Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kekeliruan: Seseorang berkata, "Alkitab diilhami oleh Tuhan. Alkitab sama sekali tidak dinodai oleh kehendak manusia dan sepenuhnya merupakan firman Tuhan. Semua kata dalam Alkitab memiliki banyak aspek dan memberi pertanda tentang masa depan, Alkitab secara mutlak berotoritas, tidak ada buku lain yang dapat dibandingkan dengannya, dan semua orang harus mengakui bahwa Alkitab itu tidak salah. Siapa pun yang mengatakan Alkitab dinodai oleh kehendak manusia atau mengandung kesalahan berarti menyerang dan menyangkal Alkitab, dan semua orang seperti itu akan dikutuk."

1

Tanggapan: Banyak orang percaya bahwa Alkitab diilhami oleh Tuhan, bahwa segala sesuatu yang tercatat dalam Alkitab adalah firman Tuhan, sama sekali tidak ternoda oleh kehendak manusia dan bahwa Alkitab itu secara mutlak berotoritas. Mereka bahkan memperlakukan Alkitab sama seperti mereka memperlakukan Tuhan. Mereka berpikir bahwa siapa pun yang mengatakan Alkitab dinodai oleh kehendak manusia berarti menyerang dan menyangkal Alkitab, dan akan dikutuk. Apakah pandangan ini sesuai dengan kebenaran? Apakah pandangan ini memiliki dasar dalam firman Tuhan? Tuhan Yahweh tidak pernah memberikan kesaksian seperti itu tentang Alkitab, dan demikian juga Tuhan Yesus dan Roh Kudus tidak pernah memberikan kesaksian seperti itu tentang Alkitab. Setiap orang yang tahu tentang Alkitab tahu bahwa Alkitab tidak ditulis oleh Tuhan sendiri, tetapi di dalamnya terdapat catatan para nabi, murid dan rasul zaman dahulu tentang pekerjaan yang telah dilakukan Tuhan, serta pengalaman pribadi para murid dan rasul dan surat-surat yang mereka tulis kepada gereja-gereja pada masa itu, dan ada juga beberapa nubuat tentang pekerjaan terakhir Tuhan. Alkitab adalah buku yang dikumpulkan dan disusun oleh generasi-generasi selanjutnya yang mencatat fakta sejarah pekerjaan Tuhan, dan disatukan oleh banyak orang. Meskipun memuat rincian pekerjaan dan ucapan-ucapan Yahweh dan Yesus pada masa itu, Alkitab tidak didokumentasikan secara pribadi oleh Yahweh dan Yesus, dan tidak semua perkataan diucapkan secara pribadi oleh Yahweh dan Yesus. Jadi bagaimana orang dapat mengatakan bahwa semua kata dalam Alkitab adalah firman Tuhan dan sama sekali tidak ternoda oleh kehendak manusia, dan bahwa Alkitab itu sepenuhnya akurat dan tanpa kesalahan? Firman Tuhan Yang Mahakuasa memaparkan semua ini dengan jelas: “Saat ini, orang percaya bahwa Alkitab adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Alkitab. Jadi, mereka juga percaya bahwa semua kata-kata dalam Alkitab adalah satu-satunya perkataan yang diucapkan oleh Tuhan, dan bahwa semuanya itu dikatakan oleh Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan bahkan mengira meskipun enam puluh enam kitab Perjanjian Lama dan Baru semuanya ditulis oleh manusia, semuanya memperoleh wahyu dari Tuhan, dan semuanya merupakan catatan perkataan Roh Kudus. Ini penafsiran manusia yang salah, dan hal ini tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Sesungguhnya, selain kitab-kitab nubuat, sebagian besar Perjanjian Lama adalah catatan sejarah. Beberapa surat Perjanjian Baru berasal dari pengalaman orang, dan beberapa merupakan hasil dari pencerahan Roh Kudus; surat-surat Paulus, misalnya, muncul dari pekerjaan manusia, surat-surat itu semuanya hasil dari pencerahan Roh Kudus, ditulis untuk jemaat-jemaat, berisi kata-kata nasihat dan dorongan bagi saudara seiman di jemaat-jemaat. Perkataan itu tidak diucapkan oleh Roh Kudus—Paulus tidak dapat berbicara atas nama Roh Kudus, dan ia juga bukan seorang nabi, apalagi memperoleh penglihatan yang Yohanes lihat. Surat-suratnya ditulis untuk jemaat-jemaat di Efesus, Filadelfia, Galatia, dan jemaat-jemaat lain. Dengan demikian, surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru adalah surat-surat yang ditulis Paulus untuk jemaat-jemaat, dan bukan wahyu Roh Kudus, juga bukan ucapan langsung Roh Kudus …. Segala hal membangun dan positif yang dikatakannya kepada orang memang benar, tetapi tidak merepresentasikan