Aplikasi Seluler mengenai Gereja Tuhan Yang Mahakuasa

Mendengarkan suara Tuhan dan menyambut kedatangan Tuhan Yesus kembali!

Kami persilakan semua pencari kebenaran untuk menghubungi kami.

Penghakiman Dimulai dari Bait Tuhan

Warna yang Kuat

Tema

Font

Ukuran Font

Spasi Baris

Lebar laman

% Hasil Pencarian

Hasil tidak ditemukan

Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I Otoritas Tuhan (I)

Beberapa persekutuan terakhir-Ku membahas tentang pekerjaan Tuhan, watak Tuhan, dan Tuhan itu sendiri. Setelah menyimak persekutuan ini, apakah engkau semua merasa bahwa engkau semua telah memperoleh pemahaman dan pengetahuan akan watak Tuhan? Sebesar apakah pemahaman dan pengetahuan yang didapat? Bisakah engkau semua mengukurnya? Apakah persekutuan-persekutuan ini memberi engkau semua pemahaman yang lebih dalam akan Tuhan? Bisakah dikatakan bahwa pemahaman ini adalah pengetahuan sejati akan Tuhan? Bisakah dikatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman akan Tuhan seperti ini adalah pengetahuan akan seluruh hakikat Tuhan, dan semua yang dimiliki-Nya dan siapa Ia? Tidak, jelas tidak! Ini karena semua persekutuan ini hanya memberikan sebagian pemahaman tentang watak Tuhan, dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia—bukan semuanya, atau keseluruhannya. Persekutuan-persekutuan tersebut memampukanmu memahami bagian pekerjaan yang dahulu dituntaskan oleh Tuhan, yang melaluinya engkau semua telah melihat watak Tuhan, dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia, juga pendekatan dan pemikiran di balik setiap hal yang telah Dia lakukan. Namun, ini hanyalah pemahaman akan Tuhan secara harfiah dan lisan, dan, dalam hati, engkau semua tetap tidak yakin seberapa nyatakah itu. Apa yang paling menentukan adanya kenyataan pada pemahaman orang akan hal tersebut? Itu ditentukan oleh seberapa banyak firman dan watak Tuhan yang telah benar-benar mereka alami selama hidup mereka, dan seberapa mampu mereka melihat dan mengetahui selama pengalaman aktual ini. "Beberapa persekutuan terakhir memungkinkan kita untuk memahami hal-hal yang dilakukan oleh Tuhan, pikiran Tuhan, dan, terlebih lagi, sikap Tuhan terhadap umat manusia dan dasar tindakan-Nya, juga prinsip di balik tindakan-Nya. Dan kita mulai memahami watak Tuhan, dan telah mengetahui keutuhan Tuhan." Adakah orang yang pernah mengucapkan perkataan tersebut? Apakah perkataan ini benar? Jelas tidak. Dan mengapa Aku berkata bahwa itu tidak benar? Watak Tuhan, dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia, diungkapkan dalam hal-hal yang telah Dia lakukan dan firman yang telah Dia ucapkan. Manusia mampu melihat apa yang dimiliki oleh Tuhan dan siapa Tuhan itu melalui pekerjaan yang telah Dia lakukan dan firman yang telah Dia ucapkan, tetapi ini hanya berarti bahwa pekerjaan dan firman tersebut memungkinkan manusia untuk memahami bagian dari watak Tuhan, dan bagian dari apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Jika manusia ingin memperoleh pemahaman yang berlimpah dan mendalam akan Tuhan, manusia harus lebih banyak mengalami firman dan pekerjaan Tuhan. Meski manusia hanya memperoleh sebagian pemahaman tentang Tuhan saat mengalami bagian dari firman atau pekerjaan Tuhan, apakah sebagian pemahaman ini mewakili watak sejati Tuhan? Apakah itu mewakili hakikat Tuhan? Tentu saja, itu mewakili watak sejati Tuhan, dan hakikat Tuhan, itu tidak perlu diragukan lagi. Terlepas dari waktu atau tempatnya, atau dengan cara apa Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, atau dalam bentuk apa Dia menampakkan diri kepada manusia, atau dengan cara apa Dia mengungkapkan kehendak-Nya, semua yang Dia singkapkan dan ungkapkan mewakili Tuhan Itu Sendiri, hakikat Tuhan, dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dengan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia, dan dalam identitas-Nya yang sesungguhnya; ini sungguh benar. Namun, sekarang, orang-orang hanya memiliki sebagian pemahaman akan Tuhan melalui firman-Nya, dan melalui apa yang mereka dengar saat mereka menyimak khotbah, sehingga sampai ke taraf tertentu, pemahaman ini hanya bisa dikatakan sebagai suatu pengetahuan teoritis. Mengingat keadaanmu yang sebenarnya, engkau hanya bisa memastikan pemahaman atau pengetahuan akan Tuhan yang telah engkau dengar, lihat, atau ketahui dan pahami dalam hatimu saat ini jika masing-masing darimu menjalaninya dalam kehidupan nyata, dan mulai mengenalnya sedikit demi sedikit. Jika Aku tidak mempersekutukan firman ini bersamamu, apakah engkau semua akan mampu mencapai pengetahuan sejati akan Tuhan hanya melalui pengalamanmu? Melakukannya, Aku rasa, akan sangat sulit. Itu karena orang pertama-tama harus memiliki firman Tuhan guna mengetahui cara mengalami. Seberapa banyak firman Tuhan yang orang makan, itulah jumlah yang sebenarnya bisa mereka alami. Firman Tuhan membimbing jalan di depan, dan memandu manusia dalam pengalamannya. Singkatnya, bagi mereka yang memiliki beberapa pengalaman sejati, beberapa persekutuan belakangan ini akan membantu mereka mencapai pemahaman yang lebih dalam akan kebenaran, dan pengetahuan yang lebih realistis akan Tuhan. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman sejati, atau yang baru saja memulai pengalaman mereka, atau baru saja mulai membahas tentang kenyataan, ini adalah sebuah ujian yang sangat bagus.

Pokok utama dari beberapa persekutuan terakhir adalah tentang "watak Tuhan, pekerjaan Tuhan, dan Tuhan Itu Sendiri". Apa yang engkau semua lihat dalam bagian utama dan sentral dari setiap hal yang Aku bicarakan? Melalui persekutuan ini, apakah engkau semua mampu mengenali bahwa Dia yang melakukan pekerjaan, dan menyingkapkan watak-watak ini, adalah Tuhan Itu Sendiri yang Maha Esa, yang memegang kedaulatan atas segala sesuatu? Jika jawabanmu semua adalah "ya", lalu apa yang membuat engkau semua sampai pada kesimpulan tersebut? Melalui aspek apakah engkau semua sampai pada kesimpulan ini? Adakah yang bisa memberitahu-Ku? Aku tahu bahwa persekutuan terakhir begitu memengaruhimu, dan memberikan awal baru dalam hati engkau semua demi pengetahuanmu akan Tuhan, yang memang sangat bagus. Namun, meski engkau telah membuat lompatan sangat besar dalam pemahamanmu akan Tuhan dibandingkan dengan sebelumnya, definisimu tentang identitas Tuhan belum lepas dari nama Tuhan Yahweh dari Zaman Hukum Taurat, Tuhan Yesus dari Zaman Kasih Karunia, dan Tuhan Yang Mahakuasa dari Zaman Kerajaan. Yang berarti, meski persekutuan ini tentang "watak Tuhan, pekerjaan Tuhan, dan Tuhan Itu Sendiri" memberimu beberapa pemahaman akan firman yang pernah diucapkan oleh Tuhan, dan pekerjaan yang pernah diselesaikan oleh Tuhan, dan wujud serta harta yang dahulu diungkapkan oleh Tuhan, engkau semua tidak mampu memberikan definisi sejati dan orientasi akurat akan kata "Tuhan." Engkau semua juga tidak memiliki baik orientasi maupun pengetahuan sejati dan akurat akan status dan identitas Tuhan Sendiri, yang berarti, status Tuhan di antara segala sesuatu dan di seluruh penjuru alam semesta. Itu karena dalam persekutuan-persekutuan terdahulu tentang Tuhan Sendiri dan watak Tuhan, seluruh isinya didasarkan pada pengungkapan dan pewahyuan terdahulu oleh Tuhan yang dicatat dalam Alkitab. Namun, sulit bagi manusia untuk menemukan keberadaan dan harta yang dinyatakan dan diungkapkan oleh Tuhan selama, atau di luar, pengelolaan dan penyelamatan umat manusia oleh-Nya. Jadi, bahkan jika engkau semua memahami wujud dan harta Tuhan yang diungkapkan dalam pekerjaan yang pernah Dia lakukan, definisimu semua tentang identitas dan status Tuhan masih sangat jauh dari Tuhan yang Maha Esa, Ia yang memegang kedaulatan atas segala sesuatu, dan berbeda dari definisi Sang Pencipta. Beberapa persekutuan terakhir membuat setiap orang merasakan hal sama: Bagaimana bisa manusia mengetahui pikiran Tuhan? Jika seseorang benar-benar tahu, orang itu hampir pasti adalah Tuhan, karena hanya Tuhan Sendiri yang mengetahui pikiran-Nya sendiri, dan hanya Tuhan Sendiri yang mengetahui dasar dan pendekatan di balik setiap hal yang Dia lakukan. Sepertinya rasional dan logis bagimu untuk mengenal identitas Tuhan dengan cara demikian, tetapi siapa yang bisa mengetahui dari watak dan pekerjaan Tuhan bahwa ini benar-benar pekerjaan Tuhan Sendiri, dan bukan pekerjaan manusia, yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia atas nama Tuhan? Siapa bisa melihat bahwa pekerjaan ini berada dalam kedaulatan Dia yang memiliki hakikat dan kuasa Tuhan? Yaitu, melalui karakteristik atau hakikat apakah engkau semua mengenal bahwa Dia adalah Tuhan Itu Sendiri, yang memiliki identitas Tuhan, dan yang memegang kedaulatan atas segala sesuatu? Pernahkah engkau semua berpikir tentang hal tersebut? Jika belum, ini membuktikan satu fakta: beberapa persekutuan terakhir hanya memberimu beberapa pemahaman mengenai potongan sejarah ketika Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, dan mengenai pendekatan, perwujudan, dan pewahyuan Tuhan sepanjang pekerjaan tersebut. Meski pemahaman tersebut membuat masing-masing darimu mengakui tanpa ragu bahwa Pribadi yang melaksanakan dua tahap pekerjaan ini adalah Tuhan Sendiri yang engkau semua percayai dan ikuti, dan Pribadi yang senantiasa harus engkau ikuti, engkau masih tidak mampu mengakui bahwa Dia adalah Tuhan yang telah ada sejak penciptaan dunia, dan yang akan ada untuk selama-lamanya, dan engkau juga tidak mampu mengenali bahwa Dia adalah Pribadi yang memimpin dan memegang kedaulatan atas seluruh umat manusia. Engkau semua pasti belum pernah memikirkan masalah ini. Baik itu Tuhan Yahweh atau Tuhan Yesus, melalui aspek manakah dari hakikat dan perwujudan tersebut engkau dapat mengenali bahwa Dia bukan saja adalah Tuhan yang harus engkau semua ikuti, tetapi juga Pribadi yang memerintah umat manusia dan memegang kedaulatan atas nasib manusia, dan lebih dari itu, adalah Tuhan Itu Sendiri, yang Mahakuasa, yang memegang kedaulatan atas langit dan bumi dan segala sesuatu? Melalui saluran mana engkau semua mengenal bahwa Pribadi yang engkau semua percayai dan ikuti adalah Tuhan Itu Sendiri yang memegang kedaulatan atas segala sesuatu? Melalui saluran mana engkau semua menghubungkan Tuhan yang engkau percayai dengan Tuhan yang memegang kedaulatan atas nasib umat manusia? Apa yang memungkinkan engkau semua mengenali bahwa Tuhan yang engkau percayai adalah Tuhan Itu Sendiri yang Mahakuasa, yang ada di surga dan di bumi, dan di antara segala sesuatu? Ini adalah masalah yang akan Aku selesaikan di bagian selanjutnya.

Persoalan yang engkau semua tidak pernah pikirkan atau tidak dapat pikirkan bisa jadi merupakan masalah yang paling penting untuk mengenal Tuhan, dan yang di dalam itu kebenaran yang tidak terpahami bagi manusia bisa dicari. Ketika semua persoalan ini menimpamu, dan harus dihadapi oleh engkau semua, dan mengharuskanmu untuk membuat pilihan, jika engkau tidak dapat menyelesaikannya itu sepenuhnya karena kebodohan dan ketidaktahuanmu, atau karena pengalamanmu terlalu dangkal dan engkau semua tidak memiliki pengetahuan yang sejati akan Tuhan, semua itu akan menjadi penghalang terbesar dan rintangan terbesar di jalan kepercayaanmu kepada Tuhan. Jadi Aku merasa sangat perlu untuk bersekutu dengan engkau semua mengenai perihal ini. Apakah engkau mengetahui apakah masalahmu sekarang? Apakah engkau sudah paham tentang persoalan yang Aku bicarakan? Apakah ini persoalan yang engkau akan hadapi? Apakah semua itu persoalan yang engkau tidak pahami? Apakah semua itu persoalan yang belum pernah terjadi padamu? Apakah persoalan ini penting bagi engkau semua? Apakah semua itu benar-benar persoalan? Perkara ini merupakan sumber kebingungan bagimu, yang menunjukkan bahwa engkau semua tidak memiliki pemahaman sejati tentang Tuhan yang engkau percayai, dan bahwa engkau tidak menganggap diri-Nya secara serius. Beberapa orang berkata: "Aku tahu Dia adalah Tuhan, jadi aku mengikuti-Nya, karena firman-Nya adalah ungkapan Tuhan. Itu sudah cukup. Bukti apa lagi yang dibutuhkan? Tentunya kita tidak perlu mempertanyakan Tuhan? Tentunya kita tidak seharusnya menguji Tuhan? Tentunya kita tidak perlu mempertanyakan hakikat Tuhan dan identitas Tuhan Itu Sendiri?" Terlepas dari apakah engkau semua berpikir seperti ini, Aku tidak mengajukan pertanyaan seperti itu untuk membuatmu bingung tentang Tuhan, atau membuatmu menguji-Nya, apalagi membuatmu ragu tentang identitas dan hakikat Tuhan. Sebaliknya, Aku melakukannya untuk mendorong engkau semua memiliki pemahaman yang lebih besar tentang hakikat Tuhan, dan kepastian serta iman lebih besar tentang status Tuhan, sehingga Tuhan dapat menjadi satu-satunya Pribadi dalam hati semua orang yang mengikuti Tuhan, dan sehingga status asli Tuhan—sebagai Sang Pencipta, Penguasa segala sesuatu, Tuhan Itu Sendiri yang Maha Esa—dapat dipulihkan dalam hati setiap makhluk. Ini juga tema yang akan Aku kemukakan dalam persekutuan.

Sekarang mari kita mulai membaca ayat-ayat berikut dari Alkitab.

1. Tuhan Menggunakan Firman untuk Menciptakan Segala Sesuatu

Kejadian 1:3−5 Tuhan berfirman: "Jadilah terang." Dan terang pun jadi. Tuhan melihat terang itu baik: lalu Dia memisahkan terang dari gelap. Dan Tuhan menyebut terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah malam dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Kejadian 1:6−7 Tuhan berfirman: "Jadilah cakrawala di tengah air, untuk memisahkan air dari air." Maka Tuhan menciptakan cakrawala dan memisahkan air yang ada di atas cakrawala dan di bawah cakrawala maka jadilah demikian.

Kejadian 1:9−11 Tuhan berfirman: Hendaklah air di bawah langit berkumpul di satu tempat, dan tanah yang kering terlihat: maka jadilah demikian. Tuhan menyebut tanah yang kering itu Darat; dan air yang berkumpul itu disebut-Nya Laut: dan Tuhan melihat semuanya itu baik. Lalu Tuhan berfirman: "Hendaklah tanah menumbuhkan rumput, tanaman yang menghasilkan biji, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji sesuai jenisnya di bumi, maka jadilah demikian."

Kejadian 1:14−15 Tuhan berfirman: "Jadilah benda penerang di cakrawala di langit untuk memisahkan siang dari malam; dan biarlah mereka ada untuk menjadi penanda, yang menunjukkan musim, hari-hari, dan tahun-tahun. Biarlah benda-benda itu menjadi penerang di cakrawala di langit untuk menerangai bumi." Maka jadilah demikian.

Kejadian 1:20−21 Tuhan berfirman: "Hendaklah air menghasilkan banyak makhluk yang bergerak dan bernyawa dan ada burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala di langit." Maka Tuhan menciptakan binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang beregerak, yang ada di air, dan segala jenis burung bersayap. Tuhan melihat semuanya itu baik.

Kejadian 1:24−25 Tuhan berfirman: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala makhluk hidup sesuai jenisnya masing-masing, ternak dan binatang melata, dan binatang liar sesuai jenisnya masing-masing." Maka jadilah demikian. Tuhan menciptakan segala jenis binatang liar sesuai jenisnya masing-masing, segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata dan Tuhan melihat semuanya itu baik.

Pada Hari Pertama, Siang dan Malam Umat Manusia Dilahirkan dan Berdiri Teguh Berkat Otoritas Tuhan

Mari kita lihat nas pertama: "Tuhan berfirman: 'Jadilah terang.' Dan terang pun jadi. Tuhan melihat terang itu baik: lalu Dia memisahkan terang dari gelap. Dan Tuhan menyebut terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah malam dan jadilah pagi, itulah hari pertama" (Kejadian 1:3−5). Nas ini menjelaskan tindakan pertama Tuhan di awal penciptaan, dan hari pertama saat Tuhan lewat di mana ada malam dan pagi. Namun, itu adalah hari yang luar biasa: Tuhan mulai mempersiapkan terang untuk segala sesuatu, dan, terlebih lagi, memisahkan terang dari kegelapan. Pada hari ini, Tuhan mulai berbicara, dan firman serta otoritas-Nya hidup berdampingan. Otoritas-Nya mulai ditunjukkan di antara segala sesuatu, dan kuasa-Nya tersebar di antara segala sesuatu sebagai akibat dari firman-Nya. Mulai hari ini dan seterusnya, segala sesuatu dibentuk dan berdiri teguh karena firman Tuhan, otoritas Tuhan, dan kuasa Tuhan, dan mereka mulai berfungsi berkat firman Tuhan, otoritas Tuhan, dan kuasa Tuhan. Saat Tuhan berfirman, "Jadilah terang," maka terang pun jadi. Tuhan tidak memulai usaha apa pun; terang itu muncul karena firman-Nya. Ini adalah terang yang disebut oleh Tuhan sebagai siang, dan manusia masih hidup bergantung pada hal tersebut hingga hari ini. Atas perintah Tuhan, hakikat dan nilainya tidak pernah berubah, dan terang itu tidak pernah lenyap. Keberadaannya menunjukkan otoritas dan kuasa Tuhan, dan menyatakan keberadaan Sang Pencipta, dan menegaskan, berkali-kali, identitas dan status Sang Pencipta. Itu bukan nirwujud, maupun ilusi, tetapi merupakan terang nyata yang dapat dilihat oleh manusia. Sejak saat itu, dalam dunia yang kosong ini, saat "bumi tidak berbentuk dan kosong; dan kegelapan menutupi lautan yang dalam," dihasilkanlah hal materi pertama. Hal ini berasal dari firman yang keluar dari mulut Tuhan, dan muncul dalam tindakan pertama penciptaan segala sesuatu karena otoritas dan firman Tuhan. Segera setelah itu, Tuhan memerintahkan terang dan kegelapan untuk dipisahkan…. Segalanya berubah dan diselesaikan karena firman Tuhan…. Tuhan menyebut terang ini sebagai "Siang," dan kegelapan Dia sebut sebagai "Malam". Sejak saat itu, malam pertama dan pagi pertama dibuat dalam dunia yang ingin Tuhan ciptakan, dan Tuhan berfirman bahwa ini adalah hari pertama. Hari ini adalah hari pertama penciptaan segala sesuatu oleh Sang Pencipta, dan merupakan awal dari penciptaan segala sesuatu, dan merupakan kali pertama otoritas dan kuasa Sang Pencipta ditunjukkan dalam dunia yang telah Dia ciptakan ini.

Melalui firman ini, manusia dapat melihat otoritas Tuhan, dan otoritas firman Tuhan, dan kuasa Tuhan. Karena hanya Tuhan yang memiliki kuasa seperti itu, dan hanya Tuhan yang memiliki otoritas seperti itu, dan karena Tuhan memiliki otoritas seperti itu, dan hanya Tuhan yang memiliki kuasa seperti itu. Mungkinkah ada orang atau benda yang memiliki otoritas dan kuasa seperti ini? Apakah ada jawaban dalam hatimu semua? Selain Tuhan, apakah ada makhluk ciptaan atau bukan ciptaan yang memiliki otoritas seperti itu? Pernahkah engkau semua melihat contoh hal tersebut dalam buku atau publikasi lain apa pun? Apakah ada catatan bahwa seseorang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu? Itu tidak muncul dalam buku atau catatan lain; semua ini adalah, tentu saja, satu-satunya firman yang penuh kuasa dan kuat tentang penciptaan luar biasa dunia oleh Tuhan, yang dicatat dalam Alkitab, dan semua firman ini membuktikan otoritas kemahakuasaan Tuhan, dan identitas kemahakuasaan Tuhan. Bisakah otoritas dan kuasa seperti itu dikatakan melambangkan identitas unik Tuhan? Bisakah mereka dikatakan dimiliki oleh Tuhan, dan Tuhan sendiri? Tak diragukan lagi, hanya Tuhan Sendiri yang memiliki otoritas dan kuasa seperti itu! Otoritas dan kuasa ini tidak dapat dimiliki atau digantikan oleh makhluk ciptaan atau bukan ciptaan! Apakah ini salah satu karakteristik dari Tuhan yang Mahakuasa Itu Sendiri? Pernahkah engkau semua menyaksikannya? Firman-firman ini dengan cepat dan jelas memungkinkan orang untuk memahami fakta bahwa Tuhan memiliki otoritas yang unik, dan kuasa yang unik, dan Dia memiliki identitas dan status tertinggi. Dari persekutuan di atas, bisakah engkau semua berkata bahwa Tuhan yang engkau semua percayai adalah Tuhan Itu Sendiri yang Mahakuasa?

