Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Jelas tertulis di dalam Alkitab bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, Anak Tuhan, dan semua orang yang percaya kepada Tuhan juga percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus dan bahwa Ia adalah Anak Tuhan. Akan tetapi, engkau bersaksi bahwa Kristus yang berinkarnasi adalah perwujudan Tuhan, dan bahwa Ia adalah Tuhan itu sendiri. Jadi, apakah Kristus yang berinkarnasi itu benar-benar Anak Tuhan, atau apakah Ia adalah Tuhan itu sendiri?

0

Jawaban:

Jadi, apakah Kristus yang berinkarnasi adalah Tuhan itu sendiri ataukah Putra Tuhan? Ini benar-benar sebuah masalah yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan. Ketika inkarnasi Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan penebusan umat manusia, Tuhan menjadi Anak manusia, menampakkan diri dan bekerja di antara manusia. Dia tidak hanya membuka Zaman Kasih Karunia, tetapi juga memulai zaman baru di mana Tuhan datang ke dunia manusia untuk hidup bersama manusia. Dengan pemujaan besar, manusia menyebut Tuhan Yesus sebagai Kristus, Putra Tuhan. Saat itu, Roh Kudus juga bersaksi bahwa Tuhan Yesus adalah Putra Tuhan yang terkasih, dan Tuhan Yesus memanggil Tuhan, Bapa surgawi. Maka, manusia percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Putra Tuhan. Dengan begini, gagasan hubungan Bapa-Anak ini terbentuk. Sekarang, mari berpikir sebentar. Apa Tuhan mengatakan di dalam kitab Kejadian bahwa Ia punya seorang Putra? Tidak! Sekarang, selama Zaman Hukum Taurat, apa Tuhan Yahweh pernah berkata Dia punya seorang Putra? Dia tidak mengatakannya! Ini membuktikan hanya ada satu Tuhan, tidak perlu membicarakan hubungan Bapa-Anak. Sekarang beberapa orang mungkin bertanya: Selama Zaman Kasih Karunia, kenapa Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah Putra Tuhan? Apakah Tuhan Yesus Kristus adalah Putra Tuhan atau Tuhan itu sendiri? Kenyataannya, kita orang percaya telah memperdebatkan ini selama berabad-abad. Orang merasakan adanya kontradiksi yang melekat pada masalah ini, tetapi tidak bisa menjelaskannya. Tuhan Yesus adalah Tuhan, tetapi juga Putra Tuhan, maka juga ada Bapa? Orang bahkan kurang mampu menjelaskannya. Selama dua milenium terakhir, sangat sedikit yang mengakui bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan sendiri, yakni penampakan Tuhan. Sebenarnya, ada catatan yang jelas tentang ini di Alkitab. Dalam Yohanes 14:8, Filipus bertanya kepada Tuhan Yesus: “Tuhan, tunjukkan kepada kami Bapa itu, dan itu cukup untuk kami.” Sekarang, pada saat itu, bagaimana Tuhan Yesus menanggapi Filipus? Yesus berkata kepadanya: “Aku sudah begitu lama bersamamu, tetapi engkau belum mengenal Aku, Filipus? Ia yang sudah melihat Aku sudah melihat Bapa; lalu bagaimana engkau berkata, tunjukkan kepada kami Bapa itu? Tidakkah engkau percaya bahwa Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku? Firman yang Aku katakan kepadamu bukanlah Kukatakan dari diri-Ku sendiri: tetapi Bapa yang ada di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan itu. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku: atau jika tidak, percayalah kepada-Ku karena pekerjaan-pekerjaan itu” (Yohanes 14:9-11). Di sini, Tuhan Yesus berkata dengan sangat jelas, “Ia yang sudah melihat Aku sudah melihat Bapa.” Kalian tahu, Tuhan Yesus adalah penampakan Tuhan sendiri. Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Dia dan Tuhan memiliki hubungan Bapa-Anak. Dia hanya berkata: “Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku.” Dan Dia juga berkata: “Aku dan Bapaku adalah satu” (Yohanes 10:30). Jadi, menurut firman Tuhan Yesus, tidak bisakah kita membenarkan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan sendiri, hanya ada satu Tuhan dan tidak ada “hubungan Bapa-Anak” untuk dibicarakan?

