Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Kesaksian bagi Kristus di Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Pertanyaan 26: Para pendeta dan penatua agama berpegang kepada kata-kata Paulus di dalam Alkitab: "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan" (2 Timotius 3:16), menganggap bahwa segala sesuatu di dalam Alkitab adalah firman Tuhan. Akan tetapi, engkau mengatakan bahwa Alkitab itu tidak sepenuhnya terdiri dari firman Tuhan; jadi, apa maksud semua ini?

Jawaban:

Pertama-tama, kita harus memahami bagaimana Alkitab dibentuk, dan kapan Alkitab dibuat. Kitab asli Alkitab mengacu pada Perjanjian Lama. Orang-orang Israel, yaitu kaum Yahudi, menyebut hanya Perjanjian Lama sebagai Alkitab. Lalu, di Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus melakukan tahap pekerjaan penebusan. Lebih dari tiga ratus tahun sesudah Masehi, para pemimpin gereja saat itu berkumpul untuk mengadakan pertemuan. Mereka percaya bahwa akhir zaman sudah dekat dan bahwa firman yang telah Tuhan Yesus ucapkan, beserta dengan surat-surat yang telah ditulis oleh para murid, harus dirangkum ke dalam satu kitab seperti halnya Perjanjian Lama, untuk kemudian dikirim ke gereja-gereja di semua tempat. Dengan demikian, karya tulis tersebut akan diamankan dengan baik, dan kehidupan gereja dapat diatur ke jalan yang benar. Oleh karena itu, mereka menyortir dan mengumpulkan semua karya tulis murid-murid dan rasul-rasul Tuhan Yesus dan pada akhirnya, setelah melakukan penelitian, mereka menentukan dua puluh tujuh karya tulis sebagai kanon resmi Perjanjian Baru. Mereka kemudian menggabungkan kedua puluh tujuh kanon resmi Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama sehingga terbentuklah keseluruhan isi Alkitab. Inilah dasar dibuatnya keseluruhan kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Ada beberapa orang yang percaya bahwa seluruh isi Alkitab diilhami oleh Tuhan; Paulus, khususnya, berkata pada waktu itu: "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan." Ada sebuah fakta di balik perkataan ini. Pada saat dikatakan, belum ada Perjanjian baru karena Perjanjian Baru belum menjadi sebuah kitab dan masih berupa lusinan surat-surat yang terpisah-pisah yang berada di tangan masing-masing gereja. Dengan latar belakang yang seperti ini, apa sebenarnya arti kata-kata Paulus? Tentu saja, kata-kata itu mengacu kepada Perjanjian Lama. Oleh karena itu, pernyataan Paulus dalam 2 Timotius, yaitu "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan" diarahkan pada Perjanjian Lama, bukan pada Perjanjian Baru. Ini adalah fakta. Akan tetapi, orang-orang di akhir zaman menganggap kata "kitab suci" yang diucapkan oleh Paulus itu mencakup seluruh kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ini bertentangan dengan fakta pada waktu itu dan berseberangan dengan latar belakang perkataan Paulus pada saat itu. Oleh karena itu, ini tidak sesuai dengan fakta dan merupakan penafsiran yang bias dan keliru. Selain itu, jika dikatakan bahwa Perjanjian Lama diilhami oleh Tuhan, apakah ini bisa dipercaya? Apa artinya "diilhami oleh Tuhan"? Apa artinya "ilham"? Di dalam Perjanjian Lama Zaman Hukum Taurat, Musa adalah pemimpin kaum Israel dan pelayan yang ditunjuk oleh Tuhan, yaitu sebagai orang yang memimpin umat Israel keluar dari Mesir, dan menyampaikan hukum-hukum Tuhan. Pekerjaan di Zaman Hukum Taurat dilakukan oleh Tuhan melalui Musa. Musa memiliki otoritas yang paling besar untuk menjelaskan tentang Perjanjian Lama, sementara yang lainnya tidak memenuhi persyaratan ini. Di dalam Kelima Kitab Musa, apakah Musa berkata bahwa apa yang ia tulis diilhami oleh Tuhan? Pertama, Musa tidak mengatakan hal ini. Kedua, dari semua nabi yang Tuhan pakai di zaman Perjanjian Lama, tidak ada satu pun di antara nabi-nabi yang paling hebat yaitu Yesaya, Daniel dan Yehezkiel yang mengatakan hal ini. Kalimat "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan" hanya dikatakan sesudahnya oleh Paulus, dan oleh karena itu tidak dapat sepenuhnya dijadikan sebagai bukti. Jika Tuhan pernah berkata bahwa Perjanjian Lama semuanya diilhami oleh Tuhan, Ia seharusnya telah mengatakan demikian melalui para nabi, tetapi hal ini tidak pernah muncul dalam kata-kata yang diucapkan para nabi. Jika Musa pernah mengambil sudut pandang seperti ini, ia pun pasti telah mengatakannya, tetapi tidak ada kata-kata seperti itu dari apa yang Musa katakan. Ini adalah jenis pemahaman yang seharusnya kita miliki terkait dengan pembuatan Alkitab dan strukturnya. Hal ini dapat dikatakan sebagai kisah sebenarnya mengenai Alkitab yang memungkinkan kita untuk benar-benar tahu bagaimana Alkitab dibuat, siapa yang menulisnya, dan siapa yang mencatatnya. Alkitab ditulis oleh beberapa lusin penulis, yang berbagi pemahaman dan sudut pandang yang sama. Berapa banyak di antara mereka yang berkata bahwa semua itu diilhami oleh Tuhan? Paulus berkata saat itu bahwa semua yang tertulis dalam kitab suci diilhami oleh Tuhan, dan yang ia maksud adalah Perjanjian Lama. Apa yang ditafsirkan orang beberapa ratus tahun kemudian? Orang menafsirkan bahwa seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diilhami oleh Tuhan. Bukankah penafsiran seperti itu sulit dibuktikan dan tidak meyakinkan?