ucapan Roh Kudus itu sendiri, dan Paulus tidak dapat merepresentasikan Tuhan. Adalah pemahaman yang sangat buruk, dan penghujatan yang sangat besar, jika orang menganggap catatan pengalaman manusia dan surat-surat seorang rasul sebagai kata-kata yang diucapkan oleh Roh Kudus kepada jemaat-jemaat! … Identitasnya semata-mata seorang rasul yang melakukan pekerjaan, dan ia semata-mata rasul yang diutus oleh Tuhan; ia bukan seorang nabi, atau seorang penubuat. Jadi, bagi Paulus, pekerjaannya sendiri dan kehidupan saudara-saudari seimanlah yang terpenting. Dengan demikian, ia tidak mungkin berbicara atas nama Roh Kudus. Kata-katanya bukanlah perkataan Roh Kudus, terlebih lagi tidak bisa dikatakan sebagai perkataan Tuhan, karena Paulus tidak lebih dari makhluk ciptaan Tuhan, dan tentu saja bukan inkarnasi Tuhan” (“Tentang Alkitab (3)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Melalui firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita dapat melihat bahwa tidak semua yang dicatat dalam Alkitab adalah firman Tuhan. Kitab-kitab para nabi, kitab-kitab dalam Perjanjian Lama seperti Daniel, Yesaya, Hosea dan Yeremia semuanya diajarkan secara langsung oleh Tuhan dan menceritakan hal-hal yang akan dicapai oleh Tuhan yang Dia beritakan kepada manusia melalui mulut para nabi; keseluruhan kitab ini ini berasal dari Tuhan, tanpa pemalsuan apa pun. Selain itu, sebagian besar kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama, seperti Kejadian, Keluaran, Yosua, Rut, dan Nehemia, adalah catatan sejarah Israel. Tentu saja, ada juga sebagian kecil buku yang merupakan kitab hikmat, seperti Amsal, Kidung Agung, dan Pengkhotbah. Kata-kata dalam kitab-kitab ini tidak semuanya merupakan firman Tuhan. Seperti halnya Lima Kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan—kitab-kitab tentang bagaimana Tuhan Yahweh pada mulanya menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu, bagaimana orang Israel dituntun keluar dari Mesir ke Kanaan, dan proses tentang bagaimana hukum Taurat diberitahukan—yang dicatat oleh Musa agar generasi-generasi selanjutnya dapat mengetahui tentang perbuatan Tuhan Yahweh. Kitab-kitab ini bukan sepenuhnya merupakan firman Tuhan. Kitab-kitab yang dicatat oleh Musa berisi firman yang diucapkan oleh Tuhan Yahweh (lihat Keluaran 3:5–10; 14:1–4), kata-kata yang diucapkan oleh Musa (lihat Keluaran 8:26, 29; 9:29–30), kata-kata yang diucapkan oleh bangsa Israel (lihat Keluaran 16:2–3; Bilangan 14:2), serta kata-kata yang diucapkan oleh utusan Tuhan (lihat Kejadian 22:11–12). Tidak semua perkataan itu diucapkan oleh Tuhan. Dan dalam Perjanjian Baru, selain dari kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia bekerja sebagaimana dicatat dalam Empat Injil, sisanya kebanyakan adalah surat-surat yang ditulis oleh para murid atau rasul kepada gereja-gereja, dengan sebagian besar adalah surat-surat yang ditulis oleh Paulus. Para murid dan rasul bukanlah Tuhan, mereka juga bukan nabi yang dapat menyampaikan firman Tuhan. Mereka tentu saja tidak bisa mewakili Tuhan dan tidak bisa berbicara atas nama Roh Kudus. Oleh karena itu, surat-surat yang mereka tulis hanya mewakili pengalaman manusia; surat-surat itu tidak dapat dikatakan sebagai perkataan Roh Kudus, dan juga tidak secara pribadi diilhami oleh Tuhan. Surat-surat itu sama seperti buku-buku rohani yang ditulis oleh Witness Lee, Watchman Nee, Madame Jeanne Guyon, Lawrence dan sebagainya, yang hanya membahas beberapa pencerahan yang datang dari Roh Kudus dan beberapa pengalaman pribadi. Karena itu, hanya ucapan-ucapan Yahweh dan Yesus dan kata-kata yang diilhami oleh Tuhan dalam Alkitab yang merupakan firman Tuhan, tidak ternoda oleh kehendak manusia, dan sama sekali tidak salah. Tak satu pun dari kata-kata yang tersisa lainnya merupakan firman Tuhan. Jika kita memperlakukan semua catatan manusia, pengalaman manusia dan surat-surat dalam Alkitab sebagai firman Tuhan, itu berarti kita menyamakan perkataan manusia dengan firman Tuhan. Ini adalah kesalahan besar dan merupakan penghujatan terhadap Tuhan!

