Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Perkataan Kristus pada Akhir Zaman

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III

Beberapa persekutuan ini telah memberikan dampak yang hebat pada diri setiap orang. Sekarang ini, orang pada akhirnya dapat benar-benar merasakan keberadaan Tuhan yang nyata dan bahwa Tuhan sebenarnya sangat dekat dengan mereka. Meskipun orang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, mereka belum pernah benar-benar memahami pikiran serta gagasan-Nya seperti mereka memahaminya sekarang, juga belum pernah benar-benar mengalami perbuatan-Nya yang nyata seperti mereka mengalaminya sekarang. Baik pengetahuan maupun tindakan nyata, kebanyakan orang telah mempelajari hal baru dan telah mencapai pengertian yang lebih tinggi, dan mereka telah menyadari kesalahan dari pengejaran mereka sendiri di masa lalu, menyadari kedangkalan pengalaman mereka dan bahwa ada terlalu banyak yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan juga menyadari bahwa kekurangan terbesar manusia adalah pengetahuan tentang watak Tuhan. Pengetahuan ini bagi orang-orang adalah sejenis pengetahuan perseptif. Untuk mencapai tingkat pengetahuan rasional dibutuhkan pendalaman bertahap dan penguatan melalui pengalaman mereka. Sebelum manusia benar-benar memahami Tuhan, secara subjektif dapat dikatakan bahwa mereka memang percaya akan keberadaan Tuhan dalam hati mereka, tetapi mereka tidak punya pemahaman nyata tentang pertanyaan-pertanyaan spesifik, seperti misalnya Tuhan macam apakah Dia itu sebenarnya, apa kehendak-Nya, dan seperti apa watak-Nya, dan bagaimanakah sikap-Nya yang sebenarnya terhadap umat manusia. Hal tersebut sangat melemahkan iman orang-orang kepada Tuhan─iman mereka sama sekali tidak dapat mencapai kemurnian atau kesempurnaan. Bahkan jika engkau berhadapan muka dengan firman Tuhan, atau merasa bahwa engkau telah berjumpa dengan Tuhan lewat pengalamanmu, tetap saja tidak dapat dikatakan bahwa engkau sepenuhnya memahami Dia. Karena engkau tidak mengetahui pikiran Tuhan, atau apa yang Ia sukai dan apa yang Ia benci, apa yang membuat-Nya marah dan apa yang membuat-Nya bersukacita, engkau tidak memiliki pemahaman yang benar akan Dia. Imanmu dibangun di atas fondasi kesamaran dan imajinasi, berdasarkan pada hasrat pribadimu yang subjektif. Hal yang demikian masihlah jauh dari kepercayaan yang autentik, dan engkau masih jauh dari menjadi seorang pengikut yang sejati. Penjelasan untuk contoh-contoh dari cerita Alkitab ini telah memungkinkan manusia untuk mengenal hati Tuhan, apa yang Ia pikirkan di setiap langkah pekerjaan-Nya dan mengapa Ia melakukan pekerjaan ini, apa kehendak-Nya yang semula dan apa rencana-Nya ketika Ia melakukannya, bagaimana Ia mencapai gagasan-gagasan-Nya, dan bagaimana Ia mempersiapkan dan mengembangkan rencana-Nya. Melalui cerita-cerita tersebut, kita bisa mendapatkan pemahaman mendetail dan spesifik akan setiap maksud Tuhan yang spesifik dan setiap pemikiran nyata selama enam ribu tahun pekerjaan pengelolaan-Nya, dan bagaimana sikap-Nya terhadap umat manusia pada waktu dan era yang berbeda. Memahami apa yang Tuhan pikirkan, bagaimana sikap-Nya, dan seperti apa watak-Nya yang Ia ungkapkan saat menghadapi setiap situasi, dapat membantu setiap orang untuk lebih dalam lagi menyadari keberadaan-Nya yang sebenarnya, lebih dalam lagi merasakan kenyataan-Nya serta autentisitas diri-Nya. Tujuan-Ku mengatakan cerita-cerita ini bukanlah supaya orang-orang dapat memahami sejarah Alkitabiah, juga bukan demi membantu mereka menjadi familier dengan kitab-kitab dalam Alkitab atau tokoh-tokoh di dalamnya, dan terutama bukan untuk membantu orang-orang memahami latar belakang tindakan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat. Tujuan-Ku adalah membantu orang-orang memahami kehendak Tuhan, watak-Nya, dan setiap bagian kecil dari diri-Nya, demi mendapatkan pemahaman dan pengenalan akan Tuhan yang lebih autentik dan akurat. Dengan cara ini, hati orang dapat sedikit demi sedikit terbuka bagi Tuhan, menjadi dekat dengan Tuhan, dan mereka bisa lebih baik dalam memahami Dia, watak-Nya, esensi-Nya, dan menjadi lebih kenal dengan Tuhan itu sendiri yang sebenarnya.

Pengetahuan tentang watak Tuhan serta apa yang Ia miliki dan siapa diri-Nya dapat memberi dampak yang positif kepada manusia. Pengetahuan ini dapat membantu mereka memiliki keyakinan yang lebih kuat kepada Tuhan, dan membantu mereka mencapai ketaatan dan ketakutan yang sejati terhadap-Nya. Sehingga, mereka tidak akan lagi menjadi pengikut yang buta, atau menyembah-Nya tanpa pemahaman sedikit pun. Tuhan tidak menginginkan orang-orang bodoh atau mereka yang hanya ikut-ikutan. Yang Ia inginkan adalah sekelompok orang yang di dalam hati mereka ada pemahaman dan pengetahuan yang jelas akan watak Tuhan dan dapat bertindak sebagai saksi Tuhan, orang-orang yang tidak akan pernah meninggalkan Tuhan oleh karena keindahan-Nya, oleh karena apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, dan oleh karena watak-Nya yang benar. Sebagai pengikut Tuhan, jika di dalam hatimu masih ada ketidakjelasan, atau ambiguitas atau kebingungan mengenai keberadaan sejati Tuhan, watak-Nya, apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia, dan apa rencana-Nya untuk menyelamatkan umat manusia, maka imanmu tidak akan mendapatkan pujian dari Tuhan. Tuhan tidak menginginkan tipe orang seperti ini mengikuti-Nya, dan Ia tidak menyukai tipe orang seperti ini datang ke hadapan-Nya. Karena orang semacam ini tidak memahami Tuhan, mereka tidak dapat memberikan hati mereka kepada Tuhan—hati mereka tertutup bagi-Nya, sehingga iman mereka kepada Tuhan dipenuhi ketidakmurnian. Tindakan mereka mengikuti Tuhan hanya bisa dikatakan buta. Orang hanya bisa memperoleh kepercayaan sejati dan menjadi pengikut sejati apabila mereka memiliki pemahaman dan pengetahuan yang benar akan Tuhan, yang menciptakan ketaatan dan ketakutan yang benar akan Dia. Hanya dengan demikianlah mereka dapat memberikan hati mereka kepada Tuhan, membuka hati mereka bagi-Nya. Inilah yang Tuhan inginkan, karena semua yang mereka lakukan dan pikirkan akan dapat bertahan menghadapi ujian Tuhan, dan dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan. Segala sesuatu yang Kusampaikan kepada engkau semua tentang watak Tuhan, atau apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, atau kehendak dan pemikiran-Nya dalam segala tindakan yang Ia lakukan, dan dari perspektif mana pun, dari sudut pandang mana pun Aku berbicara mengenai ini, semuanya adalah demi menolong engkau semua menjadi lebih yakin akan keberadaan Tuhan yang nyata, dan membuat engkau semua sungguh-sungguh memahami dan menghargai kasih-Nya bagi umat manusia, dan membuat engkau semua semakin sungguh-sungguh memahami dan menghargai kepedulian Tuhan terhadap manusia, dan keinginan-Nya yang tulus untuk mengelola dan menyelamatkan umat manusia.

Saat ini kita akan pertama-tama merangkum pemikiran, gagasan, dan setiap gerakan Tuhan sejak penciptaan manusia, dan juga memperhatikan pekerjaan apa yang Ia kerjakan sejak penciptaan dunia sampai dimulainya secara resmi Zaman Kasih Karunia. Setelah itu, kita akan dapat menemukan mana sajakah dari pemikiran dan gagasan Tuhan yang tidak diketahui oleh manusia, dan dari situ kita dapat mengerti dengan jelas urutan rencana pengelolaan Tuhan, dan memahami secara menyeluruh konteks di mana Tuhan menciptakan pekerjaan pengelolaan-Nya, berikut sumber serta proses perkembangannya, dan juga dapat memahami secara menyeluruh hasil-hasil seperti apa yang Ia inginkan dari pekerjaan pengelolaan-Nya—yaitu, inti dan tujuan dari pekerjaan pengelolaan-Nya. Demi memahami hal-hal tersebut kita perlu kembali ke suatu saat yang hening dan tenang ketika belum ada manusia ….

Ketika Tuhan bangkit dari peristirahatan-Nya, yang terpikir oleh-Nya pertama kali adalah ini: menciptakan seseorang yang hidup, seorang manusia yang nyata dan hidup—seseorang yang akan hidup bersama dan menjadi pendamping-Nya terus-menerus. Orang ini dapat mendengarkan-Nya, dan Tuhan dapat mencurahkan isi hati serta berbicara kepadanya. Lalu, untuk pertama kalinya, Tuhan mengambil segenggam tanah dan menggunakannya untuk menciptakan manusia hidup pertama yang ada dalam bayangan-Nya, lalu memberi nama kepada makhluk hidup ini—Adam. Setelah Tuhan mendapatkan seorang yang hidup dan bernapas ini, bagaimanakah perasaan-Nya? Untuk pertama kalinya, Ia merasakan sukacita memiliki seseorang yang dikasihi, seorang pendamping. Ia juga merasakan untuk pertama kalinya tanggung jawab sebagai seorang Bapa serta kekhawatiran yang menyertai tanggung jawab tersebut. Orang yang hidup dan bernapas ini memberikan kebahagiaan dan sukacita bagi Tuhan; Ia merasa terhibur untuk pertama kalinya. Inilah hal pertama yang Tuhan lakukan yang tidak dikerjakan oleh pikiran atau bahkan oleh firman-Nya, melainkan oleh kedua tangan-Nya sendiri. Ketika makhluk semacam ini—seseorang yang hidup dan bernapas—berdiri di hadapan Tuhan, terbuat dari daging dan darah, memiliki tubuh dan wujud, dan dapat bercakap-cakap dengan Tuhan, Ia merasakan semacam sukacita yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia benar-benar merasakan tanggung jawab-Nya dan makhluk hidup ini tidak hanya menarik hati-Nya, tapi setiap langkah kecilnya juga menyentuh dan menghangatkan hati-Nya. Jadi ketika makhluk hidup ini berdiri di hadapan Tuhan, ini merupakan pertama kalinya Ia berpikir untuk mendapatkan lebih banyak orang-orang seperti ini. Inilah rangkaian peristiwa yang dimulai dari pemikiran pertama yang dipikirkan-Nya tersebut. Bagi Tuhan, semua peristiwa ini terjadi untuk pertama kalinya, tapi dalam peristiwa-peristiwa pertama ini, apa pun yang Ia rasakan pada saat itu—sukacita, tanggung jawab, kepedulian—Ia tidak bisa membagikannya kepada siapa pun. Dimulai dari saat itu, Tuhan benar-benar merasakan kesepian dan kesedihan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia merasa bahwa umat manusia tidak dapat menerima ataupun memahami kasih dan kepedulian-Nya, ataupun maksud-Nya bagi umat manusia, sehingga Ia tetap merasakan kesedihan dan kepedihan di dalam hati-Nya. Walaupun Ia telah melakukan hal-hal ini bagi manusia, manusia tidak menyadarinya dan tidak memahaminya. Selain kebahagiaan, sukacita, dan penghiburan yang ditimbulkan manusia pada diri-Nya, segera untuk pertama kalinya Ia pun merasakan kesedihan dan kesepian. Inilah pemikiran dan perasaan Tuhan pada waktu itu. Sementara Tuhan sedang melakukan semua hal ini, di dalam hati-Nya bercampur aduk, dari sukacita menjadi kesedihan, dari kesedihan menjadi kepedihan, semuanya bercampur dengan kecemasan. Satu-satunya yang ingin Ia lakukan adalah secepatnya membuat orang ini, membuat ras manusia ini, tahu apa isi hati-Nya dan mengerti apa maksud-Nya. Kemudian, mereka dapat menjadi pengikut-Nya dan menjadi sesuai dengan-Nya. Mereka tidak akan lagi diam saja ketika mendengar Tuhan berbicara; mereka tidak akan lagi tidak tahu cara bergabung dengan Tuhan dalam pekerjaan-Nya; dan yang terutama, mereka tidak akan lagi menjadi orang-orang yang masa bodoh dengan persyaratan Tuhan. Hal-hal pertama yang Tuhan lengkapi ini sangatlah berarti dan mempunyai nilai yang besar bagi rencana pengelolaan-Nya, dan juga bagi umat manusia pada zaman sekarang.

Setelah menciptakan segala sesuatu dan manusia, Tuhan tidak beristirahat. Ia tidak sabar untuk mengerjakan pengelolaan-Nya, Ia juga tidak sabar untuk mendapatkan orang-orang yang sangat Ia kasihi di antara umat manusia.

Selanjutnya, tidak lama setelah Tuhan menciptakan manusia, kita melihat dari Alkitab bahwa air bah melanda seluruh dunia. Nuh disebutkan dalam catatan mengenai air bah ini, dan dapat dikatakan bahwa Nuh merupakan orang pertama yang menerima panggilan Tuhan untuk bekerja bersama-Nya demi menyelesaikan tugas dari Tuhan. Tentu saja, ini juga merupakan kali pertama Tuhan memanggil seseorang di bumi untuk melakukan sesuatu sesuai perintah-Nya. Setelah Nuh selesai membangun bahtera, Tuhan membanjiri bumi untuk pertama kalinya. Ketika Tuhan meratakan bumi oleh air bah tersebut, ini adalah pertama kalinya semenjak menciptakan manusia Tuhan dipenuhi rasa muak terhadap manusia; inilah yang memaksa Tuhan mengambil keputusan menyakitkan untuk menghancurkan ras manusia dengan air bah. Setelah air bah meratakan bumi, Tuhan membuat perjanjian pertama-Nya dengan manusia bahwa Ia tidak akan pernah melakukan hal ini lagi. Tanda dari perjanjian ini adalah pelangi. Inilah perjanjian pertama Tuhan dengan manusia, jadi pelangi merupakan tanda pertama dari perjanjian yang diberikan Tuhan. Pelangi ini adalah hal yang nyata, dan secara fisik benar-benar ada. Keberadaan pelangi inilah yang sering membuat Tuhan merasakan kesedihan karena kehilangan umat manusia sebelumnya, sekaligus menjadi pengingat untuk-Nya akan apa yang menimpa mereka…. Tuhan tidak akan memperlambat langkah-Nya—Ia tidak sabar untuk mengambil langkah selanjutnya dalam pengelolaan-Nya. Selanjutnya, Tuhan memilih Abraham sebagai pilihan utama untuk pekerjaan-Nya di seluruh Israel. Ini juga merupakan kali pertama Tuhan memilih kandidat yang demikian. Tuhan memutuskan untuk mulai melakukan pekerjaan-Nya menyelamatkan umat manusia melalui orang ini, dan untuk melanjutkan pekerjaan-Nya melalui keturunan orang tersebut. Kita dapat melihat di dalam Alkitab bahwa inilah yang Tuhan lakukan kepada Abraham. Tuhan kemudian menjadikan Israel tanah pilihan yang pertama, dan memulai pekerjaan-Nya pada Zaman Hukum Taurat melalui orang-orang pilihan-Nya, bangsa Israel. Sekali lagi untuk pertama kalinya, Tuhan memberikan kepada bangsa Israel aturan-aturan dan hukum-hukum yang harus dipatuhi umat manusia, dan menjelaskan aturan-aturan tersebut dengan terperinci. Ini adalah kali pertama Tuhan membekali manusia dengan aturan-aturan standar yang sedemikian spesifik untuk mengatur perkara-perkara seperti bagaimana mereka harus mempersembahkan korban, bagaimana mereka harus hidup, apa yang patut dan tidak patut mereka lakukan, perayaan dan hari-hari besar apa yang harus mereka peringati, dan prinsip-prinsip apa yang harus mereka anut dalam melakukan apa pun. Inilah pertama kalinya Tuhan memberi kepada umat manusia peraturan-peraturan dan prinsip-prinsip yang sedemikian standar dan terperinci bagi hidup mereka.

Ketika Aku mengatakan "kali pertama," ini artinya Tuhan belum pernah menyelesaikan pekerjaan seperti itu sebelumnya. Itu adalah hal yang tidak pernah ada sebelumnya, dan meskipun Tuhan telah menciptakan umat manusia dan Ia telah menciptakan segala jenis ciptaan dan makhluk hidup, Ia tidak pernah merampungkan pekerjaan sejenis itu. Semua pekerjaan ini melibatkan pengelolaan Tuhan terhadap manusia; semuanya berkaitan dengan manusia dan penyelamatan dan pengelolaan manusia oleh-Nya. Setelah Abraham, Tuhan mengambil pilihan sekali lagi untuk kali pertama—Ia memilih Ayub untuk menjadi seseorang di bawah hukum Taurat yang dapat bertahan dari cobaan Iblis, dengan tidak henti-hentinya takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dan bersaksi bagi-Nya. Ini juga merupakan kali pertama Tuhan memperbolehkan Iblis mencobai manusia, dan juga merupakan kali pertama Ia bertaruh dengan Iblis. Pada akhirnya, untuk pertama kalinya, Tuhan mendapatkan seseorang yang mampu bersaksi bagi-Nya selagi menghadapi Iblis—seseorang yang dapat menjadi kesaksian bagi-Nya dan mempermalukan Iblis secara telak. Sejak Tuhan menciptakan umat manusia, inilah orang pertama yang Tuhan dapatkan yang mampu menjadi kesaksian bagi-Nya. Begitu Ia telah mendapatkan orang ini, Tuhan bahkan semakin tidak sabar untuk melanjutkan pengelolaan-Nya dan memulai tahapan selanjutnya dari pekerjaan-Nya, mempersiapkan pilihan dan tempat selanjutnya untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Setelah melakukan persekutuan mengenai semua hal ini, apakah engkau semua memiliki pemahaman yang benar akan kehendak Tuhan? Tuhan memandang pengelolaan umat manusia, penyelamatan umat manusia, sebagai hal yang lebih penting dari segalanya. Ia melakukan hal-hal ini tidak hanya dengan pikiran-Nya, dan juga tidak hanya dengan firman-Nya, dan Ia terutama tidak melakukannya secara asal-asalan—Ia mengerjakan segalanya dengan perencanaan, dengan tujuan, dengan standar, dan dengan kehendak-Nya. Sangatlah jelas bahwa pekerjaan untuk menyelamatkan umat manusia ini mempunyai arti yang sangat penting baik bagi Tuhan maupun bagi manusia. Tidak peduli seberapa sulit pekerjaan itu, tidak peduli seberapa besar rintangannya, tidak peduli seberapa lemah manusia, atau seberapa dalam sifat pemberontakan manusia, tidak satu pun dari semua ini yang sulit bagi Tuhan. Tuhan menyibukkan diri-Nya, melakukan upaya-Nya yang sungguh-sungguh serta mengelola pekerjaan yang ingin Ia sendiri kerjakan. Ia juga mengatur segala hal, dan menguasai semua orang dan pekerjaan yang ingin Ia sempurnakan—tidak ada satu pun dari hal-hal ini pernah dikerjakan sebelumnya. Ini adalah kali pertama Tuhan menggunakan metode-metode ini dan membayar harga yang besar untuk proyek besar pengelolaan dan penyelamatan umat manusia. Sementara Tuhan melakukan pekerjaan ini, sedikit demi sedikit Ia menyatakan kepada manusia tanpa menyembunyikan apa pun tentang kerja keras-Nya, tentang siapa Dia dan apa yang Ia miliki, tentang hikmat dan kemahakuasaan-Nya, dan setiap aspek dari watak-Nya. Ia dengan terang-terangan mengungkapkan segalanya kepada umat manusia sedikit demi sedikit, mengungkapkan dan menyatakan hal-hal ini seperti yang belum pernah Ia lakukan sebelumnya. Dengan demikian, di seluruh alam semesta, selain orang-orang yang hendak Tuhan kelola dan selamatkan, tidak pernah ada lagi ciptaan lain yang demikian dekatnya dengan Tuhan, yang memiliki hubungan sedemikian intim dengan-Nya. Di dalam hati-Nya, umat manusia yang ingin Ia kelola dan selamatkan adalah yang paling penting, dan Ia memandang mereka berharga di atas segalanya; meskipun Ia telah membayar harga yang sangat mahal demi mereka, dan meskipun Ia terus-menerus disakiti dan tidak ditaati oleh mereka, Ia tidak pernah meninggalkan mereka dan melanjutkan pekerjaan-Nya tanpa mengenal lelah, tanpa keluhan ataupun penyesalan. Ini karena Ia tahu, cepat atau lambat, manusia pada suatu hari akan terbangun oleh panggilan-Nya, akan tergerak oleh firman-Nya, akan mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas ciptaan, lalu kembali ke sisi-Nya …

Setelah mendengarkan semua hal ini sekarang, engkau semua mungkin merasa bahwa segala sesuatu yang Tuhan lakukan sangat biasa. Nampaknya manusia telah senantiasa merasakan sebagian dari kehendak Tuhan bagi mereka baik dari firman-Nya maupun dari pekerjaan-Nya, tapi selalu saja ada jarak tertentu di antara perasaan mereka atau pengetahuan mereka dengan apa yang sedang Tuhan pikirkan. Jadi, menurut-Ku adalah perlu untuk menyampaikan kepada semua orang tentang mengapa Tuhan menciptakan manusia, dan latar belakang di balik keinginan-Nya mendapatkan semua orang yang Ia harapkan. Sangatlah penting untuk membagikan tentang hal ini kepada semua orang, sehingga semua orang mengerti dengan jelas di dalam hati mereka. Karena setiap pemikiran dan gagasan Tuhan, dan setiap fase dan periode pekerjaan-Nya saling terhubung, dan terkait erat dengan seluruh pekerjaan pengelolaan-Nya, maka ketika engkau memahami pemikiran, gagasan, dan kehendak Tuhan dalam setiap langkah pekerjaan-Nya, ini sama dengan memahami sumber pekerjaan dari rencana pengelolaan-Nya. Di atas fondasi inilah pemahamanmu akan Tuhan diperdalam. Meskipun semua yang dilakukan Tuhan ketika Ia mula-mula menciptakan dunia, yang Kusebutkan sebelumnya, hanyalah sekadar informasi bagi orang di zaman sekarang dan nampak tidak ada kaitannya dengan pengejaran akan kebenaran, sepanjang pengalamanmu, akan datang hari ketika engkau tidak lagi mengganggap hal ini sepele seperti sekadar potongan-potongan informasi, ataupun menganggapnya sepele seperti suatu misteri. Seiring perjalanan hidupmu dan ketika Tuhan menempati sedikit tempat di hatimu, atau saat engkau memahami lebih menyeluruh dan lebih dalam akan kehendak-Nya, engkau akan benar-benar memahami betapa penting dan perlunya hal-hal yang Aku beritahukan kepadamu hari ini. Tidak peduli sejauh mana engkau semua telah menerima ini; sudah semestinya engkau semua mengerti dan mengetahui hal-hal ini. Ketika Tuhan melakukan sesuatu, ketika Ia mengerjakan pekerjaan-Nya, tidak peduli apakah oleh pemikiran-Nya atau oleh kedua tangan-Nya, tidak peduli apakah untuk pertama kali atau terakhir kali Ia mengerjakannya—pada akhirnya, Tuhan memiliki rencana, dan tujuan serta pemikiran-Nya itu ada dalam segala sesuatu yang Ia kerjakan. Tujuan dan pemikiran-pemikiran ini merepresentasikan watak Tuhan, dan menggambarkan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya. Kedua hal ini—watak Tuhan serta apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya—harus dimengerti oleh setiap orang. Setelah seseorang memahami watak-Nya dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, mereka secara bertahap dapat memahami mengapa Tuhan melakukan apa yang Ia kerjakan dan mengapa Ia mengatakan apa yang Ia katakan. Dari situ, mereka kemudian dapat lebih beriman untuk mengikuti Tuhan, untuk mengejar kebenaran, dan untuk mengejar perubahan watak. Dengan kata lain, pengertian manusia akan Tuhan dan iman mereka kepada Tuhan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Meskipun apa yang didengar atau dipahami orang-orang adalah tentang watak Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, apa yang mereka dapatkan adalah kehidupan yang berasal dari Tuhan. Begitu engkau telah dibentuk oleh kehidupan ini, ketakutanmu akan Tuhan akan menjadi semakin besar, dan menuai panen ini dapat dilakukan dengan sangat mudah. Jika engkau tidak ingin memahami atau mengetahui tentang watak Tuhan atau esensi-Nya, jika engkau bahkan tidak mau merenungkan atau memusatkan pikiranmu pada hal-hal ini, Aku dapat memastikan bahwa jalan iman kepada Tuhan yang sedang engkau kejar tidak akan pernah benar-benar memuaskan kehendak-Nya atau membuatmu mendapatkan pujian dari-Nya. Lebih dari itu, engkau tidak akan pernah benar-benar mencapai keselamatan—ini adalah konsekuensi akhir. Ketika orang tidak memahami Tuhan dan tidak mengenal watak-Nya, hati mereka tidak akan benar-benar terbuka bagi-Nya. Setelah mereka memahami Tuhan, mereka akan mulai memahami dan mengecap apa yang ada di dalam hati-Nya dengan minat dan keyakinan. Ketika engkau memahami dan mengecap apa yang ada di dalam hati Tuhan, hatimu akan secara bertahap, sedikit demi sedikit, terbuka bagi-Nya. Ketika hatimu terbuka bagi-Nya, engkau akan merasakan betapa memalukan dan hinanya caramu berurusan dengan Tuhan, tuntutanmu kepada Tuhan, dan hasrat mulukmu. Ketika hatimu sungguh-sungguh terbuka bagi Tuhan, engkau akan melihat bahwa hati-Nya adalah dunia tanpa batas, dan engkau akan memasuki alam yang tidak pernah engkau alami sebelumnya. Di alam ini tidak ada kecurangan, tidak ada penipuan, tidak ada kegelapan, dan tidak ada kejahatan. Hanya ada ketulusan dan kesetiaan; hanya ada terang dan kejujuran; hanya ada kebenaran dan kebaikan. Alam ini dipenuhi cinta dan kepedulian, dipenuhi belas kasihan dan toleransi, dan melaluinya engkau akan merasakan kebahagiaan dan sukacita hidup. Hal-hal inilah yang akan diungkapkan-Nya kepadamu saat engkau membuka hatimu bagi Tuhan. Dunia tanpa batas ini dipenuhi hikmat Tuhan, dan penuh oleh kemahakuasaan-Nya, juga dipenuhi kasih dan otoritas-Nya. Di sana engkau dapat melihat setiap aspek dari apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, apa yang membuat-Nya bersukacita, mengapa Ia khawatir dan mengapa Ia menjadi sedih, mengapa Ia menjadi marah…. Ini adalah apa yang dapat dilihat setiap orang yang membuka hati mereka lalu mempersilakan Tuhan untuk masuk. Tuhan hanya dapat masuk ke dalam hatimu apabila engkau membukakan hatimu bagi-Nya. Engkau hanya dapat melihat apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, dan engkau hanya dapat melihat kehendak-Nya bagimu apabila Ia telah masuk ke dalam hatimu. Pada saat itu, engkau akan menemukan bahwa segala hal mengenai Tuhan begitu berharga, bahwa apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya sangatlah pantas dihargai. Dibandingkan dengan hal itu, orang-orang di sekelilingmu, benda-benda dan peristiwa dalam hidupmu, dan bahkan orang-orang terkasihmu, pasanganmu, dan hal-hal yang engkau kasihi, tidaklah layak bahkan hanya untuk disebutkan. Semua itu begitu kecil, begitu rendah; engkau akan merasa bahwa tidak ada lagi benda materiel yang mampu membuatmu tertarik, dan semua itu tidak dapat membuatmu membayar harga apa pun demi mendapatkannya. Dalam kerendahhatian Tuhan engkau akan melihat keagungan-Nya dan keunggulan-Nya. Terlebih dari itu, dalam hal-hal yang telah Ia lakukan yang sebelumnya engkau pandang kecil, engkau akan melihat hikmat-Nya yang tak terhingga dan toleransi-Nya, dan engkau akan melihat kesabaran-Nya, ketabahan-Nya, dan pengertian-Nya akan engkau. Di dalam dirimu hal ini akan membuat engkau mengasihi-Nya. Pada hari itu, engkau akan merasa bahwa umat manusia hidup di tengah dunia yang begitu menjijikkan, bahwa orang-orang di sampingmu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupmu, dan bahkan mereka yang engkau kasihi, kasih mereka terhadapmu, bahkan yang mereka sebut perlindungan dan kepedulian mereka terhadapmu tidak pantas lagi disebut-sebut—hanya Tuhanlah kekasihmu, dan hanya Tuhanlah yang paling berharga bagimu. Ketika hari itu tiba, Aku percaya akan ada beberapa orang yang berkata: kasih Tuhan sungguh luar biasa, dan esensi-Nya begitu kudus—di dalam Tuhan tidak ada muslihat, tidak ada kejahatan, tidak ada iri hati, dan tidak ada perselisihan, hanya ada kebenaran dan autentisitas, dan segala sesuatu yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya haruslah didambakan oleh manusia. Manusia harus berjuang dan mencita-citakan hal itu. Berdasarkan apakah kemampuan manusia untuk mencapai hal itu dibangun? Itu dibangun berdasarkan pemahaman manusia akan watak Tuhan, dan pemahaman mereka akan esensi Tuhan. Jadi, memahami watak Tuhan dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, merupakan pelajaran seumur hidup bagi setiap orang, dan merupakan tujuan seumur hidup bagi setiap orang yang berusaha untuk mengubah watak mereka, dan berusaha mengenal Tuhan.

