam keseluruhan-Nya. Setelah itu, engkau semua menyimpulkan bahwa seperti inilah Tuhan itu, dan engkau semua tidak membiarkan-Nya bergerak bebas. Dan setiap kali Tuhan melakukan sesuatu yang baru, engkau semua tidak mengakui bahwa Dia adalah Tuhan. Suatu hari, ketika Tuhan berkata: "Aku tidak lagi mengasihi manusia; Aku tidak lagi memberikan belas kasih kepada manusia; Aku tidak lagi memiliki toleransi atau kesabaran terhadap manusia; Aku penuh dengan kebencian yang ekstrem dan antipati terhadap manusia," orang pun tidak akan sependapat dengan pernyataan semacam ini dari lubuk hati mereka. Beberapa dari mereka bahkan akan berkata: "Engkau bukan lagi Tuhanku; Engkau bukan lagi Tuhan yang ingin Aku ikuti. Jika ini apa yang Engkau katakan, maka Engkau tidak lagi memenuhi syarat menjadi Tuhanku, dan Aku tidak perlu terus mengikuti-Mu. Jika Engkau tidak memberiku belas kasih, tidak memberiku kasih, tidak memberiku toleransi, maka aku tidak akan mengikuti-Mu lagi. Hanya jika Engkau bersikap toleran terhadapku tanpa batas, senantiasa sabar terhadapku, dan membiarkanku melihat bahwa Engkau adalah kasih, bahwa Engkau adalah kesabaran, bahwa Engkau adalah toleransi, barulah aku bisa mengikuti-Mu, dan barulah aku bisa memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti hingga akhir. Karena aku memiliki kesabaran dan belas kasih-Mu, ketidaktaatan dan pelanggaranku bisa dimaafkan tanpa batas, diampuni tanpa batas, dan aku bisa berdosa kapan pun dan di mana pun, mengakui dosa dan diampuni kapan pun dan di mana pun, dan membuat-Mu marah kapan pun dan di mana pun. Engkau seharusnya tidak memiliki gagasan atau kesimpulan-Mu sendiri mengenai diriku." Meski engkau mungkin tidak memikirkan pertanyaan semacam ini dalam cara subjektif dan sadar, kapan pun engkau menganggap Tuhan sebagai sebuah alat untuk mengampuni dosamu dan objek yang digunakan untuk memperoleh tempat tujuan yang indah, engkau tanpa terasa telah menempatkan Tuhan yang hidup dalam posisi berseberangan dengan dirimu, sebagai musuhmu. Inilah yang Kulihat. Engkau mungkin terus mengatakan: "Aku percaya kepada Tuhan"; "Aku mencari kebenaran"; "Aku ingin mengubah watakku"; "Aku ingin menghancurkan pengaruh kegelapan"; "Aku ingin memuaskan Tuhan"; "Aku ingin taat kepada Tuhan"; "Aku ingin setia kepada Tuhan, dan melaksanakan tugasku dengan baik"; dan seterusnya. Akan tetapi, tidak peduli sebagus apa pun yang engkau ucapkan, tidak peduli seberapa banyak teori yang engkau ketahui, tidak peduli seberapa memaksakan teori itu, seberapa agungnya itu, faktanya adalah bahwa sekarang ada banyak orang dari antara engkau semua yang telah belajar bagaimana menggunakan peraturan, doktrin, teori yang telah engkau semua kuasai untuk menarik kesimpulan tentang Tuhan, dan menempatkan Dia dalam posisi berseberangan dengan dirimu dengan cara yang benar-benar alami. Meski engkau telah menguasai huruf-huruf yang tertulis dan menguasai doktrin, engkau belum benar-benar memasuki kenyataan kebenaran, jadi sangat berat bagimu untuk dekat dengan Tuhan, untuk mengenal Tuhan, untuk memahami Tuhan. Ini menyedihkan!

Aku melihat adegan ini dalam sebuah video: Beberapa saudari memegang sebuah buku Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia, dan mereka menjunjungnya sangat tinggi. Mereka menjunjung buku ini di tengah-tengah mereka, lebih tinggi dari kepala mereka sendiri. Meski ini hanyalah sebuah gambaran, apa yang timbul dalam diri-Ku bukanlah sebuah gambaran. Sebaliknya, itu membuat-Ku berpikir bahwa apa yang dijunjung tinggi oleh setiap orang dalam hati mereka bukanlah firman Tuhan, tetapi kitab berisi firman Tuhan. Ini masalah yang sangat menyedihkan. Cara melakukan perbuatan nyata sama sekali bukanlah hal menjunjung tinggi Tuhan. Itu karena engkau semua tidak memahami Tuhan sedemikian rupa sehingga sebuah pertanyaan yang jelas, sebuah pertanyaan sangat kecil, membuatmu menciptakan gagasanmu sendiri. Ketika Aku menanyakan hal-hal tentangmu, ketika Aku bersikap serius terhadapmu, engkau semua menanggapi dengan spekulasi dan imajinasimu sendiri; beberapa dari engkau semua bahkan menggunakan nada ragu dan bertanya balik. Ini bahkan menegaskan lebih jelas kepada-Ku bahwa Tuhan yang engkau semua percayai bukanlah Tuhan yang sejati. Setelah membaca firman Tuhan selama bertahun-tahun, engkau semua menggunakan firman Tuhan, menggunakan pekerjaan Tuhan, dan lebih banyak doktrin untuk menarik kesimpulan tentang Tuhan sekali lagi. Lebih dari itu, engkau semua tidak pernah mencoba untuk memahami Tuhan; engkau semua tidak pernah mencoba untuk mencari tahu maksud Tuhan; engkau semua tidak mencoba untuk memahami seperti apakah sikap Tuhan terhadap manusia; atau bagaimana Tuhan berpikir, mengapa Dia sedih, mengapa Dia marah, mengapa Dia menolak orang, dan pertanyaan lain seperti itu. Selain itu, bahkan lebih banyak orang percaya bahwa Tuhan senantiasa diam karena Dia hanya memperhatikan tindakan umat manusia, karena Dia tidak memiliki sikap apa pun terhadap mereka, juga Dia tidak memiliki gagasan-Nya sendiri. Kelompok lain memahaminya bahkan lebih jauh lagi. Orang-orang ini percaya bahwa Tuhan tidak bersuara karena Dia sudi menerima, Tuhan tidak bersuara karena Dia menunggu, Tuhan tidak bersuara karena Dia tidak memiliki sikap, karena sikap Tuhan sudah dijabarkan secara penuh dalam kitab, sudah diungkapkan secara keseluruhan kepada umat manusia, dan tidak perlu dikatakan berulang kali kepada orang terus-menerus. Meski Tuhan diam, Dia tetap memiliki sikap, memiliki sudut pandang, dan memiliki sebuah standar yang Dia tuntut dari manusia. Meski orang tidak mencoba untuk memahami-Nya, dan tidak berusaha mencari-Nya, sikap-Nya sangat jelas. Pikirkan seseorang yang pernah dengan bergairah mengikuti Tuhan, tetapi pada titik tertentu meninggalkan-Nya dan pergi. Jika orang ini ingin kembali sekarang, yang cukup mengejutkan, engkau semua tidak tahu akan seperti apa sudut pandang Tuhan, dan bagaimana sikap Tuhan. Bukankah ini menyedihkan? Sebenarnya, ini adalah masalah yang cukup dangkal. Jika engkau semua sungguh memahami hati Tuhan, engkau semua akan mengetahui sikap-Nya terhadap orang semacam ini, dan engkau semua tidak akan memberikan jawaban yang ambigu. Karena engkau semua tidak tahu, biar Aku menjelaskannya kepadamu.