Alkitab adalah catatan yang ditulis oleh manusia dan tidak semuanya merupakan ucapan pribadi Tuhan. Akibatnya, tidak dapat dihindari bahwa Alkitab akan dinodai oleh manusia, dengan penafsiran manusia yang tidak masuk akal. Jadi bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Alkitab itu sepenuhnya akurat dan tidak bisa salah? Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Tidak semua hal di dalam Alkitab merupakan catatan perkataan yang diucapkan oleh Tuhan sendiri. Alkitab hanya mendokumentasikan dua tahap pekerjaan Tuhan sebelumnya yaitu satu bagian berupa catatan tentang nubuatan para nabi, dan satu bagian lagi merupakan pengalaman dan pengetahuan yang ditulis orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang zaman. Pengalaman manusia dicemari oleh pendapat dan pengetahuan manusia, hal ini tak terhindarkan. Di banyak kitab dalam Alkitab terdapat gagasan manusia, prasangka manusia, dan penafsiran manusia yang tidak masuk akal. Tentu saja, sebagian besar perkataan itu hasil dari pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan merupakan penafsiran yang benar—tetapi tetap belum dapat dikatakan penafsiran tersebut adalah perungkapan kebenaran yang benar-benar tepat” (“Tentang Alkitab (3)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Sekarang, siapakah dari antaramu berani mengatakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh orang-orang yang dipakai Roh Kudus itu semuanya berasal dari Roh Kudus? Adakah orang yang berani berkata demikian? Jika engkau berkata seperti itu, mengapa kitab nubuat Ezra dibuang, dan mengapa hal yang sama dilakukan pada kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang kudus dan para nabi di masa lampau? Jika semua itu berasal dari Roh Kudus, mengapa engkau semua berani membuat pilihan yang seenaknya begitu? Apakah engkau semua layak memilih pekerjaan Roh Kudus? Banyak cerita dari Israel juga dibuang. Jika engkau percaya bahwa tulisan-tulisan dari masa lalu ini semua berasal dari Roh Kudus, mengapa beberapa kitab dibuang? Jika semua itu berasal dari Roh Kudus, semua harus dijaga, dan dikirim ke saudara dan saudari seiman di gereja-gereja untuk dibaca. Tulisan-tulisan itu tidak boleh dipilah-pilih atau dibuang seturut kehendak manusia; itu perbuatan yang salah. Mengatakan bahwa pengalaman Paulus dan Yohanes bercampur dengan pemahaman pribadi mereka bukan berarti bahwa pengalaman dan pengetahuan mereka berasal dari Iblis, hanya saja ada hal-hal yang berasal dari pengalaman dan pemahaman pribadi mereka. Pengetahuan mereka berdasarkan latar belakang pengalaman nyata mereka pada waktu itu, dan siapa yang dapat berkata dengan yakin bahwa semua pengalaman itu berasal dari Roh Kudus? Jika Keempat Injil semua berasal dari Roh Kudus, mengapa Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes masing-masing mengatakan hal yang berbeda tentang pekerjaan Yesus?” (“Mengenai Sebutan dan Identitas” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Pekerjaan orang-orang yang dipakai juga merupakan pekerjaan Roh Kudus. Namun, pekerjaan Tuhan adalah ungkapan sempurna dari Roh Kudus, dan tidak ada perbedaan. Sebaliknya, pekerjaan manusia yang dipakai bercampur dengan banyak unsur manusia, dan itu bukan ungkapan langsung dari Roh Kudus, apalagi ungkapan sempurnanya” (“Pekerjaan Tuhan dan Pekerjaan Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan sangat jelas bahwa Alkitab tidak sepenuhnya merupakan perkataan yang diucapkan oleh Tuhan sendiri dan tidak ditulis oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Alkitab tentu dinodai oleh kehendak