Setelah Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama disusun, saat orang-orang membaca kata-kata Paulus, mereka percaya bahwa apa yang ia katakan mengacu kepada Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru. Jika Paulus masih hidup dan ia mendengar penjelasan seperti itu oleh generasi mendatang, ia akan segera mulai menyatakan: "Apa yang kukatakan waktu itu ditujukan pada Perjanjian Lama, tidak termasuk Perjanjian Baru." Selain itu, apa yang akan dikatakan oleh Paulus, Petrus dan para penulis surat-surat Perjanjian Baru lainnya jika mereka melihat orang-orang dalam berbagai denominasi di akhir zaman memperlakukan surat-surat yang mereka tulis seakan-akan itu adalah firman Tuhan? Apakah mereka bisa menerima fakta ini? Apa yang akan mereka katakan? Mereka akan berkata: "Oh, ini benar-benar masalah. Engkau semua telah melakukan kesalahan besar—apa yang sedang engkau semua lakukan sekarang ini adalah bidah. Kami semua adalah saudara-saudaramu, dan apa yang kami katakan tidak merepresentasikan firman Tuhan. Bagaimana mungkin engkau begitu buta, bagaimana mungkin engkau menganggap kata-kata kami sebagai firman Tuhan?" Mereka akan sangat terkejut, bukan? Paulus dan Petrus tidak menulis surat-surat mereka segera setelah kenaikan Tuhan Yesus. Surat-surat mereka baru muncul satu per satu tiga puluh tahun setelah Tuhan Yesus naik ke surga. Mereka baru secara resmi mulai menulis surat-surat mereka setelah berkhotbah selama dua puluh atau tiga puluh tahun. Setelah surat-surat yang mereka tulis ini dikirim ke gereja-gereja, bagaimana saudara dan saudari di gereja itu melihatnya? Mungkinkah mereka berkata "Inilah suara Tuhan, inilah suara Tuhan!"? Apakah mereka mengatakan ini? Mereka pastinya akan berkata: "Ini adalah surat dari saudara Petrus, lihatlah, apa yang ia tulis dalam surat ini sangat bagus, sangat mendidik kerohanian kita;" "Ini adalah surat dari saudara Paulus;" "Ini adalah surat dari Barnabas;" "Ini adalah surat dari Matius." ... Pada saat itu mungkinkah beberapa orang menganggap surat-surat dari para murid ini sebagai firman Tuhan? Seratus persen tidak, karena Petrus, Matius dan yang lainnya tidak pernah berkata bahwa mereka adalah Tuhan, dan tidak pernah berkata bahwa mereka adalah Tuhan yang berinkarnasi. Mereka semua mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, bahwa mereka adalah murid-murid Tuhan Yesus. Oleh karena itu, saudara dan saudari di gereja pada saat itu juga melihat mereka sebagai saudara-saudara mereka, dan menganggap surat-surat mereka dan apa yang mereka katakan sebagai kata-kata, komunikasi dan kesaksian saudara-saudara. Ini sepenuhnya benar dan juga sesuai dengan latar belakang historisnya. Akan tetapi, orang-orang zaman sekarang menganggap kata-kata para murid ini sebagai firman Tuhan, dan meninggikannya sama seperti mereka meninggikan firman Tuhan; bukankah ini bertentangan dengan fakta-fakta historis pada waktu itu? Orang-orang zaman sekarang dengan mata terbuka lebar berani menentang fakta-fakta sejarah dan menganggap perkataan orang-orang ini sebagai firman Tuhan tanpa merasa bahwa mereka itu salah. Jika seseorang mengungkapkan fakta ini, mereka akan mengutip ayat-ayat di Alkitab untuk membela diri. Apakah kata-kata itu berdasar? Apa yang dimaksud oleh kata-kata itu? Apakah engkau memahaminya? Ada kata-kata yang berdampak seperti ini di dalam surat-surat para murid: Petrus menyebutkan bahwa kata-kata dan surat-surat saudara Paulus mengandung pencerahan dan pekerjaan Roh Kudus. Tetapi Petrus tidak berkata bahwa kata-kata Paulus adalah firman Tuhan. Petrus tidak mengatakan bahwa kata-kata Paulus semuanya diilhami oleh Roh Kudus dan harus dianggap sebagai firman Tuhan—salah jika kita berkata seperti ini. Paulus juga tidak berani berkata bahwa kata-katanya dinyatakan oleh Tuhan, bahwa kata-katanya itu diilhami oleh Tuhan. Baik Paulus maupun Petrus