Sikap Tuhan Terhadap Mereka Melarikan Diri Selama Pekerjaan-Nya

Engkau akan menemukan orang semacam ini di mana-mana: Setelah mereka yakin akan jalan Tuhan, karena berbagai alasan, mereka pergi diam-diam tanpa sepatah kata perpisahan pun dan melakukan apa pun sesuka hati mereka. Untuk saat ini, kita tidak akan menyinggung mengapa orang ini pergi. Pertama, kita akan melihat seperti apa sikap Tuhan terhadap orang semacam ini. Ini sangat jelas! Dari sejak orang ini pergi, di mata Tuhan, masa hidup keyakinan mereka telah usai. Bukan orang ini yang mengakhirinya, tetapi Tuhan. Bahwa orang ini meninggalkan Tuhan berarti bahwa mereka sudah menolak Tuhan, bahwa mereka sudah tidak menginginkan Tuhan. Itu berarti bahwa mereka sudah tidak menerima penyelamatan Tuhan. Karena orang ini tidak menginginkan Tuhan, masih bisakah Tuhan menginginkan mereka? Selain itu, ketika orang ini memiliki sikap seperti ini, pandangan seperti ini, dan bertekad untuk meninggalkan Tuhan, mereka sudah mengusik watak Tuhan. Meski mereka tidak marah membabi-buta dan mengutuk Tuhan, meski mereka tidak melakukan perilaku sangat tidak menyenangkan atau berlebihan, dan meski orang ini berpikir: Jika tiba suatu hari ketika aku sudah puas bersenang-senang secara lahiriah, atau ketika aku masih membutuhkan Tuhan untuk sesuatu, aku akan kembali. Atau jika Tuhan memanggilku, aku akan kembali. Atau mereka berkata: Ketika aku terluka secara lahiriah, ketika aku melihat bahwa dunia di luar terlalu gelap serta terlalu jahat, dan aku tidak lagi mau mengikuti arus, aku akan kembali kepada Tuhan. Meski orang ini telah memperhitungkan dalam benak mereka kapan mereka akan kembali, meski mereka membiarkan pintu terbuka untuk kedatangan mereka kembali, mereka tidak menyadari bahwa tidak peduli apa pun yang mereka pikirkan dan bagaimana pun mereka berencana, semua ini hanyalah angan-angan. Kesalahan terbesar mereka adalah tidak mengerti bagaimana perasaan Tuhan ketika mereka ingin pergi. Mulai dari saat orang ini bertekad untuk meninggalkan Tuhan, Tuhan telah meninggalkan mereka sepenuhnya; Tuhan telah menetapkan kesudahan mereka di dalam hati-Nya. Apakah kesudahan tersebut? Orang ini sebangsa pengerat, dan akan binasa bersama dengan mereka. Jadi, orang sering melihat situasi semacam ini: Seseorang meninggalkan Tuhan, namun mereka tidak menerima hukuman. Tuhan bekerja sesuai dengan prinsip-Nya sendiri. Orang mampu melihat beberapa hal, dan beberapa hal hanya disimpulkan dalam hati Tuhan, jadi orang tidak bisa melihat hasilnya. Apa yang orang lihat bukan selalu sisi sebenarnya dari hal tersebut; namun sisi lain, sisi yang engkau tidak lihat—ini adalah pikiran dan kesimpulan sebenarnya dari hati Tuhan.

Orang Yang Melarikan Diri Selama Pekerjaan Tuhan Adalah Mereka Yang Meninggalkan Jalan yang Benar