Pada Hari Kedua, Otoritas Tuhan Mengatur Air, dan Membuat Cakrawala, dan Ruang untuk Kelangsungan Hidup Manusia yang Paling Mendasar pun Muncul

Mari kita baca nas kedua dari Alkitab: "Tuhan berfirman: 'Jadilah cakrawala di tengah air, untuk memisahkan air dari air.' Maka Tuhan menciptakan cakrawala dan memisahkan air yang ada di atas cakrawala dan di bawah cakrawala, maka jadilah demikian" (Kejadian 1:6−7). Perubahan apa yang terjadi setelah Tuhan berkata, "Jadilah cakrawala di tengah air, untuk memisahkan air dari air"? Dalam Kitab Suci, dikatakan: "Maka Tuhan menciptakan cakrawala dan memisahkan air yang ada di atas cakrawala dan di bawah cakrawala." Apa hasilnya setelah Tuhan berbicara dan melakukan ini? Jawabannya ada di bagian terakhir dari nas tersebut: "maka jadilah demikian."

Dua kalimat pendek ini merekam peristiwa luar biasa, dan menggambarkan pemandangan indah—yaitu upaya Tuhan yang luar biasa saat mengatur air, dan menciptakan ruang tempat manusia bisa hidup …

Dalam gambar ini, air dan cakrawala muncul di depan mata Tuhan dalam sekejap, dan mereka dipisahkan oleh otoritas firman Tuhan, dan dipisahkan menjadi yang di atas dan di bawah dengan cara yang ditetapkan oleh Tuhan. Yang berarti, cakrawala yang diciptakan oleh Tuhan tidak hanya menutupi air di bawah, tetapi juga menopang air di atas. … Dalam hal ini, manusia tidak bisa melakukan apa pun kecuali menatap, tercengang, dan terkesiap kagum pada kemegahan pemandangan ketika Sang Pencipta memindahkan air, dan memerintahkan air, dan menciptakan cakrawala, dan berada di tampuk kekuatan otoritas-Nya. Melalui firman Tuhan, dan kuasa Tuhan, dan otoritas Tuhan, Tuhan mencapai prestasi besar lain. Bukankah ini kekuatan dari otoritas Sang Pencipta? Mari kita gunakan kitab suci untuk menjelaskan perbuatan Tuhan: Tuhan mengucapkan firman-Nya, dan karena firman Tuhan ini ada suatu cakrawala di tengah-tengah air. Pada waktu yang bersamaan, perubahan besar terjadi di ruang ini karena firman Tuhan ini, dan itu bukan perubahan dalam arti biasa, tetapi semacam substitusi saat yang tidak ada menjadi ada. Itu lahir dari pikiran Sang Pencipta, dan menjadi ada dari tidak ada karena firman yang diucapkan oleh Sang Pencipta, dan, terlebih lagi, mulai saat ini dan seterusnya itu akan ada dan tetap ada, demi Sang Pencipta, dan akan bergeser, berubah, dan diperbarui sesuai dengan pikiran Sang Pencipta. Nas ini menggambarkan tindakan kedua Sang Pencipta dalam penciptaan seluruh dunia oleh-Nya. Itu adalah pengungkapan lain dari otoritas dan kuasa Sang Pencipta, dan merupakan upaya perintis lain yang dilakukan oleh Sang Pencipta. Hari ini adalah hari kedua ketika Sang Pencipta lewat, sejak pembentukan dunia, dan hari indah lain bagi-Nya: Dia berjalan di antara terang, Dia menghadirkan cakrawala, Dia menata serta mengatur air, dan perbuatan-Nya, otoritas-Nya, dan kuasa-Nya mulai bekerja di hari yang baru …

Apakah ada cakrawala di tengah air sebelum Tuhan mengucapkan firman-Nya? Tentu saja tidak! Dan bagaimana setelah Tuhan berkata, "Jadilah cakrawala di tengah air"? Hal-hal yang direncanakan oleh Tuhan muncul; ada cakrawala di tengah air, dan air terpisah karena Tuhan berfirman "untuk memisahkan air dari air." Dengan cara ini, seturut firman Tuhan, dua objek baru, dua hal yang baru lahir, muncul di antara segala sesuatu sebagai hasil dari otoritas dan kuasa Tuhan. Dan bagaimana perasaan engkau semua mengenai kemunculan dua hal baru ini? Apakah engkau merasakan kebesaran kuasa Sang Pencipta? Apakah engkau merasakan kekuatan Sang Pencipta yang unik dan luar biasa? Kebesaran dari kekuatan dan kuasa tersebut adalah berkat otoritas Tuhan, dan otoritas ini adalah representasi dari Tuhan Sendiri, dan karakteristik unik dari Tuhan Itu Sendiri.

Apakah nas ini memberimu pengertian lain yang mendalam tentang keunikan Tuhan? Tetapi ini jauh dari cukup; otoritas dan kuasa Sang Pencipta jauh melampaui ini. Keunikan-Nya bukan hanya karena Dia memiliki hakikat yang berbeda dengan makhluk apa pun, tetapi juga karena otoritas dan kuasa-Nya luar biasa, tak terbatas, berada di atas segalanya, dan berdiri di atas segalanya, dan, terlebih lagi, karena otoritas-Nya dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia dapat menciptakan kehidupan, dan menghasilkan keajaiban, juga dapat menciptakan setiap menit dan detik yang spektakuler dan luar biasa, dan di saat yang sama, Dia mampu mengatur kehidupan yang Dia ciptakan, dan memegang kedaulatan atas mukjizat dan setiap menit dan detik yang Dia ciptakan.

Pada Hari Ketiga, Firman Tuhan Melahirkan Bumi dan Laut, dan Otoritas Tuhan Menyebabkan Dunia Dipenuhi dengan Kehidupan

Selanjutnya, mari kita baca kalimat pertama dari Kejadian 1: 9−11: "Tuhan berfirman: Hendaklah air di bawah langit berkumpul di satu tempat, dan tanah yang kering terlihat." Perubahan apa yang terjadi setelah Tuhan semata-mata berfirman: "Hendaklah air di bawah langit berkumpul di satu tempat, dan tanah yang kering terlihat"? Dan apa yang ada di ruang ini selain terang dan cakrawala? Dalam Kitab Suci ada tertulis: "Tuhan menyebut tanah yang kering itu Darat; dan air yang berkumpul itu disebut-Nya Laut: dan Tuhan melihat semuanya itu baik." Yang berarti, sekarang ada daratan dan laut di ruang ini, dan daratan serta laut dipisahkan. Kemunculan hal-hal baru ini seturut perintah dari mulut Tuhan: "maka jadilah demikian." Apakah Kitab Suci menggambarkan Tuhan sedang menyibukkan diri ketika Dia sedang melakukan ini? Apakah itu menggambarkan diri-Nya melakukan kerja fisik? Jadi, bagaimana semua ini dilakukan oleh Tuhan? Bagaimana Tuhan membuat semua hal baru ini menjadi ada? Jelas sekali, Tuhan menggunakan firman untuk mencapai semua ini, untuk menciptakan keseluruhan hal ini.

Dalam ketiga nas di atas, kita telah belajar tentang terjadinya tiga peristiwa besar. Ketiga peristiwa besar ini muncul, dan dihadirkan dalam kehidupan, melalui firman Tuhan, dan karena firman-Nya, satu demi satu, mereka muncul di hadapan mata Tuhan. Jadi, dapat dilihat bahwa "Tuhan berbicara, maka terjadilah; Dia berfirman, maka tetap ada" bukanlah firman kosong. Hakikat Tuhan ini serta-merta menegaskan bahwa pikiran-Nya terbentuk, dan ketika Tuhan membuka mulut-Nya untuk berbicara, hakikat-Nya tercermin secara penuh.

Mari kita lanjutkan ke kalimat terakhir dari nas ini: "Lalu Tuhan berfirman: Hendaklah tanah menumbuhkan rumput, tanaman yang menghasilkan biji, dan pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji sesuai jenisnya di bumi, maka jadilah demikian." Saat Tuhan berfirman, segala sesuatu menjadi ada seturut pikiran Tuhan, dan serta-merta, berbagai macam bentuk kehidupan kecil yang lembut bergoyang-goyang menyembulkan kepala mereka dari tanah, dan bahkan sebelum mereka sempat meluruhkan tanah dari tubuh mereka, mereka dengan semangat saling melambaikan tangan untuk menyapa, mengangguk, dan tersenyum kepada dunia. Mereka berterima kasih kepada Sang Pencipta atas kehidupan yang Dia anugerahkan kepada mereka, dan mengumumkan kepada dunia bahwa mereka adalah bagian dari segala sesuatu, dan bahwa mereka masing-masing akan mengabdikan hidup mereka untuk menunjukkan otoritas Sang Pencipta. Ketika firman Tuhan diucapkan, tanah menjadi subur dan hijau, semua jenis herba yang dapat dinikmati oleh manusia muncul dan mencuat dari tanah, dan pegunungan serta dataran menjadi rimbun dipadati oleh pepohonan dan hutan. … Dunia yang gersang ini, yang tidak memiliki secercah pun kehidupan, dengan cepat ditutupi dengan lebat oleh rumput, herba dan pepohonan yang melimpah dan dipenuhi dengan tanaman hijau. … Keharuman rumput dan aroma tanah menyebar melalui udara, dan berbagai macam tanaman mulai bernapas bersama dengan sirkulasi udara, dan memulai proses bertumbuh. Di saat yang sama, berkat firman Tuhan dan dengan mengikuti jalan pikiran Tuhan, semua tanaman memulai siklus kehidupan abadi ketika mereka bertumbuh, berkembang, berbuah, dan berkembang biak. Mereka mulai benar-benar mematuhi alur hidup mereka masing-masing, dan mulai melakukan peran mereka masing-masing di antara segala sesuatu. … Mereka semua lahir, dan hidup, karena firman Sang Pencipta. Mereka akan menerima perbekalan dan makanan yang tak berkesudahan dari Sang Pencipta, dan akan selalu bertahan hidup dengan gigih di setiap pelosok negeri untuk menunjukkan otoritas dan kuasa Sang Pencipta, dan mereka akan selalu menunjukkan kekuatan hidup yang diberikan kepada mereka oleh Sang Pencipta …

Kehidupan Sang Pencipta luar biasa, pikiran-Nya luar biasa, dan otoritas-Nya luar biasa, dan demikianlah, pada saat firman-Nya diucapkan, hasil akhirnya adalah "maka jadilah demikian." Jelas, Tuhan tidak perlu bekerja dengan tangan-Nya ketika Dia bertindak; Dia hanya menggunakan pikiran-Nya untuk bertitah, dan firman-Nya untuk memerintah, dan dengan cara ini segala hal tercapai. Pada hari ini, Tuhan mengumpulkan air bersama-sama ke satu tempat, dan memungkinkan daratan muncul, setelah itu Tuhan membuat rumput tumbuh dari tanah, dan herba tumbuh yang menghasilkan biji-bijian, dan pepohonan berbuah, dan Tuhan menggolongkan mereka masing-masing menurut jenisnya, dan menyebabkan masing-masing mengandung benihnya sendiri. Semua ini terwujud sesuai dengan pikiran Tuhan dan perintah firman Tuhan, dan masing-masing muncul, satu demi satu, di dunia yang baru ini.

Ketika Dia belum memulai pekerjaan-Nya, Tuhan sudah memiliki gambaran tentang apa yang ingin Dia capai dalam benak-Nya, dan ketika Tuhan mulai melakukannya, yaitu ketika Tuhan membuka mulut-Nya untuk berbicara tentang isi dari gambaran ini, perubahan dalam segala sesuatu mulai terjadi berkat otoritas dan kuasa Tuhan. Terlepas dari bagaimana Tuhan melakukannya, atau mengerahkan otoritas-Nya, semua telah dicapai langkah demi langkah sesuai dengan rencana Tuhan dan karena firman Tuhan, dan langkah demi langkah perubahan terjadi antara surga dan bumi berkat firman dan otoritas Tuhan. Semua perubahan dan kejadian ini menunjukkan otoritas Sang Pencipta, dan keagungan serta kebesaran kuasa kehidupan Sang Pencipta. Pemikiran-Nya bukanlah gagasan sederhana, atau gambaran kosong, melainkan otoritas yang memiliki vitalitas dan energi luar biasa, dan semua itu adalah kuasa untuk menyebabkan semua hal berubah, pulih, diperbarui, dan binasa. Dan karena ini, segala sesuatu berfungsi karena pikiran-Nya, dan, di saat yang sama, dicapai karena firman dari mulut-Nya. …

Sebelum segala sesuatu muncul, rencana yang lengkap telah lama terbentuk dalam pemikiran Tuhan, dan dunia baru telah lama dicapai. Meskipun pada hari ketiga muncul segala macam tanaman di daratan, Tuhan tidak memiliki alasan untuk menghentikan langkah penciptaan dunia ini oleh-Nya; Dia bermaksud untuk terus mengucapkan firman-Nya, untuk terus mencapai penciptaan setiap hal baru. Dia akan berbicara, akan mengeluarkan perintah-Nya, dan akan mengerahkan otoritas-Nya serta menunjukkan kuasa-Nya, dan Dia mempersiapkan setiap hal yang telah Dia rencanakan untuk mempersiapkan segala sesuatu dan umat manusia yang hendak Dia ciptakan….

Pada Hari Keempat, Musim, Hari, dan Tahun Umat Manusia Menjadi Ada saat Tuhan Sekali Lagi Mengerahkan Otoritas-Nya

Sang Pencipta menggunakan firman-Nya untuk menyelesaikan rencana-Nya, dan dengan cara ini Dia melewatkan tiga hari pertama dari rencana-Nya. Selama tiga hari ini, Tuhan tidak terlihat sibuk, atau membuat diri-Nya lelah; sebaliknya, Dia melewatkan tiga hari pertama yang indah dari rencana-Nya, dan mencapai upaya transformasi radikal dunia yang luar biasa. Sebuah dunia baru muncul di depan mata-Nya, dan, sepotong demi sepotong, gambar indah yang telah terpatri dalam pikiran-Nya akhirnya diungkapkan dalam firman Tuhan. Kemunculan setiap hal baru adalah seperti kelahiran bayi, dan Sang Pencipta merasa senang dengan gambar yang pernah ada dalam pikiran-Nya, tetapi yang sekarang sudah dihidupkan. Pada saat ini, hati-Nya mendapat sedikit kepuasan, tetapi rencana-Nya baru saja dimulai. Dalam sekejap mata, hari baru telah tiba—dan apa babak berikutnya dalam rencana Sang Pencipta? Apa yang telah Dia katakan? Dan bagaimana Dia telah mengerahkan otoritas-Nya? Dan, di saat yang sama, hal-hal baru apa yang masuk ke dunia baru ini? Dengan mengikuti petunjuk Sang Pencipta, pandangan kita jatuh pada hari keempat penciptaan segala sesuatu oleh Tuhan, hari yang merupakan awal baru yang lain. Tentu saja, bagi Sang Pencipta, itu tidak diragukan lagi adalah hari yang indah, dan hari lain yang paling penting bagi umat manusia zaman sekarang. Itu, tentu saja, adalah hari yang tak ternilai harganya. Bagaimana indahnya, bagaimana itu begitu penting, dan bagaimana tak ternilai harganya? Mari kita dengarkan dahulu firman yang diucapkan oleh Sang Pencipta. …

"Tuhan berfirman: Jadilah benda penerang di cakrawala di langit untuk memisahkan siang dari malam; dan biarlah mereka ada untuk menjadi penanda, yang menunjukkan musim, hari-hari, dan tahun-tahun. Biarlah benda-benda itu menjadi penerang di cakrawala di langit untuk menerangi bumi" (Kejadian 1:14−15). Ini adalah pengerahan lain otoritas Tuhan yang ditunjukkan oleh pelbagai makhluk setelah penciptaan daratan dan tanaman di dalamnya oleh-Nya. Bagi Tuhan, tindakan seperti itu sama mudahnya, karena Tuhan memiliki kuasa seperti itu; Tuhan sungguh dapat dipercaya sebagaimana halnya firman-Nya, dan firman-Nya harus digenapi. Tuhan memerintahkan terang untuk muncul di surga, dan terang ini tidak hanya bersinar di langit dan di atas bumi, tetapi juga menandai siang dan malam, musim, hari, dan tahun. Dengan cara ini, ketika Tuhan mengucapkan firman-Nya, setiap tindakan yang ingin Tuhan capai digenapi sesuai dengan makna Tuhan dan dengan cara yang ditetapkan oleh Tuhan.

Cahaya di angkasa adalah benda di langit yang dapat memancarkan cahaya; mereka dapat menerangi langit, dan dapat menerangi daratan serta laut. Mereka berputar sesuai dengan irama dan frekuensi yang diperintahkan oleh Tuhan, dan menerangi jangka waktu yang berbeda di darat, dan dengan cara ini siklus revolusi cahaya menyebabkan siang dan malam muncul di timur dan barat daratan, dan mereka bukan hanya menandai malam dan siang, tetapi melalui siklus yang berbeda ini mereka juga menandai perayaan dan hari-hari khusus umat manusia. Mereka adalah pelengkap yang sempurna dan pengiring empat musim—musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin—yang dikeluarkan oleh Tuhan, bersama dengan itu cahaya secara harmonis berfungsi sebagai tanda yang teratur dan akurat untuk jangka waktu bulan, hari, dan tahun umat manusia. Meski baru setelah kemunculan pertanian umat manusia mulai memahami dan menemukan pemisahan jangka waktu bulan, hari, dan tahun yang disebabkan oleh terang yang diciptakan oleh Tuhan, sebenarnya jangka waktu bulan, hari, dan tahun yang dipahami manusia saat ini mulai dibuat sejak lama pada hari keempat penciptaan segala sesuatu oleh Tuhan, dan demikian pula siklus-siklus musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin yang saling berganti yang dialami oleh manusia sudah lama dimulai sejak hari keempat penciptaan Tuhan atas segala sesuatu. Terang yang diciptakan oleh Tuhan memungkinkan manusia untuk secara teratur, tepat, dan jelas membedakan antara malam dan siang, dan menghitung hari-hari, dan dengan jelas melacak jangka waktu bulan dan tahun. (Hari bulan purnama menandai berakhirnya satu bulan, dan dari ini, orang tahu bahwa terang cahaya memulai siklus baru; hari setengah bulan menandai berakhirnya setengah bulan, yang memberi tahu manusia bahwa jangka waktu bulan baru dimulai, sehingga dapat disimpulkan ada berapa hari dan malam dalam satu jangka waktu bulan, berapa banyak jangka waktu bulan dalam satu musim, dan berapa musim dalam setahun, dan semua itu secara teratur ditampilkan.) Maka, manusia dapat dengan mudah melacak jangka waktu bulan, hari, dan tahun yang ditandai oleh revolusi cahaya. Mulai saat ini dan seterusnya, umat manusia dan segala sesuatu tanpa sadar hidup di antara pertukaran malam dan siang yang teratur serta pergantian musim yang dihasilkan oleh revolusi cahaya. Ini adalah signifikansi penciptaan cahaya oleh Sang Pencipta pada hari keempat. Demikian pula, tujuan dan signifikansi dari tindakan Sang Pencipta ini masih tidak dapat dipisahkan dari otoritas dan kuasa-Nya. Maka, terang yang dibuat oleh Tuhan dan nilai yang akan segera mereka hadirkan bagi manusia adalah akal sempurna lain dalam pengerahan otoritas Sang Pencipta.

Di dunia baru ini, di mana umat manusia belum muncul, Sang Pencipta telah mempersiapkan malam dan pagi, cakrawala, daratan dan laut, rumput, herba dan berbagai jenis pohon, dan terang, musim, hari, dan tahun untuk kehidupan baru yang akan segera Dia ciptakan. Otoritas dan kuasa Sang Pencipta diungkapkan dalam setiap hal baru yang Dia ciptakan, dan firman dan pencapaian-Nya terjadi secara bersamaan, tanpa sedikit pun perbedaan, dan tanpa sedikit pun interval. Kemunculan dan kelahiran semua hal baru ini adalah bukti otoritas dan kuasa Sang Pencipta: Dia sungguh dapat dipercaya sebagaimana halnya firman-Nya, dan firman-Nya harus digenapi, dan apa yang digenapi bertahan untuk selamanya. Fakta ini belum pernah berubah: seperti itu di masa lalu, seperti itu saat ini, dan akan seperti itu selama-lamanya. Ketika engkau semua melihat firman dalam kitab suci sekali lagi, apakah semua itu terasa baru bagimu? Pernahkah engkau semua melihat isi baru, dan membuat penemuan baru? Itu karena perbuatan Sang Pencipta telah menggerakkan hati engkau semua, dan menuntun arah pengetahuanmu tentang otoritas serta kuasa-Nya, dan membuka pintu bagi pemahamanmu tentang Sang Pencipta, dan perbuatan serta otoritas-Nya telah menggenapi firman ini. Maka dalam firman ini manusia telah melihat suatu pengungkapan nyata dan jelas dari otoritas Sang Pencipta, dan benar-benar menyaksikan supremasi Sang Pencipta, dan melihat keagungan otoritas dan kuasa Sang Pencipta.

