Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Penghakiman Dimulai dari Bait Tuhan

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II

Selama pertemuan kita yang terakhir, kita membahas topik yang sangat penting. Ingatkah engkau semua topik apakah itu? Aku akan mengulanginya. Topik persekutuan terakhir kita adalah: Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan dan Tuhan itu Sendiri. Apakah ini topik yang penting bagi engkau semua? Bagian mana yang paling penting bagi engkau semua? Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, atau Tuhan itu Sendiri? Manakah yang paling menarik bagi engkau semua? Bagian manakah yang paling ingin engkau semua dengarkan? Aku tahu sulit bagi engkau semua untuk menjawab pertanyaan itu, karena watak Tuhan dapat dilihat dalam setiap aspek pekerjaan-Nya, dan watak-Nya selalu diungkapkan dalam pekerjaan-Nya di semua tempat, yang sesungguhnya merepresentasikan Tuhan itu sendiri. Dalam keseluruhan rencana pengelolaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, watak Tuhan, dan Tuhan itu sendiri semuanya tidak terpisahkan satu dari yang lain.

Isi persekutuan terakhir kita tentang pekerjaan Tuhan merupakan catatan dalam Alkitab yang terjadi dahulu kala. Semua itu adalah kisah tentang manusia dan Tuhan, dan terjadi pada manusia dan pada saat yang sama melibatkan partisipasi Tuhan dan pengungkapan diri-Nya. Jadi, kisah-kisah ini mengandung nilai dan makna tertentu untuk mengenal Tuhan. Segera setelah menciptakan umat manusia, Tuhan mulai melibatkan diri-Nya dengan manusia dan berbicara kepada manusia, dan watak-Nya pun mulai diungkapkan kepada manusia. Dengan kata lain, dari sejak Tuhan pertama kali melibatkan diri-Nya dengan umat manusia, tanpa henti Dia mulai memberitahukan hakikat-Nya, apa yang dimiliki-Nya, dan siapa diri-Nya secara terbuka kepada manusia. Terlepas dari apakah orang-orang pada zaman dahulu atau orang-orang pada zaman sekarang mampu melihat atau memahami semua itu, singkatnya Tuhan berbicara kepada manusia dan bekerja di antara manusia, menyingkapkan watak-Nya dan mengungkapkan hakikat-Nya─yang merupakan sebuah kenyataan dan tidak terbantahkan oleh siapa pun. Ini juga berarti bahwa watak Tuhan, hakikat Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya terus menerus dinyatakan dan diungkapkan tatkala Dia bekerja dan menjalin hubungan dengan manusia. Dia tidak pernah menutupi atau menyembunyikan apa pun dari manusia, melainkan menyatakannya secara terbuka dan melepaskan watak-Nya sendiri tanpa merahasiakan apa pun. Dengan demikian, Tuhan berharap manusia dapat mengenal-Nya serta memahami watak dan hakikat-Nya. Dia tidak ingin manusia menganggap watak dan hakikat-Nya sebagai misteri abadi, dan Dia juga tidak ingin umat manusia menganggap Tuhan sebuah teka-teki yang tidak pernah dapat dipecahkan. Hanya setelah umat manusia mengenal Tuhan, barulah mereka dapat mengetahui jalan ke depan dan menerima bimbingan Tuhan, dan hanya umat manusia seperti inilah yang dapat sungguh-sungguh hidup di bawah kekuasaan Tuhan, hidup di dalam terang, dan hidup di tengah berkat Tuhan.

Firman dan watak yang dinyatakan dan diungkapkan Tuhan merepresentasikan kehendak dan juga hakikat-Nya. Ketika Tuhan menjalin hubungan dengan manusia, tidak peduli apa pun yang Dia katakan atau lakukan, atau watak mana pun yang Dia ungkapkan, dan tidak peduli apa pun yang manusia lihat dari hakikat-Nya, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, semuanya itu merepresentasikan kehendak Tuhan bagi manusia. Terlepas dari seberapa banyak manusia mampu menyadari, mengerti atau memahaminya, semua itu merepresentasikan kehendak Tuhan─kehendak Tuhan bagi manusia. Ini tidak diragukan lagi! Kehendak Tuhan bagi umat manusia adalah bagaimana Dia menuntut mereka menjadi apa, apa yang Dia tuntut mereka lakukan, bagaimana Dia menuntut mereka menjalani hidup, dan bagaimana Dia menuntut mereka agar mampu memenuhi kehendak Tuhan. Apakah hal-hal ini tidak terpisahkan dari hakikat Tuhan? Dengan kata lain, Tuhan menyatakan watak-Nya, semua yang Dia miliki dan siapa diri-Nya dan pada saat yang sama membuat tuntutan terhadap manusia. Tidak ada kepalsuan dan kepura-puraan, tidak ada yang ditutupi, dan ditambah-tambahkan. Namun mengapa manusia tidak mampu mengetahui, dan mengapa ia tidak pernah mampu memahami watak Tuhan dengan jelas? Mengapa manusia tidak pernah menyadari kehendak Tuhan? Apa yang diungkapkan dan dinyatakan oleh Tuhan adalah apa yang Tuhan sendiri miliki dan siapa diri-Nya, serta setiap bagian dan sisi dari watak-Nya yang sebenarnya─jadi mengapa manusia tidak dapat melihatnya? Mengapa manusia tidak mampu memiliki pengetahuan yang menyeluruh? Ada alasan penting untuk hal ini. Apakah alasannya? Sejak saat penciptaan, manusia tidak pernah menganggap Tuhan sebagai Tuhan. Di masa-masa paling awal, tidak peduli apa pun yang Tuhan lakukan yang berkaitan dengan manusia, manusia yang baru saja diciptakan itu menganggap-Nya tidak lebih dari seorang pendamping, seseorang untuk diandalkan, serta tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman tentang Tuhan. Artinya, manusia tidak mengetahui bahwa apa yang dinyatakan oleh Pribadi ini─Pribadi yang ia andalkan dan ia anggap sebagai pendamping ini─adalah hakikat Tuhan, dan manusia juga tidak mengetahui bahwa Pribadi ini adalah Pribadi yang mengatur segala sesuatu. Secara sederhana, manusia pada masa itu, tidak mengenali Tuhan sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu telah dijadikan oleh-Nya, dan mereka tidak tahu dari mana Dia berasal dan terlebih lagi, tidak tahu siapa diri-Nya. Tentu saja, pada saat itu Tuhan tidak menuntut manusia untuk mengenal atau memahami diri-Nya, untuk mengerti semua yang Dia lakukan atau mengetahui kehendak-Nya, karena ini merupakan masa-masa paling awal setelah penciptaan manusia. Ketika Tuhan memulai persiapan untuk pekerjaan di Zaman Hukum Taurat, Tuhan melakukan beberapa hal kepada manusia dan juga mulai memberi mereka beberapa tuntutan, meminta mereka memberikan persembahan dan beribadah kepada Tuhan. Baru kemudian manusia mendapatkan beberapa gagasan sederhana tentang Tuhan. Baru kemudian ia mengetahui perbedaan antara manusia dan Tuhan, dan bahwa Tuhan adalah Pribadi yang menciptakan umat manusia. Ketika manusia tahu bahwa Tuhan adalah Tuhan dan manusia adalah manusia, terbentanglah jarak tertentu antara dirinya dan Tuhan, tetapi Tuhan tetap tidak meminta manusia untuk memiliki pengetahuan yang luas atau pemahaman yang mendalam tentang diri-Nya. Jadi, Tuhan memberi kepada manusia persyaratan yang berbeda berdasarkan pada tahap dan keadaan pekerjaan-Nya. Apakah yang engkau semua lihat dalam hal ini? Aspek apakah dari watak Tuhan yang engkau semua pahami? Apakah Tuhan itu nyata? Apakah tuntutan Tuhan terhadap manusia sesuai? Selama masa-masa paling awal setelah Tuhan menciptakan manusia, ketika Tuhan baru akan melakukan pekerjaan penaklukan dan penyempurnaan dalam diri manusia, dan belum menyampaikan terlalu banyak firman kepadanya, Dia hanya menuntut sedikit dari manusia. Terlepas dari apa yang manusia lakukan dan bagaimana ia berperilaku─bahkan jika ia melakukan beberapa hal yang menyinggung Tuhan─Tuhan mengampuni dan mengabaikan semuanya. Karena Tuhan tahu apa yang telah Dia berikan kepada manusia, dan tahu apa yang ada dalam diri manusia, Dia pun tahu standar tuntutan apa yang harus Dia buat bagi manusia. Meskipun standar tuntutan-Nya pada saat itu sangat rendah, bukan berarti bahwa watak-Nya tidak agung, atau bahwa hikmat dan kemahakuasaan-Nya hanyalah kata-kata kosong. Bagi manusia, hanya ada satu cara untuk mengetahui watak Tuhan dan Tuhan itu sendiri, yaitu dengan mengikuti langkah-langkah pekerjaan pengelolaan Tuhan dan penyelamatan manusia, dan menerima firman yang Tuhan sampaikan kepada umat manusia. Setelah mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya serta mengetahui watak Tuhan, apakah manusia akan tetap meminta kepada Tuhan agar Dia menunjukkan pribadi-Nya yang nyata kepada manusia? Manusia tidak akan dan tidak berani memintanya, karena dengan memahami watak Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, manusia telah melihat Tuhan itu sendiri yang sebenarnya, dan telah menyaksikan pribadi-Nya yang nyata. Ini adalah hasil yang tidak terelakkan.

Karena pekerjaan dan rencana Tuhan berkembang maju tanpa henti, dan setelah Tuhan menetapkan perjanjian pelangi dengan manusia sebagai tanda bahwa Dia tidak akan pernah lagi menghancurkan dunia dengan menggunakan air bah, Tuhan memiliki keinginan yang semakin kuat untuk mendapatkan mereka yang bisa sepikiran dengan-Nya. Karena itu, Dia juga memiliki harapan yang jauh lebih mendesak untuk mendapatkan mereka yang mampu melakukan kehendak-Nya di bumi, dan terlebih lagi, untuk mendapatkan sekelompok orang yang mampu membebaskan diri dari kekuatan kegelapan, dan yang tidak terikat oleh Iblis, dan mampu menjadi saksi bagi Dia di bumi. Mendapatkan sekelompok orang seperti itu adalah harapan Tuhan sejak lama, sesuatu yang Dia telah nantikan dari sejak saat penciptaan. Jadi, terlepas dari Tuhan menggunakan air bah untuk menghancurkan dunia, atau terlepas dari perjanjian-Nya dengan manusia, kehendak, kerangka berpikir, rencana dan harapan Tuhan semuanya tetap sama. Apa yang ingin Dia lakukan, yang dirindukan-Nya jauh sebelum waktu penciptaan, adalah mendapatkan mereka yang ingin Dia dapatkan di antara umat manusia─mendapatkan sekelompok orang yang mampu memahami dan mengetahui watak-Nya serta mengerti kehendak-Nya, sekelompok orang yang mampu menyembah-Nya. Kelompok orang-orang semacam inilah yang benar-benar mampu menjadi saksi bagi-Nya, dan mereka bisa dikatakan sebagai orang-orang kepercayaan-Nya.

Sekarang ini, mari kita terus menapaki kembali jejak langkah Tuhan dan mengikuti langkah-langkah pekerjaan-Nya, sehingga kita dapat mengetahui pikiran dan gagasan Tuhan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan, yang kesemuanya telah "tersimpan di ruang penyimpanan" sedemikian lamanya. Melalui hal-hal ini, kita akan mengetahui watak Tuhan, memahami hakikat Tuhan dan kita akan membiarkan Tuhan masuk ke dalam hati kita, dan setiap orang dari antara kita perlahan-lahan akan semakin dekat dengan Tuhan, mengurangi jarak antara kita dengan Tuhan.

Sebagian dari apa yang kita bahas sebelumnya berkaitan dengan mengapa Tuhan menetapkan perjanjian dengan manusia. Kali ini, kita akan bersekutu tentang perikop dari Kitab Suci di bawah ini. Mari kita mulai dengan membaca ayat-ayat berikut.

A. Abraham

1. Tuhan Berjanji Mengaruniakan Seorang Anak Laki-laki kepada Abraham

(Kejadian 17:15-17) Lalu Tuhan berfirman kepada Abraham: "Mengenai Sarai, istrimu, engkau tidak akan menyebutnya lagi Sarai, tetapi namanya akan menjadi Sara. Dan Aku akan memberkatinya dan memberimu anak lelaki darinya: ya, Aku akan memberkatinya sehingga ia akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa; raja-raja dari segala bangsa akan lahir darinya. Lalu Abraham menunduk dan tertawa dan berkata dalam hatinya, "Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun? Dan mungkinkah Sara yang berumur 90 tahun melahirkan seorang anak?"

(Kejadian 17:21-22) "Tetapi perjanjian-Ku akan Kutetapkan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu, di saat seperti ini juga di tahun yang akan datang." Lalu Dia selesai berfirman kepada Abraham dan Dia naik meninggalkan Abraham.

2. Abraham Mempersembahkan Ishak

(Kejadian 22:2-3) Dan Dia berfirman: "Ambillah anak lelakimu, anak lelakimu satu-satunya, Ishak, yang engkau kasihi, bawalah ia ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran, di salah satu gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu. Maka Abraham bangun pagi-pagi benar dan memasang pelana keledainya lalu membawa dua orang bujang bersamanya dan Ishak anaknya; ia juga membelah kayu untuk korban bakaran itu lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

(Kejadian 22:9-10) Tibalah mereka ke tempat yang Tuhan tunjukkan kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah di sana, menyusun kayu dan mengikat Ishak, anaknya dan membaringkannya di mezbah itu, di atas kayu. Lalu Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya.

Tidak Seorang pun Dapat Menghalangi Pekerjaan yang telah Tuhan Tetapkan untuk Dilakukan-Nya

Jadi, engkau semua telah mendengar kisah tentang Abraham. Dia dipilih oleh Tuhan setelah air bah menghancurkan dunia. Namanya adalah Abraham, dan ketika dia berumur seratus tahun dan istrinya, Sara, berumur sembilan puluh tahun, janji Tuhan dinyatakan kepadanya. Janji apakah yang Tuhan nyatakan kepadanya? Tuhan menjanjikan hal yang disebutkan dalam Kitab Suci: "Dan Aku akan memberkatinya dan memberimu anak lelaki darinya." Apakah latar belakang janji Tuhan untuk mengaruniakan kepada Abraham seorang anak laki-laki? Kitab Suci memberikan catatan berikut: "Lalu Abraham menunduk dan tertawa dan berkata dalam hatinya, "Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun? Dan mungkinkah Sara yang berumur 90 tahun melahirkan seorang anak?" Dengan kata lain, pasangan berusia lanjut ini terlalu tua untuk melahirkan anak. Lalu, apa yang Abraham lakukan setelah Tuhan menyampaikan janji-Nya kepadanya? Dia menunduk dan tertawa, dan berkata dalam hatinya: "Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun?" Abraham percaya bahwa hal itu tidak mungkin─yang berarti ia percaya bahwa janji Tuhan kepadanya tidak lebih dari sebuah lelucon. Dari sudut pandang manusia, hal ini tidak mungkin dicapai manusia, yang berarti juga tidak mungkin dicapai oleh Tuhan dan merupakan sebuah ketidakmungkinan bagi Tuhan. Mungkin bagi Abraham, hal ini menggelikan: Tuhan menciptakan manusia, tetapi rupanya Dia tidak tahu bahwa orang yang sudah setua itu tidak mampu lagi melahirkan anak. Dia kira Dia dapat memampukanku untuk melahirkan anak, Dia mengatakan bahwa Dia akan memberi kepadaku seorang anak laki-laki─benar-benar tidak mungkin! Maka, Abraham pun menunduk dan tertawa, dan berkata dalam hatinya: Tidak mungkin─Tuhan bercanda denganku, ini tidak mungkin benar! Abraham tidak menganggap serius firman Tuhan. Jadi, di mata Tuhan, orang macam apakah Abraham itu? (Orang benar.) Di mana dikatakan bahwa ia adalah orang yang benar? Engkau semua berpikir bahwa semua orang yang Tuhan panggil adalah orang benar dan sempurna, dan orang yang berjalan bersama Tuhan. Engkau semua terpaut pada doktrin! Engkau semua harus mengerti dengan jelas bahwa ketika Tuhan mendefinisikan seseorang, Dia tidak melakukannya dengan semena-mena. Di sini, Tuhan tidak mengatakan bahwa Abraham adalah orang benar. Di dalam hati-Nya, Tuhan memiliki standar untuk mengukur setiap orang. Meskipun Tuhan tidak mengatakan orang macam apakah Abraham itu, berdasarkan perilakunya, iman seperti apa yang Abraham miliki kepada Tuhan? Apakah ini sedikit abstrak? Atau, apakah ia seseorang yang memiliki iman yang besar? Tidak! Tawa dan pikirannya menunjukkan siapa dirinya. Jadi, keyakinanmu bahwa Abraham adalah seorang yang benar hanyalah isapan jempol dari imajinasimu, itu adalah penerapan doktrin yang membabi buta, sebuah penilaian yang tidak bertanggung jawab. Apakah Tuhan melihat tawa dan air muka Abraham, apakah Dia mengetahuinya? Tuhan tahu. Namun, akankah Tuhan mengubah apa yang telah ditetapkan untuk dilakukan-Nya? Tidak! Ketika Tuhan merencanakan dan memutuskan bahwa Dia akan memilih orang ini, perkara ini sudah ditetapkan. Baik pikiran maupun perilaku manusia tidak akan sedikit pun memengaruhi atau mengganggu Tuhan. Tuhan tidak akan secara semena-mena mengubah rencana-Nya, juga tidak akan mengubah atau mengacaukan rencana-Nya oleh karena perilaku manusia, yang bahkan mungkin bodoh. Apakah, kemudian, yang tertulis dalam Kejadian 17:21-22? "Tetapi perjanjian-Ku akan Kutetapkan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu, di saat seperti ini juga di tahun yang akan datang." Lalu Dia selesai berfirman kepada Abraham dan Dia naik meninggalkan Abraham." Tuhan tidak memberi sedikit pun perhatian pada apa yang Abraham pikirkan atau katakan. Apakah alasan Dia tidak mengindahkannya? Alasannya karena pada waktu itu, Tuhan tidak menuntut manusia harus memiliki iman yang besar, atau mampu memiliki pengetahuan yang besar akan Tuhan, atau terlebih lagi, mampu memahami apa yang Tuhan lakukan dan katakan. Dengan demikian, Dia tidak meminta manusia untuk sepenuhnya memahami apa yang Dia tetapkan untuk dilakukan, atau orang-orang yang Dia putuskan untuk dipilih-Nya, atau prinsip-prinsip dari tindakan-Nya, karena tingkat pertumbuhan manusia sangat tidak memadai. Pada waktu itu, Tuhan menganggap apa pun yang Abraham lakukan dan bagaimana pun perilakunya sebagai sesuatu yang normal. Dia tidak menyalahkan ataupun menegur, tetapi hanya berkata: "Sara akan melahirkan Ishak bagimu, di saat yang ditetapkan ini di tahun yang akan datang." Bagi Tuhan, setelah Dia menyampaikan perkataan ini, masalah ini menjadi nyata selangkah demi selangkah. Di mata Tuhan, apa yang harus dicapai oleh rencana-Nya telah dicapai, dan setelah menyelesaikan pengaturan atas hal ini, Tuhan pun pergi. Apa yang manusia lakukan atau pikirkan, apa yang manusia pahami, rencana-rencana manusia─tidak satu pun dari semua ini ada kaitannya dengan Tuhan. Segala sesuatu berlangsung menurut rencana Tuhan, sesuai dengan waktu dan tahapan yang ditetapkan oleh Tuhan. Seperti inilah prinsip pekerjaan Tuhan. Tuhan tidak mencampuri apa pun yang manusia pikirkan atau ketahui, namun Dia juga tidak meninggalkan rencana-Nya, atau melepaskan pekerjaan-Nya karena manusia tidak percaya atau mengerti. Dengan demikian, fakta yang terjadi adalah sesuai dengan rencana dan pemikiran Tuhan. Inilah tepatnya yang kita lihat dalam Akitab: Tuhan menyebabkan Ishak dilahirkan pada waktu yang telah Dia tetapkan. Apakah fakta tersebut membuktikan bahwa perilaku dan tindakan manusia menghalangi pekerjaan Tuhan? Semua itu tidak menghalangi pekerjaan Tuhan! Apakah iman manusia yang kecil kepada Tuhan, serta gagasan dan imajinasinya tentang Tuhan memengaruhi pekerjaan Tuhan? Tidak! Sama sekali tidak! Rencana pengelolaan Tuhan tidak dipengaruhi oleh siapa pun, juga tidak oleh perihal atau lingkungan apa pun. Semua yang Dia tetapkan untuk dilakukan akan diselesaikan dan dikerjakan pada waktunya dan sesuai dengan rencana-Nya, dan pekerjaan-Nya tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Tuhan mengabaikan aspek-aspek tertentu dari kebodohan dan ketidaktahuan manusia, bahkan mengabaikan aspek-aspek tertentu dari perlawanan dan gagasan manusia terhadap-Nya. Dia melakukan pekerjaan yang harus Dia lakukan tanpa memedulikan hal-hal itu. Inilah watak Tuhan dan cerminan kemahakuasaan-Nya.

Pekerjaan Pengelolaan Tuhan dan Penyelamatan Umat Manusia Dimulai dengan Dipersembahkannya Ishak oleh Abraham

Setelah mengaruniakan seorang anak laki-laki kepada Abraham, firman yang Tuhan telah sampaikan kepada Abraham pun digenapi. Bukan berarti bahwa rencana Tuhan berakhir di sini. Sebaliknya, rencana agung Tuhan bagi pengelolaan dan penyelamatan umat manusia baru saja dimulai, dan berkat-Nya berupa seorang putra bagi Abraham hanyalah pendahuluan dari rencana pengelolaan-Nya secara keseluruhan. Pada saat itu, siapakah yang tahu bahwa pertempuran Tuhan melawan Iblis telah dimulai secara diam-diam ketika Abraham mempersembahkan Ishak?

Tuhan Tidak Peduli Jikalau Manusia Bodoh─Dia hanya Meminta agar Manusia Benar

Selanjutnya, mari kita melihat apa yang Tuhan lakukan kepada Abraham. Dalam Kejadian 22:2, Tuhan memberikan perintah berikut kepada Abraham: "Ambillah anak lelakimu, anak lelakimu satu-satunya, Ishak, yang engkau kasihi, bawalah ia ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran, di salah satu gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu." Maksud Tuhan jelas: Dia mengatakan kepada Abraham untuk mempersembahkan putra tunggalnya, Ishak, yang ia kasihi, sebagai korban bakaran. Memandang hal ini pada zaman sekarang, apakah perintah Tuhan tetap sangat bertentangan dengan pemahaman manusia? Ya! Semua yang dilakukan Tuhan pada waktu itu sangat bertentangan dengan pemahaman manusia dan tidak dapat dipahami manusia. Menurut pemahaman manusia, orang percaya sebagai berikut: Ketika seseorang tidak percaya, dan berpikir bahwa hal itu tidak mungkin, Tuhan memberikan kepadanya seorang anak laki-laki, dan setelah ia memperoleh anak laki-laki, Tuhan meminta kepadanya untuk mempersembahkan anak laki-laki tersebut─betapa luar biasa! Sebetulnya, apa yang bermaksud Tuhan lakukan? Apa tujuan Tuhan sebenarnya? Dia tanpa syarat mengaruniakan seorang anak kepada Abraham, namun Dia juga meminta Abraham untuk memberikan korban persembahan tanpa syarat. Apakah ini berlebihan? Dari sudut pandang pihak ketiga, ini bukan hanya berlebihan, tetapi ini juga merupakan hal yang "menciptakan masalah dari yang tadinya tidak ada masalah." Namun, Abraham sendiri tidak percaya bahwa Tuhan meminta terlalu banyak. Meskipun ia memiliki sedikit pemikiran, dan sedikit curiga terhadap Tuhan, ia tetap siap untuk mempersembahkan korban bakaran. Pada titik ini, apa yang engkau lihat yang membuktikan bahwa Abraham bersedia mengorbankan anaknya? Apa yang dikatakan dalam kalimat-kalimat ini? Teks asli memberikan catatan berikut: "Maka Abraham bangun pagi-pagi benar dan memasang pelana keledainya lalu membawa dua orang bujang bersamanya dan Ishak anaknya; ia juga membelah kayu untuk korban bakaran itu lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya" (Kej 22:3). "Tibalah mereka ke tempat yang Tuhan tunjukkan kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah di sana, menyusun kayu dan mengikat Ishak, anaknya dan membaringkannya di mezbah itu, di atas kayu. Lalu Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya" (Kej 22:9-10). Ketika Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya, apakah tindakannya itu dilihat oleh Tuhan? Ya. Keseluruhan proses─dari sejak awal, ketika Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak, hingga saat Abraham benar-benar mengangkat pisaunya untuk menyembelih anak lelakinya─menunjukkan kepada Tuhan hati Abraham, dan terlepas dari kebodohan, ketidaktahuan, dan kesalahpahaman Abraham sebelumnya akan Tuhan, pada waktu itu, hati Abraham untuk Tuhan adalah benar dan jujur, dan ia benar-benar mau mengembalikan Ishak, putra yang diberikan kepadanya, kepada Tuhan. Di dalam dirinya, Tuhan melihat ketaatan─ketaatan yang sangat Dia inginkan.

Bagi manusia, Tuhan melakukan banyak hal yang tak terpahami dan bahkan sulit dipercaya. Ketika Tuhan ingin mengatur seseorang, pengaturan ini sering bertentangan dengan pemahaman manusia dan sukar dipahami olehnya, tetapi justru pertentangan dan kesulitan untuk dipahami inilah yang merupakan ujian dan tes dari Tuhan bagi manusia. Sementara itu, Abraham mampu menunjukkan ketaatan dalam dirinya kepada Tuhan, yang merupakan keadaan paling mendasar agar dirinya mampu memuaskan tuntutan Tuhan. Baru pada saat itulah, ketika Abraham mampu menaati persyaratan Tuhan, ketika ia mempersembahkan Ishak, Tuhan sungguh-sungguh merasakan peneguhan serta perkenan-Nya terhadap umat manusia─terhadap Abraham, yang telah Dia pilih. Baru pada saat itulah Tuhan yakin bahwa orang yang telah dipilih-Nya ini adalah seorang pemimpin yang sangat diperlukan yang dapat melaksanakan janji dan rencana pengelolaan-Nya selanjutnya. Meskipun hanya sebuah ujian dan tes, Tuhan merasa dipuaskan, Dia merasakan kasih manusia kepada-Nya, dan Dia merasa dihiburkan oleh manusia seperti yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pada saat Abraham mengangkat pisaunya untuk menyembelih Ishak, apakah Tuhan menghentikannya? Tuhan tidak membiarkan Abraham mempersembahkan Ishak, karena Tuhan sama sekali tidak berniat mengambil nyawa Ishak. Jadi, Tuhan menghentikan Abraham tepat pada waktunya. Bagi Tuhan, ketaatan Abraham telah lulus dalam ujian, apa yang dilakukannya sudah cukup, dan Tuhan sudah melihat hasil dari apa yang ingin Dia lakukan. Apakah hasil ini memuaskan bagi Tuhan? Dapat dikatakan bahwa hasil ini memuaskan bagi Tuhan, bahwa itulah yang Tuhan inginkan, dan yang Tuhan rindukan. Apakah ini benar? Meskipun dalam konteks berbeda, Tuhan menggunakan cara-cara berbeda untuk menguji setiap orang, dalam diri Abraham Tuhan melihat apa yang Dia inginkan, Dia melihat bahwa hati Abraham benar, dan bahwa ketaatannya tanpa syarat, dan justru "tanpa syarat" inilah yang Tuhan inginkan. Orang sering mengatakan, aku sudah mempersembahkan ini, aku sudah meninggalkan itu─mengapa Tuhan tetap tidak merasa puas denganku? Mengapa Dia terus membuatku menghadapi ujian? Mengapa Dia terus mengujiku? Ini menunjukkan satu fakta: Tuhan belum melihat hatimu, dan belum mendapatkan hatimu. Yang artinya, Dia belum melihat ketulusan hati seperti ketika Abraham mampu mengangkat pisaunya untuk menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Dia belum melihat ketaatanmu yang tanpa syarat. Dan belum merasa dihiburkan olehmu. Maka, wajarlah jika Tuhan terus mengujimu. Tidakkah ini benar? Kita akan menyudahi topik ini di sini. Berikutnya, kita akan membaca "Janji Tuhan kepada Abraham."

3. Janji Tuhan kepada Abraham

(Kejadian 22:16-18) Bemi diri-Ku sendiri Aku bersumpah, demikianlah firman Yahweh, "karena engkau telah melakukan hal ini dan tidak menahan anakmu, anakmu satu-satunya, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu bertambah banyak seperti bintang di langit dan pasir di tepi pantai; dan keturunanmu akan menguasai pintu gerbang musuhnya. Maka oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati, karena engkau sudah menaati suara-Ku."

Ini adalah kisah yang lengkap tentang berkat Tuhan kepada Abraham. Meskipun singkat, isinya sangat kaya: Tercakup di dalamnya alasan dan latar belakang berkat Tuhan yang diberikan kepada Abraham, dan apa yang Dia berikan kepada Abraham. Isinya pun dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan saat Tuhan mengucapkan firman ini, juga desakan kerinduan-Nya untuk mendapatkan mereka yang mampu mendengarkan firman-Nya. Di dalamnya, kita melihat penghargaan dan kelembutan Tuhan terhadap mereka yang menaati firman-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Jadi, kita juga melihat harga yang Dia bayar demi mendapatkan manusia serta perhatian dan pikiran yang Dia curahkan untuk mendapatkan mereka. Selain itu, perikop yang berisi kata-kata "… demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah," menunjukkan kepada kita kepahitan dan kepedihan mendalam yang ditanggung oleh Tuhan, dan hanya oleh Tuhan saja, di balik pekerjaan dalam rencana pengelolaan-Nya ini. Ini adalah perikop yang membutuhkan pemikiran mendalam serta mengandung makna penting khusus, dan berdampak luas bagi mereka yang datang sesudahnya.

Manusia Mendapatkan Berkat Tuhan Karena Ketulusan dan Ketaatannya

Apakah berkat yang Tuhan berikan kepada Abraham, yang kita baca di sini, besar? Seberapa besarkah? Ada satu kalimat kunci di sini: "Maka oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati," yang menunjukkan bahwa Abraham menerima berkat yang tidak diberikan kepada siapa pun yang datang sebelum atau sesudahnya. Ketika Abraham, seperti yang Tuhan minta, mengembalikan anak lelaki satu-satunya─anak lelaki satu-satunya yang sangat ia kasihi─kepada Tuhan (catatan: Di sini kita tidak dapat menggunakan kata "mempersembahkan"; kita harus mengatakan bahwa ia mengembalikan anaknya kepada Tuhan), bukan hanya tidak membiarkan Abraham mempersembahkan Ishak, Tuhan pun memberkatinya. Dengan janji apakah Dia memberkati Abraham? Janji untuk melipatgandakan keturunannya. Lalu, seberapa banyakkah mereka akan berlipatganda? Kitab Suci menyediakan catatan berikut: "seperti bintang di langit dan pasir di tepi pantai; dan keturunanmu akan menguasai pintu gerbang musuhnya. Maka oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati." Apakah konteks ketika Tuhan mengucapkan firman ini? Yang berarti, mengapa Abraham menerima berkat Tuhan? Dia menerimanya, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci: "karena engkau sudah menaati suara-Ku." Yaitu, karena Abraham telah mengikuti perintah Tuhan, karena ia telah melakukan segala sesuatu yang Tuhan katakan, minta dan perintahkan tanpa keluhan sedikit pun, sehingga Tuhan memberikan janji seperti itu kepadanya. Ada satu kalimat penting dalam janji ini yang menyentuh pikiran Tuhan pada saat itu. Sudahkah engkau semua melihatnya? Engkau semua mungkin tidak terlalu memperhatikan perkataan Tuhan, "Demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah." Yang dimaksud perkataan ini adalah bahwa ketika Tuhan menyampaikan firman ini, Dia bersumpah demi diri-Nya sendiri. Demi apakah orang bersumpah ketika mereka mengucapkan sebuah sumpah? Mereka bersumpah demi Langit, yang artinya, mereka bersumpah kepada Tuhan dan demi Tuhan. Orang mungkin tidak memiliki banyak pemahaman tentang fenomena di mana Tuhan bersumpah demi diri-Nya sendiri, tetapi engkau semua akan dapat memahaminya setelah Aku memberikan penjelasan yang benar kepada engkau semua. Diperhadapkan dengan seorang manusia yang hanya dapat mendengarkan firman-Nya namun tidak dapat memahami hati-Nya membuat Tuhan sekali lagi merasakan kesepian dan kehilangan. Dalam kesedihan yang mendalam─dan dapat dikatakan, dengan tanpa sadar─Tuhan pun melakukan sesuatu yang sangat alami: Tuhan meletakkan tangan di hati-Nya dan berkata kepada diri-Nya sendiri tatkala memberikan janji ini kepada Abraham, dan dari janji ini, manusia mendengar Tuhan berkata "Demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah." Melalui tindakan Tuhan, engkau mungkin berpikir tentang dirimu sendiri. Ketika engkau meletakkan tangan di hatimu dan berkata kepada dirimu sendiri, apakah saat itu engkau memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang engkau katakan? Apakah sikapmu tulus? Apakah engkau berbicara dengan terus terang, dengan segenap hatimu? Dengan demikian, kita melihat di sini bahwa ketika Tuhan berbicara kepada Abraham, Dia bersungguh-sungguh dan tulus. Pada saat yang sama ketika Dia berbicara dan memberkati Abraham, Tuhan juga berbicara kepada diri-Nya sendiri. Dia berkata kepada diri-Nya: Aku akan memberkati Abraham, dan membuat keturunannya menjadi sebanyak bintang di langit, dan pasir di tepi pantai, karena ia menaati firman-Ku dan ia adalah orang yang Kupilih. Saat Tuhan berkata: "Demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah." Tuhan memutuskan bahwa melalui Abraham Dia akan menghasilkan orang-orang Israel pilihan, dan setelahnya Dia akan memimpin orang-orang ini maju dengan cepat bersama dengan pekerjaan-Nya. Artinya, Tuhan akan membuat keturunan Abraham mengalami pekerjaan pengelolaan Tuhan, dan pekerjaan Tuhan serta apa yang Tuhan ungkapkan akan dimulai dari Abraham, dan berlanjut dalam diri keturunan Abraham, dan dengan demikian mewujudkan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Menurut engkau semua, bukankah hal ini sebuah berkat? Bagi manusia, tidak ada berkat yang lebih besar dari ini. Dapat dikatakan bahwa ini adalah berkat yang paling besar. Berkat yang Abraham dapatkan bukanlah pelipatgandaan jumlah keturunannya, melainkan pencapaian Tuhan atas pengelolaan, amanat dan pekerjaan-Nya dalam diri keturunan Abraham. Ini berarti berkat yang diperoleh Abraham tidak sementara, melainkan terus berlanjut seiring berkembangnya rencana pengelolaan Tuhan. Ketika Tuhan berbicara, ketika Tuhan bersumpah demi diri-Nya sendiri, Dia telah membuat sebuah ketetapan. Apakah proses ketetapan ini benar? Apakah nyata? Tuhan berketetapan bahwa mulai saat itu dan seterusnya, upaya-Nya, harga yang Dia bayar, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, segala sesuatu dari-Nya dan bahkan hidup-Nya akan diberikan kepada Abraham dan keturunan Abraham. Tuhan juga berketetapan bahwa dimulai dari sekelompok orang ini, Dia akan mewujudkan perbuatan-Nya, dan memungkinkan manusia untuk melihat hikmat, otoritas dan kuasa-Nya.