Beberapa orang mungkin bertanya, jika Tuhan Yesus adalah Tuhan sendiri, lalu kenapa saat Tuhan Yesus berdoa, Dia masih berdoa kepada Bapa? Ada misteri mengapa Tuhan Yesus memanggil Bapa surgawi Tuhan dalam doa-doanya. Ketika Tuhan berinkarnasi di dalam daging, Roh Tuhan tersembunyi di dalam daging, daging itu sendiri tak menyadari kehadiran Roh, sama seperti kita tidak bisa merasakan roh kita di dalam diri kita. Terlebih, Roh Tuhan tidak melakukan apa pun yang supernatural di dalam tubuh-Nya. Jadi, meskipun Tuhan Yesus adalah Tuhan yang menjadi daging, jika Roh Tuhan tidak bicara dan bersaksi kepada Tuhan sendiri, Tuhan Yesus tidak mungkin tahu Dia adalah inkarnasi Tuhan. Jadi, di dalam Alkitab dikatakan: “Anak juga tidak, hanya Bapa saja yang tahu” (Markus 13:32). Sebelum Tuhan Yesus melakukan pelayanan-Nya, Dia hidup dalam kemanusiaan normal. Dia benar-benar tidak tahu bahwa Dia adalah inkarnasi Tuhan karena Roh Tuhan di dalam daging tidak bekerja dengan cara supernatural, tetapi dalam batasan normal, sama seperti manusia lainnya. Jadi, tentu saja, Tuhan Yesus pun berdoa kepada Bapa surgawi, artinya, dari dalam kemanusiaan-Nya yang normal, Tuhan Yesus berdoa kepada Roh Tuhan. Ini masuk akal. Saat Tuhan Yesus secara resmi melakukan pelayanan-Nya, Roh Kudus mulai bicara dan menyatakan, bersaksi bahwa Dia adalah Tuhan yang berinkarnasi. Kemudian Tuhan Yesus menyadari identitas-Nya yang sebenarnya, bahwa Dia datang untuk melakukan pekerjaan penebusan. Namun, ketika Dia disalibkan, Dia masih berdoa kepada Bapa. Ini menunjukkan bahwa hakikat Kristus sepenuhnya taat kepada Tuhan.

