Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Perbedaan Mendasar Antara Tuhan yang Berinkarnasi dan Orang-Orang yang Dipakai oleh Tuhan

Selama bertahun-tahun, Roh Tuhan tanpa henti terus mencari sambil ketika Dia meneruskan pekerjaan-Nya di bumi. Selama beradab-abad Tuhan telah memakai banyak orang untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi Roh Tuhan masih belum menemukan tempat perhentian yang sesuai. Jadi Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, tanpa henti berpindah dari satu orang kepada orang lain, dan secara keseluruhan Dia memakai manusia untuk melakukan pekerjaan ini. Yang berarti, selama bertahun-tahun, pekerjaan Tuhan tidak pernah berhenti, tetapi terus dikerjakan dalam diri manusia, sampai hari ini. Walau Tuhan menyampaikan banyak firman dan melakukan banyak pekerjaan, manusia masih tidak mengenal Tuhan, karena Tuhan tidak pernah menampakkan diri kepada manusia dan juga karena Dia tidak memiliki wujud yang bisa disentuh. Jadi Tuhan harus menyelesaikan pekerjaan-Nya–sehingga semua manusia tahu pentingnya signifikansi Tuhan yang praktis. Untuk mencapai tujuan ini, Tuhan harus memperlihatkan Roh-Nya dalam wujud yang bisa disentuh manusia dan melakukan pekerjaan-Nya di tengah-tengah mereka. Yang berarti, barulah ketika Roh Tuhan mengambil wujud fisik, mengenakan daging serta tulang, dan terlihat berjalan di antara manusia, menemani mereka dalam hidup sehari-hari, kadang muncul dan kadang menyembunyikan diri-Nya, hanya pada saat itulah manusia bisa mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang Dia. Jika Tuhan terus dalam rupa manusia, maka Dia tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan-Nya secara penuh. Setelah bekerja dalam rupa manusia selama beberapa waktu, menggenapi pelayanan yang harus dilakukan dalam rupa manusia, Tuhan akan meninggalkan daging dan bekerja di alam roh dalam wujud manusia sama seperti yang dilakukan Yesus setelah Dia bekerja untuk beberapa waktu dalam kemanusian yang biasa dan menyelesaikan semua pekerjaan yang harus diselesaikan-Nya. Engkau sekalian mungkin ingat bagian ini dari “Jalan ... (5)” “Aku ingat Bapa-Ku pernah berkata kepada-Ku, ‘Di bumi, hanya lakukan kehendak Bapa-Mu dan selesaikan amanat-Nya. Tidak ada hal lain yang harus Engkau pikirkan.’” Apa yang engkau lihat tentang bagian ini? Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia hanya melakukan pekerjaan-Nya dalam keilahian. Itulah yang dipercayakan Roh surgawi kepada Tuhan yang berinkarnasi. Ketika Dia datang, Dia hanya pergi untuk menyampaikan firman di mana-mana, menyuarakan perkataan-Nya dengan berbagai cara dan dari berbagai sudut pandang. Dia terutama menjadikan tugas memenuhi manusia dan mengajar manusia sebagai tujuan dan prinsip pekerjaan-Nya, dan tidak memusingkan diri dengan hal-hal seperti hubungan antar manusia atau detail kehidupan manusia. Pelayanan utama-Nya adalah berbicara atas nama Roh. Ketika Roh Tuhan menampakkan diri secara nyata dalam daging, Dia hanya membekali kehidupan manusia dan melepaskan kebenaran. Dia tidak terlibat dalam pekerjaan manusia, yang artinya, Dia tidak berpartisipasi dalam pekerjaan umat manusia. Manusia tidak bisa melakukan pekerjaan ilahi, dan Tuhan tidak ikut serta dalam pekerjaan manusia. Selama bertahun-tahun sejak Tuhan datang ke bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya, Dia selalu melakukannya melalui manusia. Tetapi, mereka tidak bisa dianggap sebagai Tuhan yang berinkarnasi, hanya manusia yang dipakai oleh Tuhan. Namun Tuhan masa kini bisa berbicara langsung dari sudut pandang ilahi, memperdengarkan suara Roh-Nya, dan bekerja atas nama Roh. Semua manusia yang dipakai oleh Tuhan selama berabad-abad adalah contoh-contoh dari Roh Tuhan yang bekerja dalam tubuh daging, jadi kenapa mereka tidak bisa disebut Tuhan? Tetapi, Tuhan masa kini juga Roh Tuhan yang bekerja secara langsung dalam rupa manusia, dan