Kita baru saja membahas tentang semua pekerjaan yang telah dirampungkan Tuhan, serangkaian hal yang Ia lakukan untuk pertama kalinya. Masing-masing dari hal tersebut relevan dengan rencana pengelolaan Tuhan dan kehendak Tuhan. Semua itu juga relevan dengan watak Tuhan sendiri dan esensi-Nya. Jika kita ingin memahami lebih baik lagi apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, kita tidak boleh berhenti pada Perjanjian Baru atau pada Zaman Hukum Taurat, melainkan perlu terus maju bersama dengan langkah-langkah yang Tuhan ambil dalam pekerjaan-Nya. Jadi, ketika Tuhan mengakhiri Zaman Hukum Taurat dan memulai Zaman Kasih Karunia, langkah-langkah kita sendiri telah sampai ke Zaman Kasih Karunia—sebuah zaman yang penuh dengan kasih karunia dan penebusan. Pada zaman ini, Tuhan sekali lagi melakukan hal yang sangat penting untuk pertama kalinya. Pekerjaan pada zaman baru ini baik bagi Tuhan dan manusia merupakan titik permulaan. Titik permulaan baru ini sekali lagi adalah pekerjaan baru yang Tuhan lakukan untuk pertama kalinya. Pekerjaan baru ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilakukan Tuhan dan tidak bisa dibayangkan oleh manusia maupun segala makhluk lain. Ini adalah sesuatu yang pada saat ini telah dikenal baik oleh semua orang—inilah kali pertama Tuhan menjadi manusia, kali pertama Ia memulai pekerjaan baru dalam wujud manusia, dengan identitas seorang manusia. Pekerjaan baru ini menandakan bahwa Tuhan telah menggenapi pekerjaan-Nya pada Zaman Hukum Taurat, bahwa Ia tidak lagi melakukan atau mengatakan apa pun di bawah suatu hukum Taurat. Ia juga tidak mengatakan atau melakukan apa-apa dalam bentuk hukum Taurat, atau sesuai prinsip, atau aturan hukum Taurat. Artinya, semua pekerjaan-Nya yang berdasarkan hukum Taurat telah berhenti selama-lamanya dan tidak akan berlanjut, karena Tuhan ingin memulai pekerjaan yang baru dan mengerjakan hal-hal baru, dan rencana-Nya sekali lagi memiliki titik permulaan yang baru. Dengan demikian, Tuhan telah memimpin umat manusia ke zaman selanjutnya.

Apakah ini merupakan kabar sukacita atau kabar buruk bagi manusia, itu bergantung pada apa esensi mereka. Dapat dikatakan bahwa ini bukan merupakan kabar sukacita, melainkan kabar buruk bagi sebagian orang, karena ketika Tuhan memulai pekerjaan baru-Nya, orang-orang yang hanya mengikuti hukum Taurat dan peraturan, yang hanya mengikuti doktrin tapi tidak takut akan Tuhan cenderung akan menggunakan pekerjaan Tuhan yang lama untuk mengutuk pekerjaan-Nya yang baru. Bagi orang-orang tersebut, ini merupakan kabar buruk; tapi bagi setiap orang yang bersih dan terbuka, yang tulus kepada Tuhan dan mau menerima penebusan-Nya, inkarnasi pertama Tuhan adalah kabar penuh sukacita. Karena sejak adanya manusia, ini adalah pertama kalinya Tuhan menampakkan diri dan hidup di tengah umat manusia dalam wujud yang bukan Roh. Sebaliknya, Ia dilahirkan sebagai manusia dan hidup di tengah orang banyak sebagai Anak Manusia, dan bekerja di tengah mereka. Pekerjaan “kali pertama” ini meruntuhkan konsepsi orang-orang dan merupakan hal yang di luar semua imajinasi mereka. Selain itu, semua pengikut Tuhan mendapatkan keuntungan yang nyata. Tuhan tidak hanya mengakhiri zaman yang lama, Ia juga mengakhiri metode dan gaya kerja-Nya yang lama. Ia tidak lagi memperbolehkan utusan-Nya untuk menyampaikan kehendak-Nya, dan Ia tidak lagi bersembunyi di balik awan, dan Ia tidak lagi menampakkan diri atau berbicara kepada manusia dengan keras melalui petir. Berbeda dengan yang sudah-sudah, melalui cara yang tidak bisa dibayangkan manusia dan yang sulit dipahami dan diterima oleh mereka—dengan menjadi daging—Ia menjadi Anak Manusia untuk mengembangkan pekerjaan pada zaman itu. Langkah ini mengejutkan umat manusia, dan juga merupakan hal yang sangat tidak nyaman bagi mereka, karena Tuhan sekali lagi memulai pekerjaan baru yang belum pernah Ia lakukan sebelumnya. Di zaman sekarang ini, kita akan melihat pekerjaan baru seperti apa yang akan dicapai Tuhan di zaman yang baru, dan dalam semua pekerjaan baru ini, watak Tuhan mana, dan apa yang dimiliki-Nya serta siapa diri-Nya, yang dapat kita pahami?

Berikut adalah firman yang dicatat dalam Alkitab Perjanjian Baru

1. (Matius 12:1) Pada saat itu Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat. Karena murid-murid-Nya lapar, mereka pun mulai memetik jagung dan memakannya.

2. (Matius 12:6-8) Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci. Tetapi jika engkau mengerti apa artinya ini, Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban persembahan, tentu engkau tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat.

Mari kita perhatikan ayat ini: "Pada saat itu Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat. Karena murid-murid-Nya lapar, mereka pun mulai memetik jagung dan memakannya."

Mengapa kita memilih perikop ini? Apa hubungannya dengan watak Tuhan? Dalam teks ini, yang pertama kita ketahui adalah bahwa saat itu adalah hari Sabat, tetapi Tuhan Yesus bepergian dan memimpin murid-muridnya berjalan melewati ladang jagung. Yang lebih "tidak patut" adalah bahwa mereka "mulai memetik jagung dan memakannya." Pada Zaman Hukum Taurat, menurut hukum Taurat dari Yahweh orang-orang tidak boleh begitu saja bepergian dan melakukan aktivitas pada hari Sabat—ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan pada hari Sabat. Tindakan yang dilakukan oleh Yesus ini merupakan hal yang mengherankan bagi orang-orang yang telah lama hidup di bawah hukum Taurat, dan ini bahkan mendatangkan kritik. Terkait kebingungan yang mereka rasakan dan bagaimana pendapat mereka tentang apa yang Tuhan Yesus lakukan, kita akan mengesampingkannya untuk sementara dan terlebih dahulu membahas tentang mengapa Tuhan Yesus memilih melakukan ini tepat pada hari Sabat, bukannya hari-hari lain, dan apa yang sebenarnya ingin Ia sampaikan kepada orang-orang yang telah lama hidup di bawah hukum Taurat melalui tindakan tersebut. Inilah hubungan antara ayat ini serta watak Tuhan yang ingin Kubicarakan.

Ketika Tuhan Yesus datang, Ia menggunakan tindakan nyata-Nya untuk menyampaikan kepada orang-orang: Tuhan telah meninggalkan Zaman Hukum Taurat dan telah memulai pekerjaan baru, dan pekerjaan baru ini tidak memerlukan peringatan hari Sabat; ketika Tuhan keluar dari batasan hari Sabat, ini hanya merupakan penggalan kecil dari pekerjaan baru-Nya kelak, dan pekerjaan besar-Nya yang sesungguhnya masih akan berlanjut. Ketika Tuhan Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia telah meninggalkan belenggu Zaman Hukum Taurat, dan telah mendobrak peraturan dan prinsip-prinsip pada zaman tersebut. Di dalam Dia, tidak lagi tersisa apa pun yang terkait dengan hukum Taurat; Ia telah menanggalkannya sepenuhnya dan tidak lagi memperingatinya, dan Ia tidak lagi memerlukan umat manusia untuk memperingatinya. Jadi di sini engkau melihat bahwa Tuhan Yesus berjalan melewati ladang jagung pada hari Sabat; Tuhan tidak beristirahat, tapi berada di luar melakukan pekerjaan. Tindakan-Nya ini menggoncang konsepsi orang-orang pada waktu itu dan menyampaikan kepada mereka bahwa Ia tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, dan bahwa Ia telah meninggalkan batasan hari Sabat dan menampakkan diri di hadapan umat manusia, dalam wujud yang baru di tengah mereka, dengan cara kerja yang baru pula. Tindakan-Nya ini menyampaikan kepada orang-orang bahwa Ia telah membawa beserta-Nya pekerjaan baru yang dimulai dengan meninggalkan hukum Taurat dan hari Sabat. Ketika Tuhan melaksanakan pekerjaan baru-Nya, Ia tidak lagi berpaut pada masa lampau, dan Ia tidak lagi peduli dengan peraturan dari Zaman Hukum Taurat. Ia juga tidak terpengaruh oleh pekerjaan-Nya dari zaman sebelumnya, tetapi Ia bekerja seperti biasa pada hari Sabat dan ketika murid-muridnya lapar, mereka dapat mengambil jagung untuk dimakan. Semua ini adalah hal yang biasa di mata Tuhan. Tuhan dapat mengadakan permulaan yang baru untuk banyak dari pekerjaan yang ingin Ia lakukan dan untuk hal-hal yang ingin Ia katakan. Setelah Ia mengadakan permulaan yang baru, Ia tidak lagi menyebutkan pekerjaan-Nya yang sebelumnya dan Ia tidak lagi melanjutkannya. Karena Tuhan memegang prinsip-Nya dalam pekerjaan-Nya. Saat Ia ingin memulai pekerjaan baru, itu adalah saat Ia ingin membawa umat manusia ke tahap yang baru dari pekerjaan-Nya, dan saat ketika pekerjaan-Nya telah memasuki fase yang lebih tinggi. Apabila orang-orang terus berbuat sesuai perkataan atau peraturan yang lama atau terus berpegang teguh pada hal-hal tersebut, Ia tidak akan memperingati atau memujinya. Ini karena Ia telah membawa pekerjaan yang baru, dan telah memasuki fase yang baru dari pekerjaan-Nya. Ketika Ia memulai pekerjaan baru, Ia menampakkan diri kepada umat manusia dalam wujud yang benar-benar baru, dari sudut yang benar-benar baru, dan dalam cara yang benar-benar berbeda sehingga orang-orang dapat melihat berbagai aspek berbeda dari watak-Nya dan melihat apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Ini adalah salah satu tujuan-Nya dalam pekerjaan baru-Nya. Tuhan tidak berpegang pada yang lama atau mengambil jalan yang sudah sering ditapaki; Dalam bekerja dan berfirman, Ia sebenarnya tidak suka melarang seperti yang dibayangkan orang. Di dalam Tuhan, semuanya bebas dan merdeka, tidak ada larangan dan ketidakleluasaan—yang Ia bawa kepada umat manusia adalah kebebasan dan kemerdekaan. Ia adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang sungguh-sungguh dan benar-benar ada. Ia bukanlah boneka ataupun patung tanah liat, dan Ia benar-benar berbeda dari berhala yang orang-orang dirikan dan sembah. Ia hidup penuh gairah dan semua perkataan dan pekerjaan-Nya membawa segala kehidupan dan terang, segala kebebasan dan kemerdekaan kepada manusia, karena Ia memegang kebenaran, kehidupan, dan jalan—Ia tidak dibatasi oleh apa pun dari pekerjaan-Nya sendiri. Tidak peduli apa yang dikatakan orang dan tidak peduli bagaimana mereka memandang atau menilai pekerjaan baru-Nya, Ia akan mengerjakan pekerjaan-Nya itu tanpa keraguan. Ia tidak akan khawatir akan konsepsi orang-orang, atau tuduhan-tuduhan yang terarah pada pekerjaan dan firman-Nya, atau bahkan penolakan dan perlawanan mereka yang kuat terhadap pekerjaan baru-Nya. Tak ada satu pun di antara semua ciptaan yang dengan menggunakan nalar manusia, atau imajinasi manusia, pengetahuan, ataupun moralitas manusia, mampu mengukur atau mendefinisikan apa yang dilakukan Tuhan, atau mampu mencela, atau mengacaukan atau menyabotase pekerjaan-Nya. Tidak ada ketidakleluasaan dalam pekerjaan-Nya dan apa yang Ia perbuat, dan pekerjaan-Nya itu tidak akan dibatasi oleh manusia, hal, atau benda apa pun, dan tidak akan dikacaukan oleh kekuatan musuh mana pun. Dalam pekerjaan baru-Nya, Ia adalah Raja yang maha menang; segala kekuatan musuh dan segala hujatan dan kesesatan dari umat manusia akan terinjak di bawah tumpuan kaki-Nya. Tidak peduli tahapan baru mana dari pekerjaan-Nya yang Ia sedang kerjakan, itu harus dikembangkan dan diperluas di tengah umat manusia, dan harus dikerjakan tanpa halangan di dalam seluruh alam semesta sampai pekerjaan besar-Nya ini telah selesai. Inilah kemahakuasaan dan hikmat Tuhan; inilah otoritas dan kuasa-Nya. Dengan demikian, Tuhan Yesus dapat secara terbuka bepergian dan bekerja pada hari Sabat karena di dalam hati-Nya tidak ada peraturan, dan tidak ada pengetahuan atau doktrin yang asalnya dari manusia. Yang Ia bawa adalah pekerjaan baru Tuhan dan jalan-Nya, dan pekerjaan-Nya adalah jalan untuk membebaskan umat manusia, untuk melepaskan mereka, untuk memperkenankan mereka berada dalam terang, dan untuk memperkenankan mereka hidup. Dan mereka yang menyembah berhala atau ilah-ilah palsu hidup setiap harinya diikat oleh Iblis, terikat oleh berbagai jenis peraturan dan tabu—larangan untuk satu hal pada hari ini, larangan lain lagi untuk esok hari—tidak ada kebebasan dalam hidup mereka. Mereka layaknya tahanan yang terbelenggu, tanpa sukacita sama sekali. Apakah yang "larangan" representasikan? Ini merepresentasikan ketidakleluasaan, keterikatan, dan kejahatan. Pada saat seseorang menyembah berhala, ia sedang menyembah ilah palsu, menyembah roh jahat. Larangan datang bersama dengan hal itu. Engkau tidak bisa makan ini atau itu, hari ini engkau tidak bisa bepergian, besok engkau tidak bisa menyalakan tungku, lusa engkau tidak bisa pindah ke rumah baru, hari-hari tertentu harus dipilih untuk pernikahan dan perkabungan, dan bahkan untuk melahirkan bayi. Disebut apakah ini? Ini disebut larangan; inilah perbudakan umat manusia, oleh belenggu Iblis dan roh jahat yang mengendalikan mereka, dan mengikat hati serta tubuh mereka. Apakah larangan-larangan demikian ada pada Tuhan? Ketika membahas tentang kekudusan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memikirkan ini: Bersama Tuhan tidak ada larangan. Tuhan mempunyai prinsip dalam firman dan pekerjaan-Nya, tapi tidak ada larangan, karena Tuhan itu sendiri adalah kebenaran, jalan, dan kehidupan.

Sekarang mari kita perhatikan perikop berikut: "Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci. Tetapi jika engkau mengerti apa artinya ini, Aku menghendaki belas kasihan dan bukan korban persembahan, tentu engkau tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat." (Matius 12:6-8). Apakah arti dari "Bait Suci" di sini? Sederhananya, "Bait Suci" di sini merujuk kepada sebuah bangunan megah, tinggi, dan pada Zaman Hukum Taurat, digunakan oleh para imam sebagai tempat menyembah Tuhan. Ketika Tuhan Yesus berkata "di tempat ini ada yang lebih besar daripada Bait Suci," siapakah yang Ia maksud dengan "ada yang lebih besar"? Jelas bahwa yang dimaksud adalah Tuhan Yesus dalam daging, karena hanya Dia yang lebih besar daripada Bait Suci. Apa yang firman itu sampaikan kepada orang-orang? Yang disampaikan adalah agar orang-orang keluar dari Bait Suci—karena Tuhan telah keluar dan tidak lagi bekerja di dalamnya, sehingga orang-orang harus mencari jejak kaki Tuhan di luar Bait Suci dan mengikuti jejak-Nya dalam pekerjaan baru-Nya. Latar belakang perkataan Tuhan Yesus adalah bahwa di bawah hukum Taurat, orang-orang telah memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar dari Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, orang-orang lebih menyembah Bait Suci ketimbang menyembah Tuhan, sehingga Tuhan Yesus memperingatkan mereka untuk tidak menyembah berhala, melainkan menyembah Tuhan karena Dia-lah yang terutama. Karena itu Ia berkata: "Aku menghendaki belas kasihan, dan bukan korban persembahan." Jelas bahwa di mata Tuhan Yesus, kebanyakan orang di bawah hukum Taurat tidak lagi menyembah Tuhan Yahweh, melainkan hanya melakukan proses pemberian persembahan, dan Tuhan Yesus menganggap bahwa proses ini tak lain adalah penyembahan berhala. Para penyembah berhala ini memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi daripada Tuhan. Di dalam hati mereka hanya ada Bait Suci, bukannya Tuhan, dan jika mereka kehilangan Bait Suci itu, mereka pun kehilangan tempat berdiam. Tanpa Bait Suci tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk beribadah dan melakukan pengorbanan. Yang disebut kediaman bagi mereka adalah tempat mereka bekerja di bawah panji beribadah kepada Tuhan Yahweh, yang memungkinkan mereka untuk berdiam di dalam Bait Suci dan melakukan urusan mereka sendiri. Yang mereka sebut melakukan pengorbanan tidak lain hanyalah mengerjakan urusan pribadi mereka yang memalukan dengan kedok pelayanan di dalam Bait Suci. Inilah alasan orang-orang pada zaman itu memandang Bait Suci sebagai sesuatu yang lebih besar dari Tuhan. Karena mereka menggunakan Bait Suci sebagai kedok, dan pengorbanan sebagai samaran untuk mencurangi orang lain dan mencurangi Tuhan, Tuhan Yesus mengatakan hal ini untuk memperingatkan orang-orang. Apabila engkau semua menerapkan firman ini pada zaman sekarang, firman ini masih sama sahnya dan sama berlakunya. Walaupun orang-orang pada zaman sekarang telah mengalami pekerjaan Tuhan yang berbeda dari yang dialami orang-orang pada Zaman Hukum Taurat, esensi dari natur mereka masih tetap sama. Dalam konteks pekerjaan pada zaman sekarang, orang-orang masih akan melakukan hal yang sama jenisnya dengan menganggap "Bait Suci lebih besar daripada Tuhan." Sebagai contoh, orang-orang memandang pelaksanaan tugas mereka sebagai mata pencaharian; mereka memandang tindakan bersaksi bagi Tuhan dan bertarung melawan si naga merah yang sangat besar sebagai gerakan politik demi membela hak asasi manusia, demi demokrasi dan kebebasan; mereka mengubah tugas untuk menggunakan keterampilan mereka menjadi karier, tapi mereka memperlakukan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tidak lebih dari sekadar doktrin keagamaan untuk dicermati; dan lain sebagainya. Bukankah ungkapan-ungkapan manusia ini pada intinya sama saja dengan menganggap "Bait Suci lebih besar daripada Tuhan?" Yang berbeda hanyalah bahwa dua ribu tahun lalu, orang-orang melakukan urusan pribadi mereka di dalam bangunan fisik Bait Suci, sedangkan di zaman sekarang, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing dalam Bait Suci yang wujudnya abstrak. Orang-orang demikian yang mencintai peraturan melihat peraturan-peraturan tersebut sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, orang-orang demikian yang mencintai status memandang status sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, mereka yang mencintai karier melihat karier sebagai hal yang lebih besar daripada Tuhan, dan lain sebagainya—semua pernyataan mereka membuat-Ku mengatakan: "Orang-orang memuji Tuhan sebagai yang terbesar lewat kata-kata mereka, tetapi dalam pandangan mereka segala hal lain lebih besar daripada Tuhan." Ini karena begitu mereka menemukan peluang dalam perjalanan mereka mengikuti Tuhan untuk memamerkan bakat mereka, atau untuk mengerjakan urusan atau karier mereka, mereka menjauhkan diri daripada Tuhan dan terjun ke dalam karier yang mereka cintai. Sedangkan untuk hal yang telah dipercayakan Tuhan kepada mereka, dan kehendak-Nya, hal-hal tersebut telah lama mereka tanggalkan. Dari skenario ini, apakah perbedaan orang-orang ini dengan mereka yang sibuk dengan urusan mereka sendiri di Bait Suci pada dua ribu tahun yang lalu?

Selanjutnya, mari kita perhatikan kalimat terakhir dari perikop kitab suci ini: "karena Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat." Apakah ada sisi praktis dari kalimat ini? Dapatkah engkau semua melihat sisi praktisnya? Setiap hal yang Tuhan katakan berasal dari hati-Nya, jadi mengapa Ia mengatakan ini? Bagaimana engkau semua memahaminya? Engkau semua mungkin mengerti arti dari kalimat ini sekarang, tapi dulunya tidak banyak orang mengerti apa artinya karena umat manusia baru saja keluar dari Zaman Hukum Taurat. Bagi mereka, keluar dari hari Sabat adalah hal yang sangat sulit dilakukan, apalagi untuk memahami apa arti Sabat yang sejati.

Kalimat "Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat" menyampaikan kepada orang-orang bahwa semuanya tentang Tuhan tidak bersifat materiel, dan meskipun Tuhan dapat menyediakan segala kebutuhan materielmu, setelah semua kebutuhan materielmu terpenuhi, dapatkah kepuasan dari hal-hal materiel ini menggantikan pengejaranmu akan kebenaran? Sudah jelas tidak mungkin! Watak Tuhan, apa yang Ia punya dan siapa Ia, hal-hal yang sudah kita bahas sebelumnya, semuanya adalah kebenaran. Semua itu tidak bisa diukur oleh harga yang mahal dari sebuah objek materiel; nilainya juga tidak bisa ditakar oleh nilai uang, karena itu bukanlah objek materiel, dan karena semua itu membekali kebutuhan hati setiap orang. Bagi masing-masing orang, nilai dari kebenaran yang tak berwujud ini haruslah lebih besar dari nilai segala benda materiel yang menurutmu baik, bukankah demikian? Perkataan-perkataan ini adalah sesuatu yang perlu engkau semua pahami baik-baik. Poin penting dari apa yang telah Aku katakan adalah bahwa apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu dan segalanya tentang Tuhan adalah hal terpenting bagi setiap orang dan tidak bisa digantikan oleh benda materiel apa pun. Aku akan memberimu sebuah contoh: Ketika engkau lapar, engkau memerlukan makanan. Makanan ini bisa secara relatif baik atau secara relatif kurang, tetapi asalkan engkau merasa kenyang, perasaan tidak enak karena lapar tidak akan terasa lagi—ia akan hilang. Engkau bisa duduk dalam kedamaian, dan tubuhmu akan menjadi tenang. Rasa lapar manusia bisa dipuaskan oleh makanan, tetapi ketika engkau mengikuti Tuhan dan merasa bahwa engkau tidak punya pemahaman akan Dia, bagaimanakah engkau mengisi kekosongan di dalam hatimu? Bisakah itu dipuaskan oleh makanan? Atau ketika engkau mengikuti Tuhan dan tidak memahami kehendak-Nya, apakah yang bisa engkau gunakan untuk memuaskan kelaparan di hatimu? Dalam proses engkau mengalami keselamatan melalui Tuhan, seraya mengejar perubahan watakmu, jika engkau tidak memahami kehendak-Nya atau tidak mengenal kebenaran, apabila engkau tidak mengerti akan watak Tuhan, bukankah engkau akan merasa tidak tenang? Tidakkah engkau merasakan kelaparan dan kehausan yang amat sangat di dalam hatimu? Tidakkah perasaan-perasaan tersebut menghalangi perasaan tenang di dalam hatimu? Jadi bagaimanakah engkau dapat memuaskan kelaparan di hatimu—adakah cara untuk mengisinya? Sebagian orang pergi berbelanja, sebagian lagi mencari teman untuk berbagi, ada yang tidur untuk mengisi hal itu, ada juga yang membaca lebih banyak firman Tuhan, atau bekerja lebih keras dan mengerahkan upaya lebih besar dalam memenuhi tugas mereka. Dapatkah hal-hal tersebut menyelesaikan kesukaranmu yang sebenarnya? Engkau semua sepenuhnya memahami tindakan-tindakan seperti ini. Ketika engkau merasa tidak berdaya, ketika engkau merasakan hasrat yang kuat untuk mendapatkan pencerahan dari Tuhan demi membuatmu mengenal realitas kebenaran dan kehendak-Nya, apakah yang paling engkau butuhkan? Yang engkau butuhkan bukanlah santapan, dan juga bukan serangkaian ucapan murah hati. Lebih dari semua itu, bukan ketenangan sementara maupun kepuasan lahiriah—yang engkau butuhkan adalah agar Tuhan secara langsung, secara jelas memberitahukan kepadamu apa yang harus engkau lakukan dan bagaimana melakukannya, memberitahukan kepadamu dengan jelas apa itu kebenaran. Setelah engkau telah memahami ini, meskipun jika hanya sedikit, tidakkah engkau merasa hatimu lebih puas dibandingkan setelah menikmati santapan yang baik? Ketika hatimu dipuaskan, bukankah hatimu, bukankah keseluruhan pribadimu, mendapatkan ketenangan yang sejati? Melalui analogi dan analisis ini, apakah engkau semua sekarang paham mengapa Aku ingin membagikan kalimat ini, “Anak Manusia adalah Tuhan bahkan atas hari Sabat,” kepadamu? Artinya adalah bahwa apa yang datang dari Tuhan, apa yang Ia punya dan siapa Ia, dan segala sesuatu yang berkenaan dengan-Nya adalah lebih besar dibandingkan apa pun, termasuk hal atau orang yang sebelumnya engkau anggap sebagai yang paling engkau cintai. Dengan kata lain, apabila seseorang tidak memiliki firman dari mulut Tuhan atau mereka tidak mengerti kehendak-Nya, mereka tidak dapat memperoleh ketenangan. Dalam pengalamanmu di masa depan, engkau semua akan mengerti mengapa Aku menginginkan engkau semua pada saat ini untuk menelaah ayat tersebut—ini sangatlah penting. Semuanya yang dilakukan Tuhan adalah kebenaran dan hidup. Kebenaran bagi umat manusia adalah sesuatu yang tidak boleh kurang dalam hidup mereka; hal yang tanpanya mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa; dan juga dapat dikatakan itu adalah hal yang terbesar. Meskipun engkau tidak bisa melihatnya atau menyentuhnya, nilainya tidak bisa engkau abaikan. Inilah satu-satunya hal yang dapat membawa kedamaian di dalam hatimu.