Jadi, mengapa Tuhan bisa memberi kepada orang semacam ini hukuman seberat itu? Mengapa Tuhan begitu murka terhadap mereka? Pertama-tama, kita semua tahu bahwa watak Tuhan adalah kemegahan, juga murka. Dia bukan seekor domba yang akan disembelih oleh siapa pun; terlebih lagi, Dia bukan sebuah boneka yang dikendalikan oleh orang semau mereka. Dia juga bukan udara hampa yang diperintah ke sana ke mari oleh orang. Jika engkau sungguh percaya bahwa Tuhan ada, engkau seharusnya memiliki hati yang takut akan Tuhan, dan engkau seharusnya tahu bahwa esensi Tuhan tidak untuk dibuat marah. Kemarahan ini dapat disebabkan oleh perkataan; mungkin pikiran; mungkin beberapa macam perilaku sangat tidak menyenangkan; mungkin perilaku ringan, perilaku yang dimaklumi di mata dan etika manusia; atau mungkin disebabkan oleh sebuah doktrin, teori. Akan tetapi, begitu engkau membuat Tuhan marah, kesempatanmu sirna dan hari akhirmu telah tiba. Ini adalah hal yang sangat menakutkan! Jika engkau tidak memahami bahwa Tuhan tidak bisa disinggung, maka engkau mungkin tidak gentar terhadap Tuhan, dan engkau mungkin menyinggung-Nya terus-menerus. Jika engkau tidak tahu bagaimana takut akan Tuhan, maka engkau tidak mampu untuk takut akan Tuhan, dan engkau tidak mengetahui bagaimana menempatkan dirimu pada jalur berjalan di jalan Tuhan, yaitu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Setelah engkau mulai memahami, engkau bisa sadar bahwa Tuhan tidak bisa disinggung, maka engkau akan mengetahui seperti apakah takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan itu.

Berjalan di jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tidak selalu berarti seberapa banyak kebenaran yang engkau ketahui, seberapa banyak ujian yang telah engkau alami, atau seberapa sering engkau telah didisiplinkan. Sebaliknya, itu bergantung pada apakah esensi hatimu berkenaan dengan Tuhan, dan seperti apakah sikapmu terhadap Tuhan. Esensi orang dan sikap subjektif mereka—semua ini sangat penting, kunci utama. Berkenaan dengan orang yang telah menolak dan meninggalkan Tuhan, sikap mereka yang hina terhadap Tuhan dan hati mereka yang membenci kebenaran telah mengusik watak Tuhan, sehingga sejauh menyangkut Tuhan, mereka tidak akan pernah diampuni. Mereka sudah mengetahui keberadaan Tuhan, mereka sudah mendapat informasi bahwa Tuhan sudah datang, mereka bahkan sudah mengalami pekerjaan baru Tuhan. Kepergian mereka bukan karena tertipu, juga bukan karena mereka mengetahui hal tersebut secara samar. Bahkan bukan karena mereka dipaksa untuk melakukan itu. Sebaliknya, mereka secara sadar, dan dengan pikiran jernih, telah memilih untuk meninggalkan Tuhan. Kepergian mereka bukan berarti mereka tersesat; bukan berarti mereka tersingkir. Jadi, di mata Tuhan, mereka bukan seekor domba yang tercecer di antara kawanan domba, apalagi anak yang hilang yang tersesat. Mereka pergi tanpa peduli konsekuensinya, dan kondisi demikian, situasi demikian, mengusik watak Tuhan, dan karena perasaan terusik inilah Dia memberi mereka kesudahan tanpa harapan. Bukankah kesudahan semacam ini mengerikan? Jadi jika orang tidak mengenal Tuhan, mereka bisa menyinggung Tuhan. Ini bukan perkara kecil! Jika seseorang tidak menanggapi sikap Tuhan secara serius, dan tetap percaya bahwa Tuhan sedang menantikan kedatangan mereka kembali—karena mereka salah seekor domba yang hilang milik Tuhan dan Tuhan masih menunggu hati mereka berubah—maka orang ini tidak akan berada jauh dari hari penghukuman mereka. Tuhan tidak hanya akan menolak menerima mereka. Ini adalah kali kedua mereka mengusik watak-Nya; ini bahkan perkara yang lebih mengerikan! Sikap tanpa hormat orang ini telah menyinggung ketetapan administratif Tuhan. Apakah Tuhan masih akan menerima mereka? Prinsip Tuhan mengenai perkara ini adalah: Jika seseorang sudah yakin akan jalan yang benar namun tetap bisa secara sadar dan dengan pikiran yang jernih menolak Tuhan, dan menjauhkan diri mereka dari Tuhan, maka Tuhan akan menutup jalan menuju keselamatan mereka, dan gerbang ke dalam kerajaan sejak saat itu akan tertutup untuk mereka. Ketika orang ini datang mengetuk sekali lagi, Tuhan tidak akan membukakan pintu untuk mereka lagi. Orang ini akan dibiarkan berada di luar untuk selamanya. Mungkin beberapa dari engkau semua telah membaca kisah Musa dalam Alkitab. Setelah Musa diurapi oleh Tuhan, 250 orang pemimpin tidak puas dengan Musa karena tindakannya dan berbagai alasan lain. Mereka menolak untuk taat kepada siapa? Bukan kepada Musa. Mereka menolak untuk taat kepada pengaturan Tuhan; mereka menolak untuk taat kepada pekerjaan Tuhan pada perkara ini. Mereka mengatakan kalimat ini: "Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu kudus, masing-masing dari mereka kudus, dan Yahweh ada di tengah-tengah mereka ...." Di mata manusia, apakah kata-kata ini sangat serius? Tidak serius! Setidaknya, makna harfiah dari kata-kata tersebut tidak serius. Dalam arti hukum, kata-kata itu tidak melanggar hukum apa pun, karena di permukaan, itu bukan bahasa atau kosakata yang tidak bersahabat, apalagi mengandung makna menghujat. Itu hanyalah kalimat umum, tidak lebih. Namun, mengapa kata-kata ini bisa memicu kemarahan Tuhan sampai sedemikian rupa? Karena kata-kata itu tidak diucapkan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan. Sikap dan watak yang diungkapkan melalui perkataan itu adalah hal yang benar-benar mengusik watak Tuhan, khususnya watak Tuhan yang tidak bisa disinggung. Kita semua tahu seperti apa kesudahan mereka di akhir. Mengenai mereka yang meninggalkan Tuhan, apakah sudut pandang mereka? Apakah sikap mereka? Dan mengapa sudut pandang dan sikap mereka membuat Tuhan melakukan penanganan atas diri mereka dengan cara demikian? Alasannya adalah karena mereka dengan jelas tahu bahwa Dia adalah Tuhan, namun mereka tetap memilih untuk mengkhianati-Nya. Inilah alasan mengapa mereka sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan keselamatan. Persis seperti yang dikatakan dalam Alkitab: "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu." Apakah engkau semua jelas mengenai perkara ini sekarang?