Mari kita baca lagi firman Tuhan Yang Mahakuasa untuk memperjelas pemahaman kita tentang ini. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: “Ketika Yesus memanggil Tuhan di surga dengan nama Bapa ketika Dia berdoa, ini dilakukan hanya dari sudut pandang seorang manusia yang diciptakan, hanya karena Roh Tuhan mengenakan daging manusia biasa yang normal dan memiliki penampilan luar sebagai makhluk ciptaan. Walaupun di dalam diri-Nya ada Roh Tuhan, penampilan luarnya tetap seperti manusia biasa; dengan kata lain, Dia telah menjadi ‘Anak manusia’ yang dikatakan semua orang, termasuk Yesus sendiri. Mengingat bahwa Dia disebut Anak manusia, Dia adalah orang (bisa lelaki ataupun perempuan, intinya Dia memiliki wujud lahiriah sebagai manusia) yang lahir dari keluarga normal orang biasa. Oleh karena itu, Yesus yang memanggil Tuhan di surga dengan nama Bapa sama dengan bagaimana engkau sekalian pada awalnya memanggil Dia dengan nama Bapa; Dia melakukannya dari perspektif manusia ciptaan. Apakah engkau sekalian masih ingat Doa Bapa Kami yang Yesus ajarkan untuk engkau hafalkan? ‘Bapa kami di surga ….’ Dia meminta semua manusia untuk memanggil Tuhan di surga dengan nama Bapa. Dan karena Dia juga memanggil-Nya dengan nama Bapa, Dia melakukannya dari sudut pandang orang yang berdiri setara dengan engkau semua. Karena engkau memanggil Tuhan di surga dengan nama Bapa, ini menunjukkan bahwa Yesus melihat diri-Nya berdiri setara denganmu sekalian, dan sebagai manusia di bumi yang dipilih oleh Tuhan (yaitu, Anak Tuhan). Jika engkau sekalian memanggil Tuhan ‘Bapa,’ bukankah ini karena engkau adalah makhluk ciptaan? Betapa pun hebatnya otoritas Yesus di bumi, sebelum penyaliban, Dia hanyalah Anak manusia, yang diperintah oleh Roh Kudus (yaitu, Tuhan), dan salah satu makhluk ciptaan di bumi, karena Dia masih harus menyelesaikan pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, Dia memanggil Tuhan di surga Bapa semata-mata karena kerendahan hati dan ketaatan-Nya. Namun, Dia memanggil Tuhan (yaitu, Roh di surga) dengan cara demikian, tidak membuktikan bahwa Dia adalah Anak dari Roh Tuhan di surga. Sebaliknya, itu karena sudut pandang-Nya berbeda, bukan karena Dia adalah pribadi yang berbeda. Keberadaan pribadi yang berbeda adalah suatu kesalahan berpikir! Sebelum penyaliban-Nya, Yesus adalah Anak manusia yang terikat oleh keterbatasan daging, dan Dia tidak sepenuhnya memiliki otoritas Roh. Itulah sebabnya Dia hanya bisa mencari kehendak Tuhan Sang Bapa dari perspektif makhluk ciptaan. Sebagaimana halnya Dia tiga kali berdoa di Getsemani: ‘Bukan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti kehendak-Mu.’ Sebelum Dia dipaku di kayu salib, Dia hanyalah Raja orang Yahudi; Dia adalah Kristus, Anak manusia, dan bukan tubuh kemuliaan. Itulah sebabnya, dari sudut pandang makhluk ciptaan, Dia memanggil Tuhan dengan nama Bapa” (“Apakah Tritunggal Itu Ada?” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Masih ada orang yang berkata, ‘Bukankah Tuhan secara tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih?’ Yesus adalah Anak Tuhan yang terkasih, yang kepadanya Dia berkenan—ini tentu diucapkan oleh Tuhan Sendiri. Itu adalah Tuhan yang memberi kesaksian tentang diri-Nya, tetapi hanya dari perspektif yang berbeda, yaitu perspektif Roh di surga yang memberikan kesaksian mengenai inkarnasi-Nya sendiri. Yesus adalah inkarnasi-Nya, bukan Anak-Nya di surga. Apakah engkau paham? Bukankah perkataan Yesus, ‘Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku,’ menunjukkan bahwa Mereka adalah satu Roh? Dan bukankah karena inkarnasilah Mereka dipisahkan di antara langit dan bumi? Kenyataannya, Mereka tetap satu; bagaimanapun, itu hanyalah Tuhan yang bersaksi mengenai diri-Nya. Karena perubahan zaman, tuntutan pekerjaan, dan tahap yang berbeda dalam rencana pengelolaan-Nya, nama yang digunakan manusia untuk memanggil-Nya juga berbeda. Ketika Dia datang untuk melaksanakan tahap pertama pekerjaan, Dia hanya bisa disebut Yahweh, gembala orang Israel. Pada tahap kedua, Tuhan yang berinkarnasi hanya bisa disebut Tuhan, dan Kristus. Tetapi pada waktu itu, Roh di surga hanya menyatakan bahwa Dia adalah Anak Tuhan yang terkasih, dan tidak menyebutkan bahwa Dia adalah satu-satunya Anak Tuhan. Ini tidak terjadi. Bagaimana mungkin Tuhan memiliki anak tunggal? Maka apakah Tuhan tidak akan menjadi manusia? Karena Dia adalah inkarnasi, Dia disebut Anak Tuhan yang terkasih, dan, dari sini, muncullah hubungan antara Bapa dan Anak. Itu hanya karena pemisahan antara langit dan bumi. Yesus berdoa dari sudut pandang manusia. Karena Dia telah menjelma menjadi manusia normal, maka Dia berkata dari perspektif manusia: ‘Jasmani-Ku adalah jasmani makhluk ciptaan. Karena Aku menjelma menjadi manusia untuk datang ke bumi ini, Aku sangat jauh sekali dari surga.’ Karena alasan ini, Dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan Sang Bapa dari perspektif manusia. Ini adalah tugas-Nya, dan tugas yang harus diberikan kepada Roh Tuhan yang berinkarnasi. Tidak dapat dikatakan bahwa Dia bukan Tuhan hanya karena Dia berdoa kepada Bapa dari perspektif manusia. Meskipun Dia disebut Anak Tuhan yang terkasih, Dia tetap Tuhan Sendiri, karena Dia adalah inkarnasi dari Roh, dan substansi-Nya tetaplah Roh” (“Apakah Tritunggal Itu Ada?” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkapkannya dengan sangat jelas. Ketika Tuhan Yesus bekerja di antara manusia, sebenarnya Roh Tuhan itu mengenakan daging sebagai manusia yang bekerja dan tampak kepada manusia. Bagaimanapun Tuhan Yesus mengungkapkan firman-Nya atau berdoa kepada Bapa, hakikat-Nya adalah keilahian, bukan kemanusiaan. Tuhan adalah Roh, tidak terlihat oleh manusia. Ketika Tuhan mengenakan daging, manusia hanya melihat daging, tidak dapat melihat Roh Tuhan. Jika Roh Kudus langsung bersaksi atas fakta bahwa inkarnasi Tuhan Yesus adalah Tuhan, manusia tidak akan menerimanya. Karena, saat itu, tidak ada yang tahu apa artinya inkarnasi Tuhan. Mereka baru berhubungan dengan inkarnasi Tuhan dan pemahaman mereka sedikit. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Anak manusia biasa ini akan jadi perwujudan Roh Tuhan, yaitu, penampakan Tuhan di dalam daging. Meskipun Tuhan Yesus banyak mengungkapkan firman-Nya dalam perjalanan pekerjaan-Nya, membawa manusia kepada jalan, “Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat,” dan memanifestasikan banyak mukjizat, sepenuhnya mengungkapkan otoritas dan kuasa Tuhan, manusia gagal mengenali dari firman dan pekerjaan Tuhan Yesus bahwa Dia adalah Tuhan sendiri yaitu, penampakan Tuhan. Jadi, apa yang manusia pahami tentang Tuhan Yesus saat itu? Ada yang mengatakan bahwa Dia adalah Yohanes Pembaptis, beberapa orang berkata Dia adalah Elia. Yang lain bahkan memanggil-Nya Guru. Tuhan hanya bekerja sesuai tingkat pertumbuhan orang di saat itu, Dia tidak menyulitkan mereka. Roh Kudus hanya bersaksi dalam pengertian manusia di saat itu, jadi Dia memanggil Tuhan Yesus, Putra yang dikasihi Tuhan, sementara memungkinkan manusia berpikir Tuhan Yesus Putra Tuhan. Cara ini lebih cocok dengan gagasan orang, dan lebih mudah diterima karena, di saat itu, Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan penebusan. Bagaimanapun orang memanggil Tuhan Yesus, yang penting mereka menerima bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat, dosa-dosa mereka diampuni, sehingga memenuhi syarat untuk menikmati kasih karunia Tuhan. Jadi, Roh Tuhan bersaksi tentang Tuhan Yesus dengan cara ini karena lebih sesuai dengan tingkat pertumbuhan orang-orang di saat itu. Ini sepenuhnya menggenapi firman Tuhan Yesus: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13).

