Telah Kutemukan Jalan Untuk Ditahirkan dari Dosa

17 September 2020

"Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar, benar-benar hidup dalam terang Mereka akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup. Mereka akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup" (Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru). Firman Tuhan Yang Mahakuasa telah menghapuskan kebimbangan lamaku. Dalam imanku, dahulu aku selalu berdoa kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosaku, tetapi aku terus berbohong dan berbuat dosa setelahnya. Kalau ada yang tidak sesuai keinginanku, aku pasti marah, dan aku tak bisa menaati ajaran Tuhan atau membebaskan diriku dari dosa. Itu sungguh menyakitkan. Aku sudah bertanya kepada banyak pendeta, tetapi tak pernah dapat jawabannya. Kupikir, "Tuhan itu kudus, bagaimana mungkin orang sepertiku, yang hidup dalam dosa, bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya?" Saat membaca Firman Tuhan Yang Mahakuasa, akhirnya kutemukan jalan untuk bisa lepas dari dosa dan ditahirkan dari kerusakan.

Sebagai penganut baru, aku mendatangi gereja Presbyterian di Korea Selatan. Pendeta kami selalu mengatakan, "Kita ini berdosa, kita penuh dengan dosa. Namun jangan takut— Tuhan Yesus disalib demi menebus dosa kita. Selama kita berdoa dan mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan, Ia akan memaafkan kita, dan saat Ia datang kembali, Ia akan membawa kita ke surga." Aku bersyukur kepada Tuhan dan merasakan betapa besar kasih-Nya terhadap kita. Setiap kali berbohong atau berbuat dosa, aku berdoa, mengakui dosa-dosaku, dan memohon ampun, lalu aku merasa tenang dan gembira. Aku tak sabar menanti Tuhan untuk datang dan membawaku ke kerajaan-Nya. Namun lama-kelamaan, kusadari kalau berdosa dan mengakuinya telah menjadi sebuah rutinitas. Aku begitu keras kepala dan mudah hilang kesabaran. Kalau suamiku bicara atau berbuat sesuatu yang tidak kusukai, aku pasti melawannya, tetapi setelah itu aku menyesal karena tidak bisa bersabar. Terutama saat aku membaca perkataanTuhan Yesus, "Engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti diri sendiri'' (Matius 22:39), Aku merasa tidak keruan. Aku merasa tak mampu bersabar dengan keluargaku, apalagi mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Seringkali aku berkeluh-kesah dengan pendeta dan penasihat gereja, mencari jalan untuk melepaskan diri dari dosa, tetapi mereka hanya terus menyuruhku untuk berdoa dan mengakui dosaku. Kebimbanganku tidak sirna dan aku penasaran dapatkah aku memenuhi kehendak Tuhan atau masuk surga jika aku selalu melakukan dosa-dosa yang sama setelah berdoa dan mengaku dosa. Mustahil. Di Alkitab tertulis, "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu" (Ibrani 10:26). Ini membuatku takut dan gelisah, tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya terus berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk memberiku kekuatan agar tak berbuat dosa. Saat itu aku mencoba tetap tenang, tetapi aku masih tetap dikendalikan dosa. Lama-kelamaan hal ini membuatku lelah dan tertekan. Sering kali, aku bangun dari tempat tidurku dan berdoa kepada Tuhan sambil menangis, memohon pertolongan-Nya dalam mencari jalan untuk menghindari dosa.