Apakah pengertianmu akan kebenaran berintegrasi dengan keadaanmu sendiri? Dalam kehidupan nyata, engkau pertama-tama harus memikirkan kebenaran mana yang berkaitan dengan orang-orang, hal-hal, atau benda-benda yang pernah engkau temui. Di antara kebenaran-kebenaran inilah engkau dapat menemukan kehendak Tuhan dan menghubungkan apa yang telah engkau temui dengan kehendak-Nya. Apabila engkau tidak tahu aspek-aspek mana saja dari kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal yang telah engkau temui, tetapi engkau langsung begitu saja mencari kehendak Tuhan, ini pendekatan yang buta yang tidak akan mendatangkan hasil. Apabila engkau ingin mencari kebenaran dan memahami kehendak Tuhan, pertama-tama engkau perlu melihat hal-hal seperti apa yang telah datang kepadamu, lalu aspek-aspek kebenaran yang mana saja yang terkait dengan mereka, dan carilah kebenaran dalam firman Tuhan yang terkait dengan pengalamanmu. Kemudian carilah jalan tindakan nyata yang tepat bagimu di dalam kebenaran itu; dengan cara ini engkau akan memperoleh pengertian tidak langsung akan kehendak Tuhan. Mencari dan melakukan kebenaran bukanlah menerapkan sebuah doktrin secara mekanis ataupun mengikuti sebuah rumus. Kebenaran bukanlah hal yang bersifat terumuskan, juga bukan sebuah hukum. Kebenaran tidak mati—tetapi hidup. Itu adalah sesuatu yang hidup, dan merupakan aturan yang harus diikuti makhluk ciptaan dan aturan yang harus dimiliki seorang manusia dalam hidupnya. Ini merupakan hal yang harus lebih engkau pahami melalui pengalaman. Tidak peduli berada pada tahapan mana pengalamanmu, engkau tidak bisa dipisahkan dari firman Tuhan atau kebenaran, dan apa yang engkau pahami akan watak Tuhan dan apa yang engkau ketahui tentang apa yang Ia punya dan siapa Ia, semuanya itu dinyatakan dalam firman Tuhan. Semua itu tidak dapat dipisahkan dan terhubung dengan kebenaran. Watak Tuhan, lalu apa yang Ia punya dan siapa Ia dengan sendirinya adalah kebenaran. Kebenaran merupakan perwujudan yang autentik dari watak Tuhan juga apa yang Ia punya dan siapa Ia. Ini menjadikan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu suatu hal yang konkret dan secara terbuka menyatakannya. Secara langsung hal itu memberitahukan kepadamu tentang apa yang Tuhan sukai, apa yang tidak Ia sukai, apa yang Ia ingin engkau lakukan dan apa yang tidak Ia izinkan untuk engkau lakukan, orang-orang seperti apa yang Ia benci dan orang-orang seperti apa yang Ia kasihi. Di balik kebenaran yang Tuhan ungkapkan orang dapat melihat kesenangan-Nya, kemarahan-Nya, kesedihan-Nya, dan kebahagian-Nya, juga esensi-Nya—ini adalah pengungkapan dari watak-Nya. Selain mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu, dan selain memahami watak-Nya dari firman-Nya, yang paling penting adalah perlunya mencapai pemahaman ini melalui pengalaman nyata. Jika seseorang menjauhkan diri mereka dari kehidupan nyata supaya mengenal Tuhan, mereka tidak akan bisa mencapai hal itu. Bahkan jika ada orang-orang yang dapat memperoleh sebagian pemahaman dari firman Tuhan, pengertian ini terbatas pada teori dan ucapan, dan akan berbeda dengan seperti apakah Tuhan itu sebenarnya.

Apa yang sedang kami sampaikan sekarang semuanya berada dalam cakupan kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab. Melalui kisah-kisah ini, dan dengan menganalisis hal-hal yang terjadi, orang dapat mengerti watak-Nya, dan apa yang Ia punya dan siapa Ia yang telah Ia ungkapkan, memungkinkan mereka untuk mengenal setiap aspek dari Tuhan dengan lebih luas, lebih mendalam, lebih lengkap, dan lebih menyeluruh. Jadi, apakah jalan satu-satunya untuk mengenal setiap aspek Tuhan adalah melalui kisah-kisah ini? Tidak, tentu saja tidak! Karena apa yang Tuhan katakan dan pekerjaan Tuhan pada Zaman Kerajaan dapat membantu orang mengenal watak-Nya dan mengetahui tentang hal itu secara lebih menyeluruh. Akan tetapi, menurut-Ku lebih mudah untuk mengenal watak Tuhan dan memahami apa yang Ia punya dan siapa Ia melalui contoh-contoh atau kisah-kisah yang tercatat dalam Alkitab yang sudah dikenal orang-orang. Apabila Aku mengambil kata-kata penghakiman dan hajaran dan kebenaran yang dinyatakan Tuhan di masa sekarang untuk membuatmu mengenal-Nya kata demi kata, engkau akan merasa itu terlalu membosankan dan bertele-tele, dan sebagian orang bahkan akan merasa bahwa perkataan Tuhan nampak terlalu terumuskan. Akan tetapi, apabila kita mengambil kisah-kisah Alkitab ini sebagai contoh agar orang lebih mudah mengenal watak Tuhan, mereka tidak akan menganggapnya membosankan. Dapat dikatakan bahwa sepanjang menjelaskan contoh-contoh ini, rincian-rincian mengenai apa yang ada di hati Tuhan pada saat itu—suasana hati dan perasaan, atau pemikiran dan gagasan-Nya—telah disampaikan kepada manusia dalam bahasa manusia, dan tujuan dari semua ini adalah agar mereka menghargai, merasakan bahwa apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu bukanlah sebuah rumusan. Itu bukanlah sebuah legenda, atau suatu hal yang tidak dapat dilihat dan disentuh orang-orang. Itu merupakan hal yang benar-benar ada, yang bisa orang rasakan dan hargai. Inilah tujuan utamanya. Engkau dapat mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di zaman ini adalah orang-orang yang diberkati. Mereka dapat belajar dari kisah-kisah Alkitab untuk memperoleh pengertian yang lebih luas tentang pekerjaan Tuhan sebelumnya. Mereka dapat melihat watak-Nya melalui pekerjaan yang telah Ia lakukan. Mereka dapat memahami kehendak Tuhan bagi umat manusia melalui watak-watak yang telah Ia ungkapkan ini, lalu memahami manifestasi nyata dari kekudusan dan kepedulian-Nya terhadap umat manusia demi mencapai pengenalan yang lebih mendetail dan lebih mendalam akan watak Tuhan. Aku pecaya bahwa engkau semua dapat merasakan hal ini!

Dalam lingkup pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia, engkau dapat melihat aspek lain dari apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu. Ini diungkapkan melalui daging-Nya, dan melalui kemanusiaan-Nya menjadi mungkin bagi orang-orang untuk melihat dan menghargai aspek ini. Dalam diri Anak Manusia, orang-orang melihat bagaimana Tuhan dalam daging menghidupi kemanusiaan-Nya, dan mereka melihat keilahian Tuhan yang diungkapkan melalui daging. Dua jenis pengungkapan ini memungkinkan orang untuk melihat Tuhan yang sangat nyata, dan memungkinkan mereka untuk merumuskan sebuah konsep yang berbeda tentang Tuhan. Akan tetapi, pada periode waktu antara penciptaan dunia dan akhir Zaman Hukum Taurat, atau sebelum Zaman Kasih Karunia, apa yang terlihat, didengar, dan dialami oleh orang-orang hanyalah aspek keilahian Tuhan. Yakni apa yang diperbuat dan difirmankan Tuhan dalam alam tak berwujud, juga hal-hal yang Ia nyatakan dari pribadi-Nya yang nyata yang tidak bisa dilihat maupun disentuh. Seringkali, hal-hal ini membuat orang merasa bahwa Tuhan sangatlah besar, dan bahwa mereka tidak akan bisa mendekat kepada-Nya. Kesan yang biasanya diberikan Tuhan kepada manusia adalah bahwa Ia muncul dan menghilang, dan orang-orang bahkan merasakan bahwa setiap pemikiran dan gagasan-Nya begitu misterius dan sulit dipahami sehingga tidak ada cara untuk mencapai pemikiran dan gagasan-Nya, apalagi untuk memahami dan menghargai hal-hal tersebut. Bagi orang-orang, segala sesuatu mengenai Tuhan sangatlah jauh—sedemikian jauhnya sehingga tidak dapat dilihat, tidak dapat disentuh oleh mereka. Tuhan tampaknya berada di langit, dan Ia tampaknya tidak ada sama sekali. Jadi, bagi orang-orang, memahami hati dan pikiran Tuhan ataupun pemikiran-Nya adalah hal yang tak dapat diraih, dan tak mungkin tercapai. Walaupun Tuhan melakukan sejumlah pekerjaan konkret pada Zaman Hukum Taurat, dan Ia juga mengeluarkan sejumlah kata-kata khusus dan mengungkapkan sejumlah watak khusus agar orang-orang bisa menghargai dan melihat sejumlah pengenalan nyata akan Dia, namun pada akhirnya, itu merupakan pernyataan apa yang Ia punya dan siapa Ia dalam alam tak berwujud, dan apa yang dipahami orang-orang, yang mereka ketahui masihlah aspek keilahian dari apa yang Ia punya dan siapa Ia. Umat manusia tidak mampu memperoleh konsep konkret dari pengungkapan tentang apa yang Ia punya dan siapa Ia, dan kesan mereka akan Tuhan masih terpaku dalam lingkup "suatu Roh yang tidak bisa didekati, yang muncul dan menghilang." Karena Tuhan tidak menggunakan objek atau wujud yang spesifik pada alam materiel untuk muncul di hadapan orang-orang, mereka masih tidak bisa mendefinisikan-Nya dengan menggunakan bahasa manusia. Dalam hati dan pikiran orang-orang, mereka selalu ingin menggunakan bahasa mereka sendiri untuk mengadakan suatu standar untuk Tuhan, untuk membuat-Nya berwujud dan memanusiakan diri-Nya, seperti seberapa tinggi Ia, seberapa besar Ia, bagaimana penampilan-Nya, apa yang secara khusus Ia sukai dan bagaimana kepribadian-Nya secara khusus. Sebenarnya, dalam hati-Nya Tuhan mengetahui bahwa orang-orang berpikir demikian. Ia mengetahui dengan jelas apa yang mereka perlukan, dan tentu saja Ia juga tahu apa yang mesti Ia lakukan, maka Ia melakukan pekerjaan-Nya dengan cara yang berbeda pada Zaman Kasih Karunia. Cara ini adalah ilahi sekaligus manusiawi. Dalam jangka waktu selama Tuhan Yesus bekerja, orang-orang dapat melihat bahwa Tuhan memiliki berbagai ungkapan manusia. Sebagai contoh, Ia dapat menari, Ia mengunjungi acara pernikahan, Ia dapat bercakap dengan orang-orang, berbicara kepada mereka, dan membahas berbagai hal bersama mereka. Selain itu, Tuhan Yesus juga menyelesaikan banyak pekerjaan yang merepresentasikan keilahian-Nya, dan tentunya semua pekerjaan ini adalah pernyataan dan pengungkapan dari watak Tuhan. Selama waktu tersebut, ketika keilahian Tuhan dinyatakan dalam wujud manusia biasa yang dapat dilihat dan disentuh orang-orang, mereka tidak lagi merasa bahwa Ia adalah pribadi yang muncul dan menghilang, tidak lagi merasa bahwa mereka tidak bisa mendekat kepada-Nya. Sebaliknya, mereka dapat berusaha mengerti kehendak Tuhan atau memahami keilahian-Nya melalui setiap pergerakan, setiap firman, dan setiap pekerjaan dari sang Anak Manusia. Inkarnasi Anak Manusia mengungkapkan keilahian Tuhan melalui kemanusiaan-Nya dan menyampaikan kehendak Tuhan kepada umat manusia. Dan melalui pengungkapan kehendak dan watak Tuhan, Ia juga mengungkapkan kepada orang-orang wujud Tuhan yang tidak bisa dilihat atau disentuh di alam rohani. Apa yang orang-orang lihat adalah Tuhan itu sendiri, yang nyata dan memiliki daging dan tulang. Jadi, inkarnasi Anak Manusia membuat hal-hal seperti identitas, status, gambar, dan watak Tuhan, dan apa yang Tuhan punya dan siapa Tuhan itu menjadi konkret dan dimanusiakan. Meskipun penampakan luar dari Anak Manusia memiliki batasan mengenai gambar diri Tuhan, esensi-Nya dan apa yang Ia punya dan siapa Ia semuanya mampu merepresentasikan identitas dan status Tuhan itu sendiri—hanya ada sejumlah perbedaan dalam bentuk pengungkapannya. Tidak peduli apakah itu sifat manusiawi dari Anak Manusia atau keilahian-Nya, kita tidak dapat menyangkal bahwa Ia merepresentasikan identitas dan status Tuhan sendiri. Akan tetapi, pada masa tersebut, Tuhan bekerja melalui daging, berbicara melalui perspektif daging, dan berdiri di hadapan umat manusia dengan identitas dan status Anak Manusia, dan ini memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menemui dan mengalami firman dan pekerjaan Tuhan yang nyata di tengah manusia. Hal ini juga memberikan kepada orang-orang wawasan terhadap keilahian dan kebesaran-Nya di tengah kerendahhatian, sekaligus memungkinkan mereka beroleh pemahaman dan definisi pendahuluan akan autentisitas dan kenyataan Tuhan. Meskipun pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus, cara Ia bekerja, dan sudut pandang di mana Ia berbicara berbeda dari pribadi nyata Tuhan dalam alam rohani, segala hal tentang-Nya benar-benar merepresentasikan Tuhan itu sendiri yang sebelumnya belum pernah dilihat manusia—hal ini tidak dapat dibantah! Dengan kata lain, tidak peduli dalam bentuk apa Tuhan menampakkan diri, tidak peduli dari sudut pandang mana Ia berbicara, atau dalam rupa apa Ia menatap manusia, Tuhan tidak merepresentasikan siapa pun selain diri-Nya sendiri. Ia tidak dapat merepresentasikan manusia mana pun—Ia tidak mungkin merepresentasikan seorang manusia rusak. Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, dan hal ini tidak dapat dibantah.

Selanjutnya kita akan melihat sebuah perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia.

3. Perumpaan tentang Domba yang Hilang

(Matius 18:12-14) Bagaimana menurutmu? Jika seseorang memiliki seratus ekor domba dan salah satunya hilang, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan dan pergi ke gunung, lalu mencari satu ekor yang tersesat itu? Dan jika ia sudah berhasil menemukannya, Aku berkata kepadamu, ia akan lebih bersukacita karena domba itu daripada sembilan puluh sembilan yang tidak sesat. Bukankah demikian juga dengan Bapamu yang di surga yang tidak menghendaki satu pun dari anak kecil ini binasa.

Ini adalah perumpamaan—apa yang orang-orang rasakan dari perikop ini? Perumpamaan ini diungkapkan dengan menggunakan kiasan dalam bahasa manusia; itu merupakan sesuatu yang masih berada dalam lingkup pengetahuan manusia. Jika Tuhan mengatakan hal serupa pada Zaman Hukum Taurat, orang-orang akan merasa bahwa perkataan ini tidak benar-benar konsisten dengan siapa Tuhan itu, tetapi ketika Anak Manusia menyampaikan perikop ini pada Zaman Kasih Karunia, itu terasa menghibur, hangat, dan akrab bagi orang-orang. Saat Tuhan menjadi daging, saat Ia menampakkan diri dalam wujud manusia, Ia menggunakan perumpamaan yang sangat sesuai untuk mengungkapkan suara hati-Nya dalam wujud manusia. Suara ini merepresentasikan suara Tuhan sendiri dan pekerjaan yang ingin Ia lakukan pada zaman itu. Suara ini juga merepresentasikan sikap Tuhan terhadap orang-orang pada Zaman Kasih Karunia. Melihat dari sudut pandang sikap Tuhan terhadap orang-orang, Ia mengandaikan setiap orang sebagai domba. Jika ada seekor domba yang tersesat, Ia akan melakukan apa pun demi menemukan domba tersebut. Perkataan ini merepresentasikan prinsip pekerjaan Tuhan di tengah umat manusia kali ini dalam daging. Tuhan menggunakan perumpamaan ini untuk menggambarkan tekad dan sikap-Nya dalam pekerjaan itu. Inilah keuntungan Tuhan menjadi daging: Ia dapat memanfaatkan pengetahuan manusia dan menggunakan bahasa manusia untuk berbicara kepada orang-orang, demi mengungkapkan kehendak-Nya. Ia menjelaskan, atau "menerjemahkan" bagi manusia bahasa ilahi-Nya yang dalam dan sukar dipahami orang-orang ke dalam bahasa manusia, melalui cara yang manusiawi. Ini membantu orang-orang memahami kehendak-Nya dan mengetahui apa yang ingin Ia lakukan. Ia juga bisa bercakap-cakap dengan orang-orang dari sudut pandang manusia, menggunakan bahasa manusia, dan berkomunikasi dengan orang-orang dengan cara yang mereka pahami. Ia bahkan dapat berbicara dan bekerja dengan menggunakan bahasa dan pengetahuan manusia supaya orang-orang dapat merasakan kebaikan dan kedekatan Tuhan, supaya mereka dapat memahami isi hati-Nya. Apa yang engkau semua lihat dalam hal ini? Bahwa tidak ada ketidakleluasaan dalam perkataan dan tindakan Tuhan? Dari sudut pandang orang-orang, tidak mungkin Tuhan bisa menggunakan pengetahuan, bahasa, ataupun cara bercakap manusia untuk membahas apa yang ingin Tuhan sendiri sampaikan, pekerjaan yang ingin Ia lakukan, atau mengungkapkan kehendak-Nya sendiri; ini adalah pemikiran yang keliru. Tuhan menggunakan perumpamaan seperti ini agar orang-orang bisa merasakan kenyataan dan ketulusan Tuhan, dan melihat bagaimana sikap-Nya terhadap orang-orang pada masa itu. Perumpamaan ini menyadarkan dari mimpi orang-orang yang telah lama hidup di bawah hukum Taurat untuk waktu yang panjang, dan ini juga mengilhami generasi demi generasi manusia yang hidup di Zaman Kasih Karunia. Dengan membaca perikop perumpamaan ini, orang-orang mengetahui ketulusan Tuhan dalam menyelamatkan manusia dan memahami pentingnya umat manusia dalam hati Tuhan.

Mari kita melihat kembali kalimat terakhir dari perikop ini: "Bukankah demikian juga dengan Bapamu yang di surga yang tidak menghendaki satu pun dari anak kecil ini binasa." Apakah ini kata-kata Tuhan Yesus sendiri, ataukah ini perkataan Bapa yang di surga? Selintas, terdengar seperti Tuhan Yesus sendiri yang sedang berbicara, tetapi kehendak-Nya merepresentasikan kehendak Tuhan itu sendiri, karenanya Ia berkata: "Bukankah demikian juga dengan Bapamu yang di surga yang tidak menghendaki satu pun dari anak kecil ini binasa." Orang-orang pada masa itu hanya mengakui Bapa yang di surga sebagai Tuhan, sedangkan orang ini, yang sedang berada di hadapan mata mereka, hanyalah utusan yang dikirim oleh-Nya, dan Ia tidak dapat merepresentasikan Bapa yang di surga. Itulah sebabnya Tuhan Yesus harus mengatakan juga kalimat itu, sehingga mereka dapat benar-benar merasakan kehendak Tuhan bagi manusia, dan merasakan autentisitas dan keakuratan hal-hal yang Ia katakan. Meskipun ini adalah hal yang sederhana untuk dikatakan, penyampaiannya begitu sarat akan kepedulian dan mengungkapkan kerendahhatian serta kerahasiaan Tuhan Yesus. Tidak peduli apakah Tuhan menjadi daging atau apakah Ia bekerja dalam alam roh, Ia yang paling mengenal hati manusia, dan paling mengerti apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka khawatirkan, apa yang paling membingungkan mereka, sehingga Ia menambahkan satu kalimat tersebut. Kalimat ini menyoroti sebuah masalah yang tersembunyi dalam diri umat manusia: Orang-orang merasa ragu akan perkataan Anak Manusia, dengan kata lain, saat Tuhan Yesus berbicara Ia mesti menambahkan: "Bukankah demikian juga dengan Bapamu yang di surga yang tidak menghendaki satu pun dari anak kecil ini binasa." Hanya dengan cara demikian perkataan-Nya dapat berbuah, membuat orang-orang percaya akan keakuratannya dan yakin bahwa perkataan-Nya itu dapat dipercaya. Ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan hadir dalam wujud Anak Manusia, Tuhan dan umat manusia memiliki hubungan yang sangat canggung, dan bahwa situasi yang dihadapi Anak Manusia sangatlah memalukan. Ini juga menunjukkan betapa tidak berartinya status Tuhan Yesus di tengah umat manusia pada waktu itu. Ketika Ia mengatakan ini, Ia sebenarnya sedang menyampaikan kepada orang-orang: Tenang saja—perkataan ini tidak merepresentasikan apa yang ada di dalam hati-Ku sendiri, tetapi itu adalah kehendak Tuhan yang ada di dalam hati engkau semua. Bagi umat manusia, bukankah ini suatu hal yang ironis? Meskipun Tuhan yang bekerja dalam daging memiliki banyak keuntungan yang tidak Ia miliki dalam pribadi-Nya, Ia mesti tahan menanggung keraguan dan penolakan mereka, serta ketidakpekaan dan kebodohan mereka. Dapat dikatakan bahwa proses pekerjaan Anak Manusia merupakan proses mengalami penolakan manusia, sekaligus proses mengalami perlawanan manusia terhadap-Nya. Lebih dari itu, ini merupakan proses bekerja untuk terus menerus memenangkan kepercayaan umat manusia dan menaklukkan manusia melalui apa yang Ia miliki dan siapa Ia, melalui esensi-Nya sendiri. Tidak begitu tepat untuk melihatnya sebagai peperangan Tuhan yang berinkarnasi melawan Iblis; lebih tepatnya, Tuhan menjadi manusia biasa dan memulai sebuah pergumulan bersama mereka yang mengikuti-Nya, dan dalam pergumulan ini Anak Manusia menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan kerendahhatian-Nya, dengan apa yang Ia miliki dan siapa Ia, dengan kasih dan hikmat-Nya. Ia memperoleh orang-orang yang Ia inginkan, memenangkan identitas dan status yang pantas Ia terima, dan kembali ke takhta-Nya.

Berikutnya, mari kita melihat dua perikop berikut dari Kitab Suci.

4. Memaafkan Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

(Matius 18:21-22) Lalu datanglah Petrus kepada-Nya dan berkata: "Tuhan, berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku dan aku mengampuninya? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, tapi tujuh puluh kali tujuh kali."

5. Kasih Tuhan

(Matius 22:37-39) Yesus berkata kepadanya: "Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dan segenap pikiranmu. Inilah perintah pertama dan yang terutama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti diri sendiri."

Dari kedua perikop tersebut, yang satu berbicara tentang pengampunan dan yang lainnya berbicara tentang kasih. Kedua topik ini benar-benar menyoroti pekerjaan yang ingin Tuhan Yesus lakukan pada Zaman Kasih Karunia.

Ketika Tuhan menjadi daging, Ia membawa serta satu tahap dari pekerjaan-Nya—Ia membawa serta pekerjaan dan watak khusus yang ingin Ia ungkapkan pada zaman itu. Pada masa itu, segala hal yang dilakukan Anak Manusia adalah seputar pekerjaan yang ingin dikerjakan Tuhan pada zaman itu. Dia tidak akan melakukan yang lebih atau kurang dari itu. Setiap hal yang Ia katakan dan setiap jenis pekerjaan yang Ia lakukan semuanya terkait dengan zaman itu. Tidak peduli apakah Ia mengungkapkannya dengan cara manusia lewat bahasa manusia atau lewat bahasa ilahi—tidak peduli cara yang mana, atau dari sudut pandang apa—tujuan-Nya adalah untuk membantu orang-orang mengerti apa yang ingin Ia lakukan, apa kehendak-Nya, dan apa persyaratan yang Ia tuntut dari orang-orang. Ia mungkin menggunakan berbagai cara dari berbagai sudut pandang berbeda untuk membantu orang-orang memahami dan mengetahui kehendak-Nya, dan memahami pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Jadi, pada Zaman Kasih Karunia kita melihat bahwa Tuhan Yesus sering menggunakan bahasa manusia untuk mengungkapkan apa yang ingin Ia sampaikan kepada umat manusia. Bahkan, kita melihat-Nya dari sudut pandang seorang penuntun biasa yang berbicara kepada orang-orang, membekali kebutuhan mereka, membantu mereka sesuai dengan permintaan mereka. Cara bekerja seperti ini tidak pernah dilihat sebelumnya pada Zaman Hukum Taurat yang mendahului Zaman Kasih Karunia. Ia menjadi lebih akrab dan lebih penuh kasih sayang terhadap umat manusia, dan juga lebih mampu mencapai hasil-hasil yang nyata baik dalam wujud maupun caranya. Pernyataan-Nya untuk mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali benar-benar memperjelas poin ini. Tujuan yang dicapai oleh angka pada pernyataan ini adalah membuat orang-orang memahami maksud dari Tuhan Yesus pada saat Ia mengatakan ini. Maksud-Nya adalah bahwa orang mesti memaafkan sesamanya—tidak hanya sekali dua kali, bahkan tidak hanya tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Gagasan macam apa "tujuh puluh kali tujuh" ini? Ini demi membuat orang-orang menjadikan pengampunan sebuah tanggung jawab bagi diri mereka sendiri, suatu hal yang harus mereka pelajari, dan jalan yang harus mereka patuhi. Meskipun ini hanya sebuah ungkapan, ini juga merupakan sebuah poin yang sangat penting. Ungkapan ini membantu orang-orang untuk sungguh-sungguh menghargai apa yang Ia maksudkan dan menemukan cara-cara yang tepat untuk menerapkannya, serta menemukan prinsip dan standar dalam penerapannya. Ungkapan ini membantu orang-orang memahami dengan jelas dan memberi mereka konsep yang tepat bahwa mereka harus belajar tentang pengampunan—mengampuni orang lain tanpa syarat dan batasan, melainkan dengan sikap toleran dan pengertian terhadap sesama. Ketika Tuhan Yesus mengatakan ini, apakah yang ada di dalam hati-Nya? Apakah Ia benar-benar memikirkan jumlah tujuh puluh kali tujuh? Tidak. Apakah ada batasan angka bagi Tuhan untuk mengampuni manusia? Ada banyak orang yang sangat tertarik dengan angka "berapa kali" yang disebutkan di sini, orang-orang ini sedemikian inginnya memahami asal dan arti dari angka ini. Mereka ingin memahami mengapa angka ini keluar dari mulut Tuhan Yesus; mereka percaya bahwa harus ada implikasi yang lebih dalam di balik angka tersebut. Pada kenyataannya, ini hanyalah ungkapan Tuhan dalam wujud manusia. Implikasi atau maksud apa pun harus diterima bersama-sama dengan persyaratan Tuhan Yesus terhadap manusia. Sebelum Tuhan menjadi daging, orang-orang tidak begitu paham akan apa yang Ia katakan karena pernyataan tersebut datang dari keilahian sepenuhnya. Sudut pandang maupun konteks dari perkataan-Nya tidak terlihat mata dan tidak mampu dicapai oleh umat manusia; perkataan-Nya dinyatakan dari alam roh yang tidak dapat dilihat manusia. Bagi orang-orang yang hidup dalam daging, mereka tidak bisa melewati alam roh. Akan tetapi setelah Tuhan menjadi daging, Ia berbicara kepada umat manusia dari sudut pandang manusia. Ia keluar dan melampaui lingkup alam roh. Dengan demikian Ia dapat mengungkapkan watak ilahi, kehendak, dan sikap-Nya, melalui hal-hal yang dapat dibayangkan manusia, dan melalui hal-hal yang dapat mereka lihat serta jumpai dalam kehidupan mereka; Ia menggunakan cara-cara yang dapat diterima manusia, lewat bahasa yang dapat mereka mengerti, dan pengetahuan yang dapat mereka pahami, semuanya demi membuat mereka mengerti dan mengenal Tuhan, demi membuat mereka memahami maksud-Nya dan standar yang dituntut-Nya dari mereka dalam lingkup kapasitas mereka, sesuai batas kemampuan mereka. Ini adalah metode dan prinsip pekerjaan Tuhan dalam wujud manusia. Meskipun cara-cara dan prinsip Tuhan ketika bekerja dalam daging sebagian besar dapat tercapai dengan atau melalui wujud manusia, cara-cara tersebut benar-benar mencapai hasil yang tidak dapat dicapai dengan bekerja secara langsung dalam keilahian. Pekerjaan Tuhan dalam wujud manusia bersifat lebih nyata, autentik, dan terarah. Metode yang Ia gunakan lebih fleksibel, dan dalam bentuk yang melampaui Zaman Hukum Taurat.