Meskipun kita tidak dapat melihat Roh Tuhan, ketika menjadi manusia, watak Tuhan, semua yang Dia miliki dan siapa Dia, kemahakuasaan-Nya dan hikmat-Nya semuanya diungkapkan melalui daging-Nya. Dari firman dan pekerjaan Tuhan Yesus Kristus dan watak yang Dia ungkapkan, kita dapat sepenuhnya yakin bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan sendiri. Firman dan pekerjaan Tuhan Yesus penuh otoritas dan kuasa. Perkataan-Nya menjadi benar, tuntutan-Nya terealisasi. Begitu Dia bicara, firman-Nya jadi kenyataan. Seperti satu firman Tuhan Yesus cukup untuk mengampuni dosa dan membangkitkan orang mati. Satu firman meredakan angin dan laut dan sebagainya. Dari firman dan pekerjaan Tuhan Yesus, apa kita tidak bisa melihat otoritas dan kuasa Tuhan, yang memerintah segalanya? Bukankah kita melihat kemahakuasaan, hikmat, dan pekerjaan menakjubkan Tuhan? Tuhan Yesus mengungkapkan jalan dalam firman-Nya, “Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat.” Dia memulai Zaman Kasih Karunia, mengakhiri Zaman Hukum Taurat, mengungkapkan watak Tuhan yang welas asih dan penyayang, dan menyelesaikan pekerjaan penebusan manusia. Apakah Tuhan Yesus melakukan sendiri pekerjaan Tuhan? Firman dan pekerjaan Tuhan Yesus adalah pengungkapan langsung dari Roh Tuhan. Apakah itu bukan bukti bahwa Roh Tuhan datang di dalam daging untuk bicara dan bekerja bagi manusia, menampakkan diri kepada mereka? Apa mungkin bahwa bagaimanapun Roh Tuhan bicara dan bekerja di dalam daging, kita tidak mampu mengenali-Nya? Dapatkah wujud luar daging ini benar-benar menghalangi kita mengenali hakikat ilahi Kristus? Mungkinkah, ketika Roh Tuhan terbalut daging untuk bicara dan bekerja, meskipun banyak yang kita alami, kita masih tidak mampu mengenali penampakan dan pekerjaan Tuhan? Jika ini masalahnya, berarti kita terlalu keras kepala dalam beriman. Bagaimana lagi kita bisa mendapatkan pujian dari Tuhan?

Dikutip dari “Pertanyaan dan Jawaban Klasik

mengenai Injil Kerajaan”