Tak lama kemudian, seorang teman mengundangku bergabung dengan gerejanya. Setelah datang ke sana beberapa kali, aku menyadari kalau khotbah pendeta di sana kurang lebih sama dan tak memberikan pencerahan, sang pendeta pun tak membahas soal membebaskan diri dari dosa. Aku sangat kecewa, terutama saat melihat seorang penatua yang telah melakukan pelayanan di gereja itu selama 40 tahun, yang tampak alim dan dihormati, tetapi pergi ke tempat-tempat mewah untuk berkhotbah, haus akan kenikmatan duniawi. Aku sungguh kecewa saat melihat kalau dia sama sekali belum berubah. Aku teringat akan firman Tuhan: "Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus" (Imamat 11:45). Mereka yang hidup dalam dosa tidak layak untuk menatap Tuhan, maka bisakah mereka memasuki kerajaan-Nya? Penatua itu sama sekali tidak berubah dalam 40 tahunnya beriman, jadi, sepertinya akan lebih sulit lagi bagiku untuk berubah, Para pendeta dan penatua akan menenangkan kami dan bilang, "Tuhan Yesus disalib untuk menebus dosa-dosa kita, supaya kita tak perlu mencemaskan soal dosa." Namun kenyataannya, kita kerap berbuat dosa dan penuh noda setelah bertahun-tahun beriman. Tuhan itu kudus, maka bagaimana pendosa macam kita sanggup menatap wajah Tuhan? Pikiran-pikiran ini begitu menyakitkan dan membuatku merasa tersesat. Aku penasaran bagaimana caranya membebaskan diri dari dosa? Aku teringat teman baikku, Saudari Zhixiu. Dia orang percaya yang alim dan bijaksana. Aku berpikir untuk menemuinya. Namun aku teringat kalau dia sudah lama percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan pendeta kami bersikeras kami harus menjauhi orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Saat itu aku sempat ragu, tetapi aku ingat kalau aku masih terjebak dalam dosa dan para pendeta tak punya solusinya. Kami juga sudah lama berteman dan dia orang baik, jadi, kupikir mungkin dia punya saran untukku. Kuputuskan membuat janji temu dengannya.

Saat kami bertemu, aku melihat beberapa wajah asing di sana. Mereka tampak bersahaja dan jujur, serta sangat ramah. Dugaanku mereka dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, maka aku mulai waspada. Saat mulai membahas soal iman, aku tak begitu meresapi perkataan mereka, aku pun tak mau banyak bicara. Lalu seorang saudari berkata dalam persekutuan, "Banyak orang percaya berpikir kalau Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita setelah penyalibannya, bahwa Tuhan tidak lagi melihat dosa-dosa kita, jadi, kita tidak lagi berdosa, serta bahwa Tuhan akan membawa kita ke kerajaan-Nya saat Ia datang. Namun apakah itu benar? Meski dosa-dosa kita telah diampuni melalui iman kita terhadap Tuhan Yesus, kita tak berbuat dosa terang-terangan dan perilaku kita tampak baik, apakah itu berarti kita telah ditahirkan dari seluruh dosa kita? Kita terus berbohong dan berdosa, kita cemburu dan penuh kebencian. Kita penuh kecongkakan dan kecurangan, dan kita selalu memandang rendah orang lain. Kita mengikuti hasrat duniawi, kita tamak dan sombong, kita menghakimi dan menyalahkan Tuhan saat ada yang salah. Ini menunjukkan kalau kita sedikit pun belum lepas dari ikatan dan belenggu dosa, dan seperti inilah yang dialami oleh semua orang percaya. Seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 7:18-19: 'Karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik. Karena apa yang baik yang aku mau tidak aku lakukan: tetapi yang jahat yang tidak aku mau, itu yang aku lakukan' (Roma 7:18-19). Dosa-dosa Paulus dari Tarsus telah dimaafkan oleh Tuhan Yesus, tetapi kekecewaan terbesarnya adalah dia masih terikat dosa dan tak bisa melepaskan diri darinya. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak berbuat dosa, maka dari itulah dia menangis meraung-raung, 'Sungguh aku ini manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?' (Roma 7:24). Bukankah kita juga merasakankekecewaan Paulus? Kata-katanya mengaduk-aduk hatiku. Itulah kekecewaan terbesarku. Aku tak tahan untuk tak bertanya: "Yang kau katakan tadi benar. Aku terus berbuat dosa dan mengaku dosa, hidup dalam dosa, dan itu menyakitkan. Namun yang tidak kupahami, Tuhan Yesus telah menebus dan mengampuni dosa-dosa kita, lantas kenapa kita terus berbuat dosa? Kenapa kita tak bisa melepaskan diri dari perbuatan dosa? Jika terus begini, akankah kita dibawa ke kerajaan-Nya saat Tuhan datang?"