tidak berani bersaksi bahwa apa yang mereka katakan adalah firman Tuhan, jadi bagaimana bisa orang-orang percaya di akhir zaman menganggap kata-kata mereka sebagai firman Tuhan? Kesalahan apa yang mereka perbuat? Menurutmu, apakah para penafsir kitab suci di seluruh dunia keagamaan telah memahaminya dengan benar atau tidak? Dihadapkan dengan kesalahan sebesar dan sekonyol ini, mereka tidak menyadarinya, tidak memiliki pemahaman mengenainya dan tidak dapat melihatnya. Orang-orang ini sendiri tidak memiliki kebenaran dan tidak dapat mengenali berbagai hal; akan tetapi, orang lain memuja mereka dengan membabi buta. Dalam imannya, orang-orang secara membabi buta percaya kepada manusia. Orang-orang beragama bersikap takhayul tentang Alkitab, menyembahnya dan menempatkannya di atas Tuhan, berpikir bahwa Alkitab itu merepresentasikan Tuhan, dan segala sesuatu haruslah sesuai dengan Alkitab. Bukankah memiliki keyakinan yang buta dan memuja Alkitab seperti itu sungguh tidak masuk akal? Dengan cara apa orang-orang memegang keyakinan yang buta tentang Alkitab? Mereka tidak memperlakukannya sesuai dengan fakta-fakta sejarah. Mereka tidak benar-benar mengejar kebenaran dan tidak melakukan pendekatan terhadap Alkitab sesuai dengan pencerahan dan penerangan Roh Kudus, melainkan dengan membabi buta menyembah orang-orang terkenal. Tidak peduli siapa yang mengatakan apa, mereka semua menganggapnya benar, mereka menerima semuanya, dan menerapkannya tanpa pandang bulu. Apakah Paulus bebas dari kesalahan? Apakah perkataannya akurat? Ia juga seorang manusia, jadi bagaimana mungkin seorang manusia bebas dari ketidakmurnian? Oleh karena itu, bukankah salah jika pada Zaman Kasih Karunia orang-orang mengumpulkan surat-surat para murid dan menyatukannya dengan firman Tuhan? Firman Tuhan di dalam Alkitab adalah firman Tuhan, sementara apa yang dikatakan oleh manusia adalah perkataan manusia. Kata-kata mana di dalam Alkitab yang merupakan firman Tuhan? Kita harus dapat membedakannya. Hanya apa yang dikatakan oleh Tuhan Yahweh itu sendiri, apa yang Tuhan Yahweh perintahkan kepada Musa untuk ia katakan, apa yang Tuhan Yahweh perintahkan kepada para nabi untuk mereka katakan, apa yang diminta untuk disampaikan oleh para nabi, dan juga apa yang Tuhan Yesus sendiri katakan adalah firman Tuhan yang asli. Pernahkah engkau melihat sesuatu di dalam perkataan para nabi yang terutama bersifat simbolik? Mereka berkata "Demikian Yahweh berkata," "Inilah yang Yahweh katakan," mereka tidak berkata "Demikianlah Aku Daniel (Aku Yesaya)." Hal ini menjelaskan kepada orang-orang bahwa para nabi menyampaikan firman Tuhan yang asli. Oleh karena itu, semua firman Tuhan yang asli, yang disampaikan oleh para nabi, merupakan firman Tuhan yang sebenarnya, semua yang dicatat, yang telah dikatakan oleh Tuhan Yahweh sendiri adalah firman Tuhan yang sejati, dan semua yang dicatat oleh para rasul, yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus itu sendiri adalah firman Tuhan. Hanya bagian Alkitab inilah yang merupakan firman Tuhan yang sejati dan selain itu, semua yang dikatakan oleh para murid dan hal-hal yang dicatat oleh para pelayan Tuhan adalah kesaksian manusia. Saat membicarakan tentang kesaksian manusia, ada satu masalah. Terkadang apa yang mereka katakan tidak lengkap atau tidak konkret—ada sesuatu yang kurang. Inilah mengapa Tuhan mengungkapkan beberapa fakta dari zaman itu dalam pekerjaan-Nya di akhir zaman. Sebagai contoh, seperti apa situasi yang dihadapi Paulus saat itu, seperti apa situasi yang dihadapi Petrus saat itu, dan sebagainya. Tuhan menambahkan hal-hal ini dalam pekerjaan-Nya di akhir zaman. Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa apa pun yang telah manusia katakan tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang faktanya; ini adalah masalah yang Tuhan ungkapkan dalam pekerjaan-Nya di akhir zaman.