Yesus juga Roh Tuhan yang bekerja dalam rupa manusia; dan keduanya disebut Tuhan. Jadi apa bedanya? Selama berabad-abad, manusia yang dipakai oleh Tuhan mampu melakukan pemikiran dan akal normal. Mereka semua tahu prinsip tindakan manusia. Mereka memiliki ide manusia normal dan mereka diperlengkapi dengan segala hal yang harus dimiliki manusia normal. Kebanyakan dari mereka memiliki talenta luar biasa dan kecerdasan bawaan. Dalam bekerja lewat orang-orang ini, Roh Tuhan mengasah talenta mereka, yang adalah karunia pemberian Tuhan. Roh Tuhan membuat talenta mereka keluar, menggunakan kekuatan mereka untuk melayani Tuhan. Akan tetapi, esensi Tuhan tidak terpengaruh oleh ide atau pemikiran manusia, tidak tercemar dengan niat manusia, dan bahkan tidak memiliki hal-hal yang memperlengkapi manusia normal. Bisa dikatakan, Dia bahkan tidak memahami prinsip tindakan manusia. Itulah yang terjadi ketika Tuhan masa kini datang ke bumi. Perkataan Firman dan pekerjaan-Nya tidak tercemar oleh niat atau pemikiran manusia, tetapi adalah manifestasi langsung dari pemikiran Roh, dan Dia bekerja secara langsung atas nama Tuhan. Ini berarti Roh datang untuk bekerja, tanpa mencampurkan sedikit pun niat manusia. Yang berarti, Tuhan yang berinkarnasi adalah perwujudan langsung dari keilahian, tanpa campuran dengan pemikiran atau gagasan manusia, dan tidak memiliki pemahaman tentang prinsip perilaku manusia. Jika hanya keilahian saja yang bekerja (maksudnya hanya Tuhan sendiri yang bekerja), maka tidak mungkin pekerjaan Tuhan dikerjakan di bumi. Jadi ketika Tuhan datang ke bumi, Dia harus memiliki sejumlah kecil orang yang Dia pakai untuk melakukan pekerjaan-Nya di antara umat manusia bersamaan dengan pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam keilahian. Dengan kata lain, Dia memakai pekerjaan manusia untuk menopang pekerjaan ilahi-Nya. Jika tidak, maka tidak mungkin manusia bisa bersentuhan langsung dengan pekerjaan ilahi. Inilah yang terjadi dengan Yesus dan murid-murid-Nya. Semasa Dia berada di dunia, Yesus menghapuskan hukum Taurat dan menetapkan hukum baru. Dia juga banyak menyampaikan firman. Semua pekerjaan ini dilakukan dalam keilahian. Yang lain, seperti Petrus, Paulus, dan Yohanes, semua mendasarkan pekerjaan mereka pada dasar firman Yesus. Begitulah cara Tuhan memulai pekerjaan-Nya di zaman itu, memulai awal Zaman Anugerah; yang berarti, Dia membawa sebuah zaman baru, menghapuskan zaman lama, dan juga menggenapi firman yang mengatakan “Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir.” Dengan kata lain, manusia harus melakukan pekerjaan manusia di atas dasar pekerjaan ilahi. Setelah Yesus menyampaikan semua yang harus dikatakan-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, Dia pun meninggalkan manusia. Setelah ini, semua manusia, dalam bekerja, mengerjakannya menurut prinsip yang dinyatakan dalam firman-Nya, dan melakukannya menurut kebenaran yang Dia sampaikan. Semua ini adalah orang yang bekerja bagi Yesus. Jika Yesus sendiri saja yang bekerja, tidak peduli berapa banyak firman yang disampaikan-Nya, manusia tetap tidak akan bisa mempelajari firman-Nya, karena Dia bekerja dalam keilahian dan hanya bisa menyampaikan firman keilahian, dan Dia tidak bisa menjelaskan segala sesuatu sampai ke tahap ketika manusia biasa bisa mengerti firman-Nya. Itu sebabnya Dia perlu memiliki para rasul dan nabi yang datang setelah Dia pergi agar melanjutkan pekerjaan-Nya. Inilah prinsip kerja Tuhan yang berinkarnasi—memakai daging inkarnasi-Nya untuk berbicara dan bekerja untuk menyelesaikan pekerjaan keilahian, dan memakai sejumlah kecil orang atau mungkin lebih banyak orang yang berkenan di hati-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya. Yang berarti, Tuhan memakai manusia yang berkenan kepada-Nya untuk melakukan pekerjaan penggembalaan dan penyiraman umat manusia sehingga mereka bisa mendapatkan kebenaran.