Selanjutnya, mari kita membahas tentang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesamamu layaknya mengasihi dirimu sendiri. Apakah ini sesuatu yang diungkapkan secara langsung dalam keilahian? Tentu saja tidak! Ini adalah segala hal yang disampaikan Anak Manusia dalam wujud manusia. Hanya manusia yang mengatakan hal seperti, "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Mengasihi orang lain sama dengan menyayangi nyawamu sendiri," dan hanya manusia yang akan berbicara dengan cara seperti ini. Tuhan tidak pernah berbicara dengan cara demikian. Paling tidak, Tuhan tidak memiliki bahasa sejenis ini dalam keilahian-Nya karena Ia tidak membutuhkan prinsip semacam ini, yakni "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" untuk mengatur kasih-Nya bagi umat manusia, karena kasih Tuhan kepada umat manusia merupakan pengungkapan yang wajar dari apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Kapankah engkau semua pernah mendengar Tuhan mengatakan "Aku mengasihi manusia layaknya Aku mengasihi diri-Ku sendiri"? Karena kasih itu sendiri ada dalam esensi Tuhan, dan ada dalam apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Kasih Tuhan bagi umat manusia dan cara Ia memperlakukan orang-orang dan sikapnya, semua itu merupakan pernyataan dan pengungkapan yang wajar dari watak-Nya. Ia tidak perlu secara sengaja melakukan hal ini dengan menggunakan cara tertentu, atau secara sengaja mengikuti metode atau kode moral tertentu untuk bisa mengasihi sesama-Nya seperti diri-Nya sendiri—Ia sudah memiliki esensi semacam ini. Apa yang engkau lihat dalam hal ini? Ketika Tuhan bekerja dalam wujud manusia, banyak cara-cara, perkataan, dan kebenaran-Nya diungkapkan dalam cara yang manusiawi. Tetapi pada saat yang sama watak Tuhan, apa yang Ia miliki dan siapa Ia, serta kehendak-Nya diungkapkan agar orang-orang bisa mengetahui dan memahaminya. Apa yang mereka ketahui dan pahami memang merupakan esensi-Nya, serta apa yang Ia miliki dan siapa Ia, yang merepresentasikan identitas dan status inheren Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, Anak Manusia dalam daging mengungkapkan watak dan esensi inheren Tuhan itu sendiri dengan cara yang sebaik dan seakurat mungkin. Wujud manusia dari Anak Manusia bukan hanya tidak menjadi penghalang atau rintangan bagi komunikasi dan interaksi manusia dengan Tuhan yang di surga, tetapi wujud manusia ini justru menjadi satu-satunya saluran dan jembatan bagi umat manusia untuk terhubung dengan Tuhan segala ciptaan. Pada titik ini, tidakkah engkau semua merasakan bahwa ada banyak kesamaan antara sifat dan metode pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia dengan tahap pekerjaan-Nya yang sekarang? Tahap pekerjaan yang sekarang juga menggunakan banyak bahasa manusia untuk mengungkapkan watak Tuhan, dan menggunakan banyak bahasa dan cara-cara dari kehidupan sehari-hari manusia, juga pengetahuan mereka untuk mengungkapkan kehendak Tuhan itu sendiri. Begitu Tuhan telah menjadi daging, tidak peduli apakah Ia berbicara dari sudut pandang manusiawi atau ilahi, banyak dari perkataan dan cara pengungkapan-Nya dilakukan melalui media bahasa dan cara-cara manusia. Artinya, ketika Tuhan menjadi daging, ini merupakan peluang terbaik bagimu untuk menyaksikan kemahakuasaan Tuhan dan hikmat-Nya, dan mengenal setiap aspek nyata dari Tuhan. Ketika Tuhan menjadi daging, dalam pertumbuhan-Nya menjadi dewasa, Ia belajar, menjadi paham, dan mengerti sejumlah pengetahuan, akal sehat, bahasa, serta cara-cara pengungkapan manusia. Tuhan yang berinkarnasi memiliki segala hal yang berasal dari umat manusia yang telah diciptakan-Nya. Hal-hal ini menjadi alat bagi Tuhan dalam daging untuk mengungkapkan watak dan keilahian-Nya, serta memungkinkan-Nya menjadikan pekerjaan-Nya lebih bisa diterapkan, lebih autentik, dan lebih akurat ketika Ia bekerja di tengah umat manusia, dari sudut pandang manusia dan menggunakan bahasa manusia. Ini menjadikan pekerjaan-Nya lebih mudah dicerna dan dipahami oleh orang-orang, dan dengan demikian mencapai hasil yang Tuhan inginkan. Bukankah lebih praktis bagi Tuhan untuk bekerja dalam wujud daging seperti ini? Bukankah ini hikmat Tuhan? Ketika Tuhan menjadi daging, ketika wujud daging Tuhan bisa memikul pekerjaan yang ingin Ia laksanakan, inilah waktunya ketika Ia secara nyata mengungkapkan watak dan pekerjaan-Nya, ini juga adalah waktu ketika Ia bisa secara resmi memulai pelayanan-Nya sebagai Anak Manusia. Ini artinya bahwa tidak ada lagi jurang pemisah antara Tuhan dan manusia, bahwa Tuhan akan segera menghentikan pekerjaan-Nya berkomunikasi melalui para utusan, dan bahwa Tuhan sendiri mampu secara pribadi mengungkapkan seluruh firman dan pekerjaan-Nya dalam daging sesuai yang Ia inginkan. Ini juga berarti bahwa orang-orang yang diselamatkan Tuhan berada lebih dekat dengan-Nya, bahwa pekerjaan pengelolaan-Nya telah memasuki wilayah baru, dan bahwa seluruh umat manusia akan diperhadapkan pada era yang baru.

Setiap orang yang telah membaca Alkitab tahu bahwa banyak hal terjadi saat kelahiran Tuhan Yesus. Yang paling luar biasa adalah bahwa Ia diburu oleh raja para Iblis, yang bahkan sampai membantai semua anak-anak berusia dua tahun atau kurang di wilayah tersebut. Jelaslah bahwa Tuhan mengambil risiko besar dengan menjadi daging di tengah manusia; harga mahal yang Ia bayar demi menyelesaikan pengelolaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia juga jelas terlihat. Harapan besar yang dimiliki Tuhan atas pekerjaan-Nya di tengah umat manusia dalam wujud daging juga jelas dilihat. Ketika wujud daging Tuhan mampu memikul pekerjaan di tengah umat manusia, bagaimanakah perasaan-Nya? Orang-orang seharusnya mampu sedikit memahami tentang hal ini, bukan? Setidaknya, Tuhan merasa senang karena Ia dapat mulai mengembangkan pekerjaan baru-Nya di tengah manusia. Ketika Tuhan Yesus dibaptis dan secara resmi memulai pekerjaan-Nya untuk memenuhi pelayanan-Nya, hati Tuhan dipenuhi sukacita karena setelah bertahun-tahun penantian dan persiapan, Ia akhirnya dapat mengenakan daging manusia biasa dan memulai pekerjaan baru-Nya dalam wujud seorang manusia yang memiliki darah dan daging yang dapat dilihat dan disentuh orang. Ia akhirnya dapat berbicara muka-ke-muka dan hati-ke-hati dengan orang-orang melalui identitas seorang manusia. Tuhan akhirnya bisa bertatap muka dengan manusia lewat bahasa manusia, dengan cara manusia; Ia bisa membekali umat manusia, mencerahkan mereka, dan membantu mereka dengan menggunakan bahasa manusia. Ia bisa bersantap di meja yang sama dan tinggal dalam ruang yang sama dengan mereka. Ia juga bisa melihat manusia, melihat hal-hal, dan melihat segalanya dengan cara yang sama dengan cara manusia melihat lewat mata mereka sendiri. Bagi Tuhan, ini sudah merupakan kemenangan pertama dari pekerjaan-Nya dalam daging. Dapat dikatakan juga bahwa ini merupakan pencapaian dari sebuah pekerjaan besar—ini tentunya merupakan hal yang paling membahagiakan Tuhan. Saat itu adalah pertama kalinya Tuhan merasakan kesenangan dalam pekerjaan-Nya di tengah manusia. Seluruh peristiwa tersebut begitu nyata dan alamiah, dan kesenangan yang Tuhan rasakan begitu autentik. Bagi umat manusia, setiap kali tahapan baru dari pekerjaan Tuhan tercapai, dan setiap kali Tuhan merasa puas, itu adalah saat manusia dapat menjadi semakin dekat dengan Tuhan, dan saat mereka semakin dekat dengan keselamatan. Bagi Tuhan, ini juga merupakan peluncuran pekerjaan baru-Nya, saat rancangan pengelolaan-Nya berjalan selangkah lebih maju, dan, lebih dari itu, merupakan saat kehendak-Nya mendekati pencapaian sempurna. Bagi umat manusia, datangnya kesempatan seperti ini merupakan sebuah keuntungan, dan sangat baik bagi mereka; karena bagi mereka yang menantikan keselamatan dari Tuhan, ini adalah kabar gembira. Ketika Tuhan melaksanakan tahap yang baru dari pekerjaan-Nya, pada saat itu Ia mengadakan permulaan yang baru, dan ketika pekerjaan dan permulaan baru ini diluncurkan dan diperkenalkan di tengah manusia, saat itulah hasil dari tahap pekerjaan tersebut telah ditentukan, dan telah tercapai, dan Tuhan telah melihat dampak akhir dan buah dari pekerjaan itu. Ini juga saat dampak-dampak tersebut membuat Tuhan puas, dan hati-Nya, tentu saja, menjadi bahagia. Karena, di mata Tuhan, Ia telah melihat dan menetapkan orang-orang yang Ia cari, dan Ia telah memperoleh sekelompok orang ini, sekelompok yang bisa membuat pekerjaan-Nya berhasil dan memberi kepada-Nya kepuasan, Tuhan menjadi tenang, Ia bisa menyingkirkan kekhawatiran-Nya, dan Ia merasa bahagia. Dengan kata lain, ketika daging Tuhan bisa memulai pekerjaan baru di tengah manusia, dan Ia memulai pekerjaan yang harus Ia lakukan tanpa halangan, dan ketika Ia merasa bahwa semuanya telah tercapai, Ia telah melihat garis akhirnya. Dan oleh karena garis akhir tersebut, Ia merasa puas, dan hati-Nya bahagia. Bagaimanakah kebahagiaan Tuhan diungkapkan? Dapatkah engkau semua membayangkannya? Akankah Tuhan menangis? Bisakah Tuhan menangis? Bisakah Ia bertepuk tangan? Bisakah Tuhan menari? Bisakah Tuhan menyanyi? Seperti apakah lagu yang Ia nyanyikan? Tentu saja Tuhan bisa menyanyikan lagu yang indah dan menyentuh, lagu yang bisa mengungkapkan sukacita dan kebahagiaan dalam hati-Nya. Ia dapat menyanyikannya bagi manusia, bagi diri-Nya sendiri, dan bagi semua hal. Kebahagiaan Tuhan dapat diungkapkan dengan cara apa pun—semuanya ini normal karena Tuhan memiliki perasaan sukacita dan kesedihan, dan berbagai perasaan-Nya itu dapat diungkapkan dalam berbagai cara berbeda. Ini adalah hak-Nya dan ini adalah hal yang sangat normal. Engkau semua tidak perlu berpikiran macam-macam tentang ini, dan jangan memaksakan larangan-laranganmu sendiri terhadap Tuhan, memberitahukan kepada-Nya bahwa Ia tidak patut melakukan ini atau itu, bahwa Ia tidak patut berlaku seperti ini atau seperti itu, membatasi kebahagiaan atau perasaan-Nya. Dalam hati orang-orang mereka merasa bahwa tidak mungkin Tuhan merasa bahagia, tidak mungkin Ia menitikkan air mata, tidak mungkin Ia menangis—tidak mungkin Ia mengungkapkan emosi apa pun. Melalui apa yang telah kami sampaikan dua kali ini, Aku percaya engkau semua tidak akan lagi memandang Tuhan dengan cara demikian, melainkan membiarkan Tuhan memiliki kebebasan dan kelepasan. Ini adalah hal yang sangat baik. Kelak apabila engkau semua sungguh-sungguh mampu merasakan kesedihan Tuhan ketika engkau mendengar bahwa Ia sedang sedih, dan apabila engkau semua sungguh-sungguh merasakan kebahagiaan-Nya ketika engkau mendengar bahwa Ia sedang bahagia—setidaknya, engkau semua mampu secara jelas mengetahui dan memahami apa saja yang membuat Tuhan bahagia dan apa yang membuat-Nya sedih—ketika engkau mampu merasa sedih karena Tuhan sedang sedih, dan merasa bahagia ketika Tuhan bahagia, Ia telah sepenuhnya memperoleh hatimu dan tidak akan ada lagi penghalang antara dirimu dengan-Nya. Engkau tidak akan lagi berusaha membatasi Tuhan dengan imajinasi, konsepsi, dan pengetahuan manusia. Pada saat itu, Tuhan akan menjadi hidup dan jelas di dalam hatimu. Ia akan menjadi Tuhan dari hidupmu dan Tuhan atas segalanya yang berkenaan denganmu. Apakah engkau memiliki harapan demikian? Tidakkah engkau semua memiliki keyakinan bahwa engkau bisa mencapai hal ini?

Selanjutnya mari kita baca ayat-ayat berikut.

6. Khotbah di Bukit

1). Ucapan Bahagia (Matius 5:3-12)

2) Garam dan Terang (Matius 5:13-16)

3) Hukum Taurat (Matius 5:17-20)

4) Kemarahan (Matius 5:21-26)

5) Perbuatan Zinah (Matius 5:31-32)

6) Perceraian (Matius 5:31-32)

7) Sumpah (Matius 5:33-37)

8) Mata ganti Mata (5:38-42)

9) Kasihilah Musuhmu (Matius 5:43-48)

10) Petunjuk tentang Memberi (Matius 6:1-4)

11) Doa (Matius 6:5-8)

7. Perumpamaan Tuhan Yesus

1) Perumpamaan tentang Penabur (Matius 13:1-9)

2) Perumpamaan Lalang di antara Gandum (Matius 13:24-30)

3) Perumpamaan tentang Biji Sesawi (Matius 13:31-32)

4) Perumpamaan tentang Ragi (Matius 13:33)

5) Penjelasan tentang Perumpamaan Lalang di antara Gandum (Matius 13:36-43)

6) Perumpamaan tentang Harta Terpendam (Matius 13:44)

7) Perumpamaan tentang Mutiara (Matius 13:45-46)

8) Perumpamaan tentang Pukat (Matius 13:47-50)

8. Perintah-perintah

(Matius 22:37-39) Yesus berkata kepadanya: "Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu. Inilah perintah pertama dan yang terutama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti diri sendiri."

Pertama-tama, mari kita melihat masing-masing bagian dari "Khotbah di Bukit." Apakah yang terkait dengan semua ini? Dapat dikatakan dengan pasti bahwa semuanya ini lebih terangkat, lebih konkret, lebih dekat dengan kehidupan orang-orang dibandingkan peraturan-peraturan pada Zaman Hukum Taurat. Atau dalam bahasa modern, hal-hal ini lebih relevan dengan penerapan manusia yang aktual.

Mari kita baca isi spesifik dari hal-hal berikut: Bagaimana engkau seharusnya memahami ucapan bahagia? Apa yang harus engkau ketahui tentang hukum Taurat? Bagaimana seharusnya kemarahan didefinisikan? Bagaimana menangani para pelaku zinah? Apa yang dikatakan dan peraturan seperti apa yang mengatur tentang perceraian, dan siapa yang boleh bercerai dan siapa yang tidak boleh bercerai? Lalu bagaimana dengan perkara sumpah, mata ganti mata, kasihilah musuhmu, petunjuk tentang pemberian, dll.? Semua hal ini berkaitan dengan setiap aspek penerapan umat manusia dalam kepercayaan mereka terhadap Tuhan dan dalam mengikuti Tuhan. Sebagian penerapan-penerapan ini masih berlaku hingga saat ini, tetapi semua itu lebih mendasar dan sederhana dibandingkan persyaratan-persyaratan yang dituntut dari orang-orang di masa sekarang. Semua itu merupakan kebenaran-kebenaran dasar yang dijumpai orang-orang dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Dari sejak saat Tuhan Yesus mulai bekerja, Ia telah mulai menangani watak hidup umat manusia, tetapi masih berdasarkan pada hukum Taurat. Apakah peraturan-peraturan dan perkataan mengenai topik ini ada hubungannya dengan kebenaran? Tentu saja ada! Semua peraturan, prinsip, dan khotbah di Zaman Kasih Karunia ada kaitannya dengan watak Tuhan, dan dengan apa yang Ia miliki dan siapa Ia, dan tentu saja ada kaitannya dengan kebenaran. Apa pun yang diungkapkan Tuhan, bagaimana pun cara Ia mengungkapkannya, atau dalam bahasa apa pun semua itu diungkapkan, fondasinya, asal mulanya, dan titik awalnya, semuanya didasarkan pada prinsip-prinsip watak-Nya, juga apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Hal ini tidak mengandung kesalahan. Jadi meskipun di masa sekarang hal-hal yang Ia katakan ini nampak sedikit dangkal, engkau tidak dapat mengatakan bahwa hal-hal tersebut bukanlah kebenaran, karena hal-hal tersebut tidak tergantikan bagi orang-orang di Zaman Kasih Karunia dalam rangka memuaskan kehendak Tuhan dan demi mencapai perubahan dalam watak hidup mereka. Dapatkah engkau mengatakan ada satu bagian dari khotbah tersebut yang tidak sesuai dengan kebenaran? Tentu tidak! Masing-masing bagiannya adalah kebenaran karena semuanya merupakan persyaratan Tuhan bagi umat manusia; semuanya adalah prinsip-prinsip dan cara pandang yang diberikan Tuhan tentang bagaimana seseorang berperilaku, dan semua itu merepresentasikan watak Tuhan. Akan tetapi, berdasarkan tingkat pertumbuhan kehidupan orang-orang pada waktu itu, mereka hanya mampu menerima dan memahami hal-hal ini. Karena dosa umat manusia belum terselesaikan, Tuhan Yesus hanya dapat mengeluarkan perkataan-perkataan ini, dan Ia hanya dapat menggunakan ajaran-ajaran sederhana dalam lingkup semacam ini untuk menyampaikan kepada orang-orang pada waktu itu bagaimana seharusnya mereka berbuat, apa yang harus mereka lakukan, dalam prinsip-prinsip serta lingkup seperti apa mereka mesti bertindak, dan bagaimana mereka harus percaya kepada Tuhan dan memenuhi persyaratan-Nya. Semuanya ini ditentukan berdasarkan tingkat pertumbuhan umat manusia pada waktu itu. Tidaklah mudah bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat untuk menerima ajaran-ajaran ini, jadi apa yang Tuhan Yesus ajarkan harus tetap berada dalam lingkup ini.

Selanjutnya, mari kita melihat apa yang ada dalam "Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus"

Yang pertama adalah perumpamaan tentang penabur. Ini adalah perumpamaan yang begitu menarik; menabur benih adalah hal yang lumrah dalam kehidupan orang-orang. Yang kedua adalah perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Mengenai lalang, orang dewasa atau siapa pun yang pernah bertani pastinya tahu akan ini. Yang ketiga adalah perumpamaan tentang biji sesawi. Engkau semua tentunya tahu apa itu biji sesawi, bukan begitu? Jika engkau tidak tahu, engkau bisa membacanya di dalam Alkitab. Yang keempat adalah perumpamaan tentang ragi, yang dikenal sebagai bahan untuk fermentasi; ragi digunakan oleh orang-orang dalam keseharian mereka. Seluruh perumpamaan di bawah ini, termasuk yang keenam, perumpamaan tentang harta terpendam; yang ketujuh, perumpamaan tentang mutiara; lalu yang kedelapan, perumpamaan tentang pukat, semuanya diambil dari keseharian orang-orang; semuanya berasal dari kehidupan nyata mereka. Gambaran seperti apa yang dilukiskan perumpamaan-perumpamaan tersebut? Ini adalah gambaran tentang Tuhan yang menjadi manusia biasa dan hidup di tengah umat manusia, menggunakan bahasa dari kehidupan normal, menggunakan bahasa manusia untuk berkomunikasi dengan manusia dan untuk membekali kebutuhan mereka. Ketika Tuhan menjadi daging dan hidup di tengah umat manusia untuk waktu yang lama, setelah Ia mengalami dan menyaksikan berbagai macam gaya hidup orang, pengalaman-pengalaman ini menjadi panduan-Nya untuk mengubah bahasa ilahi-Nya ke dalam bahasa manusia. Tentunya, hal-hal yang Ia lihat dan dengar dalam kehidupan turut memperkaya pengalaman Sang Anak Manusia. Ketika Ia ingin membuat orang mengerti akan beberapa kebenaran, membuat mereka mengerti sebagian dari kehendak Tuhan, Ia dapat menggunakan perumpamaan yang mirip dengan yang telah disebutkan di atas untuk menyampaikan kehendak Tuhan dan persyaratan-Nya terhadap manusia. Perumpamaan-perumpamaan tersebut semuanya terkait dengan kehidupan manusia; tidak ada satu pun yang tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia. Ketika Tuhan Yesus hidup di tengah umat manusia, Ia melihat petani bekerja di ladang mereka, Ia mengetahui apa itu lalang dan apa itu ragi; Ia mengerti bahwa manusia menyukai harta, jadi Ia menggunakan perumpamaan tentang harta dan mutiara; Ia sering melihat nelayan melempar jala ke laut; dan sebagainya. Tuhan Yesus melihat aktivitas-aktivitas ini dalam kehidupan manusia, dan Ia juga mengalami kehidupan semacam itu. Ia sama seperti manusia-manusia biasa lainnya, Ia makan tiga kali sehari dan mengalami rutinitas sehari-hari. Ia secara pribadi mengalami kehidupan seorang manusia kebanyakan, dan Ia menyaksikan kehidupan orang-orang lain. Ketika Ia menyaksikan dan secara pribadi mengalami semuanya ini, apa yang Ia pikirkan bukanlah tentang bagaimana memiliki kehidupan yang baik atau bagaimana Ia dapat hidup dengan lebih bebas, dengan lebih nyaman. Ketika Tuhan Yesus sedang mengalami kehidupan manusia yang autentik, Ia menyaksikan kesukaran dalam kehidupan orang-orang, Ia menyaksikan kesusahan, kemalangan, dan kesedihan orang-orang yang hidup di bawah pengrusakan Iblis, di bawah kekuasaan Iblis, dan dalam kehidupan berdosa mereka. Ketika Ia sedang mengalami kehidupan manusia secara pribadi, Ia juga mengalami betapa tidak berdayanya orang-orang yang hidup di tengah kerusakan, dan Ia menyaksikan dan mengalami kepedihan yang dirasakan mereka yang hidup dalam dosa, yang tersesat dalam siksaan oleh Iblis, oleh kejahatan. Ketika Tuhan Yesus melihat hal-hal ini, apakah Ia melihatnya dari kacamata keilahian atau kemanusiaan-Nya? Kemanusiaan-Nya itu benar-benar ada—benar-benar hidup—Ia dapat merasakan dan melihat semuanya ini, dan tentu saja Ia juga melihatnya dalam esensi-Nya, dalam keilahian-Nya. Artinya, Kristus itu sendiri, Tuhan Yesus sang manusia menyaksikan ini, dan segala hal yang Ia saksikan membuat-Nya merasakan betapa penting dan betapa perlunya pekerjaan yang telah Ia pikul pada waktu itu dalam daging. Meskipun Ia sendiri mengetahui bahwa tanggung jawab yang perlu Ia pikul dalam daging sangatlah berat, dan betapa kejamnya rasa sakit yang harus Ia tanggung nantinya, saat Ia melihat bahwa umat manusia tidak berdaya dalam dosa, ketika Ia menyaksikan malangnya hidup mereka dan lemahnya pergumulan mereka di bawah hukum Taurat, Ia semakin merasakan kesedihan, dan menjadi semakin gelisah untuk segera menyelamatkan manusia dari dosa. Tak peduli kesulitan seperti apa yang akan Ia hadapi atau derita seperti apa yang harus Ia tanggung, tekad-Nya menjadi semakin bulat untuk menebus umat manusia yang hidup dalam dosa. Selama proses ini, bisa engkau katakan bahwa Tuhan Yesus mulai memahami lebih jelas pekerjaan yang perlu Ia lakukan dan apa yang telah dipercayakan kepada-Nya. Ia juga menjadi semakin ingin menyelesaikan pekerjaan yang harus Ia pikul—untuk menanggung dosa seluruh umat manusia, menebus umat manusia agar supaya mereka tidak lagi hidup dalam dosa dan Tuhan akan dapat melupakan dosa manusia karena korban penebusan dosa, yang memungkinkan-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya menyelamatkan umat manusia. Dapat dikatakan bahwa dalam hati Tuhan Yesus, Ia rela menawarkan diri-Nya demi umat manusia, mengorbankan diri-Nya. Ia juga rela menjadi korban penebus dosa, untuk dipakukan pada kayu salib, dan Ia sangat ingin menyelesaikan pekerjaan ini. Ketika Ia menyaksikan betapa menyedihkannya hidup manusia, Ia semakin ingin untuk memenuhi misi-Nya secepat mungkin, tanpa tertunda semenit atau sedetik pun. Ketika merasakan keterdesakan seperti itu, Ia tidak lagi memikirkan betapa luar biasanya rasa sakit yang akan Ia tanggung, Ia tidak lagi memikirkan seberapa dalam penghinaan yang harus Ia terima—hanya ada satu keyakinan dalam hati-Nya: selama Ia mempersembahkan diri-Nya, selama Ia disalibkan sebagai korban penghapus dosa, kehendak Tuhan akan terlaksana dan Ia akan bisa memulai pekerjaan baru-Nya. Kehidupan umat manusia dalam dosa, keberadaan mereka dalam dosa, semua akan sepenuhnya berubah. Keyakinan-Nya dan apa yang bertekad Ia lakukan, semuanya berhubungan dengan menyelamatkan manusia, dan Ia hanya punya satu tujuan: untuk melaksanakan kehendak Tuhan, sehingga Ia dapat dengan berhasil memulai tahap selanjutnya dari pekerjaan-Nya. Inilah yang ada dalam pikiran Tuhan Yesus pada saat itu.