Dikutip dari "Persekutuan dari Atas"

Karena di dalam surat-suratnya Paulus pernah berkata bahwa semua yang tertulis dalam kitab suci diilhami oleh Tuhan, setelah itu orang-orang dalam lingkaran keagamaan pun mulai membatasi apa pun yang tertulis di dalam Alkitab sebagai ilham Tuhan, dan merupakan firman Tuhan. Apa yang Paulus katakan tidak berdasar, karena Tuhan tidak pernah memberi kesaksian mengenai Alkitab seperti ini, dan Tuhan Yesus pun tidak pernah mengatakan bahwa Alkitab diilhami oleh Tuhan dan sepenuhnya merupakan firman Tuhan. Kesaksian Paulus mengenai Alkitab semata-mata didasari oleh pengetahuan pribadinya mengenai hal itu; ia sama sekali tidak berbicara atas nama Tuhan. Hanya Roh Kudus dan Tuhan yang berinkarnasi yang tahu kisah sebenarnya mengenai Alkitab, dan umat manusia sebagai makhluk ciptaan tidak pernah bisa memahaminya sepenuhnya. Ini adalah fakta. Tuhan Yesus hanya mengatakan bahwa Alkitab adalah kesaksian tentang Tuhan; Ia tidak berkata bahwa semua itu diilhami oleh Tuhan dan merupakan firman Tuhan. Roh Kudus juga tidak pernah memberi kesaksian semacam itu mengenai Alkitab kepada siapa pun. Oleh karena itu, apa yang Paulus katakan tidak berdasar. Ia tidak berbicara atas nama Tuhan, apalagi atas nama Roh Kudus. Alkitab berisi semua catatan kejadian yang benar-benar terjadi serta kesaksian mengenai pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan Tuhan, yang ditulis oleh orang-orang yang melayani Dia. Tidak ada satu pun dari pasal-pasal di dalamnya yang ditulis oleh Tuhan itu sendiri; para penulisnya semata-mata menyalurkan firman Tuhan atau menjelaskan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri, dengan dicerahkan dan diterangi oleh Roh Kudus, untuk memberi kesaksian tentang nama dan pekerjaan Tuhan. Ini adalah fakta. Meskipun catatan tertulis dan surat-surat yang ditulis para rasul dicerahkan oleh Roh Kudus, semua itu tidak merepresentasikan firman Tuhan, karena Roh Kudus menerangi, mencerahkan dan membimbing setiap orang berdasarkan kondisinya masing-masing sehingga ia dapat mencapai suatu pemahaman akan kebenaran dan memperoleh pengetahuan tentang Tuhan. Ini adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus. Oleh karena itu, pencerahan dan penerangan yang didatangkan oleh pekerjaan Roh Kudus ini tidak setara dengan firman Tuhan; perkataan Tuhan merepresentasikan watak hidup Tuhan dan semuanya membawa esensi kebenaran mengenai watak hidup-Nya. Tidak ada kalimat apa pun yang diucapkan oleh Tuhan yang dapat sepenuhnya dialami oleh manusia, karena perkataan-Nya mengandung terlalu banyak esensi kebenaran sehingga kita tidak dapat mengalaminya hanya dalam satu rentang kehidupan. Oleh karenanya, seberapa pun banyaknya orang-orang memahami kebenaran atau mengenal Tuhan, mereka tidak akan pernah dapat menyatakan firman-Nya. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa pencerahan dan penerangan Roh Kudus hanya memberi kepada manusia sedikit terang dan panduan untuk memahami kebenaran; seberapa pun dalamnya pengalaman dan kesaksian mereka, semua itu seharusnya tidak disamakan dengan perkataan Tuhan. Karena esensi manusia dan esensi Tuhan berbeda layaknya siang dan malam, manusia tidak akan pernah dapat menyatakan firman Tuhan; hanya Kristus yang dikaruniai esensi keilahian Tuhan yang dapat melakukannya. Para nabi hanya dapat meneruskan firman Tuhan; bahkan orang-orang yang dipakai oleh Roh Kudus pun tidak dapat menyatakan firman Tuhan, melainkan hanya dapat membicarakan pengalaman mereka sendiri dan apa yang mereka sendiri telah saksikan. Manusia hanya dapat menyatakan sesuai dengan esensi mereka sendiri; pengalaman hidup merekalah yang