Otoritas dan kuasa Sang Pencipta menghasilkan mukjizat demi mukjizat, dan Dia menarik perhatian manusia, dan manusia tidak bisa melakukan apa pun selain menatap terpaku pada perbuatan luar biasa yang lahir dari pengerahan otoritas-Nya. Kuasa-Nya yang fenomenal membawa kegembiraan demi kegembiraan, dan manusia menjadi terpesona serta riang gembira, dan dia tercengang karena kagum, terpesona, dan bersorak sorai; terlebih lagi, manusia tampak tergerak, dan dalam dirinya timbul rasa hormat, pemujaan, dan keterikatan. Otoritas dan perbuatan Sang Pencipta memiliki dampak besar terhadap roh manusia, dan menahirkan roh manusia, dan, lebih lagi, memuaskan roh manusia. Setiap pikiran-Nya, setiap ucapan-Nya, dan setiap pewahyuan dari otoritas-Nya adalah mahakarya di antara segala sesuatu, dan merupakan upaya luar biasa yang paling layak untuk pemahaman dan pengetahuan mendalam umat manusia sebagai ciptaan. Ketika kita menghitung setiap makhluk yang lahir dari firman Sang Pencipta, roh kita tertarik pada keajaiban kuasa Tuhan, dan kita menjadi mengikuti jejak Sang Pencipta sampai keesokan harinya: hari kelima penciptaan Tuhan atas segala hal.

Mari kita lanjutkan membaca nas demi nas dalam Kitab Suci, sambil melihat lebih banyak lagi perbuatan Sang Pencipta.

Pada Hari Kelima, Kehidupan dengan Macam dan Ragam Bentuk Memperlihatkan Otoritas Sang Pencipta dengan Berbagai Cara

Kitab Suci mengatakan, “Tuhan berfirman: 'Hendaklah air menghasilkan banyak makhluk yang bergerak dan bernyawa dan ada burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala di langit.' Maka Tuhan menciptakan binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang ada di air, dan segala jenis burung bersayap. Tuhan melihat semuanya itu baik” (Kejadian 1:20−21). Kitab Suci dengan jelas mengatakan kepada kita bahwa, pada hari ini, Tuhan membuat makhluk di air dan burung di udara, yang berarti bahwa Dia menciptakan berbagai ikan dan burung, dan mengelompokkan mereka masing-masing menurut jenisnya. Dengan cara ini, bumi, langit, dan air diperkaya oleh penciptaan Tuhan …

Saat firman Tuhan diucapkan, kehidupan baru yang segar, masing-masing dengan bentuk yang berbeda, langsung menjadi hidup di tengah-tengah firman Sang Pencipta. Mereka datang ke dunia dan berebut posisi, melompat, bermain-main demi kesenangan. … Ikan dalam segala bentuk dan ukuran berenang di air, kerang-kerangan dari berbagai jenis tumbuh dari pasir, makhluk bersisik, bercangkang, dan tak bertulang dengan cepat tumbuh dalam berbagai bentuk, baik besar maupun kecil, panjang maupun pendek. Demikian pula berbagai jenis rumput laut mulai tumbuh dengan cepat, bergoyang mengikuti gerakan berbagai kehidupan akuatik, naik turun, mendorong air yang stagnan, seolah-olah berkata kepada mereka: Goyangkan kaki! Ajaklah temanmu juga! Karena engkau tidak akan pernah merasa sendirian lagi! Sejak berbagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan muncul di air, setiap kehidupan baru yang segar membawa vitalitas bagi air yang telah lama diam, dan mengantarkan sebuah era baru. … Sejak saat itu, mereka bersandar satu sama lain, dan saling menjaga satu sama lain, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain. Air itu ada untuk makhluk yang berada di dalamnya, memelihara setiap kehidupan yang hidup dalam pelukannya, dan setiap kehidupan ada demi air karena makanannya. Masing-masing memberikan kehidupan kepada yang lain, dan di saat yang sama, masing-masing, dengan cara serupa, memberikan kesaksian tentang keajaiban dan keagungan penciptaan Sang Pencipta, dan tentang kuasa otoritas Sang Pencipta yang tak tertandingi …

Ketika laut tidak lagi hening, demikian juga kehidupan mulai mengisi langit. Satu per satu, burung, besar dan kecil, terbang ke langit dari tanah. Tidak seperti makhluk laut, mereka memiliki sayap dan bulu yang menutupi tubuh mereka yang langsing dan anggun. Mereka mengepak-ngepakkan sayap mereka, dengan bangga dan angkuh menampilkan bulu-bulu cantik mereka serta fungsi dan keterampilan khusus yang diberikan kepada mereka oleh Sang Pencipta. Mereka melayang bebas, dan dengan terampil meluncur antara langit dan bumi, melintasi padang rumput dan hutan. … Mereka adalah mahkluk kesayangan di udara, mereka adalah mahkluk kesayangan dari segala hal. Mereka akan segera menjadi penghubung antara surga dan bumi, dan akan meneruskan pesan kepada segala hal. … Mereka bernyanyi, dengan gembira mereka menukik, mereka membawa sorak-sorai, tawa, dan semangat kepada dunia yang dahulu kosong ini. … Mereka menggunakan nyanyian mereka yang merdu dan jernih, menggunakan perkataan dalam hati mereka untuk memuji Sang Pencipta karena kehidupan yang dianugerahkan kepada mereka. Mereka dengan riang menari untuk menunjukkan kesempurnaan dan keajaiban penciptaan Sang Pencipta, dan akan mengabdikan seluruh hidup mereka untuk memberikan kesaksian tentang otoritas Sang Pencipta melalui kehidupan khusus yang telah Dia berikan kepada mereka …

Terlepas dari apakah mereka berada di air, atau di langit, atas perintah Sang Pencipta, kebanyakan makhluk hidup ini ada dalam konfigurasi kehidupan berbeda, dan atas perintah Sang Pencipta, mereka berkumpul bersama menurut spesies mereka masing-masing—dan hukum ini, aturan ini, tidak dapat diubah oleh makhluk apa pun. Mereka tidak pernah berani melampaui batas yang ditetapkan untuk mereka oleh Sang Pencipta, dan mereka juga tidak mampu melakukannya. Sebagaimana ditentukan oleh Sang Pencipta, mereka hidup dan berkembang biak, dan dengan sadar mematuhi jalan hidup dan hukum yang ditetapkan untuk mereka oleh Sang Pencipta, dan secara sadar mematuhi perintah-Nya yang tak tertulis dan aturan serta ajaran surgawi yang Dia berikan kepada mereka, dari dahulu hingga hari ini. Mereka berbincang dengan Sang Pencipta dengan cara khusus mereka sendiri, dan mulai menghargai makna Sang Pencipta, dan mematuhi perintah-Nya. Tidak seorang pun pernah melanggar otoritas Sang Pencipta, dan kedaulatan serta perintah-Nya atas mereka diberikan dalam pikiran-Nya; tidak sepatah kata pun dikeluarkan, tetapi otoritas yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta mengendalikan segala hal dalam keheningan tanpa fungsi bahasa, yang berbeda dari umat manusia. Pengerahan otoritas-Nya dengan cara khusus ini mendorong manusia untuk memperoleh pengetahuan baru, dan membuat penafsiran baru terhadap otoritas unik Sang Pencipta. Di sini, Aku harus memberi tahu engkau semua bahwa pada hari yang baru ini, pengerahan otoritas Sang Pencipta sekali lagi menunjukkan keunikan Sang Pencipta.

Selanjutnya, mari kita lihat kalimat terakhir dari nas kitab suci ini: "Tuhan melihat semuanya itu baik." Menurut engkau semua apa artinya ini? Emosi Tuhan terkandung dalam firman ini. Tuhan menyaksikan segala sesuatu yang diciptakan-Nya menjadi hidup dan tetap ada karena firman-Nya, dan secara bertahap mulai berubah. Pada saat ini, apakah Tuhan puas dengan berbagai hal yang telah Dia buat dengan firman-Nya, dan berbagai tindakan yang telah Dia capai? Jawabannya adalah bahwa "Tuhan melihat semuanya itu baik." Apakah yang engkau semua lihat di sini? Apakah maksud dari "Tuhan melihat semuanya itu baik"? Apa yang disimbolkannya? Itu berarti bahwa Tuhan memiliki kuasa dan hikmat untuk mencapai yang telah Dia rencanakan dan tentukan, untuk mencapai sasaran yang telah Dia capai. Ketika Tuhan menyelesaikan setiap tugas, apakah Dia merasa menyesal? Jawabannya masih sama, bahwa "Tuhan melihat semuanya itu baik." Dengan kata lain, Dia bukan hanya merasa tidak menyesal, melainkan sebaliknya, Ia justru puas. Apa artinya bahwa Dia tidak merasa menyesal? Itu berarti bahwa rencana Tuhan sempurna, bahwa kuasa dan kebijaksanaan-Nya sempurna, dan hanya karena otoritas-Nya kesempurnaan seperti itu dapat dicapai. Ketika manusia melakukan suatu tugas, dapatkah dia, seperti Tuhan, melihat bahwa itu baik? Bisakah semua yang dilakukan manusia mencapai kesempurnaan? Bisakah manusia menyelesaikan sesuatu sekaligus untuk selamanya? Seperti yang manusia katakan: "tidak ada yang sempurna, hanya lebih baik," tidak ada yang manusia lakukan yang dapat mencapai kesempurnaan. Ketika Tuhan melihat bahwa semua yang telah Dia lakukan dan capai adalah baik, segala sesuatu yang dibuat oleh Tuhan ditentukan oleh firman-Nya, yaitu bahwa, "Tuhan melihat semuanya itu baik," semua yang telah Dia buat memiliki bentuk permanen, digolongkan menurut jenisnya, dan diberi posisi, tujuan, dan fungsi yang tetap, sekaligus dan untuk selama-lamanya. Selain itu, peran mereka di antara segala sesuatu, dan perjalanan yang harus mereka ambil selama pengelolaan Tuhan atas segala hal, telah ditentukan oleh Tuhan, dan tidak dapat diubah. Ini adalah hukum surgawi yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk segala sesuatu.

"Tuhan melihat semuanya itu baik," firman sederhana yang kurang dihargai ini, yang begitu sering diabaikan, adalah firman hukum surgawi dan titah surgawi yang diberikan kepada semua makhluk oleh Tuhan. Firman tersebut adalah perwujudan lain dari otoritas Sang Pencipta, yang lebih praktis, dan lebih mendalam. Melalui firman-Nya, Sang Pencipta tidak hanya mampu mendapatkan semua yang ingin Dia dapatkan, dan mencapai semua yang ingin Dia capai, tetapi juga bisa mengendalikan secara langsung semua yang telah Dia ciptakan, dan memerintah segala sesuatu yang telah Dia buat di bawah otoritas-Nya, dan, lebih jauh lagi, semua itu bersifat sistematis dan teratur. Segala hal juga hidup dan mati oleh firman-Nya dan, terlebih lagi, oleh otoritas-Nya mereka ada di tengah-tengah hukum yang telah Dia tetapkan, dan tidak satu pun dikecualikan! Hukum ini dimulai pada saat yang tepat bahwa "Tuhan melihat semuanya itu baik," dan itu akan ada, berlangsung, dan berfungsi demi rencana pengelolaan Tuhan sampai hari itu dicabut oleh Sang Pencipta! Otoritas unik Sang Pencipta diwujudkan bukan hanya dalam kemampuan-Nya untuk menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan segala sesuatu untuk menjadi hidup, tetapi juga dalam kemampuan-Nya untuk mengatur serta memegang kedaulatan atas segala sesuatu, dan menganugerahkan kehidupan serta vitalitas atas segala sesuatu, dan, terlebih lagi, dalam kemampuan-Nya untuk menyebabkan, sekaligus dan untuk selamanya, segala sesuatu yang ingin Dia ciptakan dalam rencana-Nya untuk muncul dan ada di dunia yang dibuat oleh-Nya dalam bentuk yang sempurna, dan struktur kehidupan yang sempurna, dan peran sempurna. Demikian juga hal itu diwujudkan dengan cara bahwa pikiran Sang Pencipta tidak tunduk pada batasan apa pun, tidak dibatasi oleh waktu, ruang, atau geografi. Seperti otoritas-Nya, identitas unik Sang Pencipta tidak akan pernah berubah, dari keabadian menjadi keabadian. Otoritas-Nya akan selalu menjadi representasi dan simbol identitas-Nya yang unik, dan otoritas-Nya akan terus ada berdampingan dengan identitas-Nya!

Pada Hari Keenam, Sang Pencipta Berbicara, dan Setiap Jenis Makhluk Hidup dalam Pikiran-Nya Muncul, Satu Demi Satu

Tak terasa, pekerjaan Sang Pencipta untuk membuat segala sesuatu telah berlangsung selama lima hari, dan segera setelah itu Sang Pencipta menyambut hari keenam penciptaan-Nya atas segala sesuatu. Hari ini adalah awal lain yang baru, dan hari lain yang luar biasa. Lalu, apa rencana Sang Pencipta menjelang hari baru ini? Makhluk baru apa yang akan Dia buat, yang akan Dia ciptakan? Dengar, itulah suara Sang Pencipta. …

"Tuhan berfirman: 'Hendaklah bumi mengeluarkan segala makhluk hidup sesuai jenisnya masing-masing, ternak dan binatang melata, dan binatang liar sesuai jenisnya masing-masing.' Maka jadilah demikian. Tuhan menciptakan segala jenis binatang liar sesuai jenisnya masing-masing sesuai jenisnya masing-masing, segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata dan Tuhan melihat semuanya itu baik" (Kejadian 1:24−25). Ini termasuk makhluk hidup apa saja? Kitab Suci mengatakan: ternak, dan binatang merayap, juga satwa liar di bumi menurut jenisnya. Yang berarti bahwa, pada hari ini segala jenis makhluk hidup di bumi tidak hanya ada, tetapi juga diklasifikasikan menurut jenisnya, dan, juga, "Tuhan melihat semuanya itu baik."

Sama seperti lima hari sebelumnya, dengan nada yang sama, pada hari keenam Sang Pencipta memerintahkan kelahiran makhluk hidup yang Dia inginkan, dan bahwa mereka muncul di bumi, masing-masing menurut jenisnya. Ketika Sang Pencipta memberikan otoritas-Nya, tidak satu pun dari firman-Nya diucapkan dengan sia-sia, dan demikianlah, pada hari keenam, setiap makhluk hidup yang Dia hendak ciptakan muncul pada waktu yang ditentukan. Seperti yang dikatakan oleh Sang Pencipta, "Hendaklah bumi mengeluarkan segala makhluk hidup sesuai jenisnya masing-masing," bumi serta-merta dipenuhi dengan kehidupan, dan di daratan tiba-tiba segala macam makhluk hidup mulai bernafas. … Di padang belantara berumput hijau, sapi gemuk yang mengayun-ayunkan ekornya ke sana kemari muncul satu demi satu, domba-domba yang mengembik berkumpul dalam kawanan, dan kuda yang meringkik mulai berlari. … Dalam sekejap, hamparan luas padang rumput sunyi dipadati dengan kehidupan. … Kemunculan aneka ternak ini adalah pemandangan yang indah di padang rumput nan tenteram, dan membawa serta vitalitas tanpa batas…. Mereka akan menjadi teman sepadang rumput, dan penguasa padang rumput, yang masing-masing bergantung pada satu sama lain; mereka juga akan menjadi penjaga dan pengurus tanah-tanah ini, yang akan menjadi habitat permanen mereka, dan yang akan memberi mereka semua yang mereka butuhkan, sumber makanan abadi untuk kehidupan mereka …

Pada hari yang sama saat berbagai ternak ini muncul, oleh firman Sang Pencipta, sejumlah besar serangga juga muncul, satu per satu. Meski mereka adalah makhluk hidup terkecil di antara semua makhluk ciptaan, kekuatan hidup mereka masih merupakan mukjizat ciptaan Sang Pencipta, dan mereka tidak datang terlambat. … Beberapa mengepakkan sayap kecil mereka, sementara yang lain perlahan merangkak; beberapa melompat dan melambung, yang lain terhuyung-huyung; beberapa bergerak maju, sementara yang lain dengan cepat mundur; beberapa bergerak menyamping, yang lain melompat tinggi dan rendah. … Semua sibuk berusaha mencari rumah untuk mereka sendiri: beberapa mencari jalan menuju rerumputan, beberapa menggali lubang di tanah, beberapa terbang ke pepohonan, tersembunyi di hutan. … Meski berukuran kecil, mereka tidak mau menahan siksaan perut kosong, dan setelah menemukan rumah mereka sendiri, mereka bergegas mencari makanan untuk diri mereka sendiri. Beberapa naik ke atas rumput untuk memakan bilah-bilahnya yang lembut, beberapa menggenggam seporsi kotoran dan memasukkannya ke dalam perut mereka, makan dengan penuh semangat dan kesenangan (bagi mereka, bahkan kotoran adalah camilan yang lezat); beberapa tersembunyi di hutan, tetapi mereka tidak berhenti untuk beristirahat, karena getah dalam daun hijau gelap yang mengkilap merupakan makanan lezat. … Setelah kenyang, serangga tidak menghentikan aktivitasnya; meski bertubuh kecil, mereka memiliki energi luar biasa dan kegembiraan tanpa batas, sehingga dari semua makhluk, mereka paling aktif, dan paling rajin. Mereka tidak pernah malas, dan tidak pernah menikmati istirahat. Setelah kenyang, mereka tetap bekerja keras demi masa depan mereka, menyibukkan diri dan bergegas demi hari esok, demi kelangsungan hidup mereka. … Mereka dengan lembut melantunkan balada dengan berbagai melodi dan irama untuk menyemangati dan mendorong diri mereka sendiri. Mereka juga menambahkan sukacita kepada rumput, pohon, dan setiap jengkal tanah, menjadikan setiap hari, dan setiap tahun, unik. … Dengan bahasa mereka sendiri dan dengan cara mereka sendiri, mereka memberikan informasi kepada semua makhluk hidup di daratan. Dan menggunakan jalur hidup khusus mereka sendiri, mereka menandai semua hal, yang di atasnya mereka meninggalkan jejak. … Mereka akrab dengan tanah, rumput, juga hutan, dan mereka membawa kekuatan dan vitalitas bagi tanah, rumput, juga hutan, dan membawa nasihat dan salam Sang Pencipta bagi seluruh makhluk hidup …

Pandangan Sang Pencipta menyapu semua hal yang telah Dia ciptakan, dan pada saat ini mata-Nya berhenti di hutan dan pegunungan, pikiran-Nya berputar. Ketika firman-Nya diucapkan, di hutan lebat, dan di atas pegunungan, muncul sejenis makhluk hidup yang belum pernah ada sebelumnya: mereka adalah satwa liar yang diucapkan oleh mulut Tuhan. Lama tertunda, mereka menggelengkan kepala dan mengibaskan ekor mereka, masing-masing dengan wajah unik mereka sendiri. Beberapa memiliki mantel berbulu, beberapa berlapis baja, beberapa memamerkan taringnya, beberapa menyeringai, beberapa berleher panjang, beberapa berekor pendek, beberapa bermata liar, beberapa menatap malu-malu, beberapa membungkuk untuk makan rumput, beberapa dengan darah di mulut mereka, beberapa melompat dengan dua kaki, beberapa berpacu dengan empat kuku, beberapa melihat ke kejauhan di atas pohon, beberapa berbaring menunggu di hutan, beberapa mencari gua untuk beristirahat, beberapa berlari dan bermain-main di dataran, beberapa berkeliaran di hutan …; beberapa meraung, beberapa melolong, beberapa menggonggong, beberapa menangis …; ada yang sopran, ada yang bariton, ada yang lantang, ada yang nyaring dan merdu …; ada yang suram, ada yang indah, ada yang menjijikkan, ada yang menggemaskan, ada yang menakutkan, ada yang begitu naif. … Satu per satu, mereka menunjukkan diri. Lihat cara mereka membanggakan diri, berjiwa bebas, bermalas-malasan acuh tak acuh terhadap satu sama lain, tanpa melirik satu sama lain. … Masing-masing membawa kehidupan tertentu yang dianugerahkan kepada mereka oleh Sang Pencipta, dan keliaran serta kekasaran mereka sendiri, mereka muncul di hutan dan di atas gunung. Merendahkan semua, begitu angkuh—siapa yang menjadikan mereka penguasa sejati atas pegunungan dan hutan? Sejak kemunculan mereka diperintahkan oleh Sang Pencipta, mereka "mengklaim" hutan, dan "mengklaim" pegunungan, karena Sang Pencipta telah menetapkan batas-batas mereka dan menentukan ruang lingkup keberadaan mereka. Hanya mereka penguasa sejati atas pegunungan dan hutan, dan itu sebabnya mereka begitu liar, dan begitu angkuh. Mereka disebut "binatang liar" semata-mata karena, dari semua makhluk, mereka adalah makhluk yang sungguh liar, kasar, dan tidak dapat dijinakkan. Mereka tidak dapat dijinakkan, sehingga mereka tidak dapat dipelihara, dan tidak bisa hidup harmonis dengan umat manusia atau bekerja untuk umat manusia. Karena mereka tidak bisa dipelihara, tidak bisa bekerja untuk umat manusia, maka mereka harus hidup jauh dari umat manusia, dan tidak bisa didekati oleh manusia. Dan karena mereka hidup jauh dari umat manusia, dan tidak dapat didekati oleh manusialah, mereka dapat memenuhi tanggung jawab yang dipercayakan kepada mereka oleh Sang Pencipta: menjaga pegunungan dan hutan. Keliaran mereka melindungi pegunungan dan menjaga hutan, dan merupakan perlindungan dan kepastian yang terbaik untuk keberadaan dan perkembangbiakan mereka. Di saat yang sama, keliaran mereka mempertahankan dan memastikan keseimbangan di antara segala sesuatu. Kedatangan mereka mendatangkan dukungan dan penjangkaran bagi pegunungan dan hutan; kedatangan mereka menyuntikkan semangat dan vitalitas tanpa batas ke pegunungan dan hutan yang tenang dan kosong. Mulai saat ini dan seterusnya, pegunungan dan hutan menjadi habitat permanen mereka, dan mereka tidak akan pernah kehilangan rumah mereka, karena pegunungan dan hutan muncul dan ada untuk mereka, dan satwa liar akan memenuhi tugas mereka, dan melakukan segala sesuatu sebisa mereka, untuk menjaga mereka. Demikian, juga, satwa liar akan secara teguh mematuhi desakan dari Sang Pencipta untuk tetap bertahan di wilayah mereka, dan terus menggunakan sifat hewani mereka untuk menjaga keseimbangan segala sesuatu yang ditetapkan oleh Sang Pencipta, dan menunjukkan otoritas dan kuasa Sang Pencipta!