Dengan hidup dalam daging, Tuhan yang berinkarnasi memiliki kemanusiaan yang normal; Ia memiliki emosi dan cara berpikir manusia biasa. Ia tahu apa itu kebahagiaan, apa itu rasa sakit, dan ketika Ia melihat manusia menjalani kehidupan seperti ini, Ia merasakan secara mendalam bahwa hanya memberi mereka pengajaran, membekali mereka atau mengajarkan mereka sesuatu, itu tidak akan menuntun mereka keluar dari dosa. Ia juga merasa bahwa hanya menyuruh mereka mematuhi perintah, itu tidak akan menebus dosa mereka—hanya jika Ia memikul dosa manusia dan menjadi serupa dengan daging yang berdosa barulah Ia bisa menukarkannya dengan kebebasan manusia, menukarkannya dengan pengampunan Tuhan bagi umat manusia. Jadi setelah Tuhan Yesus mengalami dan menyaksikan kehidupan manusia dalam dosa, keinginan yang kuat terwujud dalam hati-Nya, yakni memampukan manusia untuk membebaskan diri mereka dari kehidupan yang penuh pergumulan dalam dosa. Keinginan ini membuat-Nya semakin merasa bahwa Ia mesti disalibkan dan memikul dosa manusia sesegera mungkin, secepat mungkin. Inilah pemikiran-pemikiran Tuhan Yesus pada waktu itu, setelah Ia hidup bersama manusia serta melihat, mendengar, dan merasakan kepedihan dari hidup mereka dalam dosa. Bahwa Tuhan yang berinkarnasi bisa memiliki kehendak seperti ini terhadap manusia, bahwa Ia bisa mengungkapkan watak seperti ini—apakah ini sesuatu yang bisa dimiliki orang kebanyakan? Hal seperti apa yang akan dilihat orang kebanyakan jika hidup dalam lingkungan seperti ini? Apa yang akan mereka pikirkan? Jika orang kebanyakan dihadapkan pada semua ini, akankah mereka melihat masalah dari sudut pandang yang lebih tinggi? Tentu saja tidak! Walaupun penampilan Tuhan yang berinkarnasi benar-benar serupa dengan manusia, walaupun Ia belajar pengetahuan manusia dan berbicara dalam bahasa manusia, dan walaupun terkadang Ia bahkan mengungkapkan gagasan-gagasan-Nya dengan cara-cara atau ungkapan manusia, cara Ia melihat manusia, esensi berbagai hal dengan cara orang-orang yang rusak melihat kemanusiaan dan esensi berbagai hal tentunya akan sama sekali berbeda. Sudut pandang dan ketinggian tempat Ia berdiri adalah hal yang tak tergapai bagi seseorang yang rusak. Ini karena Tuhan adalah kebenaran, daging yang Ia kenakan juga memiliki esensi Tuhan, begitu juga pemikiran-Nya dan hal-hal yang diungkapkan oleh wujud manusia-Nya adalah juga kebenaran. Bagi manusia yang rusak, hal-hal yang Ia ungkapkan dalam daging adalah perbekalan kebenaran dan kehidupan. Perbekalan ini bukan hanya untuk satu orang, melainkan untuk seluruh umat manusia. Bagi seorang yang rusak, di hatinya, hanya ada beberapa orang saja yang terkait dengannya. Hanya ada beberapa orang saja yang benar-benar ia pedulikan, yang benar-benar ia khawatirkan. Ketika bencana datang ia akan langsung memikirkan anaknya sendiri, pasangannya, atau orang tuanya; orang yang lebih dermawan mungkin akan memikirkan beberapa kerabat atau teman baik; apakah ia memikirkan lebih dari itu? Tidak pernah! Karena bagaimanapun, manusia adalah manusia, dan mereka hanya dapat melihat segala hal dari sudut pandang dan ketinggian seorang manusia. Akan tetapi, Tuhan yang berinkarnasi sama sekali berbeda dari orang yang rusak. Tak peduli sebiasa apa pun, senormal apa pun, dan sehina apa pun daging dari Tuhan yang berinkarnasi, atau bahkan serendah apa pun orang memandang-Nya, pemikiran dan sikap-Nya terhadap umat manusia adalah hal yang tidak bisa dimiliki seorang manusia pun, hal yang tidak mungkin ditiru seorang manusia pun. Ia akan selalu mengamati umat manusia dari sudut pandang ilahi, dari ketinggian kedudukan-Nya sebagai Sang Pencipta. Ia akan selalu memandang umat manusia melalui esensi dan pola pikir Tuhan. Ia sama sekali tidak bisa memandang umat manusia dari ketinggian seorang manusia kebanyakan, apalagi dari sudut pandang seorang yang rusak. Ketika orang-orang melihat umat manusia, mereka melihatnya dari penglihatan manusia, dan mereka menggunakan hal-hal seperti pengetahuan dan peraturan manusia dan teori sebagai tolak ukur. Semua ini berada dalam lingkup hal-hal yang bisa dilihat orang; berada dalam lingkup hal-hal yang bisa dicapai oleh manusia yang rusak. Ketika Tuhan melihat manusia, Ia melihatnya melalui penglihatan ilahi, dan Ia menggunakan esensi-Nya dan apa yang Ia miliki dan siapa Ia sebagai tolak ukur. Lingkup ini meliputi hal-hal yang tidak bisa dilihat manusia, dan di sinilah Tuhan yang berinkarnasi dan manusia yang rusak sepenuhnya berbeda. Perbedaan ini ditentukan oleh esensi yang berbeda antara manusia dan Tuhan, dan perbedaan esensi inilah yang menentukan identitas dan kedudukan mereka, sekaligus juga sudut pandang dan ketinggian tempat mereka melihat berbagai hal. Apakah engkau semua melihat pernyataan dan pengungkapan Tuhan itu sendiri dalam diri Tuhan Yesus? Engkau dapat mengatakan bahwa apa yang dilakukan dan dikatakan Tuhan Yesus terkait dengan pelayanan-Nya serta pekerjaan pengelolaan Tuhan sendiri, bahwa semuanya merupakan pernyataan dan pengungkapan esensi Tuhan. Meskipun Ia memiliki perwujudan manusia, esensi ilahi-Nya dan pengungkapan keilahian-Nya tidak dapat dibantah. Apakah perwujudan manusia ini benar-benar merupakan perwujudan umat manusia? Perwujudan manusia-Nya, secara esensi, sama sekali berbeda dari perwujudan manusia dari orang-orang yang rusak. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi, dan seandainya Ia hanyalah salah satu dari orang-orang biasa yang rusak, mampukah Ia melihat kehidupan manusia dalam dosa dari sudut pandang ilahi seperti ini? Jelas tidak mungkin! Inilah perbedaan antara Anak Manusia dengan orang-orang biasa. Orang-orang rusak semuanya hidup dalam dosa, dan ketika seseorang melihat dosa, mereka tidak merasakan apa pun akan hal itu; mereka semuanya sama, layaknya babi dalam lumpur yang sama sekali tidak merasa kurang nyaman, atau merasa kotor—ia makan dengan lahap, dan tidur dengan nyenyak. Apabila seseorang membersihkan kandang babi tersebut, ia tidak akan merasa tenang, dan tidak akan tahan bersih untuk waktu yang lama. Dalam waktu singkat, ia akan sekali lagi berguling di dalam lumpur, sepenuhnya merasa nyaman, karena ia adalah makhluk yang kotor. Ketika manusia melihat babi, ia merasa babi tersebut kotor, dan apabila engkau membersihkannya, babi tersebut tidak merasa lebih baik—karena inilah tidak ada seorang pun yang memelihara babi dalam rumah mereka. Cara manusia melihat babi akan selalu berbeda dengan cara para babi melihat diri mereka sendiri, karena manusia dan babi tidaklah sama. Dan karena Anak Manusia yang berinkarnasi tidaklah sama dengan manusia-manusia yang rusak, hanya Tuhan yang berinkarnasi yang dapat melihat dari perspektif ilahi, dan berdiri dari ketinggian Tuhan untuk melihat umat manusia, untuk melihat segala sesuatu.

Ketika Tuhan menjadi daging dan hidup di tengah manusia, penderitaan seperti apakah yang Ia alami dalam daging? Adakah orang yang benar-benar mengerti? Sebagian orang mengatakan bahwa Tuhan sangat menderita, dan meskipun Ia adalah Tuhan itu sendiri, orang-orang tidak memahami esensi-Nya dan selalu memperlakukan-Nya layaknya orang biasa, ini membuat-Nya merasa sangat sedih dan terluka—mereka mengatakan bahwa penderitaan Tuhan sungguhlah dahsyat. Yang lain mengatakan bahwa Tuhan tidak bersalah dan tanpa dosa, tapi Ia menderita layaknya umat manusia dan merasakan penganiayaan, fitnah, dan penghinaan bersama-sama umat manusia; mereka mengatakan Ia juga menanggung kesalahpahaman dan ketidaktaatan para pengikut-Nya—penderitaan Tuhan sungguh tidak dapat diukur. Nampaknya engkau semua tidak sungguh-sungguh memahami Tuhan. Sesungguhnya, penderitaan yang engkau semua katakan ini tidak terhitung sebagai penderitaan yang sebenarnya bagi Tuhan, karena masih ada penderitaan yang lebih dahsyat dari ini. Lalu, apakah penderitaan yang sebenarnya bagi Tuhan itu sendiri? Apakah penderitaan yang sebenarnya bagi tubuh Tuhan yang berinkarnasi? Bagi Tuhan, tidak terhitung sebagai penderitaan ketika umat manusia tidak memahami-Nya, dan ketika mereka memiliki kesalahpahaman akan Tuhan dan tidak memandang-Nya sebagai Tuhan, itu juga tidak terhitung sebagai penderitaan. Akan tetapi, orang-orang sering merasa bahwa Tuhan pastilah menderita ketidakadilan yang besar, karena semasa Tuhan berada dalam daging Ia tidak dapat memperlihatkan pribadi-Nya kepada manusia dan membuat mereka melihat kebesaran-Nya, dan karena Tuhan dengan rendah hati bersembunyi dalam daging yang tidak berarti, pastilah keadaan itu sangat menyiksa bagi-Nya. Orang menelan mentah-mentah apa yang mampu mereka pahami dan apa yang dapat mereka pahami tentang penderitaan Tuhan, lalu mengungkapkan berbagai simpati terhadap Tuhan dan bahkan seringkali menawarkan sedikit pujian untuk hal itu. Pada kenyataannya, ada perbedaan, ada jurang di antara apa yang mampu dipahami orang-orang mengenai penderitaan Tuhan dan apa yang sebenarnya Ia rasakan. Aku memberitahukan kepadamu kebenarannya—bagi Tuhan, tidak peduli apakah itu bagi Roh Tuhan atau bagi tubuh Tuhan yang berinkarnasi, penderitaan tersebut bukanlah penderitaan yang sebenarnya. Lalu apakah sebenarnya yang Tuhan derita? Mari kita membahas tentang penderitaan Tuhan hanya dari sudut pandang Tuhan yang berinkarnasi.

Ketika Tuhan menjadi daging, menjadi orang biasa pada umumnya, hidup di tengah umat manusia, berdampingan dengan orang-orang, tidak dapatkah Ia melihat dan merasakan cara-cara, hukum, dan falsafah hidup orang-orang? Bagaimanakah perasaan-Nya tentang cara-cara dan hukum kehidupan tersebut? Apakah ada kebencian dalam hati-Nya? Mengapa Ia harus merasa benci? Apa sajakah cara-cara dan peraturan-peraturan hidup manusia? Prinsip apa sajakah yang menjadi akarnya? Apa yang mendasarinya? Cara-cara, hukum, dan hal-hal lain bagi kehidupan manusia—semuanya ini diciptakan berdasarkan logika, pengetahuan, dan falsafah Iblis. Umat manusia yang hidup di bawah jenis hukum seperti ini tidak memiliki kemanusiaan, tidak memiliki kebenaran—mereka semua menentang kebenaran, dan memusuhi Tuhan. Jika kita memperhatikan esensi Tuhan, kita melihat bahwa esensi-Nya sama sekali berlawanan dengan logika, pengetahuan, dan falsafah Iblis. Esensi-Nya penuh dengan keadilan, kebenaran, kesucian, dan realitas lainnya dari segala hal yang positif. Tuhan yang memiliki esensi seperti ini dan hidup di tengah umat manusia yang demikian—apakah yang Ia rasakan dalam hati-Nya? Bukankah hati-Nya penuh dengan rasa sakit? Hati-Nya merasakan kesakitan, dan rasa sakit ini tidak dapat dimengerti atau disadari seorang pun. Karena segala sesuatu yang Ia hadapi, temui, dengar, lihat, dan alami adalah segala jenis kerusakan, kejahatan manusia, dan pemberontakan mereka terhadap kebenaran. Segala hal yang berasal dari manusia adalah sumber penderitaan-Nya. Dengan kata lain, karena esensi-Nya tidak sama dengan manusia-manusia yang rusak, kerusakan umat manusia menjadi sumber penderitaan-Nya yang paling besar. Ketika Tuhan menjadi daging, dapatkah Ia menemukan seseorang yang memiliki bahasa yang sama dengan-Nya? Ini tidaklah mungkin ditemukan di tengah umat manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat berkomunikasi, yang dapat bercakap seperti ini dengan Tuhan—perasaan seperti apakah menurutmu yang Tuhan rasakan? Hal-hal yang orang bicarakan, yang mereka cintai, yang mereka kejar dan dambakan semuanya berkaitan dengan dosa, dengan kecenderungan yang jahat. Ketika Tuhan menghadapi semua ini, bukankah rasanya seperti pisau menghunjam hati-Nya? Ketika dihadapkan pada semua ini, bisakah Ia merasakan sukacita di dalam hati-Nya? Bisakah Ia menemukan penghiburan? Mereka yang hidup dengan-Nya adalah manusia-manusia yang penuh dengan pemberontakan dan kejahatan—bagaimana mungkin hati-Nya tidak menderita? Seberapa hebatkah penderitaan ini, sesungguhnya dan siapakah yang peduli akan ini? Siapakah yang menghiraukannya Siapa yang akan menghargai ini? Orang-orang tidak punya cara untuk memahami hati Tuhan. Penderitaan-Nya adalah hal yang secara khusus tidak mampu dihargai orang-orang, dan ketidakpedulian dan ketidakpekaan manusia memperparah penderitaan-Nya.

Ada orang-orang yang sering bersimpati terhadap kesusahan Kristus karena ada ayat di Alkitab yang berbunyi: "Serigala punya lubang, dan burung di udara punya sarang; tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Ketika orang-orang mendengar hal ini, mereka menelannya mentah-mentah dan percaya bahwa ini adalah penderitaan terbesar yang ditanggung Tuhan, dan penderitaan terbesar yang ditanggung Kristus. Sekarang, melihatnya dari sudut pandang fakta, benarkah demikian? Tuhan tidak merasa bahwa kesukaran-kesukaran ini adalah penderitaan. Ia tidak pernah menangisi ketidakadilan karena kesukaran dalam daging, dan Ia tidak pernah membuat manusia membalas jasa atau mengembalikan apa pun kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Ia menyaksikan segalanya yang berkaitan dengan umat manusia, kehidupan mereka yang rusak dan kejahatan dari manusia yang rusak, ketika Ia menyaksikan betapa umat manusia berada dalam genggaman tangan Iblis dan dipenjara oleh Iblis dan tidak bisa melepaskan dirinya, ketika Ia menyaksikan bahwa orang-orang yang hidup dalam dosa tidak dapat melihat apa itu kebenaran—Ia tidak tahan dengan semua dosa ini. Kebencian-Nya terhadap umat manusia semakin bertambah hari demi hari, tetapi Ia mesti menanggung semua itu. Inilah penderitaan besar bagi Tuhan. Tuhan tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan bahkan suara dari hati-Nya atau perasaan-Nya di antara pengikut-Nya, dan tidak ada seorang pun dari antara pengikut-Nya yang dapat benar-benar memahami penderitaan-Nya. Bahkan tidak ada yang mencoba untuk mengerti atau menghibur hati-Nya—hati-Nya memikul penderitaan ini hari demi hari, tahun demi tahun, lagi dan lagi. Apa yang engkau semua lihat dari semuanya ini? Tuhan tidak membutuhkan apa pun sebagai imbalan dari manusia untuk apa yang telah Ia berikan, tetapi oleh karena esensi Tuhan, Ia sama sekali tidak bisa menolerir kejahatan, kerusakan, dan dosa umat manusia, tetapi Ia merasakan muak dan kebencian yang amat sangat, yang membuat hati Tuhan dan tubuh daging-Nya menanggung penderitaan tanpa akhir. Dapatkah engkau semua melihat semuanya ini? Kemungkinan besar, tidak seorang pun dari antaramu yang mampu melihat ini, karena tidak ada seorang pun dari engkau semua dapat benar-benar mengerti Tuhan. Seiring berjalannya waktu engkau semua bisa secara bertahap mengalaminya sendiri.

Selanjutnya, mari kita melihat perikop-perikop berikut dalam Kitab Suci.

9. Tuhan Yesus Melakukan Mukjizat-Mukjizat

1) Tuhan Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang

(Yohanes 6:8-13) Salah satu dari murid-murid-Nya, Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Ada seorang anak kecil di sini, yang punya lima roti gandum dan dua ekor ikan kecil: tetapi apakah artinya itu dibanding dengan orang banyak ini?" Maka Yesus berkata: "Suruhlah mereka duduk." Di sana ada banyak rumput hijau. Maka mereka duduk, jumlahnya sekitar lima ribu laki-laki. Lalu Yesus mengambil roti itu; dan setelah mengucap syukur, Dia menyerahkannya kepada murid-murid-Nya dan murid-murid itu membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk, dan begitu juga yang dilakukan-Nya Dia perbuat dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Ketika mereka sudah kenyang, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan sisanya, agar jangan sampai ada yang terbuang." Karena itu mereka mengumpulkan semuanya dan memenuhi dua belas keranjang dengan sisa potongan dari lima roti gandum, yang tersisa setelah mereka makan.

2) Kebangkitan Lazarus Memuliakan Tuhan

(Yohanes 11:43-44) Dan ketika Dia sudah berkata demikian, Dia berseru dengan suara keras: "Lazarus, keluarlah!" Maka orang yang sudah mati itu datang keluar, tangan dan kakinya masih terikat dengan kain kafan dan wajahnya tertutup dengan kain. Yesus berkata kepada mereka: "Lepaskan dia dan biarkan dia pergi."

Di antara mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, kita telah memilih hanya dua ini karena keduanya berguna untuk menunjukkan apa yang hendak Aku bahas di sini. Kedua mukjizat ini sangatlah menakjubkan, dan keduanya merepresentasikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia.

Pertama-tama, mari kita melihat perikop pertama: Tuhan Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang

Konsep macam apakah "lima roti dan dua ikan" itu? Biasanya cukup untuk memberi makan berapa orangkah lima roti dan dua ikan itu? Apabila engkau semua mengukur berdasarkan nafsu makan kebanyakan orang, ini hanya akan cukup untuk dua orang. Inilah konsep paling mendasar dari lima roti dan dua ikan. Namun, dalam perikop ini tercatat ada berapa banyak orang yang diberi makan dengan lima roti dan dua ikan? Tercatat seperti ini dalam Kitab Suci: "Di sana ada banyak rumput hijau. Maka mereka duduk, jumlahnya sekitar lima ribu laki-laki." Dibandingkan dengan lima roti dan dua ikan, apakah lima ribu angka yang besar? Apakah arti di balik besarnya angka ini? Dari sudut pandang manusia, membagi lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang adalah hal yang mustahil, karena perbedaannya terlalu jauh. Bahkan kalaupun setiap orang hanya diberi satu gigitan kecil, tetap tidak akan cukup bagi lima ribu orang. Tetapi di sini, Tuhan Yesus melakukan suatu mukjizat—Tidak saja Ia membuat lima ribu orang makan dengan kenyang, bahkan masih ada makanan tersisa. Tertulis dalam Kitab Suci: "Ketika mereka sudah kenyang, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: 'Kumpulkanlah potongan-potongan sisanya, agar jangan sampai ada yang terbuang.' Karena itu mereka mengumpulkan semuanya dan memenuhi dua belas keranjang dengan sisa potongan dari lima roti gandum, yang tersisa setelah mereka makan." Mukjizat ini memungkinkan orang-orang untuk melihat identitas dan status Tuhan Yesus, dan ini juga memungkinkan mereka untuk melihat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan—mereka melihat kebenaran mengenai kemahakuasaan Tuhan. Lima roti dan dua ikan cukup untuk memberi makan lima ribu orang, tetapi bagaimana seandainya tidak ada makanan sejak semula, masih dapatkah Tuhan memberi makan lima ribu orang ini? Tentu saja Ia bisa! Ini adalah mukjizat, sehingga tak terhindarkan orang-orang pun merasa bahwa ini adalah hal yang tidak dapat dipahami dan merasa ini sangatlah luar biasa dan misterius, tetapi bagi Tuhan, melakukan hal semacam ini adalah perkara kecil. Karena ini adalah hal yang biasa bagi Tuhan, mengapakah ini harus dikhususkan dalam penafsiran? Karena di balik mukjizat ini tersimpan kehendak Tuhan Yesus, yang tidak pernah ditemukan oleh umat manusia sebelumnya.

Pertama-tama, mari kita coba memahami orang-orang seperti apakah kelima ribu orang tersebut. Apakah mereka pengikut Tuhan Yesus? Dari Kitab Suci, kita tahu bahwa mereka bukanlah pengikut-Nya. Apakah mereka tahu siapa Tuhan Yesus? Tentu saja tidak! Setidaknya, mereka tidak tahu bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka adalah Kristus, atau mungkin sebagian dari mereka hanya mengenal nama-Nya saja, dan mengetahui sesuatu atau pernah mendengar hal-hal yang pernah Ia perbuat. Mereka hanya penasaran akan Tuhan Yesus dari cerita-cerita, tetapi engkau semua tentunya tidak dapat mengatakan bahwa mereka mengikuti-Nya, apalagi memahami-Nya. Ketika Tuhan Yesus melihat lima ribu orang ini, mereka sedang lapar dan hanya bisa memikirkan tentang makan sampai kenyang, jadi dalam konteks ini Tuhan Yesus memuaskan keinginan mereka. Ketika Ia memuaskan keinginan mereka, apakah yang ada di dalam hati-Nya? Bagaimanakah sikap-Nya terhadap orang-orang ini yang hanya ingin makan sampai kenyang? Pada saat ini, pikiran Tuhan Yesus dan sikap-Nya ada kaitannya dengan watak dan esensi Tuhan. Menghadapi lima ribu orang dengan perut kosong yang hanya ingin makan sampai kenyang, menghadapi orang-orang yang penuh rasa ingin tahu dan harapan akan Dia, Tuhan Yesus hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan mukjizat ini untuk melimpahkan kasih karunia kepada mereka. Akan tetapi, Ia tidak berharap banyak bahwa mereka akan menjadi pengikut-Nya, karena Ia tahu bahwa mereka hanya ingin turut dalam kesenangan dan makan sampai kenyang, jadi Ia melakukan yang terbaik yang bisa Ia lakukan dengan apa yang Ia miliki, dan menggunakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Ia membuka mata orang-orang ini yang menikmati hiburan, yang ingin menyaksikan mukjizat, dan mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri hal-hal yang bisa diselesaikan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Meskipun Tuhan Yesus menggunakan sesuatu yang kasatmata untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka, Ia sudah tahu dalam hati-Nya bahwa lima ribu orang ini hanya ingin makan kenyang, sehingga Ia tidak mengatakan apa pun kepada mereka juga tidak berkhotbah sama sekali kepada mereka—Ia hanya membiarkan mereka menyaksikan mukjizat ini. Ia sama sekali tidak bisa memperlakukan orang-orang ini dengan cara yang sama seperti Ia memperlakukan murid-murid-Nya yang sungguh-sungguh mengikuti-Nya, tetapi dalam hati Tuhan, semua makhluk berada di bawah kekuasaan-Nya, dan Ia akan membiarkan segala makhluk yang ada di hadapan-Nya untuk menikmati kasih karunia Tuhan jika memang perlu. Meskipun orang-orang ini tidak mengenal siapa Dia, tidak memahami-Nya, tidak punya kesan tertentu akan Dia, atau tidak menunjukkan rasa terima kasih kepada-Nya bahkan setelah mereka makan roti dan ikan tersebut, Tuhan tidak mempermasalahkan ini—Ia memberi kepada orang-orang ini kesempatan yang luar biasa untuk menikmati kasih karunia Tuhan. Sebagian orang mengatakan bahwa Tuhan bertindak berdasarkan prinsip yang kaku, dan bahwa Ia tidak menjaga atau melindungi orang-orang tidak percaya, dan bahwa Ia secara khusus tidak membiarkan orang-orang demikian menikmati kasih karunia-Nya. Benarkah begitu? Di mata Tuhan, selama mereka adalah makhluk hidup yang diciptakan oleh-Nya sendiri, Ia akan mengelola dan merawat mereka; Ia akan memperlakukan mereka, merancang bagi mereka, dan mengatur mereka dengan berbagai cara. Inilah pikiran-pikiran dan sikap Tuhan terhadap segala hal.

Meskipun lima ribu orang yang makan roti dan ikan tidak berencana mengikuti Tuhan Yesus, Ia tidak bertindak keras terhadap mereka. Setelah mereka makan sampai kenyang, tahukah engkau semua apa yang dilakukan Tuhan Yesus? Apakah Ia mengkhotbahkan sesuatu kepada mereka? Ke manakah Ia pergi setelah melakukan ini? Kitab Suci tidak mencatat bahwa Tuhan Yesus mengatakan apa pun kepada mereka; setelah Ia menyelesaikan mukjizat-Nya Ia diam-diam pergi. Jadi apakah Ia memberikan persyaratan kepada orang-orang ini? Apakah ada kebencian? Tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut—Ia hanya tidak ingin lagi memikirkan orang-orang ini yang tidak dapat mengikuti-Nya, dan pada saat itu hati-Nya sakit. Karena Ia telah melihat kemiskinan umat manusia dan Ia telah merasakan penolakan umat manusia terhadap-Nya, dan ketika Ia melihat orang-orang ini atau saat Ia bersama mereka, kebodohan dan kebebalan manusia membuat-Nya merasa sangat sedih dan hati-Nya pedih, karenanya Ia hanya ingin pergi meninggalkan orang-orang ini sesegera mungkin. Tuhan tidak ingin memiliki persyaratan apa pun mengenai mereka di dalam hati-Nya, Ia tidak ingin memikirkan mereka, secara khusus Ia tidak ingin membuang tenaga-Nya untuk mereka, dan Ia tahu mereka tidak bisa mengikuti-Nya—terlepas dari semua ini, sikap-Nya terhadap mereka tetap sangat jelas. Ia hanya ingin memperlakukan mereka dengan baik, memberi mereka kasih karunia—inilah sikap Tuhan terhadap setiap makhluk di bawah kekuasaan-Nya: terhadap setiap makhluk, memperlakukan mereka dengan murah hati, menyediakan kebutuhan mereka, memelihara mereka. Karena alasan inilah yaitu bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang berinkarnasi, maka Dia secara sangat wajar mengungkapkan esensi Tuhan itu sendiri dan memperlakukan orang-orang ini dengan baik. Ia memperlakukan mereka dengan baik dengan hati penuh belas kasihan dan toleransi. Tidak peduli bagaimana orang-orang ini memandang Tuhan Yesus, dan tidak peduli bagaimana hasil akhirnya, Ia hanya memperlakukan setiap makhluk berdasarkan posisi-Nya sebagai Tuhan atas segala ciptaan. Yang diungkapkan-Nya, tanpa terkecuali, adalah watak Tuhan, apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Jadi Tuhan Yesus dengan tenang melakukan sesuatu, kemudian dengan tenang juga Ia pergi—aspek watak Tuhan yang manakah ini? Dapatkah engkau semua mengatakan bahwa ini adalah kasih setia Tuhan? Dapatkah engkau semua mengatakan ini sebagai sifat tanpa pamrih? Mampukah orang biasa melakukan hal ini? Tentu tidak! Pada hakikatnya, siapakah lima ribu orang ini yang diberi makan oleh Tuhan Yesus dengan lima roti dan dua ikan? Dapatkah engkau semua mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berkesesuaian dengan-Nya? Dapatkah engkau semua mengatakan bahwa mereka semua memusuhi Tuhan? Dapat dikatakan dengan pasti bahwa mereka sama sekali tidak berkesesuaian dengan Tuhan, dan esensi mereka benar-benar memusuhi Tuhan. Tetapi bagaimanakah Tuhan memperlakukan mereka? Ia menggunakan suatu cara untuk menjinakkan permusuhan mereka terhadap Tuhan—cara ini disebut dengan "kebaikan." Dengan kata lain, meskipun Tuhan Yesus memandang mereka sebagai orang-orang berdosa, di mata Tuhan tetap saja mereka adalah ciptaan-Nya, sehingga Ia tetap memperlakukan orang-orang berdosa ini dengan penuh kemurahan hati. Ini adalah toleransi Tuhan, dan toleransi ini ditentukan oleh identitas dan esensi Tuhan sendiri. Jadi, ini adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia yang diciptakan oleh Tuhan—hanya Tuhan sendiri yang dapat melakukan ini.