pada akhirnya menentukan kesaksian mereka. Tuhan memiliki esensi keilahian, jadi Ia secara alamiah menyatakan firman Tuhan; kita sebagai manusia memiliki esensi kemanusiaan, jadi apa yang kita nyatakan adalah secara alamiah berdasarkan pengalaman kita dan apa yang telah kita saksikan. Oleh karena itu, selain dari bagian-bagian Alkitab yang disalurkan oleh manusia yang merupakan firman Tuhan, sisanya tak diragukan lagi adalah catatan mengenai pengalaman dan pemahaman manusia. Bahkan meskipun pengalaman dan pemahaman tersebut sesuai dengan kebenaran, semua itu tidak dapat dibandingkan dengan firman Tuhan, karena esensi manusia jauh berbeda dari esensi Tuhan. Oleh karena itu, saat membaca Alkitab, kita harus membedakan dengan jelas bagian mana yang merupakan firman Tuhan dan bagian mana yang diucapkan oleh manusia. Hanya dengan cara inilah kita dapat memperlakukan Alkitab dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Selain itu, jika masyarakat keagamaan mengklaim bahwa segala sesuatu yang tertulis dalam Alkitab adalah firman Tuhan, ini tidaklah sesuai dengan fakta historis pada zaman itu. Sebagai contoh, pada Zaman Kasih Karunia, Roh Kudus tidak pernah memberikan kesaksian bahwa surat-surat dan kesaksian yang ditulis oleh para rasul adalah oleh ilham Tuhan. Lebih dari itu, para rasul sendiri tidak pernah berkata bahwa apa yang mereka tulis diilhami oleh Tuhan, apalagi berani mengklaim bahwa tulisan itu adalah firman Tuhan yang sebenarnya. Surat-surat yang dikirim ke gereja-gereja pada waktu itu semuanya dianggap sebagai surat-surat yang ditulis oleh saudara-saudara apostolik; tidak seorang pun yang berkata bahwa semua itu adalah firman Tuhan yang diilhami oleh Tuhan. Inilah kebenarannya pada saat itu. Apakah semua ini bukan lagi kebenaran pada zaman sekarang? Sekarang, pada akhir zaman, orang-orang yang bersikeras bahwa surat-surat tersebut adalah firman Tuhan menentang fakta-fakta historisnya! Pada Zaman Hukum Taurat, para pelayan dan nabi Tuhan tidak berkata bahwa perkataan mereka adalah ilham Tuhan, juga tidak berkata bahwa semua itu adalah firman Tuhan. Mengenai kitab-kitab yang mereka tulis, umat Israel pada waktu itu pastinya telah menganggap kitab-kitab itu ditulis oleh para pelayan atau nabi Tuhan. Selain dari firman Tuhan yang mereka salurkan dalam tulisan mereka, sisanya dapat digolongkan sebagai catatan pekerjaan Tuhan. Jika umat Israel tidak pernah memberi kesaksian bahwa kitab-kitab yang ditulis oleh para pelayan dan nabi adalah ilham dan perkataan Tuhan, maka bagaimana mungkin manusia yang hidup dua ribu tahun kemudian menentang fakta-fakta historis pada zaman itu? Bagaimana mereka bisa dengan gamblang bersikeras bahwa kata-kata dalam Alkitab yang ditulis oleh manusia sebenarnya adalah firman Tuhan? Ini tidak sesuai dengan fakta-fakta historisnya! Iman dan penyembahan yang buta yang digunakan oleh orang-orang di akhir zaman untuk melihat Alkitab sepenuhnya berasal dari gagasan dan imajinasi manusia; semua itu sama sekali tidak memiliki dasar dalam firman Tuhan, dan semua itu sepenuhnya adalah cara-cara yang digunakan oleh masyarakat keagamaan untuk menipu orang dan menentang Tuhan. Seperti inilah bagaimana pasukan antikristus menyesatkan orang-orang dan membuat mereka percaya dan menyembah Alkitab secara membabi buta. Hal ini sudah menyebabkan berbagai denominasi terbentuk, membawa kekacauan pada kehidupan bergereja dan jalan masuk orang-orang ke dalam kehidupan dan menyebabkan berbagai dampak negatif. Mengenai hal ini, semua orang harus merenungkan diri sendiri dan memahami, serta mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak menyimpang dari jalan yang benar.