Di Bawah Otoritas Sang Pencipta, Segala Sesuatu Sempurna

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, termasuk yang bisa bergerak dan yang tidak bisa bergerak, seperti burung dan ikan, seperti pepohonan dan bunga, dan termasuk ternak, serangga, dan satwa liar yang dibuat pada hari keenam—mereka semua dalam keadaan yang baik bersama Tuhan, dan, lebih lagi, di mata Tuhan, semua hal ini, sesuai dengan rencana-Nya, telah mencapai puncak kesempurnaan, dan telah mencapai standar yang ingin Tuhan capai. Selangkah demi selangkah, Sang Pencipta melakukan pekerjaan yang hendak Dia lakukan sesuai dengan rencana-Nya. Satu demi satu, hal-hal yang ingin Dia ciptakan muncul, dan kemunculan masing-masing adalah cerminan otoritas Sang Pencipta, dan kristalisasi otoritas-Nya, dan karena kristalisasi ini, semua makhluk hanya dapat bersyukur atas anugerah Sang Pencipta, dan atas perbekalan dari Sang Pencipta. Karena perbuatan ajaib Tuhan terwujud, dunia ini berkembang, sepotong demi sepotong, dengan segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dan berubah dari kekacauan dan kegelapan menjadi kejelasan dan kecemerlangan, dari keheningan total menjadi keaktifan dan vitalitas tanpa batas. Di antara segala ciptaan, dari yang besar sampai yang kecil, dari yang kecil hingga yang mikroskopis, tidak ada yang tidak diciptakan oleh otoritas dan kuasa Sang Pencipta, dan ada kebutuhan dan nilai yang unik dan inheren pada eksistensi setiap makhluk. Terlepas dari perbedaan bentuk dan struktur mereka, mereka harus dibuat oleh Sang Pencipta untuk hidup di bawah otoritas Sang Pencipta. Kadang-kadang orang akan melihat serangga, yang sangat jelek, dan mereka akan berkata: "Serangga itu sangat mengerikan, tidak mungkin makhluk jelek semacam itu dibuat oleh Tuhan—tidak mungkin Dia menciptakan sesuatu yang sangat jelek." Benar-benar pandangan yang bodoh! Apa yang seharusnya mereka katakan adalah, "Meski serangga ini begitu jelek, itu dibuat oleh Tuhan, jadi ia pasti memiliki tujuan uniknya sendiri." Dalam pikiran-pikiran Tuhan, Dia bermaksud untuk memberikan setiap kemunculan, dan segala macam fungsi serta kegunaan, kepada berbagai makhluk hidup yang Dia ciptakan, sehingga tidak satu pun dari hal-hal yang dibuat Tuhan berasal dari cetakan yang sama. Dari tampilan luar mereka hingga komposisi internal mereka, dari kebiasaan hidup mereka hingga lokasi yang mereka tempati—masing-masing berbeda. Sapi memiliki tampilan sapi, keledai memiliki tampilan keledai, rusa memiliki tampilan rusa, dan gajah memiliki tampilan gajah. Bisakah engkau menyebutkan mana yang memiliki penampilan terbaik, dan mana yang paling jelek? Bisakah engkau menyebutkan mana yang paling bermanfaat, dan keberadaan mana yang paling tidak diperlukan? Beberapa orang menyukai tampilan gajah, tetapi tidak seorang pun menggunakan gajah untuk menanam ladang; beberapa orang menyukai tampilan singa dan harimau, karena penampilan mereka paling mengesankan di antara segala sesuatu, tetapi bisakah engkau menjadikan mereka sebagai hewan peliharaan? Singkatnya, ketika menyangkut segala sesuatu, manusia harus tunduk pada otoritas Sang Pencipta, yang berarti, tunduk pada perintah yang ditetapkan oleh Sang Pencipta untuk segala sesuatu; ini adalah sikap yang paling bijaksana. Hanya sikap mencari dan ketaatan kepada maksud asli Sang Pencipta yang merupakan penerimaan dan kepastian sejati otoritas Sang Pencipta. Menurut Tuhan itu baik, jadi apa alasan manusia mencari-cari kesalahan?

Dengan demikian, segala sesuatu di bawah otoritas Sang Pencipta akan memainkan simfoni baru bagi kedaulatan Sang Pencipta, akan memulai suatu pendahuluan brilian untuk pekerjaan-Nya di hari yang baru, dan pada saat ini Sang Pencipta juga akan membuka lembaran baru dalam pekerjaan pengelolaan-Nya! Menurut hukum tunas musim semi, pematangan musim panas, panen musim gugur, dan penyimpanan musim dingin yang ditunjuk oleh Sang Pencipta, segala sesuatu akan selaras dengan rencana pengelolaan Sang Pencipta, dan mereka akan menyambut hari baru, awal baru, juga perjalanan baru mereka sendiri, dan mereka akan segera berkembang biak tanpa henti untuk menyambut setiap hari di bawah kedaulatan otoritas Sang Pencipta …

Tidak Satu pun dari Makhluk Ciptaan dan Bukan Ciptaan yang Dapat Menggantikan Identitas Sang Pencipta

Sejak Dia memulai penciptaan segala sesuatu, kuasa Tuhan mulai diungkapkan, dan mulai diperlihatkan, karena Tuhan menggunakan firman untuk menciptakan segala sesuatu. Terlepas dari bagaimana Dia menciptakan mereka, terlepas dari mengapa Dia menciptakan mereka, segala sesuatu menjadi hidup serta tetap bertahan dan ada karena firman Tuhan, dan ini adalah otoritas unik Sang Pencipta. Pada zaman sebelum manusia muncul di dunia, Sang Pencipta menggunakan kuasa dan otoritas-Nya untuk menciptakan segala sesuatu bagi umat manusia, dan menggunakan berbagai metode-Nya yang unik untuk mempersiapkan lingkungan hidup yang cocok bagi umat manusia. Semua yang Dia lakukan adalah persiapan untuk umat manusia, yang akan segera menerima nafas-Nya. Yang berarti, sebelum manusia diciptakan, otoritas Tuhan diwujudkan dalam semua makhluk yang berbeda dari manusia, dalam hal-hal yang besarnya seperti langit, terang, laut, dan tanah, dan yang kecil seperti binatang dan burung, serta segala macam serangga dan mikroorganisme, termasuk berbagai bakteri yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Masing-masing dihidupkan oleh firman Sang Pencipta, dan masing-masing berkembang biak karena firman Sang Pencipta, dan masing-masing hidup di bawah kedaulatan Sang Pencipta karena firman Sang Pencipta. Meski mereka tidak menerima nafas Sang Pencipta, mereka masih menunjukkan kehidupan dan vitalitas yang dianugerahkan kepada mereka oleh Sang Pencipta melalui berbagai bentuk dan struktur mereka; meski mereka tidak menerima kemampuan untuk berbicara seperti yang diberikan kepada umat manusia oleh Sang Pencipta, mereka masing-masing menerima cara mengungkapkan hidup mereka yang dianugerahkan kepada mereka oleh Sang Pencipta, dan yang berbeda dari bahasa manusia. Otoritas Sang Pencipta tidak hanya memberikan vitalitas kehidupan pada objek-objek material yang tampak statis, sehingga mereka tidak akan pernah hilang, tetapi, lebih lagi, memberikan naluri untuk bereproduksi dan berkembang biak kepada setiap makhluk hidup, sehingga mereka tidak akan pernah lenyap, dan sehingga generasi demi generasi, mereka akan meneruskan hukum dan prinsip kelangsungan hidup yang dianugerahkan kepada mereka oleh Sang Pencipta. Cara yang digunakan oleh Sang Pencipta untuk mengerahkan otoritas-Nya tidak secara kaku mengikuti sudut pandang makro atau mikro, dan tidak terbatas pada bentuk apa pun; Dia mampu mengarahkan pengoperasian alam semesta, dan memegang kedaulatan atas kehidupan dan kematian segala sesuatu, dan, terlebih lagi, mampu memanuver segala sesuatu untuk melayani-Nya; Dia dapat mengelola semua cara kerja gunung, sungai, dan danau, dan mengatur segala sesuatu di dalamnya, dan terlebih lagi, mampu menyediakan apa yang dibutuhkan oleh segala sesuatu. Ini adalah perwujudan dari otoritas unik Sang Pencipta di antara segala sesuatu selain manusia. Perwujudan seperti itu tidak hanya berlangsung seumur hidup, dan tidak akan pernah berhenti, atau beristirahat, dan tidak dapat diubah atau dirusak oleh orang atau benda apa pun, juga tidak dapat ditambahkan atau dikurangi oleh orang atau benda apa pun—karena tidak ada yang dapat menggantikan identitas Sang Pencipta, dan oleh karena itu, otoritas Sang Pencipta tidak dapat digantikan oleh makhluk ciptaan apa pun, dan tidak dapat dicapai oleh makhluk bukan ciptaan. Mari ambil contoh utusan dan malaikat Tuhan. Mereka tidak memiliki kuasa Tuhan, apalagi otoritas Sang Pencipta, dan alasan mengapa mereka tidak memiliki kekuatan dan otoritas Tuhan adalah karena mereka tidak memiliki substansi Sang Pencipta. Makhluk bukan ciptaan, misalnya utusan dan malaikat Tuhan, meski mereka bisa melakukan beberapa hal atas nama Tuhan, mereka tidak dapat mewakili Tuhan. Meski mereka memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia, mereka tidak memiliki otoritas Tuhan, mereka tidak memiliki otoritas Tuhan untuk menciptakan segala sesuatu, dan memerintah segala sesuatu, dan memegang kedaulatan atas segala sesuatu. Jadi, keunikan Tuhan tidak dapat digantikan oleh makhluk bukan ciptaan, dan, demikian juga, otoritas dan kuasa Tuhan tidak dapat digantikan oleh makhluk bukan ciptaan. Dalam Alkitab, pernahkah engkau membaca tentang utusan Tuhan yang menciptakan segala sesuatu? Dan mengapa Tuhan tidak mengirimkan seorang utusan atau malaikat-Nya untuk menciptakan segala sesuatu? Karena mereka tidak memiliki otoritas Tuhan, dan oleh karena itu mereka tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan otoritas Tuhan. Sama seperti semua makhluk, mereka semua berada di bawah kedaulatan Sang Pencipta, dan di bawah otoritas Sang Pencipta, sehingga, dengan cara yang sama, Sang Pencipta juga adalah Tuhan mereka, dan juga Raja mereka. Di antara mereka masing-masing—apakah mereka mulia atau rendah, memiliki kekuatan besar atau kecil—tidak ada yang dapat melampaui otoritas Sang Pencipta, sehingga di antara mereka, tidak ada satu pun dapat menggantikan identitas Sang Pencipta. Mereka tidak akan pernah disebut Tuhan, dan tidak akan pernah bisa menjadi Sang Pencipta. Ini adalah kebenaran dan fakta yang tak akan berubah!

Melalui persekutuan di atas, dapatkah kita menegaskan hal-hal berikut: hanya Sang Pencipta dan Penguasa segala sesuatu, Dia yang memiliki otoritas unik dan kuasa unik, yang dapat disebut sebagai Tuhan Itu Sendiri yang Maha Esa? Pada titik ini, engkau semua mungkin merasa bahwa pertanyaan seperti itu terlalu mendalam. Engkau semua tidak mampu memahaminya saat ini, dan tidak bisa merasakan esensi di dalamnya, sehingga saat ini engkau semua merasa itu sangat sulit untuk dijawab. Dalam hal ini, Aku akan melanjutkan persekutuan-Ku. Selanjutnya, Aku akan mengizinkan engkau semua untuk melihat perbuatan nyata dari banyak aspek otoritas dan kuasa yang dimiliki oleh Tuhan sendiri, dan dengan demikian Aku akan mengizinkanmu untuk sungguh-sungguh memahami, menghargai, dan mengetahui kemahaesaaan Tuhan, dan apa arti dari otoritas unik Tuhan.

2. Tuhan Menggunakan Firman-Nya untuk Mengadakan Perjanjian Dengan Manusia

Kejadian 9:11−13 Aku akan menetapkan perjanjian-Ku dengan engkau, tidak akan ada makhluk hidup yang dimusnahkan karena air bah lagi; dan tidak akan ada air bah lagi yang akan menghancurkan bumi. Dan Tuhan berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kutetapkan antara Aku dan engkau dan setiap makhluk hidup yang ada bersama-sama denganmu, turun-temurun: Aku akan menaruh busur-Ku di awan, dan itu akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi."

Setelah Dia Membuat Segala Sesuatu, Otoritas Sang Pencipta Ditegaskan dan Ditunjukkan Sekali Lagi dalam Perjanjian Pelangi

Otoritas Sang Pencipta sudah ditunjukkan dan diterapkan di antara semua makhluk, dan Dia tidak hanya mengatur nasib segala sesuatu, tetapi juga mengatur umat manusia, makhluk istimewa yang Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, dan yang memiliki struktur kehidupan yang berbeda dan ada dalam bentuk kehidupan yang berbeda. Setelah membuat segala sesuatu, Sang Pencipta tidak berhenti menunjukkan otoritas dan kuasa-Nya; bagi-Nya, otoritas yang digunakan oleh-Nya untuk memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan nasib seluruh umat manusia, secara resmi baru dimulai saat manusia benar-benar dilahirkan dari tangan-Nya. Dia bermaksud untuk mengelola umat manusia, dan mengatur umat manusia, Dia bermaksud menyelamatkan umat manusia, bermaksud untuk benar-benar memenangkan umat manusia, untuk membuat umat manusia hidup di bawah otoritas-Nya, dan mengetahui otoritas-Nya, juga taat kepada otoritas-Nya. Oleh karena itu, Tuhan mulai secara resmi mengungkapkan otoritas-Nya di antara manusia menggunakan firman-Nya untuk mewujudkan firman-Nya. Tentu saja, otoritas Tuhan ditunjukkan di semua tempat selama proses ini; Aku hanya mengambil beberapa contoh yang spesifik dan dikenal luas sehingga engkau semua dapat memahami dan mengenal kemahaesaan Tuhan, juga memahami dan mengenal otoritas unik Tuhan.

Ada kesamaan antara nas Kejadian 9:11–13 dan nas di atas tentang catatan penciptaan dunia oleh Tuhan, tetapi juga ada sebuah perbedaan. Apa kesamaannya? Kesamaannya terletak pada penggunaan firman oleh Tuhan untuk melakukan apa yang Dia inginkan, dan perbedaannya adalah bahwa nas ini merupakan wacana Tuhan dengan manusia, yang Tuhan gunakan untuk mengadakan perjanjian dengan manusia, dan mengatakan kepada manusia tentang apa yang terkandung dalam perjanjian. Pengerahan otoritas Tuhan ini dicapai selama dialog-Nya bersama manusia, yang berarti, sebelum penciptaan umat manusia, firman Tuhan adalah instruksi, dan perintah, yang ditujukan kepada makhluk yang hendak Dia ciptakan. Namun, sekarang ada seseorang yang mendengarkan firman Tuhan, dan oleh karena itu firman-Nya merupakan dialog dengan manusia, juga nasihat dan teguran kepada manusia, dan terlebih lagi, perintah yang disampaikan kepada segala sesuatu yang mengandung otoritas-Nya.

Tindakan apa oleh Tuhan yang dicatat dalam nas ini? Nas itu mencatat perjanjian yang Tuhan adakan dengan manusia setelah pemusnahan dunia oleh-Nya melalui banjir, memberi tahu manusia bahwa Tuhan tidak akan melakukan pemusnahan seperti itu lagi terhadap dunia, dan bahwa, sampai ke titik ini, Tuhan menciptakan sebuah tanda—dan apakah tanda ini? Dalam Kitab Suci, dikatakan bahwa "Aku akan menaruh busur-Ku di awan, dan itu akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi." Ini adalah firman asli yang diucapkan oleh Sang Pencipta kepada umat manusia. Saat Dia mengatakan firman ini, pelangi muncul di hadapan mata manusia, yang tetap ada hingga hari ini. Setiap orang telah melihat pelangi seperti itu, dan ketika engkau melihatnya, apakah engkau tahu bagaimana itu muncul? Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikannya, atau menemukan sumbernya, atau mengidentifikasi keberadaannya. Itu karena pelangi adalah sebuah tanda perjanjian yang ditetapkan antara Sang Pencipta dan manusia; tidak memerlukan dasar ilmiah, tidak dibuat oleh manusia, dan manusia juga tidak mampu mengubahnya. Pelangi merupakan kelanjutan dari otoritas Sang Pencipta setelah Dia mengucapkan firman-Nya. Sang Pencipta menggunakan metode-Nya sendiri yang istimewa untuk mematuhi perjanjian-Nya dengan manusia dan janji-Nya, sehingga Dia menggunakan pelangi sebagai sebuah tanda perjanjian yang telah Dia tetapkan sebagai titah dan hukum surgawi yang selamanya tetap tidak berubah, baik berkenaan dengan Sang Pencipta atau umat manusia ciptaan. Namun, hukum yang tak pernah berubah ini, harus dikatakan, merupakan perwujudan sejati otoritas Sang Pencipta setelah penciptaan segala sesuatu oleh-Nya, dan harus dikatakan bahwa otoritas serta kuasa Sang Pencipta tidak terbatas; penggunaan pelangi sebagai sebuah tanda oleh-Nya adalah kelanjutan dan perpanjangan dari otoritas Sang Pencipta. Ini adalah tindakan lain yang dilakukan oleh Tuhan menggunakan firman-Nya, dan sebuah tanda untuk perjanjian yang telah Tuhan adakan bersama manusia menggunakan firman. Dia memberi tahu manusia tentang apa yang Dia putuskan untuk lakukan, dan dengan cara apa hal tersebut akan digenapi dan dicapai, dan dengan cara ini perkara tersebut digenapi sesuai dengan firman dari mulut Tuhan. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa seperti itu, dan hari ini, beberapa ribu tahun setelah Dia mengucapkan firman ini, manusia masih bisa melihat pelangi yang difirmankan oleh Tuhan. Karena firman tersebut diucapkan oleh Tuhan, hal ini tetap dan tidak berubah sampai hari ini. Tidak ada yang bisa menghilangkan pelangi ini, tidak ada yang bisa mengubah hukumnya, dan itu ada semata-mata demi firman Tuhan. Inilah tepatnya otoritas Tuhan. "Tuhan sungguh dapat dipercaya sebagaimana halnya firman-Nya, dan firman-Nya harus digenapi, dan apa yang digenapi bertahan untuk selamanya." Firman seperti itu jelas diwujudkan di sini, dan itu adalah tanda dan karakteristik yang jelas dari otoritas dan kuasa Tuhan. Tanda atau karakteristik seperti itu tidak dimiliki dan tidak terlihat dalam salah satu makhluk ciptaan, juga tidak terlihat dalam salah satu makhluk bukan ciptaan. Itu hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, dan membedakan identitas serta hakikat yang hanya dimiliki oleh Sang Pencipta dari yang dimiliki oleh makhluk. Di saat yang sama, itu juga merupakan tanda dan karakteristik yang, terlepas dari Tuhan Itu Sendiri, tidak pernah dapat dilampaui oleh makhluk ciptaan atau bukan ciptaan.

Pengadaan perjanjian oleh Tuhan dengan manusia adalah tindakan yang sangat penting, dan yang hendak Dia gunakan untuk menyampaikan fakta kepada manusia dan memberitahukan kehendak-Nya kepada manusia, dan untuk tujuan ini, Dia menggunakan sebuah metode yang unik, menggunakan sebuah tanda khusus untuk mengadakan perjanjian dengan manusia, sebuah tanda yang merupakan ikatan perjanjian yang telah Dia adakan dengan manusia. Jadi, apakah penetapan perjanjian ini merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa? Dan seberapa luar biasakah itu? Inilah tepatnya yang menjadikan perjanjian itu begitu istimewa: itu bukanlah perjanjian yang diadakan antara satu manusia dengan manusia lain, atau antara satu grup dengan yang lain, atau satu negara dengan yang lain, melainkan perjanjian yang diadakan antara Sang Pencipta dengan seluruh umat manusia, yang akan tetap berlaku hingga hari ketika Sang Pencipta menghapuskan segala sesuatu. Penanda tangan perjanjian ini adalah Sang Pencipta, dan yang menjaganya juga adalah Sang Pencipta. Singkatnya, keseluruhan perjanjian pelangi yang diadakan dengan umat manusia digenapi dan dicapai menurut dialog antara Sang Pencipta dan umat manusia, dan tetap demikian hingga hari ini. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh makhluk selain tunduk, dan taat, dan percaya, dan mengapresiasi, dan menyaksikan, dan memuji otoritas Sang Pencipta? Karena hanya Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki kuasa untuk mengadakan perjanjian seperti itu. Penampakan pelangi berulang kali memaklumatkan kepada umat manusia dan mengingatkan manusia pada perjanjian antara Sang Pencipta dan umat manusia. Dalam penampakan berkesinambungan perjanjian antara Sang Pencipta dan umat manusia tersebut, apa yang ditunjukkan kepada umat manusia bukanlah sebuah pelangi atau perjanjian itu sendiri, melainkan otoritas kekal Sang Pencipta. Penampakan pelangi berulang kali menunjukkan perbuatan luar biasa dan ajaib Sang Pencipta di tempat tersembunyi, dan di saat yang sama merupakan cerminan penting tentang otoritas Sang Pencipta yang tidak akan pernah menghilang, dan tidak akan pernah berubah. Bukankah ini sebuah pertunjukan aspek lain dari otoritas unik Sang Pencipta?