Dia lalu menjawab dengan membacakan beberapa kutipan dari firman Tuhan Yang Mahakuasa. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak." "Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia; Dia tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar. Mereka benar-benar hidup dalam terang dan akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup." (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Dia kemudian bersekutu, "Pada Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus disalib sebagai korban penghapus dosa manusia, maka, selama kita menerima-Nya sebagai Juru Selamat kita, mengakui dosa kita dan memohon ampunan, dosa kita akan diampuni, dan kita tidak akan dikutuk atau dihukum mati dengan hukum Taurat. Kita bisa berdoa secara langsung kepada Tuhan dan menikmati kasih karunia-Nya. Inilah makna sesungguhnya dari pekerjaan penebusan Tuhan Yesus. Namun, Ia hanya mengampuni dosa manusia melalui pekerjaan penebusan-Nya. Ia tidak memerdekakan kita dari watak iblis atau natur pendosa kita. Meski dosa kita telah diampuni melalui iman kita, Natur pendosa dan watak iblis kita tetap ada. Ini termasuk kecongkakan, keegoisan, kehinaan, kecurangan, kejahatan, dan ketamakan. Hal-hal ini bahkan lebih sulit dihilangkan ketimbang dosa dan itulah akar dari perbuatan dosa dan menentang Tuhan. Kalau kita tidak mengatasi natur pendosa kita, kita hanya akan terus berbuat dosa, mengaku dosa, lalu berbuat dosa lagi, kita takkan pernah bebas dari belenggu dosa dan tidak akan layak bagi kerajaan Tuhan. Tuhan berfirman, 'Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus' (Imamat 11:45). Tuhan Yesus berkata: 'Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, siapa saja yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tinggal di rumah selamanya: tetapi Anak tetap tinggal selama-selamanya' (Yohanes 8:34-35). Tuhan itu kudus, jadi, manusia yang berdosa tidak bisa memandang-Nya. Bagaimana mungkin orang-orang seperti kita yang sering berbuat dosa dan menentang Tuhan layak untuk menatap wajah-Nya atau masuk ke kerajaan-Nya? Lantas, bagaimana kita bisa mengatasi masalah natur pendosa kita? Tuhan Yesus menubuatkan: 'Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran' (Yohanes 16:12-13). Lalu dalam 1 Petrus 4:17 tertulis: 'Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan.' Pada akhir zaman, Tuhan kembali berinkarnasi dan mengungkapkan kebenaran untuk melakukan pekerjaan penghakiman dimulai di Rumah Tuhan. Tujuan utamanya adalah untuk mengatasi natur pendosa manusia, sepenuhnya membebaskan kita dari dosa dan mentahirkan kita dari kerusakan agar kita bisa sepenuhnya diselamatkan oleh Tuhan dan bisa memasuki kerajaan-Nya. Pekerjaan Tuhan pada Zaman Kasih Karunia membuat kita bisa diampuni dari dosa, tetapi tetap tidak bisa sepenuhnya menghapus dosa kita atau mentahirkan diri kita. Pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman adalah inti dan fokus dari pekerjaan pentahiran dan penyelamatan-Nya. Ini tahap terpenting dalam pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Hanya pekerjaan penghakiman akhir zaman yang bisa memberi kita semua kebenaran yang kita butuhkan agar kita bisa benar-benar memahami Tuhan, mengubah watak hidup kita, dan menjadi orang yang taat dan memuja Tuhan, yang dapat memenuhi kehendak-Nya. Ini akan melengkapi rencana pengelolaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia."

Persekutuannya benar-benar menyadarkanku. Aku sadar aku tak bisa menahan diri dari berdosa dan mengakui dosa karena natur pendosaku belum diatasi. Aku masih belum melewati tahap terpenting dari pekerjaan Tuhan dalam imanku. Aku begitu penasaran bagaimana sesungguhnya Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman untuk mentahirkan manusia. Pendeta kami selalu mengutuk Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, maka aku waspada. Namun, setelah kutimbang kembali, selama bertahun-tahun dia menyatakan kalau kita telah bebas dari dosa, tetapi aku terjebak dalam derita dosaku. Yang kualami ini sangat nyata! Aku tahu aku tak lagi bisa mentah-mentah menelan kata-kata pendeta, tetapi aku harus membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dengan saksama dan melihat apakah perkataan-Nya benar-benar merupakan suara Tuhan. Sayangnya, hari semakin larut, kami tak bisa melanjutkan persekutuan kami.

Saat saudari ini mengundangku untuk mengunjungi gerejanya, aku tak menolaknya, dan aku menerima buku firman Tuhan yang dia berikan kepadaku. Maka aku mulai menyelidiki jalan ini, dan aku banyak membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa. Aku melihat kalau Ia telah menyingkap begitu banyak misteri, misalnya misteri inkarnasi Tuhan, nama-nama-Nya, kisah di balik Alkitab, dan masih banyak lagi. Semuanya begitu baru, dan ini kebenaran dan misteri yang belum pernah kudengar. Kupikir, "Tuhan Yang Mahakuasa telah menyingkap misteri surgawi ini dan Ia bisa mengungkapkan kehendak Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Manusia takkan mampu melakukan itu. Firman Tuhan Yang Mahakuasa kemungkinan besar merupakan kata-kata Roh Kudus kepada gereja, suara Tuhan. Aku harus benar-benar mempelajari ini."