Jika, ketika dalam daging, Tuhan hanya melakukan pekerjaan keilahian tanpa menambahkan beberapa orang yang berkenan di hati-Nya untuk bekerja sama dengan-Nya, maka tidak mungkin manusia mengerti kehendak Tuhan atau berkontak dengan Tuhan. Tuhan harus menggunakan orang biasa yang berkenan di hati-Nya untuk menyelesaikan pekerjaan ini, untuk mengawasi, dan menggembalakan gereja, supaya tiba pada level proses kognitif manusia, dan bisa dimengerti oleh otaknya. Dengan kata lain, Tuhan menggunakan sejumlah kecil orang yang berkenan di hati-Nya untuk “menerjemahkan” pekerjaan yang Dia lakukan dalam keilahian-Nya, sehingga pekerjaan itu bisa terbuka, yang berarti, mengubah bahasa ilahi menjadi bahasa manusia, sehingga orang bisa memahami dan mengerti. Jika Tuhan tidak melakukannya, tidak akan ada yang mengerti bahasa ilahi Tuhan, karena orang yang berkenan di hati-Nya, bagaimana pun, sangat sedikit, dan kemampuan manusia untuk mengerti itu lemah. Itu sebabnya Tuhan memilih menggunakan metode ini ketika bekerja di dalam daging inkarnasi-Nya. Jika hanya ada pekerjaan ilahi saja, maka tidak mungkin manusia mengenal atau bertemu dengan Tuhan, karena manusia tidak mengerti bahasa Tuhan. Manusia bisa mengerti bahasa ini hanya lewat bantuan manusia lain yang berkenan di hati Tuhan yang menjelaskan firman-Nya. Akan tetapi, jika hanya orang-orang itu saja yang bekerja di antara umat manusia, yang hanya mampu menjalankan kehidupan manusia biasa; maka hal itu tidak akan mengubah watak manusia. Pekerjaan Tuhan tidak dapat memiliki awal baru; semuanya sudah ada dan sudah pernah dikerjakan sebelumnya. Hanya lewat bantuan Tuhan yang berinkarnasi, yang mengatakan semua yang perlu dikatakan dan melakukan semua yang perlu dilakukan selama masa inkarnasi-Nya, yang setelah itu pekerjaan dan pengalaman manusia sesuai dengan firman-Nya, baru setelah itulah watak kehidupan mereka mampu berubah dan mereka bisa mengikuti aliran waktu. Dia yang bekerja dalam keilahian merepresentasikan Tuhan, sementara mereka yang bekerja dalam kemanusiaan adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan. Jadi, Tuhan yang berinkarnasi secara substantif berbeda dengan manusia yang dipakai oleh Tuhan. Tuhan yang berinkarnasi mampu melakukan pekerjaan ilahi, sementara orang-orang yang dipakai oleh Tuhan tidak. Di awal setiap zaman, Roh Tuhan berbicara secara pribadi untuk membuka era baru dan membawa manusia masuk ke awal yang baru. Ketika Dia sudah selesai berbicara, ini menandakan pekerjaan Tuhan dalam keilahian-Nya sudah selesai. Setelah itu, semua orang mengikuti pimpinan mereka yang dipakai oleh Tuhan untuk masuk ke dalam pengalaman hidup mereka. Dengan cara yang sama, ini juga adalah tahap ketika Tuhan membawa masuk manusia ke dalam zaman baru dan memberikan semua orang awal yang baru. Dengan ini, pekerjaan Tuhan dalam daging selesai.