3. Berkat Tuhan

Kejadian 17:4−6 Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku denganmu, engkau akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Dan namamu tidak akan lagi disebut Abram, melainkan Abraham; karena Aku telah membuatmu menjadi bapa banyak bangsa. Aku akan membuat engkau memiliki banyak sekali keturunan dan Aku akan membuat engkau menjadi banyak bangsa, dan raja-raja akan lahir darimu.

Kejadian 18:18−19 Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa, dan semua bangsa di bumi akan diberkati di dalam dia. Karena Aku tahu bahwa dia akan memerintahkan anak-anak dan seisi rumahnya, supaya mereka tetap hidup menurut jalan Tuhan, dengan melakukan keadilan dan kebenaran, dan supaya Tuhan memberikan kepada Abraham apa yang sudah dijanjikan-Nya kepadanya.

Kejadian 22:16−18 Demi diri-Ku sendiri Aku bersumpah, demikianlah firman Yahweh: "Karena engkau telah melakukan hal ini dan tidak menahan anakmu, anakmu satu-satunya, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu bertambah banyak seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut; dan keturunanmu akan menguasai pintu gerbang musuhnya. Maka oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati, karena engkau sudah menaati suara-Ku."

Ayub 42:12 Maka Yahweh memberkati Ayub dalam kehidupan berikutnya lebih daripada sebelumnya; dia memiliki 14.000 domba, dan 6.000 unta, dan 1.000 lembu, dan 1.000 keledai betina.

Sikap dan Karakteristik Unik Perkataan Sang Pencipta adalah Simbol dari Identitas dan Otoritas Unik Sang Pencipta

Banyak orang ingin meminta, dan memperoleh, berkat Tuhan, tetapi tidak setiap orang dapat memperoleh berkat ini, karena Tuhan memiliki prinsip-Nya sendiri, dan memberkati manusia dengan cara-Nya sendiri. Janji yang Tuhan buat kepada manusia, dan besarnya kasih karunia yang Dia limpahkan kepada manusia dialokasikan berdasarkan pikiran dan tindakan manusia. Jadi apakah yang ditunjukkan melalui berkat Tuhan? Apakah yang berkat tersebut sampaikan kepada kita? Pada titik ini, mari kita kesampingkan diskusi tentang jenis orang seperti apa yang Tuhan berkati, atau prinsip dari berkat Tuhan kepada manusia. Sebaliknya, mari kita lihat berkat Tuhan kepada manusia dengan tujuan mengetahui otoritas Tuhan, dari perspektif mengetahui otoritas Tuhan.

Empat nas kitab suci di atas semuanya adalah catatan tentang berkat Tuhan kepada manusia. Semuanya memberikan keterangan terperinci mengenai penerima berkat Tuhan, seperti Abraham dan Ayub, juga alasan Tuhan melimpahkan berkat-Nya, dan apa yang terkandung dalam berkat ini. Nada dan cara perkataan Tuhan, dan perspektif serta posisi yang Dia gunakan saat berbicara, memungkinkan orang untuk mengapresiasi bahwa Pribadi yang melimpahkan berkat dan penerima berkat tersebut memiliki identitas, status, dan hakikat yang sangat berbeda. Nada dan cara semua perkataan ini, dan posisi ketika semua itu diucapkan, adalah milik Tuhan semata, yang memiliki identitas Sang Pencipta. Dia memiliki otoritas dan kekuatan, juga martabat Sang Pencipta, dan kemegahan yang tidak dapat diragukan oleh manusia mana pun.

Mari kita lihat Kejadian 17:4−6: "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku denganmu, engkau akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Dan namamu tidak akan lagi disebut Abram, melainkan Abraham; karena Aku telah membuatmu menjadi bapa banyak bangsa. Aku akan membuat engkau memiliki banyak sekali keturunan dan Aku akan membuat engkau menjadi banyak bangsa, dan raja-raja akan lahir darimu." Firman ini adalah perjanjian yang Tuhan adakan bersama Abraham, juga berkat Tuhan untuk Abraham: Tuhan akan menjadikan Abraham bapak bangsa-bangsa, membuatnya beranak cucu sangat banyak; membuat bangsa-bangsa dari dirinya, dan raja-raja akan diturunkan darinya. Apakah engkau melihat otoritas Tuhan dalam semua firman ini? Dan bagaimana engkau melihat otoritas tersebut? Aspek manakah dari hakikat otoritas Tuhan yang engkau lihat? Dengan membaca semua firman ini secara cermat, tidak sukar untuk menemukan bahwa otoritas dan identitas Tuhan sangat jelas diungkapkan dalam susunan kata perkataan Tuhan. Sebagai contoh, saat Tuhan berkata "inilah perjanjian-Ku denganmu, engkau akan … Aku telah membuatmu … Aku akan membuat engkau …," frasa seperti "engkau akan" and "Aku akan," yang susunan katanya mengandung penegasan akan identitas dan otoritas Tuhan, di satu sisi merupakan indikasi kesetiaan Sang Pencipta, dan di sisi lain, merupakan firman khusus yang digunakan oleh Tuhan, yang memiliki identitas Sang Pencipta—juga merupakan bagian dari kosakata konvensional. Jika seseorang berkata mereka berharap orang lain akan beranak cucu sangat banyak, bahwa bangsa-bangsa akan berasal dari mereka, dan bahwa raja-raja akan berasal dari mereka, tidak diragukan lagi, itu adalah semacam doa, dan bukan janji atau berkat. Oleh karena itu, orang tidak berani berkata: "Aku akan menjadikanmu seperti demikian, engkau akan seperti demikian," karena mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kuasa seperti itu; itu tidak terserah mereka, dan bahkan jika mereka mengatakan hal seperti itu, perkataan mereka hampa, hanya omong kosong, didorong oleh hasrat dan ambisi mereka. Apakah ada yang berani berbicara dengan nada begitu angkuh jika mereka merasa bahwa mereka tidak dapat mencapai keinginan mereka? Setiap orang mendoakan hal baik untuk keturunan mereka, dan berharap bahwa mereka akan unggul dan menikmati kesuksesan besar. Betapa besar keuntungannya jika salah satu dari mereka menjadi kaisar! Jika seseorang ingin menjadi gubernur itu juga bagus—selama mereka menjadi orang penting! Semua ini adalah doa semua orang, tetapi orang hanya dapat mengharapkan berkat atas keturunan mereka, dan tidak dapat memenuhi atau membuat janji mereka menjadi kenyataan. Dalam hati mereka, setiap orang sungguh tahu bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mencapai hal seperti itu, karena segala sesuatunya berada di luar kendali mereka, jadi bagaimana mungkin mereka bisa mengatur nasib orang lain? Padahal, alasan Tuhan dapat mengatakan firman seperti ini adalah karena Tuhan memiliki otoritas seperti itu, dan mampu mencapai serta mewujudkan semua janji yang Dia buat untuk manusia, dan membuat semua berkat yang Dia berikan kepada manusia menjadi kenyataan. Manusia diciptakan oleh Tuhan, dan bagi Tuhan, membuat seseorang beranak cucu sangat banyak itu mudah sekali; untuk membuat makmur keturunan seseorang hanya diperlukan sepatah firman dari-Nya. Dia tidak akan pernah membuat diri-Nya bersusah payah untuk hal tersebut, atau berpikir sangat keras, atau menjadi pusing karenanya; ini adalah kuasa Tuhan, otoritas Tuhan yang sesungguhnya.

Setelah membaca "Bukankah Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa, dan semua bangsa di bumi akan diberkati di dalam dia" dalam Kejadian 18:18, bisakah engkau semua merasakan otoritas Tuhan? Bisakah engkau semua merasakan keluarbiasaan Sang Pencipta? Bisakah engkau semua merasakan supremasi Sang Pencipta? Firman Tuhan bersifat pasti. Tuhan berfirman seperti itu bukan karena, atau untuk menyatakan, keyakinan-Nya akan kesuksesan; melainkan semua itu adalah bukti otoritas perkataan Tuhan, dan perintah yang menggenapi firman Tuhan. Ada dua ungkapan yang engkau semua harus perhatikan di sini. Ketika Tuhan berkata "Bukankah Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan berkuasa, dan semua bangsa di bumi akan diberkati di dalam dia" adakah unsur ambiguitas dalam firman ini? Adakah elemen kekhawatiran? Adakah unsur ketakutan? Karena kata-kata "tentu akan" dan "akan" dalam perkataan Tuhan, semua unsur ini, yang khusus untuk manusia dan sering ditampilkan dalam dirinya, tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengan Sang Pencipta. Tidak seorang pun berani menggunakan kata-kata demikian ketika mendoakan hal baik untuk orang lain, tidak seorang pun berani memberkati orang lain dengan bangsa besar dan kuat dengan begitu yakin, atau berjanji bahwa semua bangsa di bumi akan diberkati dalam dirinya. Semakin pasti firman Tuhan, semakin firman tersebut membuktikan sesuatu—dan apakah sesuatu itu? Firman tersebut membuktikan bahwa Tuhan memiliki otoritas seperti itu, bahwa otoritas-Nya dapat mencapai hal-hal ini, dan bahwa pencapaian mereka tidak dapat dihindari. Tuhan yakin dalam hati-Nya, tanpa keraguan sedikit pun, dengan semua hal yang Dia berkati kepada Abraham. Lebih jauh lagi, seluruhnya akan dicapai sesuai dengan firman-Nya, dan tidak ada kekuatan yang akan mampu mengubah, menghalangi, merusak, atau mengganggu pemenuhannya. Terlepas dari apa yang telah terjadi, tidak satu pun yang dapat mencabut atau memengaruhi pemenuhan dan pencapaian firman Tuhan. Ini adalah kekuatan sesungguhnya dari firman yang diucapkan dari mulut Sang Pencipta, dan otoritas Sang Pencipta yang tidak mau menerima penolakan manusia! Setelah membaca firman ini, apakah engkau masih merasa ragu? Firman ini diucapkan dari mulut Tuhan, dan ada kuasa, keagungan, dan otoritas dalam firman Tuhan. Kuasa dan otoritas tersebut, juga pencapaian fakta yang pasti akan terjadi, tidak mungkin dicapai oleh makhluk ciptaan atau bukan ciptaan, dan tidak dapat dilampaui oleh makhluk ciptaan atau bukan ciptaan. Hanya Sang Pencipta yang dapat berbicara dengan umat manusia dengan nada dan intonasi seperti itu, dan banyak fakta yang telah membuktikan bahwa janji-Nya bukanlah perkataan hampa, atau omong kosong, tetapi merupakan ungkapan dari otoritas unik yang tak tertandingi oleh orang, benda, atau objek mana pun.

Apa perbedaan antara firman yang diucapkan oleh Tuhan dan perkataan yang diucapkan oleh manusia? Saat engkau membaca firman ini yang diucapkan oleh Tuhan, engkau merasakan kekuatan firman Tuhan, dan otoritas Tuhan. Bagaimana perasaanmu saat engkau mendengar orang berkata seperti itu? Apakah engkau berpikir mereka sangat arogan, dan membual, dan memamerkan diri mereka sendiri? Karena mereka tidak memiliki kuasa ini, mereka tidak memiliki otoritas seperti itu, sehingga mereka sama sekali tidak mampu mencapai hal-hal seperti itu. Mereka begitu yakin akan janji-janji mereka, tetapi itu hanya menunjukkan kecerobohan pernyataan mereka. Jika seseorang berkata seperti itu, mereka tidak diragukan lagi akan bersikap congkak, dan terlalu percaya diri, dan menyingkapkan diri mereka sebagai contoh klasik dari watak penghulu malaikat. Semua firman ini berasal dari mulut Tuhan; apakah engkau merasakan unsur kecongkakan di sini? Apakah engkau merasa bahwa firman Tuhan hanyalah lelucon? Firman Tuhan adalah otoritas, firman Tuhan adalah fakta, dan sebelum firman tersebut diucapkan dari mulut-Nya, yaitu saat Dia membuat keputusan untuk melakukan sesuatu, maka hal itu sudah tercapai. Dapat dikatakan bahwa semua yang Tuhan katakan kepada Abraham adalah perjanjian yang diadakan oleh Tuhan dengan Abraham, dan janji yang dibuat oleh Tuhan kepada Abraham. Janji ini adalah fakta yang sudah ditetapkan, serta fakta yang sudah tercapai, dan semua fakta ini secara bertahap digenapi dalam pikiran Tuhan sesuai dengan rencana Tuhan. Jadi, meskipun Tuhan mengatakan firman seperti itu tidak berarti bahwa Dia memiliki watak congkak, karena Tuhan mampu mencapai hal-hal seperti itu. Dia memiliki kuasa dan otoritas demikian, dan sepenuhnya mampu mencapai semua tindakan ini, dan pencapaian mereka sepenuhnya berada dalam jangkauan kemampuan-Nya. Ketika firman seperti ini diucapkan dari mulut Tuhan, semua itu adalah penyingkapan dan pengungkapan dari watak sejati Tuhan, penyingkapan dan perwujudan yang sempurna dari hakikat dan otoritas Tuhan, dan tidak ada yang lebih pantas dan tepat sebagai bukti dari identitas Sang Pencipta. Cara, nada, dan susunan kata perkataan semacam itu merupakan ciri khas dari identitas Sang Pencipta, dan sangat sesuai dengan ungkapan identitas Tuhan sendiri, dan di dalamnya tiada kepura-puraan, atau kenajisan; semua itu sepenuhnya dan seutuhnya merupakan demonstrasi yang sempurna dari substansi dan otoritas Sang Pencipta. Sedangkan makhluk-makhluk, mereka tidak memiliki otoritas ini, atau hakikat ini, apalagi kuasa yang diberikan oleh Tuhan. Jika manusia mengkhianati perilaku semacam itu, itu pasti akan menjadi cemoohan terhadap wataknya yang rusak, dan itu akan menjadi kecongkakan dan ambisi liar manusia, dan pemaparan niat jahat setan, Iblis, yang ingin menipu orang dan membujuk mereka untuk mengkhianati Tuhan. Dan bagaimana Tuhan menganggap apa yang diungkapkan oleh perkataan semacam itu? Tuhan akan mengatakan bahwa engkau ingin merebut tempat-Nya dan bahwa engkau ingin meniru dan menggantikan-Nya. Saat engkau meniru nada perkataan Tuhan, maksudmu adalah untuk menggantikan tempat Tuhan dalam hati orang-orang, untuk mengambil alih umat manusia yang secara sah adalah milik Tuhan. Singkatnya, ini adalah Iblis; inilah tindakan keturunan penghulu malaikat, yang tidak dapat ditoleransi oleh Surga! Di antara engkau semua, apakah ada yang pernah meniru Tuhan dengan cara tertentu dengan mengucapkan beberapa kata, dengan maksud menyesatkan dan menipu orang, dan membuat mereka merasa seolah-olah perkataan dan tindakan orang ini mengandung otoritas dan kuasa Tuhan, seolah-olah hakikat dan identitas orang ini unik, meskipun nada perkataan orang ini mirip dengan milik Tuhan? Pernahkah engkau semua melakukan sesuatu seperti ini? Pernahkah engkau meniru nada Tuhan dalam wicaramu, dengan sikap yang tampak mewakili watak Tuhan, dengan kekuatan dan otoritas yang semestinya? Apakah sebagian besar darimu sering bertindak, atau berencana bertindak, dengan cara demikian? Sekarang, ketika engkau semua benar-benar melihat, memahami, dan mengetahui otoritas Sang Pencipta, dan melihat kembali apa yang biasa engkau semua lakukan, dan digunakan untuk mengungkapkan dirimu, apakah engkau merasa muak? Apakah engkau semua mengenali ketidaktahuan dan rasa tidak tahu malumu? Setelah membedah watak dan hakikat orang tersebut, dapatkah dikatakan bahwa mereka adalah makhluk neraka terkutuk? Bisakah dikatakan bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal seperti itu mendatangkan penghinaan terhadap diri mereka sendiri? Apakah engkau semua mengenal keseriusan sifatnya? Dan seberapa seriuskah itu? Maksud orang yang bertindak dengan cara ini adalah meniru Tuhan. Mereka ingin menjadi Tuhan, dan membuat orang menyembah mereka sebagai Tuhan. Mereka ingin menghapus tempat Tuhan di hati orang, dan menyingkirkan Tuhan yang bekerja di antara manusia, guna mencapai tujuan mengendalikan orang, dan melahap orang, dan mengambil alih diri mereka. Setiap orang memiliki hasrat dan ambisi bawah sadar, dan setiap orang hidup dalam hakikat rusak iblis dan hidup dalam sifat iblis sehingga mereka bermusuhan dengan Tuhan, dan mengkhianati Tuhan, dan berharap untuk menjadi Tuhan. Setelah persekutuan-Ku tentang topik otoritas Tuhan, apakah engkau semua masih berharap atau bercita-cita untuk berpura-pura menjadi Tuhan, atau meniru Tuhan? Dan apakah engkau semua masih berhasrat menjadi Tuhan? Apakah engkau semua masih berkeinginan menjadi Tuhan? Otoritas Tuhan tidak dapat ditiru oleh manusia, dan identitas serta status Tuhan tidak dapat ditiru oleh manusia. Meskipun engkau mampu meniru nada yang digunakan oleh Tuhan untuk berbicara, engkau tidak dapat meniru hakikat Tuhan. Meskipun engkau mampu berdiri di tempat Tuhan dan berpura-pura menjadi Tuhan, engkau tidak akan pernah mampu melakukan apa yang Tuhan ingin lakukan, dan tidak akan pernah mampu mengatur dan memerintah segala sesuatu. Di mata Tuhan, engkau akan selamanya menjadi makhluk kecil, dan terlepas dari betapa hebat keterampilan dan kemampuanmu, terlepas dari berapa banyak karunia yang engkau miliki, keseluruhan dirimu berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta. Meski engkau mampu mengucapkan beberapa kata yang kurang sopan, itu tidak dapat menunjukkan bahwa engkau memiliki hakikat Sang Pencipta, atau menyatakan bahwa engkau memiliki otoritas Sang Pencipta. Otoritas dan kuasa Tuhan adalah hakikat dari Tuhan Sendiri. Kedua hal itu tidak dipelajari, atau ditambahkan secara eksternal, tetapi hakikat inheren Tuhan Itu Sendiri. Demikianlah hubungan antara Sang Pencipta dan makhluk tidak pernah dapat diubah. Sebagai salah satu makhluk, manusia harus mempertahankan posisinya sendiri, dan berperilaku dengan bersungguh-sungguh, dan dengan patuh menjaga apa yang dipercayakan kepadanya oleh Sang Pencipta. Dan manusia tidak boleh bertindak di luar garis, atau melakukan hal-hal di luar jangkauan kemampuannya atau melakukan hal-hal yang menjijikkan bagi Tuhan. Manusia tidak boleh mencoba menjadi hebat, atau luar biasa, atau berada di atas yang lain, atau berusaha menjadi Tuhan. Ini adalah hal-hal yang seharusnya tidak diinginkan oleh manusia. Berusaha menjadi hebat atau luar biasa itu tidak masuk akal. Berusaha menjadi Tuhan lebih memalukan lagi; menjijikkan, dan tercela. Apa yang patut dipuji, dan apa yang harus dipegang oleh makhluk-makhluk lebih dari apa pun, adalah menjadi makhluk yang sejati; ini adalah satu-satunya tujuan yang harus diikuti oleh semua orang.

Otoritas Sang Pencipta Tidak Dibatasi oleh Waktu, Ruang, atau Geografi, dan Otoritas Sang Pencipta Tidak Terkira

Mari kita lihat Kejadian 22:17−18: Ini adalah perikop lain yang diucapkan oleh Tuhan Yahweh, ketika Dia berkata kepada Abraham, "Maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu bertambah banyak seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut; dan keturunanmu akan menguasai pintu gerbang musuhnya. Maka oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan diberkati, karena engkau sudah menaati suara-Ku." Tuhan Yahweh memberkati Abraham berkali-kali bahwa keturunannya akan bertambah banyak—dan bertambah sampai sebanyak apa? Sampai sebanyak yang dikatakan dalam Kitab Suci: "seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut." Yang berarti bahwa Tuhan ingin memberikan kepada Abraham keturunan sebanyak bintang di langit, dan sebanyak pasir di tepi laut. Tuhan berbicara menggunakan perumpamaan, dan dari perumpamaan ini tidak sulit untuk melihat bahwa Tuhan tidak akan hanya memberikan satu, dua, atau bahkan ribuan keturunan kepada Abraham, melainkan jumlah yang tak terhitung banyaknya, sebanyak yang cukup untuk menjadikan mereka banyak bangsa, karena Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi bapak banyak bangsa. Dan apakah jumlah itu ditentukan oleh manusia, atau ditentukan oleh Tuhan? Bisakah manusia mengendalikan berapa banyak keturunan yang dimilikinya? Apakah hal itu tergantung pada keputusannya? Sama sekali tidak tergantung pada manusia apakah dia memiliki beberapa keturunan, apalagi keturunan sebanyak "bintang di langit dan pasir di tepi laut." Siapa tidak ingin keturunan mereka sebanyak bintang? Sayangnya, tidak semua hal selalu berjalan sesuai dengan yang engkau inginkan. Tidak peduli seberapa mahir atau mampunya manusia, hal itu tidak tergantung pada keputusannya; tidak seorang pun dapat berdiri di luar apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Seberapa banyak Dia mengizinkanmu memilikinya, sebanyak itulah yang akan engkau miliki: jika Tuhan memberimu sedikit, engkau tidak akan pernah memiliki banyak, dan jika Tuhan memberimu banyak, tidaklah berguna bila engkau kesal dengan seberapa banyak yang engkau miliki. Bukankah benar demikian? Semua ini tergantung keputusan Tuhan, bukan manusia! Manusia diatur oleh Tuhan, dan tidak seorang pun dikecualikan!