Ketika engkau dapat sungguh-sungguh menghargai pikiran dan sikap Tuhan terhadap umat manusia, ketika engkau dapat sungguh-sungguh memahami emosi dan kepedulian Tuhan terhadap setiap makhluk, engkau akan dapat memahami kesetiaan dan kasih yang dicurahkan kepada masing-masing orang yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Ketika ini terjadi, engkau akan menggunakan dua kata untuk menggambarkan kasih Tuhan—apa sajakah dua kata itu? Ada yang bilang "tanpa pamrih," ada lagi yang bilang "dermawan." Dari kedua kata ini, "dermawan" adalah yang paling tidak cocok untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini adalah kata yang digunakan orang untuk menggambarkan pemikiran dan perasaan terbuka seseorang. Aku benar-benar membenci kata ini, karena kata ini mengacu pada pemberian sumbangan secara acak, secara sembarangan, terlepas dari segala macam prinsip. Ini adalah ungkapan terlalu emosional orang-orang yang bodoh dan bingung. Ketika kata ini digunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan, sudah pasti ada maksud menghujat di dalamnya. Aku punya dua kata yang lebih sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan—apakah dua kata tersebut? Yang pertama adalah "megah." Bukankah kata ini sangat menggugah? Yang kedua adalah "raya." Ada arti nyata di balik kedua kata ini yang Aku pakai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Secara harafiah, "megah" menggambarkan volume atau kapasitas suatu hal, tetapi tidak peduli seberapa pun besarnya hal tersebut—itu adalah sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat orang. Ini karena hal tersebut benar-benar ada, bukan sebuah objek yang abstrak, dan kata itu juga memberikan pemahaman yang relatif tepat dan nyata. Tidak peduli apakah engkau mengamatinya dari sudut datar atau tiga dimensi; engkau tidak perlu membayangkan keberadaannya, karena itu adalah hal yang sungguh-sungguh ada. Meskipun menggunakan kata "megah" untuk menggambarkan Tuhan terasa seperti mengukur kasih-Nya, akan tetapi itu juga memberikan perasaan bahwa kasih-Nya tidak dapat diukur. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan dapat diukur karena kasih-Nya bukanlah bersifat non-entitas, dan juga bukan sesuatu yang berangkat dari suatu legenda. Malahan, itu merupakan sesuatu yang dimiliki segala hal di bawah kuasa Tuhan, dan itu adalah sesuatu yang dinikmati semua makhluk dalam derajat yang berbeda dan dari sudut pandang berbeda. Meskipun orang-orang tidak dapat melihat atau menyentuhnya, kasih ini membawa pemeliharaan dan kehidupan bagi segala hal dan terungkap sedikit demi sedikit dalam kehidupan mereka, dan mereka menghitung dan bersaksi atas kasih Tuhan yang mereka nikmati setiap waktunya. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak bisa diukur karena rahasia pembekalan dan pemeliharaan Tuhan atas segala hal adalah sesuatu yang sulit untuk dimengerti manusia, begitu juga pikiran-pikiran Tuhan untuk segala hal, terlebih untuk umat manusia. Dengan kata lain, tidak seorang pun tahu darah dan air mata yang ditumpahkan Sang Pencipta bagi umat manusia. Tidak ada yang bisa memahami, tidak ada yang bisa mengerti kedalaman atau bobot kasih Sang Pencipta atas umat manusia, yang diciptakan oleh tangan-Nya sendiri. Menggambarkan kasih Tuhan dengan kata megah adalah demi membantu orang untuk menghargai dan memahami ukuran dan kebenaran dari keberadaannya. Juga agar supaya orang dapat lebih dalam memahami arti sesungguhnya dari kata "Pencipta," dan agar supaya orang dapat memperoleh pengertian yang lebih dalam akan arti sebutan "ciptaan." Apakah yang biasanya digambarkan oleh kata "raya"? Biasanya kata itu digunakan untuk menggambarkan samudra atau semesta, seperti semesta raya, atau samudra raya. Luas dan kedalaman yang tenang dari alam semesta melampaui pemahaman manusia, dan merupakan sesuatu yang menarik imajinasi manusia, membuat mereka dipenuhi kekaguman akan semua itu. Misteri dan kedalamannya terlihat namun tak terjangkau. Ketika engkau memikirkan samudra, engkau memikirkan luasnya—terlihat tidak ada batasnya, dan engkau dapat merasakan misteri dan keinklusifannya. Inilah mengapa Aku menggunakan kata "raya" untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini demi membantu orang-orang merasakan betapa berharganya kasih Tuhan itu, dan merasakan keindahan yang mendalam dari kasih-Nya, dan bahwa kekuatan kasih Tuhan itu tidak terbatas dan luas. Ini demi membantu mereka merasakan kekudusan dari kasih-Nya, dan martabat serta sifat Tuhan yang tak terbantahkan yang diungkapkan melalui kasih-Nya. Sekarang apakah menurutmu "raya" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kasih Tuhan? Apakah kasih Tuhan sesuai dengan dua kata, "megah" dan "raya" ini? Tentu saja! Dalam bahasa manusia, hanya dua kata ini yang secara relatif cocok, dan secara relatif sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Tidakkah engkau semua berpikir demikian? Seandainya Aku meminta engkau semua menggambarkan kasih Tuhan, akankah engkau semua menggunakan dua kata ini? Kemungkinan besar engkau semua tidak bisa, karena pemahaman dan penghargaanmu akan kasih Tuhan masih terbatas pada sudut pandang yang rata, dan belum naik mencapai ketinggian ruang tiga dimensi. Jadi seandainya Aku memintamu menggambarkan kasih Tuhan, engkau semua akan merasa bahwa engkau tidak punya kata-kata yang tepat; bahkan engkau semua tidak akan bisa berkata-kata. Dua kata yang telah Aku bahas hari ini mungkin sulit untuk engkau semua pahami, atau mungkin engkau semua sama sekali tidak setuju. Ini hanya menunjukkan fakta bahwa penghargaan dan pemahamanmu akan kasih Tuhan masihlah dangkal dan berada dalam cakupan yang sempit. Aku telah mengatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak mementingkan diri sendiri—engkau semua ingat kata tanpa pamrih. Dapatkah dikatakan bahwa kasih Tuhan hanya dapat digambarkan sebagai tanpa pamrih? Bukankan ini cakupan yang terlalu sempit? Engkau semua mesti lebih banyak merenungkan masalah ini agar mendapatkan sesuatu dari sini.

Di atas memuat apa yang telah kita pahami mengenai watak Tuhan dan esensi-Nya berdasarkan mukjizat pertama. Meskipun ini adalah kisah yang telah dibaca orang-orang selama beribu-ribu tahun, kisah ini menyajikan alur sederhana, dan memungkinkan orang-orang untuk melihat fenomena yang sederhana, namun di dalam alur yang sederhana ini kita dapat melihat sesuatu yang lebih berharga, yakni watak Tuhan dan apa yang Ia miliki dan siapa Ia. Apa yang Ia miliki dan siapa Ia merepresentasikan Tuhan itu sendiri, dan merupakan ungkapan pikiran Tuhan sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan pikiran-Nya, ini merupakan ungkapan suara hati-Nya. Ia berharap bahwa akan ada orang-orang yang mampu mengerti diri-Nya, mengenal-Nya, dan memahami kehendak-Nya, dan Ia berharap akan ada orang-orang yang mendengar suara hati-Nya dan dapat bekerjasama secara aktif untuk memuaskan kehendak-Nya. Dan hal-hal ini yang dilakukan oleh Tuhan Yesus merupakan ungkapan tanpa suara dari Tuhan.

Selanjutnya, mari kita melihat perikop ini: Kebangkitan Lazarus Memuliakan Tuhan.

Apakah kesan engkau semua setelah membaca perikop ini? Makna penting dari mukjizat yang diperbuat Tuhan Yesus ini lebih besar dari yang sebelumnya karena tidak ada mukjizat yang lebih menakjubkan daripada membangkitkan orang yang sudah mati dari kubur. Tuhan Yesus melakukan hal seperti ini adalah hal yang teramat penting pada zaman itu. Karena Tuhan telah menjadi daging, orang-orang hanya dapat melihat penampilan fisik-Nya, sisi praktis-Nya, dan sisi kurang berarti dari diri-Nya. Bahkan seandainya ada beberapa orang yang melihat dan memahami sebagian karakter-Nya atau sejumlah kelebihan yang nampaknya Ia miliki, tidak seorang pun tahu dari mana Tuhan Yesus datang, apa esensi-Nya yang sebenarnya, dan apa lagi yang sebenarnya mampu Ia lakukan. Semuanya ini tidak diketahui oleh umat manusia. Begitu banyak orang menginginkan bukti akan hal ini, dan mengetahui kebenaran. Dapatkah Tuhan melakukan sesuatu untuk membuktikan identitas-Nya sendiri? Bagi Tuhan, ini adalah hal yang mudah—ini adalah perkara sepele. Ia dapat melakukan suatu perkara di mana saja, kapan saja untuk membuktikan identitas dan esensi-Nya, tetapi Tuhan melakukan berbagai hal berdasarkan suatu rencana, dan secara bertahap. Ia tidak melakukan suatu hal dengan sembarangan; Ia mencari waktu yang tepat, dan peluang yang tepat untuk melakukan hal yang paling berarti untuk disaksikan umat manusia. Ini membuktikan otoritas dan identitas-Nya. Jadi, dapatkah kebangkitan Lazarus membuktikan identitas Tuhan Yesus? Mari kita melihat perikop dari Kitab Suci ini: "Dan ketika Dia sudah berkata demikian, Dia berseru dengan suara keras: "Lazarus, keluarlah!" Maka orang yang sudah mati itu datang keluar." Ketika Tuhan Yesus melakukan ini, Ia hanya mengatakan satu hal: "Lazarus, keluarlah." Lazarus lalu keluar dari kuburannya—ini tercapai oleh karena satu kalimat yang diucapkan oleh Tuhan. Pada waktu itu, Tuhan Yesus tidak mendirikan sebuah mezbah, dan Ia tidak mengambil tindakan-tindakan lain. Ia hanya mengucapkan satu kalimat. Apakah ini seharusnya disebut mukjizat atau perintah? Atau apakah ini semacam sihir? Dari luar, nampaknya ini dapat dikatakan sebuah mukjizat, dan apabila engkau semua melihatnya dari sudut pandang modern, tentu saja engkau semua tetap dapat menyebutnya sebuah mukjizat. Akan tetapi, tentu saja ini tidak dapat dikatakan sebuah mantra untuk memanggil jiwa seseorang kembali dari kematian, dan tentu saja ini bukan sihir. Adalah benar untuk mengatakan bahwa mukjizat ini adalah peragaan yang paling normal, paling kecil dari otoritas Sang Pencipta. Ini adalah otoritas dan kemampuan Tuhan. Tuhan punya otoritas untuk membuat seseorang mati, untuk membuat jiwa pergi meninggalkan tubuhnya dan kembali ke alam maut, atau ke mana pun jiwa orang mati itu harus pergi. Kapan seseorang mati, dan ke mana mereka pergi setelah mati—hal-hal ini ditentukan oleh Tuhan. Ia dapat melakukan ini kapan pun dan di mana pun. Ia tidak dibatasi oleh manusia, peristiwa, benda, ruang, atau tempat. Apabila Ia ingin melakukan sesuatu Ia dapat melakukannya, karena segala hal dan semua makhluk hidup berada di bawah kekuasaan-Nya, dan segala sesuatu hidup dan mati oleh firman-Nya, otoritas-Nya. Ia dapat membangkitkan orang mati—ini juga adalah hal yang dapat Ia lakukan kapan pun, di mana pun. Ini adalah otoritas yang hanya dimiliki Sang Pencipta.

Ketika Tuhan Yesus melakukan suatu hal seperti membangkitkan Lazarus dari kematian, tujuan-Nya adalah memberikan bukti untuk disaksikan manusia dan Iblis, dan membiarkan baik manusia maupun Iblis mengetahui bahwa segala hal yang berkaitan dengan umat manusia, hidup dan mati manusia ditentukan oleh Tuhan, dan bahwa meskipun Ia telah menjadi daging, seperti senantiasa, Ia tetap memiliki kendali atas dunia jasmani yang dapat dilihat dan juga dunia rohani yang tidak dapat dilihat manusia. Ini untuk memberitahukan baik kepada manusia maupun Iblis bahwa segala hal yang berkaitan dengan manusia tidak berada di bawah perintah Iblis. Ini adalah pengungkapan dan peragaan otoritas Tuhan, dan juga cara Tuhan mengirimkan pesan kepada segala hal bahwa hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan. Kebangkitan Lazarus oleh Tuhan Yesus—pendekatan semacam ini adalah salah satu cara Sang Pencipta mengajarkan dan memberi petunjuk kepada umat manusia. Ini adalah tindakan konkret di mana Ia menggunakan kemampuan dan otoritas-Nya untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia, dan membekali manusia. Ini adalah cara bagi Sang Pencipta untuk tanpa menggunakan kata-kata memungkinkan manusia melihat kebenaran bahwa Ia memiliki kuasa segala hal. Ini adalah cara bagi-Nya untuk memberitahu umat manusia melalui tindakan nyata bahwa tidak ada keselamatan jika tidak melalui Dia. Cara memberi petunjuk kepada manusia tanpa kata-kata seperti ini berlangsung kekal—ini hal yang tak akan terhapuskan, dan ini membawa rasa terkejut dan pencerahan di dalam hati umat manusia yang tidak akan sirna. Kebangkitan Lazarus memuliakan Tuhan—ini memiliki dampak yang dalam pada setiap pengikut Tuhan. Dalam diri setiap orang yang benar-benar mengerti peristiwa ini, kebangkitan ini meninggalkan pemahaman, visi bahwa hanya Tuhan yang punya kuasa atas hidup dan mati manusia. Meskipun Tuhan punya otoritas semacam ini, dan meskipun Ia mengirimkan pesan tentang kedaulatan-Nya atas hidup dan mati manusia melalui kebangkitan Lazarus, ini bukanlah pekerjaan utama-Nya. Tuhan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud tertentu. Setiap hal yang Ia kerjakan bernilai besar; semuanya adalah harta karun yang tak lekang oleh waktu. Ia tentu saja tidak akan menjadikan perbuatan membangkitkan seseorang dari kuburnya sebagai yang utama atau satu-satunya tujuan atau hal dalam pekerjaan-Nya. Tuhan tidak melakukan sesuatu tanpa maksud. Satu saja peristiwa kebangkitan Lazarus sudah cukup untuk menunjukkan otoritas Tuhan. Itu cukup untuk membuktikan identitas Tuhan Yesus. Inilah sebabnya mengapa Tuhan Yesus tidak mengulangi mukjizat seperti ini. Tuhan melakukan berbagai hal berdasarkan prinsip-Nya sendiri. Dalam bahasa manusia, Tuhan sangat perhatian akan pekerjaan yang serius. Dengan kata lain, ketika Tuhan melakukan sesuatu Ia tidak melenceng dari tujuan pekerjaan-Nya. Ia tahu pekerjaan seperti apa yang ingin Ia lakukan pada tahap ini, apa yang ingin Ia capai, dan Ia akan bekerja dengan tegas berdasarkan rencana-Nya. Seandainya seseorang yang rusak memiliki kemampuan seperti ini, ia hanya akan memikirkan cara untuk mengungkapkan kemampuan ini kepada orang lain agar mereka tahu seberapa hebatnya dirinya, agar orang lain tunduk kepadanya, sehingga ia dapat mengendalikan dan menguasai mereka. Inilah kejahatan yang berasal dari Iblis—inilah yang disebut pengrusakan. Tuhan tidak memiliki watak demikian, dan Ia tidak memiliki esensi demikian. Tujuan-Nya dalam melakukan berbagai hal bukanlah untuk memamerkan diri-Nya, melainkan untuk membekali umat manusia dengan lebih banyak wahyu dan tuntunan; jadi orang-orang melihat sedikit sekali contoh dalam Alkitab mengenai hal semacam ini. Ini tidak berarti bahwa kemampuan Tuhan Yesus terbatas, atau bahwa Ia tidak dapat melakukan hal semacam itu. Hanya saja Tuhan tidak ingin melakukannya, karena ada makna yang praktis ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus, dan juga karena pekerjaan utama Tuhan dalam menjadi daging bukanlah untuk melakukan mukjizat, bukan untuk membangkitkan orang-orang mati, melainkan pekerjaan penyelamatan umat manusia. Jadi, sebagian besar pekerjaan yang diselesaikan Tuhan Yesus adalah mengajari orang-orang, membekali mereka, dan menolong mereka, dan hal-hal seperti membangkitkan Lazarus hanyalah sebagian kecil saja dari pelayanan yang dilakukan Tuhan Yesus. Bahkan, engkau semua dapat mengatakan bahwa "pamer" bukanlah bagian dari esensi Tuhan, jadi tidak menunjukkan lebih banyak mukjizat bukanlah suatu pembatasan diri secara sengaja, juga bukan karena keterbatasan lingkungan, dan tentunya juga bukan karena kurangnya kemampuan.

Ketika Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, Ia menggunakan satu kalimat: "Lazarus, keluarlah!" Ia tidak mengatakan apa pun lagi selain ini—apakah yang direpresentasikan kata-kata tersebut? Kata-kata ini merepresentasikan bahwa Tuhan mampu melakukan apa saja hanya dengan berfirman, termasuk membangkitkan orang mati. Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, ketika Ia menciptakan dunia, Ia melakukannya dengan firman. Ia menggunakan perintah lisan, firman yang berotoritas, dan dengan demikian segala sesuatu pun tercipta. Semua itu tercapai dengan cara demikian. Satu kalimat yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah sama seperti firman yang diucapkan Tuhan ketika Ia menciptakan langit dan bumi serta segala sesuatu; kalimat tersebut sama-sama mengandung otoritas Tuhan, kemampuan Sang Pencipta. Segala sesuatu terbentuk dan berdiri teguh oleh karena firman yang keluar dari mulut Tuhan, dan sama seperti itu, Lazarus berjalan keluar dari kuburnya oleh karena firman yang keluar dari mulut Tuhan Yesus. Inilah otoritas Tuhan, yang ditunjukkan dan dinyatakan dalam daging inkarnasi-Nya. Otoritas dan kemampuan semacam ini adalah milik Sang Pencipta, dan milik Anak Manusia di mana Sang Pencipta dinyatakan. Inilah pengertian yang diajarkan Tuhan melalui kebangkitan Lazarus dari kematian. Inilah semua bahasan untuk topik ini. Selanjutnya, mari kita membaca Kitab Suci.

10. Penghakiman Orang-orang Farisi terhadap Tuhan Yesus

(Markus 3:21-22) Ketika teman-temannya mendengar hal itu, mereka keluar untuk mendapatkan-Nya: karena kata mereka, Dia sudah tidak waras. Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Dia kerasukan Beelzebul, dan dengan kekuatan pangeran Iblis Dia mengusir Iblis."

11. Teguran Tuhan Yesus terhadap Orang-orang Farisi

(Matius 12:31-32) Aku berkata kepadamu, Semua jenis dan dosa hujat kepada manusia akan diampuni: tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Dan barangsiapa yang berkata-kata melawan Anak Manusia, ia akan diampuni: tetapi jika ia berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang.

(Matius 23:13-15) Tetapi celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik, karena engkau menutup Kerajaan Surga terhadap manusia: padahal engkau sendiri tidak pernah pergi ke sana, namun engkau menghalangi orang-orang yang berusaha masuk ke sana. Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik, karena engkau mengganyang rumah janda-janda, namun engkau berpura-pura menaikkan doa yang panjang: karena itulah engkau akan menerima hukuman yang lebih berat. Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik! Karena engkau melintasi lautan dan daratan untuk menjadikan satu orang bertobat menjadi pengikutmu, tetapi begitu ia bertobat, engkau menjadikannya anak neraka yang dua kali lebih jahat daripada dirimu sendiri.

Ada dua perikop terpisah di atas—mari kita melihat yang pertama: Penghakiman Orang Farisi terhadap Tuhan Yesus.

Dalam Alkitab, pemeriksaan orang-orang Farisi atas Tuhan Yesus sendiri dan hal-hal yang Ia perbuat adalah: "kata mereka, Dia sudah tidak waras. … Dia kerasukan Beelzebul, dan dengan kekuatan pangeran Iblis Dia mengusir Iblis" (Markus 3:21-22). Penghakiman yang dilakukan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap Tuhan Yesus bukanlah mengulangi kata-kata orang lain ataupun buah khayalan semata—melainkan kesimpulan yang mereka ambil mengenai diri Tuhan Yesus berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar tentang tindakan-Nya. Meskipun kesimpulan mereka dibuat seakan-akan atas nama keadilan dan nampak seolah-olah punya alasan yang kuat, kecongkakan mereka dalam menghakimi Tuhan Yesus sulit disembunyikan bahkan oleh diri mereka sendiri. Gejolak kebencian mereka terhadap Tuhan Yesus mengungkapkan ambisi gila mereka sendiri dan wajah jahat setan dalam diri mereka, juga sifat jahat mereka melawan Tuhan. Hal-hal yang mereka katakan dalam penghakiman mereka terhadap Tuhan Yesus didorong oleh ambisi, kecemburuan, dan sifat buruk dan jahat dari kebencian mereka terhadap Tuhan dan kebenaran. Mereka tidak memeriksa sumber tindakan Tuhan Yesus, mereka juga tidak memeriksa esensi dari apa yang Ia katakan atau lakukan. Tetapi mereka secara buta, terburu-buru, gila, dan dengan niat jahat yang disengaja menyerang dan mencela apa yang telah Ia lakukan. Ini bahkan sampai pada tahap secara sembarangan mencela Roh-Nya, yakni Roh Kudus, Roh Tuhan. Inilah yang mereka maksud ketika mengatakan "Dia sudah tidak waras," "Beelzebul dan oleh kuasa pangeran Iblis." Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa Roh Tuhan adalah Beelzebul dan pangeran para Iblis. Mereka menggolongkan pekerjaan yang dilakukan oleh daging yang Roh Tuhan kenakan sebagai kegilaan. Mereka tidak hanya menghujat Roh Tuhan dengan menuduh-Nya sebagai Beelzebul dan pangeran Iblis, mereka juga mengutuk pekerjaan Tuhan. Mereka mengutuk dan menghujat Tuhan Yesus Kristus. Esensi dari perlawanan dan penghujatan mereka terhadap Tuhan sepenuhnya sama dengan esensi Iblis dan perlawanan serta penghujatan Iblis terhadap Tuhan. Mereka tidak hanya merepresentasikan manusia-manusia yang rusak, lebih dari itu, mereka adalah perwujudan Iblis. Mereka adalah saluran bagi Iblis di tengah umat manusia, dan mereka adalah kaki tangan dan utusan Iblis. Esensi dari penghujatan dan fitnah mereka terhadap Tuhan Yesus Kristus adalah pergumulan mereka melawan Tuhan demi status, penentangan mereka terhadap Tuhan, pengujian mereka yang tanpa henti terhadap Tuhan. Esensi perlawanan mereka terhadap Tuhan, dan sikap bermusuhan mereka terhadap-Nya, juga perkataan mereka dan pikiran mereka secara langsung menghujat dan membangkitkan amarah Roh Tuhan. Karena itulah, Tuhan menetapkan penghakiman yang pantas atas apa yang mereka katakan dan lakukan, dan menetapkan bahwa perbuatan mereka adalah dosa penghujatan terhadap Roh Kudus. Dosa ini tidak dapat diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang, seperti yang tercatat dalam perikop berikut: "hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni." Dan "tetapi jika ia berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Pada saat ini, mari kita membahas arti sesungguhnya dari firman Tuhan ini "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Arti dari firman itu dibuat menjadi sangat jelas melalui cara Tuhan menggenapi firman "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang."