manusia, dan tidak mungkin benar-benar akurat dan tanpa kesalahan. Hal ini karena hanya pekerjaan Tuhan itu benar-benar akurat dan tanpa kesalahan; yang sepenuhnya merupakan pengungkapan Roh Kudus dan tidak ternoda oleh kehendak manusia. Pekerjaan Tuhan tidak memiliki apa pun yang berasal dari manusia dan sepenuhnya merupakan pengungkapan langsung dari Roh Kudus. Tetapi pekerjaan orang-orang yang dipakai oleh Roh Kudus tidak dapat sepenuhnya mewakili Tuhan dan tidak sepenuhnya merupakan kehendak Roh Kudus. Semua kata yang mereka ucapkan juga bukan pengungkapan langsung dari Roh Kudus, dan tidak dapat dihindari adanya pencampuran kehendak dan penyimpangan manusia, serta pemahaman, pengalaman dan penafsiran manusia. Misalnya, ketika Paulus menulis surat-suratnya kepada gereja-gereja, dia pernah berkata, “Sebab bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah untung” (Filipi 1:21). “Aku berbicara dengan rasa malu…. Namun, apabila ada yang berani, (aku berbicara dengan bodoh,) aku juga menjadi berani. … Apakah mereka pelayan-pelayan Kristus? (Aku berbicara seperti orang gila) Aku lebih lagi” (2 Korintus 11:21-23). Kata-kata yang diucapkan oleh Paulus ini sombong dan congkak, dan bahkan menjadi saksi bagi dirinya sendiri seperti Kristus. Kata-kata ini menampilkannya lebih sebagai seseorang tanpa pemahaman. Jelaslah, kata-kata yang diucapkan oleh Paulus ini tidak muncul dari kehendak Roh Kudus, karena kecongkakan dan kesombongan adalah watak Iblis yang tidak disukai dan dibenci oleh Tuhan. Apa yang diwakili kata-kata Paulus di sini adalah dari Iblis, jadi bagaimana mungkin kata-kata ini dapat berasal dari Tuhan? Contoh lain: Di awal Injil Matius, Matius menulis silsilah Yesus yang mengatakan bahwa Yesus adalah keturunan Abraham, keturunan Daud, dan putra Yusuf. Kemudian dikatakan bahwa Yesus dikandung dengan tanpa dosa dan berasal langsung dari Roh Kudus, dan bahwa Dia bukanlah putra Yusuf. Bukankah ini bertentangan? Di mata manusia, Yesus tampaknya adalah putra Yusuf, tetapi Dia pada dasarnya dikandung oleh Roh Kudus dan tidak ada hubungannya dengan Yusuf. Namun, Matius dengan keras kepala menegaskan bahwa Yesus adalah bagian dari garis keturunan Yusuf. Bukankah ini dinodai oleh kehendak manusia? Apakah ini tidak muncul dari pengetahuan manusia yang keliru? Lebih jauh lagi, dalam Perjanjian Lama, pasal 24 dari 2 Samuel dan pasal 21 dari 1 Tawarikh keduanya mencatat Daud yang menghitung jumlah orang. 2 Samuel 24:1 menyatakan bahwa Yahweh yang menggerakkan Daud untuk menghitung jumlah orang, sedangkan 1 Tawarikh 21:1 menyatakan bahwa Iblis yang menghasut Daud untuk menghitung jumlah orang. 2 Samuel 24:9 mengatakan Yoab menghitung bahwa di Israel ada 800.000 orang gagah yang menghunus pedang, sementara 1 Tawarikh 21:5 mengatakan bahwa jumlah orang di Israel yang menghunus pedang yang dihitung oleh Yoab adalah 1.100.000. 2 Samuel 24:13 mencatat bahwa tiga bencana yang akan didatangkan Yahweh adalah tujuh tahun kelaparan, tiga bulan pelarian, dan tiga hari sampar, sementara 1 Tawarikh 21:12 mencatat bahwa tiga bencana yang akan didatangkan Yahweh adalah tiga tahun kelaparan, tiga bulan pelarian, dan tiga hari sampar. Kitab Suci seharusnya merekam kejadian yang sama tetapi memberikan versi yang sama sekali berbeda, beberapa di antaranya bahkan sangat kontradiktif. Bukankah ini kesalahan dalam pencatatan manusia? Ini cukup menunjukkan bahwa Alkitab dinodai oleh kehendak manusia dan tidak sepenuhnya akurat dan tanpa kesalahan. Pandangan bahwa Alkitab itu benar-benar akurat dan tidak salah tidak sesuai dengan fakta.