Mendapatkan Mereka yang Mengenal Tuhan dan Mampu Bersaksi Bagi-Nya adalah Keinginan Tuhan yang Tidak Pernah Berubah

Pada saat yang sama Dia berbicara kepada diri-Nya sendiri, Tuhan juga berbicara kepada Abraham, tetapi selain mendengar berkat yang Tuhan berikan kepadanya, apakah Abraham dapat memahami keinginan Tuhan yang sebenarnya dalam semua firman-Nya pada saat itu? Tidak! Jadi, pada saat itu, ketika Tuhan bersumpah demi diri-Nya sendiri, hati-Nya tetap merasa kesepian dan sedih. Tetap tidak ada seorang pun yang dapat mengerti atau memahami apa yang Dia maksudkan dan rencanakan. Pada saat itu, tidak seorang pun─termasuk Abraham─yang dapat berbicara kepada-Nya secara langsung, apalagi bekerja sama dengan-Nya dalam melakukan pekerjaan yang harus Dia lakukan. Secara lahir, Tuhan telah mendapatkan Abraham, dan telah mendapatkan seseorang yang dapat menaati firman-Nya. Namun pada kenyataannya, pengetahuan orang ini akan Tuhan hampir tidak ada. Meskipun Tuhan telah memberkati Abraham, hati Tuhan tetap tidak puas. Apa artinya Tuhan tidak puas? Itu berarti pengelolaan-Nya baru saja dimulai. Itu berarti orang-orang yang Dia ingin dapatkan, orang-orang yang rindu Dia lihat, orang-orang yang Dia kasihi, masih jauh dari-Nya. Dia perlu waktu. Dia perlu menunggu. Dia perlu bersabar. Karena pada saat itu, selain Tuhan sendiri, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang Dia butuhkan, atau apa yang ingin Dia dapatkan atau apa yang Dia rindukan. Jadi, pada saat yang sama Dia merasa sangat bahagia, Tuhan pun merasakan hati-Nya sangat berat. Namun Dia tidak menghentikan langkah-Nya, dan terus merencanakan langkah yang harus Dia lakukan selanjutnya.

Apakah yang engkau semua lihat di dalam janji Tuhan kepada Abraham? Tuhan memberikan berkat yang besar kepada Abraham hanya karena ia mendengarkan firman-Nya. Meskipun selintas, ini tampaknya biasa, dan hal yang wajar, di dalamnya kita melihat hati Tuhan: Tuhan terutama senang dengan ketaatan manusia kepada-Nya, dan menghargai pemahaman manusia akan Dia serta ketulusan manusia terhadap-Nya. Seberapa dalamkah Tuhan menghargai ketulusan ini? Engkau semua mungkin tidak mengerti seberapa dalam Dia menghargainya, dan mungkin tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Tuhan mengaruniakan seorang anak laki-laki kepada Abraham dan setelah anak itu tumbuh besar, Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkannya kepada Tuhan. Abraham mengikuti perintah Tuhan dengan tepat, ia menaati firman Tuhan, dan ketulusannya itu menggerakkan hati Tuhan dan sangat dihargai oleh Tuhan. Seberapa dalamkah Tuhan menghargainya? Dan mengapa Dia menghargainya? Pada saat tidak ada seorang pun memahami firman Tuhan atau mengerti isi hati-Nya, Abraham melakukan sesuatu yang mengguncangkan surga dan menggetarkan bumi, dan itu membuat Tuhan merasakan kepuasan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dan itu membuat Tuhan bersukacita karena mendapatkan seseorang yang mampu menaati firman-Nya. Kepuasan dan sukacita ini datang dari makhluk yang diciptakan oleh tangan Tuhan sendiri, dan merupakan "pengorbanan" pertama yang manusia berikan kepada Tuhan dan itu adalah hal yang paling Tuhan hargai, dari sejak manusia diciptakan. Tuhan mengalami masa sulit menantikan pengorbanan ini dan Dia memperlakukannya sebagai hadiah terpenting pertama dari manusia, yang Dia ciptakan. Ini menunjukkan kepada Tuhan buah pertama dari upaya-Nya dan harga yang telah Dia bayar, dan memungkinkan-Nya untuk melihat pengharapan pada umat manusia. Setelahnya, Tuhan memiliki kerinduan yang bahkan lebih besar untuk memiliki sekelompok orang seperti itu yang akan menemani-Nya, memperlakukan-Nya dengan ketulusan dan memedulikan-Nya dengan ketulusan. Tuhan bahkan berharap Abraham hidup terus, karena Dia ingin memiliki hati seperti itu yang menemani-Nya dan menyertai-Nya selagi Dia melanjutkan pengelolaan-Nya. Tidak peduli apa pun yang Tuhan inginkan, itu hanyalah sebuah keinginan, hanyalah sebuah gagasan─karena Abraham hanyalah manusia yang mampu menaati-Nya, dan tidak memiliki sedikit pun pemahaman atau pengetahuan akan Tuhan. Dia adalah seseorang yang jauh dari standar persyaratan Tuhan bagi manusia, yakni: mengenal Tuhan, mampu bersaksi bagi Tuhan, dan sepikiran dengan Tuhan. Jadi, dia tidak dapat berjalan bersama dengan Tuhan. Melalui dipersembahkannya Ishak oleh Abraham, Tuhan melihat ketulusan dan ketaatan Abraham, serta melihat bahwa dia telah bertahan dalam ujian yang diberikan Tuhan kepadanya. Meskipun Tuhan menerima ketulusan dan ketaatan Abraham, dia masih tidak layak untuk menjadi orang kepercayaan Tuhan, untuk menjadi seseorang yang mengenal dan memahami Tuhan, dan yang mengerti tentang watak Tuhan. Ia masih jauh dari orang yang sepikiran dengan Tuhan dan yang melakukan kehendak-Nya. Jadi, di dalam hati-Nya, Tuhan tetap merasa kesepian dan gelisah. Semakin kesepian dan gelisah hati Tuhan, semakin perlu Dia sesegera mungkin melanjutkan pengelolaan-Nya, dan dapat memilih serta mendapatkan sekelompok orang untuk menyelesaikan rencana pengelolaan-Nya dan melakukan kehendak-Nya secepat mungkin. Inilah keinginan Tuhan yang besar dan keinginan ini tidak pernah berubah dari sejak semula sampai sekarang. Dari sejak Dia menciptakan manusia pada mulanya, Tuhan mendambakan sekelompok pemenang, sekelompok orang yang akan berjalan bersama-Nya dan mampu mengerti, memahami, dan mengenal watak-Nya. Keinginan Tuhan ini tidak pernah berubah. Terlepas dari berapa lama Dia masih harus menunggu, seberapa sulit jalan di depan, tidak peduli masih seberapa jauh tujuan-Nya tercapai, Tuhan tidak pernah mengubah ataupun menyerah dalam pengharapan-Nya kepada manusia. Sekarang setelah Aku mengatakan ini, apakah engkau semua menyadari sesuatu tentang keinginan Tuhan? Mungkin apa yang engkau sadari belum terlalu mendalam─tetapi kesadaran itu akan datang secara bertahap!

Selama periode yang sama dengan Abraham, Tuhan juga menghancurkan sebuah kota. Kota ini bernama Sodom. Tidak diragukan lagi, banyak orang akrab dengan kisah tentang Sodom, tetapi tidak seorang pun mengetahui pikiran Tuhan yang melatarbelakangi dihancurkannya kota tersebut oleh-Nya.

Jadi pada hari ini, melalui percakapan Tuhan dengan Abraham berikut, kita akan mengetahui pikiran-Nya pada waktu itu, juga mengetahui watak-Nya. Selanjutnya mari kita membaca perikop dari Kitab Suci berikut ini.

B. Tuhan Harus Menghancurkan Sodom

(Kejadian 18:26) Lalu Yahweh berfirman: "Jika Aku mendapati lima puluh orang benar di dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.

(Kejadian 18:29) Lalu Abraham berkata kepada-Nya lagi, "Misalkan ada empat puluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan melakukannya."

(Kejadian 18:30) Dan ia berkata kepada-Nya, "Misalkan ada tiga puluh orang benar ditemukan di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan berbuat demikian."

(Kejadian 18:31) Katanya, "Misalkan ada dua puluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan menghancurkannya."

(Kejadian 18:32) Dan ia berkata Katanya, "Misalkan ada sepuluh orang benar didapati di sana." Dia berfirman: "Aku tidak akan menghancurkannya"

Ini adalah beberapa kutipan yang telah Aku pilih dari Alkitab. Kutipan ini bukan versi asli yang lengkap. Jika engkau semua ingin melihat versi lengkapnya, engkau semua dapat melihatnya sendiri di Alkitab. Untuk menghemat waktu, Aku telah menghilangkan bagian dari isi yang asli. Di sini Aku hanya memilih beberapa ayat dan kalimat yang penting, meninggalkan beberapa kalimat yang tidak ada hubungannya dengan topik persekutuan kita pada hari ini. Dalam semua ayat dan isi yang kita bahas, fokus kita akan melewatkan beberapa rincian peristiwa dan perilaku manusia dalam kisah-kisah tersebut. Sebagai gantinya, kita hanya akan membicarakan tentang pemikiran dan gagasan Tuhan pada saat itu. Dalam pemikiran dan gagasan Tuhan, kita akan melihat watak Tuhan, dan dari segala sesuatu yang Tuhan lakukan, kita akan melihat Tuhan itu sendiri yang benar─dan dalam hal ini kita akan mencapai tujuan kita.

Tuhan Hanya Memedulikan Mereka yang Mampu Menaati Firman-Nya dan Mengikuti Perintah-Nya

Ayat-ayat di atas mengandung beberapa kata kunci: jumlah. Pertama, Yahweh berkata jika Dia mendapati lima puluh orang benar di dalam kota, Dia akan mengampuni seluruh tempat itu, yang artinya, Dia tidak akan menghancurkan kota tersebut. Jadi, sebenarnya, apakah ada lima puluh orang benar di kota Sodom? Tidak ada. Segera setelah itu, apakah yang Abraham katakan kepada Tuhan? Dia berkata, misalkan empat puluh didapati di sana? Tuhan berkata, Aku tidak akan melakukannya. Selanjutnya, Abraham berkata, misalkan tiga puluh didapati di sana? Tuhan berkata, Aku tidak akan melakukannya. Misalkan dua puluh? Aku tidak akan melakukannya. Sepuluh? Aku tidak akan melakukannya. Adakah, sebenarnya, sepuluh orang benar di kota itu? Tidak ada sepuluh─tetapi hanya ada satu. Dan siapakah satu orang ini? Dia adalah Lot. Pada waktu itu, hanya ada satu orang benar di Sodom, tetapi apakah Tuhan bersikap sangat ketat atau menuntut ketika berhubungan dengan jumlah ini? Tidak! Jadi, ketika manusia terus bertanya, "Bagaimana kalau empat puluh?" "Bagaimana kalau tiga puluh?" hingga ia sampai "Bagaimana kalau sepuluh?" Tuhan berkata: "Bahkan jika hanya ada sepuluh, Aku tidak akan menghancurkan kota itu; Aku akan mengampuninya, dan mengampuni orang-orang lain di samping yang sepuluh ini." Sepuluh sudah cukup menyedihkan, tetapi sebenarnya ternyata, orang benar sejumlah itu pun tidak ada di kota Sodom. Jadi, engkau melihat bahwa di mata Tuhan, dosa dan kejahatan orang-orang kota itu sudah sedemikian rupa sehingga Tuhan tidak punya pilihan lain selain menghancurkan mereka. Apakah maksud Tuhan ketika Dia mengatakan bahwa Dia tidak akan menghancurkan kota jika ada lima puluh orang benar? Jumlah ini tidak penting bagi Tuhan. Yang penting adalah apakah di kota tersebut terdapat orang benar yang Dia inginkan atau tidak. Apabila hanya ada satu orang benar di kota itu, Tuhan tidak akan membiarkan mereka datang untuk melukainya oleh karena penghancuran-Nya atas kota tersebut. Ini berarti bahwa, terlepas dari apakah Tuhan akan menghancurkan kota itu atau tidak, dan terlepas dari berapa jumlah orang benar yang ada di dalamnya, bagi Tuhan, kota yang penuh dosa ini terkutuk dan memuakkan, harus dihancurkan dan harus lenyap dari mata Tuhan, sementara orang benar harus terluput. Tanpa memandang zaman, tanpa memandang tahap perkembangan umat manusia, sikap Tuhan tidak berubah: Dia membenci kejahatan dan peduli kepada orang-orang yang benar di mata-Nya. Sikap Tuhan yang jelas ini juga merupakan penyingkapan sejati dari hakikat Tuhan. Karena hanya ada satu orang benar di dalam kota, Tuhan tidak ragu lagi. Hasil akhirnya adalah Sodom mau tidak mau harus dihancurkan. Apakah yang engkau semua lihat dalam hal ini? Pada zaman itu, Tuhan tidak akan menghancurkan kota jika terdapat lima puluh orang benar di dalamnya, atau jika terdapat sepuluh orang benar, yang artinya Tuhan memutuskan untuk mengampuni dan bersikap toleran terhadap umat manusia, atau akan melakukan pekerjaan pembimbingan, karena beberapa orang yang mampu untuk menghormati dan menyembah-Nya. Tuhan sangat mengindahkan perbuatan benar manusia, Dia sangat mengindahkan mereka yang mampu menyembah-Nya dan Dia sangat mengindahkan mereka yang mampu melakukan perbuatan baik di hadapan-Nya.

Dari masa-masa paling awal sampai sekarang, pernahkah engkau semua membaca di dalam Alkitab tentang Tuhan menyampaikan kebenaran, atau berbicara tentang jalan Tuhan kepada seseorang? Tidak, tidak pernah. Firman Tuhan kepada manusia yang kita baca hanya memberitahukan kepada manusia apa yang harus dilakukan. Sebagian orang pergi dan melakukannya, yang lain tidak. Sebagian orang percaya, dan yang lain tidak. Hanya itu saja. Jadi, orang benar pada zaman itu─mereka yang benar di mata Tuhan─hanyalah mereka yang dapat mendengarkan firman Tuhan dan mengikuti perintah Tuhan. Mereka adalah para pelayan yang melakukan firman Tuhan di antara manusia. Dapatkah orang-orang semacam itu disebut orang-orang yang mengenal Tuhan? Dapatkah mereka disebut orang-orang yang disempurnakan Tuhan? Tidak. Jadi, terlepas dari jumlah mereka, di mata Tuhan, apakah orang-orang benar ini layak disebut sebagai orang-orang kepercayaan Tuhan? Dapatkah mereka disebut saksi-saksi Tuhan? Tentu saja tidak! Mereka tentu saja tidak layak disebut sebagai orang-orang kepercayaan dan saksi Tuhan. Jadi, bagaimana Tuhan menyebut orang-orang semacam ini? Di dalam Alkitab, hingga perikop Kitab Suci yang baru saja kita baca, ada banyak contoh Tuhan memanggil mereka "hamba-Ku". Yang artinya, pada saat itu, di mata Tuhan, orang-orang benar ini adalah hamba-hamba Tuhan, mereka adalah orang-orang yang melayani-Nya di bumi. Bagaimana Tuhan memikirkan tentang penyebutan ini? Mengapa Dia menyebut mereka demikian? Apakah Tuhan memiliki standar tentang bagaimana Dia menyebut orang di dalam hati-Nya? Tentu saja. Tuhan memiliki standar, terlepas dari apakah Dia menyebut mereka orang benar, sempurna, jujur, atau hamba. Ketika Dia menyebut seseorang hamba-Nya, Dia sangat yakin bahwa orang ini mampu menerima utusan-Nya, mampu mengikuti perintah-Nya, dan dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para utusan. Apa sajakah yang dilakukan orang ini? Apa yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan dan dilaksanakannya di bumi. Pada waktu itu, dapatkah hal yang Tuhan minta manusia lakukan dan laksanakan di bumi disebut sebagai jalan Tuhan? Tidak. Karena pada waktu itu, Tuhan hanya meminta manusia untuk melakukan beberapa hal sederhana. Dia mengucapkan beberapa perintah sederhana, mengatakan kepada manusia untuk melakukan ini atau itu, dan tidak lebih dari itu. Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya. Karena, pada waktu itu, banyak kondisi yang masih belum ada, waktunya belum matang, dan sulit bagi umat manusia untuk menanggung jalan Tuhan. Dengan demikian, jalan Tuhan belum mulai dikeluarkan dari hati Tuhan. Tuhan memandang orang-orang benar yang Dia bicarakan, yang kita lihat di sini─entahkah tiga puluh atau dua puluh─sebagai hamba-hamba-Nya. Ketika para utusan Tuhan mendatangi hamba-hamba ini, mereka akan dapat menerima dan mengikuti perintah dan bertindak sesuai dengan perkataan mereka. Inilah tepatnya yang harus dilakukan dan dicapai oleh para hamba di mata Tuhan. Tuhan itu bijaksana dalam penyebutan-Nya untuk manusia. Dia tidak menyebut mereka hamba-Nya karena mereka sebagaimana engkau semua sekarang─karena mereka telah mendengar banyak khotbah, mengetahui apa yang akan Tuhan lakukan, mengerti banyak kehendak Tuhan dan memahami rencana pengelolaan-Nya─tetapi karena kemanusiaan mereka jujur dan mereka mampu mematuhi firman Tuhan. Ketika Tuhan memberi perintah, mereka mampu mengesampingkan apa yang sedang mereka lakukan, dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Jadi, bagi Tuhan, lapisan makna yang lain dalam sebutan hamba adalah bahwa mereka bekerja sama dengan pekerjaan-Nya di bumi, dan meskipun mereka bukan para utusan Tuhan, mereka adalah para pelaku dan pelaksana firman Tuhan di bumi. Jadi, engkau semua mengerti bahwa hamba atau orang-orang benar ini sangat penting di hati Tuhan. Pekerjaan yang Tuhan akan mulai di bumi tidak dapat terlaksana tanpa adanya orang-orang yang bekerja sama dengan-Nya, dan peran yang diemban para hamba Tuhan ini tidak dapat digantikan oleh para utusan Tuhan. Setiap tugas yang Tuhan perintahkan kepada hamba-hamba ini sangat penting bagi-Nya, dan karenanya Dia tidak dapat kehilangan mereka. Tanpa kerja sama para hamba ini dengan Tuhan, pekerjaan-Nya di antara umat manusia akan terhenti. Sebagai akibatnya, rencana pengelolaan Tuhan dan harapan Tuhan akan menjadi sia-sia.

Tuhan Berlimpah dengan Belas Kasihan Terhadap Mereka yang Dia Pedulikan, dan Sangat Murka terhadap Mereka yang Dia Benci dan Tolak

Dalam catatan Alkitab, apakah terdapat sepuluh orang hamba Tuhan di Sodom? Tidak! Apakah kota itu layak diampuni oleh Tuhan? Hanya satu orang di kota─Lot─yang menerima utusan Tuhan. Kesimpulan hal ini adalah bahwa hanya ada satu orang hamba Tuhan di kota itu, dan dengan demikian, Tuhan tidak punya pilihan lain selain menyelamatkan Lot dan menghancurkan kota Sodom. Dialog antara Abraham dan Tuhan ini mungkin tampak sederhana, tetapi dialog itu menggambarkan sesuatu yang sangat mendalam, yaitu: ada prinsip di balik tindakan-tindakan Tuhan, dan sebelum mengambil keputusan Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk mengamati dan mempertimbangkan. Sebelum saat yang tepat tiba, Dia pasti tidak akan mengambil keputusan atau menarik kesimpulan apa pun. Dialog antara Abraham dan Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa keputusan Tuhan untuk menghancurkan Sodom sama sekali tidak salah, karena Tuhan sudah tahu bahwa di kota tersebut tidak terdapat empat puluh orang benar, juga tidak terdapat tiga puluh orang benar, atau dua puluh. Bahkan sepuluh pun tidak ada. Satu-satunya orang benar di kota itu adalah Lot. Semua yang terjadi di Sodom dan bagaimana keadaannya diamati oleh Tuhan, dan diketahui oleh Tuhan sejelas punggung tangan-Nya sendiri. Jadi, keputusan-Nya tidak mungkin salah. Sebaliknya, dibandingkan dengan kemahakuasaan Tuhan, manusia sangat bebal, sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa, sangat picik. Inilah yang kita lihat dalam dialog antara Abraham dan Tuhan. Tuhan telah menyingkapkan watak-Nya dari sejak semula hingga sekarang. Demikian pula di sini, ada watak Tuhan yang seharusnya bisa kita lihat. Jumlah-jumlah tersebut adalah hal yang sederhana dan tidak menunjukkan apa pun, tetapi ada ungkapan watak Tuhan yang sangat penting di sini. Tuhan tidak akan menghancurkan kota karena lima puluh orang benar. Apakah ini dikarenakan belas kasihan Tuhan? Apakah ini karena kasih dan toleransi-Nya? Sudahkah engkau semua melihat sisi dari watak Tuhan ini? Bahkan seandainya hanya ada sepuluh orang benar, Tuhan tidak akan menghancurkan kota oleh karena kesepuluh orang benar ini. Bukankah ini adalah toleransi dan kasih Tuhan? Karena belas kasihan, toleransi dan kepedulian Tuhan terhadap orang-orang benar itu, Dia tidak akan menghancurkan kota. Inilah toleransi Tuhan. Dan pada akhirnya, hasil apakah yang kita lihat? Ketika Abraham berkata: "Misalkan ada sepuluh orang benar didapati di sana." Tuhan berkata: "Aku tidak akan menghancurkannya." Setelah itu, Abraham tidak berkata-kata lagi─karena di dalam kota Sodom tidak terdapat sepuluh orang benar yang ia sebutkan, dan tidak ada lagi yang perlu dikatakannya. Pada saat itulah ia mengerti kenapa Tuhan berketetapan untuk menghancurkan Sodom. Dalam hal ini, watak Tuhan apakah yang engkau semua lihat? Ketetapan macam apakah yang Tuhan buat? Artinya, jika di kota ini tidak terdapat sepuluh orang benar, Tuhan tidak akan mengizinkan keberadaannya, dan mau tidak mau harus menghancurkannya. Bukankah inilah murka Tuhan? Apakah murka ini merepresentasikan watak Tuhan? Apakah watak ini merupakan penyingkapan hakikat kekudusan Tuhan? Apakah ini merupakan penyingkapan hakikat kebenaran Tuhan, yang tidak boleh dilanggar manusia? Setelah memastikan bahwa tidak ada sepuluh orang benar di Sodom, Tuhan pun berkeyakinan untuk menghancurkan kota, dan menghukum berat orang-orang di dalam kota tersebut, karena mereka menentang Tuhan, dan karena mereka begitu kotor dan rusak.

Mengapa kita menganalisis perikop ini dengan cara seperti ini? Karena beberapa kalimat sederhana ini mengungkapkan secara penuh watak Tuhan yaitu belas kasihan yang berkelimpahan serta murka yang mendalam. Pada saat yang sama Dia menghargai orang benar, berbelas kasihan, menoleransi, dan memedulikan mereka. Di dalam hati Tuhan terdapat kebencian yang dalam terhadap semua orang di Sodom yang telah rusak. Apakah ini belas kasihan yang berkelimpahan dan murka yang mendalam atau bukan? Dengan cara apakah Tuhan menghancurkan kota? Dengan api. Mengapa Dia menghancurkannya dengan menggunakan api? Ketika engkau melihat sesuatu dibakar oleh api, atau ketika engkau akan membakar sesuatu, apa yang engkau rasakan terhadapnya? Mengapa engkau ingin membakarnya? Apakah engkau merasa bahwa engkau tidak membutuhkannya lagi, bahwa engkau tidak ingin melihatnya lagi? Apakah engkau ingin mengabaikannya? Tuhan menggunakan api berarti pengabaian dan kebencian, dan bahwa Dia tidak ingin melihat Sodom lagi. Ini adalah emosi yang membuat Tuhan membumihanguskan Sodom dengan api. Penggunaan api menggambarkan betapa marahnya Tuhan. Belas kasihan dan toleransi Tuhan memang ada, tetapi kekudusan dan kebenaran Tuhan ketika Dia melepaskan murka-Nya juga memperlihatkan kepada manusia sisi dari Tuhan yang tidak dapat menoleransi pelanggaran. Ketika manusia sepenuhnya mampu menaati perintah Tuhan dan bertindak sesuai dengan persyaratan Tuhan, Tuhan pun berlimpah dalam belas kasih-Nya terhadap manusia. Ketika manusia telah dipenuhi kerusakan, kebencian dan permusuhan terhadap-Nya, Tuhan pun sangat marah. Sampai sejauh manakah kemarahan-Nya yang sedemikian mendalam itu? Murka-Nya akan terus berlanjut sampai Tuhan tidak lagi melihat perlawanan dan perbuatan jahat manusia, sampai semua itu tidak lagi ada di depan mata-Nya. Hanya dengan demikian kemarahan Tuhan akan lenyap. Dengan kata lain, tidak peduli siapa orangnya, jika hati mereka telah menjauh dari Tuhan dan berpaling dari Tuhan, tidak pernah kembali lagi, maka, terlepas dari bagaimana, terlepas dari semua penampilan, atau dalam hal keinginan subjektif mereka, mereka ingin menyembah, mengikuti, dan menaati Tuhan dalam tubuh atau pemikiran mereka, begitu hati mereka berpaling dari Tuhan, murka Tuhan pun akan dilepaskan tanpa henti. Sedemikian rupa sehingga ketika Tuhan secara mendalam melepaskan amarah-Nya, setelah memberi begitu banyak kesempatan kepada manusia, begitu kemarahan itu dilepaskan, tidak mungkin bisa ditarik kembali, dan Dia tidak akan pernah lagi berbelas kasihan dan bersikap toleran terhadap manusia semacam itu. Inilah satu sisi dari watak Tuhan yang tidak menoleransi pelanggaran. Di sini, tampaknya normal bagi manusia bahwa Tuhan akan menghancurkan sebuah kota, karena di mata Tuhan, kota yang penuh dosa tidak bisa tetap ada dan terus ada, dan masuk akal bahwa kota itu harus dihancurkan oleh Tuhan. Namun, dalam apa yang terjadi sebelum dan sesudah penghancuran Sodom oleh-Nya, kita melihat keseluruhan watak Tuhan. Dia toleran dan penuh belas kasihan terhadap hal-hal yang baik, indah dan bagus. Terhadap hal-hal yang buruk, berdosa dan jahat, Dia sangat murka, sedemikian murkanya sampai Dia tidak berhenti dalam kemurkaan-Nya itu. Inilah dua aspek utama dan yang paling menonjol dari watak Tuhan, dan terlebih dari itu, keduanya telah diungkapkan oleh Tuhan dari awal hingga akhir, yaitu belas kasihan yang berkelimpahan dan murka yang mendalam. Kebanyakan dari antaramu di sini pernah mengalami sesuatu dari belas kasihan Tuhan, tetapi sangat sedikit di antaramu yang telah menghargai murka Tuhan. Belas kasihan dan kasih setia Tuhan dapat terlihat dalam diri setiap orang. Artinya Tuhan telah begitu melimpah dalam belas kasihan-Nya terhadap setiap orang. Namun sangat jarang─atau, bisa dikatakan, tidak pernah─Tuhan marah secara mendalam terhadap siapa pun atau bagian mana pun dari orang-orang di antaramu di sini sekarang ini. Tenang saja! Cepat atau lambat, murka Tuhan akan terlihat dan dialami oleh setiap orang, tetapi sekarang belum saatnya. Mengapa belum saatnya? Karena ketika Tuhan terus menerus marah kepada seseorang, yaitu, ketika Dia melepaskan murka-Nya yang mendalam kepada mereka, ini berarti Dia telah sejak lama membenci dan menolak orang ini, bahwa Dia membenci keberadaan mereka, dan tidak dapat lagi menahan keberadaan mereka. Begitu kemarahan-Nya dilepaskan terhadap mereka, mereka pun akan musnah. Sekarang ini, pekerjaan Tuhan belum mencapai titik itu. Tidak seorang pun di antaramu akan dapat bertahan begitu Tuhan menjadi sangat marah. Maka, engkau melihat bahwa pada saat ini Tuhan hanya berkelimpahan dalam belas kasihan-Nya terhadap engkau semua, dan engkau semua belum melihat kemarahan-Nya yang mendalam. Apabila ada mereka yang tetap tidak yakin, engkau semua dapat meminta agar murka Tuhan datang kepadamu, sehingga engkau semua akan mengalami apakah kemarahan Tuhan dan watak-Nya yang tidak dapat dilanggar terhadap manusia itu benar-benar ada atau tidak. Apakah engkau semua berani?