Semua yang telah kita bahas berhubungan dengan watak Tuhan, dan sikap-Nya terhadap manusia, perkara, dan berbagai hal. Tentunya, kedua perikop di atas pun tidak terkecuali. Apakah engkau semua memperhatikan sesuatu di dalam kedua perikop Kitab Suci ini? Sebagian orang mengatakan bahwa mereka melihat murka Tuhan. Yang lain mengatakan mereka melihat sisi dari watak Tuhan yang tidak menolerir pelanggaran manusia, dan bahwa apabila orang melakukan sesuatu yang menghujat Tuhan, mereka tidak akan beroleh pengampunan-Nya. Terlepas dari fakta bahwa orang-orang melihat dan menyadari kemarahan dan ketidaktoleranan Tuhan terhadap pelanggaran umat manusia dalam kedua perikop ini, mereka tetap tidak benar-benar paham akan sikap-Nya. Kedua perikop ini memuat sebuah implikasi dari sikap dan pendekatan Tuhan yang sebenarnya terhadap orang-orang yang menghujat dan membuat-Nya marah. Perikop dalam Kitab Suci ini memuat arti sesungguhnya dari sikap dan pendekatan-Nya: "barangsiapa berkata-kata melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, ataupun di dunia yang akan datang." Ketika orang-orang menghujat Tuhan, ketika mereka membuat-Nya marah, Ia mengeluarkan putusan, dan putusan ini adalah kesudahan akhir dari-Nya. Tertulis demikian di dalam Alkitab: "Aku berkata kepadamu, Semua jenis dan dosa hujat kepada manusia akan diampuni: tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni." (Matius 12:31) Dan "celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik!" (Matius 23:13). Akan tetapi, apakah dicatat dalam Alkitab seperti apa kesudahan yang menimpa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, juga orang-orang yang berkata Ia sudah gila setelah Tuhan Yesus mengatakan semua hal ini? Apakah ada tertulis bahwa mereka menderita suatu hukuman? Sudah jelas tidak ada. Mengatakan "tidak ada" di sini bukan berarti itu tidak tertulis, tetapi sesungguhnya tidak ada hukuman terhadap mereka yang dapat dilihat dengan mata manusia. Kata "tidak ada" tersebut memperjelas suatu hal, yaitu sikap dan prinsip Tuhan dalam menangani hal-hal tertentu. Perlakuan Tuhan terhadap orang-orang yang menghujat atau melawan-Nya, atau bahkan mereka yang memfitnah Dia—orang-orang yang secara sengaja menyerang, memfitnah, dan mengutuk-Nya—Ia tidak menutup mata atau telinga. Ia memiliki sikap yang jelas terhadap mereka. Ia membenci orang-orang ini, dan dalam hati-Nya Ia mengutuk mereka. Ia bahkan secara terbuka menyebutkan kesudahan yang akan menimpa mereka, supaya orang-orang tahu bahwa Ia punya sikap yang jelas terhadap orang-orang yang menghujat-Nya, dan supaya mereka tahu bahwa Ia akan menentukan kesudahan mereka. Akan tetapi, setelah Tuhan mengatakan semua hal ini, orang-orang tetap sulit melihat kebenaran tentang cara Tuhan menangani orang-orang tersebut, dan mereka tidak dapat memahami prinsip di balik kesudahan dari Tuhan, putusan-Nya terhadap mereka. Dengan kata lain, umat manusia tidak dapat melihat sikap khusus dan cara-cara yang dimiliki Tuhan dalam menangani mereka. Ini berkaitan dengan prinsip Tuhan dalam melakukan banyak hal. Tuhan menggunakan kemunculan berbagai peristiwa untuk menangani perilaku jahat sebagian orang. Dengan kata lain, Ia tidak mengumumkan dosa mereka dan tidak menetapkan kesudahan mereka, tetapi Ia secara langsung menggunakan kemunculan peristiwa untuk membiarkan mereka dihukum, untuk mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Ketika fakta-fakta ini terjadi, tubuh orang-orang inilah yang menderita hukuman; semuanya itu masih bisa dilihat dengan mata manusia. Ketika menangani perilaku jahat sebagian orang, Tuhan hanya mengutuk mereka dengan kata-kata, tetapi pada saat yang sama, murka-Nya ditimpakan kepada mereka, dan hukuman yang mereka terima mungkin adalah hal yang tidak dapat dilihat orang, tetapi kesudahan semacam ini mungkin jauh lebih berat dibanding kesudahan yang masih dapat dilihat orang yaitu mereka dihukum atau dibunuh. Ini karena dalam keadaan di mana Tuhan telah menetapkan untuk tidak menyelamatkan jenis orang semacam ini, untuk tidak lagi menunjukkan belas kasihan dan toleransi terhadap mereka, untuk tidak lagi memberikan peluang bagi mereka, sikap-Nya terhadap mereka adalah menyisihkan mereka. Apakah arti dari "menyisihkan"? Secara terpisah kata ini berarti mengesampingkan sesuatu, tidak lagi memperhatikannya. Dalam hal ini, ketika Tuhan "menyisihkan," ada dua penjelasan berbeda tentang artinya: Penjelasan pertama adalah Ia telah menyerahkan hidup orang tersebut, dan semuanya yang berkenaan dengan orang tersebut kepada Iblis untuk ditangani. Tuhan tidak akan lagi bertanggung jawab dan Ia tidak akan lagi mengelola orang itu. Tidak peduli apakah orang tersebut gila, atau bodoh, dan tidak peduli apakah dalam kehidupan atau dalam kematian, atau apakah mereka masuk neraka sebagai hukuman, itu tidak akan lagi menjadi urusan Tuhan. Ini berarti bahwa makhluk tersebut tidak lagi punya hubungan dengan Sang Pencipta. Penjelasan kedua adalah bahwa Tuhan telah menentukan bahwa Ia sendiri ingin melakukan sesuatu terhadap orang ini, dengan tangan-Nya sendiri. Mungkin Ia akan memakai jasa orang semacam ini, atau mungkin saja Ia menggunakan orang semacam ini sebagai sebuah kontras. Mungkin Ia akan punya cara khusus untuk menangani orang semacam ini, cara khusus untuk memperlakukan mereka—seperti halnya Paulus. Inilah prinsip dan sikap dalam hati Tuhan mengenai bagaimana Ia telah menetapkan untuk menangani orang semacam ini. Jadi ketika orang melawan Tuhan, memfitnah dan menghujat-Nya, apabila mereka mencela watak-Nya, atau apabila mereka menghabiskan kesabaran Tuhan, akibatnya tidak terbayangkan. Akibat paling berat adalah Tuhan menyerahkan hidup mereka dan semua yang berkenaan dengan mereka kepada Iblis untuk selama-lamanya. Mereka tidak akan diampuni untuk waktu yang kekal. Ini berarti orang ini telah menjadi makanan di mulut Iblis, mainan dalam tangannya, dan sejak saat itu Tuhan tidak lagi punya urusan apa-apa dengan mereka. Dapatkah engkau semua membayangkan bagaimana penderitaan Ayub ketika dicobai Iblis? Bahkan dengan syarat bahwa Iblis tidak diizinkan membahayakan hidup Ayub, Ayub masih sangat menderita. Dan bukankah lebih sulit membayangkan siksaan Iblis terhadap seseorang yang telah sepenuhnya diserahkan kepada Iblis, yang sepenuhnya berada di dalam tangan Iblis, sepenuhnya kehilangan kepedulian dan belas kasihan Tuhan, yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta, yang telah diambil haknya untuk menyembah Tuhan, dan diambil haknya sebagai ciptaan di bawah kekuasaan Tuhan, yang hubungannya dengan Tuhan segala ciptaan telah sepenuhnya terputus? Penganiayaan Iblis terhadap Ayub adalah sesuatu yang bisa dilihat dengan mata manusia, tetapi apabila Tuhan menyerahkan hidup seseorang kepada Iblis, konsekuensinya merupakan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan siapa pun. Itu akan sama seperti orang yang dilahirkan kembali sebagai seekor sapi, atau seekor keledai, atau sama seperti orang yang dikendalikan, dirasuki oleh roh tercemar dan jahat, dan lain sebagainya. Inilah kesudahan, akhir dari orang-orang yang diserahkan kepada Iblis oleh Tuhan. Dari luar, nampaknya orang-orang ini yang menghina, memfitnah, mengutuk, dan menghujat Tuhan Yesus tidak menanggung akibat apa-apa. Akan tetapi, sebenarnya Tuhan memiliki sikap dalam menangani segala hal. Ia mungkin tidak menggunakan bahasa yang jelas untuk memberitahu orang-orang kesudahan dari cara Ia menangani setiap jenis orang. Terkadang Ia tidak berbicara secara langsung, tetapi melakukan hal-hal tertentu secara langsung. Ketika Ia tidak mengatakan apa-apa, bukan berarti tidak ada kesudahannya—mungkin kesudahan ini akan jauh lebih berat. Dari luar, kelihatannya Tuhan tidak berbicara kepada sebagian orang untuk mengungkapkan sikap-Nya; sebenarnya, Tuhan tidak ingin lagi berlama-lama memikirkan mereka. Ia tidak ingin melihat mereka lagi. Karena apa yang mereka lakukan, tingkah laku mereka, karena sifat mereka dan esensi mereka, Tuhan hanya ingin mereka menghilang dari hadapan-Nya, Ia ingin menyerahkan mereka secara langsung kepada Iblis, memberikan roh, jiwa, dan tubuh mereka kepada Iblis, membiarkan Iblis melakukan apa pun yang ia inginkan. Jelaslah di sini sejauh mana Tuhan membenci mereka, sejauh mana Ia jijik akan mereka. Apabila seseorang membuat Tuhan marah sampai pada titik di mana Ia bahkan tidak ingin melihat mereka lagi, di mana Ia akan sepenuhnya menyerah atas mereka, sampai pada titik di mana Tuhan tidak lagi ingin berurusan dengan mereka—apabila sampai pada tahap di mana Ia menyerahkan mereka kepada Iblis untuk berbuat semaunya, membiarkan Iblis mengendalikan, menguasai, dan memperlakukan mereka dengan cara apa pun—maka orang ini sudah sepenuhnya berakhir. Hak mereka sebagai manusia telah selamanya dibatalkan, dan hak mereka sebagai ciptaan telah berakhir. Bukankah ini hukuman yang paling berat?

Semua yang di atas ini adalah penjelasan lengkap dari firman: "ia tidak akan diampuni, tidak di dunia ini, dan tidak di dunia yang akan datang," dan ini juga merupakan pembahasan sederhana dari perikop-perikop ini. Menurut-Ku engkau semua kini sudah memiliki pemahaman tentang hal ini!

Mari kita membaca perikop-perikop kitab suci berikut.

12. Perkataan Yesus kepada Murid-murid-Nya Setelah Kebangkitan-Nya

(Yohanes 20:26-29) Kemudian setelah delapan hari, murid-murid Yesus berkumpul kembali di dalam rumah itu dan Tomas bersama dengan mereka: lalu datanglah Yesus kepada mereka, sementara semua pintu terkunci dan Dia berdiri di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Damai sejahtera bagi engkau sekalian!" Lalu Dia berkata kepada Tomas: "Ulurkan jarimu dan lihatlah tangan-Ku, dan ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke lambung-Ku: dan jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah." Lalu Tomas menjawab dan berkata kepada-Nya: "Ya, Tuhanku." Yesus berkata kepadanya: "Tomas, karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya: diberkatilah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

(Yohanes 21:16-17) Yesus berkata kepadanya lagi untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Petrus menjawab: "Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu." Yesus berkata kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yesus berkata kepadanya lagi untuk tiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka Petrus bersedih hati karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala hal; Engkau tahu bahwa aku mengasihi-Mu." Yesus berkata kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Perikop-perikop tersebut menceritakan hal-hal yang dilakukan dan dikatakan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. Pertama-tama, mari kita perhatikan apakah ada perbedaan antara Tuhan Yesus sebelum dan sesudah kebangkitan. Apakah Ia masih Tuhan Yesus yang sama dengan Tuhan Yesus dari hari-hari sebelumnya? Kitab suci memuat kalimat berikut yang menggambarkan Tuhan Yesus setelah kebangkitan: "Lalu datanglah Yesus kepada mereka, sementara semua pintu terkunci dan Dia berdiri di tengah-tengah mereka lalu berkata: 'Damai sejahtera bagi engkau sekalian.'" Sangatlah jelas bahwa Tuhan Yesus pada saat itu bukan lagi berupa daging, melainkan tubuh spiritual. Ini karena Ia telah melampaui batasan-batasan daging; dan ketika pintu tertutup Ia masih bisa hadir di tengah orang-orang dan memungkinkan mereka untuk melihat-Nya. Inlah perbedaan terbesar antara Tuhan Yesus setelah kebangkitan dengan Tuhan Yesus yang hidup di dalam daging sebelum kebangkitan. Meskipun tidak ada perbedaan antara penampilan tubuh spiritual pada saat itu dengan penampilan Tuhan Yesus sebelumnya, Yesus pada waktu itu telah menjadi sosok Yesus yang terasa asing bagi orang-orang, karena Ia telah menjadi tubuh spiritual setelah bangkit dari kematian, dan dibandingkan dengan tubuh daging-Nya sebelumnya, tubuh spiritual ini lebih mengherankan dan membingungkan bagi orang-orang. Ini juga menciptakan jarak yang lebih besar antara Tuhan Yesus dan orang-orang, dan orang-orang merasa di dalam hati mereka bahwa Tuhan Yesus pada waktu itu telah menjadi lebih misterius. Pemahaman dan perasaan orang-orang ini serta-merta membuat mereka kembali ke zaman kepercayaan orang kepada sosok Tuhan yang tidak bisa dilihat atau disentuh. Jadi, hal pertama yang dilakukan oleh Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya adalah membiarkan orang-orang melihat-Nya, memastikan bahwa Ia ada, dan memastikan fakta tentang kebangkitan-Nya. Selain itu, penampakan-Nya ini memulihkan hubungan-Nya dengan orang-orang menjadi sama seperti hubungan-Nya dengan mereka ketika Ia bekerja dalam daging, dan Ia masihlah Kristus yang dapat mereka lihat dan sentuh. Dengan cara ini, salah satu hasilnya adalah orang-orang tidak lagi ragu bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian setelah disalibkan, dan tidak ada lagi keraguan terhadap pekerjaan Tuhan Yesus untuk menebus umat manusia. Dan hasil lainnya adalah fakta bahwa melalui penampakan Tuhan Yesus kepada orang-orang setelah kebangkitan-Nya dan dengan membiarkan orang-orang melihat dan menyentuh-Nya, Ia dengan tegas memastikan bagi umat manusia di Zaman Kasih Karunia. Sejak saat itu dan seterusnya, orang-orang tidak bisa kembali lagi ke zaman sebelumnya, yaitu Zaman Hukum Taurat, sebagai akibat "hilangnya" atau "berkhianatnya" Tuhan Yesus, tetapi mereka harus terus melangkah maju, mengikuti ajaran dan pekerjaan yang telah dilakukan Tuhan Yesus. Dengan demikian, sebuah fase baru dalam pekerjaan di Zaman Kasih Karunia secara resmi dibuka, dan orang-orang yang telah hidup di bawah hukum Taurat secara resmi keluar dari hukum Taurat sejak saat itu, lalu memasuki era baru, dengan permulaan yang baru. Inilah berbagai makna penampakan Tuhan Yesus di hadapan umat manusia setelah kebangkitan.

Karena ia adalah tubuh spiritual, bagaimanakah orang-orang bisa menyentuh-Nya, dan melihat-Nya? Ini ada hubungannya dengan makna penting dari penampakan Tuhan Yesus di hadapan umat manusia. Apakah engkau semua menyadari sesuatu dalam perikop-perikop kitab Suci ini? Secara umum, tubuh spiritual tidak dapat dilihat atau disentuh, dan setelah kebangkitan, pekerjaan yang dilakukan Tuhan Yesus sebelumnya telah selesai. Jadi secara teori, Ia sama sekali tidak perlu kembali di tengah orang-orang dalam wujud semula-Nya untuk menemui mereka, tetapi kemunculan tubuh spiritual Tuhan Yesus di hadapan orang-orang seperti Tomas membuat makna penting dari pekerjaan-Nya menjadi lebih nyata, dan lebih merasuk ke dalam hati orang-orang. Ketika Ia menghampiri Tomas, Ia membiarkan Tomas yang ragu-ragu menyentuh tangan-Nya, dan berkata kepadanya: "Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke lambung-Ku: dan jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah." Perkataan ini, tindakan-tindakan ini bukanlah hal-hal yang ingin dikatakan dan dilakukan Tuhan Yesus setelah Ia bangkit, melainkan hal-hal yang ingin Ia lakukan sebelum Ia disalibkan. Jelas di sini bahwa Tuhan Yesus sebelum disalibkan telah paham akan orang-orang seperti Tomas. Jadi apa yang dapat kita lihat dari sini? Ia tetaplah Tuhan Yesus yang sama setelah kebangkitan-Nya. Esensi-Nya tidak berubah. Keragu-raguan Tomas bukan hal yang baru muncul, tetapi memang sudah menjadi sifatnya dari sejak Ia mengikuti Tuhan Yesus, tetapi Ia adalah Tuhan Yesus yang telah bangkit dari kematian dan telah kembali dari dunia spiritual ke dalam rupa-Nya yang semula, dengan watak-Nya yang semula, dan dengan pemahaman-Nya akan umat manusia dari ketika Ia masih berada dalam daging, sehingga Ia mencari Tomas terlebih dahulu, demi membiarkan Tomas menyentuh lambung-Nya, tidak hanya membiarkannya melihat tubuh spiritual-Nya setelah kebangkitan, tetapi juga membiarkannya menyentuh dan merasakan keberadaan tubuh spiritual-Nya, dan sepenuhnya melepaskan keraguannya. Sebelum Tuhan Yesus disalibkan, Tomas selalu merasa ragu bahwa Ia adalah Kristus, dan tidak dapat percaya. Kepercayaannya kepada Tuhan adalah sesuatu yang dibangun atas dasar apa yang dapat ia saksikan dengan kedua matanya, apa yang dapat disentuh oleh tangannya sendiri. Tuhan Yesus paham benar akan iman orang-orang seperti ini. Mereka hanya percaya kepada Tuhan yang di surga, dan tidak percaya sama sekali, dan tidak akan menerima Dia yang diutus oleh Tuhan, atau Kristus yang di dalam daging. Demi membuat orang ini mengakui dan memercayai keberadaan Tuhan Yesus dan bahwa Ia benar-benar adalah Tuhan yang berinkarnasi, Ia membiarkan Tomas mengulurkan tangannya dan menyentuh lambung-Nya. Apakah ada perbedaan mengenai keraguan Tomas sebelum dan sesudah kebangkitan Tuhan Yesus? Tomas selalu merasa ragu, dan selain dari tubuh spiritual Tuhan Yesus yang secara pribadi menampakkan diri di hadapannya dan membiarkan Tomas menyentuh bekas paku pada tubuh-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat menghapuskan keraguannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat membuatnya melepaskan rasa ragu tersebut. Jadi, dari sejak Tuhan Yesus membiarkannya menyentuh lambung-Nya dan membuatnya benar-benar merasakan adanya bekas paku, keraguan Tomas hilang, dan ia pun sungguh-sungguh menyadari bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan ia mengakui dan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus yang sejati, bahwa Ia adalah Tuhan yang berinkarnasi. Meskipun pada saat ini Tomas tidak lagi ragu, ia telah selamanya kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Kristus. Ia telah selamanya kehilangan kesempatan untuk bersama dengan-Nya, untuk mengikuti-Nya, untuk mengenal-Nya. Ia telah selamanya kehilangan kesempatan untuk disempurnakan Kristus. Penampakan diri Tuhan Yesus dan firman-Nya memberikan sebuah kesimpulan, dan sebuah putusan atas iman orang-orang yang dipenuhi keraguan. Ia menggunakan firman dan tindakan-Nya yang nyata untuk memberitahu mereka yang ragu-ragu, memberitahu mereka yang hanya percaya kepada Tuhan yang di surga tetapi tidak percaya pada Kristus, yaitu bahwa Tuhan tidak memuji kepercayaan mereka, Ia juga tidak memuji cara mereka mengikuti-Nya yang dipenuhi keraguan. Hari ketika mereka sepenuhnya percaya kepada Tuhan dan Kristus adalah satu-satunya hari ketika Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya yang besar. Tentu saja, hari itu juga merupakan hari ketika keraguan mereka menerima putusan. Sikap mereka terhadap Kristus menentukan nasib mereka, dan keraguan mereka yang keras menandakan iman mereka tidak memberikan mereka hasil apa-apa, dan kerasnya hati mereka berarti harapan mereka sia-sia. Karena kepercayaan mereka kepada Tuhan yang di surga dibangun atas ilusi, dan keraguan mereka akan Kristus sebenarnya adalah sikap mereka yang sebenarnya terhadap Tuhan, meskipun mereka menyentuh bekas paku pada tubuh Kristus, iman mereka tetap tidak berguna dan kesudahan mereka dapat diumpamakan seperti memukul angin—sia-sia. Apa yang Tuhan Yesus katakan kepada Tomas juga merupakan pemberitahuan yang jelas bagi setiap orang, yaitu bahwa Tuhan Yesus yang bangkit adalah Tuhan Yesus yang sebelumnya telah menghabiskan tiga puluh tiga setengah tahun bekerja di tengah umat manusia. Meskipun Ia telah disalibkan dan mengalami lembah kematian, dan Ia telah mengalami kebangkitan, setiap aspek diri-Nya tidak mengalami perubahan apa pun. Meskipun sekarang ada bekas paku pada tubuh-Nya, dan meskipun Ia telah dibangkitkan dan berjalan keluar dari kubur, watak-Nya, dan pemahaman-Nya akan manusia, serta maksud-maksud-Nya terhadap umat manusia tidak berubah sedikit pun. Selain itu, Ia memberitahukan kepada orang-orang bahwa Ia telah turun dari salib, menang atas dosa, menang atas kesusahan, dan menang atas maut. Bekas paku hanyalah bukti kemenangan-Nya atas Iblis, bukti telah menjadi korban penebus dosa demi menebus seluruh umat manusia. Ia sedang memberitahukan kepada orang-orang bahwa Ia telah memikul dosa manusia dan telah menyelesaikan pekerjaan penebusan-Nya. Ketika Ia kembali untuk menemui murid-murid-Nya, Ia mengatakan kepada mereka melalui penampakan-Nya: "Aku tetap hidup, Aku tetap ada; pada hari ini Aku benar-benar sedang berdiri di hadapanmu supaya engkau semua dapat melihat dan menyentuh Aku. Aku akan selalu menyertaimu." Tuhan Yesus juga ingin menggunakan kasus Tomas sebagai peringatan bagi orang-orang di masa depan, yaitu bahwa meskipun engkau percaya kepada Tuhan Yesus, engkau tidak dapat melihat atau menyentuh-Nya, tetapi engkau dapat diberkati oleh karena imanmu yang sejati, dan engkau dapat melihat Tuhan Yesus melalui imanmu yang sejati; orang semacam ini diberkati.

Perkataan yang tercatat di dalam Alkitab ini, yang diucapkan Tuhan Yesus ketika Ia menampakkan diri kepada Tomas, sangatlah membantu bagi orang-orang pada Zaman Kasih Karunia. Penampakan-Nya dan perkataan-Nya kepada Tomas telah memberikan dampak mendalam bagi para generasi penerus, dan semua itu memiliki makna yang kekal. Tomas merepresentasikan jenis orang yang percaya kepada Tuhan namun meragukan Tuhan. Mereka bersifat curiga, hati mereka jahat, berbahaya, dan tidak percaya akan hal-hal yang dapat diselesaikan oleh Tuhan. Mereka tidak percaya pada kemahakuasaan dan kekuasaan-Nya, dan tidak percaya kepada Tuhan yang berinkarnasi. Akan tetapi, kebangkitan Tuhan Yesus menjadi tamparan di wajah mereka, dan juga memberikan kepada mereka peluang untuk menyadari dan mengenali keraguan mereka sendiri, dan mengakui kejahatan mereka sendiri, sehingga dengan demikian sungguh-sungguh percaya akan keberadaan dan kebangkitan Tuhan Yesus. Yang terjadi dengan Tomas merupakan peringatan bagi generasi di masa depan sehingga lebih banyak orang dapat lebih mawas diri supaya tidak ragu-ragu seperti Tomas, karena jika mereka seperti itu, mereka akan jatuh dalam kegelapan. Jika engkau mengikuti Tuhan, tetapi seperti halnya Tomas, engkau selalu ingin menyentuh lambung Tuhan dan merasakan bekas paku-Nya untuk meyakinkan, memastikan, berspekulasi tentang apakah Tuhan itu ada, maka Tuhan akan meninggalkanmu. Jadi, Tuhan Yesus menuntut orang untuk tidak seperti Tomas, yang hanya memercayai apa yang bisa dilihat dengan mata mereka, melainkan menjadi orang yang tulus, jujur, dan tidak menyimpan keraguan akan Tuhan, tetapi hanya percaya kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Orang semacam ini diberkati. Ini adalah persyaratan sangat kecil yang Tuhan Yesus tuntut dari orang-orang, serta sebuah peringatan bagi para pengikut-Nya.

Inilah sikap Tuhan Yesus terhadap mereka yang penuh keraguan. Jadi apakah yang Tuhan Yesus katakan, dan apakah yang Ia lakukan terhadap mereka yang mampu sungguh-sungguh percaya dan mengikuti-Nya? Hal inilah yang akan kita pelajari selanjutnya, mengenai apa yang Tuhan Yesus katakan kepada Petrus.

Dalam percakapan ini, Tuhan Yesus berulang kali menanyakan satu hal kepada Petrus: "Petrus, apakah engkau mengasihi Aku?" Ini adalah standar lebih tinggi yang dituntut Tuhan Yesus dari orang-orang seperti Petrus setelah kebangkitan-Nya, yang benar-benar percaya kepada Kristus dan berusaha untuk mengasihi Tuhan. Pertanyaan ini adalah semacam investigasi, dan semacam interogasi, tetapi lebih dari itu, merupakan persyaratan dan ekspektasi terhadap orang-orang seperti Petrus. Ia menggunakan cara bertanya seperti ini agar orang-orang bisa merenungkan diri dan melihat ke dalam diri mereka sendiri: Apakah persyaratan yang Tuhan Yesus tuntut dari orang-orang? Apakah aku mengasihi Tuhan? Apakah aku seseorang yang mengasihi Tuhan? Bagaimanakah seharusnya aku mengasihi Tuhan? Meskipun Tuhan Yesus hanya menanyakan pertanyaan ini kepada Petrus, sebenarnya di dalam hati-Nya, Ia ingin menggunakan kesempatan menanyai Petrus ini untuk bertanya kepada lebih banyak orang yang ingin mengasihi Tuhan. Hanya saja Petrus diberkati untuk berlaku sebagai representasi orang-orang semacam ini, untuk menerima pertanyaan dari mulut Tuhan Yesus sendiri.

Dibandingkan dengan "ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke lambung-Ku: dan jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah," yang dikatakan Tuhan Yesus kepada Tomas setelah kebangkitan-Nya, tindakan-Nya menanyai Petrus tiga kali: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" memungkinkan orang-orang untuk semakin merasakan ketegasan sikap Tuhan Yesus, dan perasaan mendesak yang dirasakan-Nya selama Ia bertanya. Kepada Tomas yang ragu-ragu dengan sifat dustanya, Tuhan Yesus membiarkan Tomas mengulurkan tangannya dan menyentuh bekas paku-Nya, yang membuatnya percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Manusia yang bangkit dan mengakui identitas Tuhan Yesus sebagai Kristus. Dan meskipun Tuhan Yesus tidak secara tegas menegur Tomas, dan tidak secara lisan menyatakan dengan jelas penghakiman yang akan menimpanya, Ia membuat Tomas tahu bahwa Ia memahaminya melalui tindakan yang praktis, sembari juga menunjukkan sikap dan ketetapan-Nya mengenai orang semacam itu. Persyaratan dan ekspektasi Tuhan Yesus terhadap orang semacam itu tidak dapat dilihat dari apa yang Ia katakan. Karena orang-orang seperti Tomas tidak memiliki sehelai pun iman yang sejati. Persyaratan Tuhan Yesus terhadap mereka hanyalah dalam hal ini, tetapi sikap yang Ia ungkapkan terhadap orang-orang seperti Petrus sepenuhnya berbeda. Ia tidak meminta Petrus mengulurkan tangannya dan menyentuh bekas paku-Nya, Ia juga tidak mengatakan kepada Petrus: "jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah." Sebaliknya, Ia berkali-kali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Petrus. Ini adalah pertanyaan yang merangsang pikiran, pertanyaan penuh makna yang membuat setiap pengikut Kristus merasakan penyesalan, dan ketakutan, tetapi juga merasakan suasana sedih dan gelisah dalam hati Tuhan Yesus. Dan ketika mereka berada dalam penderitaan dan kepedihan yang hebat, mereka menjadi semakin mengerti perhatian dan kepedulian Tuhan Yesus Kristus; mereka menyadari ajaran-Nya yang tulus dan persyaratan-Nya yang tegas terhadap orang-orang yang murni, orang-orang jujur. Pertanyaan Tuhan Yesus membuat orang-orang merasakan bahwa ekspektasi Tuhan akan orang-orang yang diungkapkan lewat kalimat ini bukan hanya agar mereka percaya atau mengikuti-Nya, melainkan agar mereka memiliki kasih, agar mengasihi Tuhanmu. Kasih semacam ini bersifat peduli dan taat. Ini adalah soal manusia yang hidup demi Tuhan, mati demi Tuhan, mendedikasikan segalanya bagi Tuhan, dan mengorbankan dan memberikan segalanya bagi Tuhan. Kasih semacam ini juga memberi kepada Tuhan penghiburan, memungkinkan-Nya menikmati kesaksian, dan memungkinkan-Nya merasakan ketenangan. Ini adalah balas budi umat manusia kepada Tuhan, tanggung jawab, kewajiban dan tugas mereka, dan merupakan jalan yang harus ditapaki umat manusia di sepanjang hidup mereka. Tiga pertanyaan ini merupakan persyaratan dan dorongan yang Tuhan Yesus berikan kepada Petrus dan semua orang yang hendak disempurnakan. Tiga pertanyaan inilah yang membimbing dan mendorong Petrus untuk menyelesaikan jalan kehidupannya, dan pertanyaan-pertanyaan perpisahan Tuhan Yesus inilah yang menuntun Petrus untuk mulai menapaki jalan untuk disempurnakan, yang membimbingnya, oleh karena kasihnya bagi Tuhan, untuk peduli dengan hati Tuhan, untuk menaati Tuhan, untuk menawarkan penghiburan bagi Tuhan, dan memberikan seluruh hidupnya dan seluruh dirinya karena kasih ini.