Dikutip dari "Persekutuan dari Atas"

Para pendeta dan penatua di dunia keagamaan menyimpulkan bahwa segala sesuatu di dalam Alkitab adalah firman Tuhan karena apa yang Paulus katakan bahwa "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan" (2 Timotius 3:16), dan asalkan kita berpegang teguh pada Alkitab, kita akan diangkat masuk ke dalam kerajaan surga. Kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan juga menganggapnya seperti ini, terutama pada akhir zaman. Namun, apakah sudut pandang ini sesuai dengan kebenaran dan fakta? Apakah Tuhan Yesus yang mengatakan, "Segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan"? Apakah Roh Kudus yang mengatakan hal ini? Bukan. Semua ini adalah perkataan Paulus. Berdasarkan perkataan Paulus ini, banyak orang menganggap setiap kata di dalam Alkitab diilhamkan oleh Tuhan, dan merupakan firman Tuhan. Bukankah ini kesalahan yang sangat besar? Ada juga beberapa orang yang percaya bahwa walaupun itu adalah perkataan manusia, asalkan tercatat di Alkitab, perkataan itu juga merupakan firman Tuhan. Bukankah sudut pandang ini konyol dan gegabah? Kita semua harus tahu dengan jelas mengenai fakta bahwa Alkitab hanyalah kesaksian dan catatan mengenai pekerjaan Tuhan. Alkitab dibuat berdasarkan pekerjaan penyelamatan umat manusia oleh Tuhan. Setiap tahap pekerjaan dipenuhi dengan pertarungan antara Tuhan melawan kekuatan jahat si Iblis, jadi, apa yang tercatat dalam Alkitab bukan hanya firman Tuhan, tetapi juga perkataan berbagai macam manusia dan bahkan perkataan Iblis. Fakta ini sangat jelas. Jika kita menyatakan bahwa segala sesuatu dalam Alkitab adalah firman Tuhan, apakah pernyataan ini dapat dipertahankan? Bukankah ini membelokkan kebenaran? Mengapa kita sampai bisa mengembangkan pemahaman yang keliru semacam ini? Mengapa kita tidak bisa berbicara menurut fakta? Siapa pun yang membaca Alkitab tahu bahwa Alkitab berisi percakapan antara Tuhan dan Musa, Tuhan dan Ayub, antara Tuhan dan umat pilihan-Nya, dan antara Tuhan dan Iblis. Jadi, bagaimana mungkin perkataan yang diucapkan oleh mereka yang bercakap dengan Tuhan menjadi firman Tuhan itu sendiri? Tidakkah ini konyol? Jadi, mengatakan bahwa segala tulisan dalam Kitab Suci diberikan atas ilham Tuhan dan merupakan firman Tuhan, adalah pernyataan yang sama sekali tidak bisa dipertahankan! Beberapa orang yang tidak masuk akal bersikeras mengatakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh manusia dan Iblis di dalam Alkitab adalah firman Tuhan. Ini sepenuhnya bertentangan dengan fakta. Ini menghina sekaligus menghujat Tuhan dan merupakan pelanggaran serius terhadap watak-Nya! Firman Tuhan adalah firman Tuhan, perkataan manusia adalah perkataan manusia, dan perkataan Iblis adalah perkataan Iblis. Apa yang membingungkan tentang hal ini? Firman Tuhan selamanya merupakan kebenaran, dan perkataan manusia selamanya bukan merupakan kebenaran—paling banter perkataan itu sesuai dengan kebenaran, dan itu sudah sangat baik.