Nasib Manusia Ditentukan oleh Sikapnya Terhadap Tuhan

Tuhan adalah Tuhan yang hidup, dan sama seperti orang bersikap secara berbeda dalam situasi berbeda, sikap Tuhan terhadap kinerja-kinerja ini berbeda karena Dia bukan sebuah boneka, Dia juga bukan udara hampa. Mengenal sikap Tuhan adalah pengejaran yang layak dilakukan umat manusia. Orang seharusnya belajar bagaimana, dengan mengenal sikap Tuhan, mereka bisa mengetahui watak Tuhan dan memahami hati-Nya sedikit demi sedikit. Ketika engkau mulai memahami hati Tuhan sedikit demi sedikit, engkau tidak akan merasakan bahwa sikap takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan itu hal yang sulit untuk dicapai. Terlebih lagi, ketika engkau memahami Tuhan, engkau tidak mungkin membuat kesimpulan tentang diri-Nya. Ketika engkau berhenti membuat kesimpulan tentang Tuhan, engkau tidak mungkin menyinggung-Nya, dan tanpa disadari Tuhan akan menuntunmu untuk mendapatkan pengetahuan tentang diri-Nya, dan dengan demikian engkau akan takut akan Tuhan dalam hatimu. Engkau akan berhenti mendefinisikan Tuhan menggunakan doktrin, huruf-huruf yang tertulis, dan teori yang engkau kuasai. Sebaliknya, dengan selalu mencari maksud Tuhan dalam semua hal, engkau secara tidak sadar akan menjadi seseorang yang berkenan di hati Tuhan.