Saat Tuhan berkata: "membuat keturunanmu bertambah banyak," ini adalah perjanjian yang Tuhan adakan bersama Abraham, dan seperti halnya perjanjian pelangi, perjanjian ini pun berlaku untuk selamanya, dan juga merupakan janji yang dibuat oleh Tuhan kepada Abraham. Hanya Tuhan yang layak dan mampu membuat janji ini menjadi kenyataan. Terlepas dari apakah manusia memercayainya atau tidak, terlepas dari apakah manusia menerimanya atau tidak, dan terlepas dari cara orang melihatnya, dan bagaimana dia memandangnya, semua ini akan terpenuhi, sampai sedetail-detailnya, sesuai dengan firman yang Tuhan ucapkan. Firman Tuhan tidak akan berubah oleh karena perubahan dalam kehendak atau konsepsi manusia, dan tidak akan berubah oleh karena perubahan dalam diri seseorang, benda, atau objek apa pun. Semua hal dapat menghilang, tetapi firman Tuhan akan tetap ada untuk selamanya. Sebaliknya, hari ketika segala sesuatu menghilang adalah hari ketika firman Tuhan digenapi sepenuhnya, karena Dia adalah Sang Pencipta, dan Dia memiliki otoritas Sang Pencipta, dan kuasa Sang Pencipta, dan Dia mengendalikan segala sesuatu dan semua makhluk hidup; Dia mampu membuat sesuatu muncul dari ketiadaan, atau sesuatu menjadi ketiadaan, dan Dia mengendalikan transformasi segala sesuatu dari yang hidup ke yang mati, sehingga bagi Tuhan, tidak ada hal lebih sederhana daripada melipatgandakan keturunan seseorang. Ini terdengar fantastis bagi manusia, seperti dongeng, tetapi bagi Tuhan, itulah yang Dia putuskan untuk terlaksana dan janjikan untuk terpenuhi, bukan fantastis, juga bukan dongeng. Malahan, itu adalah fakta yang telah dilihat Tuhan, dan yang pasti akan tercapai. Apakah engkau semua menghargai hal ini? Apakah fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa keturunan Abraham banyak sekali? Dan seberapa banyakkah itu? Apakah sebanyak "bintang di langit dan pasir di tepi laut" yang diucapkan oleh Tuhan? Apakah mereka menyebar ke penjuru segala bangsa dan wilayah, ke setiap tempat di dunia? Dan apa yang membuat fakta ini tercapai? Apakah tercapai melalui otoritas firman Tuhan? Selama ratusan atau ribuan tahun setelah firman Tuhan diucapkan, firman Tuhan terus digenapi, dan selalu menjadi kenyataan; inilah kekuatan firman Tuhan, dan bukti otoritas Tuhan. Ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu pada mulanya, Tuhan berfirman jadilah terang, lalu terang itu jadi. Ini terjadi begitu cepat, digenapi dalam waktu sangat singkat, dan tidak ada penundaan untuk pencapaian dan penggenapannya; dampak dari firman Tuhan bersifat langsung. Keduanya merupakan peragaan otoritas Tuhan, tetapi ketika Tuhan memberkati Abraham, Dia memungkinkan manusia untuk melihat sisi lain dari hakikat otoritas Tuhan, dan memungkinkan manusia untuk melihat otoritas Sang Pencipta yang tidak dapat terukur, dan terlebih lagi, memungkinkan manusia untuk melihat sisi yang lebih nyata dan lebih luar biasa keindahannya dari otoritas Sang Pencipta.

Begitu firman Tuhan diucapkan, otoritas Tuhan memegang kendali atas pekerjaan ini, dan fakta yang dijanjikan oleh mulut Tuhan secara bertahap mulai menjadi kenyataan. Dalam segala hal, perubahan mulai terjadi dalam segala sesuatu sebagai akibatnya, sama seperti pada saat kedatangan musim semi, rumput berubah menjadi hijau, bunga-bunga bermekaran, tunas mencuat dari pepohonan, burung mulai bernyanyi, angsa terbang pulang, dan ladang dipenuhi orang. … Dengan kedatangan musim semi, segala sesuatu diremajakan, dan ini adalah perbuatan ajaib Sang Pencipta. Ketika Tuhan memenuhi janji-Nya, segala sesuatu di surga dan di bumi diperbarui dan berubah sesuai dengan pikiran Tuhan—tidak satu pun dikecualikan. Ketika sebuah komitmen atau janji diucapkan dari mulut Tuhan, segala sesuatu berfungsi ke arah penggenapannya, dan digerakkan untuk penggenapannya, dan semua makhluk diatur dan ditata di bawah kekuasaan Sang Pencipta, serta memainkan peran mereka masing-masing, dan menjalankan fungsi mereka masing-masing. Ini adalah perwujudan dari otoritas Sang Pencipta. Apakah yang engkau lihat dalam hal ini? Bagaimana engkau mengetahui otoritas Tuhan? Apakah ada kisaran dalam hal otoritas Tuhan? Apakah ada batasan waktu? Bisakah dikatakan otoritas Tuhan memiliki ketinggian tertentu, atau panjang tertentu? Bisakah dikatakan memiliki ukuran atau kekuatan tertentu? Bisakah diukur dengan dimensi manusia? Otoritas Tuhan tidak kadang menyala kadang padam, tidak datang dan pergi, dan tidak seorang pun dapat mengukur seberapa besar otoritas-Nya. Terlepas dari seberapa banyak waktu berlalu, ketika Tuhan memberkati seseorang, berkat ini akan terus berlanjut, dan kelanjutannya akan menjadi kesaksian tentang otoritas Tuhan yang tak terukur, dan akan memungkinkan umat manusia untuk melihat kemunculan kembali kekuatan hidup Sang Pencipta yang tidak dapat dipadamkan, dari waktu ke waktu. Setiap peragaan otoritas-Nya adalah peragaan sempurna dari firman yang keluar dari mulut-Nya, dan itu ditunjukkan kepada segala sesuatu, dan bagi umat manusia. Terlebih dari itu, semua yang dicapai oleh otoritas-Nya sangat luar biasa, tak ada bandingannya, dan benar-benar sempurna. Dapat dikatakan bahwa pikiran-Nya, firman-Nya, otoritas-Nya, dan semua pekerjaan yang Dia capai adalah gambaran yang tak tertandingi keindahannya, dan bagi makhluk ciptaan, bahasa umat manusia tidak mampu mengartikulasikan makna penting dan nilainya. Ketika Tuhan membuat janji kepada seseorang, baik itu mengenai tempat mereka tinggal, atau apa yang mereka lakukan, latar belakang mereka sebelum atau setelah mereka menerima janji, atau betapa hebatnya pergolakan di lingkungan hidup mereka—semua ini diketahui Tuhan sebaik mengetahui punggung tangan-Nya sendiri. Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu setelah firman Tuhan diucapkan, bagi Dia, seolah-olah itu baru saja diucapkan. Ini berarti Tuhan memiliki kuasa, dan memiliki otoritas sedemikian besarnya sehingga Dia dapat melacak, mengendalikan, dan mewujudkan setiap janji yang Dia buat untuk umat manusia, dan terlepas dari apa yang dijanjikan, terlepas dari berapa lama waktu yang diperlukan untuk sepenuhnya digenapi, dan, lebih lagi, terlepas dari seberapa luas ruang lingkup yang dicapai dalam pencapaiannya—misalnya, waktu, geografi, ras, dan sebagainya—janji ini akan digenapi, dan diwujudkan, dan lebih jauh lagi, Ia tidak perlu mengerahkan sedikit pun upaya untuk mencapai dan menggenapinya. Membuktikan apakah hal ini? Membuktikan bahwa luasnya otoritas dan kuasa Tuhan sudah cukup untuk mengendalikan seluruh alam semesta, dan seluruh umat manusia. Tuhan menciptakan terang, tetapi itu tidak berarti Tuhan hanya mengelola terang, atau bahwa Dia hanya mengelola air karena Dia menciptakan air, dan bahwa segala sesuatu yang lain tidak berhubungan dengan Tuhan. Bukankah ini sebuah kesalahpahaman? Meski berkat Tuhan kepada Abraham secara bertahap memudar dari ingatan manusia setelah beberapa ratus tahun, bagi Tuhan janji ini tetaplah sama. Janji ini masih dalam proses pencapaian dan tidak pernah berhenti. Manusia tidak pernah tahu atau mendengar bagaimana Tuhan menggunakan otoritas-Nya, bagaimana segala sesuatu diatur dan ditata, dan berapa banyak kisah indah terjadi di antara semua yang diciptakan Tuhan selama masa ini, tetapi setiap bagian indah dari peragaan otoritas Tuhan dan penyingkapan perbuatan-Nya diwariskan dan ditinggikan di antara segala sesuatu, segala sesuatu menunjukkan dan menceritakan tentang perbuatan ajaib Sang Pencipta, dan setiap kisah yang paling banyak diceritakan tentang kedaulatan Sang Pencipta atas segala sesuatu akan dinyatakan oleh segala sesuatu untuk selamanya. Otoritas yang digunakan oleh Tuhan untuk mengatur segala sesuatu, dan kuasa Tuhan, menunjukkan kepada segala sesuatu bahwa Tuhan hadir di mana pun dan di setiap saat. Saat engkau telah menyaksikan ubikuitas otoritas dan kuasa Tuhan, engkau akan melihat bahwa Tuhan hadir di mana-mana dan di segala waktu. Otoritas dan kuasa Tuhan tidak dibatasi oleh waktu, wilayah, ruang, atau oleh manusia, materi atau benda apa pun. Luasnya otoritas dan kuasa Tuhan melampaui imajinasi manusia; tidak terselami oleh manusia, tidak terbayangkan oleh manusia, dan tidak akan pernah sepenuhnya diketahui oleh manusia.

Beberapa orang suka menyimpulkan dan membayangkan, tetapi seberapa jauhkah jangkauan imajinasi manusia? Bisakah melampaui dunia ini? Apakah manusia mampu menyimpulkan dan membayangkan autentisitas dan keakuratan otoritas Tuhan? Apakah kesimpulan dan imajinasi manusia mampu memungkinkannya untuk mencapai pengetahuan tentang otoritas Tuhan? Bisakah mereka membuat manusia benar-benar menghargai dan tunduk pada otoritas Tuhan? Fakta membuktikan bahwa kesimpulan dan imajinasi manusia hanyalah produk kecerdasan manusia, dan tidak memberikan sedikit pun bantuan atau manfaat bagi pengetahuan manusia tentang otoritas Tuhan. Setelah membaca fiksi ilmiah, beberapa orang dapat membayangkan bulan, dan seperti apa bintang itu. Namun ini tidak berarti bahwa manusia memiliki pemahaman apa pun tentang otoritas Tuhan. Imajinasi manusia hanyalah: imajinasi. Fakta tentang hal-hal ini, yaitu, mengenai kaitannya dengan otoritas Tuhan, manusia sama sekali tidak memahaminya. Memangnya kenapa kalau engkau pernah ke bulan? Apakah ini menunjukkan bahwa engkau memiliki pemahaman multidimensional tentang otoritas Tuhan? Apakah itu menunjukkan bahwa engkau dapat membayangkan luasnya otoritas dan kuasa Tuhan? Karena kesimpulan dan imajinasi manusia tidak dapat memampukannya mengetahui otoritas Tuhan, lalu apa yang harus manusia lakukan? Pilihan yang paling bijaksana adalah tidak menyimpulkan atau membayangkan, yang berarti bahwa manusia tidak boleh bergantung pada imajinasi dan tidak boleh bergantung pada kesimpulan dalam hal mengetahui otoritas Tuhan. Apakah yang ingin Aku sampaikan kepada engkau semua di sini? Pengetahuan tentang otoritas Tuhan, kuasa Tuhan, identitas Tuhan sendiri, dan hakikat Tuhan tidak dapat dicapai dengan mengandalkan imajinasimu. Karena engkau tidak dapat mengandalkan imajinasi untuk mengetahui otoritas Tuhan, maka dengan cara apakah engkau dapat mencapai pengetahuan sejati tentang otoritas Tuhan? Melalui makan dan minum firman Tuhan, melalui persekutuan, dan melalui mengalami firman Tuhan, engkau akan memiliki pengalaman yang bertahap dan pembuktian tentang otoritas Tuhan dan dengan demikian engkau akan memperoleh pemahaman yang bertahap dan pengetahuan yang semakin bertambah tentang hal itu. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai pengetahuan tentang otoritas Tuhan; tidak ada jalan pintas. Meminta engkau semua untuk tidak menggunakan imajinasi tidak sama dengan memintamu duduk pasif menunggu kehancuran, atau menghentikanmu untuk melakukan apa pun. Tidak menggunakan otakmu untuk berpikir dan berimajinasi berarti tidak menggunakan logika untuk menyimpulkan, tidak menggunakan pengetahuan untuk menganalisis, tidak menggunakan sains sebagai dasar, tetapi sebaliknya menghargai, membuktikan, dan memastikan bahwa Tuhan yang engkau percayai memiliki otoritas, membenarkan bahwa Dia memegang kedaulatan atas nasibmu, dan bahwa kuasa-Nya setiap saat membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri, melalui firman Tuhan, melalui kebenaran, melalui segala hal yang engkau temui dalam kehidupan. Ini adalah satu-satunya cara agar setiap orang dapat mencapai pemahaman tentang Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa mereka ingin menemukan cara sederhana untuk mencapai tujuan ini, tetapi bisakah engkau semua memikirkan cara semacam itu? Aku beritahukan kepadamu, tidak perlu berpikir: tidak ada cara lain! Satu-satunya cara adalah dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus mengetahui dan memastikan apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu melalui setiap firman yang Dia ungkapkan dan setiap hal yang Dia lakukan. Ini adalah satu-satunya cara untuk mengenal Tuhan. Karena apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan tidak kosong dan hampa—tetapi nyata.

Fakta Kendali dan Kekuasaan Sang Pencipta atas Segala Sesuatu dan Makhluk Hidup adalah tentang Keberadaan Sejati dari Otoritas Sang Pencipta

Demikian pula, berkat Tuhan Yahweh kepada Ayub dicatat dalam Kitab Ayub. Apa yang Tuhan anugerahkan kepada Ayub? "Maka Yahweh memberkati Ayub dalam kehidupan berikutnya lebih daripada sebelumnya; dia memiliki 14.000 domba, dan 6.000 unta, dan 1.000 lembu, dan 1.000 keledai betina" (Ayub 42:12). Dari perspektif manusia, apa saja hal-hal yang diberikan kepada Ayub tersebut? Apakah semua itu aset manusia? Dengan aset-aset ini, apakah Ayub sangat kaya di zaman tersebut? Dan bagaimana dia memperoleh aset tersebut? Apa yang menyebabkan kekayaannya? Sangat jelas bahwa itu karena berkat Tuhan sehingga Ayub dapat memilikinya. Cara Ayub memandang aset-aset ini, dan cara dia menganggap berkat-berkat Tuhan, bukanlah sesuatu yang akan kita bahas di sini. Ketika berbicara tentang berkat Tuhan, semua orang merindukan, siang dan malam, untuk diberkati oleh Tuhan, namun manusia tidak memiliki kendali atas berapa banyak aset yang dapat dia peroleh selama masa hidupnya, atau apakah dia dapat menerima berkat dari Tuhan—dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan! Tuhan memiliki otoritas, dan memiliki kuasa untuk menganugerahkan aset apa pun kepada manusia, untuk memungkinkan manusia memperoleh berkah, tetapi ada prinsip di balik berkat Tuhan. Orang macam apa yang diberkati oleh Tuhan? Orang-orang yang Dia sukai, tentunya! Abraham dan Ayub sama-sama diberkati oleh Tuhan, tetapi berkat yang mereka terima tidak sama. Tuhan memberkati Abraham dengan keturunan sebanyak pasir dan bintang-bintang. Ketika Tuhan memberkati Abraham, Dia menyebabkan keturunan dari satu lelaki, satu bangsa, menjadi kuat dan makmur. Dalam hal ini, otoritas Tuhan memerintah umat manusia, yang menghembuskan nafas Tuhan di antara segala sesuatu dan makhluk hidup. Di bawah kedaulatan otoritas Tuhan, umat manusia ini menjamur dan hidup dengan kecepatan, dan dalam ruang lingkup, yang diputuskan oleh Tuhan. Secara khusus, kelangsungan hidup bangsa ini, tingkat ekspansi, dan usia harapan hidup semuanya adalah bagian dari pengaturan Tuhan, dan asas dari semua ini sepenuhnya didasarkan pada janji yang dibuat oleh Tuhan kepada Abraham. Ini berarti bahwa, terlepas dari keadaannya, janji-janji Tuhan akan berlanjut tanpa rintangan dan direalisasikan di bawah otoritas Tuhan. Dalam janji yang Tuhan buat kepada Abraham, terlepas dari pergolakan dunia, terlepas dari usia, terlepas dari malapetaka yang dialami oleh umat manusia, keturunan Abraham tidak akan menghadapi risiko kehancuran, dan bangsa mereka tidak akan punah. Namun, berkat Tuhan kepada Ayub membuatnya sangat kaya. Apa yang Tuhan berikan kepadanya adalah sederet makhluk hidup yang bernafas, yang jumlahnya, kecepatan perkembangbiakannya, tingkat kelangsungan hidupnya, kandungan lemaknya dan seterusnya—juga dikendalikan oleh Tuhan. Meski semua makhluk hidup ini tidak memiliki kemampuan untuk berbicara, mereka juga merupakan bagian dari pengaturan Sang Pencipta, dan prinsip pengaturan Tuhan adalah sesuai dengan berkat yang Tuhan janjikan kepada Ayub. Dalam berkat yang Tuhan berikan kepada Abraham dan Ayub, meski apa yang dijanjikan itu berbeda, otoritas yang digunakan oleh Sang Pencipta untuk mengatur segala sesuatu dan makhluk hidup adalah sama. Setiap detail dari otoritas dan kuasa Tuhan dinyatakan dalam janji dan berkat-Nya yang berbeda kepada Abraham dan Ayub, dan sekali lagi menunjukkan kepada umat manusia bahwa otoritas Tuhan jauh melampaui imajinasi manusia. Detail ini memberi tahu umat manusia sekali lagi bahwa jika dia ingin mengetahui otoritas Tuhan, ini hanya dapat dicapai melalui firman Tuhan dan dengan mengalami pekerjaan Tuhan.

Otoritas kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu memungkinkan manusia untuk melihat satu fakta: otoritas Tuhan tidak hanya diwujudkan dalam kata-kata, "Dan Tuhan berkata, ‘Jadilah terang,’ maka terang ada, dan, ‘Jadilah cakrawala,’ maka cakrawala itu ada, dan, ‘Jadilah daratan,’ maka daratan itu ada," tetapi, lebih lagi, cara Dia membuat terang terus berlanjut, mencegah cakrawala menghilang, dan menjaga daratan agar selamanya terpisah dari air, serta dalam perincian tentang cara Dia memerintah dan mengatur makhluk-makhluk: terang, cakrawala, dan daratan. Apa lagi yang engkau semua lihat dalam berkat umat manusia dari Tuhan? Jelaslah, setelah Tuhan memberkati Abraham dan Ayub, langkah-langkah Tuhan tidak berhenti, karena Dia baru saja mulai menggunakan otoritas-Nya, dan Dia bermaksud menjadikan setiap firman-Nya sebagai kenyataan, dan membuat setiap detail yang Dia bicarakan menjadi kenyataan, dan demikianlah, di tahun-tahun mendatang, Dia terus melakukan semua yang Dia inginkan. Karena Tuhan memiliki otoritas, barangkali manusia merasa bahwa Tuhan hanya berbicara, dan tidak perlu bekerja untuk segala sesuatu dan hal-hal yang harus diselesaikan. Membayangkan demikian sebenarnya agak konyol! Jika engkau hanya mengambil pandangan sepihak tentang pembuatan perjanjian Tuhan dengan manusia menggunakan firman, dan tentang pencapaian Tuhan atas segala sesuatu menggunakan firman, dan engkau tidak mampu melihat berbagai tanda dan fakta bahwa otoritas Tuhan berkuasa atas kehidupan segala sesuatu, pemahamanmu tentang otoritas Tuhan terlalu hampa dan konyol! Jika manusia membayangkan Tuhan seperti demikian, harus dikatakan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan telah didorong sangat dalam, dan telah mencapai jalan buntu, karena Tuhan yang manusia bayangkan hanyalah mesin yang mengeluarkan perintah, dan bukan Tuhan yang memiliki otoritas. Apa yang telah engkau lihat melalui contoh-contoh Abraham dan Ayub? Sudahkah engkau melihat sisi nyata dari otoritas dan kuasa Tuhan? Setelah Tuhan memberkati Abraham dan Ayub, Tuhan tidak tinggal di tempat Dia berada, dan Dia tidak menempatkan utusan-Nya untuk bekerja sambil menunggu untuk melihat apa hasilnya. Sebaliknya, segera setelah Tuhan mengucapkan firman-Nya, di bawah petunjuk otoritas Tuhan, segala sesuatu mulai selaras dengan pekerjaan yang Tuhan ingin lakukan, dan di sana disiapkan orang, benda, dan objek yang Tuhan perlukan. Yang berarti bahwa, segera setelah firman itu diucapkan dari mulut Tuhan, otoritas Tuhan mulai ditunjukkan ke seluruh negeri, dan Dia menetapkan suatu arah untuk mencapai dan memenuhi janji yang Dia buat untuk Abraham dan Ayub, sementara juga membuat semua rencana dan persiapan yang tepat untuk semua yang diperlukan untuk setiap langkah dan setiap tahap kunci yang Dia rencanakan untuk dilaksanakan. Selama masa ini, Tuhan tidak hanya menugaskan para utusan-Nya, tetapi juga semua hal yang telah diciptakan oleh-Nya. Yang berarti bahwa ruang lingkup ketika otoritas Tuhan ditunjukkan tidak hanya termasuk para utusan, tetapi, lebih dari itu, segala sesuatu, yang digerakkan untuk mematuhi pekerjaan yang ingin Dia capai; ini adalah tata krama khusus ketika otoritas Tuhan ditunjukkan. Dalam khayalan engkau semua, beberapa orang mungkin memiliki pemahaman berikut tentang otoritas Tuhan: Tuhan memiliki otoritas, dan Tuhan memiliki kuasa, dan oleh karena itu Tuhan hanya perlu tinggal di surga tingkat ketiga, atau hanya perlu tetap di tempatnya, dan tidak perlu melakukan pekerjaan tertentu, dan keseluruhan pekerjaan Tuhan diselesaikan dalam pikiran-Nya. Beberapa orang mungkin juga percaya bahwa, meski Tuhan memberkati Abraham, Tuhan tidak perlu melakukan apa pun, dan itu cukup bagi-Nya dengan hanya mengucapkan firman-Nya. Apakah ini yang sebenarnya terjadi? Jelas tidak! Meski Tuhan memiliki otoritas dan kuasa, otoritas-Nya adalah benar dan nyata, tidak hampa. Keaslian dan kenyataan otoritas dan kuasa Tuhan secara bertahap diungkapkan dan diwujudkan dalam penciptaan-Nya atas segala sesuatu, dan mengendalikan segala sesuatu, dan dalam proses yang digunakan oleh-Nya untuk memimpin dan mengatur umat manusia. Setiap metode, setiap perspektif, dan setiap detail kedaulatan Tuhan atas umat manusia dan segala sesuatu, dan semua pekerjaan yang telah dicapai oleh-Nya, serta pemahaman-Nya tentang segala sesuatu—semuanya secara harfiah membuktikan bahwa otoritas dan kuasa Tuhan bukanlah perkataan yang hampa. Otoritas dan kuasa-Nya ditunjukkan dan terungkap secara konstan, dan dalam segala sesuatu. Perwujudan dan pengungkapan ini berbicara tentang eksistensi nyata otoritas Tuhan, karena Dia menggunakan otoritas dan kuasa-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya, dan untuk memberi perintah kepada segala sesuatu, dan memerintah segala sesuatu setiap saat, dan kuasa serta otoritas-Nya tidak dapat digantikan oleh para malaikat, atau utusan Tuhan. Tuhan memutuskan berkat apa yang akan Dia berikan kepada Abraham dan Ayub─itu terserah pada Tuhan. Meski para utusan Tuhan secara pribadi mengunjungi Abraham dan Ayub, tindakan mereka sesuai dengan perintah-perintah Tuhan, dan di bawah otoritas Tuhan, dan mereka juga hidup di bawah kedaulatan Tuhan. Meski manusia melihat utusan Tuhan mengunjungi Abraham, dan tidak menyaksikan Tuhan Yahweh secara langsung melakukan apa pun dalam catatan Alkitab, pada kenyataannya, satu-satunya Pribadi yang benar-benar memberikan kuasa dan otoritas adalah Tuhan Itu Sendiri, dan ini tidak perlu diragukan lagi oleh siapa pun! Meski engkau telah melihat bahwa para malaikat dan para utusan memiliki kekuatan yang besar, dan telah melakukan mukjizat, atau mereka telah melakukan beberapa hal yang ditugaskan oleh Tuhan, tindakan mereka hanyalah demi menyelesaikan perintah Tuhan, dan sama sekali bukan merupakan pertunjukan otoritas Tuhan─karena tidak ada manusia atau objek yang memiliki, atau mempunyai, otoritas Sang Pencipta untuk menciptakan segala sesuatu dan mengatur segala sesuatu. Jadi tidak ada manusia atau objek yang bisa mengeluarkan atau menunjukkan otoritas Sang Pencipta.