Beberapa orang berpikir bahwa semua perkataan dalam Alkitab memiliki banyak aspek. Ini juga merupakan pernyataan yang salah. Sebenarnya, asal-usul pernyataan ini tidak lebih dari Alkitab yang memiliki beberapa tulisan suci yang dengan jelas mendokumentasikan kejadian yang sama tetapi dengan versi yang sama sekali berbeda, yang beberapa di antaranya bahkan benar-benar saling bertentangan. Namun orang selalu berpikir bahwa Alkitab semuanya diberikan berdasarkan ilham dari Tuhan dan semuanya adalah firman Tuhan, yang sama sekali tidak ternoda oleh kehendak manusia. Karenanya, dalam situasi di mana orang tidak berani mengatakan bahwa Alkitab dinodai oleh kehendak manusia dan memiliki kesalahan, mereka hanya dapat menyatakan bahwa “Alkitab memiliki banyak aspek” untuk menjelaskan kontradiksi dalam Alkitab. Mereka mengatakan bahwa kata-kata yang berbeda digunakan dalam menggambarkan rincian yang berbeda dalam Alkitab, dan bahwa Alkitab dicatat oleh orang-orang yang berbeda dari sudut pandang dan aspek yang berbeda—sehingga membuat orang percaya pada keakuratan Alkitab dan bebas dari kesalahan. Tetapi kenyataannya, jika kita membaca Alkitab dengan saksama, kita akan menemukan bahwa ada beberapa tulisan suci di dalam Alkitab yang tidak dapat dijelaskan oleh pernyataan “Alkitab memiliki banyak aspek.” Misalnya, Empat Injil mencatat bahwa Petrus menyangkal Tuhan tiga kali. Dalam Injil Matius, Lukas dan Yohanes, ayam jantan berkokok hanya sekali, tetapi dalam Injil Markus, ayam jantan berkokok dua kali. Ini adalah perbedaan yang jelas. Aku percaya bahwa banyak saudara-saudari yang akan mengajukan pertanyaan seperti ini: apakah ayam jantan berkokok satu kali atau dua kali? Orang pada akhirnya tidak dapat menjelaskannya, jadi mereka hanya dapat menggunakan pandangan bahwa “Alkitab memiliki banyak aspek” untuk menjelaskannya. Pikirkan tentang hal ini: jika Alkitab sama sekali tidak dinodai oleh kehendak manusia, sama sekali tidak memiliki kesalahan, dan sepenuhnya berasal dari Tuhan, jumlah kokok ayam jantan yang dicatat dalam Empat Injil haruslah sama. Bagaimana mungkin ada dua versi? Apakah ‘banyak aspek’ tentang kokok ayam jantan yang tercatat satu atau dua kali? Apa makna yang bisa diwakilinya? Jelas, pernyataan bahwa Alkitab memiliki banyak aspek tidak bisa berlaku. Ini hanya pembenaran diri untuk keakuratan Alkitab dan bebas kesalahan!