Pekerjaan Tuhan tidak terlihat dan tidak dapat disentuh oleh umat manusia, namun sejauh menyangkut Tuhan, tindakan setiap orang, beserta sikap mereka terhadap-Nya—ini tidak hanya dapat diketahui oleh Tuhan, namun juga dapat dilihat. Ini adalah hal yang seharusnya setiap orang kenali dan pahami dengan jelas. Engkau mungkin selalu bertanya kepada dirimu sendiri: "Apakah Tuhan tahu apa yang aku lakukan di sini? Apakah Tuhan tahu apa yang aku pikirkan saat ini? Mungkin Dia tahu, mungkin Dia tidak tahu." Jika engkau menggunakan sudut pandang semacam ini, yakni mengikuti dan percaya kepada Tuhan namun meragukan pekerjaan-Nya dan keberadaan-Nya, maka cepat atau lambat akan tiba hari ketika engkau membuat-Nya marah, karena engkau sudah berdiri di ambang jurang berbahaya. Aku sudah melihat orang yang percaya terhadap Tuhan selama bertahun-tahun, namun mereka masih belum memperoleh kenyataan kebenaran, dan mereka juga bahkan tidak memahami kehendak Tuhan. Tingkat pertumbuhan hidup mereka tidak membuat kemajuan apa pun, hanya menaati doktrin dengan begitu dangkal. Ini karena orang-orang ini tidak pernah menjadikan firman Tuhan sebagai hidup mereka sendiri, dan mereka tidak pernah menyambut dan menerima keberadaan-Nya. Apakah engkau berpikir bahwa Tuhan melihat orang tersebut dan dipenuhi dengan kesenangan? Apakah mereka menghibur Dia? Dalam kasus tersebut, itu adalah metode kepercayaan orang kepada Tuhan yang menentukan nasib mereka. Entah apakah itu tentang cara engkau mencari Tuhan atau cara engkau memperlakukan Tuhan, sikapmu sendiri merupakan hal terpenting. Jangan mengabaikan Tuhan seakan-akan Dia udara hampa di belakang kepalamu. Pikirkan selalu Tuhan yang engkau percaya sebagai Tuhan yang hidup, Tuhan yang nyata. Dia tidak berada di atas sana di surga tingkat ketiga tanpa melakukan apa pun. Sebaliknya, Dia terus-menerus menyelidiki hati setiap orang, memperhatikan apa yang engkau rencanakan, setiap perkataan dan setiap perbuatan sekecil apa pun, melihat cara engkau berperilaku dan seperti apa sikapmu terhadap Tuhan. Apakah engkau bersedia mempersembahkan dirimu kepada Tuhan atau tidak, semua perilaku serta pikiran dan gagasanmu yang terdalam berada di hadapan Tuhan, diperhatikan oleh-Nya. Sesuai dengan perilakumulah, sesuai dengan perbuatanmulah, dan sesuai dengan sikapmu terhadap Tuhan-lah, pertimbangan-Nya terhadapmu, dan sikap-Nya terhadapmu, terus-menerus berubah. Aku ingin menawarkan sedikit nasihat kepada mereka yang ingin menempatkan diri mereka seperti seorang bayi kecil di tangan Tuhan, seolah-olah Dia seharusnya memberi kasih sayang kepadamu, seolah-olah Dia tidak pernah bisa meninggalkanmu, seolah-olah sikap-Nya terhadapmu tetap dan tidak pernah berubah: Berhentilah bermimpi! Tuhan itu benar dalam perlakuan-Nya terhadap setiap orang. Dia menangani pekerjaan penaklukan dan penyelamatan umat manusia dengan sungguh-sungguh. Itulah pengelolaan-Nya. Dia memperlakukan setiap orang dengan serius, bukan seperti hewan peliharaan yang diajak bermain. Kasih Tuhan untuk manusia bukanlah kasih yang memberi hati atau memanjakan; belas kasih dan toleransi-Nya terhadap umat manusia tidak memanjakan atau kurang awas. Sebaliknya, kasih Tuhan untuk umat manusia adalah menyayangi, mengasihani, dan menghormati kehidupan; belas kasih dan toleransi-Nya menyampaikan apa yang diharapkan-Nya mengenai manusia; belas kasih dan toleransi-Nya adalah apa yang umat manusia butuhkan untuk bertahan hidup. Tuhan itu hidup, dan Tuhan benar-benar ada; sikap-Nya terhadap umat manusia berprinsip, sama sekali bukan aturan dogmatis, dan itu bisa berubah. Kehendak-Nya untuk umat manusia berubah secara bertahap dan bertransformasi seiring waktu, menurut keadaan, dan sesuai sikap setiap orang. Jadi, engkau perlu memahami ini dengan jelas sekali, dan memahami bahwa esensi Tuhan tidak dapat berubah, dan watak-Nya akan muncul di waktu-waktu berbeda, dan dalam konteks berbeda. Engkau mungkin tidak berpikir bahwa ini persoalan serius, dan engkau menggunakan pemahaman pribadimu sendiri untuk membayangkan bagaimana Tuhan seharusnya bertindak. Namun, ada kalanya ketika kebalikan total dari sudut pandangmu adalah yang benar, dan bahwa dengan menggunakan pemahaman pribadimu sendiri untuk menguji dan mengukur Tuhan, engkau sudah membuat-Nya marah. Ini karena Tuhan tidak bekerja seperti yang engkau pikir Dia lakukan, dan Tuhan tidak akan memperlakukan perkara ini seperti yang engkau katakan akan Dia lakukan. Jadi Aku mengingatkan kepadamu agar berhati-hati dan bijaksana dalam pendekatanmu terhadap segala sesuatu di sekitarmu, dan belajar bagaimana mengikuti prinsip berjalan dalam jalan Tuhan dalam segala hal, yakni dengan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Engkau harus mengembangkan pemahaman yang mantap tentang perkara kehendak Tuhan dan sikap Tuhan; mencari orang yang sudah dicerahkan untuk menyampaikannya kepadamu, dan mencari dengan sungguh-sungguh. Jangan pandang Tuhan yang engkau percayai sebagai boneka—menghakimi secara sembarangan, mencapai kesimpulan secara sembarangan, tidak memperlakukan Tuhan dengan rasa hormat yang layak Dia dapatkan. Dalam proses penyelamatan Tuhan, saat Dia menentukan kesudahanmu, tidak peduli apakah Dia memberimu belas kasih, atau toleransi, atau penghakiman dan hajaran, sikap-Nya terhadapmu tidak tetap. Itu bergantung pada sikapmu terhadap Tuhan, dan pemahamanmu akan Tuhan. Jangan biarkan satu aspek sepintas lalu dari pengetahuan atau pemahamanmu tentang Tuhan mendefinisikan diri-Nya untuk selama-lamanya. Jangan percaya kepada Tuhan yang mati; percayalah kepada Tuhan yang hidup. Ingatlah ini! Meski Aku sudah membahas beberapa kebenaran di sini, kebenaran yang engkau perlu dengar, dengan mempertimbangkan keadaan dan tingkat pertumbuhanmu saat ini, Aku tidak akan membuat tuntutan lebih besar supaya tidak menyurutkan semangatmu. Bertindak demikian bisa memenuhi hatimu dengan terlalu banyak kemuraman, dan membuat engkau semua merasakan terlalu banyak kekecewaan terhadap Tuhan. Sebaliknya, Aku berharap engkau semua bisa menggunakan kasih kepada Tuhan di dalam hatimu, dan menggunakan suatu sikap yang penuh rasa hormat terhadap Tuhan saat menapaki jalan di depan. Jangan bersusah payah mengurusi perkara bagaimana menyikapi kepercayaan kepada Tuhan. Sikapi itu sebagai satu pertanyaan terbesar yang ada. Tempatkan itu dalam hatimu, lakukan secara nyata, hubungkan dengan kehidupan nyata—jangan berkata di bibir saja. Karena ini adalah persoalan hidup dan mati, dan ini salah satu yang akan menentukan nasibmu. Jangan sikapi itu seperti sebuah lelucon, seperti permainan anak kecil! Setelah berbagi firman ini dengan engkau semua hari ini, Aku bertanya-tanya apa hasil pengetahuan yang didapat dalam benakmu. Apakah ada pertanyaan yang ingin engkau semua ajukan tentang apa yang baru saja Aku katakan hari ini?