Tuhan datang ke bumi bukan untuk menyempurnakan kemanusiaan-Nya yang normal. Dia datang bukan untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan yang normal, tetapi hanya untuk melakukan pekerjaan keilahian dalam kemanusiaan yang normal. Apa yang dibicarakan oleh Tuhan tentang kemanusiaan yang normal berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh manusia. Manusia mengartikan “kemanusiaan yang normal” sebagai memiliki istri, atau suami, dan anak-anak lelaki dan perempuan. Itu adalah bukti bahwa seseorang adalah orang yang normal. Tetapi Tuhan memandangnya tidak seperti ini. Dia melihat kemanusiaan yang normal sebagai manusia yang memiliki pikiran manusia biasa, hidup seperti manusia biasa, dan dilahirkan dari manusia biasa. Akan tetapi kenormalan-Nya tidak termasuk memiliki istri, atau suami, atau anak sebagaimana kenormalan yang dimengerti oleh manusia. Yang berarti, bagi manusia, kemanusiaan yang normal sebagaimana dibicarakan oleh Tuhan adalah apa yang dianggap manusia sebagai ketiadaan kemanusiaan, tidak memiliki emosi dan sepertinya tidak memiliki kebutuhan duniawi, sama seperti Yesus, yang hanya memiliki penampilan luar orang biasa dan memiliki wujud orang biasa, tetapi secara esensi tidak sepenuhnya memiliki apa yang seharusnya dimiliki oleh orang biasa. Dari sini bisa terlihat bahwa substansi Tuhan yang berinkarnasi tidak mencakup keseluruhan kemanusiaan yang normal, tetapi hanya sebagian kecil dari hal yang dengannya manusia bisa hidup, agar dapat menjalankan rutinitas hidup manusia biasa, dan menunjang daya nalar manusia biasa. Tetapi semua itu tidak ada hubungannya dengan apa yang dianggap oleh manusia sebagai kemanusiaan yang normal. Itulah yang harusnya dimiliki oleh Tuhan yang berinkarnasi. Akan tetapi, ada orang yang bersikukuh mengatakan bahwa Tuhan yang berinkarnasi baru bisa dikatakan memiliki kemanusiaan yang normal jika Dia punya istri, anak lelaki dan perempuan, sebuah keluarga. Tanpa itu, kata mereka, Dia bukan orang normal. Aku bertanya kepadamu kalau begitu, “Apakah Tuhan memiliki istri? Apakah mungkin Tuhan punya suami? Bisakah Tuhan punya anak?” Bukankah semua ini kekeliruan? Tetapi Tuhan yang berinkarnasi tidak mungkin berasal dari retakan di antara batu atau jatuh dari langit. Dia hanya bisa dilahirkan dari keluarga manusia biasa. Itu sebabnya Dia memiliki orang tua dan beberapa saudara perempuan. Semua ini adalah hal yang harus dimiliki oleh kemanusiaan normal Tuhan yang berinkarnasi. Itulah yang terjadi dengan Yesus. Yesus punya ayah dan ibu, saudara laki-laki dan perempuan. Semuanya normal. Tetapi, jika Dia memiliki istri serta putra dan putri, maka keberadaan-Nya bukanlah kemanusiaan yang normal yang Tuhan maksudkan untuk dimiliki oleh Tuhan yang berinkarnasi. Jika itu yang terjadi, Dia tidak akan mampu bekerja atas nama keilahian. Justru karena Dia tidak memiliki istri atau anak, namun dilahirkan dari manusia biasa ke dalam keluarga biasa, sehingga Dia mampu melakukan pekerjaan keilahian. Untuk menjelaskannya lebih lanjut, Tuhan menganggap orang biasa adalah orang yang lahir dalam keluarga biasa. Hanya orang seperti itu yang layak melakukan pekerjaan ilahi. Jika, di sisi lain, orang memiliki istri, anak, atau suami, maka orang itu tidak bisa melakukan pekerjaan ilahi, karena dia hanya akan memiliki kemanusiaan normal yang manusia butuhkan tetapi bukan kemanusiaan normal yang Tuhan butuhkan. Apa