Otoritas Sang Pencipta Tidak Berubah dan Tak Terbantahkan

Apa yang telah engkau semua lihat dalam tiga bagian kitab suci ini? Pernahkah engkau semua melihat bahwa ada prinsip yang digunakan oleh Tuhan untuk menunjukkan otoritas-Nya? Misalnya, Tuhan menggunakan pelangi untuk membuat perjanjian dengan manusia, ketika Dia menempatkan pelangi di awan untuk memberitahu manusia bahwa Dia tidak akan pernah lagi menggunakan banjir untuk memusnahkan dunia. Apakah pelangi yang orang lihat hari ini masih sama dengan yang diucapkan dari mulut Tuhan? Apakah sifat dan artinya berubah? Tidak diragukan lagi, masih sama. Tuhan menggunakan otoritas-Nya untuk melaksanakan tindakan ini, dan perjanjian yang Dia adakan dengan manusia terus berlanjut sampai hari ini, dan waktu ketika perjanjian ini diubah, tentu saja, ada di tangan Tuhan. Setelah Tuhan berkata, "Busur-Ku Aku taruh di awan," Tuhan selalu mematuhi perjanjian ini, sampai hari ini. Apa yang engkau lihat dalam hal ini? Meski Tuhan memiliki otoritas dan kuasa, Dia sangat teliti dan berprinsip dalam tindakan-Nya, dan tetap setia kepada firman-Nya. Ketelitiannya, dan prinsip tindakan-Nya, menunjukkan sifat tidak terbantahkan Sang Pencipta dan sifat otoritas Sang Pencipta yang tidak dapat dilampaui. Meski Dia memiliki otoritas tertinggi, dan segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya, dan meski Dia memiliki kuasa untuk mengatur segala sesuatu, Tuhan tidak pernah merusak atau mengacaukan rencana-Nya sendiri, dan setiap kali Dia menggunakan otoritas-Nya, itu dilakukan seturut prinsip-Nya sendiri, dan persis seperti apa yang diucapkan dari mulut-Nya, dan mengikuti langkah dan tujuan dari rencana-Nya. Tak perlu dikatakan, segala sesuatu yang diatur oleh Tuhan juga mematuhi prinsip ditunjukkannya otoritas Tuhan, dan tiada orang atau benda pun yang dibebaskan dari pengaturan otoritas-Nya, juga tidak dapat mengubah prinsip penunjukan otoritas-Nya. Di mata Tuhan, mereka yang diberkati menerima nasib baik yang dibawa oleh otoritas-Nya, dan mereka yang dikutuk menerima hukuman mereka karena otoritas Tuhan. Di bawah kedaulatan otoritas Tuhan, tiada orang atau benda pun yang dibebaskan dari pengerahan otoritas-Nya, juga mereka tidak dapat mengubah prinsip dengan mana otoritas-Nya dikerahkan. Otoritas Sang Pencipta tidak diubah karena adanya perubahan dalam faktor apa pun, dan, sama halnya, prinsip dengan mana otoritas-Nya ditunjukkan tidak berubah karena alasan apa pun. Langit dan bumi mungkin mengalami pergolakan besar, tetapi otoritas Sang Pencipta tidak akan berubah; segala sesuatu bisa lenyap, tetapi otoritas Sang Pencipta tidak akan pernah hilang. Ini adalah hakikat dari otoritas Sang Pencipta yang kekal dan tidak dapat berubah, dan ini adalah keunikan sesungguhnya dari Sang Pencipta!

Firman di bawah ini sangat diperlukan untuk mengetahui otoritas Tuhan, dan maknanya diberikan dalam persekutuan di bawah ini. Mari kita lanjutkan membaca Kitab Suci.

4. Perintah Tuhan kepada Iblis

Ayub 2:6 Maka Yahweh berfirman kepada Iblis: "Lihat dia ada dalam tanganmu; tetapi sayangkan nyawanya."

Iblis Tidak Pernah Berani Melanggar Otoritas Sang Pencipta, dan Karena Ini, Segala Sesuatu Hidup dalam Tatanan

Ini adalah kutipan dari Kitab Ayub, dan kata "dia" dalam firman ini merujuk kepada Ayub. Meski singkat, kalimat ini menjelaskan banyak hal. Kalimat ini menggambarkan komunikasi tertentu antara Tuhan dan Iblis di dunia roh, dan memberi tahu kita bahwa objek dari firman Tuhan adalah Iblis. Kalimat itu juga mencatat apa yang secara khusus dikatakan oleh Tuhan. Firman Tuhan adalah titah dan perintah kepada Iblis. Detail spesifik dari tatanan ini berkaitan dengan menyelamatkan hidup Ayub dan ketika Tuhan menarik garis batas dalam perlakuan Iblis terhadap Ayub—Iblis harus membiarkan Ayub hidup. Hal pertama yang kita pelajari dari kalimat ini adalah bahwa ini adalah firman yang diucapkan oleh Tuhan kepada Iblis. Menurut naskah asli Kitab Ayub, firman itu memberi tahu kita latar belakang firman tersebut: Iblis berkeinginan untuk menuduh Ayub, sehingga harus mendapatkan persetujuan Tuhan sebelum dapat mencobainya. Ketika menyetujui permintaan Iblis untuk mencobai Ayub, Tuhan mengemukakan syarat berikut kepada Iblis: "Ayub ada dalam tanganmu; tetapi sayangkan nyawanya." Apa sifat dari firman ini? Ini jelas adalah sebuah titah, sebuah perintah. Setelah memahami sifat dari firman ini, engkau tentu juga harus memahami bahwa Pribadi yang mengeluarkan perintah ini adalah Tuhan, dan bahwa orang yang menerima perintah ini, dan menaatinya, adalah Iblis. Tak perlu dikatakan lagi, dalam perintah ini, hubungan antara Tuhan dan Iblis dapat dilihat oleh siapa saja yang membaca firman ini. Tentu saja, hubungan ini juga berlaku antara Tuhan dan Iblis di dunia roh, dan perbedaan antara identitas dan status Tuhan dan Iblis, yang disediakan dalam catatan komunikasi antara Tuhan dan Iblis dalam Kitab Suci, dan, sampai saat ini, adalah contoh spesifik dan catatan tekstual di mana manusia dapat belajar tentang perbedaan yang jelas antara identitas dan status Tuhan dan Iblis. Pada titik ini, Aku harus mengatakan bahwa catatan firman ini adalah dokumen penting dalam pengetahuan umat manusia tentang identitas dan status Tuhan, dan memberikan informasi yang penting bagi pengetahuan umat manusia tentang Tuhan. Melalui pertukaran antara Sang Pencipta dan Iblis dalam dunia roh, manusia mampu memahami satu aspek lebih spesifik dalam otoritas Sang Pencipta. Firman ini adalah kesaksian lain dari otoritas unik Sang Pencipta.

Secara lahiriah, itu adalah percakapan antara Tuhan Yahweh dan Iblis. Hakikatnya adalah bahwa sikap yang dengan mana Tuhan Yahweh berbicara, dan posisi dari mana Dia berbicara, lebih tinggi dari Iblis. Yang berarti Tuhan Yahweh menitahkan Iblis dengan nada perintah, dan mengatakan kepada Iblis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bahwa Ayub sudah berada di tangannya, dan bahwa ia bebas memperlakukan Ayub sesuka hatinya─tetapi tidak boleh mengambil nyawa Ayub. Makna tersiratnya adalah bahwa, meski Ayub telah berada di tangan Iblis, hidupnya tidak diserahkan kepada Iblis; tidak ada yang dapat mengambil nyawa Ayub dari tangan Tuhan kecuali atas seizin Tuhan. Sikap Tuhan jelas dituturkan dalam titah ini kepada Iblis, dan perintah ini juga mewujudkan dan mengungkapkan posisi dari mana Tuhan Yahweh berbicara dengan Iblis. Dalam hal ini, Tuhan Yahweh tidak hanya memegang status Tuhan yang menciptakan terang, dan udara, dan segala sesuatu dan makhluk hidup, Tuhan yang memegang kedaulatan atas segala sesuatu dan makhluk hidup, tetapi juga Tuhan yang menitahkan umat manusia, dan menitahkan alam maut, Tuhan yang mengendalikan hidup dan matinya semua makhluk hidup. Dalam dunia roh, siapa selain Tuhan bisa berani mengeluarkan perintah seperti itu kepada Iblis? Dan mengapa Tuhan secara pribadi mengeluarkan perintah-Nya kepada Iblis? Karena kehidupan manusia, termasuk Ayub, dikendalikan oleh Tuhan. Tuhan tidak mengizinkan Iblis untuk mencelakakan atau mengambil nyawa Ayub, yang berarti bahwa tepat sebelum Tuhan mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub, Tuhan masih ingat untuk mengeluarkan perintah khusus, dan sekali lagi memerintahkan Iblis untuk tidak mengambil nyawa Ayub. Iblis tidak pernah berani melanggar otoritas Tuhan, dan, lebih lagi, selalu dengan hati-hati mendengarkan dan taat akan perintah dan titah khusus Tuhan, tidak pernah berani menentangnya, dan, tentu saja, tidak berani dengan bebas mengubah perintah Tuhan. Itu adalah batasan yang Tuhan telah tetapkan untuk Iblis, dan karena itu Iblis tidak pernah berani melewati batas ini. Bukankah ini kekuatan otoritas Tuhan? Bukankah ini kesaksian tentang otoritas Tuhan? Tentang cara berperilaku terhadap Tuhan, dan bagaimana memandang Tuhan, Iblis memiliki pemahaman jauh lebih jelas daripada umat manusia, sehingga, di dunia roh, Iblis melihat status dan otoritas Tuhan dengan sangat jelas, dan memiliki apresiasi terhadap kekuatan otoritas Tuhan dan prinsip di balik pengerahan otoritas-Nya. Iblis sama sekali tidak berani mengabaikan mereka, juga tidak berani melanggar dengan cara apa pun, atau melakukan apa saja yang melanggar otoritas Tuhan, dan tidak berani menentang murka Tuhan dengan cara apa pun. Meski memiliki sifat yang jahat dan congkak, Iblis tidak pernah berani melintasi tapal batas dan batasan yang ditetapkan oleh Tuhan. Selama jutaan tahun, ia telah benar-benar mematuhi tapal batas ini, telah mematuhi setiap titah dan perintah yang diberikan kepadanya oleh Tuhan, dan tidak pernah berani melampaui batas. Meski jahat, Iblis jauh lebih bijaksana daripada umat manusia yang rusak; ia tahu identitas Sang Pencipta, dan mengetahui batasannya sendiri. Dari tindakan Iblis yang "tunduk", dapat dilihat bahwa otoritas dan kuasa Tuhan adalah aturan surgawi yang tidak dapat dilanggar oleh Iblis, dan bahwa justru karena keunikan dan otoritas Tuhanlah semua hal berubah dan menyebar dengan cara yang teratur, bahwa umat manusia dapat hidup dan berkembang biak dalam jalur yang ditetapkan oleh Tuhan, tanpa ada orang atau objek yang mampu mengacaukan tatanan ini, dan tidak ada orang atau objek pun mampu mengubah hukum ini—karena semuanya berasal dari tangan Sang Pencipta, dan dari tatanan dan otoritas Sang Pencipta.

Hanya Tuhan, yang Memiliki Identitas Sang Pencipta, yang Memiliki Otoritas Unik

Identitas khusus Iblis telah menyebabkan banyak orang menunjukkan minat besar terhadap perwujudannya dalam berbagai aspek. Bahkan banyak orang bodoh percaya bahwa, seperti Tuhan, Iblis juga memiliki otoritas, karena Iblis mampu menunjukkan mukjizat, dan mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin bagi umat manusia. Maka, selain menyembah Tuhan, umat manusia juga menyediakan tempat bagi Iblis dalam hatinya, dan bahkan memuja Iblis sebagai Tuhan. Semua orang ini sama-sama menyedihkan dan menjijikkan. Mereka menyedihkan karena ketidaktahuan mereka, dan menjijikkan karena bidah dan esensi inheren mereka yang jahat. Pada titik ini, Aku merasa bahwa perlu untuk mengabari engkau semua mengenai makna otoritas, apa yang dilambangkannya, dan apa yang direpresentasikan. Secara garis besar, Tuhan Itu Sendiri adalah otoritas, otoritas-Nya melambangkan supremasi dan hakikat Tuhan, dan otoritas Tuhan Itu Sendiri mewakili status dan identitas Tuhan. Dalam hal ini, apakah Iblis berani mengatakan bahwa ia sendiri adalah Tuhan? Apakah Iblis berani mengatakan bahwa ia menciptakan segala sesuatu, dan memegang kedaulatan atas segala sesuatu? Jelas tidak! Karena ia tidak mampu menciptakan segala sesuatu; sampai saat ini, ia tidak pernah bisa membuat sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dan tidak pernah menciptakan sesuatu yang hidup. Karena ia tidak memiliki otoritas Tuhan, ia tidak pernah mungkin memiliki status dan identitas Tuhan, dan ini ditentukan oleh hakikatnya. Apakah ia memiliki kuasa yang sama seperti Tuhan? Jelas tidak! Apa yang kita sebut tindakan Iblis, dan mukjizat yang ditunjukkan oleh Iblis? Apakah itu kuasa? Bisakah itu disebut otoritas? Tentu saja tidak! Iblis mengatur arah berbagai kejahatan, dan mengganggu, merusak, dan menyela setiap aspek pekerjaan Tuhan. Selama beberapa ribu tahun terakhir, selain merusak dan menyiksa umat manusia, dan memikat serta menipu manusia dengan kebejatan moral, dan penolakan Tuhan, sehingga manusia berjalan menuju lembah kekelaman, sudahkah Iblis melakukan apa pun yang pantas dikenang, dipuji, atau dihargai oleh manusia? Jika Iblis memiliki otoritas dan kuasa, akankah umat manusia dirusak olehnya? Jika Iblis memiliki otoritas dan kuasa, akankah umat manusia disakiti olehnya? Jika Iblis memiliki kuasa dan otoritas, akankah umat manusia meninggalkan Tuhan dan berbalik kepada kematian? Karena Iblis tidak memiliki otoritas atau kekuasaan, apa yang harus kita simpulkan tentang substansi dari semua yang dilakukannya? Ada orang yang mendefinisikan semua yang Iblis lakukan sebagai tipuan belaka, tetapi Aku percaya bahwa definisi seperti itu tidak begitu tepat. Apakah perbuatan jahatnya merusak umat manusia hanya tipuan belaka? Kekuatan jahat yang digunakan Iblis untuk menyiksa Ayub, dan keinginannya yang ganas untuk menyiksa dan menelannya, tidak mungkin bisa dicapai dengan tipuan belaka. Jika dipikir lagi, dalam sekejap, kawanan domba dan ternak Ayub yang tersebar jauh dan luas melintasi bukit dan gunung, hilang; dalam sekejap, keberuntungan besar Ayub lenyap. Mungkinkah itu telah dicapai dengan tipuan belaka? Sifat dasar semua hal yang Iblis lakukan sesuai dan cocok dengan hal-hal negatif seperti merusak, mengganggu, memusnahkan, mencelakakan, kejahatan, kebencian, dan kegelapan, sehingga terjadinya semua yang tidak benar dan jahat terkait erat dengan tindakan Iblis, dan tidak dapat dipisahkan dari hakikat jahat Iblis. Terlepas dari seberapa "berkuasanya" Iblis, terlepas dari seberapa berani dan ambisius dirinya, terlepas dari seberapa besar kemampuannya untuk menimbulkan kerusakan, terlepas dari seberapa luas teknik yang merusak dan memikat manusia, terlepas dari seberapa pintar trik dan rencana jahat yang digunakannya untuk mengintimidasi manusia, terlepas dari kemampuannya untuk berubah bentuk di tempat ia berada, ia tidak pernah mampu menciptakan satu makhluk hidup pun, tidak pernah mampu menetapkan hukum atau aturan untuk keberadaan segala sesuatu, dan tidak pernah mampu mengatur dan mengendalikan objek apa pun, baik yang hidup atau mati. Di seluruh alam semesta yang luas, tidak ada satu orang atau objek pun yang lahir darinya, atau ada karenanya; tidak ada satu orang atau objek pun yang diatur olehnya, atau dikendalikan olehnya. Sebaliknya, ia tidak hanya harus hidup di bawah kekuasaan Tuhan, tetapi, lebih dari itu, harus taat kepada semua perintah dan titah Tuhan. Tanpa izin Tuhan, sulit bagi Iblis untuk menyentuh setetes air atau butiran pasir di atas tanah; tanpa izin Tuhan, Iblis bahkan tidak bebas untuk memindahkan semut-semut di atas tanah—apalagi umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan. Di mata Tuhan, Iblis lebih rendah daripada bunga bakung di gunung, burung-burung yang terbang di udara, ikan di laut, dan belatung di tanah. Perannya antara lain adalah melayani segala sesuatu, dan bekerja untuk umat manusia, serta melayani pekerjaan Tuhan dan rencana pengelolaan-Nya. Terlepas dari seberapa buruk sifatnya, dan seberapa jahat substansinya, satu-satunya hal yang dapat dilakukan olehnya adalah mematuhi fungsinya secara saksama, yaitu melayani Tuhan, dan memberikan tandingan kepada Tuhan. Itulah esensi dan posisi Iblis. Hakikatnya tidak terhubung dengan kehidupan, tidak terhubung dengan kuasa, tidak terhubung dengan otoritas; itu hanyalah mainan di tangan Tuhan, hanya sebuah mesin yang melayani Tuhan!

Setelah memahami wajah Iblis yang sebenarnya, banyak orang masih tidak memahami apa itu otoritas, jadi biarkan Aku memberi tahu engkau! Otoritas itu sendiri dapat dijelaskan sebagai kuasa Tuhan. Pertama, dapat dikatakan dengan pasti bahwa otoritas dan kuasa bersifat positif. Mereka tidak memiliki hubungan dengan apa pun yang negatif, dan tidak terkait dengan makhluk ciptaan atau bukan ciptaan. Kuasa Tuhan mampu menciptakan benda dalam bentuk apa pun yang memiliki kehidupan dan vitalitas, dan ini ditentukan oleh kehidupan Tuhan. Tuhan adalah kehidupan, jadi Dia adalah sumber dari semua makhluk hidup. Lebih jauh lagi, otoritas Tuhan dapat membuat semua makhluk hidup taat kepada setiap firman Tuhan, yaitu, menjadi sesuai dengan firman dari mulut Tuhan, dan hidup dan berkembang biak menurut titah Tuhan, dan setelah itu Tuhan memerintah dan menitahkan semua makhluk hidup, dan tidak akan pernah ada penyimpangan, selama-lamanya. Tidak seorang atau satu benda pun memiliki semua hal ini; hanya Sang Pencipta memiliki dan membawa kuasa semacam itu, sehingga disebut otoritas. Inilah keunikan Sang Pencipta. Dengan demikian, terlepas dari apakah kata "otoritas" itu sendiri atau substansi dari otoritas ini, masing-masingnya hanya dapat dikaitkan dengan Sang Pencipta, karena itu adalah simbol dari identitas dan hakikat unik dari Sang Pencipta, dan mewakili identitas dan status Sang Pencipta; selain dari Sang Pencipta, tidak seorang atau satu objek pun dapat dikaitkan dengan kata "otoritas." Ini adalah interpretasi atas otoritas unik Sang Pencipta.