Beberapa orang berpikir bahwa perkataan dalam Alkitab semuanya merupakan pertanda masa depan. Ini adalah pernyataan yang bahkan lebih salah! Tuhan Yang Mahakuasa mengatakan: “Yang dicatat dalam Alkitab adalah pekerjaan Tuhan di Israel, termasuk beberapa hal yang dilakukan orang-orang Israel pilihan. Meskipun ada pemilihan bagian-bagian untuk diikutsertakan atau dibuang, walaupun Roh Kudus tidak menyetujuinya, tetap saja Ia tidak menyalahkan. Alkitab tidak lebih dari sejarah Israel dan pekerjaan Tuhan. Orang-orang, perkara-perkara, dan masalah-masalah yang dicatat Alkitab semuanya nyata, dan tidak ada sesuatu pun tentang semua itu memiliki makna simbolis—selain dari, tentu saja, nubuatan Yesaya dan Daniel, dan nabi yang lain, atau kitab Yohanes tentang penglihatan” (“Tentang Alkitab (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Dapat dilihat dari firman Tuhan bahwa Alkitab mendokumentasikan semata-mata pekerjaan Tuhan, dan juga merupakan catatan sejarah tentang bagaimana orang Israel mengalami dua tahap pekerjaan Yahweh dan Yesus. Semua yang dicatat adalah orang-orang nyata, hal-hal nyata, dan peristiwa nyata, tanpa pertanda masa depan. Selain nubuat-nubuat para nabi dan Kitab Wahyu yang ditulis oleh Yohanes, tidak ada hal lain dalam Alkitab yang memiliki pertanda masa depan. Sebagai contoh, Keluaran 20 mendokumentasikan Sepuluh Perintah Tuhan yang diberitahukan kepada orang Israel, meminta mereka agar tidak menyembah berhala, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak bekerja pada hari Sabat …. Ini semua adalah perintah yang diberitahukan oleh Tuhan Yahweh kepada manusia di bawah hukum Taurat. Manusia hanya perlu mematuhi hukum-hukum Tuhan Yahweh—tidak ada pertanda masa depan yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh, Matius 5 mencatat ajaran Tuhan Yesus kepada orang-orang pada masa itu. Tuhan Yesus berkata: “Diberkatilah orang yang miskin dalam roh: karena kerajaan surga adalah milik mereka. Diberkatilah mereka yang meratap, sebab mereka akan dihibur. Diberkatilah orang yang lemah lembut, sebab mereka akan mewarisi bumi” (Matius 5: 3-5). Ini adalah persyaratan yang Tuhan Yesus kehendaki terhadap manusia dari Zaman Kasih Karunia, dan jauh dari pertanda masa depan. Ini menunjukkan bahwa pernyataan bahwa segala sesuatu dalam Alkitab merupakan bayangan akan masa depan tidaklah akurat. Ini hanya asumsi subyektif orang.

Tentu saja, Tuhan Yang Mahakuasa menyatakan bahwa Alkitab dinodai oleh kehendak manusia, namun ini bukanlah penyangkalan terhadap Alkitab, apalagi serangan terhadapnya. Tuhan melakukan ini hanya untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya, sehingga orang dapat memperlakukan Alkitab dengan benar dan tidak percaya secara membabi-buta dan menyembahnya. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Pada saat ini, Aku membedah Alkitab dengan cara ini dan hal itu tidak berarti Aku membenci Alkitab, atau menolak nilai Alkitab sebagai rujukan. Aku sedang menjelaskan dan menerangkan tentang nilai yang melekat pada Alkitab dan asal-usul Alkitab kepadamu agar engkau tidak tetap berada dalam gelap. Orang memiliki begitu banyak pandangan tentang Alkitab, dan kebanyakan pandangan itu salah; membaca Alkitab dengan cara ini bukan saja mencegah mereka memperoleh apa yang seharusnya, tetapi, yang lebih penting, itu menghambat pekerjaan yang ingin Aku lakukan. Ini adalah gangguan yang sangat besar untuk pekerjaan di masa yang akan datang, dan hanya menawarkan kelemahan, bukan kelebihan. Jadi, yang Aku ajarkan kepada engkau hanyalah pokok dan kisah yang ada di dalam Alkitab. Aku tidak meminta agar engkau tidak membaca Alkitab, atau agar engkau pergi berkeliling sambil menyatakan Alkitab benar-benar tak bernilai, tetapi agar engkau memiliki pengetahuan dan pandangan yang benar tentang Alkitab. Jangan berat sebelah! Meskipun Alkitab adalah buku sejarah yang ditulis manusia, Alkitab juga secara rinci mencatat banyak prinsip yang digunakan orang-orang suci dan nabi-nabi zaman dahulu untuk