yang Tuhan pikirkan dan apa yang manusia pahami sering kali sangat berbeda jauh. Dalam tahap pekerjaan Tuhan ini, ada banyak yang bertentangan dan berbeda sekali dengan gagasan manusia. Bisa dikatakan bahwa dalam tahap pekerjaan Tuhan ini sepenuhnya terdiri dari keilahian yang bekerja secara praktis, dengan kemanusiaan sebagai peran pendukung. Karena Tuhan datang ke bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya sendiri bukan membiarkan manusia mengerjakannya, itu sebabnya Dia sendiri berinkarnasi dalam daging (dalam bentuk manusia biasa yang tidak lengkap) untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia memanfaatkan inkarnasi ini untuk menyajikan sebuah zaman baru kepada umat manusia, memberi tahu manusia tentang tahap berikut dalam pekerjaan-Nya, dan meminta mereka melakukannya sesuai dengan jalan yang dijelaskan dalam firman-Nya. Dengan ini, Tuhan menuntaskan pekerjaan-Nya dalam daging, dan Dia akan meninggalkan umat manusia, tidak lagi bersemayam dalam daging dari kemanusiaan yang normal, tetapi menyingkir dari manusia untuk melanjutkan bagian lain dari pekerjaan-Nya. Lalu, setelah memakai orang yang berkenan di hati-Nya, Dia meneruskan pekerjaan-Nya di bumi di antara sekelompok orang ini, tetapi dalam kemanusiaan mereka.

Tuhan yang berinkarnasi tidak bisa selamanya tinggal dengan manusia karena Tuhan memiliki banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan. Dia tidak bisa terikat pada daging; Dia harus memisahkan diri dari daging untuk melakukan pekerjaan yang harus dilakukan, walau Dia melakukan pekerjaan itu dalam wujud daging. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia tidak menunggu sampai Dia mencapai bentuk yang perlu dicapai oleh manusia biasa sebelum mati dan pergi dari antara umat manusia. Tidak peduli seberapa pun umur daging-Nya, ketika pekerjaan-Nya sudah selesai, Dia pun pergi dan meninggalkan manusia. Tidak ada batasan umur bagi-Nya; Dia tidak menghitung hari-hari-Nya dengan ukuran usia manusia; sebaliknya, Dia mengakhiri hidup-Nya dalam daging sesuai dengan tahap dalam pekerjaan-Nya. Mungkin ada orang yang merasa bahwa Tuhan, dengan datang dalam daging, harus berkembang sampai suatu tahap tertentu, menjadi dewasa, tua, dan meninggalkan dunia ketika tubuh-Nya sudah tidak mampu lagi bertahan. Ini adalah imajinasi manusia; Tuhan tidak bekerja seperti itu. Dia datang dalam rupa manusia hanya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan, dan bukan menjalani hidup manusia biasa yang lahir dari orang tua, tumbuh, membentuk keluarga, dan memulai karier, memiliki anak atau mengalami suka duka kehidupan—semua aktivitas manusia biasa. Ketika Tuhan datang ke bumi, inilah Roh Tuhan yang masuk ke dalam daging, datang dalam daging, tetapi Tuhan tidak menjalani hidup manusia biasa. Dia datang hanya untuk menyelesaikan satu bagian dari rencana pengelolaan-Nya. Setelah itu Dia akan meninggalkan umat manusia. Ketika Dia datang dalam daging, Roh Tuhan tidak menyempurnakan kemanusiaan normal dari daging tersebut. Sebaliknya, pada saat yang sudah ditentukan Tuhan, keilahian akan bekerja secara langsung. Lalu, setelah melakukan semua yang harus dilakukan-Nya dan menyelesaikan pelayanan-Nya, pekerjaan Roh Tuhan di tahap ini selesai, dan hidup Tuhan yang berinkarnasi juga berakhir, terlepas dari apakah tubuh jasmani-Nya telah mencapai batas usianya atau belum. Jadi, apa pun tahap kehidupan