Manusia Akhir Zaman Hanya Melihat Murka Tuhan di dalam Firman-Nya, dan Tidak Benar-Benar Mengalami Murka Tuhan

Apakah kedua sisi watak Tuhan yang terlihat dalam perikop Kitab Suci ini layak untuk dibahas? Setelah mendengarkan kisah ini, apakah engkau semua memiliki pemahaman baru tentang Tuhan? Pemahaman semacam apa? Dapat dikatakan dari sejak masa penciptaan sampai sekarang, tidak ada kelompok yang telah menikmati kasih karunia atau belas kasihan dan kasih setia Tuhan sebanyak kelompok yang terakhir ini. Meskipun pada tahap terakhir, Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran, dan telah melakukan pekerjaan-Nya dengan kemegahan dan murka, biasanya Tuhan hanya menggunakan firman untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dia menggunakan firman untuk mengajar, menyiram, menyediakan, dan memberi makan. Murka Tuhan, sementara itu, tetap tersembunyi, dan selain mengalami watak murka Tuhan dalam firman-Nya, sangat sedikit orang yang telah mengalami kemarahan-Nya secara langsung. Yang artinya, selama pekerjaan penghakiman dan hajaran Tuhan, meskipun murka yang diungkapkan dalam firman Tuhan memungkinkan orang untuk mengalami kemegahan dan ketidaktoleransian Tuhan terhadap pelanggaran, murka ini tidak melampaui firman-Nya. Dengan kata lain, Tuhan menggunakan firman untuk menegur, mengungkapkan, menghakimi, menghajar dan bahkan menghukum manusia─tetapi Tuhan belum marah secara mendalam terhadap manusia, dan bahkan hampir belum pernah melepaskan murka-Nya kepada manusia di luar dari firman-Nya. Jadi, belas kasihan dan kasih setia Tuhan yang dialami manusia pada zaman ini adalah penyingkapan watak Tuhan yang sejati, sementara murka Tuhan yang dialami manusia hanyalah dampak dari nada dan nuansa perkataan-Nya. Banyak orang keliru menganggap dampak ini sebagai pengalaman dan pengetahuan yang sejati tentang murka Tuhan. Akibatnya, kebanyakan orang percaya bahwa mereka telah melihat belas kasihan dan kasih setia Tuhan di dalam firman-Nya, bahwa mereka juga telah melihat ketidaktoleransian Tuhan terhadap pelanggaran manusia, dan kebanyakan dari mereka bahkan semakin menghargai belas kasihan dan toleransi Tuhan terhadap manusia. Namun, tidak peduli seberapa buruk perilaku manusia, atau seberapa rusak wataknya, Tuhan selalu menahan diri. Dalam menahan diri, tujuan-Nya adalah menunggu agar firman yang telah diucapkan-Nya, upaya yang telah dilakukan-Nya, dan harga yang telah dibayarkan-Nya mencapai dampak dalam diri orang-orang yang ingin Dia dapatkan. Menunggu hasil semacam ini perlu waktu, dan membutuhkan penciptaan lingkungan yang berbeda bagi manusia, sama seperti orang tidak dapat langsung menjadi dewasa begitu mereka dilahirkan. Perlu delapan belas atau sembilan belas tahun, dan beberapa orang bahkan perlu dua puluh atau tiga puluh tahun sebelum mereka benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa. Tuhan menunggu selesainya proses ini, Dia menunggu tibanya saat seperti itu, dan Dia menunggu tibanya hasil ini. Dan di sepanjang waktu Dia menunggu, Tuhan berlimpah dalam belas kasihan-Nya. Namun, selama periode pekerjaan Tuhan, sejumlah sangat kecil orang telah dihancurkan, dan beberapa orang dihukum karena penentangan mereka yang sangat berat terhadap Tuhan. Contoh-contoh semacam itu adalah bukti yang bahkan lebih besar lagi tentang watak Tuhan yang tidak bisa menoleransi pelanggaran manusia, dan sepenuhnya menegaskan keberadaan yang nyata dari toleransi dan kesabaran Tuhan terhadap orang-orang pilihan. Tentu saja, dalam contoh-contoh yang khas ini, penyingkapan sebagian dari watak Tuhan dalam diri orang-orang ini tidak memengaruhi keseluruhan rencana pengelolaan Tuhan. Pada kenyataannya, di tahap terakhir pekerjaan Tuhan ini, Tuhan telah menahan diri-Nya selama masa Dia menunggu, dan Dia telah melakukan penahanan diri dan memberikan hidup-Nya demi keselamatan mereka yang mengikuti Dia. Apakah engkau semua mengerti hal ini? Tuhan tidak mengacaukan rencana-Nya tanpa alasan. Dia bisa melepaskan murka-Nya, dan Dia juga bisa berbelas kasihan. Inilah penyingkapan dua bagian utama dari watak Tuhan. Apakah ini sangat jelas atau tidak? Dengan kata lain, ketika menyangkut Tuhan, benar atau salah, adil atau tidak adil, positif atau negatif─semua ini dengan jelas diperlihatkan kepada manusia. Apa yang akan Dia lakukan, apa yang Dia suka, apa yang Dia benci─semua ini dapat secara langsung tecermin dalam watak-Nya. Hal-hal seperti itu juga dapat terlihat dengan terang dan jelas di dalam pekerjaan Tuhan dan semua itu tidak samar-samar ataupun umum. Sebaliknya, semua itu memungkinkan semua orang untuk melihat watak Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya dengan cara yang sangat konkret, benar dan nyata. Inilah Tuhan itu sendiri yang sejati.

Watak Tuhan Tidak Pernah Tersembunyi dari Manusia─Hati Manusia telah Menyimpang dari Tuhan

Jika Aku tidak membahas tentang hal-hal ini, tidak seorang pun di antaramu akan dapat melihat watak Tuhan dalam kisah-kisah Alkitab. Ini kenyataannya. Itu karena, meskipun kisah-kisah Alkitab ini mencatat beberapa hal yang Tuhan lakukan, Tuhan mengucapkan hanya sedikit firman, dan tidak secara langsung memperkenalkan watak-Nya atau secara terbuka menyatakan kehendak-Nya kepada manusia. Generasi-generasi selanjutnya telah menganggap catatan-catatan ini tidak lebih dari cerita, sehingga bagi manusia Tuhan tampaknya menyembunyikan diri-Nya sendiri dari manusia, bahwa bukan pribadi Tuhan yang tersembunyi dari manusia, melainkan watak dan kehendak-Nya. Setelah persekutuan-Ku pada hari ini, apakah engkau semua tetap merasa bahwa Tuhan sepenuhnya tersembunyi dari manusia? Apakah engkau semua tetap percaya bahwa watak Tuhan tersembunyi dari manusia?

Sejak waktu penciptaan, watak Tuhan telah sejalan dengan pekerjaan-Nya. Watak Tuhan tidak pernah tersembunyi dari manusia, melainkan sepenuhnya dibukakan dan dibuat menjadi jelas bagi manusia. Namun, dengan berlalunya waktu, hati manusia telah menjadi semakin jauh dari Tuhan, dan karena kerusakan manusia telah menjadi semakin dalam, manusia dan Tuhan telah menjadi semakin jauh terpisah. Perlahan tapi pasti, manusia telah menghilang dari mata Tuhan. Manusia menjadi tidak mampu "melihat" Tuhan, yang telah meninggalkannya tanpa "kabar berita" tentang Tuhan. Dengan demikian, manusia tidak tahu apakah Tuhan itu ada, bahkan melangkah sangat jauh hingga sepenuhnya menyangkal keberadaan Tuhan. Akibatnya, ketidakpahaman manusia akan watak Tuhan, akan apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya bukanlah karena Tuhan tersembunyi dari manusia, melainkan karena hati manusia telah berpaling dari Tuhan. Meskipun manusia percaya kepada Tuhan, tidak ada Tuhan di hatinya, dan dia tidak tahu bagaimana mengasihi Tuhan, dia juga tidak ingin mengasihi Tuhan, karena hatinya tidak pernah mendekat kepada Tuhan dan dia selalu menghindari Tuhan. Sebagai akibatnya, hati manusia jauh dari Tuhan. Jadi, di manakah hatinya berada? Sebenarnya, hati manusia tidak pergi ke mana-mana: Alih-alih memberikan hatinya kepada Tuhan atau mengungkapkan hatinya kepada Tuhan untuk dilihat-Nya, dia menyimpannya bagi dirinya sendiri. Terlepas dari fakta bahwa sebagian orang sering berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Oh Tuhan, lihatlah hatiku─Engkau tahu semua yang aku pikirkan," dan sebagian orang bahkan bersumpah membiarkan Tuhan melihat diri mereka, bahwa mereka boleh dihukum jika melanggar sumpah. Meskipun manusia mengizinkan Tuhan melihat ke kedalaman hatinya, bukan berarti dia mampu untuk menaati rancangan dan pengaturan Tuhan, juga bukan berarti dia telah menyerahkan nasib, prospek hidup, dan segalanya di bawah kendali Tuhan. Jadi, terlepas dari sumpahmu kepada Tuhan atau apa yang engkau nyatakan kepada-Nya, di mata Tuhan, hatimu masih tertutup bagi-Nya, karena engkau hanya mengizinkan Tuhan untuk melihat hatimu tetapi tidak mengizinkan Dia mengendalikannya. Dengan kata lain, engkau belum memberikan hatimu kepada Tuhan sama sekali, dan hanya mengucapkan kata-kata indah untuk Tuhan dengarkan. Sementara itu, berbagai tipu muslihatmu, engkau sembunyikan dari Tuhan, bersama dengan intrik, niat jahat dan rencanamu, dan engkau mencengkeram prospek dan nasib hidupmu di dalam tanganmu, sangat takut semua itu diambil oleh Tuhan. Dengan demikian, Tuhan tidak pernah melihat ketulusan hati manusia terhadap-Nya. Meskipun Tuhan memang mengamati kedalaman hati manusia, dan dapat melihat apa yang manusia pikirkan dan apa yang ingin Dia lakukan di hatinya, dan dapat melihat hal-hal apa yang tersimpan di dalam hatinya, hati manusia bukanlah milik Tuhan. Manusia belum memberikan hatinya untuk dikendalikan oleh Tuhan. Artinya, Tuhan punya hak untuk mengamati tetapi tidak punya hak untuk mengendalikan. Dalam kesadaran subjektifnya, manusia tidak ingin atau tidak berniat untuk menyerahkan dirinya pada belas kasihan Tuhan. Manusia bukan hanya telah menutup dirinya sendiri dari Tuhan, tetapi ada orang-orang yang bahkan memikirkan cara untuk membungkus rapat hati mereka, dengan menggunakan perkataan yang lembut dan sanjungan demi menciptakan kesan yang salah dan mendapatkan kepercayaan Tuhan, dan menyembunyikan wajah asli mereka dari pandangan Tuhan. Tujuan mereka tidak membiarkan Tuhan melihat adalah tidak mengizinkan Tuhan mengetahui bagaimana diri mereka yang sebenarnya. Mereka tidak ingin memberikan hati mereka kepada Tuhan, tetapi menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Maksud tersirat dari hal ini adalah bahwa apa yang manusia lakukan dan inginkan semuanya direncanakan, diperhitungkan dan diputuskan oleh manusia itu sendiri. Dia tidak membutuhkan partisipasi atau campur tangan Tuhan, apalagi rancangan dan pengaturan Tuhan. Jadi, baik dalam hal perintah Tuhan, amanat-Nya, ataupun persyaratan yang Tuhan tuntut dari manusia, keputusan manusia adalah berdasarkan pada niat dan kepentingannya sendiri, pada kondisi dan keadaannya sendiri pada saat itu. Manusia selalu menggunakan pengetahuan dan wawasan yang terasa akrab dengannya, serta kecerdasannya sendiri untuk menilai dan memilih jalan yang harus ditempuhnya, dan tidak membiarkan adanya kendali dan campur tangan Tuhan. Inilah hati manusia yang Tuhan lihat.

Dari awal sampai sekarang, hanya manusia yang mampu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan. Artinya, di antara semua makhluk hidup dan makhluk ciptaan Tuhan, tidak satu pun kecuali manusia yang mampu bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia memiliki telinga yang memampukannya untuk mendengar dan mata yang memampukannya untuk melihat. Dia memiliki bahasa dan gagasannya sendiri serta kehendak bebas. Dia memiliki semua yang dibutuhkan untuk mendengarkan Tuhan berbicara, untuk memahami kehendak Tuhan, dan menerima amanat Tuhan, dan karena itu, Tuhan pun menyampaikan semua keinginan-Nya kepada manusia, ingin menjadikan manusia rekan yang sepikiran dengan-Nya dan yang dapat berjalan bersama dengan-Nya. Sejak Dia mulai mengelola, Tuhan telah menunggu manusia untuk memberikan hatinya kepada-Nya, agar Tuhan memurnikan dan memperlengkapinya, membuatnya memuaskan hati Tuhan dan dikasihi oleh Tuhan serta menjauhi kejahatan. Tuhan selalu menantikan dan menunggu hasil ini. Apakah ada orang-orang semacam ini di antara catatan-catatan dalam Alkitab? Artinya, adakah orang di dalam Alkitab yang mampu untuk memberikan hati mereka kepada Tuhan? Apakah ada preseden sebelum zaman ini? Pada hari ini, mari kita lanjutkan dengan membaca catatan dalam Alkitab dan melihat apakah yang dilakukan oleh seorang tokoh bernama Ayub, ada hubungannya dengan topik "memberikan hatimu kepada Tuhan" yang sedang kita bahas pada hari ini. Mari kita melihat apakah Ayub memuaskan hati Tuhan dan dikasihi oleh Tuhan.

Apakah kesan engkau semua tentang Ayub? Mengutip dari Alkitab asli, sebagian orang mengatakan bahwa Ayub seorang yang "takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan." "Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan": itulah penilaian asli atas diri Ayub yang tercatat dalam Alkitab. Jika engkau semua menggunakan kata-katamu sendiri, bagaimana engkau menjabarkan Ayub? Sebagian orang mengatakan bahwa Ayub adalah orang yang baik dan masuk akal. Ada yang mengatakan bahwa ia memiliki iman yang benar kepada Tuhan. Sebagian mengatakan bahwa Ayub seorang yang benar dan manusiawi. Engkau semua telah melihat iman Ayub, yang berarti, di dalam hatimu, engkau melihat sangat pentingnya iman Ayub dan betapa inginnya engkau juga memiliki iman Ayub. Maka, pada hari ini, mari kita melihat apa yang dimiliki Ayub yang membuat Tuhan senang akan dia. Selanjutnya, mari kita membaca ayat-ayat berikut.

C. Ayub

1. 1. Penilaian Ayub oleh Tuhan dan di dalam Alkitab

(Ayub 1:1) Ada seorang laki-laki di tanah Us, yang bernama Ayub; dan ia adalah orang yang tak bercela dan jujur, ia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

(Ayub 1:5) Demikianlah, setelah hari-hari pesta berakhir, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka; ia bangun pagi-pagi benar dan mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan jumlah anak-anaknya: karena Ayub berkata: 'Mungkin saja anak-anak lelakiku sudah berbuat dosa dan mengutuki Tuhan dalam hati mereka.' Demikianlah yang senantiasa dilakukan Ayub.

(Ayub 1:8) Lalu Yahweh berkata kepada Iblis, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Apa gagasan utama yang engkau semua lihat dalam perikop-perikop ini? Tiga perikop ringkas dari Alkitab ini semuanya berkaitan dengan Ayub. Meski singkat, perikop ini dengan jelas menyatakan orang seperti apa Ayub itu. Melalui uraian tentang perilaku sehari-hari Ayub dan tingkah lakunya, perikop ini memberitahukan kepada semua orang bahwa penilaian Tuhan tentang Ayub bukannya tanpa alasan, sebaliknya sangat beralasan. Perikop ini memberitahukan kepada kita bahwa baik itu penilaian manusia terhadap Ayub (Ayub 1: 1), maupun penilaian Tuhan terhadapnya (Ayub 1: 8), keduanya adalah hasil dari perbuatan Ayub di hadapan Tuhan dan manusia (Ayub 1: 5).

Pertama, mari kita membaca perikop yang pertama: "Ada seorang laki-laki di tanah Us, yang bernama Ayub; dan ia adalah orang yang tak bercela dan jujur, ia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan." Penilaian pertama Ayub dalam Alkitab, kalimat ini adalah penilaian sang penulis tentang Ayub. Tentu saja, itu juga merepresentasikan penilaian manusia tentang Ayub, yaitu, "ia adalah orang yang tak bercela dan jujur, ia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan." Selanjutnya, mari kita membaca penilaian Tuhan tentang Ayub: "tidak ada seorang pun yang seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:8) Dari kedua penilaian, yang satu berasal dari manusia, dan yang lain berasal dari Tuhan; keduanya merupakan dua penilaian dengan konten yang sama. Jadi, dapat dilihat bahwa perilaku dan tingkah laku Ayub diketahui oleh manusia, dan juga dipuji oleh Tuhan. Dengan kata lain, tingkah laku Ayub di hadapan manusia dan tingkah lakunya di hadapan Tuhan adalah sama. Dia membukakan perilaku dan motivasinya di hadapan Tuhan di sepanjang waktu, agar semua itu dapat diamati oleh Tuhan, dan dia adalah orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jadi, di mata Tuhan, dari antara orang-orang di bumi hanya Ayublah yang tak bercela dan jujur, dan yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Perwujudan yang Spesifik dari Sikap Ayub yang Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan dalam Kehidupannya Sehari-hari

Selanjutnya, mari kita melihat perwujudan yang spesifik dari sikap Ayub yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Selain perikop yang mendahului dan mengikutinya, mari kita juga membaca Ayub 1:5, yang merupakan salah satu perwujudan yang spesifik dari sikap Ayub yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ini berkaitan dengan bagaimana dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan dalam kehidupannya sehari-hari. Yang paling menonjol, dia tidak hanya melakukan apa yang harus dia lakukan karena rasa takutnya sendiri kepada Tuhan dan karena menjauhi kejahatan, tetapi dia juga secara teratur mempersembahkan korban bakaran di hadapan Tuhan atas nama putra-putranya. Dia takut kalau-kalau mereka telah sering "berbuat dosa, dan mengutuk Tuhan di dalam hati mereka" sambil berpesta. Dan bagaimanakah rasa takut ini terwujud dalam diri Ayub? Teks asli memberikan uraian berikut: "Demikianlah, setelah hari-hari pesta berakhir, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka; ia bangun pagi-pagi benar dan mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan jumlah anak-anaknya." Tingkah laku Ayub menunjukkan kepada kita bahwa, daripada diwujudkan dalam perilaku lahiriahnya, sikapnya yang takut akan Tuhan itu berasal dari dalam hatinya, dan sikapnya yang takut akan Tuhan itu dapat ditemukan dalam setiap aspek kehidupannya sehari-hari di setiap saat, karena tidak hanya dirinya sendiri yang menjauhi kejahatan, tetapi ia juga sering mempersembahkan korban bakaran atas nama putra-putranya. Dengan kata lain, Ayub tidak hanya sangat takut berbuat dosa terhadap Tuhan dan meninggalkan Tuhan di dalam hatinya sendiri, tetapi juga khawatir bahwa putra-putranya berdosa terhadap Tuhan dan meninggalkan Dia di dalam hati mereka. Dari sini dapat dilihat bahwa kebenaran rasa takut Ayub terhadap Tuhan teruji, dan tidak dapat diragukan oleh siapa pun. Apakah dia melakukannya sesekali atau sering kali? Kalimat terakhir dari teks ini "Demikianlah yang senantiasa dilakukan Ayub." Makna dari kata-kata ini adalah bahwa Ayub tidak pergi dan singgah ke rumah anak-anaknya sesekali, atau ketika hal itu menyenangkan hatinya, dia juga tidak mengaku kepada Tuhan melalui doa. Sebaliknya, dia secara teratur memanggil dan menguduskan anak-anaknya, dan mempersembahkan korban bakaran bagi mereka. "Senantiasa" di sini tidak berarti dia melakukannya selama satu atau dua hari atau sesaat. Dikatakan bahwa perwujudan dari sikap Ayub yang takut akan Tuhan tidak sementara dan tidak berhenti pada pengetahuan atau kata-kata yang diucapkan. Sebaliknya, jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan itu menuntun hatinya, mengatur perilakunya, dan ada di dalam hatinya, serta menjadi akar keberadaannya. Bahwa dia melakukannya senantiasa menunjukkan bahwa, di dalam hatinya, dia sering takut bahwa dirinya sendiri akan berdosa terhadap Tuhan dan juga takut bahwa putra dan putrinya berdosa terhadap Tuhan. Itu menunjukkan seberapa bobot jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan yang terdapat di dalam hatinya. Dia melakukannya senantiasa karena, di dalam hatinya, dia ketakutan dan takut—takut bahwa dia telah berbuat jahat dan berdosa terhadap Tuhan, dan bahwa dia telah menyimpang dari jalan Tuhan sehingga tidak dapat memuaskan Tuhan. Dan pada saat yang sama, dia juga mengkhawatirkan putra dan putrinya, takut bahwa mereka telah menyinggung Tuhan. Demikianlah perilaku normal Ayub dalam kehidupannya sehari-hari. Justru perilaku normal inilah yang membuktikan bahwa sikap Ayub yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan bukanlah kata-kata kosong, bahwa Ayub benar-benar menghidupi kenyataan seperti itu. "Demikianlah yang senantiasa dilakukan Ayub.": Kata-kata ini memberitahukan kepada kita tentang perbuatan Ayub di hadapan Tuhan setiap harinya. Ketika dia melakukan hal tersebut senantiasa, apakah perilaku dan hatinya mencapai ke hadirat Tuhan? Dengan kata lain, apakah Tuhan sering disenangkan oleh hati dan perilaku Ayub? Lalu, dalam keadaan apa, dan dalam konteks apa Ayub melakukan hal itu senantiasa? Sebagian orang mengatakan bahwa karena Tuhan sering menampakkan diri kepada Ayub, maka dia bertindak demikian. Ada yang mengatakan bahwa dia melakukannya senantiasa karena dia ingin menjauhi kejahatan. Dan sebagian orang mengatakan bahwa mungkin dia berpikir bahwa kekayaannya tidak diperoleh dengan mudah, dan dia tahu bahwa kekayaannya telah dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan, sehingga dia sangat takut kehilangan hartanya sebagai akibat berdosa melawan atau menyinggung Tuhan. Apakah salah satu dari klaim ini benar? Jelas tidak. Karena, di mata Tuhan, apa yang Tuhan terima dan yang paling disukai-Nya tentang Ayub bukan hanya karena dia senantiasa melakukannya; lebih daripada itu, adalah tingkah lakunya di hadapan Tuhan, manusia, dan Iblis ketika dia diserahkan kepada Iblis dan dicobai. Bagian-bagian di bawah ini memberikan bukti yang paling meyakinkan, bukti yang menunjukkan kepada kita kebenaran penilaian Tuhan tentang Ayub. Selanjutnya, mari kita baca perikop dari Alkitab berikut.

2. Iblis Mencobai Ayub untuk Pertama Kalinya (Ternaknya Dicuri dan Bencana Menimpa Anak-Anaknya)

a. Perkataan yang Diucapkan Tuhan

(Ayub 1:8) Lalu Yahweh berkata kepada Iblis, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan?

(Ayub 1:12) Dan Yahweh berkata kepada Iblis: "Lihat, segala yang dipunyainya ada di tanganmu, hanya jangan ulurkan tanganmu terhadap dia." Lalu Iblis pergi dari hadapan Yahweh.

b. Jawaban Iblis

(Ayub 1:9-11) Lalu Iblis menjawab Yahweh: "Apakah Ayub takut kepada Tuhan begitu saja tanpa mendapat apa pun? Bukankah Engkau memagari dia dan rumahnya, dan semua yang dimilikinya? Engkau memberkati segala pekerjaan tangannya, dan semua miliknya bertambah banyak di negeri itu. Tetapi coba Engkau ulurkan tangan-Mu dan sentuhlah segala yang dimilikinya, ia pasti akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

Tuhan Mengizinkan Iblis untuk Mencobai Ayub sehingga Iman Ayub Akan Menjadi Sempurna

Ayub 1:8 adalah catatan pertama yang kita lihat dalam Alkitab tentang percakapan antara Tuhan Yahweh dan Iblis. Dan apa yang Tuhan katakan? Teks asli memberikan uraian berikut: "Lalu Yahweh berkata kepada Iblis, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan?" Ini adalah penilaian Tuhan tentang Ayub di hadapan Iblis. Tuhan berkata bahwa Ayub adalah seorang yang tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sebelum percakapan antara Tuhan dan Iblis ini, Tuhan telah memutuskan bahwa Dia akan memakai Iblis untuk mencobai Ayub—bahwa Dia akan menyerahkan Ayub kepada Iblis. Di satu sisi, ini akan membuktikan bahwa pengamatan dan penilaian Tuhan atas Ayub tepat dan tanpa kesalahan, dan akan menyebabkan Iblis dipermalukan oleh kesaksian Ayub. Di sisi lain, hal itu akan menyempurnakan iman Ayub kepada Tuhan dan rasa takutnya kepada Tuhan. Jadi, ketika Iblis datang ke hadapan Tuhan, Tuhan tidak menggunakan bahasa yang tidak jelas. Dia berkata langsung ke pokok masalah dan bertanya kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan?" Dalam pertanyaan Tuhan, terdapat makna berikut: Tuhan tahu bahwa Iblis telah menjelajahi semua tempat, dan sering memata-matai Ayub, yang merupakan hamba Tuhan. Iblis sudah sering mencobai dan menyerangnya, berusaha menemukan cara menimbulkan kehancuran terhadap Ayub untuk membuktikan bahwa iman Ayub kepada Tuhan dan sikap takutnya kepada Tuhan tidak dapat teguh bertahan. Iblis juga dengan sesuka hati mencari peluang untuk menghancurkan Ayub, agar Ayub meninggalkan Tuhan sehingga memungkinkan Iblis untuk merampasnya dari tangan Tuhan. Namun Tuhan melihat ke dalam hati Ayub dan melihat bahwa dia tak bercela dan jujur, dan bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Tuhan menggunakan sebuah pertanyaan untuk mengatakan kepada Iblis bahwa Ayub adalah seorang yang tak bercela dan jujur yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, bahwa Ayub tidak akan pernah meninggalkan Tuhan dan mengikuti Iblis. Setelah mendengar penilaian Tuhan tentang Ayub, di dalam diri Iblis timbul kemarahan akibat penghinaan, dan Iblis menjadi lebih marah dan lebih tidak sabar untuk merebut Ayub karena Iblis tidak pernah percaya bahwa seseorang bisa menjadi tak bercela dan jujur, atau bahwa mereka bisa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Pada saat yang sama, Iblis juga membenci kesempurnaan dan kejujuran di dalam diri manusia dan membenci orang-orang yang mampu untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dan karena itu tertulis dalam Ayub 1:9-11: "Lalu Iblis menjawab Yahweh, Apakah Ayub takut kepada Tuhan begitu saja tanpa mendapat apa pun? Bukankah Engkau memagari dia dan rumahnya, dan semua yang dimilikinya? Engkau memberkati segala pekerjaan tangannya, dan semua miliknya bertambah banyak di negeri itu. Tetapi coba Engkau ulurkan tangan-Mu dan sentuhlah segala yang dimilikinya, ia pasti akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu." Tuhan sangat mengenal sifat jahat si Iblis, dan tahu benar bahwa Iblis telah lama berencana menghancurkan Ayub, dan karena itu dalam hal ini Tuhan berharap, dengan mengatakan kepada Iblis sekali lagi bahwa Ayub tak bercela dan jujur dan bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, untuk membuat Iblis patuh, untuk membuat Iblis mengungkapkan wajah aslinya dan menyerang serta mencobai Ayub. Dengan kata lain, Tuhan sengaja menekankan bahwa Ayub itu tak bercela dan jujur, dan bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan dengan ini berarti Dia membuat Iblis menyerang Ayub karena kebencian dan kemarahan Iblis terhadap Ayub yang merupakan orang yang begitu tak bercela dan jujur, seorang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sebagai akibatnya, Tuhan akan mempermalukan Iblis melalui kenyataan bahwa Ayub adalah manusia yang tak bercela dan jujur, seorang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan Iblis akan dibiarkan sepenuhnya dipermalukan dan dikalahkan. Setelah itu, Iblis tidak lagi akan meragukan atau membuat tuduhan tentang kesempurnaan, kejujuran, sikap takut Ayub akan Tuhan, atau tindakannya menjauhi kejahatan. Dengan cara demikian, ujian Tuhan dan pencobaan Iblis hampir tidak dapat dihindari. Satu-satunya yang mampu bertahan dari ujian Tuhan dan pencobaan Iblis adalah Ayub. Setelah percakapan ini, Iblis diberi izin untuk mencobai Ayub. Maka dimulailah babak pertama serangan Iblis. Sasaran dari serangan ini adalah harta Ayub, karena Iblis telah membuat tuduhan berikut terhadap Ayub: "Apakah Ayub takut kepada Tuhan begitu saja tanpa mendapat apa pun? … Engkau memberkati segala pekerjaan tangannya, dan semua miliknya bertambah banyak di negeri itu." Sebagai akibatnya, Tuhan mengizinkan Iblis untuk mengambil semua yang dimiliki Ayub—yang merupakan tujuan utama mengapa Tuhan berbicara dengan Iblis. Namun, Tuhan mengajukan satu tuntutan kepada Iblis: "Lihat, segala yang dipunyainya ada di tanganmu, hanya jangan ulurkan tanganmu terhadap dia" (Ayub 1:12). Ini adalah syarat yang Tuhan tetapkan setelah Dia mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub dan menyerahkan Ayub kepada Iblis, dan merupakan batas yang Dia tetapkan untuk Iblis: Dia memerintahkan kepada Iblis agar tidak mencelakakan Ayub. Karena Tuhan mengetahui bahwa Ayub tak bercela dan jujur, dan Dia memiliki keyakinan bahwa kesempurnaan dan kejujuran Ayub di hadapan-Nya tidak diragukan lagi, dan dapat bertahan dalam ujian, maka Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub, tetapi menetapkan pembatasan kepada Iblis: Iblis diizinkan untuk mengambil semua harta milik Ayub, tetapi ia tidak dapat menyentuh Ayub. Apa artinya ini? Ini berarti bahwa Tuhan tidak menyerahkan Ayub sepenuhnya kepada Iblis saat itu. Iblis dapat mencobai Ayub dengan cara apa pun yang diinginkannya, tetapi ia tidak dapat menyakiti Ayub itu sendiri, bahkan Iblis tidak dapat menyentuh sehelai pun rambut di kepalanya, karena segala sesuatu pada diri manusia dikendalikan oleh Tuhan. Apakah manusia hidup atau mati diputuskan oleh Tuhan, dan Iblis tidak memiliki izin seperti ini. Setelah Tuhan mengucapkan kata-kata ini kepada Iblis, Iblis tidak sabar lagi untuk memulai pencobaannya. Iblis menggunakan segala cara untuk mencobai Ayub, dan Ayub segera kehilangan sekawanan besar kambing domba dan lembu sapi dan semua harta yang diberikan kepadanya oleh Tuhan…. Dengan demikian, ujian Tuhan pun datang kepadanya.

Meskipun Alkitab memberi tahu kita tentang asal-usul pencobaan Ayub, apakah Ayub sendiri, yang menjadi sasaran semua pencobaan ini, menyadari apa yang sedang terjadi? Ayub hanyalah manusia biasa. Tentu saja, dia tidak tahu apa-apa tentang kisah yang berlangsung di belakangnya. Walaupun demikian, rasa takutnya kepada Tuhan, dan kesempurnaan serta kejujurannya, membuatnya sadar bahwa ujian dari Tuhan telah datang kepadanya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi di dunia roh, atau apa maksud Tuhan di balik ujian ini. Tetapi dia tahu bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya, dia harus memegang teguh kesempurnaan dan kejujurannya, dan harus mematuhi jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sikap dan reaksi Ayub terhadap semua hal ini jelas dilihat oleh Tuhan. Lalu apa yang dilihat Tuhan? Dia melihat hati Ayub yang takut akan Tuhan, karena sejak awal sampai ketika Ayub diuji, hati Ayub tetap terbuka kepada Tuhan. Hatinya diletakkan di hadapan Tuhan, dan Ayub tidak meninggalkan kesempurnaan atau kejujurannya, dan dia juga tidak membuang atau menyimpang dari jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan─dan tidak ada yang lebih memuaskan bagi Tuhan selain itu. Selanjutnya, kita akan melihat pencobaan apa yang dialami oleh Ayub dan bagaimana dia menanggapi ujian ini. Mari kita membaca Alkitab.

c. Reaksi Ayub

(Ayub 1:20-21) Lalu Ayub bangun, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang aku juga akan kembali ke situ: Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh."

Bahwa Ayub Menerima Tanggung Jawab untuk Mengembalikan Semua Yang Dia Miliki Disebabkan Oleh Sikapnya yang Takut akan Tuhan

Setelah Tuhan berkata kepada Iblis: "Lihat, segala yang dipunyainya ada di tanganmu, hanya jangan ulurkan tanganmu terhadap dia," Iblis pergi. Segera setelah, itu Ayub mengalami serangan yang tiba-tiba dan dahsyat. Pertama, lembu sapi dan keledainya dijarah dan hamba-hambanya terbunuh. Selanjutnya, kambing domba dan hamba-hambanya dibakar hingga musnah. Setelah itu, untanya diambil dan hamba-hambanya dibunuh. Akhirnya, nyawa putra dan putrinya diambil. Rangkaian serangan ini adalah siksaan yang diderita Ayub selama pencobaan pertama. Sebagaimana diperintahkan Tuhan, selama semua serangan ini, Iblis hanya menyasar harta Ayub dan anak-anaknya, dan tidak mencelakai Ayub itu sendiri. Walaupun demikian, Ayub dengan segera berubah dari orang kaya yang memiliki kekayaan besar menjadi seseorang yang tidak punya apa-apa. Tidak pernah ada orang yang dapat menahan pukulan mengejutkan yang seluar biasa ini ataupun bereaksi dengan benar dalam menghadapinya, namun Ayub menunjukkan sisi luar biasanya. Alkitab memberikan uraian berikut: "Lalu Ayub bangun, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah." Inilah reaksi pertama Ayub setelah mendengar bahwa dia telah kehilangan anak-anaknya dan semua harta miliknya. Terutama sekali, dia tidak tampak terkejut, atau panik, apalagi menyatakan kemarahan atau kebencian. Jadi, jelas bahwa di dalam hatinya dia telah menyadari bahwa semua bencana ini bukanlah kecelakaan, atau dilakukan oleh tangan manusia, apalagi bencana ini adalah akibat datangnya pembalasan atau hukuman. Sebaliknya, ujian dari Tuhan Yahweh telah datang kepadanya. Tuhan Yahwehlah yang ingin mengambil harta dan anak-anaknya. Ayub sangat tenang dan berakal sehat pada saat itu. Kemanusiaannya yang tak bercela dan jujur membuat dia dapat secara rasional dan alami membuat penilaian dan keputusan yang tepat tentang bencana yang menimpa dirinya, dan karena itu, dia berperilaku dengan ketenangan yang luar biasa: "Lalu Ayub bangun, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah." "Mengoyakkan jubahnya" berarti bahwa dia tidak berpakaian, dan tidak punya apa-apa; "mencukur kepalanya" berarti dia telah kembali ke hadapan Tuhan sebagai bayi yang baru lahir; "tersungkur dan menyembah" berarti dia telah datang ke dunia dengan telanjang, dan sekarang tetap tanpa apa pun, dia dikembalikan kepada Tuhan sebagai bayi yang baru lahir. Sikap Ayub terhadap semua yang menimpa dirinya tidak dapat dicapai oleh makhluk Tuhan mana pun. Imannya kepada Tuhan Yahweh melampaui wilayah keyakinan. Ini adalah sikap takut akan Tuhan, dan ketaatan Ayub kepada Tuhan, dan dia tidak hanya mampu bersyukur kepada Tuhan karena memberi kepadanya, tetapi juga karena mengambil daripadanya. Terlebih dari itu, dia mampu menerima tanggung jawab untuk mengembalikan semua miliknya, termasuk nyawanya.