Meski topik-topik ini sedikit baru, dan sedikit berbeda dari pandanganmu dan apa yang biasanya dikejar dan diberi perhatian oleh engkau semua, Aku pikir setelah semua itu disampaikan selama jangka waktu tertentu, engkau semua akan mengembangkan pemahaman umum tentang segala sesuatu yang sudah Aku katakan di sini. Karena semua ini adalah topik baru, topik yang belum pernah engkau semua pertimbangkan sebelumnya, Aku berharap bahwa semua itu tidak menambah bebanmu. Aku mengatakan firman ini sekarang bukan untuk menakut-nakuti engkau semua, dan Aku juga tidak mencoba untuk menanganimu; sebaliknya, tujuan-Ku adalah membantumu memahami kebenaran sesungguhnya. Bagaimana pun, ada jarak antara umat manusia dan Tuhan: Meski manusia percaya kepada Tuhan, dia tidak pernah memahami Tuhan; dia tidak pernah mengetahui sikap Tuhan. Manusia juga tidak pernah antusias dalam kekhawatirannya atas sikap Tuhan. Sebaliknya, mereka percaya secara membabi buta, mereka menjalani hidup secara membabi buta, dan ceroboh dalam pengetahuan dan pemahaman mereka akan Tuhan. Jadi, Aku merasa harus membereskan persoalan ini untukmu, dan membantumu memahami seperti apakah Tuhan yang engkau semua percaya ini; apa yang Dia pikirkan; apa sikap-Nya dalam perlakuan-Nya terhadap berbagai jenis orang; seberapa jauh engkau semua dari memenuhi persyaratan-Nya; dan perbedaan antara tindakanmu dan standar yang Dia tuntut. Tujuan engkau semua mengetahui hal ini adalah memberimu patokan dalam hatimu yang digunakan untuk mengukur dan mengetahui hasil seperti apa jalan yang telah engkau semua lalui, apa yang belum engkau semua peroleh pada jalan ini, dan dalam area apa saja engkau semua belum terlibat. Ketika engkau semua saling berkomunikasi, engkau semua biasanya membicarakan sejumlah topik yang umum dibahas; lingkupnya sempit, dan isinya sangat dangkal. Ada jarak, jurang pemisah, antara yang engkau semua bahas dan maksud Tuhan, antara pembahasanmu dan lingkup serta standar tuntutan Tuhan. Menjalani hidup seperti ini dari waktu ke waktu akan membuatmu semakin jauh menyimpang dari jalan Tuhan. Engkau semua hanya menerima firman yang ada dari Tuhan dan mengubahnya menjadi objek penyembahan, menjadi ritual dan peraturan. Hanya itu saja! Pada kenyataannya, Tuhan sama sekali tidak memiliki tempat di hatimu, dan Tuhan tidak pernah mendapatkan hatimu. Beberapa orang berpikir bahwa mengenal Tuhan itu sangat sulit—inilah kebenarannya. Memang sulit! Jika orang diminta untuk melakukan tugas mereka dan menyelesaikan urusan lahiriah, jika mereka diminta untuk bekerja keras, maka orang akan berpikir bahwa percaya kepada Tuhan sangat mudah, karena semua ini berada dalam lingkup kemampuan manusia. Namun, begitu topik bergeser menuju ranah maksud Tuhan dan sikap Tuhan terhadap manusia, maka urusan menjadi semakin lebih sulit sejauh menyangkut setiap orang. Itu karena ini melibatkan pemahaman orang akan kebenaran dan jalan masuk mereka ke dalam kenyataan; jelas ada tingkat kesulitan! Namun setelah engkau melewati pintu pertama, setelah engkau mulai memasukinya, hal itu secara bertahap menjadi semakin mudah.

Titik Awal Takut akan Tuhan Adalah Memperlakukan Dia Sebagai Tuhan

Seseorang baru saja mengajukan pertanyaan: Bagaimana mungkin kami mengenal Tuhan lebih dari Ayub mengenal-Nya, namun kami masih tidak bisa takut akan Tuhan? Kita sebelumnya berbicara sedikit tentang perkara ini, bukan? Sebenarnya, esensi dari pertanyaan ini juga telah dibahas sebelumnya, yaitu bahwa meski Ayub tidak mengenal Tuhan pada saat itu, dia memperlakukan-Nya sebagai Tuhan, dan menganggap-Nya sebagai Tuan dari segala sesuatu di surga dan di bumi. Ayub tidak menganggap Tuhan sebagai seorang musuh. Sebaliknya, dia menyembah-Nya sebagai Pencipta segala sesuatu. Mengapa orang zaman sekarang sangat menentang Tuhan? Mengapa mereka tidak bisa takut akan Tuhan? Salah satu alasannya adalah mereka telah dirusak sedemikian dalam oleh Iblis. Dengan sifat iblis mereka yang berakar begitu dalam, orang pun menjadi musuh Tuhan. Jadi, meski mereka percaya kepada Tuhan dan mengakui Tuhan, mereka masih bisa menentang Tuhan dan menempatkan diri mereka sebagai penentang-Nya. Ini ditentukan oleh sifat manusia. Alasan lainnya adalah meski orang percaya kepada Tuhan, mereka sama sekali tidak memperlakukan-Nya sebagai Tuhan. Mereka malah menganggap Tuhan sebagai lawan manusia, menganggap-Nya sebagai musuh manusia, dan mereka tidak dapat didamaikan dengan Tuhan. Sesederhana itu saja. Bukankah perkara ini telah disinggung selama sesi sebelumnya? Pikirkan: Apakah itu alasannya? Meski engkau memiliki sedikit pengetahuan tentang Tuhan, seperti apakah pengetahuan ini? Bukankah ini yang dibicarakan oleh setiap orang? Bukankah itu adalah apa yang Tuhan katakan kepadamu? Engkau hanya mengetahui aspek teoritis dan doktrin; pernahkah engkau mengalami aspek yang nyata dari Tuhan? Apakah engkau memiliki pengetahuan yang subjektif? Apakah engkau memiliki pengetahuan dan pengalaman praktis? Jika Tuhan tidak mengatakan kepadamu, bisakah engkau mengetahui hal ini? Pengetahuanmu secara teori tidak merepresentasikan pengetahuan yang nyata. Singkatnya, tidak peduli seberapa banyak engkau mengetahui dan bagaimana engkau dapat mengetahuinya, sebelum engkau mencapai pemahaman yang nyata tentang Tuhan, Tuhan adalah musuhmu, dan sebelum engkau benar-benar memperlakukan Tuhan seperti demikian, Dia diposisikan sebagai lawanmu, karena engkau merupakan perwujudan Iblis.