yang dicapai oleh tubuh jasmani, seberapa lama Dia hidup di bumi, semua ditentukan oleh pekerjaan Roh. Tidak ada hubungannya dengan apa yang dianggap oleh manusia sebagai kemanusiaan yang normal. Mari kita jadikan Yesus sebagai contoh. Dia hidup dalam daging selama tiga puluh tiga setengah tahun. Dalam konteks masa hidup tubuh manusia, Dia tidak seharusnya meninggal di usia itu, dan Dia tidak seharusnya pergi. Tetapi bukan ini yang menjadi pertimbangan Roh Tuhan. Pekerjaan-Nya selesai, pada saat itu tubuh-Nya diangkat, menghilang bersama Roh. Inilah prinsip kerja Tuhan dalam daging. Jadi, perlu ditegaskan, Tuhan yang berinkarnasi adalah tanpa kemanusiaan yang normal. Untuk menegaskan, Dia datang ke bumi bukan untuk menjalani kehidupan manusia biasa. Dia tidak menjalani pertama-tama kehidupan normal sebagai manusia lalu mulai bekerja. Sebaliknya, sepanjang Dia dilahirkan dalam keluarga yang biasa, Dia mampu melakukan pekerjaan ilahi. Dia bebas dari sedikit pun niat manusia, Dia tidak berupa daging, dan tentu saja Dia tidak mengadopsi cara hidup masyarakat atau terlibat dalam pemikiran atau gagasan manusia, apa lagi terhubung dengan filosofi manusia. Inilah pekerjaan yang bermaksud dilakukan oleh Tuhan yang berinkarnasi, dan itu juga merupakan makna penting yang praktis dari inkarnasi-Nya. Tuhan datang dalam rupa manusia terutama untuk melakukan satu tahap dalam pekerjaan-Nya yang harus dilakukan dalam daging, tanpa harus melewati proses yang kurang penting dan tidak perlu mengalami pengalaman yang dialami seorang manusia biasa. Pekerjaan yang harus dilakukan oleh Tuhan dalam daging yang berinkarnasi tidak mencakup pengalaman manusia normal. Jadi Tuhan datang dalam daging untuk menyelesaikan pekerjaan yang Dia harus kerjakan dalam daging. Sisanya tidak ada hubungan dengan-Nya. Dia tidak melewati banyak proses yang tidak penting. Begitu pekerjaan-Nya selesai, makna penting dari inkarnasi-Nya juga berakhir. Menyelesaikan tahap ini berarti pekerjaan yang Dia harus lakukan dalam daging sudah selesai, dan pelayanan-Nya dalam daging sudah selesai. Tetapi Dia tidak bisa terus bekerja dalam daging. Dia harus berpindah ke tempat lain untuk bekerja, di luar daging. Hanya dengan cara ini, pekerjaan-Nya menjadi semakin sempurna dan berkembang. Tuhan bekerja menurut rencana awal-Nya. Pekerjaan apa yang harus dikerjakan-Nya dan pekerjaan apa yang harus diselesaikan-Nya, Dia tahu dengan baiksemuanya. Tuhan memimpin setiap orang berjalan di jalan yang sudah ditetapkan-Nya. Tidak ada yang bisa kabur dari sini. Hanya mereka yang mengikuti bimbingan Roh Tuhan akan bisa masuk ke dalam tempat perhentian. Mungkin saja, dalam pekerjaan berikutnya, bukan Tuhan yang berbicara dalam daging untuk membimbing manusia, tetapi Roh dengan wujud yang bisa disentuh yang akan membimbing hidup manusia. Barulah pada saat itu manusia akan dapat menyentuh Tuhan secara konkret, melihat Tuhan, dan masuk dengan lebih sempurna ke dalam kenyataan yang Tuhan inginkan, supaya disempurnakan oleh Tuhan yang praktis. Inilah pekerjaan yang hendak dicapai oleh Tuhan, apa yang sudah Dia rencanakan dari sejak dahulu. Dari sini, engkau sekalian seharusnya bisa melihat jalan yang harusnya ditempuh oleh engkau sekalian!

Sebelumnya:Juruselamat Telah Datang Kembali di Atas "Awan Putih"

Selanjutnya:Keyakinan kepada Tuhan Harus Berfokus pada Realitas, Bukan Ritual Keagamaan

Anda Mungkin Juga Menyukai