Sikap takut dan ketaatan Ayub kepada Tuhan adalah contoh bagi umat manusia, dan kesempurnaan serta kejujurannya adalah puncak kemanusiaan yang harus dimiliki oleh manusia. Meskipun dia tidak melihat Tuhan, dia menyadari bahwa Tuhan benar-benar ada, dan karena kesadaran ini dia takut akan Tuhan—dan karena takutnya akan Tuhan, dia mampu untuk menaati Tuhan. Dia memberi kepada Tuhan kebebasan untuk mengambil apa pun yang dia miliki, tetapi dia tidak mengeluh, dan bersujud di hadapan Tuhan serta mengatakan kepada-Nya bahwa, pada saat ini, bahkan seandainya Tuhan mengambil nyawanya pun, dia akan dengan senang hati membiarkan Dia melakukannya, tanpa keluhan. Seluruh tingkah lakunya adalah karena kemanusiaannya tak bercela dan jujur. Yang berarti, sebagai akibat dari ketidakbersalahan, kejujuran, dan kebaikannya, Ayub tidak tergoyahkan dalam kesadaran dan pengalamannya akan keberadaan Tuhan, dan di atas dasar ini dia menuntut dirinya sendiri dan menetapkan standar bagi pemikiran, perilaku, tingkah laku, dan prinsip tindakannya di hadapan Tuhan sesuai dengan tuntunan Tuhan atas dirinya dan perbuatan Tuhan yang telah dilihatnya di antara semua hal. Seiring waktu, pengalamannya menyebabkan dia memiliki sikap takut akan Tuhan yang nyata dan sebenarnya dan membuatnya menjauhi kejahatan. Inilah sumber kejujuran yang dipegang teguh oleh Ayub. Ayub memiliki kemanusiaan yang jujur, polos, dan baik, dan dia memiliki pengalaman nyata sikap takut akan Tuhan menaati Tuhan, dan menjauhi kejahatan, serta pengetahuan bahwa "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil." Hanya karena semua hal ini dia dapat berdiri teguh dan menjadi saksi di tengah serangan Iblis yang ganas, dan hanya karena semua ini dia mampu untuk tidak mengecewakan Tuhan dan memberikan jawaban yang memuaskan kepada Tuhan ketika ujian Tuhan menimpanya. Walaupun tingkah laku Ayub selama pencobaan pertama sangat jujur, generasi berikutnya belum tentu mencapai kejujuran seperti ini bahkan setelah upaya seumur hidup, dan mereka juga belum tentu akan bertingkah laku seperti Ayub sebagaimana diuraikan di atas. Pada zaman sekarang, diperhadapkan dengan tingkah laku Ayub yang jujur, dan membandingkannya dengan teriakan dan tekad "ketaatan dan kesetiaan mutlak sampai mati" yang ditunjukkan kepada Tuhan oleh mereka yang mengaku percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, apakah engkau semua merasa sangat malu ataukah tidak?

Ketika engkau membaca di Alkitab semua yang diderita oleh Ayub dan keluarganya, apa reaksimu? Apakah engkau jadi bingung? Apakah engkau tercengang? Dapatkah ujian yang menimpa Ayub digambarkan sebagai sesuatu yang "mengerikan"? Dengan kata lain, sudah cukup mengerikan membaca ujian yang dialami Ayub sebagaimana diuraikan dalam Alkitab, apalagi seandainya hal itu terjadi di zaman sekarang. Jadi, jelas bahwa apa yang menimpa Ayub bukanlah "kegiatan latihan", tetapi "pertempuran" nyata yang menampilkan "senjata" dan "peluru" yang sebenarnya. Akan tetapi, oleh tangan siapakah dia mengalami ujian ini? Tentu saja, ujian tersebut dilakukan oleh Iblis. Ujian itu dilakukan secara pribadi oleh Iblis─tetapi ujian itu diizinkan oleh Tuhan. Apakah Tuhan memberi tahu Iblis bagaimana cara mencobai Ayub? Tuhan tidak memberitahukannya. Tuhan hanya memberikan satu syarat, dan setelah itu pencobaan menimpa Ayub. Ketika pencobaan itu menimpa Ayub, manusia dapat merasakan kejahatan dan keburukan Iblis, kedengkian dan kebenciannya terhadap manusia, dan permusuhannya terhadap Tuhan. Dalam hal ini, kita melihat bahwa betapa kejamnya pencobaan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dapat dikatakan bahwa sifat jahat Iblis yang suka mengganggu manusia dan wajahnya yang buruk sepenuhnya terungkap pada saat ini. Iblis memanfaatkan kesempatan ini, kesempatan yang diberikan atas izin Tuhan, untuk membuat Ayub mengalami kekejaman yang ganas dan tanpa belas kasihan, yang cara dan tingkat kekejamannya tidak dapat dibayangkan dan sama sekali tidak tertahankan oleh manusia zaman sekarang. Daripada mengatakan bahwa Ayub dicobai Iblis, dan bahwa dia berdiri teguh dalam kesaksiannya selama pencobaan ini, lebih baik mengatakan bahwa dalam ujian yang ditetapkan baginya oleh Tuhan, Ayub memulai pertarungan melawan Iblis untuk melindungi kesempurnaan dan kejujurannya, dan mempertahankan jalannya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dalam pertarungan ini, Ayub kehilangan sekawanan besar kambing domba, dia kehilangan semua hartanya, dan dia kehilangan putra-putrinya—tetapi dia tidak meninggalkan kesempurnaan, kejujuran, atau rasa takutnya akan Tuhan. Dengan kata lain, dalam pertarungan melawan Iblis ini, dia lebih suka kehilangan harta dan anak-anaknya daripada kehilangan kesempurnaan, kejujuran, dan takutnya akan Tuhan. Dia lebih suka berpegang teguh pada prinsip mengenai apa artinya menjadi manusia. Alkitab memberikan uraian ringkas mengenai seluruh proses bagaimana Ayub kehilangan hartanya, dan juga mencatat tingkah laku dan sikap Ayub. Uraian pendek dan ringkas ini memberi kesan bahwa Ayub hampir-hampir tenang saja dalam menghadapi pencobaan ini, tetapi jika apa yang sebenarnya terjadi harus diulang kembali, ditambah lagi dengan sifat jahat si Iblis—maka segala sesuatunya tidak akan sesederhana atau semudah seperti yang diuraikan dalam kalimat-kalimat ini. Kenyataannya jauh lebih kejam. Seperti itulah tingkat kehancuran dan kebencian dengan mana Iblis memperlakukan umat manusia dan semua orang yang diperkenan oleh Tuhan. Jika Tuhan tidak meminta agar Iblis tidak mencelakai Ayub, Iblis pasti akan membunuhnya tanpa rasa bersalah. Iblis tidak ingin siapa pun menyembah Tuhan, dan dia juga tidak menginginkan orang-orang yang benar di mata Tuhan dan mereka yang tak bercela dan jujur dapat tetap takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Karena orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan berarti mereka menjauhi dan meninggalkan Iblis, dan karena itu Iblis memanfaatkan izin dari Tuhan untuk melampiaskan semua kemarahan dan kebenciannya terhadap Ayub tanpa belas kasihan. Jadi, jelas betapa hebat siksaan yang diderita Ayub, dari pikiran hingga tubuhnya, dari luar hingga ke dalam. Pada zaman sekarang, kita tidak memahami bagaimana peristiwa itu terjadi pada waktu itu, dan dari kisah-kisah Alkitab, hanya dapat memperoleh gambaran sekilas tentang perasaan Ayub ketika dia mengalami siksaan pada waktu itu.

Kejujuran Ayub yang Tak Tergoyahkan Mempermalukan Iblis dan Menyebabkan Iblis Lari Ketakutan

Dan apa yang Tuhan lakukan ketika Ayub mengalami siksaan ini? Tuhan mengamati, dan menyaksikan, dan menunggu hasilnya. Ketika Tuhan mengamati dan menyaksikan, bagaimana perasaan-Nya? Tentu saja, Dia merasa sangat sedih. Tetapi, sebagai akibat dari kesedihan-Nya, dapatkah Dia menyesali izin yang diberikan-Nya kepada Iblis untuk mencobai Ayub? Jawabannya adalah Tidak. Dia tidak dapat menyesalinya. Karena Dia sangat yakin bahwa Ayub tak bercela dan jujur, bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Tuhan telah memberi Iblis kesempatan untuk membuktikan kebenaran Ayub di hadapan Tuhan dan mengungkapkan kejahatan dan kekejiannya sendiri. Selain itu, ini adalah kesempatan bagi Ayub untuk membuktikan kebenarannya dan sikapnya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan di hadapan manusia di dunia, Iblis, dan bahkan mereka yang mengikuti Tuhan. Apakah hasil akhirnya membuktikan bahwa penilaian Tuhan tentang Ayub benar dan tanpa kesalahan? Apakah Ayub benar-benar mengalahkan Iblis? Di sini kita membaca Ayub mengucapkan kata-kata yang sangat menunjukkan siapa dirinya, kata-kata yang merupakan bukti bahwa dia telah mengalahkan Iblis. Dia berkata: "Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang aku juga akan kembali ke situ." Inilah sikap ketaatan Ayub kepada Tuhan. Selanjutnya, dia lalu berkata: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh." Kata-kata yang diucapkan oleh Ayub ini membuktikan bahwa Tuhan mengamati kedalaman hati manusia, bahwa Dia mampu melihat ke dalam pikiran manusia, dan kata-kata ini membuktikan bahwa perkenan-Nya atas Ayub adalah tanpa kesalahan, bahwa orang yang diperkenan Tuhan ini adalah orang yang benar. "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh." Kata-kata ini adalah kesaksian Ayub kepada Tuhan. Kata-kata sederhana inilah yang menakutkan Iblis, yang mempermalukannya dan menyebabkannya melarikan diri dengan panik, dan selain itu, yang membelenggu Iblis dan membuatnya tidak berdaya. Demikian juga, kata-kata ini membuat Iblis merasakan keagungan dan kekuatan dari perbuatan Tuhan Yahweh, dan membuatnya merasakan kharisma luar biasa dari orang yang hatinya diatur oleh jalan Tuhan. Selain itu, kata-kata ini menunjukkan kepada Iblis daya hidup kuat yang ditunjukkan oleh seorang manusia kecil dan tidak penting dalam menaati jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan demikian, Iblis dikalahkan dalam pertarungan yang pertama. Meskipun telah memiliki "wawasan yang diperolehnya dengan susah payah," itu, Iblis tidak berniat melepaskan Ayub, juga tidak ada perubahan sedikit pun dalam sifat jahatnya. Iblis berusaha untuk terus menyerang Ayub, dan karena itu sekali lagi ia datang ke hadapan Tuhan …

Selanjutnya, mari kita membaca Alkitab tentang Ayub yang mengalami pencobaan kedua.

3. Iblis Sekali Lagi Mencobai Ayub (Bisul busuk yang Menyakitkan Bermunculan di Sekujur Tubuh Ayub)

a. Perkataan yang Diucapkan oleh Tuhan

(Ayub 2:3) Dan Yahweh berfirman kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun yang seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Ia tetap memegang teguh kesalehannya, sekalipun engkau telah membujuk Aku untuk melawannya, menghancurkannya tanpa alasan."

(Ayub 2:6) Maka Yahweh berfirman kepada Iblis: "Lihat dia ada dalam tanganmu; tetapi sayangkan nyawanya."

b. Perkataan yang Diucapkan oleh Iblis

(Ayub 2:4–5) Dan Iblis menjawab Yahweh: "Kulit ganti kulit! Ya, semua yang dimiliki manusia akan diberikannya ganti nyawanya. Tetapi ulurkan tangan-Mu dan sentuhlah tulang dan dagingnya, maka ia pasti akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu."

c. Bagaimana Ayub Menghadapi Ujian

(Ayub 2:9-10) Lalu kata istrinya kepadanya: "Apakah engkau masih mempertahankan kesalehanmu? Kutukilah Tuhan dan matilah!" Tetapi ia menjawab istrinya: "Engkau berbicara seperti perempuan bodoh. Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Dalam semua ini Ayub tidak berdosa dengan bibirnya.

(Ayub 3:3) Kiranya hari kelahiranku lenyap, dan malam yang mengatakan, Ada anak lelaki sedang dikandung.

Cinta Ayub akan Jalan Tuhan Melampaui Segalanya

Alkitab mencatat percakapan antara Tuhan dan Iblis sebagai berikut: "Dan Yahweh berfirman kepada Iblis, Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub, tidak ada seorang pun yang seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Ia tetap memegang teguh kesalehannya, sekalipun engkau telah membujuk Aku untuk melawannya, menghancurkannya tanpa alasan" (Ayub 2:3). Dalam percakapan ini, Tuhan mengulangi pertanyaan yang sama kepada Iblis. Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan kepada kita penilaian tegas Tuhan Yahweh mengenai apa yang ditunjukkan dan dijalani oleh Ayub selama ujian pertama, dan penilaian yang tidak berbeda dengan penilaian Tuhan tentang Ayub sebelum dia mengalami pencobaan Iblis. Yang berarti, sebelum pencobaan itu menimpanya, di mata Tuhan, Ayub tak bercela, dan dengan demikian Tuhan melindungi dia dan keluarganya, dan memberkatinya. Dia layak diberkati di mata Tuhan. Setelah pencobaan, Ayub tidak berdosa dengan bibirnya karena dia telah kehilangan hartanya dan anak-anaknya, tetapi terus memuji nama Tuhan Yahweh. Tingkah laku yang baru saja diperlihatkannya membuat Tuhan memujinya, dan memberinya nilai sempurna. Karena di mata Ayub, keturunannya atau kekayaannya tidak cukup untuk membuatnya meninggalkan Tuhan. Dengan kata lain, tempat Tuhan di dalam hatinya tidak dapat digantikan oleh anak-anaknya atau harta apa pun. Selama pencobaan pertama Ayub, dia menunjukkan kepada Tuhan bahwa kasihnya kepada Tuhan dan cintanya kepada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan melampaui segalanya. Ujian ini memberi Ayub tidak lebih dari pengalaman menerima imbalan dari Tuhan Yahweh serta harta dan anak-anaknya diambil oleh-Nya.

Bagi Ayub, ini adalah pengalaman sejati yang mencuci bersih jiwanya. Ini adalah pembaptisan kehidupan yang menggenapi keberadaannya, dan selain itu, ini adalah pesta mewah yang menguji ketaatannya dan rasa takutnya kepada Tuhan. Pencobaan ini mengubah kedudukan Ayub dari orang kaya menjadi orang yang tidak punya apa-apa, dan ini juga memungkinkan Ayub mengalami kekejaman Iblis terhadap umat manusia. Kemelaratannya tidak menyebabkan dia membenci Iblis. Sebaliknya, dalam tindakan keji Iblis dia melihat keburukan dan kehinaan Iblis, serta permusuhan dan pemberontakan Iblis terhadap Tuhan, dan ini semakin mendorongnya untuk selamanya berpegang teguh pada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Tuhan dan meninggalkan jalan Tuhan oleh karena faktor lahiriah seperti harta, anak-anak atau kerabat, dan dia juga tidak akan pernah menjadi budak Iblis, budak harta, atau budak siapa pun. Selain Tuhan Yahweh, tidak ada yang bisa menjadi Tuannya, atau Tuhannya. Begitulah harapan Ayub. Di sisi lain dari pencobaan itu, Ayub juga memperoleh sesuatu: Dia memperoleh kekayaan besar di tengah ujian yang diberikan kepadanya oleh Tuhan.

Dalam hidupnya selama beberapa puluh tahun sebelumnya, Ayub telah melihat perbuatan Tuhan Yahweh dan memperoleh berkat Tuhan Yahweh bagi dirinya. Semua itu adalah berkat yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan berutang, karena dia percaya bahwa dia belum melakukan apa pun untuk Tuhan, tetapi telah diberi berkat sebesar itu dan menikmati begitu banyak kasih karunia. Karena alasan ini, di dalam hatinya dia sering berdoa, berharap bahwa dia akan mampu membalas kebaikan Tuhan, berharap bahwa dia akan mendapat kesempatan untuk memberikan kesaksian tentang perbuatan dan kebesaran Tuhan, dan berharap bahwa Tuhan akan menguji ketaatannya, dan selain itu, berharap imannya dapat dimurnikan, sampai ketaatan dan imannya memperoleh perkenan Tuhan. Dan ketika ujian menimpa Ayub, dia percaya bahwa Tuhan telah mendengar doanya. Ayub menghargai kesempatan ini lebih dari apa pun, dan dengan demikian dia tidak berani menganggapnya ringan, karena keinginannya yang terbesar seumur hidup dapat terwujud. Datangnya kesempatan ini berarti bahwa ketaatan dan takutnya akan Tuhan dapat diuji, dan dapat dimurnikan. Selain itu, itu berarti bahwa Ayub mendapat kesempatan untuk memperoleh perkenan Tuhan, sehingga membuatnya semakin dekat dengan Tuhan. Selama ujian, iman dan usaha seperti ini memungkinkan Ayub untuk menjadi lebih sempurna dan mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang kehendak Tuhan. Ayub juga menjadi lebih bersyukur atas berkat dan kasih karunia Tuhan. Di dalam hatinya, dia memberikan pujian yang lebih besar atas perbuatan Tuhan, dan dia lebih takut dan hormat kepada Tuhan, dan lebih rindu akan keindahan, kebesaran, dan kekudusan Tuhan. Pada saat ini, meskipun di mata Tuhan Ayub tetap merupakan orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, sehubungan dengan pengalamannya, iman dan pengetahuan Ayub telah meningkat dengan pesat: Imannya telah meningkat, ketaatannya semakin mantap, dan rasa takutnya akan Tuhan menjadi semakin mendalam. Meskipun ujian ini mengubah roh dan kehidupan Ayub, perubahan ini tidak memuaskan Ayub, dan perubahan ini juga tidak memperlambat kemajuannya. Pada saat menghitung apa yang telah dia peroleh dari ujian ini, dan mempertimbangkan kekurangannya sendiri, dia diam-diam berdoa, menunggu ujian berikutnya menimpanya, karena dia merindukan iman, ketaatan, dan takutnya akan Tuhan ditinggikan pada ujian Tuhan selanjutnya.

Tuhan mengamati pikiran terdalam manusia dan semua yang manusia katakan dan lakukan. Pikiran Ayub terdengar oleh Tuhan Yahweh, dan Tuhan mendengarkan doa-doanya, dan dengan demikian ujian Tuhan berikutnya untuk Ayub tiba seperti yang diharapkan.

Di tengah Penderitaan yang Ekstrem, Ayub Benar-Benar Menyadari Kepedulian Tuhan kepada Umat Manusia

Setelah beberapa pertanyaan Tuhan Yahweh kepada Iblis, Iblis diam-diam merasa senang. Ini karena Iblis tahu bahwa dia akan diizinkan sekali lagi untuk menyerang orang yang tak bercela di mata Tuhan—yang bagi Iblis merupakan kesempatan yang langka. Iblis ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk sepenuhnya meruntuhkan keyakinan Ayub, untuk membuatnya kehilangan imannya kepada Tuhan, sehingga tidak lagi takut akan Tuhan atau memberkati nama Tuhan Yahweh. Ini akan memberi Iblis sebuah kesempatan: Apa pun dan kapan pun tempat atau waktunya, Iblis akan dapat menjadikan Ayub sebagai mainan di bawah kendalinya. Iblis menyembunyikan rencana jahatnya tanpa jejak, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan dan mengendalikan sifat jahatnya. Kebenaran ini terlihat dalam jawabannya terhadap perkataan Tuhan Yahweh, sebagaimana dicatat dalam Alkitab: "Dan Iblis menjawab Yahweh: Kulit ganti kulit! Ya, semua yang dimiliki manusia akan diberikannya ganti nyawanya. Tetapi ulurkan tangan-Mu dan sentuhlah tulang dan dagingnya, maka ia pasti akan mengutuki Engkau di hadapan-Mu" (Ayub 2:4-5). Tidak mungkin tidak diperoleh pengetahuan penting dan tanda kejahatan Iblis dari percakapan antara Tuhan dan Iblis ini. Setelah mendengar pendapat Iblis yang keliru ini, semua orang yang mencintai kebenaran dan membenci kejahatan pasti akan semakin membenci kehinaan dan sikap tidak tahu malu Iblis, akan merasa sangat terkejut dan muak dengan kekeliruan Iblis, dan pada saat yang sama, berharap bisa menawarkan doa yang khusyuk dan harapan tulus kepada Ayub, berdoa agar orang yang jujur ini dapat mencapai kesempurnaan, berharap bahwa orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan ini akan selamanya mengatasi pencobaan Iblis, dan hidup dalam cahaya, dan hidup dengan bimbingan dan berkat Tuhan. Selain itu, mereka akan berharap agar perbuatan baik Ayub selamanya dapat memacu dan mendorong semua orang yang mencari jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Meskipun niat jahat Iblis dapat dilihat dalam pernyataan ini, Tuhan dengan sepenuh hati menyetujui "permintaan" Iblis—tetapi Dia juga menetapkan satu syarat: "dia ada dalam tanganmu; tetapi sayangkan nyawanya" (Ayub 2:6). Karena, kali ini, Iblis meminta untuk mengulurkan tangannya untuk menyakiti daging dan tulang Ayub, Tuhan berkata: "tetapi sayangkan nyawanya." Makna dari perkataan ini adalah bahwa Dia memberikan daging Ayub kepada Iblis, tetapi Dia mempertahankan hidupnya. Iblis tidak dapat mengambil nyawa Ayub, tetapi selain daripada ini, Iblis dapat menggunakan cara atau metode apa pun untuk menyerang Ayub.

Setelah mendapat izin Tuhan, Iblis bergegas mendatangi Ayub dan mengulurkan tangannya untuk menyakiti kulit Ayub, yang menyebabkan bisul yang busuk di sekujur tubuhnya, dan Ayub merasakan sakit di kulitnya. Ayub memuji keagungan dan kekudusan Tuhan Yahweh, yang membuat kelancangan Iblis semakin menjadi-jadi. Karena Iblis telah merasakan sukacita menyakiti manusia, ia mengulurkan tangannya dan membabat tubuh Ayub, yang menyebabkan bisul-bisul busuknya bernanah. Ayub segera merasakan sakit dan siksaan yang tiada tara di tubuhnya, dan dia tidak bisa apa-apa kecuali mengurut dirinya dari kepala sampai kaki dengan kedua tangannya, seolah-olah hal ini akan mengurangi penderitaan pada rohnya akibat rasa sakit pada tubuhnya. Dia menyadari bahwa Tuhan berada di sisinya mengawasinya, dan dia mencoba yang terbaik untuk menguatkan dirinya. Dia sekali lagi berlutut ke tanah, dan berkata: Engkau melihat lubuk hati manusia, Engkau memperhatikan kesengsaraannya. Mengapa Engkau mengkhawatirkan kelemahannya? Terpujilah nama Tuhan Yahweh. Iblis melihat penderitaan Ayub yang tak tertahankan, tetapi Iblis tidak melihat Ayub melupakan nama Tuhan Yahweh. Karena itu, Iblis segera mengulurkan tangannya untuk menyakiti tulang-tulang Ayub, nekat untuk mencabik-cabik kaki dan tangannya. Dalam sekejap, Ayub merasakan siksaan yang belum pernah dialami sebelumnya. Dagingnya seolah-olah dirobek hingga terlepas dari tulangnya, dan seolah-olah tulangnya dihancurkan sedikit demi sedikit. Siksaan yang sangat menyakitkan ini membuatnya berpikir lebih baik dia mati saja…. Kemampuannya menahan siksaan itu telah mencapai batasnya…. Dia ingin menjerit, dia ingin merenggut kulit di tubuhnya untuk mengurangi rasa sakitnya─namun dia menahan jeritannya, dan tidak merenggut kulit di tubuhnya, karena dia tidak ingin membiarkan Iblis melihat kelemahannya. Maka dia berlutut sekali lagi, tetapi kali ini dia tidak merasakan kehadiran Tuhan Yahweh. Dia tahu bahwa Dia sering berada di hadapannya, dan di belakangnya, dan di kedua sisinya. Namun, selama sakitnya, Tuhan tidak pernah menyaksikan. Tuhan menutupi wajah-Nya dan bersembunyi, karena tujuan-Nya menciptakan manusia bukan untuk menimbulkan penderitaan kepada manusia. Pada saat ini, Ayub menangis, dan melakukan yang terbaik untuk menanggung penderitaan fisik ini, namun dia tidak bisa lagi menahan diri dari bersyukur kepada Tuhan: Manusia jatuh pada pukulan pertama, dia lemah dan tidak berdaya, dia muda dan bodoh—mengapa Engkau ingin begitu peduli dan lembut terhadapnya? Engkau memukulku, tetapi pukulan itu menyakitkan hati-Mu. Manusia seperti apa yang layak memperoleh perhatian dan kepedulian-Mu? Doa Ayub mencapai telinga Tuhan, dan Tuhan diam, hanya menyaksikan tanpa suara…. Setelah mencoba segala cara tanpa hasil, Iblis diam-diam pergi, tetapi ini tidak mengakhiri ujian Tuhan bagi Ayub. Karena kuasa Tuhan yang dinyatakan pada Ayub belum dipublikasikan, kisah Ayub tidak berakhir dengan mundurnya Iblis. Saat karakter lain masuk, adegan yang lebih menakjubkan baru akan terjadi.

Wujud Lain dari Sikap Ayub yang Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan Adalah Dengan Dia Meninggikan Nama Tuhan dalam Segala Hal

Ayub telah mengalami amukan Iblis, tetapi dia tetap tidak meninggalkan nama Tuhan Yahweh. Istrinya adalah yang pertama muncul dan memainkan peran Iblis yang dapat dilihat dengan menyerang Ayub. Teks aslinya menguraikannya sebagai berikut:"Lalu kata istrinya kepadanya: "Apakah engkau masih mempertahankan kesalehanmu? Kutukilah Tuhan dan matilah!" (Ayub 2:9). Ini perkataan yang diucapkan Iblis yang menyamar sebagai manusia. Perkataan itu adalah serangan, dan tuduhan, serta godaan, pencobaan, dan fitnah. Setelah gagal menyerang tubuh Ayub, Iblis kemudian langsung menyerang kesalehan Ayub, dengan harapan menggunakan ini untuk membuat Ayub meninggalkan kesalehannya, meninggalkan Tuhan, dan mati. Begitu pula, Iblis ingin menggunakan perkataan semacam itu untuk mencobai Ayub: Jika Ayub melupakan nama Tuhan Yahweh, dia tidak perlu menanggung siksaan seperti ini, dan dapat membebaskan dirinya dari siksaan fisiknya. Menghadapi saran istrinya, Ayub menegurnya dengan mengatakan:"Engkau berbicara seperti perempuan bodoh. Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" (Ayub 2:10) Ayub sudah lama mengenal perkataan ini, tetapi pada saat inilah kebenaran pengetahuan Ayub mengenai perkataan ini terbukti.

Ketika istrinya menyarankan kepadanya untuk mengutuk Tuhan dan mati, maksudnya adalah: Tuhanmu memperlakukanmu demikian, jadi mengapa tidak mengutuk-Nya? Apa gunanya engkau tetap hidup? Tuhanmu sangat tidak adil kepadamu, tetapi engkau tetap berkata terpujilah nama Tuhan Yahweh. Bagaimana Dia dapat menimpakan musibah kepadamu padahal engkau memberkati nama-Nya? Cepatlah dan tinggalkan saja nama Tuhan, dan jangan ikuti Dia lagi. Dengan cara ini masalahmu akan berakhir. Pada saat inilah, dihasilkan kesaksian yang tepat seperti yang Tuhan inginkan dalam diri Ayub. Tidak ada orang biasa yang dapat memberikan kesaksian seperti ini, dan kita juga tidak pernah membaca kesaksian seperti ini di kisah mana pun dalam Alkitab—tetapi Tuhan telah melihatnya jauh sebelum Ayub mengucapkan perkataan ini. Tuhan hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini agar Ayub dapat membuktikan kepada semua orang bahwa Tuhan itu benar. Menghadapi nasihat istrinya, Ayub bukan hanya tidak melepaskan kesalehannya atau menyangkal Tuhan, tetapi dia juga berkata kepada istrinya: "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Apakah perkataan sangat berbobot? Di sini, hanya ada satu fakta yang mampu membuktikan bobot perkataan ini. Bobot dari perkataan ini adalah bahwa perkataan ini diperkenan oleh Tuhan di dalam hati-Nya. Perkataan inilah yang diinginkan oleh Tuhan. Perkataan inilah yang ingin Tuhan dengar, dan perkataan inilah hasil dari apa yang sangat ingin Tuhan lihat. Perkataan ini juga merupakan esensi dari kesaksian Ayub. Dalam hal ini, kesempurnaan Ayub, kejujuran, sikapnya yang takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan terbukti. Kemuliaan Ayub terletak pada bagaimana, ketika dia dicobai, dan bahkan ketika sekujur tubuhnya dipenuhi bisul busuk, ketika dia menanggung siksaan paling hebat, dan ketika istri dan kerabatnya menasihatinya, dia tetap mengucapkan perkataan seperti itu. Dengan kata lain, di dalam hatinya dia percaya bahwa tidak peduli apa pun pencobaan atau bagaimanapun pedihnya kesengsaraan atau siksaan, bahkan seandainya kematian akan menimpanya, dia tidak akan meninggalkan Tuhan ataupun menolak jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Jadi, jelas bahwa Tuhan mendapat tempat yang paling penting di dalam hatinya, dan bahwa hanya ada Tuhan di dalam hatinya. Karena inilah kita membaca semua uraian tentang dia di Alkitab sebagai berikut: "Dalam semua ini Ayub tidak berdosa dengan bibirnya." Dia bukan hanya tidak berdosa dengan bibirnya, tetapi di dalam hatinya dia juga tidak mengeluhkan tentang Tuhan. Dia tidak mengucapkan perkataan menyakitkan tentang Tuhan, dan dia juga tidak berdosa terhadap Tuhan. Mulutnya tidak hanya memberkati nama Tuhan, tetapi di dalam hatinya dia juga memberkati nama Tuhan; mulut dan hatinya selaras. Inilah Ayub sesungguhnya yang dilihat oleh Tuhan, dan inilah alasan mengapa Tuhan menghargai Ayub.