Sedangkan perkataan Iblis selamanya penuh dengan konsepsi yang keliru dan kebohongan. Bahkan seandainya perkataan itu diucapkan sepuluh ribu kali, semua itu akan selalu merupakan konsepsi yang keliru, kebohongan dan omong kosong! Orang yang pintar seharusnya mampu mengenali fakta ini. Hanya orang bodoh dan keras kepala yang bersikeras berpegang pada sudut pandang yang tidak masuk akal ini.

Mengenai pertanyaan ini, mari kita membaca dua bagian dari firman Tuhan Yang Maha Kuasa agar kita memahami berbagai hal dengan lebih baik. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Saat ini, orang percaya bahwa Alkitab adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Alkitab. Jadi, mereka juga percaya bahwa semua kata-kata dalam Alkitab adalah satu-satunya perkataan yang diucapkan oleh Tuhan, dan bahwa semuanya itu dikatakan oleh Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan bahkan mengira meskipun enam puluh enam kitab Perjanjian Lama dan Baru semuanya ditulis oleh manusia, semuanya memperoleh wahyu dari Tuhan, dan semuanya merupakan catatan perkataan Roh Kudus. Ini penafsiran manusia yang salah, dan hal ini tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Sesungguhnya, selain kitab-kitab nubuat, sebagian besar Perjanjian Lama adalah catatan sejarah. Beberapa surat Perjanjian Baru berasal dari pengalaman orang, dan beberapa merupakan hasil dari pencerahan Roh Kudus; surat-surat Paulus, misalnya, muncul dari pekerjaan manusia, surat-surat itu semuanya hasil dari pencerahan Roh Kudus, ditulis untuk jemaat-jemaat, berisi kata-kata nasihat dan dorongan bagi saudara seiman di jemaat-jemaat. Perkataan itu tidak diucapkan oleh Roh Kudus—Paulus tidak dapat berbicara atas nama Roh Kudus, dan ia juga bukan seorang nabi, apalagi memperoleh penglihatan yang Yohanes lihat. Surat-suratnya ditulis untuk jemaat-jemaat di Efesus, Filadelfia, Galatia, dan jemaat-jemaat lain. Dengan demikian, surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru adalah surat-surat yang ditulis Paulus untuk jemaat-jemaat, dan bukan wahyu Roh Kudus, juga bukan ucapan langsung Roh Kudus. ... Jika orang melihat surat-surat atau perkataan Paulus sebagai ucapan Roh Kudus, dan menyembahnya sebagai Tuhan, dapat dikatakan mereka terlalu sembarangan. Lebih tegas lagi, bukankah ini artinya penghujatan? Bagaimana mungkin seseorang berbicara atas nama Tuhan? Dan bagaimana mungkin orang tunduk di hadapan catatan surat-surat Paulus dan kata-kata yang diucapkannya seolah-olah itu kitab suci, atau kitab surgawi? Dapatkah perkataan Tuhan diucapkan oleh manusia dengan tidak serius? Bagaimana mungkin seseorang berbicara atas nama Tuhan?" ("Tentang Alkitab (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