Jika engkau bersama dengan Kristus, mungkin engkau bisa menyajikan bagi-Nya makanan tiga kali sehari, mungkin menyajikan teh bagi-Nya, memperhatikan kebutuhan hidup-Nya, tampaknya memperlakukan Kristus sebagai Tuhan. Kapan pun sesuatu terjadi, sudut pandang orang selalu bertentangan dengan sudut pandang Tuhan. Mereka selalu gagal memahami sudut pandang Tuhan, gagal untuk menerimanya. Meski orang mungkin bersahabat dengan Tuhan di permukaan, ini tidak berarti bahwa mereka sesuai dengan Tuhan. Segera setelah sesuatu terjadi, kebenaran tentang ketidaktaatan manusia pun muncul, menegaskan permusuhan yang ada di antara manusia dan Tuhan. Permusuhan ini bukan karena Tuhan menentang manusia; bukan karena Tuhan ingin bermusuhan dengan manusia, dan bukan karena Tuhan menempatkan manusia sebagai lawan dan memperlakukan manusia seperti demikian. Sebaliknya, ini adalah kasus esensi yang menentang terhadap Tuhan yang tersembunyi dalam kehendak subjektif manusia, dan dalam pikiran bawah sadar manusia. Karena manusia menganggap semua yang berasal dari Tuhan sebagai objek penelitiannya, tanggapannya terhadap apa yang berasal dari Tuhan dan apa yang melibatkan Tuhan, di atas segalanya, adalah untuk ditebak, dan diragukan, dan manusia kemudian dengan cepat mengambil suatu sikap yang berkonflik dengan Tuhan, dan menentang Tuhan. Setelah itu, manusia akan mengambil suasana hati yang pasif ini dan membantah Tuhan atau menentang Tuhan, bahkan sampai pada titik ketika dia akan ragu apakah Tuhan semacam ini layak untuk dia ikuti. Terlepas dari kenyataan bahwa rasionalitas manusia mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh terus bertindak seperti ini, dia akan tetap memilih untuk melakukannya terlepas dari dirinya sendiri, sehingga dia akan tetap melanjutkan tanpa ragu sampai akhir. Sebagai contoh, seperti apakah reaksi pertama dari beberapa orang ketika mereka mendengar desas-desus atau fitnah tentang Tuhan? Reaksi pertama mereka adalah: Aku tidak tahu apakah desas-desus ini benar atau tidak, apakah ada atau tidak, jadi aku akan bersabar menunggu. Mereka pun mulai merenungkan: Tidak ada cara lain untuk memverifikasi hal ini; apakah memang ada? Apakah desas-desus ini benar atau tidak? Meski orang ini tidak menunjukkannya di permukaan, hati mereka sudah mulai meragukannya, sudah mulai menolak Tuhan. Apakah esensi dari sikap semacam ini, sudut pandang semacam ini? Bukankah ini pengkhianatan? Sebelum mereka diperhadapkan dengan perkara tersebut, engkau tidak bisa melihat seperti apakah sudut pandang orang ini—tampaknya mereka tidak berkonflik dengan Tuhan, sepertinya mereka tidak menganggap Tuhan sebagai musuh. Akan tetapi, segera setelah mereka diperhadapkan dengan itu, mereka segera berdiri bersama Iblis dan menentang Tuhan. Apakah artinya ini? Ini berarti bahwa manusia dan Tuhan bertentangan! Itu bukan karena Tuhan menganggap manusia sebagai musuh, namun karena esensi utama manusia itu sendiri bermusuhan terhadap Tuhan. Tidak peduli seberapa lama seseorang mengikuti Tuhan, seberapa banyak mereka membayar; tidak peduli bagaimana seseorang memuja Tuhan, bagaimana mereka menahan diri untuk tidak menentang Tuhan, bahkan mendesak diri mereka untuk mengasihi Tuhan, mereka tidak pernah bisa berhasil memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Bukankah ini ditentukan oleh esensi manusia? Jika engkau memperlakukan Dia sebagai Tuhan, engkau benar-benar percaya bahwa Dia adalah Tuhan, masih bisakah engkau memiliki keraguan apa pun terhadap-Nya? Mungkinkah masih ada tanda tanya mengenai diri-Nya dalam hatimu? Tidak mungkin. Kecenderungan dunia ini begitu jahat, ras manusia ini begitu jahat—bagaimana mungkin engkau tidak memiliki pemahaman apa pun tentang itu semua? Engkau sendiri begitu jahat—bagaimana mungkin engkau tidak memiliki pemahaman apa pun tentang itu? Namun cukup beberapa desas-desus, beberapa fitnah, dapat menghasilkan pemahaman yang sebesar itu tentang Tuhan, dapat menghasilkan gagasan sebanyak itu, yang menunjukkan betapa belum dewasanya tingkat pertumbuhanmu! Hanya "dengungan" beberapa nyamuk, beberapa lalat menjijikkan, hanya itu saja yang diperlukan untuk menipumu? Orang seperti apakah ini? Apakah engkau mengetahui apa yang Tuhan pikirkan tentang orang semacam ini? Sikap Tuhan sebenarnya sangat jelas dalam cara Dia memperlakukan orang-orang ini. Perlakuan Tuhan terhadap semua orang ini hanyalah menunjukkan sikap tidak ramah kepada mereka—sikap-Nya adalah tidak memberi perhatian apa pun kepada mereka, dan tidak bersikap serius terhadap orang-orang bodoh ini. Mengapa demikian? Karena dalam hati-Nya, Dia tidak pernah berencana untuk mendapatkan orang-orang yang telah bersumpah memusuhi-Nya sampai akhir, dan yang tidak pernah berencana mencari jalan kesesuaian dengan-Nya. Mungkin, semua firman yang sudah Aku ucapkan ini menyakiti sejumlah orang. Jadi, apakah engkau semua bersedia untuk selalu membiarkan-Ku menyakitimu seperti ini? Terlepas dari apakah engkau semua bersedia atau tidak, semua yang Aku katakan adalah kebenaran! Jika Aku selalu menyakitimu seperti ini, selalu mengekspos lukamu, apakah itu akan memengaruhi citra Tuhan yang luhur di dalam hatimu? (Tidak akan.) Aku setuju bahwa itu tidak akan. Karena sesungguhnya tidak ada Tuhan di dalam hatimu. Tuhan yang luhur yang mendiami hatimu, yang engkau semua bela dan lindungi mati-matian sama sekali bukanlah Tuhan. Melainkan hanyalah hasil imajinasi manusia; itu sama sekali tidak ada. Jadi, lebih baik Aku membeberkan jawaban atas teka-teki ini. Bukankah ini kebenaran yang utuh? Tuhan yang sesungguhnya bukanlah khayalan manusia. Aku berharap engkau semua dapat menghadapi kenyataan ini, dan hal ini akan membantu dalam pengetahuanmu tentang Tuhan.