Banyak Kesalahpahaman Manusia Tentang Ayub

Kesulitan yang diderita Ayub bukanlah pekerjaan para utusan yang diutus oleh Tuhan, juga bukan disebabkan oleh tangan Tuhan sendiri. Sebaliknya, hal itu secara pribadi disebabkan oleh Iblis, musuh Tuhan. Akibatnya, tingkat kesulitan yang dialami oleh Ayub sangat mendalam. Namun, pada saat ini Ayub dengan sepenuh hati menunjukkan pengetahuannya sehari-hari tentang Tuhan di dalam hatinya, prinsip tindakannya sehari-hari, dan sikapnya terhadap Tuhan—dan inilah kebenarannya. Jika Ayub belum dicobai, jika Tuhan tidak menimpakan ujian kepada Ayub, ketika Ayub berkata, "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh," engkau akan mengatakan bahwa Ayub adalah seorang munafik. Tuhan telah memberinya begitu banyak harta. Jadi, tentu saja dia memberkati nama Tuhan Yahweh. Jika, sebelum mengalami ujian, Ayub berkata: "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" engkau akan mengatakan bahwa Ayub membesar-besarkan, dan bahwa dia tidak akan meninggalkan nama Tuhan karena dia sering diberkati oleh tangan Tuhan. Jika sebelumnya Tuhan telah menimpakan malapetaka kepadanya, maka dia pasti akan meninggalkan nama Tuhan. Namun ketika Ayub menemukan dirinya dalam keadaan yang tidak diinginkan, atau yang tidak ingin dilihat siapa pun, atau yang tidak diinginkan seorang pun untuk menimpa mereka, yang orang takutkan akan menimpa mereka, keadaan yang Tuhan pun tidak tahan menyaksikannya, Ayub masih dapat berpegang teguh pada kesalehannya: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh," dan "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Diperhadapkan dengan tingkah laku Ayub pada saat ini, mereka yang suka mengucapkan perkataan yang terdengar tinggi, dan yang suka membicarakan huruf dan doktrin, jadi tidak dapat bicara. Mereka yang memuji nama Tuhan hanya dalam ucapan, tetapi tidak pernah menerima ujian dari Tuhan, dihukum oleh kesalehan yang dipegang teguh oleh Ayub dan mereka yang tidak pernah percaya bahwa manusia mampu memegang teguh jalan Tuhan dihakimi oleh kesaksian Ayub. Diperhadapkan dengan tingkah laku Ayub selama ujian ini dan perkataan yang dia ucapkan, sebagian orang akan merasa bingung, sebagian akan merasa iri, sebagian akan merasa ragu, dan sebagian bahkan akan tampak tidak tertarik, sehingga menolak kesaksian Ayub karena mereka tidak hanya melihat siksaan yang menimpa Ayub selama ujian, dan membaca perkataan yang diucapkan oleh Ayub, tetapi juga melihat "kelemahan" manusia yang ditunjukkan oleh Ayub ketika ujian menimpanya. "Kelemahan" ini mereka yakini sebagai ketidaksempurnaan yang disangka benar dalam kesempurnaan Ayub, noda dalam diri seorang manusia yang di mata Tuhan adalah sempurna. Bisa dikatakan, ada keyakinan bahwa mereka yang tak bercela itu tanpa cacat, tanpa noda atau cela, bahwa mereka tidak memiliki kelemahan, tidak mengenal rasa sakit, bahwa mereka tidak pernah merasa tidak bahagia atau sedih, dan tanpa kebencian atau perilaku lahir ekstrem apa pun. Sebagai akibatnya, sebagian besar orang tidak percaya bahwa Ayub benar-benar tak bercela. Orang tidak menyetujui sebagian besar perilakunya selama ujiannya. Misalnya, ketika Ayub kehilangan harta bendanya dan anak-anaknya, dia tidak menangis seperti yang orang bayangkan. "Ketidakpantasan"nya tersebut membuat orang berpikir dia tidak punya perasaan karena dia tanpa air mata atau cinta kepada keluarganya. Ini adalah kesan buruk pertama yang Ayub timbulkan kepada orang lain. Mereka melihat perilakunya setelah itu bahkan lebih membingungkan: "Mengoyak jubahnya" ditafsirkan orang sebagai ketidakhormatannya kepada Tuhan, dan "mencukur kepalanya" dipahami secara keliru sebagai penghujatan dan penentangan Ayub terhadap Tuhan. Selain dari perkataan Ayub bahwa "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh," orang tidak melihat satu pun kebenaran pada diri Ayub yang dipuji oleh Tuhan, dan dengan demikian penilaian tentang Ayub oleh sebagian besar dari mereka tidak lebih dari ketidakpahaman, ketidakmengertian, keraguan, kecaman, dan persetujuan dalam teori saja. Tidak seorang pun dari mereka yang benar-benar mampu memahami dan menghargai perkataan Tuhan Yahweh bahwa Ayub adalah seorang yang tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Berdasarkan kesan mereka tentang Ayub di atas, orang memiliki keraguan lebih lanjut mengenai kebenaran Ayub, karena tindakannya dan tingkah lakunya yang tercatat dalam Alkitab tidak terlalu mengharukan seperti yang orang bayangkan. Bukan hanya dia tidak menunjukkan prestasi besar, tetapi dia juga mengambil sepotong beling untuk mengaruk-garuk tubuhnya sendiri sambil duduk di tengah abu. Tindakan ini juga mengherankan orang dan menyebabkan mereka ragu─dan bahkan menyangkal─kebenaran Ayub, karena saat menggaruk-garuk tubuhnya sendiri Ayub tidak berdoa kepada Tuhan, atau berjanji kepada Tuhan; atau, selain itu, dia tidak terlihat menangis karena rasa sakit. Pada saat ini, orang hanya melihat kelemahan Ayub dan tidak ada yang lain, dan dengan demikian walaupun mereka mendengar Ayub berkata "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" mereka benar-benar tidak terpengaruh, atau ragu-ragu, dan tetap tidak dapat melihat kebenaran Ayub dari perkataannya. Kesan dasar yang diberikan Ayub kepada orang lain selama siksaan dalam ujiannya adalah bahwa dia tidak merasa ngeri, juga tidak merasa congkak. Orang tidak melihat kisah sebenarnya di balik perilakunya yang terjadi di lubuk hatinya, dan mereka juga tidak melihat rasa takut akan Tuhan di dalam hatinya atau ketaatan pada prinsip jalan menjauhi kejahatan. Kesabarannya membuat orang mengira bahwa kesempurnaan dan kejujurannya hanyalah perkataan kosong, bahwa sikap takutnya akan Tuhan hanyalah desas-desus. Sementara itu, "kelemahan" yang dia ungkapkan secara lahiriah menimbulkan kesan yang mendalam pada mereka, yang memberi mereka "perspektif baru", dan bahkan "pemahaman baru" terhadap orang yang Tuhan definisikan sebagai seorang yang tak bercela dan jujur. "Perspektif baru" dan "pemahaman baru" seperti ini terbukti ketika Ayub membuka mulutnya dan mengutuk hari kelahirannya.

Meskipun tingkat siksaan yang dideritanya tidak terbayangkan dan tidak dapat dipahami oleh siapa pun, Ayub tidak mengucapkan perkataan yang sesat, tetapi hanya mengurangi rasa sakit di tubuhnya dengan caranya sendiri. Sebagaimana dicatat dalam Alkitab, dia berkata: "Kiranya hari kelahiranku lenyap, dan malam yang mengatakan, Ada anak lelaki sedang dikandung" (Ayub 3:3). Mungkin, tidak seorang pun pernah menganggap perkataan ini penting, dan mungkin ada orang-orang yang memperhatikan perkataan tersebut. Menurut pandangan engkau semua, apakah perkataan itu berarti bahwa Ayub menentang Tuhan? Apakah perkataan itu merupakan keluhan kepada Tuhan? Aku tahu bahwa banyak dari antara engkau semua memiliki pemahaman tertentu tentang perkataan yang diucapkan Ayub ini dan percaya bahwa jika Ayub tak bercela dan jujur, dia seharusnya tidak menunjukkan kelemahan atau kesedihan apa pun, dan seharusnya malah menghadapi serangan dari Iblis secara positif, dan bahkan tersenyum menghadapi pencobaan Iblis. Dia tidak boleh bereaksi sedikit pun terhadap siksaan yang ditimpakan pada tubuhnya oleh Iblis, dan dia juga tidak boleh menunjukkan salah satu emosi di dalam hatinya. Dia bahkan seharusnya meminta agar Tuhan membuat ujian ini bahkan lebih berat lagi. Inilah yang seharusnya ditunjukkan dan dimiliki oleh orang yang teguh dan yang benar-benar takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Di tengah siksaan yang ekstrem ini, Ayub hanya mengutuk hari kelahirannya. Dia tidak mengeluhkan tentang Tuhan, apalagi berniat menentang Tuhan. Ini jauh lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, karena sejak zaman dahulu hingga sekarang, tidak pernah ada seorang pun mengalami pencobaan seperti itu atau mengalami apa yang menimpa Ayub. Dan mengapa tidak pernah seorang pun mengalami pencobaan yang sama seperti Ayub? Karena, seperti yang dilihat Tuhan, tidak ada seorang pun yang dapat memikul tanggung jawab atau amanat seperti itu, tidak ada seorang pun yang dapat melakukan seperti yang Ayub lakukan, dan lagi, selain mengutuki hari kelahiran mereka, tidak ada seorang pun yang dapat untuk tetap tidak meninggalkan nama Tuhan dan terus memberkati nama Tuhan Yahweh seperti yang Ayub lakukan ketika siksaan seperti itu menimpa dirinya. Adakah yang dapat melakukan ini? Ketika kita mengatakan hal ini tentang Ayub, apakah kita memuji perilakunya? Ayub adalah orang yang benar dan mampu menjadi kesaksian bagi Tuhan, dan mampu membuat Iblis melarikan diri dengan malu dan kecewa, sehingga Iblis tidak pernah lagi datang ke hadapan Tuhan untuk menuduhnya—jadi apa salahnya memuji Ayub? Mungkinkah engkau semua memiliki standar yang lebih tinggi daripada Tuhan? Mungkinkah engkau semua akan bertindak lebih baik daripada Ayub ketika ujian menimpa engkau semua? Ayub dipuji Tuhan—apa keberatan engkau semua?

Ayub Mengutuk Hari Kelahirannya Karena Dia Tidak Ingin Tuhan Disakiti Olehnya

Aku sering mengatakan bahwa Tuhan melihat lubuk hati manusia, dan manusia melihat aspek lahiriah orang lain. Karena Tuhan melihat lubuk hati manusia, Dia memahami hakikat mereka, sedangkan manusia mendefinisikan hakikat orang lain berdasarkan aspek lahiriahnya. Ketika Ayub membuka mulutnya dan mengutuk hari kelahirannya, tindakan ini mengejutkan semua tokoh spiritual, termasuk ketiga teman Ayub. Manusia berasal dari Tuhan dan harus bersyukur atas jiwa dan raganya, serta hari kelahirannya, yang dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan, dan dia tidak boleh mengutuknya. Inilah yang dapat dimengerti dan dipahami oleh kebanyakan orang. Bagi siapa pun yang mengikuti Tuhan, pemahaman ini sakral dan harus dihormati. Itu kebenaran yang tidak pernah dapat berubah. Sebaliknya, Ayub melanggar aturan itu: Dia mengutuk hari kelahirannya. Ini adalah tindakan yang oleh kebanyakan orang dianggap memasuki wilayah terlarang. Dia tidak hanya tidak berhak atas pemahaman dan simpati orang lain, dia juga tidak berhak atas pengampunan Tuhan. Pada saat yang sama, bahkan lebih banyak orang menjadi ragu terhadap kebenaran Ayub karena tampaknya kebaikan Tuhan terhadapnya membuat Ayub merasa puas diri, membuatnya begitu berani dan ceroboh sehingga dia tidak hanya tidak bersyukur kepada Tuhan karena memberkatinya dan menjaganya selama hidupnya, tetapi dia juga mengutuk hari kelahirannya sebagai kehancuran. Apa namanya ini kalau bukan penentangan terhadap Tuhan? Kedangkalan pemahaman seperti ini memberi bukti kepada manusia untuk mengutuk tindakan Ayub ini, tetapi siapa yang dapat mengetahui apa yang benar-benar dipikirkan Ayub pada waktu itu? Dan siapa yang tahu alasan mengapa Ayub bertindak seperti itu? Dalam hal ini, hanya Tuhan dan Ayub sendiri yang tahu kisah sebenarnya di balik layar dan apa alasannya.

Ketika Iblis mengulurkan tangannya untuk menyakiti tulang-tulang Ayub, Ayub jatuh ke dalam cengkeramannya, tanpa sarana untuk melarikan diri atau kekuatan untuk melawan. Tubuh dan jiwanya menderita rasa sakit yang luar biasa, dan rasa sakit ini membuatnya sangat sadar akan ketidakberartian, kerapuhan, dan ketidakberdayaan manusia yang hidup di dalam tubuh. Pada saat yang sama, dia juga memperoleh pemahaman yang mendalam tentang mengapa Tuhan ingin menjaga dan memelihara umat manusia. Dalam cengkeraman Iblis, Ayub menyadari bahwa manusia, yang terbuat dari daging dan darah, sebenarnya sangat tidak berdaya dan lemah. Ketika berlutut dan berdoa kepada Tuhan, Ayub merasa seolah-olah Tuhan sedang menutupi wajah-Nya, dan bersembunyi, karena Tuhan telah sepenuhnya menyerahkan dia ke tangan Iblis. Pada saat yang sama, Tuhan juga menangis untuknya, dan selain itu, merasa sedih baginya; Tuhan merasa pedih karena rasa sakit yang Ayub alami, dan merasa terluka karena luka yang Ayub alami…. Ayub merasakan kepedihan Tuhan dan juga merasakan betapa tak tertahankannya hal itu bagi Tuhan…. Ayub tidak mau lagi menimbulkan kesedihan bagi Tuhan, dan dia juga tidak ingin Tuhan menangis untuknya, apalagi melihat Tuhan menderita karena dirinya. Pada saat ini, Ayub hanya ingin melepaskan diri dari tubuhnya, agar tidak lagi menanggung rasa sakit yang ditimbulkan kepadanya oleh tubuh ini, karena hal ini akan membuat Tuhan tidak lagi merasa tersiksa akibat rasa sakit yang dialaminya—tetapi dia tidak bisa, dan dia harus menanggung bukan hanya rasa sakit pada tubuhnya, tetapi juga rasa tersiksa karena tidak ingin membuat Tuhan khawatir. Kedua rasa sakit ini—yang satu berasal dari tubuh, dan yang lain berasal dari roh—menimbulkan rasa sakit yang menyayat hati dan mencemaskan dalam diri Ayub, dan membuatnya merasakan bagaimana keterbatasan manusia yang terbuat dari daging dan darah dapat membuat orang merasa kecewa dan tidak berdaya. Dalam keadaan seperti ini, kerinduannya kepada Tuhan semakin kuat, dan kebenciannya terhadap Iblis semakin kuat. Pada saat ini, Ayub lebih suka tidak pernah dilahirkan ke dunia manusia, lebih suka bahwa dia tidak ada, daripada melihat Tuhan menangis atau merasa sakit karena dia. Dia mulai sangat membenci tubuhnya, merasa jemu dan bosan dengan dirinya sendiri, dengan hari kelahirannya, dan bahkan dengan semua hal yang berhubungan dengan dirinya. Dia tidak mau lagi ada penyebutan hari kelahirannya atau apa pun yang berkaitan dengannya, dan karena itu dia membuka mulutnya dan mengutuk hari kelahirannya: "Kiranya hari kelahiranku lenyap, dan malam yang mengatakan, Ada anak lelaki sedang dikandung. Biarlah hari itu menjadi kegelapan; Janganlah kiranya Tuhan yang di atas mengindahkannya, dan janganlah terang menyinarinya" (Ayub 3:3-4). Perkataan Ayub ini menunjukkan kebenciannya kepada dirinya sendiri, "Kiranya hari kelahiranku lenyap, dan malam yang mengatakan, Ada anak lelaki sedang dikandung," serta tegurannya kepada dirinya sendiri dan rasa berutang karena menyebabkan rasa sakit kepada Tuhan, "Biarlah hari itu menjadi kegelapan; Janganlah kiranya Tuhan yang di atas mengindahkannya, dan janganlah terang menyinarinya." Kedua perikop ini adalah ungkapan terakhir tentang bagaimana perasaan Ayub saat itu, dan sepenuhnya menunjukkan kesempurnaan dan kejujurannya kepada semua orang. Pada saat yang sama, sebagaimana yang diinginkan Ayub, iman dan ketaatannya kepada Tuhan, serta sikapnya yang takut akan Tuhan, benar-benar meningkat. Tentu saja, peningkatan seperti inilah yang justru merupakan hasil yang Tuhan harapkan.

Ayub Mengalahkan Iblis dan Menjadi Manusia Sejati di Mata Tuhan

Ketika Ayub pertama kali menjalani ujiannya, semua hartanya dan semua anaknya diambil, tetapi sebagai akibatnya dia tidak jatuh atau mengatakan apa pun yang merupakan dosa terhadap Tuhan. Dia telah mengatasi pencobaan Iblis, dan dia telah mengalahkan harta materiel dan keturunannya, dan ujian kehilangan semua harta duniawinya, yang berarti dia mampu mematuhi Tuhan yang mengambil darinya dan mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan karena hal itu. Seperti itulah perilaku Ayub selama pencobaan pertama dari Iblis, dan itu juga merupakan kesaksian Ayub selama ujian pertama dari Tuhan. Dalam ujian kedua, Iblis mengulurkan tangannya untuk menyakiti Ayub, dan walaupun Ayub mengalami penderitaan yang lebih berat daripada yang pernah dirasakannya sebelumnya, tetapi kesaksiannya itu cukup untuk membuat orang-orang merasa sangat terkejut. Dia menggunakan ketabahan, keyakinan, dan ketaatannya kepada Tuhan, serta ketakutannya akan Tuhan, untuk sekali lagi mengalahkan Iblis, dan tingkah lakunya serta kesaksiannya sekali lagi diperkenan dan disukai oleh Tuhan. Selama pencobaan ini, Ayub menggunakan tingkah lakunya yang sebenarnya untuk menyatakan kepada Iblis bahwa rasa sakit pada tubuhnya tidak dapat mengubah imannya dan ketaatannya kepada Tuhan atau merampas pengabdiannya kepada Tuhan dan sikapnya yang takut akan Tuhan. Dia tidak akan meninggalkan Tuhan atau menyerahkan kesempurnaan dan kejujurannya sendiri karena dia menghadapi kematian. Tekad Ayub membuat Iblis menjadi takut. Imannya membuat Iblis gentar dan gemetar. Kekuatan pertempurannya yang mempertaruhkan nyawa melawan Iblis menimbulkan kebencian dan permusuhan yang mendalam pada Iblis. Kesempurnaan dan kejujurannya membuat Iblis tidak dapat lagi melakukan apa pun kepadanya, sehingga Iblis menghentikan serangannya terhadap Ayub dan menghentikan tuduhannya terhadap Ayub di hadapan Tuhan Yahweh. Ini berarti bahwa Ayub telah mengalahkan dunia. Dia telah mengalahkan tubuhnya. Dia telah mengalahkan Iblis, dan dia telah mengalahkan kematian. Dia benar-benar dan sepenuhnya merupakan manusia kepunyaan Tuhan. Selama kedua ujian ini, Ayub tetap teguh dalam kesaksiannya, dan benar-benar menghidupi kesempurnaan dan kejujurannya, dan memperluas ruang lingkup prinsip hidupnya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Setelah mengalami kedua ujian ini, Ayub mendapat pengalaman yang lebih kaya, dan pengalaman ini membuatnya lebih dewasa dan berpengalaman, membuatnya lebih kuat, dan memiliki keyakinan yang lebih besar, dan membuatnya lebih yakin akan kebenaran dan pentingnya kesalehan yang dia pegang teguh. Ujian Tuhan Yahweh terhadap Ayub memberinya pemahaman dan kepedulian yang mendalam tentang perhatian Tuhan kepada manusia, dan membuatnya dapat merasakan betapa berharganya kasih Tuhan, yang darinya perhatian dan kasih kepada Tuhan ditambahkan ke dalam sikapnya yang takut akan Tuhan. Semua ujian dari Tuhan Yahweh bukan hanya tidak menjauhkan Ayub dari-Nya, tetapi juga membuat hatinya semakin dekat kepada Tuhan. Ketika rasa sakit jasmani yang dialami oleh Ayub mencapai puncaknya, perhatian yang dia rasakan dari Tuhan Yahweh membuatnya tidak punya pilihan selain mengutuk hari kelahirannya. Tingkah laku seperti ini tidak direncanakan sejak lama, tetapi merupakan ungkapan alami dari perhatian dan kasih kepada Tuhan dari dalam hatinya. Itu adalah ungkapan alami yang berasal dari perhatian dan kasihnya kepada Tuhan. Artinya, karena dia membenci dirinya sendiri dan dia tidak mau dan tidak sanggup membiarkan Tuhan tersiksa, maka perhatian dan kasihnya mencapai titik tanpa pamrih. Pada saat ini, Ayub meningkatkan penyembahan dan kerinduannya yang telah lama ada kepada Tuhan dan pengabdiannya kepada Tuhan sampai ke tingkat perhatian dan kasih. Pada saat yang sama, dia juga meningkatkan iman dan ketaatannya kepada Tuhan dan sikapnya yang takut akan Tuhan sampai ke tingkat perhatian dan kasih. Dia tidak membiarkan dirinya melakukan apa pun yang akan melukai hati Tuhan. Dia tidak membiarkan dirinya melakukan tindakan yang akan menyakiti Tuhan, dan tidak membiarkan dirinya menimbulkan kedukaan, kesedihan, atau bahkan ketidakbahagiaan kepada Tuhan karena alasannya sendiri. Di mata Tuhan, meskipun Ayub masih seperti Ayub yang dulu, iman Ayub, ketaatan, dan sikapnya yang takut akan Tuhan membuat Tuhan sangat puas dan gembira. Pada saat ini, Ayub telah mencapai kesempurnaan yang Tuhan harapkan untuk dia capai. Dia telah menjadi orang yang benar-benar layak disebut "tak bercela dan jujur" di mata Tuhan. Perbuatannya yang benar membuatnya dapat mengalahkan Iblis dan tetap teguh dalam kesaksiannya kepada Tuhan. Demikian juga, perbuatannya yang benar menjadikannya tak bercela, dan membuat nilai kehidupannya meningkat dan melebihi sebelumnya, dan menjadikannya orang pertama yang tidak lagi diserang dan dicobai oleh Iblis. Karena Ayub orang yang benar, dia dituduh dan dicobai Iblis; karena Ayub orang yang benar, dia diserahkan kepada Iblis; dan karena Ayub orang yang benar, dia mengatasi dan mengalahkan Iblis, dan tetap teguh dalam kesaksiannya. Sejak saat itu, Ayub menjadi orang pertama yang tidak akan pernah lagi diserahkan kepada Iblis. Dia benar-benar datang ke hadapan takhta Tuhan dan hidup dalam cahaya dengan semua berkat Tuhan tanpa incaran atau gangguan Iblis…. Dia telah menjadi manusia sejati di mata Tuhan, dia sudah dibebaskan …

Tentang Ayub

Setelah mengetahui bagaimana Ayub menjalani ujian, sebagian besar dari antaramu mungkin ingin mengetahui lebih terperinci tentang Ayub itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan rahasia bagaimana dia mendapatkan pujian Tuhan. Jadi sekarang, mari kita membicarakan tentang Ayub!

Dalam Kehidupan Sehari-hari Ayub, Kita Melihat Kesempurnaan, Kejujuran, Sikap Takut akan Tuhan, dan Menjauhi Kejahatan

Jika kita akan membahas tentang Ayub, kita harus mulai dengan penilaian tentang dia yang diucapkan dari mulut Tuhan sendiri: "tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur, yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan."

Pertama, mari kita belajar tentang kesempurnaan dan kejujuran Ayub.

Apa pemahaman engkau semua, mengenai kata "tak bercela" dan "jujur"? Apakah engkau semua percaya bahwa Ayub itu tanpa cela dan terhormat? Tentu saja, ini merupakan penafsiran dan pemahaman harfiah tentang kata "tak bercela" dan "jujur." Bagian terpadu untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang Ayub adalah kehidupan nyata—perkataan, buku, dan teori saja tidak akan memberikan jawaban apa pun. Kita akan mulai dengan melihat kehidupan keluarga Ayub, seperti apa tingkah laku normalnya selama hidupnya. Ini akan memberitahukan kepada kita tentang prinsip dan tujuan hidupnya, juga tentang kepribadian dan pengejarannya. Sekarang, mari kita baca perkataan terakhir dalam Ayub 1:3: "Orang ini adalah yang terkaya di antara semua orang di Timur." Yang dimaksud dengan perkataan ini adalah bahwa status dan kedudukan Ayub sangat tinggi, dan meskipun kita tidak diberi tahu apakah dia paling terkenal dari semua orang di Timur karena kekayaannya yang melimpah, atau karena dia tak bercela dan jujur serta takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, secara keseluruhan, kita tahu bahwa status dan kedudukan Ayub sangat dihargai. Sebagaimana dicatat dalam Alkitab, kesan pertama orang tentang Ayub adalah bahwa Ayub tak bercela, bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan bahwa dia memiliki kekayaan melimpah dan status yang mulia. Bagi orang biasa yang tinggal di lingkungan seperti itu dan dalam keadaan seperti itu, makanan Ayub, taraf hidupnya, dan berbagai aspek kehidupan pribadinya akan menjadi fokus perhatian kebanyakan orang. Jadi, kita harus melanjutkan membaca Alkitab: "Anak-anak lelakinya pergi dan berpesta di rumah mereka, setiap hari bergiliran; dan mengundang ketiga saudari mereka untuk makan dan minum bersama-sama dengan mereka. Demikianlah, setelah hari-hari pesta berakhir, Ayub memanggil mereka dan menguduskan mereka; ia bangun pagi-pagi benar dan mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan jumlah anak-anaknya: karena Ayub berkata: 'Mungkin saja anak-anak lelakiku sudah berbuat dosa dan mengutuki Tuhan dalam hati mereka.' Demikianlah yang senantiasa dilakukan Ayub" (Ayub 1:4-5). Perikop ini memberitahu kepada kita dua hal: Yang pertama adalah putra dan putri Ayub selalu berpesta, makan dan minum. Yang kedua adalah bahwa Ayub sering mempersembahkan korban bakaran karena dia sering mengkhawatirkan mereka, takut bahwa mereka berbuat dosa, bahwa di dalam hati mereka, mereka telah mengutuk Tuhan. Di sini diuraikan kehidupan dua tipe orang yang berbeda. Yang pertama, putra dan putri Ayub, sering berpesta karena kekayaan mereka. Mereka hidup mewah. Mereka makan dan minum sepuas hati mereka, dengan menikmati taraf hidup yang tinggi berkat kekayaan materi. Menjalani kehidupan seperti itu, tak terhindarkan bahwa mereka akan sering berdosa dan menyinggung Tuhan—tetapi mereka tidak menguduskan diri mereka sendiri atau sebagai akibatnya mempersembahkan korban bakaran. Jadi, jelas bahwa Tuhan tidak memiliki tempat di hati mereka, bahwa mereka tidak memikirkan kasih karunia Tuhan, ataupun takut menyinggung Tuhan, apalagi takut meninggalkan Tuhan di dalam hati mereka. Tentu saja, fokus perhatian kita bukan pada anak-anak Ayub, tetapi pada apa yang Ayub lakukan ketika berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Ini adalah masalah lain yang dijelaskan pada perikop itu, dan yang melibatkan kehidupan sehari-hari Ayub serta hakikat kemanusiaannya. Ketika Alkitab menguraikan pesta putra dan putri Ayub, tidak disebutkan tentang Ayub. Hanya dikatakan bahwa putra dan putrinya sering makan dan minum bersama. Dengan kata lain, Ayub tidak mengadakan pesta, dan dia juga tidak bergabung dengan putra dan putrinya dalam makan yang berlebihan. Meskipun kaya dan memiliki banyak harta dan pembantu, kehidupan Ayub bukanlah kehidupan yang mewah. Dia tidak terpedaya oleh lingkungan hidupnya yang kaya, dan dia tidak memanjakan dirinya sendiri dengan kenikmatan jasmani atau lupa mempersembahkan korban bakaran karena kekayaannya, apalagi menyebabkan dia secara bertahap meninggalkan Tuhan di dalam hatinya. Jadi, jelaslah bahwa Ayub disiplin dalam gaya hidupnya dan tidak serakah ataupun hedonistik, dan dia juga tidak terpaku pada taraf hidup karena berkat yang Tuhan karuniakan kepadanya. Sebaliknya, dia rendah hati dan sederhana dan waspada serta berhati-hati di hadapan Tuhan. Dia sering memikirkan kasih karunia dan berkat Tuhan dan terus-menerus takut akan Tuhan. Dalam kehidupannya sehari-hari, Ayub sering bangun pagi-pagi untuk mempersembahkan korban bakaran bagi putra-putrinya. Dengan kata lain, bukan hanya Ayub sendiri takut akan Tuhan, tetapi dia juga berharap anak-anaknya juga takut akan Tuhan dan tidak berdosa terhadap Tuhan. Kekayaan materi Ayub tidak memiliki tempat di dalam hatinya, dan hal itu juga tidak menggantikan kedudukan yang ditempati oleh Tuhan. Apakah demi dirinya sendiri ataukah anak-anaknya, tindakan sehari-hari Ayub semuanya berkaitan dengan sikapnya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sikap takutnya akan Tuhan Yahweh tidak berhenti di mulutnya tetapi diterapkan dan tecermin dalam masing-masing dan setiap bagian dari kehidupannya sehari-hari. Tingkah laku nyata Ayub ini menunjukkan kepada kita bahwa dia jujur dan memiliki hakikat yang mencintai keadilan dan hal-hal yang positif. Bahwa Ayub sering memanggil dan menguduskan putra-putrinya berarti dia tidak merestui atau menyetujui perilaku anak-anaknya. Sebaliknya, di dalam hatinya dia muak dengan perilaku mereka dan mengutuk mereka. Dia menyimpulkan bahwa perilaku putra-putrinya itu tidak menyenangkan Tuhan Yahweh, dan karena itu dia sering memanggil mereka untuk menghadap Tuhan Yahweh dan mengakui dosa mereka. Tindakan Ayub menunjukkan kepada kita sisi lain dari kemanusiaannya: dia tidak pernah berjalan bersama orang yang sering berbuat dosa dan menyinggung Tuhan, tetapi sebaliknya, ia menjauhi dan menghindari mereka. Meskipun orang-orang ini adalah putra dan putrinya, dia tidak meninggalkan prinsipnya sendiri karena mereka adalah keluarganya sendiri, dan dia juga tidak membiarkan dosa-dosa mereka karena perasaannya sendiri. Sebaliknya, dia mendesak mereka untuk mengakui dan memperoleh pengampunan Tuhan Yahweh, dan dia memperingatkan mereka agar tidak meninggalkan Tuhan demi kesenangan mereka sendiri yang tamak. Prinsip bagaimana Ayub memperlakukan orang lain tidak dapat dipisahkan dari prinsip sikapnya yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dia mencintai apa yang diterima oleh Tuhan dan membenci apa yang ditolak oleh Tuhan, dan dia mencintai mereka yang takut kepada Tuhan di dalam hati mereka dan membenci mereka yang melakukan kejahatan atau dosa terhadap Tuhan. Cinta dan kebencian seperti ini ditunjukkan dalam kehidupannya sehari-hari dan merupakan kejujuran Ayub yang dilihat oleh mata Tuhan. Tentu saja, ini juga merupakan ungkapan dan perwujudan kemanusiaan sejati Ayub dalam hubungannya dengan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari yang harus kita pelajari.

Perwujudan Kemanusiaan Ayub selama Ujian-Nya (Memahami Kesempurnaan, Kejujuran, Sikap Ayub yang Takut akan Tuhan, dan Menjauhi Kejahatan Selama Ujian-Nya)

Apa yang telah kita bahas di atas adalah berbagai aspek kemanusiaan Ayub yang ditunjukkan dalam kehidupannya sehari-hari sebelum ujiannya. Tidak diragukan lagi, berbagai perwujudan ini memberikan pengenalan awal dan pemahaman tentang kejujuran, tentang sikap Ayub yang takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan, dan secara alami memberikan penegasan awal. Alasan mengapa Aku mengatakan "awal" adalah karena kebanyakan orang masih tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kepribadian Ayub dan sejauh mana dia mengejar jalan taat dan takut akan Tuhan. Artinya, pemahaman kebanyakan orang tentang Ayub tidak melampaui kesan yang cukup baik tentang dia yang ditimbulkan oleh perkataannya dalam Alkitab bahwa "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" dan "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Jadi, ada keharusan besar bagi kita untuk memahami bagaimana Ayub menghidupi kemanusiaannya ketika dia menerima ujian dari Tuhan. Dengan demikian, kemanusiaan sejati Ayub akan diperlihatkan kepada semua orang secara keseluruhan.

Ketika Ayub mendengar bahwa harta miliknya telah dicuri, bahwa putra dan putrinya telah kehilangan nyawa mereka, dan bahwa para pelayannya telah terbunuh, dia bereaksi sebagai berikut: "Lalu Ayub bangun, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian tersungkur dan menyembah" (Ayub 1:20). Perkataan ini memberitahukan kepada kita satu fakta: Setelah mendengar berita ini, Ayub tidak panik, dia tidak menangis, atau menyalahkan para pelayan yang telah menyampaikan berita itu kepadanya, apalagi memeriksa tempat kejadian perkara untuk menyelidiki dan memastikan mengapa dan di mana serta mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak menunjukkan rasa sakit atau penyesalan karena kehilangan harta miliknya, juga tidak menangis karena kehilangan anak-anaknya, orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, dia mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, lalu tersungkur dan menyembah. Tindakan Ayub tidak sama dengan tindakan manusia biasa. Tindakannya membingungkan banyak orang, dan membuat mereka menegur Ayub oleh karena "sikap dinginnya" di dalam hati mereka. Saat kehilangan harta mereka secara mendadak, orang biasa akan tampak sedih atau putus asa—atau, dalam kasus sebagian orang, mereka bahkan mungkin mengalami depresi berat. Itu karena, di dalam hati mereka, harta manusia melambangkan usaha seumur hidup. Itulah yang diandalkan bagi kelangsungan hidup mereka. Itu adalah harapan yang membuat mereka tetap hidup. Hilangnya harta mereka berarti usaha mereka sia-sia, bahwa mereka kehilangan harapan, dan bahkan mereka tidak punya masa depan. Ini sikap orang biasa terhadap harta mereka dan hubungan mereka yang erat dengan semua itu, dan ini juga menunjukkan pentingnya harta di mata manusia. Dengan demikian, sebagian besar orang merasa bingung dengan sikap dingin Ayub terhadap kehilangan[b] hartanya. Sekarang, kita akan menghilangkan kebingungan semua orang ini dengan menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam hati Ayub.