Selama Zaman Kasih Karunia, pekerjaan Tuhan diperuntukkan terutama bagi dua jenis orang. Yang pertama adalah jenis orang yang percaya dan mengikuti-Nya, yang mampu menaati perintah-Nya, yang mampu memikul salib dan bertahan pada jalan Zaman Kasih Karunia. Orang seperti ini akan memperoleh berkat Tuhan dan menikmati kasih karunia Tuhan. Jenis orang kedua sama seperti Petrus, seseorang yang akan disempurnakan. Jadi, setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia pertama-tama melakukan dua hal yang sangat berarti ini. Yang pertama untuk Tomas, yang kedua untuk Petrus. Apakah yang direpresentasikan oleh kedua hal ini? Apakah kedua hal ini merepresentasikan maksud Tuhan yang sebenarnya untuk menyelamatkan umat manusia? Apakah kedua hal ini merepresentasikan ketulusan Tuhan terhadap umat manusia? Pekerjaan yang Ia lakukan dengan Tomas adalah memperingatkan orang-orang untuk tidak ragu-ragu, melainkan percaya. Pekerjaan yang Ia lakukan dengan Petrus adalah menguatkan iman orang-orang seperti Petrus, dan untuk memperjelas persyaratan-persyaratan bagi jenis orang yang kedua ini, untuk menunjukkan kepada mereka tujuan-tujuan yang harus mereka kejar.

Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia menampakkan diri kepada orang-orang yang Ia anggap perlu, berbicara kepada mereka, dan membuat persyaratan untuk mereka penuhi, meninggalkan bagi mereka maksud-maksud-Nya, dan ekspektasi-Nya terhadap orang-orang. Dengan kata lain, sebagai Tuhan yang berinkarnasi, tidak masalah apakah itu semasa Ia berada di dalam daging, atau dalam tubuh spiritual setelah disalibkan dan bangkit—perhatian-Nya bagi manusia dan persyaratan-Nya terhadap orang-orang tidak berubah. Ia perhatian akan murid-murid-Nya ini sebelum Ia disalibkan; di dalam hati-Nya, Ia sudah mengerti akan keadaan masing-masing orang, Ia paham akan kekurangan masing-masing orang, dan tentu saja pemahaman-Nya akan setiap orang ini tetaplah sama setelah Ia mati, bangkit, dan menjadi tubuh spiritual sebagaimana ketika Ia masih di dalam daging. Ia tahu bahwa orang-orang belum sepenuhnya yakin akan identitas-Nya sebagai Kristus, tetapi semasa waktu-Nya di dalam daging Ia tidak memberi tuntutan yang keras terhadap orang-orang. Tetapi setelah bangkit Ia menampakkan diri di hadapan mereka, dan Ia membuat mereka sepenuhnya yakin bahwa Tuhan Yesus telah datang dari Tuhan, bahwa Ia adalah Tuhan yang berinkarnasi, dan Ia menggunakan fakta penampakan-Nya dan kebangkitan-Nya sebagai visi dan motivasi terbesar bagi pengejaran seumur hidup umat manusia. Kebangkitan-Nya dari kematian tidak hanya menguatkan semua orang yang mengikuti-Nya, tetapi juga sepenuhnya membuat pekerjaan-Nya pada Zaman Kasih Karunia berlaku di tengah umat manusia, dan dengan demikian Injil keselamatan Tuhan Yesus pada Zaman Kasih Karunia secara bertahap menyebar ke segala penjuru umat manusia. Akankah engkau mengatakan bahwa penampakan Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya memiliki makna yang penting? Seandainya engkau adalah Tomas atau Petrus pada waktu itu, dan engkau menemui satu hal seperti ini dalam hidupmu yang begitu berharga, bagaimanakah hal itu akan berdampak terhadapmu? Akankah engkau melihatnya sebagai visi terbaik dan terbesar dalam hidup imanmu kepada Tuhan? Akankah engkau melihat ini sebagai pendorongmu untuk mengikuti Tuhan, untuk bekerja keras memuaskan-Nya, dan berusaha semakin mengasihi Tuhan dalam hidupmu? Akankah engkau seumur hidup mengerahkan upaya untuk menyebarkan visi terbesar ini? Akankah engkau menjadikan penyebaran keselamatan dari Tuhan Yesus sebuah amanat yang engkau terima dari Tuhan? Meskipun engkau semua belum mengalami ini, kedua kasus Tomas dan Petrus ini sudahlah cukup bagi manusia modern untuk memiliki pengertian yang jelas akan kehendak Tuhan dan akan Tuhan itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa setelah Tuhan menjadi daging, setelah Ia secara pribadi mengalami kehidupan manusia di tengah umat manusia, dan setelah Ia melihat kemiskinan umat manusia dan situasi dalam hidup manusia, Tuhan di dalam daging semakin merasakan ketidakberdayaan, kesedihan, dan betapa kasihannya umat manusia. Tuhan mendapatkan lebih banyak perasaan belas kasihan terhadap keadaan umat manusia karena sifat kemanusiaan-Nya ketika Ia hidup dalam daging, oleh karena insting-Nya dalam daging. Ini membuat-Nya memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap para pengikut-Nya. Ini mungkin merupakan hal-hal yang tidak bisa engkau semua pahami, tetapi Aku dapat menggambarkan kekhawatiran dan kepedulian Tuhan dalam daging terhadap masing-masing pengikut-Nya dengan frasa berikut: kepedulian yang sangat kuat. Meskipun istilah ini datang dari bahasa manusia, dan meskipun itu merupakan frasa yang sangat manusiawi, frasa tersebut benar-benar mengungkapkan dan menggambarkan perasaan Tuhan bagi para pengikut-Nya. Sedangkan mengenai kepedulian Tuhan yang sangat kuat terhadap umat manusia, di sepanjang pengalamanmu, engkau semua akan merasakan ini dan mengalaminya sendiri. Akan tetapi, ini hanya dapat tercapai dengan memahami watak Tuhan secara bertahap atas dasar mengejar perubahan dalam watakmu sendiri. Penampakan Tuhan Yesus mewujudkan kepedulian-Nya yang sangat kuat bagi para pengikut-Nya dalam tubuh manusia-Nya dan menyerahkan kepedulian-Nya tersebut ke tubuh spiritual-Nya, atau bisa engkau katakan keilahian-Nya. Penampakan-Nya memungkinkan orang-orang untuk memiliki pengalaman lain dan merasakan kepedulian dan kekhawatiran Tuhan, sembari membuktikan dengan sangat jelas bahwa Tuhan adalah Pribadi yang membuka zaman, yang mengembangkan zaman, dan Ia adalah Pribadi yang akan mengakhiri suatu zaman. Melalui penampakan-Nya Ia menguatkan iman semua orang, dan melalui penampakan-Nya Ia membuktikan kepada dunia sebuah fakta bahwa Ia adalah Tuhan itu sendiri. Ini memberikan pemastian yang kekal bagi para pengikut-Nya, dan melalui penampakan-Nya Ia juga membuka sebuah fase dari pekerjaan-Nya di zaman yang baru.

13. Tuhan Yesus Makan Roti dan Menjelaskan Kitab Suci setelah Kebangkitan-Nya

(Lukas 24:30-32) Dan terjadilah demikian, saat Dia duduk makan dengan mereka, Dia mengambil roti, memberkatinya, lalu memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada mereka. Seketika itu juga mata mereka terbuka, dan mereka mengenal Dia; namun Dia menghilang dari pandangan mereka. Dan mereka berkata-kata seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita terbakar, ketika Dia berbicara dengan kita di jalan, dan ketika Dia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

14. Murid-murid Memberi makan Tuhan Yesus Ikan Panggang

(Lukas 24:36-43) Dan saat mereka bercakap-cakap, Yesus berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi engkau sekalian!" Tetapi mereka terkejut dan takut, dan mengira bahwa mereka melihat hantu. Maka Dia berkata kepada mereka: "Kenapa kalian takut? Dan kenapa ada kebimbangan di hati kalian? Lihatlah tangan dan kaki-Ku, inilah Aku: rabalah Aku, dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang, sebagaimana yang engkau lihat pada-Ku." Sambil berkata demikian, Dia menunjukkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan karena mereka tidak percaya juga ataupun bergirang, tetapi masih heran, Dia berkata kepada mereka: "Apakah ada daging di sini?" Dan mereka memberi-Nya ikan panggang, dan madu. Dan Dia mengambilnya dan makan di depan mereka.

Selanjutnya kita akan melihat perikop Kitab Suci di atas. Perikop yang pertama menceritakan Tuhan Yesus yang makan roti dan menjelaskan isi Kitab Suci setelah kebangkitan-Nya, dan perikop kedua menceritakan Tuhan Yesus makan ikan panggang. Apakah yang disediakan kedua perikop ini untuk membantumu mengenali watak Tuhan? Dapatkah engkau semua membayangkan gambaran seperti apa yang engkau semua dapatkan dari deskripsi tentang Tuhan Yesus makan roti dan kemudian makan ikan panggang? Dapatkah engkau semua membayangkan, apabila Tuhan Yesus berada di hadapanmu dan makan roti, bagaimanakah perasaanmu? Atau bila Ia makan bersama denganmu pada satu meja, makan ikan dan roti bersama orang-orang, perasaan seperti apakah yang engkau rasakan pada saat itu? Jika engkau merasa bahwa engkau akan menjadi sangat dekat dengan Tuhan, bahwa Ia menjadi sangat akrab denganmu, maka perasaan ini benar. Inilah buah yang ingin Tuhan Yesus hasilkan dari makan roti dan ikan di hadapan orang banyak setelah kebangkitan-Nya. Apabila Tuhan Yesus hanya berbicara dengan mereka setelah kebangkitan-Nya, apabila mereka tidak dapat merasakan daging dan tulang-Nya, melainkan merasa bahwa Ia adalah Roh yang tak tergapai, bagaimanakah perasaan mereka? Bukankah mereka akan merasa kecewa? Ketika orang-orang kecewa, bukankah mereka akan merasa ditelantarkan? Tidakkah mereka akan merasa ada jarak di antara mereka dengan Tuhan Yesus Kristus? Dampak negatif seperti apa yang akan diciptakan oleh jarak ini terhadap hubungan orang-orang dengan Tuhan? Orang-orang tentunya akan merasa takut, sampai mereka tidak berani mendekati-Nya, dan mereka akan bersikap mengambil jarak karena perasaan segan terhadap-Nya. Sejak saat itu, mereka akan memutuskan hubungan akrab mereka dengan Tuhan Yesus Kristus, dan kembali ke hubungan antara umat manusia dan Tuhan yang berada nun jauh di surga, layaknya pada zaman sebelum Zaman Kasih Karunia. Tubuh spiritual yang tidak dapat disentuh atau dirasakan orang-orang akan berujung pada hilangnya keakraban mereka dengan Tuhan, dan ini juga akan membuat hubungan yang akrab tersebut—yang dibangun selama Tuhan Yesus berada di dalam daging, tanpa jarak antara Dia dengan umat manusia—tidak lagi ada. Terhadap tubuh spiritual, orang-orang hanya merasakan ketakutan, pengelakan, dan tatapan bisu. Mereka tidak akan berani mendekat atau bercakap dengan-Nya, apalagi mengikuti, memercayai, atau menaruh harapan di dalam Dia. Tuhan enggan melihat perasaan umat manusia yang seperti ini terhadap-Nya. Ia tidak ingin melihat orang-orang menghindari-Nya atau menjauhkan diri mereka dari-Nya; Ia hanya ingin orang-orang memahami-Nya, datang mendekat kepada-Nya, dan menjadi keluarga-Nya. Apabila keluargamu sendiri, anak-anakmu melihatmu tetapi tidak mengenalmu, dan tidak berani datang mendekat kepadamu malahan selalu menghindar darimu, apabila engkau tidak dapat memperoleh pengertian mereka atas segala sesuatu yang telah engkau perbuat bagi mereka, bagaimanakah perasaanmu? Tidakkah ini akan menyakitkan? Tidakkah engkau akan sakit hati? Inilah persisnya yang Tuhan rasakan ketika orang-orang menghindari-Nya. Jadi, setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus tetap muncul di hadapan orang-orang dalam wujud daging dan darah, dan makan dan minum bersama mereka. Tuhan melihat orang-orang sebagai keluarga dan Ia juga ingin umat manusia memandang-Nya dengan cara demikian; hanya dengan cara inilah Tuhan dapat benar-benar mendapatkan orang-orang, dan orang-orang dapat benar-benar mengasihi dan menyembah Tuhan. Sekarang dapatkah engkau semua mengerti maksud-Ku dalam mengambil kedua perikop Kitab Suci ini, ketika Tuhan Yesus makan roti dan menerangkan Kitab Suci, dan ketika para murid memberinya ikan panggang untuk dimakan setelah kebangkitan-Nya?

Dapat dikatakan bahwa serangkaian hal yang dikatakan dan diperbuat Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya adalah bijaksana, dan dilakukan dengan maksud yang baik. Hal-hal tersebut penuh dengan kebaikan dan kasih sayang Tuhan terhadap umat manusia, dan penuh dengan penghargaan dan kepedulian-Nya yang cermat terhadap hubungan akrab yang telah Ia bangun dengan umat manusia semasa Ia berada dalam daging. Bahkan, hal-hal tersebut penuh dengan kenangan dan harapan yang Ia miliki atas hidup makan dan tinggal bersama para pengikut-Nya selama Ia berada dalam daging. Jadi, Tuhan tidak menginginkan orang-orang merasa ada jarak antara Tuhan dan manusia, Ia juga tidak ingin umat manusia mengambil jarak dari Tuhan. Lebih jauh lagi, Ia tidak ingin umat manusia merasa bahwa Tuhan Yesus setelah kebagkitan-Nya bukan lagi Tuhan yang begitu akrab dengan orang-orang, merasa bahwa Ia tidak lagi beserta dengan umat manusia karena Ia telah kembali ke dunia roh, kembali menjadi Sang Bapa yang tidak bisa dilihat atau digapai orang-orang. Ia tidak ingin orang-orang merasa bahwa ada perbedaan dalam posisi antara Dia dan umat manusia. Ketika Tuhan melihat orang-orang yang ingin mengikuti-Nya namun menjaga jarak karena segan terhadap-Nya, hati-Nya merasa sakit karena ini artinya hati mereka berada begitu jauh dari-Nya, artinya akan sangat sulit bagi-Nya untuk mendapatkan hati mereka. Jadi, seandainya Ia menampakkan diri di hadapan orang-orang dalam tubuh spiritual yang tidak dapat mereka lihat atau sentuh, ini sekali lagi akan menciptakan jarak antara manusia dengan Tuhan, dan ini akan membuat manusia keliru menganggap bahwa Kristus setelah kebangkitan-Nya telah menjadi mulia, menjadi berbeda dari manusia, dan menjadi pribadi yang tidak lagi bisa berbagi meja dan bersantap dengan manusia karena manusia dipenuhi dosa, najis, dan tidak akan pernah bisa dekat dengan Tuhan. Demi menghapuskan kesalahpahaman umat manusia ini, Tuhan Yesus melakukan sejumlah hal yang sering Ia lakukan saat berada dalam daging, seperti yang dicatat dalam Alkitab: "Ia mengambil roti, memberkatinya, lalu memecah-mecahkannya, dan membagikan kepada mereka." Ia juga menerangkan kitab suci kepada mereka, sebagaimana yang Ia sering Ia lakukan sebelumnya. Semua hal ini yang dilakukan Tuhan Yesus membuat setiap orang yang melihat-Nya merasa bahwa Tuhan tidak berubah, bahwa Ia masih tetap Tuhan Yesus yang sama. Meskipun Ia telah disalibkan dan mengalami kematian, Ia telah bangkit, dan tidak meninggalkan umat manusia. Ia telah kembali di tengah umat manusia, segala hal yang berkenaan dengan-Nya tidak berubah. Anak Manusia yang berdiri di hadapan orang-orang masih tetap Tuhan Yesus yang sama. Tindakan dan percakapan-Nya dengan orang-orang terasa begitu akrab. Ia masih begitu dipenuhi oleh cinta kasih setia, kasih karunia, dan toleransi—Ia masih tetap Tuhan Yesus yang mengasihi sesama seperti Ia mengasihi diri-Nya sendiri, yang mampu mengampuni umat manusia tujuh puluh kali tujuh kali. Seperti sebelumnya, Ia makan dengan orang-orang, membahas kitab suci dengan mereka, dan yang lebih penting, sama seperti sebelumnya, Ia terbuat dari daging dan darah yang dapat disentuh dan dilihat. Anak Manusia dengan cara ini membuat orang-orang merasakan keakraban, merasakan ketenangan, merasakan kesukaan mendapatkan kembali sesuatu yang telah hilang, dan mereka juga merasa cukup tenang untuk dengan berani dan percaya diri mulai mengandalkan dan mengagumi Anak Manusia yang mampu mengampuni dosa umat manusia. Mereka juga mulai berdoa dalam nama Tuhan Yesus tanpa keraguan, berdoa untuk mendapatkan kasih karunia-Nya, berkat-Nya, dan mendapatkan kedamaian dan kesukaan dari-Nya, memperoleh pemeliharaan dan perlindungan dari-Nya, dan mulai menyembuhkan dan mengusir roh jahat dalam nama Tuhan Yesus.

Selama masa Tuhan Yesus bekerja dalam daging, sebagian besar pengikut-Nya tidak bisa sepenuhnya memastikan identitas-Nya dan hal-hal yang Ia katakan. Ketika Ia disalibkan, sikap para pengikut-Nya adalah pengharapan; sejak saat Ia dipakukan ke kayu salib sampai saat Ia dimasukkan ke dalam kubur, sikap orang-orang terhadap-Nya adalah kekecewaan. Pada selang waktu ini, hati orang-orang mulai berubah dari perasaan ragu-ragu sampai menyangkal segala hal yang dikatakan Tuhan Yesus selama hidup-Nya dalam daging. Dan ketika Ia berjalan keluar dari kubur, dan menampakkan diri di hadapan orang satu persatu, kebanyakan orang yang telah melihat-Nya dengan mata kepala sendiri atau mendengar berita kebangkitan-Nya secara bertahap berubah dari penyangkalan menjadi kesangsian. Pada waktu Tuhan Yesus membiarkan Tomas meletakkan tangannya di lambung-Nya, pada saat Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti dan memakannya di hadapan orang banyak setelah kebangkitan-Nya, dan setelah Ia makan ikan panggang di hadapan mereka, baru pada saat itulah mereka benar-benar menerima kenyataan bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus dalam daging. Engkau semua dapat mengatakan bahwa tubuh spiritual yang memiliki darah dan daging ini seolah-olah sedang membangunkan mereka semua dari mimpi: Anak Manusia yang berdiri di hadapan mereka adalah Dia yang telah ada sejak permulaan zaman. Ia punya wujud, serta daging dan tulang, dan Ia telah hidup dan makan bersama umat manusia untuk waktu yang sangat panjang…. Pada saat ini, orang-orang merasa bahwa keberadaan-Nya begitu nyata, begitu luar biasa; mereka juga begitu bersukacita dan bahagia, dan pada saat yang sama dipenuhi dengan emosi. Dan penampakan-Nya kembali membiarkan orang untuk sungguh-sungguh melihat kerendahhatian-Nya, merasakan kedekatan-Nya, kerinduan-Nya, kasih sayang-Nya bagi umat manusia. Pertemuan kembali yang singkat ini membuat orang-orang yang melihat Tuhan Yesus merasa seakan sudah lama sekali waktu berlalu. Hati mereka yang tersesat, bingung, takut, gelisah, mendamba, dan mati rasa akhirnya menemukan penghiburan. Mereka tidak lagi merasa ragu-ragu atau kecewa karena mereka merasa bahwa kini ada harapan dan sesuatu yang bisa mereka andalkan. Sang Anak Manusia yang berdiri di hadapan mereka akan mendukung mereka untuk waktu yang kekal, Ia akan menjadi menara yang kuat bagi mereka, tempat perlindungan mereka untuk selama-lamanya.

Meskipun Tuhan Yesus telah bangkit, hati-Nya dan pekerjaan-Nya tidak meninggalkan umat manusia. Ia memberitahu orang-orang melalui penampakan-Nya bahwa tidak peduli dalam wujud apa pun diri-Nya, Ia akan menemani orang-orang, berjalan bersama mereka, dan menyertai mereka kapan pun dan di mana pun. Dan kapan pun dan di mana pun, Ia akan membekali dan menggembalakan umat manusia, membiarkan mereka melihat dan menyentuh-Nya, dan memastikan bahwa mereka tidak lagi merasa tak berdaya. Tuhan Yesus juga ingin orang-orang mengetahui hal ini: hidup mereka di dunia ini tidak sendirian. Umat manusia memiliki pemeliharaan Tuhan, Tuhan menyertai mereka; Orang-orang selalu dapat bersandar kepada Tuhan; Ia adalah keluarga bagi setiap pengikut-Nya. Dengan Tuhan sebagai sandaran, umat manusia tidak akan lagi sendirian atau tidak berdaya, dan mereka yang menerima-Nya sebagai penebus dosa mereka tidak akan lagi dibelenggu dalam dosa. Di mata manusia, bagian-bagian dari pekerjaan-Nya yang dilakukan Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya adalah hal-hal yang sangat kecil, tetapi di mata-Ku, setiap hal kecil punya begitu banyak arti, begitu berharga, semuanya begitu penting dan berbobot.

Meskipun masa selama Tuhan Yesus bekerja dalam daging dipenuhi kesusahan dan penderitaan, melalui penampakan diri-Nya dalam tubuh spiritual-Nya berupa daging dan darah, Ia secara utuh dan sempurna menyelesaikan pekerjaan-Nya di dalam daging pada waktu itu untuk menebus umat manusia. Ia memulai pelayanan-Nya dengan menjadi daging, dan Ia menyelesaikan pelayanan-Nya dengan tampil di tengah manusia dalam wujud daging-Nya. Ia mengawali Zaman Kasih Karunia, Ia memulai Zaman Kasih Karunia melalui identitas-Nya sebagai Kristus. Melalui identitas-Nya sebagai Kristus, Ia melakukan pekerjaan di Zaman Kasih Karunia dan Ia menguatkan serta memimpin semua pengikut-Nya di Zaman Kasih Karunia. Mengenai pekerjaan Tuhan, dapat dikatakan bahwa Ia benar-benar menyelesaikan apa yang Ia mulai. Ada langkah-langkah dan ada rancangan, dan semuanya itu dipenuhi oleh hikmat Tuhan, kemahakuasaan-Nya, dan perbuatan luar biasa-Nya. Semuanya juga dipenuhi dengan kasih dan belas kasihan Tuhan. Tentu saja, benang utama yang merajut seluruh pekerjaan Tuhan adalah kepedulian-Nya terhadap umat manusia; pekerjaan-Nya diresapi oleh perasaan peduli-Nya yang tidak bisa Ia kesampingkan. Di dalam ayat-ayat Alkitab ini, dalam setiap hal yang Tuhan Yesus lakukan setelah kebangkitan-Nya, yang terungkap adalah harapan dan kepedulian Tuhan yang tidak pernah berubah bagi umat manusia, dan juga pemeliharaan dan cinta kasih Tuhan yang cermat terhadap manusia. Sampai pada saat ini, tidak satu pun dari semua ini berubah—dapatkah engkau semua melihatnya? Ketika engkau semua melihat hal ini, tidakkah hatimu dengan sendirinya menjadi dekat dengan Tuhan? Seandainya engkau semua hidup di zaman itu dan Tuhan Yesus menampakkan diri di hadapanmu setelah kebangkitan-Nya, dalam wujud nyata yang dapat engkau semua lihat, lalu Ia duduk di hadapanmu, makan roti dan ikan dan menerangkan kitab suci kepadamu, berbincang denganmu, bagaimanakah perasaanmu? Akankah engkau semua merasa senang? Bagaimana dengan rasa bersalah? Kesalahpahaman dan penghindaran mereka dari Tuhan sebelumnya, pertentangan dengan-Nya dan keraguan terhadap-Nya—tidakkah semuanya itu akan menghilang? Tidakkah hubungan antara Tuhan dan manusia akan menjadi lebih layak?

Melalui penafsiran pasal-pasal terbatas dari Alkitab ini, apakah engkau semua menemukan cela dalam watak Tuhan? Apakah engkau semua menemukan kepalsuan dalam kasih Tuhan? Apakah engkau semua melihat muslihat atau kejahatan dalam kemahakuasaan dan hikmat Tuhan? Tentu saja tidak! Sekarang dapatkah engkau semua mengatakan dengan pasti bahwa Tuhan adalah kudus? Dapatkah engkau semua mengatakan dengan kepastian bahwa emosi Tuhan seluruhnya merupakan pengungkapan dari esensi dan watak-Nya? Aku berharap setelah engkau semua membaca firman ini, apa yang telah engkau semua pahami dari sini akan membantumu dan memberikan kepadamu manfaat dalam mengejar perubahan watak dan takut akan Tuhan. Aku juga berharap bahwa firman ini akan berbuah bagimu yang terus bertumbuh hari demi hari, dengan demikian proses pengejaran ini akan membawamu semakin dekat dengan Tuhan, membawamu semakin dekat dengan standar yang Tuhan inginkan, sehingga engkau semua tidak lagi bosan dengan pengejaran akan kebenaran dan engkau semua tidak lagi merasa bahwa pengejaran akan kebenaran dan perubahan watak adalah hal yang merepotkan dan tidak berguna. Sebaliknya, ungkapan watak Tuhan yang sejati dan esensi kudus Tuhanlah yang mendorongmu untuk merindukan terang, merindukan keadilan, dan mendambakan untuk mengejar kebenaran, mengejar pemuasan kehendak Tuhan, dan untuk menjadi manusia yang didapatkan oleh Tuhan, menjadi pribadi yang nyata.

Hari ini kita telah membahas sejumlah hal yang Tuhan lakukan pada Zaman Kasih Karunia ketika Ia berinkarnasi untuk pertama kalinya. Dari hal-hal ini, kita telah melihat watak yang Ia nyatakan dan ungkapkan dalam daging, dan juga setiap aspek dari apa yang Ia punya dan siapa Ia. Semua aspek dari apa yang Ia punya dan siapa Ia nampak begitu dimanusiakan, tetapi kenyataannya adalah esensi dari semua yang Ia ungkapkan dan nyatakan tidak dapat dipisahkan dari watak-Nya sendiri. Setiap cara dan setiap aspek dari Tuhan yang berinkarnasi yang mengungkapkan watak-Nya dalam wujud manusia terkait erat dengan esensi-Nya sendiri. Jadi, sangatlah penting bahwa Tuhan datang kepada manusia dengan jalan inkarnasi dan pekerjaan yang Ia lakukan dalam daging juga sangatlah penting. Selain itu, watak yang Ia ungkapkan dan kehendak yang Ia nyatakan bahkan lebih penting lagi bagi setiap orang yang hidup dalam daging, bagi setiap orang yang hidup dalam kerusakan. Apakah ini adalah hal yang dapat engkau semua pahami? Setelah memahami watak Tuhan dan apa yang Ia punya dan siapa Ia, sudahkah engkau semua mengambil kesimpulan tentang bagaimana engkau semua mesti memperlakukan Tuhan? Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, sebagai kesimpulan, Aku ingin memberimu tiga peringatan sebagai penutup: Pertama, jangan mencobai Tuhan. Tidak peduli seberapa paham engkau akan Tuhan, tidak peduli seberapa jauh engkau mengerti akan watak-Nya, sekali-kali jangan mencobai Dia. Yang kedua, jangan melawan Tuhan demi status. Tidak peduli status seperti apa yang Tuhan berikan kepadamu atau pekerjaan apa yang Ia percayakan kepadamu, tidak peduli Ia mengangkat engkau untuk melaksanakan tugas macam apa, dan tidak peduli seberapa banyak yang telah engkau habiskan dan korbankan demi Tuhan, sekali-kali jangan melawan Dia demi status. Yang ketiga, jangan melawan Tuhan. Tidak peduli apakah engkau mengerti atau engkau menaati apa yang Tuhan lakukan denganmu, yang Ia atur bagimu, dan hal-hal yang Ia bawa kepadamu, sekali-kali jangan melawan Tuhan. Apabila engkau melaksanakan tiga peringatan ini, maka engkau akan aman, dan engkau tidak akan gampang membuat Tuhan marah. Sekian saja hal-hal yang dibagikan pada hari ini!

Catatan Kaki:

a. Teks asli tidak menyertakan "pengungkapan ini …"

Sebelumnya:Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri I

Selanjutnya:Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II

Anda Mungkin Juga Menyukai