Orang-Orang Yang Tidak Diakui Tuhan

Ada beberapa orang yang kepercayaannya tidak pernah diakui dalam hati Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tidak mengakui bahwa orang-orang ini adalah pengikut-Nya, karena Tuhan tidak memuji kepercayaan mereka. Karena orang-orang ini, tidak peduli berapa tahun mereka telah mengikuti Tuhan, gagasan dan pandangan mereka tidak pernah berubah. Mereka seperti orang-orang tidak percaya, yang menaati prinsip dan cara orang-orang tidak percaya dalam melakukan banyak hal, menaati hukum bertahan hidup dan kepercayaan mereka. Mereka tidak pernah menerima firman Tuhan sebagai hidup mereka, tidak pernah percaya bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, tidak pernah bermaksud menerima keselamatan dari Tuhan, dan tidak pernah mengakui Tuhan sebagai Tuhan mereka. Mereka menganggap percaya kepada Tuhan sebagai semacam hobi amatir, memperlakukan Tuhan semata-mata sebagai makanan rohani, sehingga mereka berpikir tidak layak mencoba untuk memahami watak Tuhan, atau esensi Tuhan. Engkau bisa mengatakan bahwa semua yang berkaitan dengan Tuhan yang sejati tidak ada kaitan dengan semua orang ini. Mereka tidak tertarik, dan mereka enggan menanggapi. Ini karena dalam lubuk hati mereka, ada suara intens yang selalu mengatakan kepada mereka: Tuhan tidak terlihat dan tidak tersentuh, dan Tuhan tidak ada. Mereka percaya bahwa mencoba memahami Tuhan semacam ini tidak sepadan dengan upaya mereka; itu seperti membodohi diri mereka sendiri. Mereka hanya mengakui Tuhan dalam perkataan, dan tidak mengambil sikap yang nyata. Mereka juga tidak melakukan apa pun dalam hal praktis, berpikir bahwa mereka cukup pintar. Bagaimana Tuhan memandang orang-orang ini? Dia memandang mereka sebagai orang-orang tidak percaya. Beberapa orang bertanya: "Bisakah orang-orang tidak percaya membaca firman Tuhan? Bisakah mereka melakukan tugas mereka? Bisakah mereka mengatakan firman ini: 'Aku akan hidup untuk Tuhan'?" Apa yang sering orang lihat adalah penampilan permukaan orang, bukan esensinya. Namun Tuhan tidak melihat penampilan permukaan; Dia hanya melihat esensi batiniah mereka. Karena itu, Tuhan memiliki sikap semacam ini, definisi semacam ini, terhadap orang-orang ini. Mengenai apakah ketika orang-orang ini mengatakan: "Mengapa Tuhan melakukan ini? Mengapa Tuhan melakukan itu? Aku tidak bisa memahami ini; Aku tidak bisa memahami itu; ini tidak sesuai dengan gagasan manusia; Engkau harus menjelaskannya kepadaku; ..." Jawaban-Ku adalah: Apakah perlu menjelaskan perkara ini kepadamu? Apakah perkara ini ada kaitan denganmu? Siapakah engkau pikir dirimu? Dari manakah engkau berasal? Apakah engkau memenuhi syarat untuk memberi petunjuk kepada Tuhan? Apakah engkau percaya kepada-Nya? Apakah Dia mengakui kepercayaanmu? Karena kepercayaanmu tidak ada kaitan dengan Tuhan, apa kepentingan tindakan-Nya terhadapmu? Engkau tidak mengetahui di mana engkau berada dalam hati Tuhan, namun engkau merasa memenuhi syarat untuk berdialog dengan Tuhan?

Firman Peringatan

Apakah engkau semua merasa tidak nyaman setelah mendengar pernyataan ini? Meski engkau semua mungkin tidak mau mendengarkan firman ini, atau tidak mau menerimanya, semua ini adalah fakta. Karena tahap pekerjaan ini akan dilakukan oleh Tuhan, jika engkau semua tidak peduli dengan maksud Tuhan, tidak peduli dengan sikap Tuhan, dan tidak memahami esensi dan watak Tuhan, maka pada akhirnya engkau adalah orang yang akan kehilangan. Jangan salahkan firman-Ku karena sulit untuk didengarkan, dan jangan salahkan semua itu karena menciutkan antusiasmemu. Aku mengatakan kebenaran; Aku tidak bermaksud mengecilkan hatimu. Tidak peduli apa yang Aku minta darimu, dan tidak peduli bagaimana engkau semua dituntut untuk melakukannya, Aku berharap engkau semua berjalan di jalan yang benar, dan berharap engkau semua mengikuti jalan Tuhan dan tidak menyimpang dari jalan ini. Jika engkau tidak bertindak sesuai dengan firman Tuhan, dan tidak mengikuti jalan-Nya, maka tidak ada keraguan bahwa engkau memberontak melawan Tuhan dan telah mengembara keluar dari jalan yang benar. Jadi Aku merasa ada beberapa hal yang harus Aku klarifikasi untukmu, dan membuatmu percaya dengan tegas, jelas, tanpa sedikit pun ketidakpastian, dan membantumu untuk secara eksplisit mengenal sikap Tuhan, maksud Tuhan, cara Tuhan menyempurnakan manusia, dan dengan cara apa Dia menetapkan kesudahan manusia. Jika tiba suatu hari ketika engkau tidak dapat memulai jalur ini, maka Aku tidak bertanggung jawab, karena firman ini telah diucapkan kepadamu dengan sangat jelas. Terkait bagaimana engkau menyikapi kesudahanmu sendiri—perkara ini sepenuhnya bergantung padamu. Tuhan memiliki sikap berbeda mengenai kesudahan berbagai macam orang. Dia memiliki cara-Nya sendiri untuk mengukur manusia, dan standar persyaratan-Nya sendiri. Standar-Nya dalam mengukur orang adalah standar yang adil bagi setiap orang—tidak ada keraguan mengenai itu! Jadi rasa takut beberapa orang tidaklah perlu. Apakah engkau semua merasa lega sekarang? Cukup sekian untuk hari ini. Selamat tinggal!

17 Oktober 2013

Sebelumnya:Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik X

media terkait