Akal sehat menyatakan bahwa, karena telah diberi harta yang melimpah oleh Tuhan, Ayub seharusnya merasa malu di hadapan Tuhan karena kehilangan harta ini, karena dia tidak menjaga atau merawatnya, karena dia tidak memelihara harta yang diberikan Tuhan kepadanya. Jadi, ketika dia mendengar bahwa hartanya telah dicuri, reaksi pertamanya seharusnya pergi ke tempat kejadian perkara dan mencatat semua yang telah hilang,[c] dan kemudian menyampaikan pengakuan dosa kepada Tuhan sehingga dia mungkin sekali lagi menerima berkat Tuhan. Namun, Ayub tidak melakukan ini—dan dia tentu punya alasan sendiri untuk tidak melakukannya. Dalam hatinya, Ayub sangat percaya bahwa semua yang dia miliki telah dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan, dan bukan diperoleh karena usahanya sendiri. Dengan demikian, dia tidak melihat semua berkat ini sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan, tetapi berpegang pada jalan yang seharusnya dan melakukannya dengan sekuat tenaga sebagai prinsip hidupnya. Dia menghargai berkat Tuhan, dan mengucap syukur atas berkat itu, tetapi dia tidak terpikat olehnya, dan dia juga tidak mencari berkat yang lebih banyak lagi. Seperti itulah sikapnya terhadap harta. Dia tidak melakukan apa pun demi mendapatkan berkat, dan dia juga tidak khawatir atau sedih karena kurangnya atau hilangnya berkat Tuhan. Dia tidak menjadi liar, bahagia berlebihan karena berkat Tuhan, dan dia juga tidak mengabaikan jalan Tuhan atau melupakan kasih karunia Tuhan oleh karena berkat yang sering dia nikmati. Sikap Ayub terhadap hartanya mengungkapkan kepada orang-orang kemanusiaannya yang sejati: Pertama, Ayub bukanlah manusia yang tamak dan ia tidak banyak menuntut dalam kehidupan materielnya. Kedua, Ayub tidak pernah khawatir atau takut bahwa Tuhan akan mengambil semua yang dia miliki, yang merupakan sikap ketaatannya kepada Tuhan di dalam hatinya; artinya, dia tidak memiliki tuntutan ataupun keluhan tentang kapan atau apakah Tuhan akan mengambil darinya, dan tidak menanyakan alasannya, tetapi hanya berusaha untuk mematuhi pengaturan Tuhan. Ketiga, dia tidak pernah menganggap hartanya berasal dari usahanya sendiri, tetapi dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan. Ini adalah iman Ayub kepada Tuhan, dan merupakan tanda keyakinannya. Apakah kemanusiaan Ayub dan pengejarannya sehari-hari yang sebenarnya sudah jelas dalam ringkasan tiga poin tentang dirinya ini? Kemanusiaan dan pengejaran Ayub merupakan bagian terpadu dari perilaku dinginnya ketika menghadapi kehilangan hartanya. Justru karena pengejarannya sehari-hari, Ayub memiliki kedudukan dan keyakinan untuk berkata: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh" selama ujian dari Tuhan tersebut. Perkataan ini tidak diperoleh dalam semalam, dan perkataan ini juga tidak baru saja muncul di kepala Ayub. Perkataan ini adalah apa yang telah dilihat dan diperolehnya selama bertahun-tahun menjalani kehidupan. Dibandingkan dengan semua orang yang hanya mencari berkat Tuhan, dan yang takut bahwa Tuhan akan mengambil dari mereka, dan membenci serta mengeluhkan tentang hal itu, tidakkah ketaatan Ayub ini sungguh nyata? Dibandingkan dengan semua orang yang percaya bahwa ada Tuhan, tetapi yang tidak pernah percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segalanya, bukankah Ayub memiliki kejujuran dan ketulusan yang luar biasa?

Rasionalitas Ayub

Pengalaman nyata Ayub dan kemanusiaannya yang jujur dan tulus berarti bahwa dia membuat penilaian dan pilihan yang paling rasional ketika dia kehilangan harta dan anak-anaknya. Pilihan rasional seperti ini tidak dapat dipisahkan dari pengejarannya sehari-hari dan perbuatan Tuhan yang telah dia kenal selama kehidupannya dari sehari ke sehari. Kejujuran Ayub membuatnya mampu untuk percaya bahwa tangan Tuhan Yahweh berkuasa atas segalanya. Keyakinannya membuatnya dapat mengetahui fakta kedaulatan Tuhan Yahweh atas segala sesuatu. Pengetahuannya membuatnya bersedia dan mampu untuk menaati kedaulatan dan pengaturan Tuhan Yahweh. Ketaatan Ayub memampukannya menjadi semakin benar dalam takutnya akan Tuhan Yahweh. Sikap takutnya membuatnya semakin nyata dalam menjauhi kejahatan. Pada akhirnya, Ayub menjadi sempurna karena dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan; dan kesempurnaannya membuatnya bijaksana dan memberinya rasionalitas yang tertinggi.

Bagaimana seharusnya kita memahami kata "rasional" ini? Penafsiran yang harfiah adalah bahwa dalam pemikirannya, seseorang itu masuk akal, logis dan berakal sehat, memiliki perkataan, tindakan, dan penilaian yang yang sehat, serta memiliki standar moral yang tepat dan teratur. Namun, rasionalitas Ayub tidak semudah itu untuk dijelaskan. Ketika dikatakan di sini bahwa Ayub memiliki rasionalitas tertinggi, itu berhubungan dengan kemanusiaannya dan tingkah lakunya di hadapan Tuhan. Karena Ayub jujur, dia mampu memercayai dan mematuhi kedaulatan Tuhan, yang memberinya pengetahuan yang tidak dapat diperoleh orang lain, dan pengetahuan ini membuatnya mampu secara lebih tepat membedakan, menilai, dan mendefinisikan apa yang menimpa dirinya, memungkinkannya untuk lebih tepat dan cermat memilih apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dipegang teguh. Artinya, perkataannya, perilakunya, prinsip di balik tindakannya, dan pedoman tindakannya teratur, jelas, dan spesifik, dan tidak sembarangan, impulsif, ataupun emosional. Dia tahu bagaimana memperlakukan apa pun yang menimpa dirinya. Dia tahu bagaimana menyeimbangkan dan menangani hubungan antara berbagai peristiwa yang rumit. Dia tahu bagaimana berpegang teguh pada jalan yang harus dipegang teguh, dan selain itu, dia tahu bagaimana memperlakukan pemberian dan pengambilan oleh Tuhan Yahweh. Inilah rasionalitas Ayub. Justru karena Ayub dibekali dengan rasionalitas seperti itulah dia berkata: "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh," ketika dia kehilangan hartanya dan putra-putrinya.

Ketika Ayub diperhadapkan dengan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya, dan pertengkaran para kerabat dan sahabatnya, dan ketika diperhadapkan dengan kematian, tingkah lakunya yang sebenarnya sekali lagi menunjukkan kepada semua orang wataknya yang sebenarnya.

Watak Ayub Sesungguhnya: Benar, Murni, dan Tanpa Kepalsuan

Mari kita membaca Ayub 2:7-8: "Lalu Iblis pergi dari hadapan Yahweh dan menimpakan Ayub dengan bisul yang busuk dari telapak kaki sampai ubun-ubun kepalanya. Lalu Ayub mengambil sepotong beling untuk menggaruk-garuk dirinya; dan duduk di tengah-tengah abu." Ini adalah uraian tentang tingkah laku Ayub ketika bisul yang busuk muncul di sekujur tubuhnya. Pada saat ini, Ayub duduk di tengah-tengah abu saat dia menahan rasa sakit. Tidak ada seorang pun yang merawatnya, dan tidak ada seorang pun yang membantunya mengurangi rasa sakit di tubuhnya. Sebaliknya, dia menggunakan sepotong beling untuk menggaruk-garuk permukaan bisul busuknya. Sepintas, ini hanyalah sebuah tahap dalam siksaan Ayub, dan tidak ada hubungannya dengan kemanusiaan Ayub dan sikapnya yang takut akan Tuhan, karena Ayub tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menunjukkan suasana hati dan pandangannya pada saat ini. Namun, tindakan Ayub dan tingkah lakunya masih merupakan ungkapan sejati dari kemanusiaannya. Dalam catatan di pasal sebelumnya, kita membaca bahwa Ayub adalah orang terkaya di antara semua orang di Timur. Sementara itu, perikop dari pasal kedua ini menunjukkan kepada kita bahwa orang terkaya di Timur ini sampai harus mengambil sepotong beling untuk menggaruk-garuk tubuhnya sambil duduk di tengah abu. Bukankah terdapat kontras yang jelas antara kedua uraian ini? Ini adalah kontras yang menunjukkan kepada kita jati diri Ayub yang sebenarnya, yaitu meskipun status dan kedudukannya prestisius, dia tidak pernah mencintai atau memperhatikannya. Dia tidak peduli bagaimana orang lain memandang kedudukannya, dan dia juga tidak peduli apakah tindakan atau tingkah lakunya akan menimbulkan efek negatif pada kedudukannya. Dia tidak menikmati kekayaan dari statusnya, dan dia juga tidak menikmati kemuliaan yang dihasilkan dari status dan kedudukannya. Dia hanya peduli tentang nilai dirinya dan makna penting kehidupannya di mata Tuhan Yahweh. Jati diri Ayub adalah hakikatnya sendiri: Dia tidak mencintai ketenaran dan kekayaan, dan tidak hidup demi ketenaran dan kekayaan. Dia benar dan murni serta tanpa kepalsuan.

Pemisahan Cinta dan Kebencian Ayub

Sisi lain dari kemanusiaan Ayub ditunjukkan dalam percakapan antara dia dan istrinya: "Lalu kata istrinya kepadanya: "Apakah engkau masih mempertahankan kesalehanmu? Kutukilah Tuhan dan matilah!" Tetapi ia menjawab istrinya: "Engkau berbicara seperti perempuan bodoh. Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" (Ayub 2:10). Melihat siksaan yang dideritanya, istri Ayub mencoba menyarankan kepada Ayub untuk membantunya melepaskan diri dari siksaannya—tetapi "niat baik" itu tidak mendapat persetujuan Ayub. Sebaliknya, itu menimbulkan amarahnya karena istrinya mengingkari keimanan dan ketaatan Ayub kepada Tuhan Yahweh dan juga menyangkal keberadaan Tuhan Yahweh. Hal ini tidak dapat dibiarkan oleh Ayub karena dia tidak pernah membiarkan dirinya sendiri melakukan apa pun yang menentang atau menyakiti Tuhan, apa lagi orang lain. Bagaimana dia bisa tetap tidak peduli ketika dia melihat orang lain mengucapkan perkataan yang menghujat dan menghina Tuhan? Karena itu, dia menyebut istrinya "wanita bodoh." Sikap Ayub terhadap istrinya adalah kemarahan dan kebencian serta kritikan dan teguran. Ini adalah ungkapan alami kemanusiaan Ayub dalam membedakan antara cinta dan benci, dan merupakan representasi sebenarnya dari kemanusiaannya yang jujur. Ayub memiliki rasa keadilan—yang membuatnya membenci angin dan gelombang kejahatan, dan membenci, mengutuk, serta menolak bidah yang tidak masuk akal, argumen konyol, dan pernyataan yang menggelikan, dan membuat dia dapat memegang teguh prinsip dan pendiriannya sendiri yang benar ketika dia telah ditolak oleh orang banyak dan ditinggalkan oleh orang-orang dekatnya.

Kebaikan Hati and Ketulusan Ayub

Karena dalam tingkah laku Ayub kita dapat melihat ungkapan berbagai aspek kemanusiaannya, seperti apakah kemanusiaan Ayub yang kita lihat ketika dia membuka mulutnya untuk mengutuk hari kelahirannya? Inilah topik yang akan kita bahas di bawah ini.

Di atas, Aku telah berbicara tentang asal mula kutukan Ayub mengenai hari kelahirannya. Apa yang dapat engkau semua pahami tentang hal ini? Jika Ayub keras hati dan tanpa cinta, jika dia bersikap dingin dan tidak punya perasaan, dan telah kehilangan kemanusiaannya, mungkinkah dia memedulikan keinginan hati Tuhan? Dan mungkinkah dia membenci hari kelahirannya sendiri sebagai akibat dari memedulikan hati Tuhan? Dengan kata lain, jika Ayub keras hati dan telah kehilangan kemanusiaannya, mungkinkah dia merasa sedih karena rasa sakit Tuhan? Mungkinkah dia mengutuk hari kelahirannya karena Tuhan menjadi sedih karena dirinya? Jawabannya tentu saja tidak! Karena hatinya baik, Ayub memedulikan hati Tuhan. Karena dia memedulikan hati Tuhan, Ayub merasakan sakit Tuhan. Karena hatinya baik, dia menderita siksaan yang lebih besar sebagai akibat dari merasakan rasa sakit Tuhan. Karena dia merasakan rasa sakit Tuhan, dia mulai membenci hari kelahirannya, dan dengan demikian mengutuk hari kelahirannya. Bagi orang luar, seluruh tingkah laku Ayub selama ujiannya patut dicontoh. Hanya kutukan mengenai hari kelahirannya menimbulkan tanda tanya mengenai kesempurnaan dan kejujurannya, atau memberikan kepadanya penilaian yang berbeda. Sebenarnya, ini adalah ungkapan paling benar dari hakikat kemanusiaan Ayub. Hakikat kemanusiaannya tidak disembunyikan atau ditutupi atau diubah oleh orang lain. Ketika dia mengutuk hari kelahirannya, dia menunjukkan kebaikan hati dan ketulusan yang tertanam jauh di lubuk hatinya. Dia seperti mata air yang airnya sangat jernih dan bening sehingga dasarnya terlihat.

Setelah mengetahui semua ini tentang Ayub, kebanyakan orang pasti akan membuat penilaian yang cukup akurat dan objektif tentang hakikat kemanusiaan Ayub. Mereka semestinya juga memiliki pemahaman yang mendalam, praktis, dan lebih maju serta penghargaan terhadap kesempurnaan dan kejujuran Ayub yang dibicarakan oleh Tuhan. Semoga, pemahaman dan penghargaan ini akan membantu orang-orang memulai jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Hubungan Antara Penyerahan Ayub oleh Tuhan kepada Iblis dan Tujuan Pekerjaan Tuhan

Meskipun kebanyakan orang sekarang mengakui bahwa Ayub itu tak bercela dan jujur, dan bahwa dia takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, pengakuan ini tidak memberi mereka pemahaman yang lebih menyeluruh tentang maksud Tuhan. Pada saat yang sama mereka iri pada kemanusiaan dan pengejaran Ayub, mereka mengajukan pertanyaan berikut tentang Tuhan: Ayub begitu tak bercela dan jujur, orang sangat mengaguminya, jadi mengapa Tuhan menyerahkannya kepada Iblis dan membuatnya merasakan siksaan yang sedemikian dahsyatnya? Pertanyaan semacam itu pasti ada di hati banyak orang—atau lebih tepatnya, keraguan ini menjadi pertanyaan dalam hati banyak orang. Karena telah membingungkan banyak orang, kita harus membahas pertanyaan ini dan menjelaskannya dengan benar.

Segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu perlu dan memiliki makna penting yang luar biasa karena semua yang Dia lakukan dalam diri manusia menyangkut pengelolaan-Nya dan penyelamatan umat manusia. Tentu saja, pekerjaan yang Tuhan lakukan dalam diri Ayub juga demikian, meskipun Ayub tak bercela dan jujur di mata Tuhan. Dengan kata lain, terlepas dari apa yang Tuhan lakukan atau cara Dia melakukannya, terlepas dari biayanya atau tujuan-Nya, tujuan dari tindakan-Nya itu tidak berubah. Tujuan Tuhan adalah untuk mengerjakan firman Tuhan, tuntutan Tuhan, dan kehendak Tuhan dalam diri manusia. Dengan kata lain, tujuannya adalah mengerjakan dalam diri manusia semua yang Tuhan anggap positif sesuai dengan langkah-langkah-Nya, memampukan manusia untuk memahami hati Tuhan dan memahami hakikat Tuhan, dan memampukannya menaati kedaulatan dan pengaturan Tuhan, sehingga dengan demikian memungkinkan manusia untuk mencapai sikap yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan─yang kesemuanya merupakan salah satu aspek dari tujuan Tuhan dalam semua yang Dia lakukan. Aspek lainnya adalah bahwa karena Iblis adalah kontras dan objek yang melayani dalam pekerjaan Tuhan, manusia sering diserahkan kepada Iblis. Ini adalah cara yang Tuhan gunakan agar manusia dapat melihat kejahatan, keburukan, dan kebencian Iblis di tengah pencobaan dan serangan Iblis, sehingga menyebabkan manusia membenci Iblis dan mampu mengetahui dan mengenali apa yang negatif. Proses ini membuat mereka dapat secara bertahap membebaskan diri dari kendali Iblis dan dari tuduhan, campur tangan, dan serangan Iblis—sampai, oleh karena firman Tuhan, oleh karena pengetahuan dan ketaatan mereka kepada Tuhan, dan iman mereka kepada Tuhan serta sikap mereka yang takut akan Dia, mereka menang atas serangan Iblis dan menang atas tuduhan Iblis. Hanya setelah itulah, mereka akan benar-benar dilepaskan dari kekuasaan Iblis. Pembebasan manusia berarti bahwa Iblis telah dikalahkan, berarti bahwa mereka tidak lagi menjadi santapan di mulut Iblis—berarti bahwa alih-alih menelan mereka, Iblis telah melepaskan mereka. Ini karena orang-orang seperti ini jujur, karena mereka memiliki iman, ketaatan, dan sikap takut akan Tuhan, dan karena mereka sepenuhnya memutuskan hubungan dengan Iblis. Mereka mempermalukan Iblis, mereka membuat Iblis menjadi takut, dan mereka benar-benar mengalahkan Iblis. Keyakinan mereka dalam mengikuti Tuhan, dan ketaatan serta sikap mereka yang takut akan Tuhan mengalahkan Iblis, dan membuat Iblis sepenuhnya melepaskan mereka. Hanya orang-orang seperti inilah yang sudah benar-benar didapatkan oleh Tuhan, dan inilah yang merupakan tujuan utama Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Jika ingin diselamatkan dan ingin sepenuhnya didapatkan oleh Tuhan, maka semua orang yang mengikuti Tuhan harus menghadapi pencobaan dan serangan besar maupun kecil dari Iblis. Mereka yang keluar dari pencobaan dan serangan ini dan mampu mengalahkan Iblis sepenuhnya adalah mereka yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Ini berarti, mereka yang telah diselamatkan bagi Tuhan adalah mereka yang telah mengalami ujian Tuhan, dan yang telah dicobai dan diserang oleh Iblis berulang kali. Mereka yang telah diselamatkan bagi Tuhan memahami kehendak dan tuntutan Tuhan, dan mampu menerima kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan mereka tidak meninggalkan jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan di tengah pencobaan Iblis. Mereka yang diselamatkan bagi Tuhan memiliki kejujuran, mereka baik hati, mereka bisa membedakan antara kasih dan kebencian, mereka memiliki rasa keadilan dan bersikap rasional, dan mereka mampu memedulikan Tuhan serta menghargai semua yang berasal dari Tuhan. Orang-orang semacam itu tidak diikat, dimata-matai, dituduh, ataupun disiksa oleh Iblis, mereka sepenuhnya bebas, mereka telah dibebaskan dan dilepaskan sepenuhnya. Ayub adalah orang dengan kebebasan seperti itu, dan inilah sesungguhnya makna penting mengapa Tuhan telah menyerahkannya kepada Iblis.

Ayub disiksa oleh Iblis, namun dia juga memperoleh kelepasan dan pembebasan abadi, juga memperoleh hak untuk tidak pernah lagi menerima perusakan, penyiksaan, dan tuduhan Iblis, sebaliknya akan hidup dalam terang wajah Tuhan dengan bebas dan tanpa beban, juga hidup di tengah berkat Tuhan bagi dirinya. Tidak seorang pun bisa mengambil, menghancurkan, atau mendapatkan hak ini. Itu diberikan kepada Ayub sebagai imbalan atas iman, tekad, ketaatan serta sikapnya yang takut akan Tuhan; Ayub membayar harga dalam hidupnya untuk menerima sukacita dan kebahagiaan di bumi, menerima hak dan kepemilikan, yang ditentukan oleh Surga dan diakui oleh bumi, untuk menyembah Sang Pencipta tanpa gangguan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sejati di bumi. Itu juga hasil paling baik dari pencobaan yang dilalui oleh Ayub.

Saat orang belum diselamatkan, hidup mereka sering diganggu, dan bahkan dikendalikan oleh Iblis. Dengan kata lain, orang yang belum diselamatkan adalah tawanan Iblis, mereka tidak memiliki kebebasan, mereka belum dilepaskan oleh Iblis, mereka tidak memenuhi syarat atau tidak berhak untuk menyembah Tuhan, dan mereka dikejar dengan gigih dan diserang secara kejam oleh Iblis. Orang-orang seperti itu tidak memiliki kebahagiaan untuk ditunjukkan, mereka tidak memiliki hak memiliki keberadaan yang normal untuk ditunjukkan, bahkan mereka tidak memiliki martabat untuk ditunjukkan. Hanya jika engkau berjuang dan berperang melawan Iblis, menggunakan imanmu kepada Tuhan serta ketaatanmu, dan takutmu akan Tuhan sebagai senjata yang digunakan dalam pertarungan hidup mati melawan Iblis, hanya dengan cara itu, engkau akan mengalahkan Iblis sepenuhnya dan membuatnya lari terbirit-birit dan menjadi ketakutan kapan pun ia melihatmu, sehingga ia menghentikan serangan dan tuduhannya terhadapmu—hanya setelah itulah, engkau akan diselamatkan dan menjadi bebas. Jika engkau bertekad untuk benar-benar putus dengan Iblis, namun tidak dibekali dengan senjata yang akan membantumu mengalahkan Iblis, maka engkau akan tetap berada dalam bahaya; seiring waktu berjalan, ketika engkau begitu tersiksa oleh Iblis hingga engkau tidak memiliki kekuatan lagi dalam dirimu, juga engkau tetap tidak mampu menjadi kesaksian, masih belum sepenuhnya membebaskan dirimu dari tuduhan dan serangan Iblis terhadapmu, maka engkau memiliki harapan yang sedikit untuk memperoleh keselamatan. Pada akhirnya, saat akhir pekerjaan Tuhan dikumandangkan, engkau akan tetap berada dalam cengkeraman Iblis, tidak mampu untuk membebaskan dirimu, dan kemudian engkau tidak akan pernah memiliki kesempatan atau harapan. Maka, implikasinya adalah orang tersebut akan sepenuhnya berada dalam penawanan Iblis.

Menerima Ujian dari Tuhan, Mengatasi Pencobaan Iblis, dan Membiarkan Tuhan Memperoleh Dirimu Sepenuhnya

Selama pekerjaan-Nya yang tak berkesudahan untuk membekali dan menyokong manusia, Tuhan memberitahukan keseluruhan kehendak dan persyaratan-Nya kepada manusia, dan memperlihatkan perbuatan serta watak-Nya, dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia kepada manusia. Tujuannya adalah membekali manusia dengan tingkat pertumbuhan, dan memungkinkan manusia untuk memperoleh berbagai kebenaran dari Tuhan tatkala mengikuti-Nya—kebenaran yang merupakan senjata yang diberikan kepada manusia oleh Tuhan untuk memerangi Iblis. Dibekali demikian, manusia harus menghadapi ujian dari Tuhan. Tuhan memiliki banyak cara dan jalan untuk menguji manusia, namun masing-masing dari cara itu memerlukan "kerja sama" musuh Tuhan, yaitu Iblis. Yang berarti, setelah memberikan kepada manusia senjata yang digunakan untuk bertempur melawan Iblis, Tuhan menyerahkan manusia kepada Iblis dan membiarkan Iblis "menguji" tingkat pertumbuhan manusia. Jika manusia bisa melepaskan diri dari formasi pertempuran Iblis, jika manusia bisa meloloskan diri dari pengepungan Iblis dan tetap hidup, maka manusia akan lulus ujian. Namun, jika manusia gagal untuk meninggalkan formasi pertempuran Iblis, dan tunduk kepada Iblis, maka dia tidak akan lulus ujian. Aspek apa pun dari manusia yang diperiksa oleh Tuhan, kriteria untuk pemeriksaan-Nya adalah apakah manusia tersebut berdiri teguh atau tidak dalam kesaksiannya saat diserang oleh Iblis, dan apakah dia telah meninggalkan Tuhan atau tidak, dan apakah dia menyerah dan menundukkan diri di hadapan Iblis ketika dijerat Iblis. Boleh dikatakan bahwa apakah manusia bisa diselamatkan atau tidak, itu bergantung pada apakah dia bisa mengatasi dan mengalahkan Iblis; dan apakah dia bisa memperoleh kebebasan atau tidak, itu bergantung pada apakah dia mampu mengangkat sendiri senjata yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk mengatasi ikatan Iblis, membuat Iblis melepaskan harapan sepenuhnya dan meninggalkannya sendiri. Jika Iblis meninggalkan harapan dan melepaskan seseorang, ini berarti bahwa Iblis tidak akan pernah lagi mencoba untuk merampas orang ini dari Tuhan, tidak akan pernah lagi menuduh dan mengganggu orang ini, tidak akan pernah lagi dengan sewenang-wenang menyiksa atau menyerang mereka; hanya seseorang seperti inilah yang telah sungguh-sungguh didapatkan oleh Tuhan. Ini adalah proses keseluruhan yang digunakan oleh Tuhan untuk mendapatkan manusia.

Peringatan dan Pencerahan yang Diberikan kepada Generasi Berikutnya oleh Kesaksian Ayub

Pada waktu bersamaan saat memahami proses yang digunakan Tuhan untuk sepenuhnya mendapatkan seseorang, orang-orang juga akan memahami tujuan serta makna penting penyerahan Ayub oleh Tuhan kepada Iblis. Orang tidak lagi terganggu oleh penderitaan Ayub, dan memiliki penghargaan yang baru terhadap makna pentingnya. Mereka tidak lagi khawatir tentang apakah mereka sendiri akan melalui pencobaan yang sama seperti Ayub, dan tidak lagi menentang atau menolak datangnya ujian dari Tuhan. Iman serta ketaatan Ayub, dan kesaksiannya dalam mengalahkan Iblis telah menjadi sumber bantuan dan pendorong sangat besar bagi orang-orang. Dalam diri Ayub, mereka melihat harapan bagi keselamatan mereka sendiri, dan memahami bahwa melalui iman, dan ketaatan serta sikap takut akan Tuhan, sangatlah mungkin untuk mengalahkan Iblis, dan menang atas Iblis. Mereka memahami bahwa sepanjang mereka menerima kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan memiliki tekad dan iman untuk tidak meninggalkan Tuhan setelah kehilangan segalanya, maka mereka bisa mempermalukan dan mengalahkan Iblis, dan bahwa mereka hanya perlu memiliki tekad dan kegigihan untuk berdiri teguh dalam kesaksian mereka—bahkan jika itu berarti kehilangan nyawa mereka—agar Iblis takut dan segera angkat kaki. Kesaksian Ayub merupakan sebuah peringatan bagi generasi berikutnya, dan peringatan ini memberitahukan kepada mereka bahwa jika mereka tidak mengalahkan Iblis, mereka tidak akan mampu membebaskan diri mereka dari tuduhan dan gangguan Iblis, juga mereka tidak akan pernah mampu untuk lolos dari kekerasan dan serangan Iblis. Kesaksian Ayub telah mencerahkan generasi berikutnya. Pencerahan ini mengajar orang bahwa hanya jika mereka tak bercela dan jujur, mereka mampu untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan; ini mengajar mereka bahwa hanya jika mereka takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, mereka bisa menjadi kesaksian yang kuat dan menggema bagi Tuhan; hanya jika mereka menjadi kesaksian yang kuat dan menggema bagi Tuhan, mereka tidak pernah bisa dikendalikan oleh Iblis, dan mereka akan hidup dalam bimbingan dan perlindungan Tuhan—dan baru pada saat itulah mereka sudah benar-benar diselamatkan. Kepribadian Ayub dan pengejaran hidupnya patut ditiru oleh setiap orang yang mengejar keselamatan. Yang Ayub hidupi sepanjang seluruh hidupnya dan tingkah lakunya selama ujiannya merupakan harta karun berharga bagi semua orang yang mengejar jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Kesaksian Ayub Memberikan Penghiburan bagi Tuhan

Jika Aku mengatakan kepada engkau semua sekarang bahwa Ayub adalah seorang yang menyenangkan, engkau semua mungkin tidak mampu menghargai makna dalam perkataan ini dan mungkin tidak mampu memahami luapan emosi di balik mengapa Aku telah berbicara tentang semua ini; namun tunggulah hingga hari ketika engkau semua telah mengalami ujian yang sama atau mirip dengan ujian yang dihadapi Ayub, ketika engkau semua telah melewati kesukaran, saat engkau semua telah secara pribadi mengalami ujian yang diaturkan Tuhan untukmu, saat engkau memberikan segala milikmu, dan menanggung penghinaan dan kesulitan, agar dapat menang atas Iblis dan menjadi kesaksian bagi Tuhan di tengah pencobaan—saat itulah, engkau akan dapat menghargai makna dari perkataan yang Aku ucapkan ini. Pada waktu itu, engkau akan merasa bahwa kualitasmu berada jauh di bawah Ayub, dan engkau akan merasa betapa menyenangkan Ayub itu, dan bahwa ia layak ditiru; bila saatnya tiba, engkau akan menyadari betapa pentingnya kata-kata klasik yang diucapkan oleh Ayub bagi orang yang rusak dan hidup dalam masa-masa ini, dan engkau akan menyadari betapa sulit bagi orang-orang pada zaman sekarang untuk mencapai apa yang dicapai oleh Ayub. Saat engkau merasa betapa sulitnya hal itu, engkau akan menghargai betapa cemas dan khawatir hati Tuhan, engkau akan menghargai betapa tinggi harga yang dibayar oleh Tuhan untuk mendapatkan orang-orang semacam itu, dan betapa berharganya apa yang dituntaskan dan dikerahkan oleh Tuhan untuk umat manusia. Sekarang setelah engkau semua mendengarkan firman ini, apakah engkau semua memiliki pemahaman yang akurat dan penilaian yang benar tentang Ayub? Menurut pandanganmu, apakah Ayub benar-benar manusia tak bercela dan jujur yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Aku yakin bahwa kebanyakan orang pasti akan berkata, Ya. Karena kenyataan tentang apa yang dilakukan dan dinyatakan oleh Ayub tidak terbantahkan oleh manusia mana pun atau Iblis. Semua itu adalah bukti paling kuat kemenangan Ayub atas Iblis. Bukti ini dihasilkan dalam diri Ayub, dan merupakan kesaksian pertama yang diterima oleh Tuhan. Karena itu, ketika Ayub menang dalam pencobaan Iblis dan menjadi kesaksian bagi Tuhan, Tuhan melihat harapan dalam diri Ayub, dan hati-Nya dihiburkan oleh Ayub. Sejak penciptaan hingga Ayub, ini adalah pertama kalinya Tuhan benar-benar mengalami seperti apa penghiburan, dan apa artinya dihibur oleh manusia, dan itu adalah pertama kali Dia melihat, dan mendapatkan kesaksian sejati yang dipersembahkan bagi-Nya.

Aku percaya bahwa, setelah mendengarkan kesaksian Ayub dan uraian berbagai aspek dari Ayub, kebanyakan orang akan memiliki rencana untuk jalan di hadapan mereka. Jadi, Aku juga percaya bahwa kebanyakan orang yang dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan secara perlahan akan mulai tenang dalam raga dan pikiran, dan akan mulai merasa lega sedikit demi sedikit …

Perikop di bawah juga merupakan catatan tentang Ayub. Mari kita lanjutkan membaca.

4. Ayub Mendengar tentang Tuhan Hanya dari Kata Orang Saja

(Ayub 9:11) Lihat, Dia melewati aku, namun aku tidak melihat-Nya: bila Dia lalu juga, tetapi aku tidak melihat.

(Ayub 23:8-9) Lihatlah, aku maju, tetapi Dia tidak ada di sana; dan mundur, tetapi aku tidak bisa melihat Dia: kucari Dia sebelah utara, tempat Dia melakukan pekerjaan-Nya, tetapi aku tidak bisa melihat-Nya: Dia menyembunyikan diri di sebelah kanan, sehingga aku tidak bisa melihat Dia.