Aku juga memberi tahu saudara-saudari di sana mengenai kebiasaanku berbohong, berbuat dosa, marah kepada orang lain, tak sabar, serta tidak menaati ajaran Tuhan. Aku katakan kepada mereka kalau hidup dalam dosa ini menyakitkan bagiku. Aku bertanya kepada seorang saudari, "Bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman untuk mentahirkan manusia? Setelah bertahun-tahun beriman, aku selalu berpikir betapa nikmatnya jika bisa hidup terbebas dari dosa, maka hidup tidak akan begitu penuh penderitaan."

Dia menunjukkan beberapa kutipan firman Tuhan Yang Mahakuasa untuk kubaca, "Ketika Tuhan menjadi daging kali ini, pekerjaan-Nya untuk mengungkapkan watak-Nya, terutama melalui hajaran dan penghakiman. Dengan landasan ini, Ia membawa lebih banyak kebenaran kepada manusia, menunjukkan lebih banyak cara praktis, sehingga dapat mencapai tujuan-Nya untuk menaklukkan dan menyelamatkan manusia dari wataknya yang rusak. Inilah landasan di balik pekerjaan Tuhan pada Zaman Kerajaan." "Pada akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan esensi manusia, dan membedah perkataan dan perbuatan manusia. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia seharusnya menaati Tuhan, bagaimana manusia seharusnya hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan sebagainya. Firman ini semuanya ditujukan pada esensi manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan berkaitan dengan bagaimana manusia merupakan perwujudan Iblis, dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan tidak menjelaskan natur manusia dengan hanya beberapa kata; Dia menyingkapkan, menangani, dan memangkasnya dalam jangka panjang. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan perkataan biasa, tetapi dengan kebenaran yang sama sekali tidak dimiliki manusia. Hanya cara-cara seperti inilah yang dapat disebut penghakiman; hanya penghakiman seperti inilah yang dapat menundukkan manusia dan meyakinkan mereka untuk tunduk kepada Tuhan, dan benar-benar mengenal Tuhan. Yang dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman adalah pemahaman manusia tentang wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami olehnya. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar penyebab dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua efek ini dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman, karena hakikat pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan jalan, kebenaran, dan hidup Tuhan bagi semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan." "Melalui pekerjaan penghakiman dan hajaran ini, manusia akan sepenuhnya menyadari substansi mereka sebenarnya yang najis dan rusak, dan mereka akan dapat sepenuhnya berubah dan menjadi tahir. Hanya dengan cara ini manusia dapat dilayakkan untuk kembali menghadap takhta Tuhan. Semua pekerjaan yang dilakukan sekarang ini bertujuan agar manusia dapat ditahirkan dan diubahkan. Melalui penghakiman firman dan pemurnian, manusia dapat mengenyahkan kerusakan dirinya dan disucikan. Daripada menganggap tahap pekerjaan ini sebagai tahap penyelamatan, lebih tepat menganggapnya sebagai tahap pekerjaan penyucian" (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Setelah membaca kutipan ini, saudari itu melanjutkan persekutuannya: "Dalam pekerjaan penghakiman akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan semua kebenaran yang akan mentahirkan dan menyelamatkan umat manusia, Ia menyingkap misteri rencana pengelolaan Tuhan selama 6.000 tahun. Ia menyingkap tujuan tiga tahapan pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, kisah di balik setiap tahapan pekerjaan itu, dan apa yang dicapai dalam setiap tahapan itu. Ia menunjukkan kepada kita jalan untuk mengubah watak kita dan menyucikan iman kita. Tuhan Yang Mahakuasa juga menyingkap natur dan esensi kerusakan umat manusia yang disebabkan oleh Iblis, serta akar dari semua perilaku pendosa kita. Dengan begitu, kita bisa merenungi diri dan mengetahui natur iblis kita serta watak yang menentang dan melawan Tuhan, melihat betapa dalam Iblis telah merusak kita dan betapa kita tidak serupa dengan manusia. Lalu kita akan mulai membenci diri kita sendiri dan tidak mau hidup dalam kerusakan lagi. Kita juga akan melihat watak Tuhan yang benar, kudus, dan tak terbantahkan, dan secara otomatis akan tumbuh rasa hormat kita kepada-Nya. Kita tak lagi sewenang-wenang, serta tidak berbicara dan berbuat sesuka hati kita lagi. Alih-alih, kita mulai meninggalkan daging dan melakukan kebenaran. Perlahan-lahan kita terbebas dari belenggu watak iblis kita dan ini menyelesaikan masalah kedosaan dan penentangan kita terhadap Tuhan dari akarnya. Hal-hal ini takkan pernah bisa dicapai oleh mereka yang percaya kepada Tuhan tetapi tidak menerima penghakiman dan pentahiran akhir zaman Tuhan."