"Tidak semua hal di dalam Alkitab merupakan catatan perkataan yang diucapkan oleh Tuhan sendiri. Alkitab hanya mendokumentasikan dua tahap pekerjaan Tuhan sebelumnya yaitu satu bagian berupa catatan tentang nubuatan para nabi, dan satu bagian lagi merupakan pengalaman dan pengetahuan yang ditulis orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang zaman. Pengalaman manusia dicemari oleh pendapat dan pengetahuan manusia, hal ini tak terhindarkan. Di banyak kitab dalam Alkitab terdapat gagasan manusia, prasangka manusia, dan penafsiran manusia yang tidak masuk akal. Tentu saja, sebagian besar perkataan itu hasil dari pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan merupakan penafsiran yang benar—tetapi tetap belum dapat dikatakan penafsiran tersebut adalah perungkapan kebenaran yang benar-benar tepat. Pandangan mereka tentang hal-hal tertentu tidak lebih dari apa yang mereka ketahui dari pengalaman pribadi, atau pencerahan Roh Kudus" ("Tentang Alkitab (3)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Setelah membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita semua dapat melihat bahwa Alkitab tidak sepenuhnya diberikan atas ilham Tuhan, tidak sepenuhnya berisikan firman Tuhan. Mengenai bagian mana dari Alkitab merupakan firman Tuhan dan bagian mana merupakan perkataan manusia, mereka yang memiliki mata yang mampu membedakan dapat langsung mengetahuinya. Karena nama penulis disebut dengan jelas untuk setiap kitab dalam Alkitab, dan juga dinyatakan bagian mana dari Alkitab yang berisi firman Tuhan. Jadi bagaimana mungkin tanpa mengedipkan mata, orang terus menganggap perkataan manusia dan perkataan Iblis sebagai firman Tuhan? Apakah ini bisa dibenarkan? Jika orang-orang yang percaya kepada Tuhan bersikeras mengklaim bahwa perkataan manusia dalam Alkitab sebenarnya merupakan firman Tuhan, menurutmu, bagaimana perasaan Tuhan? Apakah ini adil untuk Tuhan? Bukankah ini penistaan, penghinaan, dan penghujatan terhadap Tuhan? Apa bobot perkataan manusia di mata Tuhan? Mengapa kita tidak berpikir sebentar? Mana mungkin perkataan manusia dibandingkan dengan firman Tuhan? Esensi manusia dan esensi Tuhan sangat jauh berbeda, jadi tentu saja perkataan manusia dan firman Tuhan teramat jauh berbeda. Jika, lewat pencerahan dan penerangan Roh Kudus, perkataan manusia bisa menjadi sesuai dengan kebenaran, ini sudah menjadi pencapaian yang hebat. Jika perkataan manusia tidak dibimbing oleh pekerjaan Roh Kudus, bukankah perkataan itu kekeliruan dan kebohongan? Jika orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak dapat melihat ini, aku khawatir mereka benar-benar terlalu bodoh dan bebal! Saat ini, seluruh dunia keagamaan memperlakukan perkataan manusia di dalam Alkitab sebagai firman Tuhan. Ini menunjukkan tidak seorang pun di dunia keagamaan yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan. Sebagian besar pemimpin dunia keagamaan adalah orang-orang Farisi yang munafik. Mereka yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan tidak akan pernah menganggap bahwa Alkitab semuanya diberikan atas ilham Tuhan dan semua merupakan firman Tuhan. Mereka pasti tidak akan secara membabi buta menyembah Alkitab dan bahkan memperlakukan Alkitab sebagai Tuhan. Secara luas dunia keagamaan yakin bahwa Alkitab seluruhnya diberikan atas ilham Tuhan dan semuanya merupakan firman Tuhan, dan bahwa Alkitab dapat merepresentasikan Tuhan. Ini adalah gagasan yang paling keliru dan tidak masuk akal di dunia keagamaan. Sekarang kita dapat melihat hal ini dengan jelas.

Dikutip dari "Pertanyaan dan Jawaban Klasik

mengenai Injil Kerajaan"

Sebelumnya:Pertanyaan 25: Engkau bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa Ia menyatakan seluruh kebenaran yang akan memungkinkan orang untuk memperoleh penyucian dan diselamatkan, bahwa Ia saat ini sedang melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan, tetapi kami tidak berani menerima hal ini. Ini karena para pendeta dan penatua agama seringkali mengajarkan kepada kami bahwa semua firman dan pekerjaan Tuhan dicatat di dalam Alkitab dan tidak mungkin ada firman atau pekerjaan Tuhan lainnya di luar Alkitab, dan bahwa semua yang melawan atau yang berada di luar Alkitab adalah bidah. Kami tidak mengerti masalah ini; jadi, tolong jelaskan kepada kami.

Selanjutnya:Pertanyaan 27: Alkitab adalah kanon Kekristenan dan iman orang-orang yang percaya kepada Tuhan telah didasarkan pada Alkitab selama dua ribu tahun. Selain itu, kebanyakan orang dalam dunia keagamaan percaya bahwa Alkitab merepresentasikan Tuhan, bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah sama dengan kepercayaan mereka kepada Alkitab, dan berlaku sebaliknya, dan jika seseorang menyimpang dari Alkitab mereka tidak dapat dikatakan sebagai orang percaya. Aku ingin tahu apakah percaya kepada Tuhan dengan cara ini sesuai dengan kehendak-Nya.

media terkait