(Ayub 42:2-6) "Aku tahu bahwa Engkau dapat melakukan segala sesuatu dan tidak ada pikiran yang tersembunyi dari-Mu. Siapakah dia yang bisa menyembunyikan nasihat tanpa pengetahuan? Karena itu aku mengakui bahwa aku tidak mengerti apa pun, hal-hal ini terlalu ajaib bagiku, dan aku tidak memahaminya. Dengarlah, Aku minta kepadamu, dan Aku akan berbicara: Aku akan menanyai engkau dan engkau akan menjawab Aku. Aku sudah mendengar tentang Engkau hanya dari kata orang saja: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Karena itu aku membenci diriku sendiri dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

Meskipun Tuhan Tidak Memperlihatkan Diri-Nya kepada Ayub, Ayub Percaya pada Kedaulatan Tuhan

Hal apakah yang merupakan pokok pikiran dalam ayat-ayat ini? Apakah ada di antara engkau semua yang menyadari bahwa ada sebuah fakta di sini? Pertama, bagaimana Ayub mengetahui bahwa Tuhan itu ada? Dan bagaimana dia tahu bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu dikuasai oleh Tuhan? Ada sebuah perikop yang menjawab dua pertanyaan ini: "Aku sudah mendengar tentang Engkau hanya dari kata orang saja: tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Karena itu aku membenci diriku sendiri dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu" (Ayub 42:5-6). Dari perkataan ini, kita belajar bahwa, alih-alih telah melihat Tuhan dengan matanya sendiri, Ayub telah mengenal Tuhan dari legenda. Dalam semua keadaan inilah dia mulai menapaki jalan mengikuti Tuhan, yang mana setelah itu dia mengakui keberadaan Tuhan dalam hidupnya, dan di antara segala sesuatu. Ada sebuah fakta yang tidak terbantahkan di sini—dan apakah itu? Meski mampu mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, Ayub tidak pernah melihat Tuhan. Dalam ini, bukankah Ayub itu sama seperti orang-orang zaman sekarang? Ayub tidak pernah melihat Tuhan, implikasinya adalah meski dia telah mendengar tentang Tuhan, dia tidak mengetahui di mana Tuhan, atau seperti apa Tuhan itu, atau apa yang Tuhan sedang lakukan, yang semuanya merupakan faktor-faktor subjektif; berbicara secara objektif, meski Ayub mengikuti Tuhan, Tuhan tidak pernah menampakkan diri kepadanya atau berbicara kepadanya. Bukankah ini fakta? Meski Tuhan tidak berbicara kepada Ayub atau memberinya perintah apa pun, Ayub telah melihat keberadaan Tuhan, dan memandang kedaulatan-Nya di antara segala sesuatu dan dalam legenda ketika Ayub mendengar tentang Tuhan hanya dari kata orang saja, yang mana setelah mendengar hal itu, dia kemudian memulai hidup yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Seperti itulah asal mula dan proses Ayub mengikuti Tuhan. Namun, bagaimana pun Ayub takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, bagaimana pun dia memegang teguh kesalehannya, Tuhan tidak pernah sekalipun menampakkan diri di hadapannya. Mari kita membaca perikop ini. Dia berkata: "Lihat, Dia melewati aku, namun aku tidak melihat-Nya: bila Dia lalu juga, tetapi aku tidak melihat" (Ayub 9:11). Maksud dari perkataan ini adalah bahwa Ayub mungkin merasakan Tuhan di sekelilingnya atau mungkin tidak—namun dia tidak pernah mampu melihat Tuhan. Ada kalanya ketika dia membayangkan Tuhan lewat di depannya, atau bertindak, atau menuntun manusia, namun dia tidak pernah tahu. Tuhan mendatangi manusia saat dia tidak menduganya; manusia tidak mengetahui kapan Tuhan datang menjumpainya, atau di mana Dia datang menjumpainya, karena manusia tidak bisa melihat Tuhan, sehingga, bagi manusia, Tuhan itu tersembunyi darinya.

Iman Ayub kepada Tuhan Tidak Tergoyahkan Karena Tuhan Tersembunyi Darinya

Dalam perikop kitab suci berikut, Ayub kemudian berkata: "Lihatlah, aku maju, tetapi Dia tidak ada di sana; dan mundur, tetapi aku tidak bisa melihat Dia: kucari Dia sebelah utara, tempat Dia melakukan pekerjaan-Nya, tetapi aku tidak bisa melihat-Nya: Dia menyembunyikan diri di sebelah kanan, sehingga aku tidak bisa melihat Dia" (Ayub 23:8-9). Dalam catatan ini, kita belajar bahwa dalam pengalaman Ayub, Tuhan tersembunyi darinya selama ini; Tuhan tidak secara terbuka muncul di hadapannya, dan Dia juga tidak secara terbuka berbicara kepadanya, namun di dalam hatinya, Ayub yakin akan keberadaan Tuhan. Dia selalu percaya bahwa Tuhan mungkin sedang berjalan di hadapannya, atau bertindak di sisinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat Tuhan, Tuhan berada di sampingnya mengatur semua yang berkaitan dengan dirinya. Ayub belum pernah melihat Tuhan, namun dia mampu untuk tetap setia dengan imannya, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh orang lain mana pun. Dan mengapa mereka tidak bisa? Oleh karena Tuhan tidak berbicara kepada Ayub, atau menampakkan diri di hadapannya, dan jika dia tidak sungguh-sungguh percaya, dia mungkin tidak terus melanjutkan, dan dia juga mungkin tidak tetap teguh di jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Bukankah ini benar? Bagaimana perasaanmu ketika engkau membaca Ayub mengatakan perkataan ini? Apakah engkau merasa bahwa kesempurnaan serta kejujuran, dan kebenaran Ayub di hadapan Tuhan, adalah benar, dan bukan pernyataan Tuhan tentang Ayub yang melebih-lebihkan? Meskipun Tuhan memperlakukan Ayub sama seperti orang lain, dan tidak menampakkan diri di hadapannya atau berbicara kepadanya, Ayub tetap memegang teguh kesalehannya, dia tetap percaya akan kedaulatan Tuhan, dan terlebih lagi, dia sering mempersembahkan korban bakaran dan berdoa di hadapan Tuhan sebagai akibat dari sikapnya yang takut menyinggung Tuhan. Dalam kemampuan Ayub untuk takut akan Tuhan tanpa melihat Tuhan, kita melihat seberapa besar dia mencintai hal-hal yang positif, dan seberapa teguh dan nyata imannya. Dia tidak menyangkal keberadaan Tuhan karena Tuhan tersembunyi darinya, dan dia juga tidak kehilangan imannya dan meninggalkan Tuhan karena dia belum pernah melihat-Nya. Sebaliknya, di tengah-tengah pekerjaan Tuhan yang tersembunyi dalam mengatur segala sesuatu, dia menyadari keberadaan Tuhan, dan merasakan kedaulatan dan kuasa Tuhan. Dia tidak berhenti bersikap jujur karena Tuhan tersembunyi, dan dia juga tidak meninggalkan jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan karena Tuhan tidak pernah menampakkan diri di hadapannya. Ayub tidak pernah meminta agar Tuhan secara terbuka menampakkan diri di hadapannya untuk membuktikan keberadaan-Nya, karena dia telah melihat kedaulatan Tuhan di antara segala sesuatu, dan dia percaya bahwa dia telah mendapatkan berkat dan kasih karunia yang tidak orang lain dapatkan. Meskipun Tuhan tetap tersembunyi darinya, iman Ayub kepada Tuhan tidak pernah tergoyahkan. Karena itu, dia memanen apa yang tidak dimiliki oleh siapa pun: perkenan Tuhan dan berkat Tuhan.

Ayub Memberkati Nama Tuhan dan Tidak Memikirkan Berkat atau Bencana

Ada sebuah fakta yang tidak pernah disinggung dalam kisah Ayub dalam Kitab Suci, yang akan menjadi fokus perhatian kita pada hari ini. Meskipun Ayub tidak pernah melihat Tuhan atau mendengar firman Tuhan dengan telinganya sendiri, Tuhan memiliki tempat dalam hati Ayub. Dan seperti apakah sikap Ayub terhadap Tuhan? Sikap Ayub, seperti disebutkan sebelumnya, adalah, "terpujilah nama Yahweh." Berkatnya bagi nama Tuhan tanpa syarat, lengkap, dan tanpa alasan. Kita melihat bahwa Ayub telah memberikan hatinya kepada Tuhan, yang memungkinkannya untuk dikendalikan oleh Tuhan; semua yang dia pikirkan, semua yang dia putuskan, dan semua yang dia rencanakan dalam hatinya dibukakan kepada Tuhan dan tidak ditutup-tutupi dari Tuhan. Hatinya tidak berseberangan dengan Tuhan, dan dia tidak pernah meminta Tuhan untuk melakukan apa pun untuknya atau memberi apa pun kepadanya, dan dia tidak memendam hasrat berlebih bahwa dia akan mendapatkan apa pun dari penyembahannya kepada Tuhan. Ayub tidak berbicara tentang berdagang dengan Tuhan, dan tidak membuat permintaan atau tuntutan dari Tuhan. Dia mengagungkan nama Tuhan karena kuasa dan otoritas Tuhan yang luar biasa dalam mengatur segala sesuatu, dan tidak bergantung pada apakah dia mendapatkan berkat atau ditimpa oleh bencana. Dia percaya bahwa terlepas dari apakah Tuhan memberkati orang atau mendatangkan bencana kepada mereka, kuasa dan otoritas Tuhan tidak akan berubah, sehingga, bagaimana pun keadaan seseorang, nama Tuhan haruslah diagungkan. Orang tersebut diberkati oleh Tuhan karena kedaulatan Tuhan, dan saat bencana terjadi pada manusia, itu juga terjadi karena kedaulatan Tuhan. Kuasa dan otoritas Tuhan berkuasa dan mengatur setiap aspek manusia; perubahan tidak terduga pada keberuntungan manusia adalah perwujudan dari kuasa dan otoritas Tuhan, dan apa pun sudut pandang seseorang, nama Tuhan seharusnya diagungkan. Ini adalah yang dialami oleh Ayub dan yang semakin diketahuinya selama bertahun-tahun menjalani hidupnya. Seluruh pikiran dan tindakan Ayub sampai ke telinga Tuhan, dan datang di hadapan Tuhan, dan dipandang penting oleh Tuhan. Tuhan menghargai pengetahuan Ayub ini, dan menyayangi Ayub karena memiliki hati seperti demikian. Hati ini senantiasa menantikan perintah Tuhan, dan di segala tempat, dan tidak peduli kapan dan di mana, hati ini menyambut apa pun yang terjadi pada dirinya. Ayub tidak mengajukan permintaan apa pun kepada Tuhan. Apa yang dia tuntut dari dirinya sendiri adalah menunggu, menerima, menghadapi, dan menaati seluruh pengaturan yang berasal dari Tuhan; Ayub percaya ini adalah tugasnya, dan itulah yang benar-benar diinginkan oleh Tuhan. Ayub belum pernah melihat Tuhan, atau mendengar-Nya mengucapkan firman apa pun, memberikan perintah, memberi ajaran, atau menginstruksikan apa pun kepadanya. Berbicara masa kini, bahwa Ayub dapat memiliki pengetahuan dan sikap seperti itu terhadap Tuhan saat Tuhan tidak memberinya pencerahan, bimbingan, ataupun pembekalan berkenaan dengan kebenaran—ini adalah hal yang sangat berharga, dan bahwa Ayub menunjukkan hal-hal tersebut, itu sudah cukup bagi Tuhan, dan kesaksiannya tersebut dipuji oleh Tuhan, dan dihargai oleh Tuhan. Ayub tidak pernah melihat Tuhan atau mendengar Tuhan secara langsung mengucapkan ajaran apa pun kepadanya, namun bagi Tuhan hati Ayub dan diri Ayub sendiri adalah jauh lebih berharga dari orang-orang yang, di hadapan Tuhan, hanya dapat berbicara tentang teori secara mendalam, yang hanya dapat membual, dan berbicara tentang mempersembahkan korban bakaran, namun sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang sejati akan Tuhan, dan tidak pernah sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Karena hati Ayub bersih, dan tidak bersembunyi dari Tuhan, dan kemanusiaannya jujur serta baik hati, dan dia mencintai keadilan dan hal-hal yang positif. Hanya manusia seperti ini memiliki hati dan kemanusiaan yang dapat mengikuti jalan Tuhan, dan mampu untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Manusia seperti itu bisa melihat kedaulatan Tuhan, bisa melihat otoritas dan kuasa-Nya, juga dapat mencapai ketaatan terhadap kedaulatan dan pengaturan-Nya. Hanya seorang manusia seperti ini yang benar-benar bisa mengagungkan nama Tuhan. Ini karena dia tidak melihat apakah Tuhan akan memberkatinya atau mendatangkan bencana kepadanya, karena dia tahu bahwa setiap hal dikendalikan oleh tangan Tuhan, dan bahwa bagi manusia khawatir merupakan sebuah tanda kebodohan, ketidaktahuan, dan sikap irasional, tanda keraguan terhadap fakta kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu, dan tanda tidak takut akan Tuhan. Pengetahuan Ayub adalah apa yang sejatinya Tuhan inginkan. Jadi apakah Ayub memiliki pengetahuan teoritis tentang Tuhan yang lebih besar daripada engkau semua? Karena pekerjaan dan perkataan Tuhan kala itu sedikit, bukanlah hal mudah untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan. Pencapaian demikian oleh Ayub merupakan prestasi luar biasa. Dia tidak mengalami pekerjaan Tuhan, bahkan juga tidak pernah mendengar Tuhan berfirman, atau melihat wajah Tuhan. Bahwa Ayub dapat memiliki sikap demikian terhadap Tuhan, itu sepenuhnya merupakan hasil dari kemanusiaan dan pengejaran pribadinya, sebuah kemanusiaan dan pengejaran yang tidak dimiliki oleh orang-orang zaman sekarang. Karena itulah, di zaman tersebut, Tuhan berfirman: "Tidak ada seorang pun seperti dia di bumi, yang demikian tak bercela dan jujur." Dalam zaman tersebut, Tuhan sudah membuat penilaian semacam itu mengenai diri Ayub, dan telah sampai pada kesimpulan seperti itu. Seberapa relevankah hal tersebut pada zaman sekarang?

Meskipun Tuhan Tersembunyi Dari Manusia, Perbuatan-Nya Dalam Segala Sesuatu Cukup bagi Manusia untuk Mengenal-Nya

Ayub belum pernah melihat wajah Tuhan, atau mendengar firman yang diucapkan oleh Tuhan, apalagi secara langsung mengalami pekerjaan Tuhan, namun sikapnya yang takut akan Tuhan dan kesaksiannya selama ujiannya disaksikan oleh semua orang, dan dicintai, disenangi, dan dipuji oleh Tuhan, dan orang-orang iri dan mendambakannya, dan terlebih lagi, melantunkan pujian mereka. Tidak ada hal yang hebat atau luar biasa tentang kehidupannya: Sama seperti orang biasa, Ayub menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, berangkat kerja saat fajar dan kembali ke rumah untuk beristirahat saat senja. Perbedaannya adalah bahwa selama beberapa dekade biasa-biasa saja ini, dia mendapatkan wawasan mengenai jalan Tuhan, dan menyadari serta memahami kuasa dan kedaulatan Tuhan yang mahabesar, seperti yang belum pernah dimiliki oleh siapa pun. Dia tidak lebih cerdas dari orang biasa lain, hidupnya tidak begitu gigih, dia juga tidak memiliki keterampilan khusus yang tak terlihat. Namun, apa yang dia miliki adalah kepribadian yang jujur, baik hati, lurus, kepribadian yang menyukai kebenaran dan keadilan, dan yang mencintai hal positif—tidak satu pun dari itu yang dimiliki oleh kebanyakan orang biasa. Dia tahu membedakan antara kasih dan kebencian, memiliki rasa keadilan, pantang menyerah dan gigih, rajin dalam pikirannya, dan dengan demikian selama waktu yang biasa-biasa saja di bumi dia melihat semua hal luar biasa yang telah dilakukan oleh Tuhan, dan melihat kebesaran, kekudusan, dan kebenaran Tuhan, dia melihat perhatian, kemurahan, dan perlindungan Tuhan bagi manusia, dan melihat keagungan dan otoritas Tuhan yang maha tinggi. Alasan pertama mengapa Ayub dapat memperoleh hal-hal yang melampaui orang normal adalah karena dia memiliki hati yang murni, dan hatinya itu milik Tuhan, dan dipimpin oleh Sang Pencipta. Alasan kedua adalah pengejarannya: pengejaran Ayub adalah untuk menjadi tak bercela, dan sempurna, dan menjadi seseorang yang memenuhi kehendak Surga, yang dicintai oleh Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Ayub memiliki dan mengejar hal-hal ini sementara ia tidak dapat melihat Tuhan atau mendengar firman Tuhan; meskipun dia belum pernah melihat Tuhan, dia mulai mengetahui cara Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, dan memahami hikmat yang dengannya Tuhan melakukan semua itu. Meskipun dia belum pernah mendengar firman yang diucapkan oleh Tuhan, Ayub tahu bahwa perbuatan memberkati manusia dan mengambil dari manusia semuanya berasal dari Tuhan. Meskipun tahun-tahun hidupnya tidak berbeda dengan kehidupan orang biasa, dia tidak membiarkan hidupnya yang biasa-biasa tersebut memengaruhi pengetahuannya tentang kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu, atau memengaruhi cara dia mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Di matanya, hukum segala sesuatu penuh dengan perbuatan Tuhan, dan kedaulatan Tuhan dapat dilihat di bagian mana pun dalam kehidupan seseorang. Dia belum pernah melihat Tuhan, tetapi dia bisa menyadari bahwa perbuatan Tuhan ada di mana-mana, dan selama waktu yang tidak biasa di bumi, di setiap sudut hidupnya dia bisa melihat dan menyadari perbuatan Tuhan yang luar biasa dan menakjubkan, dan bisa melihat pengaturan Tuhan yang menakjubkan. Ketersembunyian dan keheningan Tuhan tidak menghalangi kesadaran Ayub tentang perbuatan-perbuatan Tuhan, juga tidak memengaruhi pengetahuannya tentang kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu. Hidupnya adalah perwujudan kedaulatan dan pengaturan Tuhan, yang tersembunyi di antara segala sesuatu, di sepanjang kehidupannya sehari-hari. Dalam kehidupannya sehari-hari, dia juga mendengar dan memahami suara hati Tuhan, dan firman Tuhan, yang hening di antara segala sesuatu, namun mengungkapkan suara hati-Nya dan firman-Nya dengan mengatur hukum segala sesuatu. Jadi, engkau mengerti bahwa jika orang memiliki kemanusiaan dan pengejaran yang sama seperti Ayub, mereka akan dapat memperoleh kesadaran dan pengetahuan yang sama seperti Ayub, dan dapat memperoleh pemahaman dan pengetahuan yang sama tentang kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu seperti Ayub. Tuhan tidak menampakkan diri kepada Ayub atau berbicara kepadanya, tetapi Ayub bisa menjadi tak bercela, dan lurus, juga takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan kata lain, tanpa Tuhan menampakkan diri atau berbicara kepada manusia, perbuatan Tuhan di antara segala sesuatu dan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu sudah cukup bagi manusia untuk menyadari akan keberadaan, kuasa, dan otoritas Tuhan, dan kuasa serta otoritas Tuhan cukup itu untuk membuat manusia ini mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Karena manusia biasa seperti Ayub mampu mencapai sikap yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, maka setiap orang biasa yang mengikuti Tuhan juga seharusnya mampu. Meskipun firman ini mungkin terdengar seperti kesimpulan logis, ini tidak bertentangan dengan hukum segala hal. Namun fakta tidak sesuai dengan harapan: Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, tampaknya, merupakan keahlian Ayub dan hanya Ayub sendiri saja. Mengenai penyebutan "takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan," orang berpikir bahwa ini seharusnya hanya dilakukan oleh Ayub, seolah-olah jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan telah diberi label dengan nama Ayub dan tidak terkait dengan orang lain. Alasan untuk ini jelas: Karena hanya Ayublah yang memiliki kepribadian yang jujur, baik hati, dan lurus, dan yang mencintai keadilan dan kebenaran dan hal-hal yang positif, sehingga hanya Ayub yang bisa mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Engkau semua harus memahami implikasinya di sini—yaitu karena tidak seorang pun memiliki kemanusiaan yang jujur, baik hati, dan lurus, dan yang mencintai keadilan dan kebenaran dan hal yang positif, tidak seorang pun bisa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, sehingga mereka tidak pernah bisa mendapatkan sukacita Tuhan atau berdiri teguh di tengah-tengah ujian. Yang juga berarti bahwa, dengan pengecualian Ayub, semua orang masih tetap diikat dan dijerat oleh Iblis, mereka semua dituduh, diserang, dan disiksa olehnya, dan mereka adalah orang-orang yang Iblis coba telan, dan mereka semua tanpa kebebasan, para tahanan yang telah ditawan oleh Iblis.

Jika Hati Manusia Bermusuhan dengan Tuhan, Bagaimana Dia Bisa Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan

Karena orang zaman sekarang tidak memiliki kemanusiaan yang sama seperti Ayub, apa hakikat dari sifat mereka, dan bagaimana sikap mereka terhadap Tuhan? Apakah mereka takut akan Tuhan? Apakah mereka menjauhi kejahatan? Mereka yang tidak takut akan Tuhan atau menjauhi kejahatan hanya bisa disimpulkan dengan dua kata: musuh Tuhan. Engkau semua sering mengatakan dua kata ini, namun engkau semua sama sekali tidak mengetahui makna yang sebenarnya. Kata "musuh Tuhan" memiliki substansi: Kata tersebut tidak mengatakan bahwa Tuhan melihat manusia sebagai musuh, tetapi manusia melihat Tuhan sebagai musuh. Pertama, ketika orang mulai percaya kepada Tuhan, siapakah yang tidak memiliki tujuan, motivasi, dan ambisi mereka sendiri? Meskipun satu bagian dari mereka percaya akan keberadaan Tuhan, dan telah melihat keberadaan Tuhan, kepercayaan mereka kepada Tuhan masih mengandung motivasi tersebut, dan tujuan utama mereka percaya kepada Tuhan adalah untuk menerima berkat-Nya dan hal-hal yang mereka inginkan. Dalam pengalaman hidup manusia, mereka sering memikirkan diri mereka sendiri, aku telah menyerahkan keluarga dan karierku untuk Tuhan, lalu, apa yang telah Dia berikan kepadaku? Aku harus menghitungnya, dan memastikan─sudahkah aku menerima berkat baru-baru ini? Aku telah memberikan banyak hal selama beberapa waktu ini, aku telah berlari dan berlari, dan telah banyak menderita—apakah Tuhan memberiku janji-janji sebagai imbalannya? Apakah Dia mengingat perbuatan baikku? Akan seperti apakah akhir hidupku? Bisakah aku menerima berkat-berkat Tuhan? … Setiap orang terus-menerus, dan sering membuat perhitungan semacam itu dalam hati mereka, dan mereka membuat tuntutan kepada Tuhan yang mengandung motivasi, ambisi, dan kesepakatan mereka. Yang berarti, dalam hatinya, manusia secara terus-menerus menguji Tuhan, secara terus-menerus menyusun rencana tentang Tuhan, dan terus-menerus memperdebatkan situasi bagi akhir hidupnya dengan Tuhan, dan mencoba untuk mengeluarkan pernyataan dari Tuhan, melihat apakah Tuhan dapat memberikan kepadanya apa yang dia inginkan atau tidak. Pada waktu bersamaan dengan mengejar Tuhan, manusia tidak memperlakukan Tuhan seperti Tuhan. Manusia selalu berusaha membuat kesepakatan dengan Tuhan, tiada henti membuat tuntutan kepada-Nya, dan bahkan menekan-Nya di setiap langkah, berusaha menempuh satu mil setelah diberi satu inci. Pada saat bersamaan saat mencoba membuat kesepakatan dengan Tuhan, manusia juga berdebat dengan-Nya, dan bahkan ada orang-orang yang, ketika ujian menimpa mereka atau mereka berada dalam situasi tertentu, sering menjadi lemah, pasif serta malas dalam pekerjaan mereka, dan penuh keluhan tentang Tuhan. Sejak pertama kali manusia mulai percaya kepada Tuhan, ia telah menganggap Tuhan berlimpah ruah, sama seperti pisau Swiss Army, dan dia menganggap dirinya sendiri sebagai kreditur terbesar Tuhan, seolah mencoba mendapatkan berkat dan janji dari Tuhan adalah hak dan kewajibannya yang melekat pada dirinya, sementara tanggung jawab Tuhan adalah untuk melindungi dan memelihara manusia dan membekalinya. Seperti inilah pemahaman dasar tentang "percaya kepada Tuhan" dari semua orang yang percaya kepada Tuhan, dan pemahaman terdalam mereka tentang konsep kepercayaan kepada Tuhan. Dari hakikat sifat manusia hingga pengejaran subjektifnya, tidak ada satu pun yang berhubungan dengan sikap takut akan Tuhan. Tujuan manusia percaya kepada Tuhan mungkin tidak ada kaitan dengan penyembahan kepada Tuhan. Yang berarti, manusia tidak pernah mempertimbangkan atau memahami bahwa kepercayaan kepada Tuhan membutuhkan takut akan Tuhan, dan menyembah Tuhan. Dalam kondisi seperti itulah, hakikat manusia jelas terlihat. Dan seperti apakah hakikat ini? Hati manusia itu jahat, mengandung pengkhianatan dan kebohongan, tidak mencintai keadilan dan kebenaran, atau hal yang positif, dan hati tersebut hina dan serakah. Hati manusia benar-benar tertutup bagi Tuhan; manusia tidak memberikannya kepada Tuhan sama sekali. Tuhan tidak pernah melihat hati manusia yang sejati, dan Dia juga tidak pernah disembah oleh manusia. Tidak peduli seberapa besar harga yang Tuhan bayar, atau seberapa banyak pekerjaan yang Dia lakukan, atau seberapa banyak yang Dia memberi kepada manusia, manusia tetap buta terhadap semua itu, dan sama sekali tidak peduli. Manusia tidak pernah memberikan hatinya kepada Tuhan, dia hanya ingin memikirkan hatinya sendiri, membuat keputusannya sendiri─yang tersirat adalah bahwa manusia tersebut tidak mau mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, ataupun taat pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dia juga tidak ingin menyembah Tuhan sebagai Tuhan. Seperti itulah keadaan manusia saat ini. Sekarang mari kita kembali memperhatikan tentang Ayub. Pertama-tama, apakah dia membuat kesepakatan dengan Tuhan? Apakah dia memiliki motif tersembunyi dalam memegang teguh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Pada waktu itu, pernahkah Tuhan berbicara kepada siapa pun tentang akhir hidup yang akan datang? Pada saat itu, Tuhan tidak pernah berjanji kepada siapa pun tentang akhir hidup, dan dengan latar belakang seperti inilah, Ayub mampu untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Apakah orang-orang pada zaman sekarang dapat dibandingkan dengan Ayub? Ada terlalu banyak perbedaan, mereka berada dalam kelompok berbeda. Meskipun Ayub tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan, dia telah memberikan hatinya kepada Tuhan dan hatinya itu milik Tuhan. Ayub tidak pernah membuat kesepakatan dengan Tuhan, dan tidak memiliki keinginan atau tuntutan berlebihan terhadap Tuhan; sebaliknya, ia percaya bahwa "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil." Inilah yang dilihatnya dan diperolehnya dari berpegang teguh pada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan selama bertahun-tahun kehidupan. Demikian juga, dia pun mendapatkan hasil dari "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Kedua kalimat ini adalah apa yang telah dia lihat dan ketahui sebagai akibat dari sikap ketaatannya terhadap Tuhan selama pengalaman hidupnya, dan semua itu juga merupakan senjata terkuatnya yang dengan menggunakannya dia menang dalam pencobaan Iblis, dan dasar keteguhannya dalam kesaksian kepada Tuhan. Sampai pada titik ini, apakah engkau semua membayangkan Ayub sebagai orang yang menyenangkan? Apakah engkau semua berharap menjadi orang seperti itu? Apakah engkau semua takut jika harus mengalami pencobaan Iblis? Apakah engkau semua bertekad untuk berdoa kepada Tuhan agar engkau semua menerima ujian yang sama seperti Ayub? Tanpa ragu, kebanyakan orang tidak akan berani berdoa untuk hal-hal semacam itu. Jadi, jelaslah bahwa iman engkau semua sungguh kecil; dibandingkan dengan Ayub, iman engkau semua sungguh tidak layak disebutkan. Engkau semua adalah musuh Tuhan, engkau semua tidak takut akan Tuhan, engkau semua tidak mampu bersikap teguh dalam kesaksianmu bagi Tuhan, dan tidak mampu menang atas serangan, tuduhan, dan pencobaan Iblis. Apa yang membuat engkau semua memenuhi syarat untuk menerima janji Tuhan? Setelah mendengar kisah Ayub dan memahami maksud Tuhan dalam menyelamatkan manusia dan makna keselamatan manusia, apakah engkau semua sekarang memiliki iman untuk menerima ujian yang sama seperti Ayub? Bukankah engkau semua seharusnya memiliki sedikit tekad guna membuat dirimu sekalian mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan?

Tidak Memiliki Kecurigaan Tentang Ujian Tuhan

Setelah menerima kesaksian dari Ayub setelah akhir ujiannya, Tuhan memutuskan bahwa Dia akan mendapatkan sekelompok—atau lebih dari satu kelompok—orang-orang yang seperti Ayub, namun Dia bertekad untuk tidak pernah lagi mengizinkan Iblis untuk menyerang atau menyiksa orang lain dengan menggunakan cara yang digunakan olehnya untuk mencobai, menyerang, dan menyiksa Ayub, dengan bertaruh dengan Tuhan; Tuhan tidak mengizinkan Iblis untuk kembali melakukan hal-hal seperti itu kepada manusia, yang lemah, bodoh, dan tidak tahu—sudah cukup bahwa Iblis telah mencobai Ayub! Tidak mengizinkan Iblis untuk menyiksa orang sesuai keinginannya adalah belas kasihan Tuhan. Bagi Tuhan, sudah cukup bahwa Ayub telah menderita pencobaan dan penyiksaan Iblis. Tuhan tidak mengizinkan Iblis untuk kembali melakukan hal-hal seperti itu, karena kehidupan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang yang mengikuti Tuhan diperintah dan diatur oleh Tuhan, dan Iblis tidak berhak memanipulasi orang-orang pilihan Tuhan sesuka hatinya—engkau semua seharusnya memahami poin ini dengan jelas! Tuhan peduli akan kelemahan manusia, dan memahami kebodohan dan ketidaktahuannya. Meskipun, agar manusia dapat sepenuhnya diselamatkan, Tuhan harus menyerahkannya kepada Iblis, Tuhan tidak mau melihat manusia satu kali pun diperlakukan sebagai mainan oleh Iblis dan disiksa oleh Iblis, dan Dia tidak ingin melihat manusia selalu menderita. Manusia diciptakan oleh Tuhan, dan adalah sungguh dibenarkan bahwa Tuhan memerintah dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia; ini adalah tanggung jawab Tuhan, dan otoritas yang dengannya Tuhan mengatur segala sesuatu! Tuhan tidak mengizinkan Iblis menyiksa dan menganiaya manusia sesuka hati, Dia tidak mengizinkan Iblis menggunakan berbagai cara menyesatkan manusia, dan, lebih lagi, Dia tidak mengizinkan Iblis untuk mengusik kedaulatan Tuhan atas manusia, juga tidak mengizinkan Iblis untuk menginjak-injak dan memusnahkan hukum-hukum yang digunakan oleh Tuhan untuk mengatur segala sesuatu, apalagi pekerjaan Tuhan yang hebat dalam mengelola dan menyelamatkan umat manusia! Mereka yang ingin Tuhan selamatkan, dan mereka yang mampu menjadi kesaksian bagi Tuhan, adalah inti dan kristalisasi pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun, serta harga upaya-Nya dalam pekerjaan-Nya selama enam ribu tahun. Bagaimana mungkin Tuhan dengan santai memberikan orang-orang ini kepada Iblis?

Orang sering khawatir dan takut menghadapi ujian dari Tuhan, namun mereka senantiasa hidup dalam jerat Iblis, dan hidup di wilayah berbahaya tempat mereka diserang dan disiksa oleh Iblis—namun mereka tidak mengenal rasa takut, dan tidak terganggu. Apa yang sedang terjadi? Keyakinan manusia kepada Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dapat dilihatnya. Dia sama sekali tidak menghargai kasih dan perhatian Tuhan untuk manusia, atau kelembutan dan pertimbangan-Nya terhadap manusia. Tetapi untuk sedikit gentar dan takut akan ujian, penghakiman dan hajaran, dan kemegahan dan murka Tuhan, manusia tidak memiliki sedikit pun pemahaman tentang maksud baik Tuhan. Berbicara tentang ujian, orang merasa seolah-olah Tuhan memiliki motif tersembunyi, dan beberapa bahkan percaya bahwa Tuhan menyimpan rancangan jahat, tidak menyadari apa yang sebenarnya akan Tuhan lakukan untuk mereka; dengan demikian, pada waktu bersamaan menuntut ketaatan kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menentang dan melawan kedaulatan Tuhan atas manusia dan pengaturan untuk manusia, karena mereka percaya bahwa jika mereka tidak berhati-hati mereka akan disesatkan oleh Tuhan, bahwa jika mereka tidak menguasai nasib mereka sendiri maka semua yang mereka miliki dapat diambil oleh Tuhan, dan hidup mereka bahkan bisa berakhir. Manusia berada di kubu Iblis, tetapi dia tidak pernah khawatir disiksa oleh Iblis, dan dia disiksa oleh Iblis tetapi tidak pernah takut ditawan oleh Iblis. Manusia terus mengatakan bahwa dia menerima keselamatan Tuhan, namun tidak pernah memercayai Tuhan atau percaya bahwa Tuhan akan benar-benar menyelamatkan manusia dari cengkeraman Iblis. Jika, seperti Ayub, manusia dapat tunduk pada perancangan dan pengaturan Tuhan, dan dapat menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, maka bukankah akhir manusia pun akan sama dengan akhir hidup Ayub—penerimaan berkat Tuhan? Jika manusia dapat menerima dan tunduk pada aturan Tuhan, apakah ada kerugiannya? Maka dari itu, Aku menganjurkan agar engkau semua berhati-hati dalam tindakanmu dan waspada terhadap apa pun yang akan menghampirimu. Jangan terburu-buru atau impulsif, dan jangan memperlakukan Tuhan, dan orang, perkara, dan objek yang telah Dia aturkan untukmu dengan bergantung pada darah panasmu atau sifat alamimu, atau menurut imajinasi dan konsepsimu; engkau semua harus waspada dalam tindakanmu dan harus berdoa serta lebih banyak mencari agar tidak memicu murka Tuhan. Ingatlah ini!