Meski Iblis memandang Ayub dengan mata iri, tanpa izin Tuhan, ia tidak berani menyentuh sehelai rambut pun di tubuh Ayub. Meski pada dasarnya jahat dan kejam, setelah Tuhan mengeluarkan perintah-Nya kepadanya, Iblis tidak memiliki pilihan selain mematuhi titah Tuhan. Jadi, meski Iblis sama buasnya seperti serigala di antara kawanan domba ketika datang ke Ayub, ia tidak berani melupakan batas yang ditetapkan untuknya oleh Tuhan, tidak berani melanggar perintah Tuhan, dan dalam semua yang dilakukan olehnya, Iblis tidak berani menyimpang dari prinsip dan batasan firman Tuhan─bukankah ini fakta? Dari sini, dapat dilihat bahwa Iblis tidak berani menentang satu pun firman Tuhan Yahweh. Bagi Iblis, setiap firman dari mulut Tuhan adalah sebuah perintah, dan hukum surgawi, dan ungkapan otoritas Tuhan—karena di balik setiap firman Tuhan tersirat hukuman Tuhan bagi mereka yang melanggar perintah Tuhan, dan mereka yang tidak taat serta menentang hukum surgawi. Iblis jelas tahu bahwa jika ia melanggar perintah Tuhan, ia harus menerima konsekuensi dari pelanggaran terhadap otoritas Tuhan, dan menentang hukum surgawi. Dan apa sebenarnya konsekuensinya? Tak perlu dikatakan, semua itu, tentu saja, hukumannya oleh Tuhan. Tindakan Iblis terhadap Ayub hanyalah mikrokosmos dari perusakan manusia olehnya, dan ketika Iblis melakukan semua tindakan ini, batas-batas yang ditetapkan oleh Tuhan dan perintah yang Dia berikan kepada Iblis hanyalah mikrokosmos dari prinsip-prinsip di balik semua yang dilakukannya. Selain itu, peran dan posisi Iblis dalam hal ini hanyalah mikrokosmos dari peran dan posisinya dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan, dan ketaatan Iblis sepenuhnya kepada Tuhan dalam mencobai Ayub hanyalah sebuah mikrokosmos dari bagaimana Iblis tidak berani menentang Tuhan sedikit pun dalam pekerjaan pengelolaan Tuhan. Peringatan apa yang semua mikrokosmos ini berikan kepada engkau semua? Di antara segala sesuatu, termasuk Iblis, tidak seorang atau satu benda pun yang dapat melanggar hukum dan aturan surgawi yang ditetapkan oleh Sang Pencipta, dan tidak seorang orang atau benda pun yang berani melanggar hukum dan aturan surgawi ini, karena tidak ada seorang atau satu objek pun yang dapat mengubah atau lolos dari hukuman yang Sang Pencipta berikan kepada mereka yang tidak taat terhadap-Nya. Hanya Sang Pencipta yang dapat menetapkan hukum dan aturan surgawi, hanya Sang Pencipta yang memiliki kuasa untuk mengerahkannya, dan hanya kuasa Sang Pencipta yang tidak dapat dilanggar oleh orang atau benda apa pun. Ini adalah otoritas unik Sang Pencipta, otoritas ini adalah yang tertinggi di antara segala sesuatu, sehingga tidak mungkin dikatakan bahwa "Tuhan adalah yang terbesar dan Iblis adalah nomor dua." Kecuali Sang Pencipta yang memiliki otoritas unik, tidak ada Tuhan yang lain!

Apakah engkau semua sekarang memiliki pengetahuan sejati tentang otoritas Tuhan? Pertama, apakah ada perbedaan antara otoritas Tuhan yang baru disebutkan, dan kuasa manusia? Dan apa perbedaannya? Beberapa orang mengatakan bahwa keduanya tidak dapat dibandingkan. Itu benar! Meski orang mengatakan bahwa keduanya tidak dapat dibandingkan, dalam pikiran dan konsepsi manusia, kuasa manusia sering disalahartikan sebagai otoritas, dengan keduanya sering dibandingkan secara berdampingan. Apa maksudnya? Bukankah orang membuat kesalahan dengan secara tidak sengaja mengganti satu dengan yang lain? Keduanya tidak saling terhubung, dan tidak ada perbandingan di antara mereka, tetapi orang masih tidak dapat menahan diri. Bagaimana ini seharusnya diselesaikan? Jika engkau benar-benar ingin menemukan resolusi, satu-satunya cara adalah memahami dan mengetahui otoritas unik Tuhan. Setelah memahami dan mengetahui otoritas Sang Pencipta, engkau tidak akan menyebut-nyebut otoritas manusia dan otoritas Tuhan dalam kalimat yang sama.

Apa yang dimaksud dengan kuasa manusia? Pada dasarnya, itu adalah kemampuan atau keterampilan yang memungkinkan watak, hasrat, dan ambisi manusia yang rusak untuk diperluas atau dicapai sebisa mungkin. Apakah ini dianggap sebagai otoritas? Terlepas dari betapa besar atau menggiurkannya ambisi dan hasrat manusia, orang itu tidak dapat dikatakan memiliki otoritas; paling-paling, kesibukan dan kesuksesan ini hanyalah demonstrasi kekonyolan Iblis di tengah-tengah manusia, paling-paling itu adalah lelucon saat Iblis bertindak sebagai leluhurnya sendiri guna memenuhi ambisinya menjadi Tuhan.

Bagaimana sebenarnya engkau memandang otoritas Tuhan sekarang? Sekarang setelah firman ini disampaikan, engkau seharusnya memiliki pengetahuan baru akan otoritas Tuhan. Jadi, Aku bertanya kepada engkau semua: melambangkan apa otoritas Tuhan itu? Apakah melambangkan identitas Tuhan Itu Sendiri? Apakah itu melambangkan kuasa Tuhan Itu Sendiri? Apakah melambangkan status unik Tuhan Itu Sendiri? Di antara segala sesuatu, dalam hal apa engkau telah melihat otoritas Tuhan? Bagaimana engkau melihatnya? Dalam hal empat musim yang dialami oleh manusia, adakah yang dapat mengubah hukum pergantian antara musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin? Di musim semi, pepohonan bertunas dan bermekaran; di musim panas pepohonan dipenuhi dengan dedaunan; di musim gugur pepohonan berbuah, dan di musim dingin dedaunan berjatuhan. Adakah yang mampu mengubah hukum ini? Apakah ini mencerminkan salah satu aspek dari otoritas Tuhan? Tuhan berkata, "Jadilah terang," dan terang itu ada. Apakah terang ini masih ada? Karena apakah terang ada? Terang tentu ada karena firman Tuhan, dan karena otoritas Tuhan. Apakah udara yang diciptakan oleh Tuhan masih ada? Apakah air yang manusia hirup berasal dari Tuhan? Adakah yang dapat merebut hal-hal yang berasal dari Tuhan? Adakah yang dapat mengubah hakikat dan fungsinya? Adakah yang mampu mengacaukan malam dan siang yang dialokasikan oleh Tuhan, dan hukum malam dan siang yang disusun oleh Tuhan? Dapatkah Iblis melakukan hal seperti itu? Bahkan jika engkau tidak tidur di malam hari, dan menganggap malam sebagai siang, itu tetaplah malam; engkau dapat mengubah rutinitas harianmu, tetapi engkau tidak mampu mengubah hukum pergantian antara malam dan siang—dan fakta ini tidak dapat diubah oleh orang mana pun, bukan? Adakah yang mampu membuat singa membajak tanah seperti seekor lembu? Adakah yang mampu mengubah gajah menjadi seekor keledai? Adakah yang mampu membuat ayam melayang di udara seperti seekor elang? Adakah yang mampu membuat serigala memakan rumput seperti seekor domba? (Tidak.) Adakah yang mampu membuat ikan di air hidup di darat? Itu tidak dapat dilakukan oleh manusia. Dan mengapa tidak? Karena Tuhan memerintahkan ikan untuk hidup di air, maka mereka hidup di air. Di darat mereka tidak akan bisa bertahan hidup, dan akan mati; mereka tidak dapat melampaui batas-batas perintah Tuhan. Segala sesuatu memiliki hukum dan batas keberadaannya, dan mereka masing-masing memiliki naluri mereka sendiri. Ini ditakdirkan oleh Sang Pencipta, dan tidak dapat diubah dan tidak dapat dilampaui oleh siapa pun. Sebagai contoh, singa akan selalu hidup di alam liar, jauh dari komunitas manusia, dan tidak pernah bisa menjadi jinak dan setia seperti lembu yang hidup bersama, dan bekerja untuk manusia. Meski gajah dan keledai adalah binatang, dan keduanya memiliki empat kaki, dan makhluk yang sama-sama menghirup udara, mereka adalah spesies yang berbeda, karena mereka dibagi menjadi beberapa jenis yang berbeda oleh Tuhan, mereka masing-masing memiliki naluri sendiri, sehingga mereka tidak akan pernah tertukar-tukar. Meski ayam memiliki dua kaki, dan sayap seperti elang, ia tidak akan pernah bisa terbang di udara; paling-paling hanya bisa terbang ke pohon—dan ini ditentukan oleh nalurinya. Sudah jelas, ini semua karena perintah otoritas Tuhan.

Dalam perkembangan umat manusia saat ini, ilmu pengetahuan umat manusia dapat dikatakan sedang berkembang, dan pencapaian eksplorasi ilmiah manusia dapat digambarkan sebagai sesuatu yang mengesankan. Kemampuan manusia, harus dikatakan, tumbuh semakin besar, tetapi ada satu terobosan ilmiah yang tidak dapat dibuat oleh umat manusia: umat manusia telah membuat pesawat terbang, kapal induk, dan bom atom, umat manusia telah pergi ke ruang angkasa, berjalan di bulan, menemukan Internet, dan menjalani gaya hidup berteknologi tinggi, tetapi umat manusia tidak mampu menciptakan makhluk hidup yang bernafas. Naluri setiap makhluk hidup dan hukum yang mendasari keberadaannya, dan siklus hidup dan mati setiap jenis makhluk hidup—semua ini tidak mungkin dan tidak dapat dikendalikan oleh ilmu pengetahuan umat manusia. Pada titik ini, harus dikatakan bahwa tidak peduli seberapa hebat pun prestasi ilmu pengetahuan manusia, itu tidak sebanding dengan pikiran Sang Pencipta, dan tidak mampu memahami keajaiban penciptaan Sang Pencipta, dan kekuatan otoritas-Nya. Ada begitu banyak samudera di bumi, namun tidak pernah melampaui batasnya dan datang ke darat sesuka hati, dan itu karena Tuhan menetapkan batas untuk mereka masing-masing; mereka tinggal di mana pun Dia perintahkan, dan tanpa izin Tuhan mereka tidak dapat bergerak bebas. Tanpa izin Tuhan, mereka tidak boleh saling melanggar satu sama lain, dan hanya dapat bergerak ketika Tuhan mengatakan demikian, dan ke mana mereka pergi dan tinggal ditentukan oleh otoritas Tuhan.

Sederhananya, "otoritas Tuhan" berarti bahwa itu terserah kepada Tuhan. Tuhan berhak untuk memutuskan cara melakukan sesuatu, dan itu dilakukan dengan cara apa pun yang Dia inginkan. Hukum dari segala sesuatu terserah pada Tuhan, dan tidak tergantung pada manusia; tidak juga bisa diubah oleh manusia. Itu tidak bisa digerakkan oleh kehendak manusia, melainkan oleh pikiran Tuhan, dan hikmat Tuhan, dan perintah Tuhan, dan ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Langit dan bumi dan segala sesuatu, alam semesta, langit berbintang, empat musim dalam setahun, apa yang terlihat dan tidak terlihat oleh manusia—semuanya ada, berfungsi, dan berubah, tanpa kesalahan sekecil apa pun, di bawah otoritas Tuhan, sesuai dengan titah Tuhan, sesuai dengan perintah Tuhan, dan sesuai dengan hukum awal penciptaan. Tidak ada orang atau objek apa pun yang dapat mengubah hukum mereka, atau mengubah tata cara mereka berfungsi; mereka muncul karena otoritas Tuhan, dan binasa karena otoritas Tuhan. Ini adalah otoritas Tuhan yang sesungguhnya. Sekarang setelah banyak yang dikatakan, bisakah engkau merasa bahwa otoritas Tuhan adalah simbol dari identitas dan status Tuhan? Bisakah otoritas Tuhan dimiliki oleh makhluk ciptaan atau bukan ciptaan? Bisakah itu dicontoh, ditiru, atau digantikan oleh orang, benda, atau objek apa pun?

Identitas Pencipta adalah Unik, dan Engkau Seharusnya Tidak Mematuhi Gagasan Politeisme

Meski keterampilan dan kemampuan Iblis lebih besar daripada manusia, meski ia dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh manusia, terlepas dari apakah engkau iri atau menginginkan apa yang Iblis lakukan, terlepas dari apakah engkau membenci atau jijik terhadapnya, terlepas dari apakah engkau mampu melihatnya, dan terlepas dari seberapa banyak yang dapat Iblis capai, atau berapa banyak orang yang dapat ia tipu untuk menyembah dan memujanya, dan terlepas dari cara engkau mendefinisikannya, engkau tidak mungkin mengatakan bahwa ia memiliki otoritas dan kuasa Tuhan. Engkau seharusnya mengetahui bahwa Tuhan adalah Tuhan, hanya ada satu Tuhan, dan lebih lagi, engkau seharusnya mengetahui bahwa hanya Tuhan yang memiliki otoritas dan kuasa untuk mengendalikan serta mengatur segala sesuatu. Hanya karena Iblis memiliki kemampuan untuk menipu orang, dan dapat berpura-pura menjadi Tuhan, dapat meniru tanda-tanda dan mukjizat yang dibuat oleh Tuhan, dan telah melakukan hal yang sama seperti Tuhan, engkau secara keliru percaya bahwa Tuhan itu tidak Maha Esa, bahwa ada banyak Tuhan, bahwa mereka hanya memiliki keterampilan yang lebih besar atau lebih rendah, dan bahwa ada perbedaan dalam hal luasnya kuasa yang mereka gunakan. Engkau menilai kebesaran mereka berdasarkan urutan kedatangan mereka, dan menurut usia mereka, dan engkau salah percaya bahwa ada dewa-dewi lain selain Tuhan, dan berpikir bahwa kuasa serta otoritas Tuhan tidak unik. Jika engkau memiliki gagasan seperti itu, jika engkau tidak mengenali keunikan Tuhan, jangan percaya bahwa hanya Tuhan yang memiliki otoritas, dan jika engkau hanya mematuhi politeisme, maka Aku mengatakan bahwa engkau adalah sampah dari antara makhluk ciptaan, engkau adalah perwujudan nyata Iblis, dan engkau adalah orang yang sungguh jahat! Apakah engkau semua memahami apa yang Aku coba ajarkan kepadamu dengan mengucapkan perkataan ini? Tidak peduli waktu, tempat, atau latar belakangmu, engkau tidak boleh menyamakan Tuhan dengan orang, benda, atau hal lain. Terlepas dari seberapa tidak dapat diketahui dan tidak dapat didekatinya otoritas Tuhan dan hakikat Tuhan Itu Sendiri bagimu, terlepas dari seberapa banyak perbuatan dan perkataan Iblis yang selaras dengan konsepsi dan imajinasimu, terlepas dari seberapa memuaskan semua itu bagimu, jangan bodoh, jangan mencampuradukkan semua konsep ini, jangan mengingkari keberadaan Tuhan, jangan menyangkal identitas dan status Tuhan, jangan mendorong Tuhan ke pintu keluar dan membawa masuk Iblis untuk menggantikan Tuhan dalam hatimu dan menjadi Tuhanmu. Aku tidak ragu bahwa engkau semua mampu membayangkan konsekuensi dari tindakan tersebut!

Meski Umat Manusia telah Dirusak, Mereka Masih Hidup di Bawah Kedaulatan Otoritas Sang Pencipta

Iblis telah merusak manusia selama ribuan tahun. Ia telah melakukan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya, telah menipu generasi demi generasi, dan telah melakukan kejahatan keji di dunia. Ia telah memanfaatkan manusia, menipu manusia, menggoda manusia untuk menentang Tuhan, dan telah melakukan tindakan jahat yang telah berulang kali mengacaukan dan merusak rencana pengelolaan Tuhan. Namun, di bawah otoritas Tuhan, segala sesuatunya dan makhluk hidup terus mematuhi aturan dan hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Dibandingkan dengan otoritas Tuhan, sifat jahat dan kemarahan Iblis begitu buruk, begitu menjijikkan dan tercela, dan begitu kecil dan rentan. Meski Iblis berjalan di antara segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, ia tidak mampu membuat perubahan sekecil apa pun terhadap orang, hal, dan benda yang ditata oleh Tuhan. Beberapa ribu tahun telah berlalu, dan umat manusia masih menikmati terang dan udara yang dianugerahkan oleh Tuhan, masih mengembuskan nafas yang diembuskan oleh Tuhan Sendiri, masih menikmati bunga, burung, ikan dan serangga yang diciptakan oleh Tuhan, dan menikmati semua hal yang disediakan oleh Tuhan; siang dan malam masih terus saling berganti; empat musim bergantian seperti biasa; angsa yang terbang di langit berangkat di musim dingin ini, dan masih kembali di musim semi berikutnya; ikan di air tidak pernah meninggalkan sungai dan danau—yang merupakan rumah mereka; tonggeret di tanah bernyanyi dengan sepenuh hati mereka selama musim panas; jangkrik di rumput dengan lembut bersenandung selaras dengan angin selama musim gugur; angsa-angsa berkumpul dalam kawanan, sementara elang tetap menyendiri; kawanan singa menopang diri mereka dengan berburu; rusa tidak menyimpang dari rumput dan bunga. … Setiap jenis makhluk hidup di antara segala sesuatu berangkat dan kembali, dan kemudian berangkat lagi, sejuta perubahan terjadi dalam sekejap mata—tetapi apa yang tidak berubah adalah naluri mereka dan hukum kelangsungan hidup. Mereka hidup dengan perbekalan dan makanan dari Tuhan, dan tidak seorang pun dapat mengubah naluri mereka, dan tidak seorang pun dapat merusak aturan kelangsungan hidup mereka. Meski umat manusia, yang hidup di antara segala sesuatu, telah dirusak dan ditipu oleh Iblis, manusia tetap tidak dapat hidup tanpa air yang dibuat oleh Tuhan, dan udara yang dibuat oleh Tuhan, dan segala sesuatu yang dibuat oleh Tuhan, dan manusia masih hidup dan berkembang biak di ruang yang diciptakan oleh Tuhan ini. Naluri umat manusia tidak berubah. Manusia masih mengandalkan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, otaknya untuk berpikir, hatinya untuk memahami, kaki dan tungkainya untuk berjalan, tangannya untuk bekerja, dan seterusnya; semua naluri yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia agar dia dapat menerima perbekalan dari Tuhan tetap tidak berubah, kemampuan yang digunakan oleh manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan tidak berubah, kemampuan manusia untuk melakukan tugas makhluk ciptaan tidak berubah, kebutuhan rohani umat manusia tidak berubah, hasrat manusia untuk menemukan asal-usulnya tidak berubah, kerinduan manusia untuk diselamatkan oleh Sang Pencipta tidak berubah. Seperti itulah keadaan umat manusia saat ini, yang hidup di bawah otoritas Tuhan, dan yang telah mengalami pemusnahan berdarah yang dilakukan oleh Iblis. Meski manusia telah menjadi sasaran penindasan Iblis, dan bukan lagi Adam dan Hawa dari awal penciptaan, alih-alih penuh dengan hal-hal yang bertentangan dengan Tuhan, seperti pengetahuan, imajinasi, gagasan, dan sebagainya, dan penuh dengan watak rusak iblis, di mata Tuhan, umat manusia masih umat manusia yang sama yang Dia ciptakan. Umat manusia masih dikuasai dan diatur oleh Tuhan, dan masih hidup di jalur yang ditetapkan oleh Tuhan, dan demikian di mata Tuhan, umat manusia, yang telah dirusak oleh Iblis, hanya ditutupi dengan kotoran, dengan perut keroncongan, dengan reaksi yang agak lambat, ingatan yang tidak sebagus dahulu, dan usia yang sedikit lebih tua—tetapi semua fungsi dan naluri manusia sama sekali tidak rusak. Ini adalah manusia yang ingin Tuhan selamatkan. Umat manusia ini harus mendengar panggilan Sang Pencipta, dan mendengar suara Sang Pencipta, dan dia akan berdiri dan bergegas mencari sumber suara ini. Umat manusia ini harus melihat sosok Sang Pencipta dan dia akan mengabaikan semua hal lain, dan meninggalkan segalanya, guna mengabdikan dirinya kepada Tuhan, dan bahkan akan mengorbankan hidupnya untuk-Nya. Ketika hati umat manusia memahami firman Sang Pencipta yang sepenuh hati, umat manusia akan menolak Iblis dan datang ke sisi Sang Pencipta; ketika umat manusia telah sepenuhnya mencuci kotoran dari tubuhnya, dan sekali lagi menerima perbekalan dan makanan dari Sang Pencipta, maka ingatan umat manusia akan dipulihkan, dan pada saat ini umat manusia akan benar-benar kembali berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta.

14 Desember 2013

Sebelumnya:Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri II

Selanjutnya:Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V

media terkait