Para saudara-saudari juga menceritakan kesaksian mereka dalam menjalani penghakiman melalui firman Tuhan. Seorang saudari bercerita bahwa saat dia mulai menjabat sebagai kepala gereja, dia hanya memedulikan soal nama dan statusnya. Dia suka memerintah orang lain dan membuat orang lain mendengarkannya, lalu saat ada yang berbeda pendapat dia selalu memaksa mereka untuk menerima pandangannya saja. Dia selalu pamer, menyebarkan doktrin. Namun setelah melewati penghakiman dan disingkap oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa, dia menyadari bahwa dia hanya pamer dalam tugasnya dan menyuruh orang-orang untuk menyembahnya. Ini merupakan watak iblis. Itu kecurangan dan jebakan. Bahkan, dia bersaing dengan Tuhan demi status, layaknya malaikat agung. Dia menentang Tuhan. Dia dipenuhi rasa penyesalan saat menyadarinya, dia pun membenci betapa congkak dan tak tahu malunya dia saat itu. Dia telah menyinggung watak Tuhan. Jika dia tak memohon pengampunan, dia tahu dia akan disingkirkan dan dihukum oleh Tuhan. Dia juga menyadari betapa watak Tuhan begitu benar, kudus, dan tak terbantahkan, dan dia pun jadi takut akan Tuhan. Setelah dihakimi dan dihajar seperti itu berkali-kali, akhirnya dia benar-benar menyadari natur congkaknya, dia jadi membenci dirinya sendiri. Kini dia tidak lagi congkak atau pamer dalam menjalankan tugasnya, dan dia jadi bisa terbuka mengenai kerusakan dirinya. Dia juga belajar untuk mendengarkan pendapat orang lain, belajar dari mereka, dan bekerja sama dengan yang lain. Dia bisa hidup dalam keserupaan dengan manusia.

Mendengarkan persekutuannya telah mengajarkanku. Aku jadi tahu kalau satu-satunya jalan untuk terbebas dari dosa dan ditahirkan dari kerusakanku adalah dengan menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman serta mengalami penghakiman dan pentahiran firman Tuhan. Aku tak pernah mendengarkan kesaksian yang nyata seperti itu selama bertahun-tahun dalam iman. Aku sudah berbicara dengan begitu banyak anggota klerus dan mendatangi begitu banyak gereja, tetapi belum pernah kudengar kesaksian semacam itu. Pengalaman para saudara-saudari ini menunjukkanku jalan untuk ditahirkan dan diselamatkan sepenuhnya, serta masuk ke kerajaan Tuhan. Aku begitu bersemangat dan tahu dari lubuk hatiku kalau Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Hanya Tuhan yang benar-benar memikirkan kita. Tuhan mengetahui penderitaan kita akan hidup dalam dosa, maka, Ia sendiri menjadi daging dan mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan umat manusia. Kasih-Nya kepada kita begitu nyata.

Setelah itu, aku bersemangat untuk menghadiri pertemuan, membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan merenungkan kerusakanku dalam terang firman-Nya. Setelah suamiku melihat kalau aku telah menerima pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa, dan aku sudah tak lagi merendahkannya, bahwa aku sudah berubah, dia mulai membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dan juga menerima pekerjaan-Nya. Indah sekali! Syukur kepada Tuhan!

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Hubungi kami via Messenger
Hubungi kami via WhatsApp

Konten Terkait

Teka-teki Tritunggal Terungkap

Oleh Saudari Jingmo, Malaysia Aku beruntung pada tahun 1997 menerima Injil Tuhan Yesus dan, saat aku dibaptis, pendeta berdoa dan...