Berikutnya, kita akan melihat bagaimana Ayub setelah ujiannya.

5. Ayub Setelah Ujiannya

(Ayub 42:7-9) Dan kemudian, setelah Yahweh mengucapkan firman itu kepada Ayub, Yahweh berkata kepada Elifas orang Teman: "Murka-Ku menyala-nyala terhadap engkau dan kedua temanmu: karena engkau sekalian tidak mengatakan yang benar tentang Aku, seperti yang dilakukan hamba-ku Ayub. Karena itu sekarang kalian ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah korban bakaran bagi dirimu; dan hamba-Ku Ayub akan mendoakan engkau sekalian: karena Aku akan menerima permintaannya: supaya Aku tidak berurusan dengan engkau karena kebodohanmu, sebab engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Lalu Elifas, orang Teman, dan Bildad orang Suah dan Zofar, orang Naama pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan Yahweh kepada mereka: Yahweh juga menerima permintaan Ayub.

(Ayub 42:10) Maka Yahweh memulihkan keadaan Ayub, ketika ia mendoakan teman-temannya: dan Yahweh juga memberikan kepada Ayub dua kali lipat lebih banyak daripada segala yang dimilikinya sebelumnya.

(Ayub 42:12) Maka Yahweh memberkati Ayub dalam kehidupan berikutnya lebih daripada sebelumnya; dia memiliki 14.000 domba, dan 6.000 unta, dan 1.000 lembu, dan 1.000 keledai betina.

(Ayub 42:17) Maka Ayub pun meninggal, sudah tua dan lanjut umurnya.

Mereka Yang Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan Dipandang Berharga oleh Tuhan, Sementara Mereka Yang Bodoh Dipandang Rendah oleh Tuhan

Dalam Ayub 42:7–9, Tuhan berkata bahwa Ayub adalah hamba-Nya. Penggunaan istilah "hamba" oleh-Nya untuk merujuk kepada Ayub menunjukkan arti penting Ayub dalam hati-Nya; meskipun Tuhan tidak menyebut Ayub dengan panggilan yang lebih terhormat, sebutan ini tidak berpengaruh pada arti penting Ayub dalam hati Tuhan. "Hamba" di sini adalah nama panggilan Tuhan untuk Ayub. Penyebutan "hamba-Ku Ayub" berkali-kali oleh Tuhan menunjukkan betapa Dia senang akan Ayub, dan meskipun Tuhan tidak berbicara tentang makna di balik kata "hamba," definisi Tuhan tentang kata "hamba" dapat dilihat dari firman-Nya dalam perikop Alkitab ini. Tuhan pertama-tama berfirman kepada Elifas orang Teman: "Murka-Ku menyala-nyala terhadap engkau dan kedua temanmu: karena engkau sekalian tidak mengatakan yang benar tentang Aku, seperti yang dilakukan hamba-Ku Ayub." Perkataan-perkataan ini adalah pertama kalinya Tuhan secara terbuka memberitahukan kepada orang-orang bahwa Dia menerima semua yang dikatakan dan dilakukan oleh Ayub setelah ujian yang Tuhan berikan kepadanya, dan pertama kalinya Dia secara terbuka menegaskan keakuratan dan kebenaran dari semua yang telah Ayub lakukan dan katakan. Tuhan marah kepada Elifas dan yang lain oleh karena uraian mereka yang tidak benar dan konyol, karena, seperti halnya Ayub, mereka tidak dapat melihat penampakan Tuhan atau mendengar firman yang Dia ucapkan dalam hidup mereka, namun Ayub memiliki pengetahuan begitu akurat tentang Tuhan, sedangkan mereka hanya bisa menebak secara membabi buta tentang Tuhan, melanggar kehendak Tuhan dan menguji kesabaran-Nya dalam semua yang mereka lakukan. Akibatnya, Tuhan menerima semua yang dilakukan dan dikatakan oleh Ayub, dan di saat yang sama Ia menjadi murka terhadap yang lain, karena di dalam diri mereka, Dia bukan hanya tidak dapat melihat kenyataan takut akan Tuhan, tetapi juga tidak mendengar apa pun tentang rasa takut akan Tuhan dalam ucapan mereka. Maka selanjutnya Tuhan memerintahkan mereka untuk melakukan hal berikut: "Karena itu sekarang kalian ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah korban bakaran bagi dirimu; dan hamba-Ku Ayub akan mendoakan engkau sekalian: karena Aku akan menerima permintaannya: supaya Aku tidak berurusan dengan engkau karena kebodohanmu." Dalam perikop ini Tuhan mengatakan kepada Elifas dan yang lain untuk melakukan sesuatu yang akan menebus dosa mereka, karena kebodohan mereka adalah dosa terhadap Tuhan Yahweh, dan karena itu mereka harus mempersembahkan korban bakaran untuk memperbaiki kesalahan mereka. Korban bakaran sering dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi hal yang tidak biasa tentang korban bakaran ini adalah bahwa mereka dipersembahkan kepada Ayub. Ayub diterima oleh Tuhan karena dia menjadi kesaksian bagi Tuhan selama ujiannya. Sementara itu, teman-teman Ayub ini, tersingkap selama masa ujian Ayub; karena kebodohan mereka, mereka dikutuk oleh Tuhan, dan mereka memicu murka Tuhan, dan harus dihukum oleh Tuhan─dihukum dengan mempersembahkan korban bakaran di hadapan Ayub─setelah itu Ayub berdoa bagi mereka untuk menghilangkan hukuman dan murka Tuhan terhadap mereka. Maksud Tuhan adalah mempermalukan mereka, karena mereka bukan orang-orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan mereka telah mengutuk kesalehan Ayub. Dalam satu hal, Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak menerima tindakan mereka tetapi sangat menerima dan bersuka akan diri Ayub; dalam hal lain, Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa diterima oleh Tuhan mengangkat manusia di hadapan Tuhan, bahwa manusia dibenci Tuhan oleh karena kebodohannya, dan menyinggung Tuhan karena hal itu, dan rendah serta hina di mata Tuhan. Ini adalah definisi yang diberikan oleh Tuhan tentang dua jenis manusia, inilah sikap Tuhan terhadap dua jenis orang ini, dan semua itu adalah ungkapan Tuhan melalui kata-kata tentang nilai dan kedudukan kedua jenis orang ini. Meskipun Tuhan memanggil Ayub sebagai hamba-Nya, di mata Tuhan, hamba ini dicintai, dan diberikan otoritas untuk berdoa bagi orang lain dan memaafkan kesalahan mereka. Hamba ini dapat berbicara langsung kepada Tuhan dan datang langsung ke hadapan Tuhan, statusnya lebih tinggi dan lebih terhormat daripada orang lain. Ini adalah arti sebenarnya dari kata "hamba" yang diucapkan oleh Tuhan. Ayub diberikan kehormatan khusus ini karena rasa takutnya akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan alasan mengapa orang yang lain tidak disebut hamba oleh Tuhan adalah karena mereka tidak takut akan Tuhan dan tidak menjauhi kejahatan. Kedua sikap Tuhan yang jelas berbeda ini adalah sikap-Nya terhadap dua jenis manusia: Mereka yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan diterima oleh Tuhan, dan dipandang berharga di mata-Nya, sementara mereka yang bodoh, tidak takut akan Tuhan, dan tidak mampu menjauhi kejahatan, dan tidak dapat menerima kebaikan Tuhan; mereka sering dibenci dan dikutuk oleh Tuhan, dan rendah di mata Tuhan.

Tuhan Memberikan Otoritas Kepada Ayub

Ayub berdoa untuk teman-temannya, dan setelah itu, karena doa Ayub, Tuhan tidak memperlakukan mereka sesuai dengan kebodohan mereka—Dia tidak menghukum mereka atau meminta ganti rugi dari mereka. Dan mengapa demikian? Karena doa-doa hamba Tuhan, Ayub, bagi mereka telah sampai ke telinga-Nya; Tuhan mengampuni mereka karena Dia menerima doa-doa Ayub. Dan apa yang kita lihat dalam hal ini? Ketika Tuhan memberkati seseorang, Dia memberi kepada mereka banyak imbalan, dan bukan hanya imbalan materi, melainkan: Tuhan juga memberi mereka otoritas, dan hak untuk berdoa bagi orang lain, dan Tuhan melupakan, serta mengabaikan pelanggaran orang-orang tersebut karena Dia mendengar doa-doa ini. Inilah otoritas khusus yang Tuhan berikan kepada Ayub. Melalui doa-doa Ayub agar menghentikan hukuman bagi mereka, Tuhan Yahweh mempermalukan orang-orang bodoh itu—yang tentu saja merupakan hukuman khusus-Nya bagi Elifas dan yang lain.

Ayub Sekali Lagi Diberkati oleh Tuhan, dan Tidak Pernah Lagi Dituduh oleh Iblis

Di antara perkataan-perkataan Tuhan Yahweh terdapat firman yang mengatakan "engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Apakah hal yang telah Ayub katakan? Itu adalah hal yang telah kita bahas sebelumnya, juga beberapa halaman firman dalam Kitab Ayub yang mencatat ucapan Ayub. Dalam semua halaman firman ini, Ayub tidak pernah sekalipun memiliki keluhan ataupun keraguan tentang Tuhan. Dia hanya menunggu kesudahannya. Penantian inilah yang merupakan sikap ketaatannya, sebagai akibatnya, dan sebagai akibat dari perkataan yang dia ucapkan kepada Tuhan, Ayub diterima oleh Tuhan. Ketika dia mengalami ujian dan menderita kesukaran, Tuhan berada di sisinya, dan meskipun kesukarannya tidak berkurang oleh karena kehadiran Tuhan, Tuhan melihat apa yang ingin Dia lihat, dan mendengar apa yang ingin Dia dengar. Setiap tindakan dan perkataan Ayub mencapai mata dan telinga Tuhan; Tuhan mendengar, dan Dia melihat—dan ini adalah fakta. Pengetahuan Ayub tentang Tuhan, dan pemikirannya tentang Tuhan dalam hatinya pada waktu itu, selama periode itu, sebenarnya tidak sespesifik pengetahuan dan pemikiran orang-orang zaman sekarang, tetapi dalam konteks waktu, Tuhan tetap mengakui semua yang dia katakan, karena perilaku dan pemikiran dalam hatinya, dan apa yang telah dia ungkapkan dan singkapkan, cukup memenuhi persyaratan-Nya. Selama masa ketika Ayub mengalami ujian, apa yang dipikirkannya dalam hati dan yang bertekad untuk dilakukannya, menunjukkan kepada Tuhan suatu hasil, yang memuaskan Tuhan, dan setelah itu Tuhan pun menghentikan ujian terhadap Ayub, Ayub bangkit dari kesusahannya, dan ujiannya telah lenyap dan tidak pernah lagi menimpa dirinya. Karena Ayub telah mengalami ujian, dan telah berdiri teguh selama ujian-ujian ini, dan menang sepenuhnya atas Iblis, Tuhan memberinya berkat yang pantas dia dapatkan. Sebagaimana dicatat dalam Ayub 42:10, 12, Ayub diberkati sekali lagi, dan diberkati dengan lebih banyak dari yang pertama. Pada saat ini Iblis telah mengundurkan diri, dan tidak lagi mengatakan atau melakukan apa pun, dan sejak saat itu Ayub tidak lagi diganggu atau diserang oleh Iblis, dan Iblis tidak lagi membuat tuduhan terhadap berkat Tuhan kepada Ayub.

Ayub Menghabiskan Bagian Terakhir dari Hidupnya Di Tengah Berkat Tuhan

Meskipun berkat-Nya pada waktu itu hanya terbatas pada domba, sapi, unta, aset materi, dan sebagainya, berkat-berkat yang ingin Tuhan berikan kepada Ayub dalam hati-Nya jauh lebih dari ini. Pada saat itu, apakah ada tercatat janji-janji kekal seperti apa yang ingin Tuhan berikan kepada Ayub? Dalam berkat-Nya untuk Ayub, Tuhan tidak menyebutkan atau menyinggung tentang akhir hidupnya, dan terlepas dari kepentingan atau posisi apa yang Ayub miliki dalam hati Tuhan, singkatnya Tuhan arif dalam berkat-Nya. Tuhan tidak mengumumkan akhir hidup Ayub. Apakah artinya ini? Pada saat itu, ketika rencana Tuhan belum mencapai titik ketika akhir hidup manusia dikumandangkan, rencana itu belum memasuki tahap akhir dari pekerjaan-Nya, Tuhan tidak menyebutkan akhir, hanya memberikan berkat materi kepada manusia. Ini berarti bahwa paruh terakhir dari kehidupan Ayub dijalani di tengah berkat Tuhan, yang membuatnya berbeda dengan orang lain—tetapi seperti mereka, dia bertambah tua, dan seperti orang normal lain, tiba harinya ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia. Dengan demikian tercatat bahwa "Maka Ayub pun meninggal, sudah tua dan lanjut umurnya" (Ayub 42:17). Apa arti dari "meninggal … lanjut umurnya" di sini? Di zaman sebelum Tuhan mengumandagkan akhir hidup manusia, Tuhan menetapkan harapan hidup untuk Ayub, dan ketika usia itu telah tercapai, Dia mengizinkan Ayub untuk meninggalkan dunia ini secara alami. Dari berkat kedua Ayub sampai kematiannya, Tuhan tidak menambah kesulitan lagi. Bagi Tuhan, kematian Ayub adalah alami, dan juga perlu terjadi, itu adalah sesuatu yang sangat normal, dan bukan penghakiman atau kutukan. Ketika dia masih hidup, Ayub menyembah dan takut akan Tuhan; mengenai seperti apa akhir yang dia miliki setelah kematiannya, Tuhan sama sekali tidak berfirman, atau membuat komentar tentang hal itu. Tuhan itu bijaksana dalam apa yang Dia katakan dan lakukan, dan isi serta prinsip dari firman dan tindakan-Nya sesuai dengan tahap pekerjaan-Nya dan periode ketika Dia bekerja. Akhir seperti apa yang dimiliki oleh seseorang seperti Ayub dalam hati Tuhan? Sudahkah Tuhan membuat keputusan dalam hati-Nya? Tentu saja Dia sudah memutuskan! Hanya saja ini tidak diketahui oleh manusia; Tuhan tidak ingin memberi tahu manusia, juga tidak bermaksud untuk memberi tahu manusia. Dan dengan demikian, berbicara secara garis besar, Ayub meninggal dalam usia lanjut, dan seperti demikianlah kehidupan Ayub.

Harga yang Dibayar oleh Ayub Di Sepanjang Masa Hidupnya

Apakah Ayub menjalani kehidupan yang bernilai? Apakah nilainya? Mengapa dikatakan dia menjalani kehidupan yang bernilai? Bagi manusia, apakah nilainya? Dari sudut pandang manusia, Ayub merepresentasikan umat manusia yang ingin Tuhan selamatkan, dalam menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan di hadapan Iblis dan orang-orang di dunia. Ayub memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi oleh makhluk ciptaan Tuhan, dan menjadikan dirinya teladan dan bertindak sebagai model, untuk semua orang yang ingin Tuhan selamatkan, sehingga memungkinkan orang untuk melihat bahwa sangatlah mungkin untuk menang atas Iblis dengan mengandalkan Tuhan. Dan apa nilai Ayub bagi Tuhan? Bagi Tuhan, nilai kehidupan Ayub yang terletak pada kemampuannya untuk takut akan Tuhan, menyembah Tuhan, bersaksi tentang perbuatan Tuhan, dan memuji perbuatan Tuhan, telah memberi kepada Tuhan penghiburan dan sesuatu untuk dinikmati. Bagi Tuhan, nilai kehidupan Ayub juga adalah dalam hal bagaimana, sebelum kematiannya, Ayub mengalami ujian dan menang atas Iblis, dan menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan di hadapan Iblis dan orang-orang di dunia, memuliakan Tuhan di antara umat manusia, menghibur hati Tuhan, dan memungkinkan hati Tuhan yang penuh hasrat untuk menyaksikan kesudahannya, dan melihat harapan. Kesaksiannya itu menjadi preseden tentang adanya kemampuan untuk berdiri teguh dalam kesaksian seseorang bagi Tuhan, dan kemampuan membuat malu Iblis atas nama Tuhan, di dalam pekerjaan Tuhan mengelola umat manusia. Bukankah ini nilai kehidupan Ayub? Ayub menghadirkan penghiburan bagi hati Tuhan, dia membuat Tuhan mencicipi sebelumnya kesukaan karena dimuliakan, dan memberikan awal luar biasa bagi rencana pengelolaan Tuhan. Dan mulai saat itu dan seterusnya, nama Ayub menjadi simbol untuk pemuliaan Tuhan, dan tanda kemenangan umat manusia atas Iblis. Apa yang dijalani oleh Ayub selama masa hidupnya dan kemenangannya yang luar biasa atas Iblis akan selamanya dihargai oleh Tuhan, dan kesempurnaan, kejujuran, dan sikapnya yang takut akan Tuhan akan dihormati dan ditiru oleh generasi yang akan datang. Dia akan selamanya dihargai oleh Tuhan seperti mutiara mulus dan berkilau, dan demikian pula dia layak dihargai oleh manusia!

Selanjutnya, mari kita melihat pekerjaan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat.

D. Peraturan Zaman Hukum Taurat

Sepuluh Perintah

Prinsip Membangun Mezbah

Peraturan Memperlakukan Hamba

Peraturan mengenai Pencurian dan Kompensasi

Mempertahankan Tahun Sabat dan Tiga Perayaan

Peraturan mengenai Hari Sabat

Peraturan mengenai Korban Persembahan

Korban Bakaran

Korban Sajian

Korban Perdamaian

Korban Penghapus Dosa

Korban Kesalahan

Peraturan mengenai Korban Bakaran oleh Para Imam (Yang Harus Dipatuhi Harun dan Anak-anaknya)

Korban Bakaran oleh Imam

Korban Sajian oleh Imam

Korban Penghapus Dosa oleh Imam

Korban Kesalahan oleh Imam

Korban Perdamaian oleh Imam

Peraturan mengenai Memakan Korban Bakaran oleh Imam

Binatang yang Tidak Haram dan yang Haram (Binatang Yang Bisa Dimakan dan Tidak Bisa Dimakan)

Peraturan mengenai Penyucian Perempuan Selepas Persalinan

Standar bagi Pemeriksaan Orang yang Sakit Kusta

Peraturan bagi Mereka Yang Telah Tahir dari Kusta

Peraturan untuk Menahirkan Rumah yang Terjangkit

Peraturan untuk Mereka Yang Menderita Lelehan Abnormal

Hari Penebusan yang Harus Dirayakan Setahun Sekali

Aturan untuk Menyembelih Kambing Domba dan Ternak

Larangan Mengikuti Praktik-Praktik Menjijikkan Bangsa-Bangsa Bukan Yahudi (Tidak Melakukan Inses, dan Lain Sebagainya)

Peraturan yang Harus Diikuti Manusia ("Hendaklah engkau kudus: karena Aku Yahweh Tuhanmu kudus.")

Eksekusi Orang-orang yang Mengorbankan Anak-anak Mereka kepada Molokh

Peraturan untuk Menghukum Kejahatan Perzinahan

Aturan yang Harus Dipatuhi Para Imam (Aturan untuk Perilaku Sehari-hari Mereka, Aturan untuk Pemakaian Benda-benda Kudus, Aturan untuk Mempersembahkan Korban Persembahan, dan Lain Sebagainya)

Perayaan yang Harus Diperingati (Hari Sabat, Paskah, Pentakosta, Hari Penebusan, dan Lain Sebagainya)

Peraturan Lain (Menyalakan Pelita, Tahun Yobel, Penebusan Tanah, Membuat Sumpah, Persembahan Persepuluhan, dan Lain Sebagainya)

Peraturan Zaman Hukum Taurat Adalah Bukti Nyata Arahan Tuhan untuk Seluruh Umat Manusia

Jadi, engkau semua telah membaca peraturan dan prinsip Zaman Hukum Taurat ini, ya? Apakah peraturan tersebut mencakup rentang yang luas? Pertama, peraturan tersebut mencakup Sepuluh Perintah, dan kemudian peraturan tentang cara membangun mezbah, dan lain sebagainya. Ini diikuti oleh peraturan untuk memelihara hari Sabat dan mengadakan tiga perayaan, dan kemudian peraturan mengenai korban persembahan. Apakah engkau semua melihat ada berapa banyak jenis korban persembahan? Ada korban bakaran, korban sajian, korban perdamaian, korban penghapus dosa, dan banyak lagi, yang diikuti oleh peraturan untuk korban persembahan para imam, termasuk korban bakaran dan korban sajian oleh imam, dan jenis korban persembahan lainnya. Peraturan untuk memakan korban persembahan oleh imam, dan ada peraturan untuk apa yang seharusnya diperingati sepanjang hidup manusia. Ada ketetapan untuk banyak aspek dalam hidup manusia, seperti peraturan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh mereka, mengenai penyucian perempuan setelah persalinan, dan mengenai mereka yang telah tahir dari penyakit kusta. Dalam peraturan-peraturan ini, Tuhan lebih jauh berbicara tentang penyakit, dan bahkan ada aturan mengenai penyembelihan kambing domba dan ternak, dan lain sebagainya. Kambing domba dan ternak diciptakan oleh Tuhan, dan engkau harus menyembelihnya bagaimana pun Tuhan menyuruhmu; tidak diragukan lagi, selalu ada alasan untuk firman Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa adalah benar untuk bertindak sesuai dengan apa yang ditetapkan Tuhan, dan itu pasti bermanfaat bagi manusia! Ada juga perayaan dan aturan untuk diikuti, seperti hari Sabat, Paskah, dan banyak lagi—Tuhan berbicara tentang semua ini. Mari kita melihat yang terakhir: peraturan yang lain—menyalakan pelita, Tahun Yobel, penebusan tanah, membuat sumpah, persembahan persepuluhan, dan lain-lain. Apakah semua ini mencakup rentang yang luas? Hal pertama yang harus dibicarakan adalah masalah korban persembahan manusia, kemudian ada peraturan untuk pencurian dan kompensasi, dan memelihara hari Sabat…; setiap detail kehidupan dilibatkan. Yang berarti, ketika Tuhan memulai secara resmi pekerjaan dalam rencana pengelolaan-Nya, Dia menetapkan banyak peraturan yang harus diikuti oleh manusia. Semua peraturan ini dibuat demi memungkinkan manusia menjalani kehidupan normal manusia di bumi, kehidupan normal manusia yang tidak dapat dipisahkan dari Tuhan dan bimbingan-Nya. Pertama-tama, Tuhan memberitahukan kepada manusia cara membangun mezbah, cara mengatur mezbah. Setelah itu, Dia memberitahukan kepada manusia cara mempersembahkan korban persembahan, dan menetapkan bagaimana manusia harus hidup—apa yang harus dia perhatikan dalam hidup, apa yang harus dia patuhi, apa yang seharusnya dan tidak boleh dilakukan olehnya. Apa yang ditetapkan oleh Tuhan bagi manusia merangkul semuanya, dan dengan adat istiadat, peraturan, dan prinsip ini, Dia menetapkan standar bagi tingkah laku manusia, membimbing hidup mereka, menuntun mereka untuk melakukan hukum-hukum Tuhan, membimbing mereka untuk datang ke hadapan mezbah Tuhan, menuntun mereka dalam memiliki kehidupan di antara segala sesuatu yang Tuhan buat untuk manusia yang mengandung ketertiban, keteraturan, dan yang tidak berlebih-lebihan. Tuhan pertama-tama menggunakan peraturan dan prinsip yang sederhana ini untuk menetapkan batasan bagi manusia, sehingga di bumi manusia akan memiliki kehidupan penyembahan kepada Tuhan yang normal, memiliki kehidupan normal sebagai manusia; seperti itulah isi spesifik dari awal rencana pengelolaan enam ribu tahun-Nya. Peraturan dan aturan itu mencakup konten yang sangat luas, semua itu merupakan hal-hal spesifik dari bimbingan Tuhan bagi umat manusia selama Zaman Hukum Taurat, semua itu harus diterima dan dihormati oleh orang-orang yang datang sebelum Zaman Hukum Taurat, semua itu adalah catatan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan selama Zaman Hukum Taurat, dan bukti nyata kepemimpinan serta bimbingan Tuhan bagi semua umat manusia.

Umat Manusia Selamanya Tidak Terpisahkan Dari Ajaran dan Pembekalan Tuhan

Dalam peraturan ini kita melihat bahwa sikap Tuhan terhadap pekerjaan-Nya, terhadap pengelolaan-Nya, dan terhadap umat manusia adalah serius, berhati-hati, teliti, dan bertanggung jawab. Dia melakukan pekerjaan yang harus Dia lakukan di antara umat manusia sesuai dengan langkah-Nya, tanpa penyimpangan sedikit pun, mengucapkan firman yang harus Dia ucapkan kepada umat manusia tanpa sedikit pun kesalahan atau kelalaian, memungkinkan manusia untuk melihat bahwa dia tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan Tuhan, dan menunjukkan kepadanya betapa pentingnya semua yang Tuhan lakukan dan katakan kepada umat manusia. Terlepas dari seperti apakah manusia di zaman berikutnya, singkatnya, pada awal mulanya—selama Zaman Hukum Taurat—Tuhan melakukan hal-hal sederhana ini. Bagi Tuhan, konsep manusia tentang Tuhan, dunia, dan umat manusia di zaman itu adalah abstrak dan buram, dan meskipun mereka memiliki beberapa gagasan dan maksud yang disadari, semuanya itu tidak jelas dan tidak benar, dan dengan demikian umat manusia tidak dapat dipisahkan dari ajaran dan pembekalan Tuhan untuk mereka. Manusia yang paling awal tidak tahu apa-apa, sehingga Tuhan harus mulai mengajar manusia dari prinsip-prinsip yang paling dangkal dan dasar untuk bertahan hidup dan peraturan yang diperlukan untuk hidup, menanamkan hal-hal ini dalam hati manusia sedikit demi sedikit, dan memberikan kepada manusia pemahaman bertahap tentang Tuhan, penghargaan serta pemahaman bertahap tentang kepemimpinan Tuhan, dan konsep dasar tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, melalui peraturan ini, dan melalui aturan-aturan ini, yang berasal dari firman. Setelah mencapai efek ini, barulah Tuhan kemudian mampu, sedikit demi sedikit, melakukan pekerjaan yang akan Dia lakukan di kemudian hari, dan dengan demikian peraturan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan selama Zaman Hukum Taurat merupakan landasan bagi pekerjaan-Nya menyelamatkan umat manusia, dan merupakan tahap pertama pekerjaan dalam rencana pengelolaan Tuhan. Meskipun, sebelum pekerjaan Zaman Hukum Taurat, Tuhan telah berbicara kepada Adam, Hawa, dan keturunan mereka, perintah dan ajaran itu tidak sedemikian sistematis atau spesifik seperti yang dikeluarkan satu per satu kepada manusia, dan semua itu tidak dituliskan, juga tidak menjadi peraturan. Itu karena, pada waktu itu, rencana Tuhan belum sampai sejauh itu; hanya ketika Tuhan telah memimpin manusia ke langkah ini, barulah Dia dapat mulai berbicara tentang peraturan-peraturan Zaman Hukum Taurat ini, dan mulai membuat manusia melaksanakannya. Itu adalah proses yang perlu, dan kesudahannya tidak bisa dihindari. Kebiasaan dan peraturan sederhana ini menunjukkan kepada manusia langkah-langkah pekerjaan pengelolaan Tuhan dan hikmat Tuhan yang dinyatakan dalam rencana pengelolaan-Nya. Tuhan tahu apa isi dan sarana yang digunakan untuk memulai, sarana apa digunakan untuk melanjutkan, dan sarana apa digunakan untuk mengakhiri agar Dia bisa mendapatkan sekelompok orang yang menjadi kesaksian bagi-Nya, bisa mendapatkan sekelompok orang yang sepemikiran dengan diri-Nya. Dia tahu apa yang ada di dalam hati manusia, dan tahu apa yang kurang dalam diri manusia, Dia tahu apa yang harus Dia sediakan, dan bagaimana Dia seharusnya memimpin manusia, dan demikian juga Dia tahu apa yang seharusnya dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. Manusia seperti wayang: Meskipun dia tidak memahami kehendak Tuhan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain dipimpin oleh pekerjaan pengelolaan Tuhan, langkah demi langkah, hingga hari ini. Tidak ada kekaburan dalam hati Tuhan tentang apa yang harus dilakukan oleh-Nya; dalam hati-Nya ada rencana yang sangat jelas dan terang, dan Dia melakukan pekerjaan yang Dia Sendiri ingin lakukan menurut langkah-Nya dan rencana-Nya, bergerak dari yang dangkal ke yang mendalam. Meskipun Dia tidak menunjukkan pekerjaan yang akan Dia lakukan di kemudian hari, pekerjaan-Nya yang berikutnya masih terus dilaksanakan dan berkembang tepat sekali sesuai dengan rencana-Nya, yang merupakan perwujudan dari apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, dan yang juga merupakan otoritas Tuhan. Terlepas dari tahap mana dari rencana pengelolaan-Nya yang sedang Dia lakukan, watak-Nya dan hakikat-Nya merepresentasikan diri-Nya sendiri. Ini sungguh benar. Tanpa memandang zaman, atau tahap pekerjaan, orang seperti apa yang Tuhan kasihi, orang macam apa yang Dia benci, watak-Nya dan semua yang Dia miliki dan siapa Tuhan itu tidak akan pernah berubah. Meskipun peraturan dan prinsip yang ditetapkan oleh Tuhan selama pekerjaan Zaman Hukum Taurat ini tampak sangat sederhana dan dangkal bagi orang-orang zaman sekarang, dan meskipun semua itu mudah dimengerti dan dicapai, di dalamnya tetap terdapat hikmat Tuhan, dan tetap terdapat watak Tuhan dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Karena dalam peraturan yang tampak sederhana ini tanggung jawab dan kepedulian Tuhan kepada umat manusia dinyatakan, dan hakikat luar biasa dari pikiran-Nya, yang memungkinkan manusia untuk benar-benar menyadari fakta bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu dikendalikan oleh tangan-Nya. Tidak peduli seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai oleh umat manusia, atau seberapa banyak teori atau misteri yang dipahami olehnya, bagi Tuhan tidak ada satu pun yang mampu menggantikan pembekalan-Nya, dan kepemimpinan-Nya bagi umat manusia; umat manusia selamanya tidak akan dapat dipisahkan dari bimbingan Tuhan dan pekerjaan pribadi Tuhan. Seperti demikianlah hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan Tuhan. Terlepas dari apakah Tuhan memberimu perintah, atau peraturan, atau memberikan kebenaran bagimu untuk memahami kehendak-Nya, tidak peduli apa yang Dia lakukan, tujuan Tuhan adalah untuk membimbing manusia menuju hari esok yang indah. Firman yang diucapkan oleh Tuhan dan pekerjaan yang dilakukan oleh-Nya, keduanya adalah penyingkapan salah satu aspek hakikat-Nya, dan merupakan penyingkapan salah satu aspek dari watak-Nya dan hikmat-Nya, semua itu merupakan langkah yang harus ada dalam rencana pengelolaan-Nya. Ini tidak boleh diabaikan! Kehendak Tuhan ada dalam apa pun yang Dia lakukan; Tuhan tidak takut pada pernyataan yang salah tempat, dan Dia juga tidak takut pada konsepsi atau pemikiran manusia tentang diri-Nya. Dia hanya melakukan pekerjaan-Nya, dan melanjutkan pengelolaan-Nya, sesuai dengan rencana pengelolaan-Nya, tidak dibatasi oleh orang, materi, atau objek apa pun.

OK, cukup sekian untuk hari ini. Sampai jumpa lain waktu!

9 November 2013

Catatan kaki:

a. Naskah asli tidak menyertakan "titel dari."

[b]. Naskah asli tidak menyertakan "kehilangan."

[c]. Naskah asli tidak menyertakan "yang telah pergi."

Sebelumnya:Perkataan Kedua Puluh Sembilan

Selanjutnya:Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan

Anda Mungkin Juga Menyukai