melayani Tuhan, serta pengalaman para rasul belakangan ini dalam melayani Tuhan—semua itu benar-benar dilihat dan dialami oleh orang-orang ini, dan dapat berfungsi sebagai rujukan bagi orang-orang zaman ini dalam mencari jalan yang benar” (“Tentang Alkitab (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).”Ini karena Alkitab mengikuti beberapa ribu tahun sejarah manusia dan seluruh manusia memperlakukannya seperti Tuhan sampai di titik di mana manusia di akhir zaman menggantikan Tuhan dengan Alkitab. Ini adalah sesuatu yang Tuhan sangat benci. Jadi, dalam waktu luang-Nya, Dia harus mengklarifikasi kisah di balik Alkitab dan asal usul Alkitab. Jika tidak, Alkitab akan terus menggantikan tempat Tuhan dalam hati manusia dan mereka akan mengukur dan mengutuk tindakan Tuhan berdasarkan firman di Alkitab. Penjelasan Tuhan tentang hakikat, konstruksi, dan kelemahan Alkitab sama sekali bukan untuk menyangkali keberadaan Alkitab ataupun mengutuki Alkitab. Sebaliknya, ini memberikan penjelasan yang perlu dan masuk akal, memulihkan gambaran asli Alkitab dan mengoreksi kesalahpahaman manusia terhadap Alkitab sehingga semua orang memiliki cara pandang yang benar terhadap Alkitab, tidak lagi menyembahnya dan tidak lagi tersesat – mereka dengan keliru beriman buta kepada Alkitab seakan memercayai dan menyembah Tuhan, dan bahkan mereka tidak berani untuk melihat latar belakang asli dan kelemahan Alkitab. Setelah semua orang memiliki pemikiran yang murni tentang Alkitab, barulah mereka bisa menyingkirkannya tanpa ragu dan dengan berani menerima firman Tuhan yang baru. Ini adalah tujuan Tuhan dalam beberapa bab ini” (Pengantar “”Firman Kristus saat Ia Berjalan di tengah Jemaat” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Jelas, Tuhan yang Mahakuasa membedah Alkitab dengan cara ini di masa sekarang bukan untuk menyangkal Alkitab atau mengutuk Alkitab, ataupun juga untuk mengatakan bahwa Alkitab tidak memiliki nilai referensi. Alih-alih, cara ini memberikan perspektif Alkitab yang cocok dan sesuai, untuk mengoreksi pengetahuan orang yang salah tentang Alkitab, memungkinkan orang memiliki pemahaman yang jelas tentang asal-usul, substansi, kisah inti, dan nilai praktis Alkitab. Tuhan yang Mahakuasa melakukan hal ini agar orang dapat memiliki pemahaman yang benar dan pandangan yang akurat tentang Alkitab untuk menghindari penyembahan Alkitab yang berlebihan, memiliki iman yang buta terhadap Alkitab, menggunakan Alkitab untuk menggantikan Tuhan, dan berpikir bahwa percaya kepada Alkitab adalah percaya dan menyembah Tuhan, sehingga mencegah mereka untuk kembali ke hadapan Tuhan. Ini adalah maksud Tuhan dengan menunjukkan bahwa Alkitab telah dinodai oleh kehendak manusia dan tidak bebas dari kesalahan.

Saudara-saudari, Alkitab selalu menjadi kitab surgawi dan kitab suci di hati orang-orang percaya selama berabad-abad, dan tidak seorang pun sejak zaman kuno hingga sekarang yang berani membedah Alkitab atau mengakui bahwa Alkitab telah dinodai oleh kehendak manusia. Tetapi hari ini, Kristus akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa, telah mengungkapkan kisah sebenarnya dan substansi Alkitab, mengembalikan Alkitab ke sifat aslinya, dan membuat kita melihat latar belakang dan kesalahan Alkitab sesungguhnya sehingga kita dapat memiliki pemahaman yang murni tentang Alkitab dan tahu bahwa Alkitab tidak sepenuhnya merupakan firman Tuhan dan tidak sepenuhnya akurat dan bebas dari kesalahan. Hanya itulah kebenaran dan faktanya. Dengan demikian, diharapkan bahwa kita semua dapat memperlakukan Alkitab dengan benar dan tidak lagi menyembahnya seolah-olah itu adalah Tuhan, atau berpikir bahwa Alkitab adalah Tuhan dan bahwa Tuhan adalah Alkitab. Kita harus secara praktis mencari dan mempelajari pekerjaan baru Tuhan pada akhir zaman, dan kita tidak boleh lagi percaya secara membabi-buta pada Alkitab dan menyembahnya, karena hal ini akan menuntun kita untuk menjadi orang-orang yang menolak Tuhan dan menentang pekerjaan baru-Nya.

media terkait